• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENERAPAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA

C. AnalisisPutusan Nomor. 65/Pid.Sus/2017/PN/Trt

6. Putusan Hakim

Berdasarkan atas fakta-fakta di persidangan dan hasil pemeriksaan hakim dipersidangan, maka telah terjadi disentting opinion antara hakim ketua dengan hakim anggota I dan hakim anggota II, sehingga dalam pengambilan keputusan majelis hakim mengambil keputusan sebagai berikut:

a) Menyatakan terdakwa Mangasa Sibarani Alias Mangasa Alias Pak Cindi tidak terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidan sebagaimana dakwaan kesatu primer, subsidair maupun lebih subsidair atau dakwaan kedua atau dakwaan ketiga

b) Membebaskan terdakwa oleh karena itu dari dakwaan kesatu primer, subsidair maupun lebih subsidair atau dakwaan kedua atau dakwaan ketiga tersebut (Vrijspraak)

c) Memulihkan hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya;

d) Memerintahkan terdakwa dikeluarkan dari tahanan;

e) Menetapkan barang bukti berupa:

(1) 1 (satu) unit mobil Zebra 1,3 berwarna biru dengan nomor polisi BK 7271 DJ;

(3) 1 (satu) pasang sandal berwarna cokelat merek “Yumeida” ukuran 42 (empat puluh dua);

(4) 1 (satu) potong celana jeans berwarna abu rokok dengan ukuran 29 ( dua puluh sembilan);

(5) 1 (satu) potong baju kemeja berwarna merah maroon dengan corak kota-kotak merek Pepda;

(6) 1 (satu) potong Jaket berwarna cream dengan corak dalam bercorak garis-garis merek Reix XXI;

(7) 1 (satu) Potong celana ponggol berwana merah hijau kecoklatan dengan size 19 dengan tulisan FI Worke Sx Design Technolog;

(8) 1 (satu) potong baju kaos berwarna kuning dengan lis leher berwarna ungu dengan lengan berwarna ungu dan lengan berwarna ungu dengan tulisan Ping Moo Collection 25 merek “ping moo”

(9) 1 (satu) pasang sandal berwarna ungu dengan list putih merek “ sky boat”

dikembalikan kepada yang berhak;

(10) 1 (satu) unit sepeda motor jenis supra X berwarna hitam dengan nomor polisi BK 2036 dikembalikan kepada saksi Esron Sinaga

D. Analisis Hukum Perbandingan antara Putusan Nomor 208/Pid.Sus/2017/PN.Trt dengan Putusan Nomor 65/Pid.sus/2017/PN.Trtg

Di dalam Putusan Nomor 208/Pid. Sus/2017/PN. Trt bahwa tuntutan Jaksa Penuntut Umum adalah dengan Pasal 44 ayat (2) UU No 23 Tahun 2004 dengan 4 Tahun penjara, denda Rp. 30.000.000 dan subsider 6 (enam) bulan kurungan.

Berdasarkan alat bukti yang dihadirkan didalam persidangan dan pemeriksaan yang telah dilakukan majelis terhadap terdakwa maka Majelis memutus bahwa terdakwa terbukti telah melanggar ketentuan Pasal 44 ayat (2) UU No 23 Tahun 2002 dengan 2 Tahun 6 bulan penjara, dikurangi masa tahanan.

Di dalam Putusan Nomor 208/Pid. Sus/2017/PN. Trt tidak terdapat perbedaan pendapat para hakim artinya Majelis hakim memiliki pemikiran dan pemahaman yang sama terhadap kasus tersebut dan secara bersama-sama menyakini bahwa terdakwa terbukti melakukan pelanggaran terhadap Pasal 44 ayat (2) UU No 23 Tahun 2002. Oleh karena itu, Majelis menerapkan pidana kepada terdakwa. Terlepas dari pidana yang dijatuhkan Majelis Hakim dinilai tidak mencerminkan asas keadilan, kepastian dan kemanfaatan bagi korban. Tetapi dalam hal ini, hukum telah diterapkan dengan keyakinan hakim.

Perbedaan putusan didalam Perkara Putusan Nomor 65/Pid.sus/2017/PN.Trtg, bahwa Jaksa Penuntut Umum mendakwa terdakwa dengan dakwaan Primer yakni Pasal 340 KUHPidana, subsider Pasal 338 KUHpidana dan lebih subsidair Pasal 80 ayat (4) jo Pasal 76 c UU No 35 Tahun 2014 perubahan atas UU No 23 Tahun 2002 tetang Perlindungan Anak serta Pasal 44 ayat (3) UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dengan ancaman hukuman diatas 5 Tahun penjara.

Di dalam Putusan Nomor 65/Pid. Sus / 2017 / PN. Trtg , Majelis Hakim yang memeriksa perkara tersebut dipengadilan berbeda pendapat ( dissenting opion) dimana antara Hakim anggota I dan Hakim Anggota II berpendapat bahwa saksi-saksi yang dihadirkan dipengadilan hanya satu orang dan saksi-saksi tersebut masih dibawah umur dan tidak disumpah. Oleh karena itu hakim anggota I dan hakim anggota II berpegang kepada asas Pasal 183 KUHPidana yang menyatakan bahwa hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwa lah yang melakukannya” dan ketentuan Pasal 185 ayat (2) KUHPidana yang menyatakan Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadannya”.

Menurut pendapat Hakim anggota I dan Hakim anggota II bahwa saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum “ Andre Fransisco Sibarani” yang langsung melihat kejadian secara lansung sedangkan saksi yang lainnya sebagai saksi yang mendengar dari orang lain atau testimonium de auditu atau keterangan didapat dari apa yang didengar. Sedangkan para hakim anggota I dan hakim anggota II tidak dapat meyakini keterangan dari apa yang sudah disampaikan saksi-saksi lain dan keterangan terdakwa didalam berita acara pemeriksaan, oleh karena itu hakim anggota I dan II menyatakan bahwa terdakwa tidak terbukti dan tidak dapat dijatuhi hukuman sebagaimana tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum. hal tersebut berbeda dengan pendapat Ketua Majelis Hakim yang memeriksa perkara Nomor Putusan

Nomor 65/Pid. Sus / 2017 / PN. Trtg yang lebih melihat kepada proses diperiksanya terdakwa oleh penyidik sampai dengan Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) dinyatakan lengkap sehingga dapat dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum. Ketua Majelis Hakim tersebut meyakini bahwa terdawa secara sah dan meyakinkan telah melanggar ketentuan Pasal 80 ayat (4) jo Pasal 76 c UU No 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Di dalam sistem hukum Indonesia yang menganut sistem Majelis dalam persidangan maka suara terbanyak dari hakim menjadi penentu pengambilan keputusan.

Sebuah keniscayaan persepsi seorang terhadap peristiwa hukum memungkinkan terjadi perbedaan tafsir hukum, istilah penafsiran hukum oleh Jazim Hamidi 79 disebut sebagai hermeneutika. Ada seperangkat prapemahaman yang memberi dasar bagi seorang untuk mengambil sebuah pemahaman atas fakta yang diamatinya.

Hal inilah yang dikemukakan oleh Gregory Leyh:80 “Legal heremenutic is, then, in reality no special case but is, on the contrary, fitted to restore the full scope of the hermeneutical problem and so to restrieve the former unity of hermeneutics, in which jurist and theologian meet the student of the humanities.”

Sistem hukum yang terbagi atas dua peta dasar yakni sistem hukum Civil Law dan sistem hukum Common Law, perbedaan yang paling mendasar dari kedua sistem

79 Jamin Hamidi, Hermenutika Hukum (Jakarta, UI Press, 2005), Hal 63

80 Gregory Leyh, Legal Hermeneutic ( History, Theory and Practise), (Barkley Los Angeles Oxford, University of California Press, 1992) Hal IX

hukum tersebut, tampak pada model penalaran hukum yang berlaku dalam mengurai fakta-fakta hukum. Negara dengan sistem hukum Civil Law menggunakan penalaran deduktif, yakni melihat pada aturan perundang-undangan kemudian ditarik konklusi atas perbuatan masuk dalam peristiwa hukum apa. Sedangkan negara dengan tipe Common Law seperti Amerika penalarannya lebih dominan didasarkan pada putusan hakim yang sebelumnya.

Selain dikenal penalaran hukum juga ada istilah hukum penalaran. Penalaran hukum cara kerjanya mengacu pada aliran pemikiran dalam ilmu hukum (aliran hukum alam, positivisme, sejarah, sociological jurisprudent, realisme hukum) sementara hukum penalaran lebih dominan sebagai studi ilmu yang ditelaah berdasarkan objek kajian filsafat murni (positivisme dan empirisme logis, rasionalisme kritis, empirisme, dan hermeneutika).81

Sudut pandang yang berbeda itulah dalam diri hakim yang melakukan penalaran kemudian diakui bahwa dapat terjadi penafsiran yang berbeda dalam alam pemikiran manusia. Sehingga di negara yang menganut sistem hukum Common Law, secara demokratis memberi keluwesan kepada hakim untuk menguraikan pendapatnya yang berbeda di sebuah forum pengadilan. Pendapat yang berbeda yang dicantumkan dalam sebuah putusan pengadilan disebut Dissenting Opinion.

81 Sidharta, Penalaran Hukum dan Hukum Penalaran, ( Genta Publishing, Yogyakarta, 2014) Hal 78-120.

Bagir Manan mengungkapkan bawah Dissenting opinion adalah pranata yang membenarkan perbedaan pendapat hakim (minoritas) atas putusan pengadilan.82

Sedangkan Menurut Pontang Moerad adalah Dissenting opinion merupakan opini atau pendapat yang dibuat oleh satu atau lebih anggota majelis hakim yang tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh mayoritas anggota majelis hakim.83

Dissenting opinion itu sendiri berasal dan lebih sering digunakan di Negara-negara yang menganut sistem hukum anglo saxon seperti Amerika Serikat dan kerajaan Inggris. Pada sistem hukum tersebut dissenting opinion digunakan jika terjadi perbedaan pendapat antara seorang hakim dengan hakim lain yang putusannya bersifat mayoritas. Pendapat hakim yang berbeda dengan putusan tersebut akan ikut dilampirkan dalam putusan dan menjadi dissenting opinion.84

Di Amerika Serikat yang menjadi perdebatan oleh para hakim adalah kasus yang diperiksa. Hal tersebut dimaksudkan agar terciptanya suatu hukum baru karena secara prinsip para hakim tersebut berpegang teguh pada pemikiran “judge made law” dimana para hakim tersebut dituntut untuk senantiasa dapat menjawab dan memberikan kepastian hukum terhadap permasalahan-permasalahan yang timbul dalam masyarakat. Umumnya dissenting opinion juga ditemukan di Negara-negara yang bertradisi common law di mana lebih dari satu hakim mengadili perkara.

Tetapi, sejumlah Negara yang menganut tradisi hukum kontinental telah

82 Bagir Manan, Dissenting Opinion dalam Sistem Peradilan Indonesia, varia Peradilan No 253 ( Tahun XXI, 2006), 13

83 Pontang Moerad, Pembentukan Hukum Melalui Putusan Pengadilan dalam Perkara Pidana ( Bandung: Pt. Alumni, 2005), Hal 111.

84 R. Abdoel Djamali, Pengantar Hukum Indonesia, ( Jakarta: Rajawali Press, 2010) Hal 71

memperbolehkan dissenting opinion oleh hakim, terutama di pengadilan yang lebih tinggi.85

Kedudukan dissenting opinion adalah sebagai yurisprudensi untuk kasus-kasus serupa yang menjadi persoalan perbedaan pendapat, namun itu tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum hanya sebagai referensi karena mengikuti sistem hukum civil law yang hanya mengakui hukum yang dikodifikasikan.86

Dissenting opinion adalah perbedaan pendapat tentang amar putusan hukum dalam suatu kasus tertentu, manfaatnya adalah untuk meruntut fakta hukum (lex factum) yang keliru diterapkan dalam suatu putusan hakim Pengadilan, hal mana dipandang perlu untuk ditangguhkan sementara, diuji materil atau dibatalkan apabila putusan belum mempunyai kekuatan hukum tetap, jadi ketika ada pendapat yang berbeda (dissenting opinion) dari salah satu hakim tapi putusan itu belum mempunyai kekuatan hukum tetap, maka menjadikan putusan itu harus ditangguhkan sementara, diuji materilnya atau dibatalkan.87

Dissenting opinion adalah opini atau pendapat yang dibuat oleh satu atau lebih

anggota majelis hakim yang tidak setuju (disagree) dengan keputusan yang diambil oleh mayoritas anggota majelis hakim. Jadi, pada dasarnya dissenting opinion adalah pendapat tertulis yang dikeluarkan oleh seorang hakim yang tidak setuju dengan keputusan mayoritas hakim dalam suatu majelis.

85 Peter De Cruz, Perbandingan Sistem Hukum Common Law, civill law dan Socialist Law ( Bandung: Nusa Media, 2010) Halm 68

86 Ibid, Hal 70

87 H.F Abraham Amos, Legal Opinion: Aktualisasi Teoritis dan Emperisme, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), Hal 17

Dissenting opinion adalah pendapat yang berbeda secara substantif sehingga

menghasilkan amar yang berbeda. Misalnya, mayoritas hakim menolak permohonan yang bersangkutan, tetapi hakim minoritas mengabulkan permohonan yang bersangkutan, atau mayoritas hakim mengabulkan, sedangkan minoritas hakim menyatakan tidak dapat menerima permohonan. atau mayoritas hakim menyatakan tidak dapat menerima permohonan, tetapi hakim minoritas menolak permohonan yang bersangkutan.

Putusan Mahkamah Agung/Konstitusi memang hanya mengenal tiga alternatif putusan, yaitu mengabulkan, menolak dan menyatakan tidak diterima (Niet Onvankelijke Verklaard). Jika kesimpulan hakim minoritas untuk salah satu dari ketiga pilihan itu berbeda dari kesimpulan hakim mayoritas, maka pendapat hakim minoritas yang berbeda itu disebut dissenting opinion.88 Namun demikian, jika kesimpulan akhirnya sama, tetapi argumen yang diajukan berbeda, maka hal itu tidak disebut sebagai dissenting opinion melainkan concurrent opinion atau consenting opinion. Kadang-kadang ada dua argumen yang memang saling bertentangan dan tidak saling melengkapi. Akan tetapi, kesimpulan akhirnya sama, yaitu sama-sama mengabulkan, sama-sama menolak, ataupun sama-sama menyatakan tidak dapat menerima permohonan yang bersangkutan. Dalam hal demikian ini, pendapat hakim minoritas yang berbeda dari pendapat mayoritas juga dapat dimuat dalam putusan seperti halnya dissenting opinion.89

88 Jimly Asshiddiqie, Hukum Acara Pengujian Undang-Undang, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), Hal 199

89 Ibid, Hal 200

Menurut Muchtar Zamzami, Dissenting opinion juga disebut dengan minority opinion, karena yang tidak sependapat adalah pihak terkecil. Apabila pendapat seorang

hakim dianggap benar oleh seluruh anggota majelis untuk dijadikan dasar putusan, itu disebut dengan majority opinion. Hampir mirip dengan dissenting opinion ini adalah concurring opinion, yaitu dalam hal seorang hakim sependapat dengan kesimpulan yang

diambil oleh mayoritas hakim, tetapi tidak sependapat dengan keakuratan dasar-dasar hukum yang digunakan.90

Ketentuan pengambilan keputsan dalam sistem peradilan di Indonesia diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 2004 dimana diatur bahwa dalam pengambilan putusan akhir jika terjadi perbedaan pendapat (dissenting opinion) maka putusan diambil berdasarkan suara yang terbanyak dan wajib dimuat dalam putusan.

Putusan hakim adalah merupakan hasil (output) dari kewenangan mengadili setiap perkara yang ditangani dan didasari pada Surat Dakwaan dan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan dan dihubungkan dengan penerapan dasar hukum yang jelas, termasuk didalamnya berat ringannya penerapan pidana penjara (pidana perampasan kemerdekaan), hal ini sesuai azas hukum pidana yaitu azas legalitas yang diatur pada pasal 1 ayat (1) KUHP yaitu Hukum Pidana harus bersumber pada Undang-Undang artinya pemidanaan haruslah berdasarkan Undang-Undang. Bahwa seorang hakim terikat dengan Undang-Undang yang secara normatif mengatur ancaman pidana minimal baik pidana penjara maupun pidana denda, walaupun dalam

90 Muchtar Zamzami, Disenting opinion dalam praktrek Pengadilan Agama , (Vol III April 2006), Hal 85

praktek ada juga hakim yang menerobos batas minimal ancaman yang sudah diatur jelas tersebut dengan alasan rasa keadilan dan hati nurani.

Kedudukan sebagai hakim dan aparat penegak hukum lainnya wajib mengetahui apa yang menjadi “azas penghukuman dalam penerapan hukum pidana di Indonesia”, sehingga dengan azas tersebut dapat menjadi pegangan bagi hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap si pelaku.

Mengutip pendapat dari A. Ridwan bahwa azas penghukuman yang dipakai dalam penerapan hukum pidana adalah azas minimal universal maksimal spesial atau azas minimum umum / minimum khusus. Pengertian “minimal universal” adalah penjatuhan hukuman terendah (minimal) yang bersifat umum (universal) yang berlaku bagi setiap perkara dengan jenis hukumannya masing- masing.

Pengertian “maksimal spesial” adalah penjatuhan hukuman tertinggi (maksimal) yang bersifat khusus (spesial) atas masing-masing, ketentuan Undang-Undang yang berbeda atau telah ditentukan maksimalnya. Atas dasar azas tersebut maka dijamin adanya kepastian hukum dalam penerapan jenis pidana dalam hukum pidana artinya dengan azas tersebut tentu “mengikat para hakim pada batas minimal dan batas maksimal penghukuman” yang akan dijatuhkan.

Mendasari azas penghukuman tersebut artinya hakim tidak boleh menjatuhkan hukuman yang lebih rendah dari batas minimal dan juga hakim tidak boleh menjatuhkan hukuman yang lebih tinggi dari batas maksimal hukuman yang telah ditentukan Undang-Undang. Memang Putusan hakim akan menjadi putusan majelis hakim dan kemudian akan menjadi putusan pengadilan yang menyidangkan dan

memutus perkara yang bersangkutan dimana sesudah dilakukan pemeriksaan selesai, maka hakim akan menjatuhkan vonis berupa :

a. Penghukuman bila terbukti kesalahan terdakwa;

b. Pembebasan jika apa yang didakwakan tidak terbukti atau terbukti tetapi bukan perbuatan pidana melainkan perdata;

c. Dilepaskan dari tuntutan hukum bila terdakwa ternyata tidak dapat dipertanggungjawabkan secara rohaninya (ada gangguan jiwa) atau juga ternyata pembelaan yang memaksa.

Demikian juga halnya putusan pemidanaan yang berdasar pada yuridis formal dimana putusan hakim yang menjatuhkan hukuman pemidanaan kepada seseorang terdakwa yaitu berisi perintah untuk menghukum terdakwa sesuai dengan ancaman pidana (Straft Mecht) yang tertuang dalam pasal pidana yang didakwakan. Diakui memang bahwa Undang-Undang memberikan kebebasan terhadap hakim dalam menjatuhkan berat ringannya hukuman yaitu minimal atau maksimal namun kebebasan yang dimaksud adalah haruslah sesuai dengan pasal 12 KUHP yaitu : Pasal 12 KUHP menyatakan bahwa:

(1) Pidana penjara ialah seumur hidup atau selama waktu tertentu.

(2) Pidana penjara selama waktu tertentu paling pendek satu hari dan paling lama lima belas Tahun berturut-turut.

(3) Pidana penjara selama waktu tertentu boleh dijatuhkan untuk dua puluh Tahun berturut-turut dalam hal kejahatan yang pidananya hakim boleh memilih antara

pidana mati, pidana seumur hidup, dan pidana penjara selama waktu tertentu, atau antara pidana penjara seumur hidup dan pidana penjara selama waktu tertentu; begitu juga dalam hal batas lima belas Tahun dilampaui sebab tambahan pidana karena perbarengan, pengulangan atau karena ditentukan pasal 52.

(4) Pidana penjara selama waktu tertentu sekali-kali tidak boleh melebihi dua puluh Tahun.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dan berpedoman pada unsur-unsur yang ada dalam setiap putusan, tentunya hakim dalam menjatuhkan putusan pemidanaan adalah haruslah sesuai dengan bunyi pasal dakwaan dalam arti hakim terikat dengan batas minimal dan batas maksimal sehingga hakim dinilai telah menegakkan Undang-Undang dengan tepat dan benar. Sehubungan dengan pernyataan di atas, apabila ada hakim yang berani menerobos yaitu menjatuhkan pidana di bawah batas minimal dengan alasan “rasa keadilan dan hati nurani” artinya hakim yang bersangkutan tidak mengikuti bunyi Undang- Undang yang secara tegas tertulis hal ini dapat saja terjadi karena hakim dalam putusannya harus berdasarkan pada kerangka hukum yaitu penegakan hukum dan penegakan keadilan.

Terhadap putusan hakim tersebut yang melakukan penerobosan penjatuhan pidana penjara dan pidana denda tidak sesuai ketentuan Undang-Undang, menurut penulis harus juga dihargai, asal saja putusan yang menyimpangi aturan tersebut berintikan pada rasa keadilan masyarakat, karena ada juga hakim yang berpandangan bahwa hakim tidak dapat hanya berlindung di belakang Undang-Undang, tetapi juga

hakim bertolak pada hati nurani, lebih dari itu hakim boleh saja menjatuhkan pidana di bawah ancaman minimal asal putusan tersebut tidak ada kepentingan atau objektifitas dijunjung tinggi. Keadaan tersebut didapat dalam Putusan Nomor 65/Pid.Sus/2017/PN. Trtg. Sedangkan didalam Putusan Nomor 208 /Pid.

Sus/2017/PN Trt, Hakim memutus berdasarkan dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum dengan berdasarkan Undang-Undang.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Bentuk perlindungan hukum terhadap anak kandung korban kekerasan dalam tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga adalah dengan memberikan perlindungan hukum baik secaar normatif maupun empiris. Secara normatif adalah dengan menegakkan hukuman secara benar sesuai dengan Undang-Undang terhadap pelaku kekerasan. Secara empiris, adalah diberikan perlindungan kepada korban dengan cara preventif dan memberikan perlindungan hak-hak anak, rehabilitasi dan konselling psikis terhadap anak korban kekerasan dalam rumah tangga

2. Kebijakan kriminal dalam penanggulangan tindak pidana kekerasan terhadap anak dilakukan dengan upaya penal dan upaya non penal. Upaya penal adalah dengan menerapkan aturan hukum yang ada sedangkan upaya non penal adalah dengan mengedepankan prinsip preventif dalam menanggani kejahatan 3. Penerapan hukum dalam Pertimbangan hakim dalam Putusan Perkara Nomor 208/Pid.Sus/2017/PN. Trt adalah dengan melihat bukti-bukti yang ditunjukkan dalam ruang persidangan dan bukti yang telah disediakan penuntut umum, pertimbangan selanjutnya adalah dengan keterangan saksi korban dan pelaku.

Dokumen terkait