C.2. EKSKAVASI DI SITUS PAGAR BATU
2. Sektor Pagar Batu
Areal pagar batu merupakan areal dari undakan (punden berundak). Adapun deskripsi berbagai aspek arkeologis di situs Pagar Batu adalah sebagai berikut:
Pada undak I (pertama) yaitu undak yang paling bawah merupakan susunan batuan
monolit yang mengitari halaman sebuah areal. Pada areal ini tidak ditemukan tinggalan arkeologis. Di bagian luar dari areal inilah terletak areal bottean yang letaknya diapit sungai dan juga punden berundak. Pada areal undak pertama ini terdapat terowongan menuju Liang Marlakop adalah sebuah batu yang ditumpuk-tumpuk membentuk sebuah terowongan di dalamnya dan terdapat pintu masuk yang menghadap utara dengan ukuran tinggi berkisar 70 cm dan lebar 70 cm. Pintu keluar juga menghadap ke utara dengan ukuran tinggi 117 cm dan lebar 80 cm. Panjang terowongan ini 280 cm, lebar maksimal 65 cm, tinggi 100 cm. Keadaan terowongan saat ini sudah ambruk di bagian tengahnya sehingga tidak bisa tembus dari pintu masuk kea rah pintu keluar.Terletak di timur laut Kubur Batu Parholian. Selain itu juga terdapat Liang Marlakobyaitu sebuah gua buatan yang terletak timur laut di bawah undak ke empat (di luar situs Pagar Batu). Pintu masuknya menghadap ke selatan, berukuran tinggi 80 cm, lebar 125 cm. Menurut masyarakat panjangnya sampai ke Desa Tanjungan (puncak bukit). Keadaannya saat ini, pada bagian dalam Liang Marlakop hanya bisa dimasuki maksimal 3 m, sebab untuk masuk ke dalam lagi sudah tertimbun batu. Menurut masyarakat Liang Marlakop ini difungsikan sebagai gua persembunyian ataupun melarikan diri pada saat perang. Terletak di timur laut Kubur Batu Parholian, dibawah undak ke empat. (di luar situs Pagar Batu).
Pada undak II (kedua) masih sama kondisinya dengan undak pertama, hanya saja
sebagian dari pagar batu yang disusun sebagian ada yang saling bersilangan sehingga halaman yang dihasilkan tidak begitu jelas. Begitu juga dengan luasan halamannya tidak terlalu luas karean cenderung sempit antara pagar kedua dengan pagar ketiga. Pada areal ini terdapat Parit Debata, yaitu sebuah monolit berukuran besar sehingga merupakan bagian yang tertinggi dari batuan tang ada di areal pagar batu. Batuan monolit ini berukuran panjang berkisar 17 m, lebar 5,5 m, tinggi 9 m. Terletak di timur laut Kubur Batu Parholian.. Diinformasikan masyarakat fungsi parit debata ini sebagai tempat melihat musuh yang akan datang menyerang.
Pada undak III (ketiga) kondisinya tidak jauh berbeda dengan undak sebelumnya dan
halamannya cenderung lebih luas dibandingkan dengan undak sebelumnya. Pada areal ini masih ditemukan umpak-umpak batu sisa dari bangunan lama. Selain itu pada undak ini terdapat Batu Pamelean, yaitu batu yang berbentuk memanjang horizontal berukuran panjang 142 cm, lebar 90 cm, tebal 10 cm, dan di bagian atasnya dipahatkan lubang berbentuk persegi panjang yang berukuran panjang 85 cm, lebar 30 cm, kedalaman 10 cm. Diinformasikan masyarakat bahwa Batu Pamelean ini difungsikan sebagai tempat meletakkan hasil panen terbaik ataupun tempat sesajen. Tidak terdapat pahatan ataupun motif hias dan terletak di sebelah barat laut Kubur Batu Parholian, sebuah Lesung batu yang memiliki satu lubang terletak di sebelah timur laut Kubur Batu Parholian. Adapun ukuran panjangnya berkisar 80 cm, lebar 64 cm, tebal 20 cm dan bagian atasnya terdapat pahatan lubang berbentuk oval berdiameter 15 cm, kedalaman 6 cm. Tidak terdapat pahatan ataupun motif hias, diinformasikan masyarakat fungsi lesung ini sebagai tempat menumbuk padi. Lesung batu yang lainnya terdapat di sebelah barat daya Kubur Batu Parholian. Ukuran panjang berkisar 137 cm, lebar 124 cm, tebal 45 cm dan diatasnya terdapat kerukan berbentuk oval berdiameter 40 cm, kedalaman 25 cm. Tidak terdapat pahatan ataupun motif hias, diinformasikan masyarakat fungsi lesung ini sebagai tempat menumbuk padi.
Undak ke IV yang merupakan undak tertinggi terdapat berbagai tinggalan arkeologis
dengan deskripsi sebagai berikut:
Kubur Batu Parholian adalah wadah kubur tempat memakamkan raja yang
diperkirakan sebagai pendiri Pagar Batu, yaitu Ompung Raja Sotar Huak. Bentuknya lonjong seperti sebuah trapesium dengan ukuran panjang berkisar 8,5 m, lebar 4,2 m dan tingginya 4,4 m. Tutup makam berbentuk seperti segitiga sama sisi jika dilihat dari depan dan berbentuk seperti perahu jika dilihat dari samping dan terpotong menjadi dua bagian, yang pertama berukuruan panjang 163 cm, lebar bawah 80 cm, lebar atas 20 cm, tingginya 50 cm dan bagian kedua berukuran panjang 88 cm, lebar bawah 80 cm, lebar atas 20 cm, tingginya 50 cm. Tutup makam bagian kedua (bagian belakang) sekarang posisinya sudah tidak di posisi semulanya, melainkan berada di belakang lubang kubur, mungkin dipindahkan oleh seseorang. Lubang tempat meletakkan jasad ataupun
holi-holi berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 160 cm, lebar 50 cm, tinggi 70
cm. Tidak terdapat artefak di dalam lubang kubur, menurut informasi masyarakat, tulang ataupun bekal kubur lainnya yang biasa ada di kubur batu sudah dipindahkan ke Lumban Julu (nama perkampungan) disebabkan oleh adanya otoritas Belanda saat menguasai situs Pagar Batu.
Terdapat empat pahatan di Kubur Batu Parholian, pahatan pertama terdapat di bagian tutup wadah kubur berupa pahatan wajah yang hampir sama persis dengan hiasan wajah di makam Sidabutar yang pada umumnya dipahatkan wajah raja yang dimakamkan dengan ukuran panjang 44 cm dan lebar 40 cm Secara umum pahatan terlihat seperti wajah manusia yang dari ujung kepala ke ujung dagunya semakin menyempit. Terdapat satu lubang di bagian paling puncak tutup wadah kubur yang berdiameter 2 cm, kedalaman 2 cm, memiliki dua tanduk, dua mata, dua kuping, satu hidung, satu mulut yang sedang terbuka, dan di dagunya juga terdapat satu lubang kecil berdiameter 2 cm dengan kedalaman 2 cm.
Di bawah tutup kubur batu terdapat tiga pahatan, dua pahatan menyerupai wajah manusia, yang di atas (pahatan kedua) memiliki dua mata, satu hidung, satu mulut, dan terdapat satu lubang kecil di bagian atas kepala yang berdiameter 1,5 cm, kedalaman 3 cm, dan satu lubang di bagian dagu berdiameter 2 cm, kedalaman 3 cm.
Di bawah pahatan itu dipahatkan juga wajah manusia yang hampir sama dengan pahatan wajah kedua (pahatan ketiga) yang memiliki dua mata, satu hidung, dan satu mulut dan juga terdapat satu lubang kecil terletak di bagian atas kepala yang berdiameter 1,5 cm dengan kedalaman 1 cm dan terdapat satu lubang di dagu berdiameter 2 cm kedalaman 1 cm. Ukuran pahatan ini berkisar panjang 33 cm, lebar 25 cm. Fungsi dari setiap lubang yaitu sebagai tempat memasukkan pupuk yaitu abu atau minyak dari manusia yang dibunuh yang rohnya dijadikan budak dalam kaitannya dengan berbagai kepentingan, seperti menjaga areal, atau keperluan lain seperti membunuh seseorang dengan cara gaib.
Di bawahnya lagi terdapat pahatan keempat yang berbentuk seperti orga ataupun hiasan gaja dompak dengan ukuran panjang 69 cm, lebar 36 cm. Semua pahatan di Kubur Batu
Parholian ini menghadap ke barat laut. Terletak di undak pertama (undak paling atas). Batu Silima Mata adalah sebuah batu lesung besar yang memiliki lima lubang di
kedalaman 20 cm. Bentuk Batu Si Lima Mata ini memanjang dan cenderung melingkar. Terletak di selatan kubur batu parholian. Menurut informasi masyarakat, Batu Silima Mata ini digunakan untuk menumbuk padi ataupun hasil pertanian lainnya dan hanya digunakan pada saat panen raya saja, tidak untuk sehari-hari. Tidak terdapat motif hias ataupun pahatan di lubang batu Si Lima Mata.
Batu Tiga Muka adalah sebuah batu monolit yang posisinya vertikal, dengan ukuran
panjang 380 cm, lebar 180 cm, tinggi 160 cm.Disebut Batu Tiga Muka karena terdapat tiga pahatan wajah di batu ini, namun yang 1 dilengkapi dengan sepasang lengan dan kaki. Bagian tangannya menyatu di bagian pusar dalam posisi jongkok sekilas seperti pahatan panghulubalang. Pahatan yang pertama yang seperti pahatan panghulubalang menghadap ke arah barat daya berukuran panjang 68 cm, lebar 36 cm, tinggi 55cm, terdapat dua lubang kecil yang terletak di bagian atas kepala yang berdiameter 1 cm, kedalaman 4 cm masing-masingnya, dan juga terdapat lubang yang berjarak 19 cm dari dagu ke arah bawah / lubang di sekitar pusar, berdiameter 3 cm kedalaman 3 cm. Pahatan kedua yaitu pahatan wajah menghadap ke arah kubur batu parholian / timur laut dengan ukuran panjang 39 cm, lebar 23 cm, tinggi 26 cm, terdapat dua lubang kecil di bagian atas kepala yang berdiameter 1 cm kedalaman 4 cm masing-masingnya, dan satu buah lubang yang berjarak 19 cm dari dagu ke lubang berdiameter 3 cm, kedalaman 5 cm. Pahatan ketiga yaitu pahatan wajah menghadap ke tenggara dengan ukuran panjang 42 cm, lebar 33 cm, tinggi 50 cm, terdapat dua lubang kecil bagian atas kepala yang berdiameter 1 cm, kedalaman 4 cm masing-masingnya, 2 lubang di pipi berukuran panjang 3 cm, kedalaman 2 cm masing-masingnya, dan terdapat satu lubang kecil yang berjarak 19 cm dari dagu ke arah lubang di sebelah bawah berdiameter 3 cm, kedalaman 4 cm.
Di bagian puncak Batu Tiga Muka ini terdapat sebuah lubang berdiameter 15 cm, kedalaman 10 cm. Diinformasikan masyarakat setempat bahwa lubang di bagian puncak digunakan untuk tempat meletakkan hasil dari panen raya yaitu beras, monis (beras yang sudah ditumbuk menjadi kecil), dan dedak.
Batu Panghulubalang adalah batu monolit dalam posisi vertikal mengecil dibagian
atasnya. Batu ini sebagai pembatas antarhalaman undak ketiga dengan keempat, sehingga batu panghulubalang ini merupakan bagian dari pagar batu undak keempat. Pada batu panghulubalangterdapat dua pahatan pada salah satu bagian sisinya yang tersusun dari atas ke bawah. Posisi pahatan tersebut sama dengan pahatan yang ada di Kubur Batu Parholian. Batu Panghulubalang ini berbentuk seperti limas dengan ukuran panjang berkisar 5,8 m, cm, lebar 2,3 m, dan tinggi 2,3 m. Pahatan pertama yang di sebelah atas berukuran panjang 33 cm, lebar 25 cm (dari lubang atas kepala ke dagu). Terdapat satu lubang kecil di bagian atas kepala yang berdiameter 1 cm, kedalaman 2,5 cm, dan satu lubang di sebelah kanan mata (mungkin lubang kuping) berdiameter 1 cm, kedalaman 0,5 cm. Bentuk pahatannya seperti wajah manusia yang memiliki dua mata, satu hidung, satu mulut sedang terbuka.
Di bawahnya terdapat pahatan Panghulubalang dengan ukuran panjang 40 cm, lebar bawah 40cm, lebar atas 10 cm. Terdapat dua lubang di bagian atas kepala, yang atas berdiameter 1 cm, kedalaman 3 cm, dan yang satunya (dibawah lubang atas, jarak lubang atas ke lubang bawah 4 cm) berdiameter 0,8 cm, kedalaman 1,1 cm. Satu lubang di sebelah kanan (mungkin lubang kuping) berdiameter 0,8 cm, kedalaman 2,3 cm. Dan lubang di paling bawah (mungkin pusar perut) dengan diameter 2 cm, kedalaman 3 cm. Secara umum bentuk pahatan wajah hampir sama dengan pahatan wajah yang terdapat di Batu Tiga Muka. Kedua pahatan ini menghadap ke arah barat. Diinformasikan masyarakat bahwa Batu Panghulubalang ini digunakan sebagai tempat mengadili masyarakat yang melakukan kesalahan (seperti pengadilan).
Batu Pencuci Kaki adalah sebuah batu yang bentuknya seperti batu lesung, berukuran
panjang 62 cm, lebar 57 cm, tebal 20 cm dan diatasnya terdapat pahatan berbentuk oval dengan diameter 40 cm, kedalaman 25 cm. Diinformasikan bahwa batu ini dfungsikan sebagai tempat mencuci kaki sebelum masuk ke rumah. Tidak terdapat pahatan ataupun motif hias dan terletak di barat daya Kubur Batu Parholian.
Lesung batu dengan satu lubang terletak di sebelah tenggara Kubur Batu Parholian.Memiliki ukuran panjang berkisar 300 cm, lebar 300 cm, tinggi 120 cm dan
diatasnya dipahatkaan lubang berbentuk oval berdiameter 25 cm, kedalaman 20 cm (sama seperti ukuran Lubang Batu Si Lima Mata). Tidak terdapat pahatan ataupun motif hias, diinformasikan masyarakat fungsi lesung ini sebagai tempat menumbuk padi.