Bab III Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah Dan Kebijakan Keuangan
3.2. Arah Kebijakan Keuangan Daerah
3.2.1. Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan
Pengelolaan keuangan daerah dilakukan dengan menganut azas-azas: tertib, taat
pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan, kepatutan dan manfaat
untuk masyarakat. Keuangan daerah ini meliputi penerimaan atau pendapatan
daerah, pengeluaran daerah atau belanja daerah dan pembiayaan daerah.
Gambaran keuangan daerah dapat dilihat dari anggaran pendapatan dan belanja
daerah. Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan pendapatan tahun 2009, 2010,
tahun berjalan 2011 dalam buku APBD dan proyeksi atau target pendapatan tahun
2012, 2013.
Tahun 2012
98
Tabel III.19
Proyeksi/Target Pendapatan Daerah
Provinsi DIY
NO
U R A I A N
Tahun 2009
Tahun 2010
Tahun Berjalan
2011
Proyeksi/Target
2012
Proyeksi/Target
2013
(APBD murni)
(APBD murni)
(APBD murni)
(APBD murni)
(APBD murni)
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
A
PENDAPATAN
1.221.594.240.781,00 1.241.129.602.290,00 1.419.475.100.223,00 1.475.965.819.663,00 1.558.646.800.591,00
1.1
Pendapatan Asli Daerah (PAD)
596.850.801.653,00
621.738.059.309,00
700.339.191.807,00
753.215.881.857,00
835.347.436.585,00
1.1.1
Pajak Daerah
524.567.434.500,00
526.658.537.860,00
592.498.871.953,00
643.338.447.000,00
717.674.390.600,00
1.1.2
Retribusi Daerah
32.843.463.785,00
35.839.076.100,00
37.709.418.200,00
35.535.637.340,00
38.833.417.844,00
1.1.3
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan
14.071.903.368,00
25.376.333.815,00
30.557.390.679,00
30.558.499.207,00
30.678.000.000,00
1.1.4
Lain-lain PAD yang Sah
25.368.000.000,00
33.864.111.534,00
39.573.510.975,00
43.783.298.310,00
48.161.628.141,00
1.2
Dana Perimbangan
618.381.981.128,00
615.334.816.981,00
714.542.342.916,00
715.166.925.806,00
715.166.925.806,00
1.2.1
Dana Bagi Hasil Pajak/Non Pajak
61.052.031.128,00
76.479.469.981,00
74.240.414.916,00
74.864.997.806,00
74.864.997.806,00
1.2.2
Dana Alokasi Umum
523.919.950.000,00
527.471.247.000,00
620.812.328.000,00
620.812.328.000,00
620.812.328.000,00
1.2.3
Dana Alokasi Khusus
33.410.000.000,00
11.384.100.000,00
19.489.600.000,00
19.489.600.000,00
19.489.600.000,00
1.3
Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah
6.361.458.000,00
4.056.726.000,00
4.593.565.500,00
7.583.012.000,00
8.132.438.200,00
1.3.1
Hibah
3.827.100.000,00
4.056.726.000,00
4.593.565.500,00
5.494.262.000,00
6.043.688.200,00
1.3.2
Dana Darurat
-
-
-
-
-
1.3.3
Dana Bagi Hasil Pajak dari Pemerintah Daerah Lainnya
-
-
-
-
-
1.3.4
Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus
2.534.358.000,00
-
-
2.088.750.000,00
2.088.750.000,00
1.3.5
Bantuan Keuangan dari Pemerintah Daerah Lainnya
-
-
-
-
-
Tahun 2012
99
3.2.2. Arah Kebijakan Keuangan Daerah
Kemampuan keuangan daerah dari sisi APBD, yang dipergunakan untuk membiayai
program/kegiatan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan
dari tahun ke tahun relatif terus meningkat. Peningkatan ini dikarenakan
menyesuaikan perkembangan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan daerah.
3.2.2.1. Arah Kebijakan Pendapatan Daerah
Pendapatan daerah (langsung) pada hakikatnya diperoleh melalui mekanisme pajak
dan retribusi atau pungutan lainnya yang dibebankan pada seluruh masyarakat.
Keadilan atau kewajaran dalam perpajakan terkait dengan prinsip kewajaran
“horisontal” dan kewajaran “vertikal”. Prinsip dari kewajaran horisontal menekankan
pada persyaratan bahwa masyarakat dalam posisi yang sama harus diberlakukan
sama, sedangkan prinsip kewajaran vertikal dilandasi pada konsep kemampuan
wajib pajak/non pajak (retribusi) untuk membayar, artinya masyarakat yang
mempunyai kemampuan untuk membayar tinggi diberikan beban pajak yang tinggi
pula. Tentunya untuk menyeimbangkan kedua prinsip tersebut pemerintah daerah
dapat melakukan diskriminasi tarif secara rasional untuk menghilangkan rasa
ketidakadilan.
Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum
daerah yang menambah ekuitas dana, sebagai hak pemerintah daerah dalam satu
tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Seluruh pendapatan
daerah dianggarkan dalam APBD secara bruto yang mempunyai makna bahwa
jumlah pendapatan yang dianggarkan tidak boleh dikurangi dengan belanja yang
digunakan dalam rangka menghasilkan pendapatan tersebut dan/atau dikurangi
dengan bagian pemerintah pusat/daerah lain dalam rangka bagi hasil. Pendapatan
daerah merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk
setiap sumber pendapatan.
Strategis yang ditempuh dalam meningkatkan pendapatan daerah adalah dengan
melalui: 1) Perbaikan manajemen terhadap semua potensi pendapatan daerah yang
kemudian dapat langsung direalisasikan, dengan manajemen profesional di bidang
sumber daya manusia yang diikuti dengan kemudahan pengoperasioanl alat bantu
canggih sehingga prosedur dapat disederhanakan; 2) Peningkatan investasi dengan
membangun iklim usaha yang kondusif dalam hal ini ditersediaan data serta sarana
penunjang sehingga jangkauan investasi dapat merata.
Peningkatan pendapatan daerah ditempuh dengan kebijakan antara lain sebagai
berikut :
1. Peningkatan Pendapatan Daerah dengan menggali dan mengoptimalkan sumber-
sumber pendapatan yang sesuai dengan kewenangan daerah melalui intensifikasi
dan ekstensifikasi pendapatan daerah;
2. Peningkatkan kualitas sumberdaya manusia pengelola pendapatan daerah;
3. Peningkatan koordinasi dalam pengelolaan pendapatan daerah;
4. Peningkatan sarana dan prasarana yang mendukung peningkatan pendapatan
daerah;
5. Peningkatan pelayanan pajak dan non pajak kepada masyarakat;
6. Peningkatan pendayagunaan kekayaan daerah sebagai sumber pendapatan
daerah.
Tahun 2012
100
Upaya yang dilakukan dalam pemenuhan target pendapatan dilakukan antara lain
dengan,penelitian potensi pendapatan daerah, pembebasan dan penyederhadanaan
prosedur pajak dan non pajak, pembebasan sanksi administrasi berupa denda dan
bunga, operasionalisasi penagihan pajak daerah door to door, pelayanan dengan
mobil keliling, pelayanan pada event tertentu di kabupaten/kota seperti pameran
pembangunan, pasar malam sekaten dan lain-lain.
Sumber pendapatan daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana
Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah. Rincian sumber
pendapatan daerah tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Pendapatan Asli Daerah, terdiri dari:
a. Pajak Daerah terdiri dari Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama
Kendaraan Bermotor, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Pajak
Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan.
b. Retribusi Daerah terdiri dari Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa Usaha, dan
Retribusi Perizinan Tertentu.
c. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan terdiri dari Bagian Laba
Atas Penyertaan Modal pada Perusahaan Milik Daerah, Bagian Laba Atas
Penyertaan Modal pada Perusahaan Patungan/Milik Swasta, dan Bagian
Laba Lembaga Keuangan Non Bank.
d. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah terdiri dari Hasil Penjualan Aset
Daerah yang tidak Dipisahkan, Penerimaan Jasa Giro, Penerimaan Bunga
Deposito, Pendapatan Denda Retribusi, Pendapatan dari Kerjasama
Penyelenggaraan Diklat, Pemakaian Barang Milik Daerah, Lain-lain, dan
Pendapatan Usaha BLUD.
2.
Dana Perimbangan, terdiri dari:
a. Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak merupakan bagian dana perimbangan untuk
mengatasi masalah ketimpangan vertikal (antara Pusat dan Daerah) yang
dilakukan melalui pembagian hasil antara Pemerintah Pusat dan Daerah
penghasil, dari sebagian penerimaan perpajakan. Bagi Hasil Pajak/Bukan
Pajak terdiri dari Pajak Bumi dan Bangunan, Pajak Penghasilan Orang Pribadi
dan Bagi Hasil Sumberdaya Alam.
b. Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan dana transfer yang bersifat umum
(block grant) untuk mengatasi masalah ketimpangan horizontal (antar
Daerah) dengan tujuan utama pemerataan kemampuan keuangan antar
Daerah. Jumlah DAU setiap daerah propinsi dipengaruhi oleh jumlah
keseluruhan DAU untuk daerah propinsi, bobot daerah propinsi yang
bersangkutan dan jumlah bobot dari seluruh daerah propinsi.
c. Dana Alokasi Khusus (DAK) merupakan dana yang bersumber dari
pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan
untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah
dan sesuai dengan prioritas nasional.
3.
Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah, terdiri dari:
a. Hibah, terdiri dari Pendapatan Hibah dari Pemerintah, Pendapatan Hibah dari
Badan/Lembaga/Organisasi Swasta Dalam Negeri seperti sumbangan dari
Dealer/Main Dealer Otomotif, PT Sarihusada dan PT. Jasa Raharja.
Tahun 2012
101
3.2.2.2. Arah Kebijakan Belanja Daerah
Dalam konteks belanja, Pemerintah Daerah harus mengalokasikan belanja daerah
secara adil dan merata agar relatif dapat dinikmati oleh seluruh kelompok
masyarakat tanpa diskriminasi, khususnya dalam pemberian pelayanan umum.
Oleh karena itu, untuk dapat mengendalikan tingkat efisiensi dan efektifitas
anggaran, maka dalam perencanaan anggaran perlu diperhatikan, 1) Penetapan
secara jelas tujuan dan sasaran, hasil dan manfaat, serta indikator kinerja yang ingin
dicapai; 2) Penetapan prioritas kegiatan dan penghitungan beban kerja, serta
penetapan harga satuan yang rasional.
Aspek penting lainnya yang diatur dalam peraturan daerah ini adalah keterkaitan
antara kebijakan (policy), perencanaan (planning) dengan penganggaran (budget)
oleh pemerintah daerah, agar sinkron dengan berbagai kebijakan pemerintah
sehingga tidak menimbulkan tumpang tindih pelaksanaan program dan kegiatan
oleh pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.
Proses penyusunan APBD pada dasarnya bertujuan untuk menyelaraskan kebijakan
ekonomi makro dan sumber daya yang tersedia, mengalokasikan sumber daya
secara tepat sesuai kebijakan pemerintah dan mempersiapkan kondisi bagi
pelaksanaan pengelolaan anggaran secara baik. Oleh karena itu pengaturan
penyusunan anggaran merupakan hal penting agar dapat berfungsi sebagaimana
diharapkan yaitu 1) dalam konteks kebijakan, anggaran memberikan arah kebijakan
perekonomian dan menggambarkan secara tegas penggunaan sumberdaya yang
dimiliki masyarakat; 2) fungsi utama anggaran adalah untuk mencapai
keseimbangan ekonomi makro dalam perekonomian; 3) anggaran menjadi sarana
sekaligus pengendali untuk mengurangi ketimpangan dan kesenjangan dalam
berbagai hal di suatu negara.
Belanja daerah dilaksanakan dengan kebijakan antara lain sebagai berikut :
1.
Belanja daerah diprioritaskan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan
yang menjadi kewenangan provinsi yang terdiri dari urusan wajib dan urusan
pilihan.
2.
Belanja dalam rangka penyelenggaraan urusan wajib digunakan untuk
melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya
memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan
pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang
layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial.
3.
Belanja daerah disusun berdasarkan pendekatan prastasi kerja yang berorientasi
pada pencapaian hasil dari input yang direncanakan. Hal tersebut bertujuan
untuk meningkatkan akuntabilitas perencanaan anggaran serta memperjelas
efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran.
4.
Penyusunan belanja daerah diprioritaskan untuk menunjang efektivitas
pelaksanaan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah dalam rangka
melaksanakan urusan pemerintah daerah yang menjadi tanggung jawabnya.
Peningkatan alokasi anggaran belanja yang direncanakan oleh setiap SKPD
harus terukur yang diikuti dengan peningkatan kinerja pelayanan dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Tahun 2012
102
Arah pengelolaan belanja daerah dilaksanakan untuk pemenuhan hal-hal berikut:
1.
Efisien dan efektivitas anggaran
Dana yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk dapat
meningkatkan pelayanan pada masyarakat yang pada gilirannya akan
meningkatkan kesejahteraan masayarakat.
2.
Prioritas
Penggunaan anggaran diprioritaskan untuk mendanai kegiatan-kegiatan
penyediaan infrastruktur dan peningkatan pendapatan masyarakat serta
penyediaan pelayanan kesehatan dan pendidikan guna mewujudkan
kesejahteraan masyarakat.
3.
Tolok ukur dan target kinerja
Belanja daerah pada setiap kegaiatan harus disertai tolok ukur dan target
pada setiap indikator kinerja, agar kejelasan pencapaian dapat dicermati
secara kontinu.
4.
Efisiensi belanja langsung
Belanja langsung diupayakan untuk mendukung tercapainya tujuan
pembangunan yang efisien dan efektif, yang disusun atas dasar kebutuhan
nyata masyarakat.
5.
Transparan dan akuntabel
Setiap pengeluaran belanja dipublikasikan dan dipertanggungjawabkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku melalui publikasi masyarakat
sehingga mudah dan tidak mendapatkan hambatan dalam mengkases
informasi.
Rincian belanja daerah terdiri dari belanja tidak langsung dan belanja langsung.
Belanja tidak langsung merupakan belanja yang tidak terkait dengan kegiatan,
sedangkan Belanja Langsung merupakan belanja yang terkait langsung dengan
program/kegiatan. Belanja tidak langsung meliputi belanja pegawai, belanja bunga,
belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil kepada kabupaten/kota dan pemerintah
desa, belanja bantuan keuangan kepada kabupaten/kota dan pemerintah desa dan
belanja tak terduga. Belanja langsung terdiri dari belanja pegawai, belanja barang
dan jasa dan belanja modal. Selain itu belanja daerah juga dibagi dalam belanja
untuk urusan wajib dan belanja untuk urusan pilihan. Berikut ini adalah tabel yang
menjelaskan anggaran belanja tahun 2009, 2010, tahun berjalan 2011 dalam buku
APBD, dan proyeksi belanja tahun 2012, 2013.
Tahun 2012
103
Tabel III.20
Proyeksi Belanja Daerah
Provinsi DIY
NO
Uraian
Jumlah
Tahun 2009
(APBD murni)
Tahun 2010
(APBD murni)
Tahun Berjalan 2011
(APBD murni)
Proyeksi Tahun
2012 (APBD murni)
Proyeksi Tahun
2013 (APBD murni)
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
B
BELANJA
1.412.048.985.397,00
1.394.446.100.737,00
1.590.785.711.143,00
1.566.040.183.382,00
1.636.579.140.620,00
2.1
Belanja Tidak Langsung
724.456.345.800,00
793.215.967.114,00
849.118.417.907,00
928.804.289.982,00
1.040.724.061.784,00
2.1.1
Belanja pegawai
314.281.098.500,00
357.054.576.757,00
443.439.503.485,00
504.635.530.799,00
714.724.061.784,00
2.1.2
Belanja bunga
45.778.400,00
19.464.200,00
0,00
0,00
0,00
2.1.3
Belanja subsidi
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
2.1.4
Belanja hibah
9.259.164.300,00
79.964.291.845,00
7.618.834.000,00
0,00
0,00
2.1.5
Belanja bantuan sosial
102.955.463.300,00
94.390.427.612,00
105.752.386.562,00
129.077.339.200,00
16.000.000.000,00
2.1.6
Belanja bagi hasil kepada Provinsi/Kabupaten/kota dan Pemerintah Desa
201.426.441.300,00
195.720.206.700,00
215.127.693.860,00
227.591.419.983,00
250.000.000.000,00
2.1.7
Belanja Bantuan Keuangan kepada
Provinsi/Kabupaten/kota dan Pemerintahan
Desa
79.488.400.000,00
60.067.000.000,00
67.180.000.000,00
57.500.000.000,00
50.000.000.000,00
2.1.8
Belanja tidak terduga
17.000.000.000,00
6.000.000.000,00
10.000.000.000,00
10.000.000.000,00
10.000.000.000,00
2.2
Belanja Langsung
687.592.639.597,00
601.230.133.623,00
741.667.293.236,00
637.235.893.400,00
595.855.078.836,00
2.2.1
Belanja pegawai
91.266.748.072,00
91.305.152.178,00
90.164.078.815,00
76.468.307.208,00
72.437.769.308,00
2.2.2
Belanja barang dan jasa
390.251.129.566,00
378.233.586.208,00
501.329.695.373,00
433.320.407.512,00
402.767.990.288,00
2.2.3
Belanja modal
206.074.761.959,00
131.691.395.237,00
150.173.519.048,00
127.447.178.680,00
120.649.319.240,00
JUMLAH PENDAPATAN
1.221.594.240.781,00
1.241.129.602.290,00
1.419.475.100.223,00
1.475.965.819.663,00
1.558.646.800.591,00
JUMLAH BELANJA
1.412.048.985.397,00
1.394.446.100.737,00
1.590.785.711.143,00
1.566.040.183.382,00
1.636.579.140.620,00
SURPLUS/(DEFISIT)
(190.454.744.616,00)
(153.316.498.447,00)
(171.310.610.920,00)
(90.074.363.719,00)
(77.932.340.029,00)
Tahun 2012
104
3.2.2.3. Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah
Pembiayaan daerah merupakan pembiayaan yang disediakan untuk menganggarkan
setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan
diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada
tahun-tahun berikutnya.
Pembiayaan daerah terdiri dari Penerimaan Pembiayaan dan Pengeluaran
Pembiayaan. Penerimanaan Pembiayaan terdiri dari Sisa Lebih Perhitungan
Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya (SiLPA), Pencairan Dana Cadangan, Hasil
Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan, Penerimaan Pinjaman Daerah,
Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman, Penerimaan Piutang Daerah dan
Penerimaan Kembali Penyertaan Modal Daerah. Sedangkan Pengeluaran
Pembiayaan terdiri dari Pembentukan Dana Cadangan, Penyertaan Modal (Investasi)
Pemerintah Daerah, Pembayaran Pokok Utang dan Pemberian Pinjaman Daerah dan
Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Anggaran Berjalan (SILPA). Berikut ini
adalah tabel yang menjelaskan pembiayaan tahun 2009, 2010, tahun berjalan 2011
dalam buku APBD dan proyeksi atau target pembiayaan tahun 2012, 2013.
Tahun 2012
105
Tabel III.21
Proyeksi Pembiayaan Daerah
Provinsi DIY
NO
Jenis Penerimaan dan Pengeluaran
Pembiayaan Daerah
Jumlah
Tahun 2009
(APBD murni)
Tahun 2010
(APBD murni)
Tahun Berjalan 2011
(APBD murni)
Proyeksi Tahun 2012
(APBD murni)
Proyeksi Tahun 2013
(APBD murni)
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
C
PEMBIAYAAN
190.454.744.616,00
153.316.498.447,00
171.310.610.920,00
90.074.363.719,00
77.932.340.029,00
3.1
Penerimaan pembiayaan
206.829.744.616,00
192.460.350.514,00
203.425.610.920,00
107.989.363.719,00
102.847.340.029,00
3.1.1
Sisa lebih perhitungan anggaran tahun
sebelumnya (SILPA)
197.313.675.592,00
166.284.781.490,00
184.394.541.896,00
88.958.294.695,00
76.816.271.005,00
3.1.2
Pencairan Dana Cadangan
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
3.1.3
Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
3.1.4
Penerimaan pinjaman daerah
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
3.1.5
Penerimaan kembali pemberian pinjaman
0,00
16.556.000.000,00
17.915.000.000,00
17.915.000.000,00
24.915.000.000,00
3.1.6
Penerimaan piutang daerah
8.400.000.000,00
8.503.500.000,00
0,00
0,00
0,00
3.1.7
Penerimaan dari biaya penyusutan kendaraan
1.116.069.024,00
1.116.069.024,00
1.116.069.024,00
1.116.069.024,00
1.116.069.024,00
3.2
Pengeluaran pembiayaan
16.375.000.000,00
39.143.852.067,00
32.115.000.000,00
17.915.000.000,00
24.915.000.000,00
3.2.1
Pembentukan dana cadangan
1.575.000.000,00
0,00
0,00
0,00
0,00
3.2.2
Penyertaan modal (Investasi) daerah
14.700.000.000,00
39.093.852.067,00
2.000.000.000,00
0,00
0,00
3.2.3
Pembayaran pokok utang
100.000.000,00
50.000.000,00
0,00
0,00
0,00
3.2.4
Pemberian pinjaman daerah
0,00
0,00
30.115.000.000,00
17.915.000.000,00
24.915.000.000,00
Tahun 2012
- 106 -
Dalam dokumen
GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
(Halaman 105-114)