• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II EKSISTENSI MAHAR DALAM PERKAWINAN

C. Prosesi Perkawinan Dalam Adat Istiadat Bugis

Perkawinan dalam pandangan masyarakat adat, bahwa perkawinan itu bertujuan untuk membangun, membina dan memelihara hubungan keluarga serta kekerabatan yang rukun dan damai. Dikarenakan nilai-nilai yang hidup dalam

8 Mattulada, “Kebudayaan Bugis-Makassar”, dalam Koentjaraningrat, ed., Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, h. 270

masyarakat adat yang menyangkut tujuan perkawinan tersebut serta menyangkut terhadap kehormatan keluarga dan kerabat yang bersangkutan dalam masyarakat, maka proses pelaksanaan perkawinan harus diatur dengan tata tertib adat agar dapat terhindar dari penyimpangan dan pelanggaran yang memalukan yang akhirnya akan menjatuhkan martabat, kehormatan keluarga dan kerabat yang bersangkutan.9 Menurut Van Dijk sebagaimana dikutip oleh Tolib Setiady, perkawinan menurut hukum adat sangat bersangkutan dengan urusan keluarga, masyarakat, martabat dan pribadi. Berbeda dengan perkawinan masyarakat Barat (Eropa) modern bahwa perkawinan hanya merupakan urusan mereka yang akan kawin saja.10

Bagi masyarakat Bugis, perkawinan berarti siala “saling mengambil satu sama lain”. Jadi, perkawinan adalah ikatan timbal-balik. Walaupun mereka berasal dari status sosial berbeda, setelah menjadi suami-istri mereka merupakan mitra. Hanya saja, perkawinan bukan sekadar penyatuan dua mempelai semata, akan tetapi suatu upacara penyatuan dan persekutuan dua keluarga yang biasanya telah memiliki hubungan sebelumnya untuk mempereratnya (ma’pasideppe’ mabelae

atau mendekatkan yang sudah jauh). Hal ini juga sering ditemukan dua sahabat atau mitra usaha yang bersepakat menikahkan turunan mereka, atau menjodohkan anak mereka sejak kecil.11

9

Tolib Setiady, Intisari Hukum Adat Indonesia: Dalam Kajian Kepustakaan, (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2013), h. 225

10

Tolib Setiady, Intisari Hukum Adat Indonesia: Dalam Kajian Kepustakaan, h. 222 11

Perkawinan (mappabotting) bagi masyarakat Bugis-Makassar adalah sesuatu yang sangat sakral dan merupakan simbol status sosial yang dihargai. Diiringi aturan adat serta agama sehingga membentuk rangkaian upacara yang unik, penuh tata krama, dan sopan santun serta saling menghargai satu sama lain. Dalam pelaksanaannya terdapat beberapa tahap yang harus dilalui yaitu:

1. Makkapese’-kapese’ dan Mattiro

Makkapese’-kapese‟ maksudnya ialah tahap penjajakan, tahap dimana

perwakilan dari kelurga besar pihak laki-laki mulai menjajaki (mencari tahu) perempuan mana yang akan disandingkan dengan calon mempelai laki-laki, lalu dilanjutkan dengan mattiro dimana pihak keluarga juga akan mencari tahu tentang calon pengantin perempuan yang akan dilamar, apakah ia sempurna secara fisik atau memiliki kekurangan tertentu.

Setelah itu bagi kaum bangsawan, garis keturunan perempuan dan laki-laki diteliti secara saksama untuk mengetahui status kebangsawanan mereka sesuai atau tidak. Jangan sampai tingkat pelamar lebih rendah dari tingkat perempuan yang akan dilamar.12

2. Ma’duta

Setelah kunjungan resmi pertama untuk mengajukan pertanyaan secara tidak langsung dan halus, apabila keluarga perempuan menyambut baik niat kunjungan pertama dari pihak laki-laki, maka kedua pihak menentukan hari untuk mengajukan lamaran (ma’duta) secara resmi. Selama proses pelamaran

12

Ali Akbarul Falah, “Pandangan Masyarakat Islam Terhadap Tradisi Mattunda Wenni Pammulang Dalam Perkawinan Adat Bugis Di Kecamatan Gantarang Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan, (Skripsi S1 Fakultas Syariah, UIN Malang, 2009), h. 55

berlangsung, garis keturunan, status, kekerabatan, dan kedua calon mempelai diteliti lebih jauh, sambil membicarakan sompa dan jumlah uang antaran (dui’ menre’) yang harus diberikan oleh pihak laki-laki untuk biaya pesta pernikanan pasangannya, serta hadiah persembahan kepada calon mempelai perempuan dan keluarganya. Setelah semua persyaratan ini disepakati, ditentukan hari pertemuan guna mengukuhkan (ma’pasiarekkeng) kesepakatan tersebut.13

3. Mapettu Ada

Mapettu ada‟ ialah memutuskan dan meresmikan segala hasil pembicaraan yang diambil pada waktu pelamaran dilakukan, dalam bahasa Bugis

dinamakan “mappasiarekkeng” seperti uang belanja, leko, maskawin, hari akad nikah, dan lain-lain sebagainya. Jika di Bone mapettu ada‟ ini dilaksanakan dalam bentuk dialog antara juru bicara pihak pria dengan juru bicara pihak perempuan.14 Adapun yang dibicarakan dalam rangkaian acara

mapettu ada‟ adalah sebagai berikut;

a. Tanra Esso, penentuan acara puncak atau hari pesta pernikahan sangat perlu mempertimbangkan beberapa faktor, seperti sewaktu-waktu yang dianggap luang bagi keluarga. Jika keluarga, baik laki-laki atau perempuan itu petani, biasanya mereka memilih waktu sesudah panen.15

13

Ali Akbarul Falah, Pandangan Masyarakat Islam Terhadap Tradisi Mattunda Wenni Pammulang Dalam Perkawinan Adat Bugis Di Kecamatan Gantarang Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan, h. 56

14

Abdul Kadir Ahmad, Sistem Perkawinan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, (Makassar: Penerbit Indobis, 2006), h. 140

15

Andi Nurnaga, Adat Istiadat Pernikahan Masyarakat Bugis, (Makassar: CV. Telaga Zamzam, 2001), h. 18

b. Paenre‟ atau uang panai.

c. Leko (seserahan). Adapula hadiah-hadiah yang biasa disebut dengan

leko. Leko ini diberikan pada waktu mengantar pengantin laki-laki ke rumah pengantin perempuan untuk melaksanakan akad nikah. Biasanya leko ini berisikan seperti kelengkapan untuk pengantin perempuan yang terdiri dari make up, sepatu, dan lain sebagainya.16

d. Sompa atau sunrang (Mahar).

Pada hari kesepakatan itu hadiah pertunangan kepada mempelai perempuan (pasio’ atau pengikat) dibawa, antara lain berupa sebuah cincin, beserta sejumlah pemberian simbol lainnya, misalnya tebu, sebagai simbol sesuatu yang manis; buah nangka (panasa) diibaratkan dekat atau kenalan yang dihormati orang tuanya, tetapi kedua orang tua dan calon pengantin sendiri tidak ikut hadir. Juru bicara pihak laki-laki kemudian membahas kembali hal-hal yang telah disepakati, kemudian dijawab oleh wakil pihak perempuan, lalu ditentukanlah hari pesta pernikahan. Setelah itu, hadiah-hadiah yang dibawa diedarkan kepada wakil pihak perempuan untuk diperiksa, pertama-tama oleh kaum pria kemudian perempuan, selanjutnya dibawa ke kamar calon mempelai perempuan.17

16

Andi Nurnaga, Adat Istiadat Pernikahan Masyarakat Bugis, h. 51 17

Ali Akbarul Falah, Pandangan Masyarakat Islam Terhadap Tradisi Mattunda Wenni Pammulang Dalam Perkawinan Adat Bugis Di Kecamatan Gantarang Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan, h. 56

4. Mappabotting

Hari perkawinan dimulai dengan mappaenre’ balanja (appanai leko dalam bahasa Makkassar), ialah proses dari mempelai laki-laki disertai rombongan dari kaum kerabatnya pria-wanita, tua-muda, dengan membawa macam-macam makanan, pakaian wanita dan maskawin. Sampai di rumah mempelai wanita maka dilangsungka upacara pernikahan atau aggaukeng (pagaukang dalam bahasa Makassar). Pada pesta itu para tamu yang diundang memberi kado atau uang sebagai sumbangan (soloreng). Beberapa hari sesudah pernikahan, pengantin baru mengunjungi keluarga suami dan tinggal beberapa lama disana. Dalam kunjungan itu isteri harus membawa pemberian-pemberian untuk semua anggota keluarga suami. Kemudian ada kunjungan ke keluarga isteri, juga dengan pemberian-pemberian untuk mereka semua. Pengantin baru juga harus tinggal untuk beberapa lama di rumah keluarga itu. Barulah mereka dapat menempati rumah mereka sendiri nalaoanni alena (naentengammi kalenna dalam bahasa Makassar). Hal itu berarti bahwa mereka sudah membentuk rumah tangga sendiri.18

Dokumen terkait