• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERKEMBANGAN TRAFFICKING DAN PROSTITUSI, DAMPAK SERTA UPAYA

2 Prostitusi

Tindak prostitusi di bagi ke dalam Dua kategori: mereka yang menjadi korban dan mereka yang bukan. Dari perspektif korban, pemerkosaan orang dewasa, pemerkosaan anak-anak dan remaja, dan

25

penyerangan seksual masuk ke dalam kategori tindak kriminal karena seseorang telah menjadi korban. Sementara itu, aktivitas seksual yang di persiapkan melalui persetujuan kedua belah pihak, prostitusi dan pornografi, "tidak ada korbannya" (victim-less). Artinya, pihak yang terlibat di dalamnya menganggap tidak ada yang saling di rugikan.

Pada masa pendudukan Jepang tahun 1940-an, muncul lokalisasi yang terkenal, yaitu Kembang Jepun. Para pelacur di situ melayani hasrat seks tentara yang mencari hiburan di tengah perang. Setelah kemerdekaan, bisnis seks di kota ini bukannya berhenti, tetapi malah semakin marak.

Saat ini, ada enam kawasan pelacuran besar di Surabaya. Dolly adalah lokalisasi paling terkenal yang tumbuh sejak tahun 1960-an. Bersebelahan dengan Dolly, ada lokalisasi Jarak. Para pelacur dan germo di situ merupakan pindahan dari Jagir,

Dolly memang punya sejarah unik, lokasi strategis, dan cara menjajakan pelacur yang dramatis. Menurut Tjahjo Purnomo Wijadi, peneliti Lembaga Studi Perubahan Sosial (LSPS), yang pernah meneliti prostitusi Dolly untuk skripsi di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, pada mulanya Dolly hanyalah kawasan pemakaman China di daerah pinggiran kota yang sepi. Tahun 1960-an, makam itu banyak di bongkar untuk di jadikan hunian.

Tahun 1967, seorang mantan pelacur berdarah Jawa-Filipina, Dolly Khavit, mendirikan rumah bordil di Jalan Kupang Timur I. Lantaran dianggap sebagai perintis, Dolly kemudian diabadikan sebagai nama daerah itu. “Dari hanya beberapa wisma, Dolly lantas berkembang menjadi kawasan pelacuran yang ramai tahun 1980-an,” kata Tjahjo.26

Kenapa prostitusi tumbuh subur di Surabaya? “Karena Surabaya itu kota besar dan kota pelabuhan. Banyak orang singgah di sini dan itu pasar bagi prostitusi. Artinya, ujung-ujungnya kan soal supply and demand,” kata L Dyson P, Ketua Program Studi S-3 Ilmu-ilmu Sosial di Unair Surabaya.27

26

Wawancara dengan peneliti Lembaga Studi Perubahan Sosial (LSPS) UNAIR

27

Fenomena prostitusi menggeliat bersama perkembangan kota. Hampir semua kota di dunia punya kawasan “Lampu Merah”. “Pada kasus Surabaya, germo dan pelacur sangat berperan dalam membuka kawasan baru dan mengembangkannya jadi kota,” kata Dyson menambahkan.

Menurut Guru Besar Ilmu Sosial Unair, Soetandyo Wignyosoebroto, suka atau tidak suka, pelacuran memang nyata-nyata ada dan hidup bersama masyarakat Surabaya. Kegiatan itu ada karena punya fungsi sosial. “Prostitusi di kota itu bagaikan septic tank di rumah kita. Fungsinya untuk menampung kotoran atau sampah,” katanya.28

Sebut saja namanya, Eiffel (19). Meski mengaku baru tiga minggu menjadi penghuni Dolly, perempuan berkulit kuning langsat dan semampai tubuh 162 cm ini menjadi salah satu primadona laris Wisma “B”. Orang bilang, wajah cantik Eiffel mirip penyanyi Nafa Urbach.

“Baru tiga bulan saya bercerai. Anak saya dua tahun, kini di asuh ibu,” ungkap Eiffel, yang lulusan SMA Negeri di sebuah kota di Jawa Tengah. “Ayah saya pensiunan pegawai PEMDA” katanya. Sang ibu, menurut Eiffel, hanya tahu kalau dirinya bekerja di pabrik di Surabaya.

Uang memang menjadi pangkal segala alasan, mengapa tiga minggu lalu ia merantau dengan bus ke Surabaya. Dan, jurus kepepet (terdesak), menjadi pemicu utamanya melakukan pekerjaan jadi pelacur.29 Namun pekerjaan ini ia lakukan bukan semata-mata di dorong karena kemiskinan atau

trafficking umumnya alasan yang membawa perempuan seperti Eiffel ini melakukan pekerjaan sebagai pemuas seks.

“Sejak kelas III SMA saya memakai sabu, ikut-ikutan pacar yang dulu memerawani saya. Lepas waktu saya jadi (perempuan) panggilan, untuk cari uang buat beli sabu,” ungkap Eiffel, yang mengaku kebiasaannya dulu adalah siang sekolah, sore nyabu, malam belajar dan terkadang “menerima panggilan”.

“Anehnya, jika saya usai nyabu lalu belajar malam harinya, pelajaran seperti menempel di kepala saya. Maka, saya pun peringkatnya di kelas selalu urutan 1-3...,” ungkap perempuan yang tangkas dan

28

Wawancara dengan guru besar Ilmu Sosial UNAIR

29

selalu nyambung jika di ajak bicara ini. Tetapi, gara-gara harus memenuhi kebutuhan sabu, Eiffel harus mengorbankan kemolekan tubuhnya untuk terkadang jadi panggilan. Maka, tubuh pun di pakai untuk pengayuh tiga tujuan: merengkuh pacar, meraup uang demi membeli kebutuhan sabu...

Namun, lantaran kebiasaan parasit sang pacar yang di kemudian hari jadi suami (tak mau kerja akan tetapi pengennya Cuma “numpang mulya” sama istri), Eiffel pun tiga bulan lalu bercerai. Demi menghidupi anak dan memenuhi kebutuhan dirinya, Eiffel pun kini mendamparkan dirinya ke Dolly. Ia bahkan mengaku, ingin meneruskan kuliah lagi suatu saat nanti.

“Kerja dari pukul 16.00 sampai pukul 03.00, Saya biasa melayani sekitar 10 tamu,” ungkap Ana (28),30 perempuan berambut lurus, berkulit putih asal Pekalongan, yang baru jadi penghuni Wisma “I” di Dolly sejak sekitar bulan September 2007. Ana menjadi pelacur, setelah cerai dari suaminya, Usman (32), yang selingkuh dengan teman dekatnya.31

Apapun alasan yang membawa Eiffel dan Ana serta perempuan lain di Dolly dan Jarak –kompleks pelacuran yang lebih luas di sekitar Dolly mereka mau tak mau harus menjalani ini: jadi mesin uang untuk diri sendiri dan orang sekitarnya jika jadi pekerja seks.

Di samping alasan Moral, Agama dan Ekonomi, "prostitusi" perlu di amankan karena berkaitan dengan eksploitasi. Pelacuran adalah produk masyarakat patriarkal, kekuasaan pria yang berlebihan berarti kelemahan wanita.

Di Indonesia dalam kasus "prostitusi" KUHP yang paling banyak mendapat keuntungan adalah germo dan mucikari, dan mereka jelas banyak melanggar hukum. Tapi kenyataannya di lapangan, yang di tangkap justru pelacurnya.

Repotnya, banyak aparat hukum, seperti hakim, saksi, pembuat BAP (polisi) atau jaksa, senantiasa mengawali ucapannya dengan kalimat "demi Tuhan". Tuhan saja di perjualbelikan, apalagi "hanya" anak gadis!!!

30

Wawancara dengan PSK kawasan Dolly

31

Dokumen terkait