• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosesi Penguburan Sekunder (mangokal holi)

JEJAK PERADABAN MASA LALU DI PULAU SAMOSIR

A. RELIGI, PROSESI KEMATIAN DAN WADAH KUBUR 1. Religi

4. Prosesi Penguburan Sekunder (mangokal holi)

Dalam kebudayaan dimuka bumi ini selalu memiliki prosesi upacara, biasanyan dilakukan dari sejak manusia lahir hingga mati. Kematian yang merupakan salah satu tahapan lingkaran hidup manusia merupakan salah satu periode yang penting. Pada orang Batak Toba ada beberapa jenis upacara di antaranya adalah upacara kematian, upacara margombur (meminta hujan), upacara matomona (minta keberhasilan panen, upacara mamelehomban (pesta panen), upacara monagu-nagu (meminta anak), upacara

pasahat ulos tondi (hamil tujuh bulan), upacara paebathon buha baju (berkunjung

kerumah hula-hula). Upacara mangongkal holi (menggali tulang belulang), upacara

penyakit), upacara papuru sapata (menolak bala), upacara sipaha sada (peringatan ajaran parmalim) dan lain sebagainya (Sipayung, 1995)

Kematian bagi orang Batak Toba ada beberapa jenis seperti mate sari matua, mate saur

matua dan lain sebagainya. Tahapan prosesi kematian orangBatak Toba di antaranya andung (menangisi si mati), mangarapot (rapat menentukan pelaksanaan adat), mangulosi (memberikan ulos bagi si mati) dan lainnya.Kematian menurut tradisi Batak

Toba adalah perpindahan kehidupan dari dunia nyata ke dunia fana, oleh karena itu orang yang meninggal itu masih dapat berkomunikasi dengan manusia yang hidup. Komunikasi dilakukan dengan cara lain seperti melalui mimpi, melalui renungan, khayalan atau meditasi. Pada masyarakat etnis Batak Toba biasanya berkomunikasi dengan yang sudah meninggal melalui pemanggil roh melalui media seseorang.

Upacara kematian pada orang Batak Toba dibagi menurut stratifikasi sosial dan umur, di antaranya adalah golongan raja-raja (marga tano), golongan masyarakat biasa dan golonganbudak (hatoban). Menurut klasifikasinya umur di antaranya adalah dakdanak (anak-anak), namagondang (dewasa) dan natula-tua (tua). Menurut agama yaitu Agama Kristen, Katolik, Islam. (Siahaan, 1982). Sedangkan upacara yang sering dikaitkan dengan kematian adalah saur matua dan mangongkal holi.

Saur Matua adalah upacara kematian yang dilakukan terhadap seseorang yang telah

beranak dan bercucu (semua anaknya sudah berkeluarga). Dalam upacara pihak keluarga dan raja adat mengadakan musyawarah misalnya tentang lamanya, mayat disemayamkan di rumah, jenis hewan yang akan disembelih, penyediaan peti mayat, pembagian kerja dan hal-hal yang penting. Biasanya dalam upacara kematian selalu menyembunyikan musik tradisional (gondang sabangunan), lamanya mayat yang disemanyamkan antara dua atau tiga hari, menyembelih kerbau atau lembu untuk acara adat dam babi untuk makan biasa.

Mongongkal holi adalah penggalian tulang belulang orang tua, nenek,kakek, dan nenek

moyang yang dilakukan oleh keturunannya, dari kuburannya semula kemudian memasukkannya ke dalam suatu bangunan yang dibuat sedemikian rupa dengan kondisi permanen. Masyarakat Batak Toba menyebutnya bangunan tempat penguburan sekunder itu batu napir, tambak atau simin.

Ada beberapa tujuan upacara tradisional kematian diadakan, khusunya etnis Batak Toba adalah:

a. Sebagai perpisahan terakhir, bila seseorang meninggal berarti seseorang tersebut meninggalkan keluarganya dalam istilah Batak disebut monding yang berarti berlindung dan tidak akan nampak lagi. Pada masyarakat Batak toba ada beberapa jenis kematian demikian pula perlakuan terhadap kematian beragam pula. Misalnya seseorang yang meninggal sudah tua, banyak pergaulan, sudah lengkap kekerabatannya atau yang disebut merupakan kematian yang dianggap paling sempurn, maka acara perpisahannya dilakukan secara besar-besaran seperti membunyikan gendang,berkurban kerbau dan lain sebagainya.

b. Sebagai pelaksanaan adat, masyarakat Batak Toba percaya bahwa adat itu

telah dilaksanakan oleh neneknya harus dilaksanakan pula keturunannya sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku.

c. Sebagai pelaksanaan keagamaan, sebelum Agama Kristen dan Islam masuk

kedalam wilayah Batak Toba, yaitu kepercayaan animisnme dan dinamisnme. Kepercayaan ini beranggapan bahwa roh orang yang meninggal itu bermacam-macam kedudukannya sesuai dengan statusnya pada masa hidupnya, misalnya kalau seseorang yang dihormati pada masa hidupnya maka rohnya pun akan dihormati roh-roh lain. Tetapi kalau yang meninggal itu adalah orang tua dan lengkap dalam kekerabatannya serta diiringi upacara besar (marboan horbo), Maka rohnya akan dijunjung tinggi, malah dianggap sudah mendekati Mulajadi Na Bolon dan disebut Sibaso na

bolon. Setelah masuknya agama, seperti saat sekarang umumnya anggapan

itu sudah berkurang walaupun upacara itu tetap dilaksanakan namun dianggap sebagai penghormatan terhadap orang tua.

d. Sebagai balas jasa, kematian seseorang apalagi sudah berumur tua dan sudah lengkap kekerabatannya, tentu sudah berhasil mendidik anak-anaknya sehingga semuanya sudah berhasil dalam kehidupannya. Bagaimanapun kehidupan anak-anaknya (kaya, kedudukan tinggi dan sebagainya) tidak akan mungkin dapat membalas semua jasa orang tuanya, apalagi membalas budi, memberi makan atau memberi sesuatu. Untuk membalas semua jasa-jasanya kepada orang tua, maka anaknya mengadakan upacra kematian, dengan menumpahkan segala kemampuannya dan dilaksanakan dengan baik.

e. Sebagai petanggung jawaban, masyarakat Batak Toba beranggapan bahwa anak-anak atau keturunan seseorang harus bertanggung jawab atas segala hutang piutang orang tuanya. Lama hidup berarti banyak yang dilihat dan sudah lama berkecimpung dengan adat. Oleh karenanya sudah banyak yang diterima dan dibayar (maskudnya upacara adat sudah banyak diikuti dan menerima sesuatu). Meninggal dalam keadaan tua sudah sering mengikuti upacara adat, maka oleh keturunannya semua hutang piutang itu harus dipertanggung jawabkan dengan cara melaksanakan upacara besar-besaran dan dianggap sebagai membayar dan menerima adat.

f. Sebagai pengumuman status, setiap orang dalam masyarakat disebut anggota masyarakat, setiap anggota masyarakat mempunyai status tersendiri seperti sebagai kepala keluarga, ibu rumah tangga. Bagi subetnis batak toba, jika yang meninggal orang tua laki-laki maka yang menjadi wakil atau penggantinya (kedudukan) adalah anak kandungnya, sementara kalau yang meninggal orang tua perempuan yang menjadi wakil penggantinya adalah istri anak sulungnya. (Siahaan, 1983).

Pelaksanaan penggalian, kegiatan penggalian memakan waktu lama mengingat orang

yang akan digali berada diberbagai tempat seperti berada di berbagai daerah, apabila berada di satu tempat penggalian itu bisa cepat selesai dan bisa juga lama karena tulang-belulang yang digali kadang-kadang sudah berantajkan dan bahkan bisa tidak ditemukan. Sebelum penggalian, hasuhuton3 (suhut) sudah mempersiapkan bakul yang

3

disebut ampang yang beralaskan kain putih dan ditutup dengan ulos serta aek (air)

pangurason dan kunyit.

Di lokasi penggalian acara mangongkal holi berjalan sebagai berikut: apabila yang mengadakan kegiatan ini mengaitkan dengan agama, misalnya Agama Kristen maka acaranya dimulai dengan doa yang dibawakan oleh panatua dari gereja, akan tetapi penggalian itu didampingi atau diikuti oleh musik tradisional maka yang bertugas adalah raja bius (pimpinan marga diwilayah itu) untuk menyampaikan tonggo (doa) kepada Mulajadi Na Bolon yang termasuk Debata Na Tolu serta penghuni tanah tempat penggaliannya, terutama pada Raja Padoha (dewa yang berkuasa di tempat itu), agar diperkenankan yang digali itu diambil dari tempat kuasanya.

Penggalian tulang belulang dimulai oleh bonaniari dari yang akan digali, berarti yang pertama kali mencangkul tanah dari kuburan yang diawali dengan upacara berupa penyampaian kepada arwah yang akan digali itu berbunyi kurang lebih sebagai berikut: “semua sanak saudara sudah sepakat untuk menggali tulang belulang kamu serta menempatkannya nanti di tempat yang baik dan aman. Jadi kami dari pihak hula-hula4 menyambut dengan senang hati, inilah sebabnya kami berkumpul untuk mengangkat tulang belulang serta menempatkan ke tempat yang sudah disediakan oleh anak-anakmu. Terimalah semua apa-apa yang dilakukan oleh keturunanmu demi nama keluarga. Saya sebagai hula-hulamu yang pertama kali untuk mencangkul tanah dari pusaramu demi untuk menggangkat tulang belulangmu yang berserakan dan akan dikumpulkan serta dimasukkan ketempat yang lebih bagus”.

Setelah hula-hula menyusun tulang (paman) dari yang mau diangkat, dengan mengucapkan seperti yang diucapkan oleh hula-hula tadi diatas lalu mencangkul sampai tiga kali. Paman (tulang) si mati adalah orang yang kedua mencangkul tanah dari pusara tersebut, kemudian menyusul keturunan mertua dari si mati dan juga mengucapkan kata-kata yang sama yang diucapkan hula-huladan mencangkul sampai tiga kali juga, disusul kemudian dongan sabutuha5 dan penggalian diselesaikan oleh boru6 dari

hasuhuton.

Apabila tulang belulang sudah ditemukan, langsung diberitahukan kepada boru kandung dari yang mau digali mengambil tulang belulang itu dari dalam tanah. Biasanyayang pertama kali diambil adalah bagia kepala, baru menyusul yang lainnya dan dikumpulkan pada satu tempat untuk dicuci dengan air kunyit. Setelah dicuci air kunyit tulang belulang itu dibersihkan atau diuras dengan air pengurason (biasanya air jeruk purut). Kemudian dimasukkan kedalam bakul (ampang) yang sudah disiapkan dan diserahkan kepada hula-hula untuk dibungkus dengan ulos.

Selesai penggalian dan tulang belulangnya terkumpul, hula-hula7 meminta kepada

suhut8 agar tulang belulang dibawa kerumahnya, pihak suhut sudah mengerti maksud dan tujuan dari hula-hula yaitu meminta bagian harta peninggalan dari orang tua suhut.

4

Kelompok kekerabatan pemberi wanita bagi ego

5

Semarga, keturunan dari seorang kakek bersama

6

Kelompok kekerabatan penerima wanita bagi ego

7

Saudara laki-laki dari marga ibu

8

Suhut melayani hula-hula sesuai dengan dapat yang disampaikan dalam bentuk

perumpamaan atau pepatah dalam bahasa daerah (Batak). Selesai acara ini tulang belulang itu diserahkan oleh hula-hula kepada hasuhuton, kemudian dibawa kerumah dijunjung langsung oleh hasuhuton. Setibanya dirumah diserahkan kepada boru untuk diletakkan di tempat yang sudah disiapkan.