• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEKANISASI ALAT TANGKAP PANCING ULUR DENGAN

PULAU AMBON PROVINSI MALUKU Pendahuluan

Subsektor perikanan merupakan salah satu subsektor pembangunan yang memiliki peranan yang cukup strategis dalam perekonomian nasional, bahkan subsektor ini merupakan salah satu subsektor penerimaan devisa negara yang penting. Pembangunan perikanan sebagai bagian dari pembangunan nasional, diarahkan untuk mendukung tercapainya tujuan dan cita-cita luhur bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Harapan untuk menjadikan subsektor ini sebagai pendukung dalam pencapaian tujuan tersebut didasarkan pada potensi perikanan laut yang dimiliki.

Produktivitas penangkapan adalah ukuran kemampuan suatu alat tangkap. Produktivitas alat tangkap merupakan jumlah hasil tangkapan yang diperoleh dari upaya penangkapan, sebagai produksi dari proporsi ikan pada suatu kawasan perairan yang ditangkap (Gulland 1983; Widodo 2001b).

Efisiensi teknis merupakan ukuran dari kemampuan produksi yang terbaik serta keluaran optimal yang mungkin dicapai dari berbagai masukan dan teknologi yang digunakan (Viswananthan et.al., 2003). Faktor teknis dalam kegiatan penangkapan ikan berkaitan dengan tindakan atau keputusan untuk melakukan aktivitas penangkapan yang menguntungkan. Tindakan atau keputusan dalam melakukan aktivitas akan menyebabkan adanya efisiensi teknis yang berkaitan dengan dimensi alat , upaya penangkapan ikan & penggunaan teknologi penangkapan ikan (Hilborn. 1985).

Laju produksi dalam kegiatan perikanan tangkap ditentukan oleh seberapa besar upaya penangkapan yang memapar suata daerah penangkapan ikan. Upaya penangkapan ditentukan oleh dimensi alat tangkap dan kapal, jumlah hari operasi, dan penggunaan teknologi penangkapan. Dengan demikian upaya penangkapan akan menentukan jumlah produksi ikan pada suatu kawasan perikanan, sehingga upaya penangkapan juga berpengaruh terhadap keadaan sumberdaya ikan. Kemampuan tangkap suatu alat tangkap dapat diketahui dari produktivitas penangkapan, yang diukur berdasarkan perbandingan antara produksi dengan upaya penangkapan.

untuk meningkatkan produksi ikan dari kegiatan penangkapan sangat bergantung pada keadaan lokasi penangkapan, dimana lokasi penangkapan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi. Interaksi dalam proses produksi ikan dari kegiatan penangkapan ikan dapat di dibedakan menjadi 3 faktor utama, yaitu 1) faktor biologi, 2) faktor teknis, dan 3) faktor interaksi alat tangkap dengan sumberdaya ikan (Kenchington 1996).

Hubungannya dengan ke adaan biologi sumberdaya ikan, upaya penangkapan merupakan ukuran mortalitas akibat penangkapan (Sparre dan Venema 1999). Ketika sejumlah upaya penangkapan mengeksploitasi lebih rendah dibandingkan stok ikan yang tersedia , maka stok ikan yang tersisa masih dapat tumbuh dan berkembang. Produksi ikan akan meningkat proporsional terhadap upaya penangkapan, dan pada sisi lain ketersediaan ikan berkurang. Akibatnya akan terjadi ketidakseimbangan antara besarnya upaya penangkapan

dengan ketersediaan stok ikan untuk perikanan, dimana dampaknya adalah produksi ikan juga berkurang (Gulland 1983; Smith 1981; Widodo et al. 2001; Murdiyanto 2004).

Perubahan upaya penangkapan dalam skala waktu dan ruang menyebabkan variabilitas produksi ikan (Mac Call 1984; Halley dan Stergiou 2005), sehingga upaya penangkapan dapat dijadikan ukuran untuk menget ahui variabilitas produksi ikan dan kelimpahan ikan (McCluskey dan Lewison 2008). Fluktuasi dalam upaya penangkapan berkaitan deng an pelaku usaha perikanan tangkap (nelayan) (Rijndrorp et al. 2000), yaitu bagaimana mengoptimalkan produksi untuk memperoleh keuntungan, yang juga merespon regulasi atau kebijakan pemerintah (Scott 1979; Branch et al. 2006). Misalnya program motorisasi yang dilakukan pada periode tahun 1980 sebagai kebijakan untuk meningkatkan produksi (Bailey et al. 1987), perubahan dari perahu layar menjadi perahu bermesin motor tempel telah meningkatkan upaya penangkapan. Kebijakan pembangunan perikanan telah meningkatkan efisiensi dalam produksi ikan, dimana efisiensi teknik penangkapan, investasi atau produktivitas telah mendorong peningkatan efisiensi upaya penangkapan (Scott 1979; Susilowati et al. 2005).

Pengertian efektivitas mempunyai arti yang berbeda-beda bagi setiap orang, tergantung pada kerangka acuan yang dipakainya. Mengingat keanekaragaman pendapat mengenai sifat dan komposisi dari efektivitas, maka tidaklah mengherankan jika terdapat sekian banyak pertentangan pendapat sehubungan dengan cara meningkatkannya, cara mengaturnya, bahkan cara menentukan indikator efektivitas. Efektivitas merupakan taraf sampai sejauh mana peningkatan kesejahteraan manusia dengan adanya suatu program tertentu, karena kesejahteraan manusia merupakan tujuan dari proses pembangunan. Untuk mengetahui tingkat kesejahteraan tersebut dapat dilakukan dengan mengukur beberapa indikator spesial seperti; pendapatan, pendidikan ataupun rasa aman dalam mengadakan pergaulan (Soekanto, 1989:48).

Efektivitas berasal dari kata efektif, batasan konsep ini sulit untuk diperinci, karena masing‐masing disiplin ilmu memberikan pengertian sendiri. Bagi seorang ahli ekonomi atau analis keuangan, efektivitas semakna dengan keuntungan, atau laba investasi Bagi seorang manajer produksi, efektivitas seringkali berarti kuantitas keluaran (output) barang atau jasa. Bagi seorang ilmuwan bidang riset, efektivitas dijabarkan dengan jumlah paten, penamaan atau produk baru suatu organisasi. Bagi sejumlah sarjana ilmu sosial efektivitas sering kali ditinjau dari sudut kualitas kehidupan bekerja (Streers, 1980: 1).

Tindakan yang efektif adalah tindakan pencapaian tujuan tanpa memperhitungkan bagaimana atau seberapa pengorbanan yang diberikan atau ditimbulkan, asalkan tujuan dapat tercapai. Dengan demikian dapat terjadi penghamburan usaha (tenaga, waktu, fikiran, ruang benda dan uang) dari yang melaksanakan pekerjaan. Menurut pengertian tersebut, efektivitas adalah kemampuan untuk memilih sasaran yan tepat.

Efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan. Efektivitas disebut juga efektif, apabila tercapainya tujuan atau sasaran yang telah ditentukan sebelumnya. Hal tersebut sesuai dengan pengertian efektivitas menurut Hidayat (1986) yang menjelaskan bahwa: “Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas,

kualitas dan waktu) yang telah tercapai. Dimana makin besar presentase target

yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya” (Hidayat, dalam

http://blog.wordPress.Com/defenisidanpengertian efektifitas/28Maret2009/). Efektivitas adalah pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasarana dalam jumlah tertentu yang ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah barang atas jasa kegiatan yang dijalankannya. Efektivitas menunjukan keberhasilan dari segi tercapai tidaknya sasaran yang telah ditetapkannya. Jika hasil kegiatan semakin mendekati sasaran, berarti makin tinggi efektivitasnya (Siagian, 2001: 24).

Pada dasarnya, dikemukakan bahwa cara yang terbaik untuk meneliti efektivitas ialah memperhatikan secara serempak tiga buah konsep yang saling berhubungan, diantaranya adalah paham mengenai optimal tujuan, prespektif sistematika, tekanan pada segi tingkah laku manusia dalam susunan organisasi. Efektivitas dijabarkan berdasarkan kapasitas suatu organisasi untuk memperoleh dan memanfaatkan sumber daya yang langka dan berharga secara sepandai mungkin dalam usahanya mengejar tujuan operasi dan operasionalnya (Streers, 1980:4-5).

Efektivitas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan dalam mencapaisasaran yang telah ditetapkan secara tepat. Pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dan ukuran maupun standar yang berlaku mencerminkan suatu perusahaan tersebut telah memperhatikan efektivitas operasionalnya.Terdapat bebera pacara pengukuran terhadap efektivitas, sebagai berikut:

1. Keberhasilan program 2. Keberhasilan sasaran

3. Kepuasan terhadap program 4. Tingkat input dan output

5. Pencapaian tujuan menyeluruh (Campbell, 1989:121).

Sementara menurut Gibson, efektivitas organisasi dapat diukur sebagai berikut: 1. Kejelasan tujuan yang hendak dicapai

2. Kejelasan strategi pencapaian tujuan

3. Proses analisis dan perumusan kebijaksanaan yang mantap 4. Perencanaan yang matang

5. Penyusunan program yang tepat 6. Tersedianya sarana dan prasarana

7. Sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik (Gibson, dalam Tangkilisan, 2005:65)

Definisi-definisi tersebut menilai efektivitas dengan menggunakan tujuan akhir atau tujuan yang diinginkan. Kenyataan dalam upaya mencapai tujuan akhir,perusahaan harus mengenali kondisi-kondisi yang dapat menghalangi tercapainya tujuan, sehingga dapat diterima pandangan yang menilai efektivitas organisasi sebagai ukuran seberapa jauh sebuah organisasi berhasil mencapai tujuan yang layak dicapai.

Teori Efektivitas Menurut Para Ahli – Berikut ini adalah beberapa ulasan mengenai Teori Efektivitas Menurut Para Ahli.

Pengertian Teori Efektivitas Menurut Ravianto (1989:113)

Pengertian efektivitas adalah seberapa baik pekerjaan yang dilakukan, sejauh mana orang menghasilkan keluaran sesuai dengan yang diharapkan. Ini berarti bahwa apabila suatu pekerjaan dapat diselesaikan dengan perencanaan, baik dalam waktu, biaya maupun mutunya, maka dapat dikatakan efektif.

Teori Efektivitas Menurut Ndraha (2005:163)

Mendefinisikan efisiensi digunakan untuk mengukur proses, efektivitas guna mengukur keberhasilan mencapai tujuan”. Khusus mengenai efektivitas pemerintahan, Ndraha (2005:163) mengemukakan :

Efektivitas (effectiveness) yang didefinisikan secara abstrak sebagai tingkat pencapaian tujuan, diukur dengan rumus hasil dibagi dengan (per) tujuan. Tujuan yang bermula pada visi yang bersifat abstrak itu dapat dideduksi sampai menjadi kongkrit, yaitu sasaran (strategi). Sasaran adalah tujuan yang terukur, Konsep hasil relatif, bergantung pada pertanyaan, pada mata rantai mana dalam proses dan siklus pemerintahan, hasil didefinisikan. Apakah pada titik output? Outcome? Feedback? Siapa yang mendefinisikannya : Pemerintah, yang-diperintah atau bersama-sama?

Apapun penilaiannya, efektivitas birokrasi yang menyelenggarakan fungsi-fungsi pemerintah menjadi hal yang sangat penting dalam proses penyelenggaaan pemerintahan daerah.

Teori Efektivitas Menurut Barnard (dalam Prawirosoentono, 1997: 27) berpendapat “Accordingly, we shall say that an action is effective if it specific objective aim. It is efficient if it satisfies the motives of the aim, whatever it is effective or not.” Pendapat ini antara lain menunjukkan bahwa suatu kegiatan dikatakan efektif apabila telah mencapai tujuan yang ditentukan.

Teori Efektivitas Menurut Ensiklopedia administrasi, (The Liang Gie, 1967) Efektifitas adalah suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki, kalau seseorang melakukan suatu perbuatan denngan maksud tertentu yang memang dikehendaki. Maka orang itu dikatakan efektif kalau menimbulkan atau mempunyai maksud sebagaimana yang dikehendaki.

Dari pemahaman diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa suatu hal dapat dikatakan efektif apabila hal tersebut sesuai dengan dengan yang dikehendaki. Artinya, pencapaian hal yang dimaksud merupakan pencapaian tujuan dilakukannya tindak-tindakan untuk mencapai hal tersebut. Efektivitas dapat diartikan sebagai suatu proses pencapaian suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Suatu usaha atau kegiatan dapat dikatakan efektif apabila usaha atau kegiatan tersebut telah mencapai tujuannya. Apabila tujuan yang dimaksud adalah tujuan suatu instansi maka proses pencapaian tujuan tersebut merupakan

keberhasilan dalam melaksanakan program atau kegiatan menurut wewenang, tugas dan fungsi instansi tersebut.

Menurut Ravianto (1989:113), pengertian efektivitas adalah seberapa baik pekerjaan yang dilakukan, sejauh mana orang menghasilkan keluaran sesuai dengan yang diharapkan. Ini berarti bahwa apabila suatu pekerjaan dapat diselesaikan dengan perencanaan, baik dalam waktu, biaya maupun mutunya, maka dapat dikatakan efektif.

Ndraha (2005:163), efisiensi digunakan untuk mengukur proses, efektivitas guna mengukur keberhasilan mencapai tujuan”. Khusus mengenai efektivitas pemerintahan, Ndraha (2005:163) mengemukakan :

Efektivitas (effectiveness) yang didefinisikan secara abstrak sebagai tingkat pencapaian tujuan, diukur dengan rumus hasil dibagi dengan (per) tujuan. Tujuan yang bermula pada visi yang bersifat abstrak itu dapat dideduksi sampai menjadi kongkrit, yaitu sasaran (strategi). Sasaran adalah tujuan yang terukur, Konsep hasil relatif, bergantung pada pertanyaan, pada mata rantai mana dalam proses dan siklus pemerintahan, hasil didefinisikan. Apakah pada titik output? Outcome? Feedback? Siapa yang mendefinisikannya :

Barnard (dalam Prawirosoentono, 1997: 27) berpendapat “Accordingly, we shall say that an action is effective if it specific objective aim. It is efficient if it satisfies the motives of the aim, whatever it is effective or not.” Pendapat ini antara lain menunjukkan bahwa suatu kegiatan dikatakan efektif apabila telah mencapai tujuan yang ditentukan.

Mengutip Ensiklopedia administrasi, (The Liang Gie, 1967) menyampaikan pemahaman entang efektifitas sebagai berikut :

Efektifitas adalah suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki, kalau seseorang melakukan suatu perbuatan denngan maksud tertentu yang memang dikehendaki. Maka orang itu dikatakan efektif kalau menimbulkan atau mempunyai maksud sebagaimana yang dikehendaki.

Dari diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa suatu hal dapat dikatakan efektif apabila hal tersebut sesuai dengan dengan yang dikehendaki. Artinya, pencapaian hal yang dimaksud merupakan pencapaian tujuan dilakukannya tindak-tindakan untuk mencapai hal tersebut. Efektivitas dapat diartikan sebagai suatu proses pencapaian suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Suatu usaha atau kegiatan dapat dikatakan efektif apabila usaha atau kegiatan tersebut telah mencapai tujuannya. Apabila tujuan yang dimaksud adalah tujuan suatu instansi maka proses pencapaian tujuan tersebut merupakan keberhasilan dalam melaksanakan program atau kegiatan menurut wewenang, tugas dan fungsi instansi tersebut.

Faktor teknis dalam kegiatan penangkapan ikan berkaitan dengan tindakan atau keputusan untuk melakukan aktivitas penangkapan yang menguntungkan. Tindakan atau keputusan dalam melakukan aktivitas akan menyebabkan adanya efisiensi teknis yang berkaitan dengan dimensi alat, upaya penangkapan ikan dan penggunaan teknologi penangkapan ikan. Keputusan untuk melakukan efisiensi teknis dipengaruhi oleh 3 komponen yang menyebabkan dinamika armada penangkapan ikan, yaitu 1) investasi, 2) alokasi upaya penangkapan; 3) efisiensi produksi (Hilborn 1985).

Efisiensi teknis menyangkut investasi merupakan tindakan melakukan perubahan ukuran kapal dan alat sehingga akan merubah kapasitas penangkapan dari kapal atau alat yang digunakan. Alokasi upaya penangkapan merupakan tindakan memilih lokasi penangkapan ikan yang berkaitan dengan jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan, hari operasi atau frekuensi operasi penangkapan ikan. Sedangkan tindakan dalam efisiensi produksi adalah berkaitan dengan jumlah ABK, biaya operasional penangkapan, dan hubungan upaya penangkapan dengan jumlah tangkapan. Namun demikian dalam efisiensi teknis tindakan nelayan untuk masuk atau keluar dalam suatu perikanan adalah untuk memaksimumkan keuntungan sehingga mencapai batas keuntungan ekonomi dari stok perikanan (maximum economic yield) (Panayotou 1982; Puga et al. 2005). Efisiensi teknis untuk memaksimumkan keuntungan selain faktor internal yang berkaitan dengan dinamika armada penangkapan ikan juga dipengaruhi faktor eksternal, yaitu regulasi atau kebijakan dalam kegiatan penangkapan ikan. Kebijakan yang dibuat pemerintah adalah untuk mengontrol produksi dan upaya penangkapan agar status perikanan pada semua wilayah pengelolaan tetap berkelanjutan. Namun pada umumnya kebijakan pembangunan perikanan di negara berkembang lebih menekankan pada peningkatan produksi yang kemudian berdampak terhadap peningkatan efisiensi teknis, investasi, dan produktivitas. Akibatnya semakin meningkat efektivitas upaya penangkapan dan kapasitas penangkapan yang kemudian menekan sumberdaya ikan sehingga mengarah pada gejala lebih tangkap sebagai dampak dari berkurangnya stok perikanan (Susilowaty et al. 2005).

Interaksi alat tangkap dengan ikan yang menjadi tujuan penangkapan merupakan proses produksi ikan yang ditentukan oleh upaya penangkapan dan faktor lingkungan. Upaya penangkapan merupakan tindakan efisiensi teknis yang dilakukan pelaku kegiatan penangkapan ikan, dimana upaya penangkapan adalah ukuran dari jumlah alat tangkap yang beroperasi untuk mendapatkan sejumlah hasil tangkapan atau lama alat tangkap beroperasi oleh berbagai unit penangkapan ikan.

Perairan Kota Ambon memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat diandalkan. Potensi berupa perikanan tangkap meliputi luas wilayah laut 136.116,1 Km2 dengan panjang garis pantai 1.256,230 Km2 dari luas wilayah 147.480.6 Km2. Potensi sumber daya ikan yang dimiliki sebesar 484.532 ton/tahun dengan jumlah tangkapan yang diperbolehn (JBT) sebesar 387.324 ton/tahun. Potensi tersebut baru dimanfaatkan sebesar 41.307,1 ton/tahun. (BPMD prop. Maluku, 2007). Dari informasi pasar diketahui permintaan ikan demersal jenis kerapu baik ukuran kecil sebagai ikan hias maupun ukuran konsumsi terus meningkat. Kerapu tikus ukuran kecil (4-5 cm) laku dijual dengan harga Rp 7000/ekor, sedangkan ukuran konsumsi dengan berat 400-500 gram/ekor laku dijual di pasar lokal dengan harga tahun 2004 sekitar Rp 250.000- Rp 300.000/kg, bahkan untuk pasar ekspor seperti Hongkong, Taiwan dan Cina harga kerapu ukuran konsumsi sekitar US$ 55/Kg (Akbar dan Sudaryanto 2002).

Pengelolaan perikanan pada hakekatnya adalah suatu upaya untuk mengontrol upaya penangkapan, atau kongkretnya mengatur nelayan, pelaku utama kegiatan perikanan dalam mengoperasikan alat tangkapnya kapan, dimana dan seberapa besar kapasitas perikanan yang boleh digunakan (Wiyono 2011). Target utama ikan tangkapan pancing ulur adalah ikan demersal, walaupun pada

kenyataannya ikan hasil tangkapan sangat beragam. Keragaman ikan dipengaruhi oleh daerah perairan dan musim penangkapan. Beberapa aktivitas perikanan komersial memiliki target penangkapan pada satu atau beberapa jenis ikan. Nelayan akan berupaya menambah hasil tangkapan untuk mengejar keuntungan dengan adanya fluktuasi hasil tangkapan pada dewasa ini. Untuk menghindari kerugian usaha, nelayan berupaya mendapatkan hasil tangkapan yang baik dengan melakukan mekanisasi pada pancing ulur. Mekanisasi dilakukan pada bentuk alat tangkap, teknik operasi penangkapan dan mencari daerah penangkapan ikan yang baru. Selain itu, nelayan berupaya menggunakan kapal yang biasanya mengoperasikan alat tangkap lain menjadi kapal pancing ulur untuk menghindari kerugian usaha. Salah satunya dengan cara penggunaan kapal perahu yang terbuat dari fiberglass.

Permasalahan lain yang juga dirasakan oleh nelayan tradisional khususnya nelayan pancing ulur di Pulau Ambon adalah hasil tangkapannya cenderung berkurang, dan ikan yang tertangkap berukuran semakin kecil jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain permasalahan–permasalahan di atas ada permasalan yang sangat mendasar yang harus diperhatikan: (1) waktu untuk menarik hasil tangkapan relatif lebih lama untuk dapat mengangkat ikan dalam ukuran yang lebih besar, (2) Pada saat penarikan hasil tangkapan sering kali tasi atau tali pancing menjadi kusut, ini diakibatkan karena tasi tersebut tidak tertata baik di dalam perahu yang digunakan, (3) Dengan mempergunakan alat pancing yang sangat sederhana tidak dapat mengangkat atau menarik ikan dengan ukuran yang besar, (4) Pancing yang digunakan tidak ramah terhadap nelayan, ini dapat dilihat pada saat menarikan hasil tangkapan sering kali nelayan mengalami cacat pada beberapa bagian anggota tubuh, (5) Tasi sering kali mengalami gesekan dengan badan perahu dan mengakibatkan tasi/senar (tali pancing) tersebut mengalami kekusutan, (6) Membutuhkan waktu operasi yang relative panjang disaat harus mengangkat hasil tangkapan. Tujuan penelitian ini adalah: menentukan efektivitas dan efisiensi penangkapan ikan ikan demersal dengan pancing ulur tradisional dan mekanisasi.

Metodologi

Kegiatan penelitian ini dilakukan di perairan Pulau Ambon, yang meliputi kawasan perairan Leihitu, Teluk Ambon luar, Nusaniwe Leitimur Selatan dan Salahutu (Gambar 40) yang berlangsung sejak 12 bulan (April 2012-April 2013). Pengambilan data dilakukan dengan melakukan percobaan penangkapan dengan menggunakan alat tangkap pancing ulur tradisional dan mekanisasi.

Gambar 40 Peta Lokasi Penelitian

Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik yaitu rancangan acal lengkap (RAL) dengan model matematis sebagai berikut:

………. (9)

i =1,2,…,t dan j = 1,2,…,r

: Pengamatan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j : Rataan umum

: Pengaruh perlakuan waktu ke-i

: Pengaruh acak pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j Pengujian Hipotesis

H0 : (perlakuan lama waktu penarikan tidak berpengaruh terhadap respon yang diamati)

H1 : paling sedikit ada satu i dimana atau

H0 : (semua perlakuan memberi respon yang sama) H1 : paling sedikit ada sepasang perlakuan (i,i*) dimana

Uji lanjut menggunakan Uji Perbandingan Berganda Duncan atau Duncan Multiple Range Test (DMRT), untuk membandingkan pasangan secara serempak.

Hasil dan Pembahasan

Mekanisasi alat penangkapan ikan merupakan salah satu cara mencapai efektivitas dan efisiensi penangkapan. Hasil uji coba alat tangkap tradisional dan mekanisasi menunjukkan bahwa jumlah ikan yang diperoleh dengan metode tradisional sebanyak 46 individu atau 52,27% lebih banyak dari metode mekanisasi yakni sebanyak 42 individu atau 47,23%. Berdasarkan berat hasil tangkapan menunjukkan bahwa metode mekanisasi menghasilkan ukuran ikan lebih besar dengan berat total 53,815 atau 53 % lebih berat dari metode tradisonal dengan berat ikan 46,315 atau 46,25% (Tabel 16)

Tabel 16 Jenis dan Jumlah hasil tangkapan pancing ulur non mekanisasi dan mekanisasi

No NamaLokal Nama ilmiah

Non mekanisasi Mekanisasi Jmh. Ind. Berat. (gram) Waktu (menit) Jmh Ind. Berat (gr) Waktu (menit) 1 Bubara Carax sp 7 7,916 84,5 8 10,328 26 2 Raja Bau Plectorhynchus sp 2 1,670 24 2 3,610 5

3 Hiu Carcharrhinu ssp 2 3,900 39 4 9,793 15 4 Salmaneti Parupeneus sp 2 1,350 16 1 720 2,5 5 Piskada/Lencam Lethrinus sp 6 7,050 61 2 1,410 6 6 Gurango Lethrinus sp 1 800 11 1 825 3 7 Garopamerah Lutjanus sp 5 3,550 2 3 3,300 7 8 Gacabongko Lethrinus sp 3 2,350 41 4 4,090 12 9 Bae Etelis sp 4 6,565 58 2 4,125 6 10 Gora Lutjanus sp 1 900 6 0 - 0 11 Gorara Lutjanus fulfus 3 2,590 20 3 2,954 6 12 somase Lutjanus sebae 1 1,640 12 2 2,505 5,5 13 Maming Cheilinus sp 0 - 0 1 1,300 3,5 14 Garaopa hitam Lutjanus sp 2 1,356 24 1 880 3 15 Gaca Lethrinus sp 0 - 0 1 1,010 3,5 16 Kakatua Cetoscarus 0 - 0 2 2,015 5 17 Silapa Lethrinus sp 0 - 0 1 1,240 3 18 IkanMerah Lethrinus sp 7 4,678 80,5 4 3,710 12 Jumlah 46 46,315 479 42 53,815 124 % 52,27 46,25 47,23 53,24

Perbandingan hasil tangkapan berdasarkan berat, panjang ikan dan lama waktu

Perbandingan lama waktu penarikan terhadapa berat hasil tangkapan ikan menunjukkan bahwa pancing ulur mekanisasi lebih tinggi dengan berat rata-rata 1,2831 gram dibandingkan dengan non mekanisasi dengan berat rata-rata 1,0069 gram (Gambar 41).

Gambar 41 Perbandingan berat hasil tangkapan pancing ulur non mekanisasi dan mekanisasi

Hasil analisis panjang ikan hasil tangkapan menunjukkan bahwa ikan yang diperoleh dengan pancing ulur mekanisasi lebih panjang dengan rata-rata

1,0069 1,2831 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 1,6 1,8 Tradisional Mekanisasi B era t (g ra m)

71,0476 cm dibandingkan dengan non mekanisasi dengan panjang rata-rata 59,0512 cm (Gambar 42).

Gambar 42 Perbandingan panjang hasil tangkapan pancing ulur dengan metode tradisional dan mekanisasi

Berdasarkan total waktu operasi menunjukkan bahwa pancing non mekanisasi membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan pancing ulur mekanisasi (Tabel 16). Hasil analisis rata-rata lama waktu tabur (setting) dengan pancing ulur mekanisasi hanya 2 menit sedangkan non mekanisasi 3 menit. Dengan demikian pancing ulur mekanisasi lebih efektif bandingkan dengan non mekanisasi.

Gambar 43 Lama waktu pemancingan dengan pancing ulur non mekanisasi dan mekanisasi

Kondisi yang sama belaku juga saat penarikan kenur/tali pancing (hauling). Rata-rata lama waktu penarikan dengan pancing ulur non mekanisasi mencapai 17,756 menit, sedangkan dengan mekanisasi penarikan hanya membutuhkan waktu rata-rata 2,94 menit. Berbeda dengan waktu perendaman. rata-rata lama waktu kedua metode tidak terlalu signifikan. Pancing ulur non mekanisasi membutuhkan rata-rata waktu 5,1282 menit dan mekanisasi 5.7143 menit (Gambar 43). 59,0512 71,0476 0 10 20 30 40 50 60 70 80 P an ja n g ikan (c m ) Tradisional Mekanisasi 3 17,7561 5,1282 2 2,9405 5,7143 0 5 10 15 20

tabur penarikan perendaman

L ama pe manc ing an (me nit )

-1000 0 1000 2000 3000 4000 5000 2 2.5 3 3.5 4 B era t tang ka pa n( g ra m)

Lama waktu penarikan

Perbandingan lama waktu penarikan terhadap berat dan panjang ikan hasil tangkapan

Pengujian dilakukan untuk mengetahui respon masing-masing metode untuk mengetahui pengaruh lama waktu tangkap terhadap berat maupun panjang hasil tangkapan terhadap. Pembagian lama waktu penarikan dengan pancing ulur mekanisasi dibagi menjadi 2; 2,5; 3; 3,5 dan 4 menit sedangkan non mekanisi dibagi menjadi <10 menit, 10-15 menit dan >15 menit. Hasil analisis lama waktu penarikan terhadap berat ikan menggunakan pancing ulur mekanisasi menunjukkan bahwa semakin bertambah berat ikan, maka waktu yang dibutuhkan