• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran-saran

1. Bagi masyarakat, hendaknya berupaya mempertahankan tradisi atau adat istiadat dan kebudayaan mereka dalam sebagai salah satu identitas kebangsaan yang mengandung norma kearifan lokal dan berusaha untuk lebih memahami relasi antara ajaran agama dengan tradisi-tradisi yang terdapat dalam perkawinan, agar kiranya setiap perkembangan zaman dapat direspon dengan baik tanpa harus meninggalkan nilai-nilai luhur yang telah lama adanya.

2. Nilai utama yang terkandung dalam kebudayaan Bugis hendaknya mampu menjadi one of solution dalam menyikapi dampak perkembangan teknologi dan globalisasi supaya tidak kehilangan indentitas atau jati diri. Ilmuwan dan ulama memiliki kewajiban untuk memberikan penjelasan mengenai nilai kearifan lokal yang terintegrasi dengan Islam, tanpa menghindari perkembangan zaman, karena justru nilai utama kebudayaan Bugis seiring dengan semangat ajaran Al-Qur‟an yang mendorong masyarakat untuk menjadi garda terdepan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Hal demikian tentunya bukan hanya berlaku pada

masyarakat Bugis saja, tapi setiap entitas kebudayaan yang yang begitu banyak di Indonesia, dimana masing-masing dari entitas tersebut memiliki nilai-nilai kearifan budaya yang kiranya dapat diintegrasikan dengan nilai Islam untuk dipraktekkan dalam kehidupan.

3. Bagi seluruh mahasiswa Fakultas Syari‟ah dan Hukum UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta, hendaknya agar lebih intens melakukan penelitian di bidang etnografis, untuk mencapai pemahaman mengenai Islam dan korelasinya dengan budaya lokal, sehingga dapat menemukan jawaban mengenai makna dari tradisi yang berjalan dan dipraktekkan di tengah-tengah masyarakat, khususnya dalam tradisi perkawinan, serta memahami dan menganalisa maksud dan tujuan dari fenomena tersebut sebagai sebuah pengetahuan yang baru dan tinggi nilainya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Abdul Kadir. Sistem Perkawinan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Makassar: Penerbit Indobis. 2006.

Ahmad, Kamri, “Budaya Siri’ Bugis Makassar Sebagai Langkah Prevensi Delik,

Suatu Kajian Delik Pembunuhan dan Pencemaran Nama Baik Orang Lain.”Tesis Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang. 1997.

Ahmadi, Fahmi Muhammad. dan Aripin, Jaenal. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2010. Al-Baihaqi, Ahmad Ibn Al-Hasan Ibn Ali. Sunan Al-Kubra. Juz III. Beirut: Dar

al-Fikr, t.th.

Al-Baihaqi, Ahmad Ibn Al-Hasan Ibn Ali. Sunan Al-Kubra. Juz III. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.

Al-Bukhari, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Juz II. Riyadh: Bait al-Afkar ad-Dauliyah.1998.

Ali, Zainuddin. Antropologi Hukum. Palu: Yayasan Indonesia Baru. 2013.

Al-Zuhaili, Wahbah. Al-Fiqh Al-Islam wa Adillatuhu. Damaskus: Dar al-Fikr, 2004.

Asikin, Zainal dan Amiruddin. Pengantar Metode Peneiltian Hukum. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2004.

As-Sijistani, Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy‟ats al-Azdi. Ensiklopedia Hadits 5;

Sunan Abu Dawud. Penerjemah Muhammad Ghazali dkk.. Jakarta:

Almahira. 2013.

Ath-Thabari, Abu Ja‟far Muhammad bin Jarir. Tafsir Ath-Thabari. Penerjemah Akhmad Afandi. Jakarta: Pustaka Azzam. 2008.

Badan Pusat Statistik Bulukumba, Statistik Kabupaten Bulukumba 2014. Bulukumba: BPS Bulukumba. 2014.

Daly, Peunoh. Hukum Perkawinan Islam: Suatu Studi Perbandingan Dalam

Kalangan Ahlus-Sunnah dan Negara-Negara Islam, Jakarta: Bulan

Falah, Ali Akbarul.“Pandangan Masyarakat Islam Terhadap Tradisi Mattunda Wenni Pammulang Dalam Perkawinan Adat Bugis Di Kecamatan Gantarang Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan, Skripsi S1 Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 2009. Gazalba, Sidi. Masyarakat Islam: Pengantar Sosiologi dan Sosiografi. Jakarta:

Penerbit Bulan Bintang. 1976.

Ghazali, Abdurrahman. Fiqh Munakahat, Jakarta: Kencana. 2006.

Hadikusuma, Hilman. Hukum Perkawinan Adat, Bandung: Citra Aditya Bakti. 1990.

Hamid, Syamsul Rijal. Buku Pintar Agama Islam, Bogor: Cahaya Islam. 2006. Hudaeri, Muhammad. ed.. Harmonisasi Agama dan Budaya di Indonesia. Jakarta:

Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta. 2009. Humam, Ibnu. Syarah Fath al-Qadiir. Juz III. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.

Idrus, Muhammad. Metode Penelitian Ilmu Sosial: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif. Yogyakarta: Penerbit Erlangga. 2009.

Kelsen, Hans. Dasar-Dasar Hukum Normatif, Penerjemah Nurulita Yusron. Cet. II. Bandung: Nusa Media, 2009.

Koentjaraningrat, Kebudayaan; Mentalitasdan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia. 2008.

Leinkeit, Roberts Edward. Introducing Cultural Anthropology. New York: The McGraw-Hill Companies. 2004.

M.D., Sagimun. Sultan Hasanuddin Menentang V.O.C.. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1985.

Madzkur, Ibrahim. Al-Mu’jam Al-Wasiith, Beirut: Dar al-Fikr. t.th,

Mardani, Hukum Perkawinan Islam Di Dunia Islam Modern, Yogyakarta: GrahaIlmu, 2011.

Mattulada “Kebudayaan Bugis-Makassar”. Dalam Koentjaraningrat, ed. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbiat Djambatan. 1979.

Mughniyyah, Muhammad Jawad. Fiqh Lima Mazhab. Penerjemah Masykur A.B. dkk..Jakarta: Lentera. 1999.

Muhammad, Bushar. Asas-Asas Hukum Adat.Cet.14. Jakarta: PT Balai Pustaka. 2013.

Mukhtar, Kamal. Asas-Asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, Jakarta: PT. Bulan Bintang. 1974.

Mulkhan, Abdul Munir. Teologi Kebudayaan: Dan Demokrasi Modernitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1995.

Munawwir, Ahmad Warson. Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progresif. 1997.

Nonci, Upacara Adat Istiadat Masyarakat Bugis. Makassar: CV. Aksara. 2002. Noor, Juliansyah. Metodologi Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi, dan Karya

Ilmiah. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011.

Nurnaga, Andi. Adat Istiadat Pernikahan Masyarakat Bugis. Makassar: CV. Telaga Zamzam. 2001.

Nurudin, Amiur. dan Tarigan, Azhari Akmal. Hukum Perdata Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana. 2004.

Pelras, Christian. The Bugis. Penerjemah Abdul Rahman Abu dkk.. Jakarta: Penerbit Nalar. 2006.

Prasetya, Joko Tri. dkk., Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT. Rinneka Cipta. 2013. Riady Lamallongeng, Asmat. Dinamika Perkawinan Adat Dalam Masyarakat

Bugis Bone. Makassar: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bone. 2007.

Rosid, Hattama dkk., ed., Harmonisasi Agama dan Budaya di Indonesia.Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta. 2009.

Rusyd, Ibnu. Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Penerjemah Abdul Rasyad Shiddiq. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana. 2013.

Sabiq, As-Sayyid. Fiqh As-Sunnah. Kairo: Dar al-Fath li I‟lam al-„Arabi, 1999.

Saleh, H.E. Hassan dkk. Kajian Fiqh Nabawi dan Fiqh Kontemporer. Jakarta: Rajawali Pers. 2008

Salim, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid. Shahih Fikih Sunnah. Penerjemah Khairul Amri Harahap dan Faisal Saleh. Jakarta: Pustaka Azzam. 2007. Setiady, Tolib. Intisari Hukum Adat Indonesia: Dalam Kajian Kepustakaan,

Shihab, M. Quraisy. Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. II, Ciputat: Lentera Hati. 2000.

Sholeh, Asrorun Ni‟am. Fatwa-Fatwa Masalah Pernikahan dan Keluarga. Jakarta: Penerbit eLSAS. 2008

Shomad, Abd. Hukum Islam Penormaan Prinsip Syariah Dalam Hukum Indonesia, Jakarta: Kencana Grup. 2010.

Soekanto, Soerjono. dan B. Taneko, Soleman. Hukum Adat Indonesia. Jakarta: CV. Rajawali. 1981.

Soekanto, Soerjono. Hukum Adat Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2003.

Sopyan, Yayan. Islam Negara: Transformasi Hukum Perkawinan Islam Dalam Hukum Nasional. Jakarta: PT. Wahana Semesta Intermedia. 2012.

Sopyan, Yayan. Metode Penelitian Hukum. Jakarta:t.t.p. 2009.

Spradley, James P. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara WacanaYogya. 1997. Sudarsono, Hukum Kekeluargaan Nasional, Jakarta: PT. Rineka Cipta. 1991. Sudiyat, Imam. Hukum Adat Sketsa Asas. Yogyakarta: Liberti. 2007.

Sunggono, Bambang. Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2007.

Syarifuddin, Amir. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia; Antara Fiqh

Munakahat dan Undang-undang Perkawinan. Jakarta: Kencana. 2006

Thalib, Sayuti. Hukum Kekeluargaan Indonesia: Berlaku Bagi Umat Islam, Jakarta: UI Press. 1986.

Tihami, M. A. dan Fahrani, Sohari. Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap. Jakarta: Rajawali Pers.2009.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka. 2005.

Vergouwen, J.C. Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba. Yogyakarta: LkiS Yogyakarta. 2004.

Wahid, Abdurrahman. Islam Kosmopolitan: Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan. Jakarta: The Wahid Institute. 2007.

Waluyo, Bambang. Penelitian Hukum Dalam Praktek. Jakarta: Sinar Grafika. 2008.

Yanggo, Huzaimah Tahido. Masail Fiqhiyyah: Kajian Hukum Islam Kontemporer. Bandung: Penerbit Angkasa. 2005.

Yunus, Mahmud. Kamus Arab Indonesia. Jakarta: PT. Hidakarya Agung. 1990. Zahrah, Muhammad Abu. Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah. Kairo: Daar Fikr

al-„Arabi. t.th.

Artikel dan Wawancara

Alaidrus, Shariva. “Mahar Dalam Tradisi Pernikahan Bangsawan Babar”, artikel diakses pada 04 Oktober 2015 dari http://www.antaranews.com/berita/

431398/mahar-dalam-tradisi-pernikahan-bangsawan-babar

Ama, Kornelis Kewa. “Mahar Kawin yang Membebani Keluarga”, artikel diakses

pada 04 Otober 2015 dari http://lipsus.kompas.com/jejakperadabanntt

/read/2010/12/10/08361911

Amir, Hern. “Jelajah Tiga Datuk di Sulawesi Selatan”, artikel diakses pada 29

September 2015 dari http://daerah.sindonews.com/read/881803/29/jelajah-tiga-datuk-di-sulawesi-selatan-1404994262

http://www.bulukumbakab.go.id/diaksespadatanggal 04 Mei 2014, pukul 22.00 WIB

www.MksBolKm.com. disarikan dari buku Tata Cara Perkawinan Menurut Adat Bone; Lembaga Adat Saoraja Bone. Diakses pukul 15.38 WIB, tanggal 04 Mei 2014.

Wawancara Pribadi Dengan Andi Jumliadi Adil (Tokoh Adat Bulukumba)

Wawancara Pribadi Dengan Drs. H. Abdul Hafidh, MAP. (Tokoh Agama Bulukumba)

Wawancara Pribadi Dengan Drs. M. Arskal Salim, M.A., Ph.D (Ilmuwan Bugis) Wawancara Pribadi Dengan Prof. Dr. H.A. Salman Maggalatung, S.H., M.H.

(Ilmuwan Bugis)

Wawancara Pribadi Dengan Elemen Masyarakat (Andi Megawati Adil, Andi Sriwati, Andi Asmawati, Andi Indah Kumalasari)

HASIL WAWANCARA DENGAN ELEMEN MASYARAKAT KABUPATEN BULUKUMBA

Nama : Andi Megawati Adil, BA.

Usia : 62 Tahun

Alamat : Desa Bonto Tangnga, Bulukumba Pekerjaan : Pensiunan Guru PNS

Pertanyaan: Mohon disampaikan waktu bapak/Ibu menikah ?

Jawaban: Tahun 2001

Pertanyaan : Dalam prosesi pernikahan menurut adat istiadat disini terdapat tahapan yang harus dipenuhi yaitu adanya mahar dan paenre‟,

mohon dijelaskan sepengetahuan bapak/ibu ?

Jawaban Mahar merupakan salah sat unsur yang wajib ada dalam pernikahan di Islam, paenre atau panai‟ itu yang “dinaikkan

kepada mempelai perempuan, untuk ongkos pesta.

Pertanyaan: Jikalau bapak/ibu berkenan, mohon disampaikan kepada kami

jumlah mahar dan paenre‟ yang bapak/ibu terima/berikan ? Jawaban: mahar saya berupa sebidang tanah perumahan 10x15 m3 dan

paenre‟ saya jika dikonversikan dengan nilai rupiah sekarang

sekitar Rp. 20.000.000,-.

Pertanyaan: Besaran mahar dan paenre‟ dipengaruhi oleh stratifikasi sosial

yang ada di tengah-tengah masyarakat, lantas jumlahnya didasarkan kepada tingkatan status sosial calon mempelain perempuan, semakin tinggi strata sosial calon mempelai perempuan semakin besar pula jumlah mahar dan paenre‟ yang

diberikan, apakah bapak/ibu meneyetujui hal tersebut, komentar bapak/ibu ?

Jawaban: Saya setuju dengan hal tersebut, karena dilingkungan keluarga kami mempunyai ketentuan tersendiri. Untuk membedakan derajat keluarga kami dengan yang lainnnya. Jalur keturunan kebangsawanan yang ada dalam keluarga kami untuk dipertahankan.

Pertanyaan: Apakah jumlah mahar dan paenre‟ yang terkadang sangat besar

tersebut tidak mempersulit pihak mempelai laki-laki, mohon tanggapannya ?

Jawaban: Menurut saya tidak memberatkan, karena mempelai laki-laki sudah mengetahui sekaligus telah memahami dan mengerti

ketentuan yang ada dalam keluarga besar calon mempelai perempuan. Namun menurut pribadi saya, sesestinya diserahkan sesuai kemampuan pihak mempelai laki-laki tetapi nilai atau jumlah yang diberikan tidak mengurangi harapan/kebutuhan pernikahan. Sebab apa, ditakutkan menyusahkan bagi kedua mempelai, biasanya mengalami kesusahan setelah pernikahan dilangsungkan karena terlilit hutang (akibat jumlah mahar dan paenre‟ yang terlalu tinggi).

Agamapun menjelaskan kepada orang tua agar tidak mempersulit pernikahan anak perempuannya, untuk mengantisipasi hal-hal negatif yang akan terjadi pada seorang perempuan apabila tidak segera dinikahkan.

Pertanyaan: Menurut bapak/ibu, apa makna yang terkandung (yang dapat bapak/ibu pahami) dalam penentuan besaran mahar dan

paenre‟ tersebut ?

Jawaban: Pemahaman saya, ini mengenai harga diri seorang perempuan beserta keluarga besarnya, karena jika tanpa diberi mahar dan

paenre‟ dianggap kehormatan seorang perepuan itu tidak ada.

Jadi bisa dibilang mahar itu dalam perspektif adat disini sebagai bentuk kompenasi terhadap kehormatan seorang perempuan, sedangkan paenre’ itu digunakan untuk membiayai teknis prosesi pernikahan.

HASIL WAWANCARA DENGAN ELEMEN MASYARAKAT KABUPATEN BULUKUMBA

Nama : Andi Sriwati, S.Pd., MM., M.Pd.

Usia : 44 Tahun

Alamat : Kecamatan Bonto Tiro, Bulukumba Pekerjaan : Guru (Pegawai Negeri Sipil)

Pertanyaan: Mohon disampaikan waktu bapak/Ibu menikah ?

Jawaban: Pada september 2001

Pertanyaan : Dalam prosesi pernikahan menurut adat istiadat disini terdapat tahapan yang harus dipenuhi yaitu adanya mahar dan paenre‟,

mohon dijelaskan sepengetahuan bapak/ibu ?

Jawaban Mahar disini disebut dengan sunrang, uang paenre‟ atau panai

itu uang belanja.

Pertanyaan: Jikalau bapak/ibu berkenan, mohon disampaikan kepada kami

jumlah mahar dan paenre‟ yang bapak/ibu terima/berikan ?

Jawaban: Mahar saya berupa tanah perumahan seluas 15x20 m2,

sedangkan panre‟ saya pada waktu itu sedang pasca krismon sebesar Rp. 8.000.000,-, bila dikonversi pada saat ini sekitar Rp. 40.000.000,-.

Pertanyaan: Besaran mahar dan paenre‟ dipengaruhi oleh stratifikasi sosial

yang ada di tengah-tengah masyarakat, lantas jumlahnya didasarkan kepada tingkatan status sosial calon mempelain perempuan, semakin tinggi strata sosial calon mempelai perempuan semakin besar pula jumlah mahar dan paenre‟ yang

diberikan, apakah bapak/ibu meneyetujui hal tersebut, komentar bapak/ibu ?

Jawaban: Ya saya setuju, karena memang sudah ketentuan adat beitu. Jika mahar memang keberadaannya ditentukan oleh agama.

Namun, tentang paenre‟ saya kira bisa dikompromikan. Namun

terkadang paenre‟ itu diberikan oleh pihak laki-laki lebih dari permintaan pihak perempuan karena mampu.

Pertanyaan: Apakah jumlah mahar dan paenre‟ yang terkadang sangat besar

tersebut tidak mempersulit pihak mempelai laki-laki, mohon tanggapannya ?

Pertanyaan: Menurut bapak/ibu, apa makna yang terkandung (yang dapat bapak/ibu pahami) dalam penentuan besaran mahar dan

paenre‟ tersebut ?

Jawaban: Ya minimal itu sebagai sebuah bentuk apresiasi terhadap harkat dan martabat seorang perempuan yang akan dipinang.

HASIL WAWANCARA DENGAN ELEMEN MASYARAKAT KABUPATEN BULUKUMBA

Nama : Andi Indah Kumalasari

Usia : 35 Tahun

Alamat : Jl. Cendana No. 2 Kel. Caile, Kec. Ujung Bulu, Bulukumba Pekerjaan : Pegawai Honorer Pemerintah Kabupaten Bulukumba

Pertanyaan: Mohon disampaikan waktu bapak/Ibu menikah ?

Jawaban: Tahun 2002

Pertanyaan : Dalam prosesi pernikahan menurut adat istiadat disini terdapat tahapan yang harus dipenuhi yaitu adanya mahar dan paenre‟,

mohon dijelaskan sepengetahuan bapak/ibu ?

Jawaban Mahar itu harus ada, tidak boleh tidak ada. Jika paenre‟ uang

yang diberikan untuk melaksanakan pesta yang jumlahnya itu setahu saya bisa sesuai kesepakatan.

Pertanyaan: Jikalau bapak/ibu berkenan, mohon disampaikan kepada kami

jumlah mahar dan paenre‟ yang bapak/ibu terima/berikan ?

Jawaban: Mahar saya berupa sebidang tanah persawahan (jumlahnya

tidak disebutkan). Dan waktu itu paenre‟nya berupa uang senilai Rp. 15.000.000 kira-kira kalau sekarang bisa sekitar diatas Rp. 50.000.000,-

Pertanyaan: Besaran mahar dan paenre‟ dipengaruhi oleh stratifikasi sosial

yang ada di tengah-tengah masyarakat, lantas jumlahnya didasarkan kepada tingkatan status sosial calon mempelain perempuan, semakin tinggi strata sosial calon mempelai perempuan semakin besar pula jumlah mahar dan paenre‟ yang

diberikan, apakah bapak/ibu meneyetujui hal tersebut, komentar bapak/ibu ?

Jawaban: Iya tentu setuju, karena keluarga kami memang sudah seperti itu.

Pertanyaan: Apakah jumlah mahar dan paenre‟ yang terkadang sangat besar

tersebut tidak mempersulit pihak mempelai laki-laki, mohon tanggapannya ?

Jawaban: Ya memang kadang mempersulit, karena mungkin faktor kemampuan laki-laki itu tidak semua sama.

Pertanyaan: Menurut bapak/ibu, apa makna yang terkandung (yang dapat bapak/ibu pahami) dalam penentuan besaran mahar dan

paenre‟ tersebut ?

Jawaban: Menurut saya itu sebagai bentuk penghormatan terhadap derajat keluarga kami.

HASIL WAWANCARA DENGAN ELEMEN MASYARAKAT KABUPATEN BULUKUMBA

Nama : Andi Asmawati Kr. Ade, S.Sos., M.M.,M.SDM.

Usia : 41 Tahun

Alamat : Jl. Mutiara Laut No. 7 Kel. Ela-ela, Bulukumba Pekerjaan : PNS Pemerintah Kabupaten Bulukumba.

Pertanyaan: Mohon disampaikan waktu bapak/Ibu menikah ?

Jawaban: 28 Desember 1997

Pertanyaan : Dalam prosesi pernikahan menurut adat istiadat disini terdapat tahapan yang harus dipenuhi yaitu adanya mahar dan paenre‟,

mohon dijelaskan sepengetahuan bapak/ibu ?

Jawaban: Intinya mahar atau sunrang dan paenre‟ itu yang diberikan

pihak laki-laki ke pihak perempuan dalam prosesi pernikahan menurut adat istiadat disini.

Pertanyaan: Jikalau bapak/ibu berkenan, mohon disampaikan kepada kami

jumlah mahar dan paenre‟ yang bapak/ibu terima/berikan ?

Jawaban: Sebidang tanah kebun di daerah Longi berukuran 15x20 m2

dan paenre‟nya waktu itu sebesar Rp. 5.000.000 kalau zaman sekarang ya bisa sekitar 30-an juta mungkin.

Pertanyaan: Besaran mahar dan paenre‟ dipengaruhi oleh stratifikasi sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat, lantas jumlahnya didasarkan kepada tingkatan status sosial calon mempelain perempuan, semakin tinggi strata sosial calon mempelai perempuan semakin besar pula jumlah mahar dan paenre‟ yang

diberikan, apakah bapak/ibu meneyetujui hal tersebut, komentar bapak/ibu ?

Jawaban: Setuju, karena memang pada dasarnya itu sudah merupakan ketentuan adat yang berlaku di kalangan kami.

Pertanyaan: Apakah jumlah mahar dan paenre‟ yang terkadang sangat besar

tersebut tidak mempersulit pihak mempelai laki-laki, mohon tanggapannya ?

Jawaban: Tentu tidak, karena sudah ada kesepakatan antara kedua belah pihak, sehingga hasil musyawarah keluarga bisa diterima dan dilaksanakan bersama.

Pertanyaan: Menurut bapak/ibu, apa makna yang terkandung (yang dapat bapak/ibu pahami) dalam penentuan besaran mahar dan

paenre‟ tersebut ?

Jawaban: Setahu saya, yang jelas ini mengenai mahar atau sunrang

HASIL WAWANCARA DENGAN TOKOH ADAT KABUPATEN BULUKUMBA

Nama : Andi Jumliadi Adil

Usia : 63 Tahun

Alamat : Desa Bontotangnga, Kecamatan Bonto Tiro, Bulukumba Pekerjaan : Anggota Lembaga Adat Kabupaten Bulukumba.

Pertanyaan: Dari perspektif adat istiadat disini, bagaimana penjelasan bapak mahar dan paenre‟ itu ?

Jawaban: Ya jika mahar itu sudah merupakan kewajiban suami kepada isteri dan agama sudah mengaturnya, jika paenre‟ itu memang hukum adat yang

berlaku disini yang diliat berrdasarkan tingkatan sosialnya.

Pertanyaan: Bagaimana mekanisme pemberian mahar/paenre’ dari suami kepada isteri di daerah ini?

Jawaban: Jika mahar diserahkan ketika prosesi akad nikah, jika paenre

diserahkan ketika mapettu ada‟ atau ketika menerima utusan keluarga mempelai pria untuk yang kedua kalinya.

Pertanyaan: Bagaimana jenis-jenis mahar/panai yang ada di masyarakat saat ini, dan apakah telah terjadi beberapa perubahan ?

Jawaban: Ya jika mahar dan paenre‟ itu berdasarkan status sosialnya. Bisa karena dia anak bangsawan, atau karena pekerjaannya, atau karena jabatan dan pendidikannya. Tergantung permintaan keluarga pihak perempuan, tetapi baisanya berupa tanah atau emas untuk mahar, dan jika paenre‟ dahulu bisa berbentuk tanah, kelapa, atau sapi, tapi saat ini bisa dengan uang tunai, termasuk bisa dengan emas.

Pertanyaan: Menurut pengalaman bapak, apakah pasangan menetapkan mahar/paenre’ tidak mengalami gesekan-gesekan dalam keluarga masing-masing ?

Jawaban: Sebenarnya iya itu dapat terjadi, namun karena sebelumnya telah dikomunikasikan oleh kedua belah pihak, insya Allah itu tidak terjadi, intinya bagaimana saling menjaga kehormatan masing-masing keluarga. Kami mengenal budaya siri‟ dan karena prinsip yang dipegang teguh oleh masyarakat disini adalah sipakatau, sipakale’bi, dan sipakainge’. Sipakatau dapat dimaknai dengan memanusiakan manusia, saling menghormati sesama manusia, sipakale’bi bisa dimaknai saling melebihkan artinya saling mengangkat dan menjaga derajat, dan sipakainge’ bermakna saling mengingkatkan antara satu dengan yang lainnya.

Pertanyaan: Jika ternyata dalam beberapa kasus pernikahan tidak mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang telah dijalankan, apakan ada sanksi-sanksi yang dijatuhkan oleh hukum adat dan masyarakat kepada kedua mempelai ?

Jawaban: Ya jelas tersisih dari keluarga besar, terdapat istilah “teaja’ nakke na

sassali pammanakang”. Jika diartikan secara bahasa kalimat itu maknanya “saya tidak mau dipermalukan oleh kemenakan”, namun

lebih luasnya bahwa dalam sebuah rumpun keluarga besar harus saling menjaga nama baik, jangan sampai mempermalukan ataupun mencoreng nama baik keluarga besar. Jika di masyarakat, sanksi sosial yang terjadi misalnya selain tersisih (namun tidak sekeras yang terjadi dalam keluarga besar) mereka menggunjingkan hal-hal tersebut yang terkadang tanpa henti-hentinya.

Pertanyaan: Sebenarnya apa makna utama yang ingin ditunjukkan, atau apa yang dapat dipahami dari mahar dan paenre‟ itu harus sesuai dengan status

sosialnya, misalnya jika bangsawan harus sekian, jika bukan bangsawan pun sekian, sebenarnya apa yang hendak ditunjukkan ?

Jawaban: Yang jelas status sosianya, tingkatan strata sosialnya berdasarkan keturunannya itulah yang menandakan, misalnya jika turunannya begini ya harus begini, tidak boleh tidak, karena memang ada beberapa jalur keturunan harus melalui itu karena garis darah kebangsawanannya, dari “sono”nya memang sudah harus begitu.

Pertanyaan: Anggaplah sekarang bukan karena status darah birunya, anggaplah karena sudah hidup mapan, sudah mempunyai pekerjaan, pendidikan yang mumpuni, ditetapakan mahar tinggi juga, sebenarnya bagaimana makna filosofis yang terkandung dalam mahar dan paenre‟ itu dari

perspektif adat istiadat disini ?

Jawaban: Tentunya untuk saling menghormati asal-usul kita, dan untuk

menunjukkan bahwa kita ini memang dari “sana” begitu, artinya kita

dari jalur keturunan yang terhormat, makna filosofisnya ya untuk saling menjaga nama baik keluarga, misalnya ya karena status sosialnya tinggi, meskipun bentuk penghormatan itu tidak mesti diberikan dalam bentuk jumlah mahar dan paenre‟ yang besar, tapi kan

tidak tepat juga jika diberikan dalam bentuk kecil, kira-kira begitu.

Dokumen terkait