• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan

Dalam dokumen GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (Halaman 105-114)

Bab III Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah Dan Kebijakan Keuangan

3.2. Arah Kebijakan Keuangan Daerah

3.2.1. Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan

Pengelolaan keuangan daerah dilakukan dengan menganut azas-azas: tertib, taat

pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan

bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan, kepatutan dan manfaat

untuk masyarakat. Keuangan daerah ini meliputi penerimaan atau pendapatan

daerah, pengeluaran daerah atau belanja daerah dan pembiayaan daerah.

Gambaran keuangan daerah dapat dilihat dari anggaran pendapatan dan belanja

daerah. Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan pendapatan tahun 2009, 2010,

tahun berjalan 2011 dalam buku APBD dan proyeksi atau target pendapatan tahun

2012, 2013.

Tahun 2012

98

Tabel III.19

Proyeksi/Target Pendapatan Daerah

Provinsi DIY

NO

U R A I A N

Tahun 2009

Tahun 2010

Tahun Berjalan

2011

Proyeksi/Target

2012

Proyeksi/Target

2013

(APBD murni)

(APBD murni)

(APBD murni)

(APBD murni)

(APBD murni)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

A

PENDAPATAN

1.221.594.240.781,00 1.241.129.602.290,00 1.419.475.100.223,00 1.475.965.819.663,00 1.558.646.800.591,00

1.1

Pendapatan Asli Daerah (PAD)

596.850.801.653,00

621.738.059.309,00

700.339.191.807,00

753.215.881.857,00

835.347.436.585,00

1.1.1

Pajak Daerah

524.567.434.500,00

526.658.537.860,00

592.498.871.953,00

643.338.447.000,00

717.674.390.600,00

1.1.2

Retribusi Daerah

32.843.463.785,00

35.839.076.100,00

37.709.418.200,00

35.535.637.340,00

38.833.417.844,00

1.1.3

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan

14.071.903.368,00

25.376.333.815,00

30.557.390.679,00

30.558.499.207,00

30.678.000.000,00

1.1.4

Lain-lain PAD yang Sah

25.368.000.000,00

33.864.111.534,00

39.573.510.975,00

43.783.298.310,00

48.161.628.141,00

1.2

Dana Perimbangan

618.381.981.128,00

615.334.816.981,00

714.542.342.916,00

715.166.925.806,00

715.166.925.806,00

1.2.1

Dana Bagi Hasil Pajak/Non Pajak

61.052.031.128,00

76.479.469.981,00

74.240.414.916,00

74.864.997.806,00

74.864.997.806,00

1.2.2

Dana Alokasi Umum

523.919.950.000,00

527.471.247.000,00

620.812.328.000,00

620.812.328.000,00

620.812.328.000,00

1.2.3

Dana Alokasi Khusus

33.410.000.000,00

11.384.100.000,00

19.489.600.000,00

19.489.600.000,00

19.489.600.000,00

1.3

Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah

6.361.458.000,00

4.056.726.000,00

4.593.565.500,00

7.583.012.000,00

8.132.438.200,00

1.3.1

Hibah

3.827.100.000,00

4.056.726.000,00

4.593.565.500,00

5.494.262.000,00

6.043.688.200,00

1.3.2

Dana Darurat

-

-

-

-

-

1.3.3

Dana Bagi Hasil Pajak dari Pemerintah Daerah Lainnya

-

-

-

-

-

1.3.4

Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus

2.534.358.000,00

-

-

2.088.750.000,00

2.088.750.000,00

1.3.5

Bantuan Keuangan dari Pemerintah Daerah Lainnya

-

-

-

-

-

Tahun 2012

99

3.2.2. Arah Kebijakan Keuangan Daerah

Kemampuan keuangan daerah dari sisi APBD, yang dipergunakan untuk membiayai

program/kegiatan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan

dari tahun ke tahun relatif terus meningkat. Peningkatan ini dikarenakan

menyesuaikan perkembangan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan

pembangunan daerah.

3.2.2.1. Arah Kebijakan Pendapatan Daerah

Pendapatan daerah (langsung) pada hakikatnya diperoleh melalui mekanisme pajak

dan retribusi atau pungutan lainnya yang dibebankan pada seluruh masyarakat.

Keadilan atau kewajaran dalam perpajakan terkait dengan prinsip kewajaran

“horisontal” dan kewajaran “vertikal”. Prinsip dari kewajaran horisontal menekankan

pada persyaratan bahwa masyarakat dalam posisi yang sama harus diberlakukan

sama, sedangkan prinsip kewajaran vertikal dilandasi pada konsep kemampuan

wajib pajak/non pajak (retribusi) untuk membayar, artinya masyarakat yang

mempunyai kemampuan untuk membayar tinggi diberikan beban pajak yang tinggi

pula. Tentunya untuk menyeimbangkan kedua prinsip tersebut pemerintah daerah

dapat melakukan diskriminasi tarif secara rasional untuk menghilangkan rasa

ketidakadilan.

Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum

daerah yang menambah ekuitas dana, sebagai hak pemerintah daerah dalam satu

tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Seluruh pendapatan

daerah dianggarkan dalam APBD secara bruto yang mempunyai makna bahwa

jumlah pendapatan yang dianggarkan tidak boleh dikurangi dengan belanja yang

digunakan dalam rangka menghasilkan pendapatan tersebut dan/atau dikurangi

dengan bagian pemerintah pusat/daerah lain dalam rangka bagi hasil. Pendapatan

daerah merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk

setiap sumber pendapatan.

Strategis yang ditempuh dalam meningkatkan pendapatan daerah adalah dengan

melalui: 1) Perbaikan manajemen terhadap semua potensi pendapatan daerah yang

kemudian dapat langsung direalisasikan, dengan manajemen profesional di bidang

sumber daya manusia yang diikuti dengan kemudahan pengoperasioanl alat bantu

canggih sehingga prosedur dapat disederhanakan; 2) Peningkatan investasi dengan

membangun iklim usaha yang kondusif dalam hal ini ditersediaan data serta sarana

penunjang sehingga jangkauan investasi dapat merata.

Peningkatan pendapatan daerah ditempuh dengan kebijakan antara lain sebagai

berikut :

1. Peningkatan Pendapatan Daerah dengan menggali dan mengoptimalkan sumber-

sumber pendapatan yang sesuai dengan kewenangan daerah melalui intensifikasi

dan ekstensifikasi pendapatan daerah;

2. Peningkatkan kualitas sumberdaya manusia pengelola pendapatan daerah;

3. Peningkatan koordinasi dalam pengelolaan pendapatan daerah;

4. Peningkatan sarana dan prasarana yang mendukung peningkatan pendapatan

daerah;

5. Peningkatan pelayanan pajak dan non pajak kepada masyarakat;

6. Peningkatan pendayagunaan kekayaan daerah sebagai sumber pendapatan

daerah.

Tahun 2012

100

Upaya yang dilakukan dalam pemenuhan target pendapatan dilakukan antara lain

dengan,penelitian potensi pendapatan daerah, pembebasan dan penyederhadanaan

prosedur pajak dan non pajak, pembebasan sanksi administrasi berupa denda dan

bunga, operasionalisasi penagihan pajak daerah door to door, pelayanan dengan

mobil keliling, pelayanan pada event tertentu di kabupaten/kota seperti pameran

pembangunan, pasar malam sekaten dan lain-lain.

Sumber pendapatan daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana

Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah. Rincian sumber

pendapatan daerah tersebut adalah sebagai berikut:

1.

Pendapatan Asli Daerah, terdiri dari:

a. Pajak Daerah terdiri dari Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama

Kendaraan Bermotor, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Pajak

Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan.

b. Retribusi Daerah terdiri dari Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa Usaha, dan

Retribusi Perizinan Tertentu.

c. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan terdiri dari Bagian Laba

Atas Penyertaan Modal pada Perusahaan Milik Daerah, Bagian Laba Atas

Penyertaan Modal pada Perusahaan Patungan/Milik Swasta, dan Bagian

Laba Lembaga Keuangan Non Bank.

d. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah terdiri dari Hasil Penjualan Aset

Daerah yang tidak Dipisahkan, Penerimaan Jasa Giro, Penerimaan Bunga

Deposito, Pendapatan Denda Retribusi, Pendapatan dari Kerjasama

Penyelenggaraan Diklat, Pemakaian Barang Milik Daerah, Lain-lain, dan

Pendapatan Usaha BLUD.

2.

Dana Perimbangan, terdiri dari:

a. Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak merupakan bagian dana perimbangan untuk

mengatasi masalah ketimpangan vertikal (antara Pusat dan Daerah) yang

dilakukan melalui pembagian hasil antara Pemerintah Pusat dan Daerah

penghasil, dari sebagian penerimaan perpajakan. Bagi Hasil Pajak/Bukan

Pajak terdiri dari Pajak Bumi dan Bangunan, Pajak Penghasilan Orang Pribadi

dan Bagi Hasil Sumberdaya Alam.

b. Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan dana transfer yang bersifat umum

(block grant) untuk mengatasi masalah ketimpangan horizontal (antar

Daerah) dengan tujuan utama pemerataan kemampuan keuangan antar

Daerah. Jumlah DAU setiap daerah propinsi dipengaruhi oleh jumlah

keseluruhan DAU untuk daerah propinsi, bobot daerah propinsi yang

bersangkutan dan jumlah bobot dari seluruh daerah propinsi.

c. Dana Alokasi Khusus (DAK) merupakan dana yang bersumber dari

pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan

untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah

dan sesuai dengan prioritas nasional.

3.

Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah, terdiri dari:

a. Hibah, terdiri dari Pendapatan Hibah dari Pemerintah, Pendapatan Hibah dari

Badan/Lembaga/Organisasi Swasta Dalam Negeri seperti sumbangan dari

Dealer/Main Dealer Otomotif, PT Sarihusada dan PT. Jasa Raharja.

Tahun 2012

101

3.2.2.2. Arah Kebijakan Belanja Daerah

Dalam konteks belanja, Pemerintah Daerah harus mengalokasikan belanja daerah

secara adil dan merata agar relatif dapat dinikmati oleh seluruh kelompok

masyarakat tanpa diskriminasi, khususnya dalam pemberian pelayanan umum.

Oleh karena itu, untuk dapat mengendalikan tingkat efisiensi dan efektifitas

anggaran, maka dalam perencanaan anggaran perlu diperhatikan, 1) Penetapan

secara jelas tujuan dan sasaran, hasil dan manfaat, serta indikator kinerja yang ingin

dicapai; 2) Penetapan prioritas kegiatan dan penghitungan beban kerja, serta

penetapan harga satuan yang rasional.

Aspek penting lainnya yang diatur dalam peraturan daerah ini adalah keterkaitan

antara kebijakan (policy), perencanaan (planning) dengan penganggaran (budget)

oleh pemerintah daerah, agar sinkron dengan berbagai kebijakan pemerintah

sehingga tidak menimbulkan tumpang tindih pelaksanaan program dan kegiatan

oleh pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.

Proses penyusunan APBD pada dasarnya bertujuan untuk menyelaraskan kebijakan

ekonomi makro dan sumber daya yang tersedia, mengalokasikan sumber daya

secara tepat sesuai kebijakan pemerintah dan mempersiapkan kondisi bagi

pelaksanaan pengelolaan anggaran secara baik. Oleh karena itu pengaturan

penyusunan anggaran merupakan hal penting agar dapat berfungsi sebagaimana

diharapkan yaitu 1) dalam konteks kebijakan, anggaran memberikan arah kebijakan

perekonomian dan menggambarkan secara tegas penggunaan sumberdaya yang

dimiliki masyarakat; 2) fungsi utama anggaran adalah untuk mencapai

keseimbangan ekonomi makro dalam perekonomian; 3) anggaran menjadi sarana

sekaligus pengendali untuk mengurangi ketimpangan dan kesenjangan dalam

berbagai hal di suatu negara.

Belanja daerah dilaksanakan dengan kebijakan antara lain sebagai berikut :

1.

Belanja daerah diprioritaskan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan

yang menjadi kewenangan provinsi yang terdiri dari urusan wajib dan urusan

pilihan.

2.

Belanja dalam rangka penyelenggaraan urusan wajib digunakan untuk

melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya

memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan

pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang

layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial.

3.

Belanja daerah disusun berdasarkan pendekatan prastasi kerja yang berorientasi

pada pencapaian hasil dari input yang direncanakan. Hal tersebut bertujuan

untuk meningkatkan akuntabilitas perencanaan anggaran serta memperjelas

efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran.

4.

Penyusunan belanja daerah diprioritaskan untuk menunjang efektivitas

pelaksanaan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah dalam rangka

melaksanakan urusan pemerintah daerah yang menjadi tanggung jawabnya.

Peningkatan alokasi anggaran belanja yang direncanakan oleh setiap SKPD

harus terukur yang diikuti dengan peningkatan kinerja pelayanan dan

peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Tahun 2012

102

Arah pengelolaan belanja daerah dilaksanakan untuk pemenuhan hal-hal berikut:

1.

Efisien dan efektivitas anggaran

Dana yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk dapat

meningkatkan pelayanan pada masyarakat yang pada gilirannya akan

meningkatkan kesejahteraan masayarakat.

2.

Prioritas

Penggunaan anggaran diprioritaskan untuk mendanai kegiatan-kegiatan

penyediaan infrastruktur dan peningkatan pendapatan masyarakat serta

penyediaan pelayanan kesehatan dan pendidikan guna mewujudkan

kesejahteraan masyarakat.

3.

Tolok ukur dan target kinerja

Belanja daerah pada setiap kegaiatan harus disertai tolok ukur dan target

pada setiap indikator kinerja, agar kejelasan pencapaian dapat dicermati

secara kontinu.

4.

Efisiensi belanja langsung

Belanja langsung diupayakan untuk mendukung tercapainya tujuan

pembangunan yang efisien dan efektif, yang disusun atas dasar kebutuhan

nyata masyarakat.

5.

Transparan dan akuntabel

Setiap pengeluaran belanja dipublikasikan dan dipertanggungjawabkan

sesuai dengan ketentuan yang berlaku melalui publikasi masyarakat

sehingga mudah dan tidak mendapatkan hambatan dalam mengkases

informasi.

Rincian belanja daerah terdiri dari belanja tidak langsung dan belanja langsung.

Belanja tidak langsung merupakan belanja yang tidak terkait dengan kegiatan,

sedangkan Belanja Langsung merupakan belanja yang terkait langsung dengan

program/kegiatan. Belanja tidak langsung meliputi belanja pegawai, belanja bunga,

belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil kepada kabupaten/kota dan pemerintah

desa, belanja bantuan keuangan kepada kabupaten/kota dan pemerintah desa dan

belanja tak terduga. Belanja langsung terdiri dari belanja pegawai, belanja barang

dan jasa dan belanja modal. Selain itu belanja daerah juga dibagi dalam belanja

untuk urusan wajib dan belanja untuk urusan pilihan. Berikut ini adalah tabel yang

menjelaskan anggaran belanja tahun 2009, 2010, tahun berjalan 2011 dalam buku

APBD, dan proyeksi belanja tahun 2012, 2013.

Tahun 2012

103

Tabel III.20

Proyeksi Belanja Daerah

Provinsi DIY

NO

Uraian

Jumlah

Tahun 2009

(APBD murni)

Tahun 2010

(APBD murni)

Tahun Berjalan 2011

(APBD murni)

Proyeksi Tahun

2012 (APBD murni)

Proyeksi Tahun

2013 (APBD murni)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

B

BELANJA

1.412.048.985.397,00

1.394.446.100.737,00

1.590.785.711.143,00

1.566.040.183.382,00

1.636.579.140.620,00

2.1

Belanja Tidak Langsung

724.456.345.800,00

793.215.967.114,00

849.118.417.907,00

928.804.289.982,00

1.040.724.061.784,00

2.1.1

Belanja pegawai

314.281.098.500,00

357.054.576.757,00

443.439.503.485,00

504.635.530.799,00

714.724.061.784,00

2.1.2

Belanja bunga

45.778.400,00

19.464.200,00

0,00

0,00

0,00

2.1.3

Belanja subsidi

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

2.1.4

Belanja hibah

9.259.164.300,00

79.964.291.845,00

7.618.834.000,00

0,00

0,00

2.1.5

Belanja bantuan sosial

102.955.463.300,00

94.390.427.612,00

105.752.386.562,00

129.077.339.200,00

16.000.000.000,00

2.1.6

Belanja bagi hasil kepada Provinsi/Kabupaten/kota dan Pemerintah Desa

201.426.441.300,00

195.720.206.700,00

215.127.693.860,00

227.591.419.983,00

250.000.000.000,00

2.1.7

Belanja Bantuan Keuangan kepada

Provinsi/Kabupaten/kota dan Pemerintahan

Desa

79.488.400.000,00

60.067.000.000,00

67.180.000.000,00

57.500.000.000,00

50.000.000.000,00

2.1.8

Belanja tidak terduga

17.000.000.000,00

6.000.000.000,00

10.000.000.000,00

10.000.000.000,00

10.000.000.000,00

2.2

Belanja Langsung

687.592.639.597,00

601.230.133.623,00

741.667.293.236,00

637.235.893.400,00

595.855.078.836,00

2.2.1

Belanja pegawai

91.266.748.072,00

91.305.152.178,00

90.164.078.815,00

76.468.307.208,00

72.437.769.308,00

2.2.2

Belanja barang dan jasa

390.251.129.566,00

378.233.586.208,00

501.329.695.373,00

433.320.407.512,00

402.767.990.288,00

2.2.3

Belanja modal

206.074.761.959,00

131.691.395.237,00

150.173.519.048,00

127.447.178.680,00

120.649.319.240,00

JUMLAH PENDAPATAN

1.221.594.240.781,00

1.241.129.602.290,00

1.419.475.100.223,00

1.475.965.819.663,00

1.558.646.800.591,00

JUMLAH BELANJA

1.412.048.985.397,00

1.394.446.100.737,00

1.590.785.711.143,00

1.566.040.183.382,00

1.636.579.140.620,00

SURPLUS/(DEFISIT)

(190.454.744.616,00)

(153.316.498.447,00)

(171.310.610.920,00)

(90.074.363.719,00)

(77.932.340.029,00)

Tahun 2012

104

3.2.2.3. Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah

Pembiayaan daerah merupakan pembiayaan yang disediakan untuk menganggarkan

setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan

diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada

tahun-tahun berikutnya.

Pembiayaan daerah terdiri dari Penerimaan Pembiayaan dan Pengeluaran

Pembiayaan. Penerimanaan Pembiayaan terdiri dari Sisa Lebih Perhitungan

Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya (SiLPA), Pencairan Dana Cadangan, Hasil

Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan, Penerimaan Pinjaman Daerah,

Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman, Penerimaan Piutang Daerah dan

Penerimaan Kembali Penyertaan Modal Daerah. Sedangkan Pengeluaran

Pembiayaan terdiri dari Pembentukan Dana Cadangan, Penyertaan Modal (Investasi)

Pemerintah Daerah, Pembayaran Pokok Utang dan Pemberian Pinjaman Daerah dan

Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Anggaran Berjalan (SILPA). Berikut ini

adalah tabel yang menjelaskan pembiayaan tahun 2009, 2010, tahun berjalan 2011

dalam buku APBD dan proyeksi atau target pembiayaan tahun 2012, 2013.

Tahun 2012

105

Tabel III.21

Proyeksi Pembiayaan Daerah

Provinsi DIY

NO

Jenis Penerimaan dan Pengeluaran

Pembiayaan Daerah

Jumlah

Tahun 2009

(APBD murni)

Tahun 2010

(APBD murni)

Tahun Berjalan 2011

(APBD murni)

Proyeksi Tahun 2012

(APBD murni)

Proyeksi Tahun 2013

(APBD murni)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

C

PEMBIAYAAN

190.454.744.616,00

153.316.498.447,00

171.310.610.920,00

90.074.363.719,00

77.932.340.029,00

3.1

Penerimaan pembiayaan

206.829.744.616,00

192.460.350.514,00

203.425.610.920,00

107.989.363.719,00

102.847.340.029,00

3.1.1

Sisa lebih perhitungan anggaran tahun

sebelumnya (SILPA)

197.313.675.592,00

166.284.781.490,00

184.394.541.896,00

88.958.294.695,00

76.816.271.005,00

3.1.2

Pencairan Dana Cadangan

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

3.1.3

Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

3.1.4

Penerimaan pinjaman daerah

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

3.1.5

Penerimaan kembali pemberian pinjaman

0,00

16.556.000.000,00

17.915.000.000,00

17.915.000.000,00

24.915.000.000,00

3.1.6

Penerimaan piutang daerah

8.400.000.000,00

8.503.500.000,00

0,00

0,00

0,00

3.1.7

Penerimaan dari biaya penyusutan kendaraan

1.116.069.024,00

1.116.069.024,00

1.116.069.024,00

1.116.069.024,00

1.116.069.024,00

3.2

Pengeluaran pembiayaan

16.375.000.000,00

39.143.852.067,00

32.115.000.000,00

17.915.000.000,00

24.915.000.000,00

3.2.1

Pembentukan dana cadangan

1.575.000.000,00

0,00

0,00

0,00

0,00

3.2.2

Penyertaan modal (Investasi) daerah

14.700.000.000,00

39.093.852.067,00

2.000.000.000,00

0,00

0,00

3.2.3

Pembayaran pokok utang

100.000.000,00

50.000.000,00

0,00

0,00

0,00

3.2.4

Pemberian pinjaman daerah

0,00

0,00

30.115.000.000,00

17.915.000.000,00

24.915.000.000,00

Tahun 2012

- 106 -

Dalam dokumen GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (Halaman 105-114)

Dokumen terkait