Sekolah Tinggi Agama Islam Sumatera Medan
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa hal yakni (1) Historisitas Pendidikan karakter pra dan pasca Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa, (2) Dinamika Pendidikan karakter pra dan pasca kebijakan nasional pembangunan karakter bangsa. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini ialah kualiatif dengan menggunakan pendekatan berbasis kepustakaan. Informasi yang di peroleh melalui data berbentuk cetak maupun non cetak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pen-didikan karakter sudah ada sejak masa pra kemerdekaan, tetapi tidak di istilahkan demikian melainkan pedidikan budi pekerti, moral, dan pancasila. Istilah Pendidikan karakter mulai popular sejak tahun 2010 pada masa pasca reformasi (2) Pendidikan karakter pada masa pra kebijakan nasional pembangunan karakter belum sepenuhnya terbingkai dalam sistem pendidikan Nasional. Konteks Pendidikan karakter dalam Pendidikan nasional masih tersirat dari Pendidikan yang berbasis kebudayaan, pancasilais dan keagamaan. Penyelenggaraanya pun belum di atur secara komprehensif. Sedangkan pasca kebijakan nasional pembangunan karakter, Pendidikan karakter sudah menjadi ciri khas sistem Pendidikan nasional, dan pelak-sanaanya di atur secara rinci mulai dari strategi pelaksanaan, sampai pada tahap evaluasinya.
Abstract:
This study aims to find out several things, namely (1) the historicity of character education pre and post the National Policy of Nation Character Development, (2) the dynamics of character education pre and post the national policy of national character development. The methodology used in this study is qualitative by using a library-based approach. Information obtained through data in the form of print or non-print. The results showed that (1) Character education had existed since the pre-independence era, but it was not termed as such but character education, morals, and Pancasila. The term character education has been gaining popularity since 2010 in the post-reform era. (2) Character education in the pre-national era of character development has not been fully framed in the national education system. The context of character education in national education is still implied by education based on culture, Pancasila and religion. The implementation has not been comprehensively regulated. Whereas after the national policy of character building, character education has become a characteristic of the national education system, and its implementation is arranged in detail starting from the implementation strategy, to the evaluation stage
Keywords : Education; Character; Historicity; Dynamics
PENDAHULUAN
endidikan karakter sebenarnya bukanlah hal baru bagi masya-rakat Indonesia. Istilahnya Mungkin baru, namun esensi dari Pendidikan karakter itu sudah ada sejak dahulu, bahkan jauh sebelum Indonesia Merdeka. Dahulu mungkin lazim disebut Pendidikan moral, Pendidikan akhlak, Pendidikan Pancasila, pendidikan budi pekerti atau istilah-istilah lainnya yang sejenis. Walaupun berbeda-beda pada hakikatnya semuanya memiliki esensi dan concern yang sama, yakni pada tingkah laku perbuatan manusia.
Saat ini istilah Pendidikan karakter hampir menjadi ciri khas dalam setiap program Pendidikan, baik formal maupun nonformal, atau baik program pendidikan yang diselenggarakan pemerintah atau yang diseleng-garkan oleh masyarakat. Bahkan pada program Pendidikan nasional, posisinya dijadikan pemerintah sebagai ujung tombak penyelasaian problematika besar yang sedang dihadapi oleh bangsa, yakni dekadensi
moral. Problematika ini hampir terjadi pada seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya pada kalangan mereka yang tak berpendidikan tetapi juga terjadi pada kalangan berpendidikan tak ketinggalan juga para elit politik negeri ini.
Keberadaan Pendidikan karakter yang cukup lama bahkan disebut telah menjadi ciri khas Pendidikan Indonesia saat ini, menunjukkan betapa urgennya posisi Pendidikan karakter dalam sistem Pendidikan nasional. Atau dapat juga dikatakan bahwa kehadirannya turut memberi warna dalam setiap perubahan arah dari sistem Pendidikan nasional yang ada di Indonesia. Termasuk juga yang melatarbelakangi muncul-nya kurikulum 2013.
Dari waktu yang lama itu tentu sudah banyak perubahan pada Pendidikan karakter, baik dalam bentuk pola, mekanisme maupun kebijakan pemerintah. Banyak hal yang melatar belakangi perubahan tesrsebut, mulai dari kondisi internal ataupun masalah eksternal yang sedang di hadapi. Tetapi yang pasti perubahan tersebut tentu harus sesuai dengan tuntutan zaman.
Berdasarkan hal-hal di atas tentu sangat menarik jika dilakukan penelitian yang fokusnya pada dua masalah di atas yakni sejarah muncul-nya dan perkembangamuncul-nya di Indonesia hingga kini. Hasilmuncul-nya tentu dapat dijadikan sebagai pengetahuan dan landasan dalam menggali informasi lebih lanjut tentang eksistensi Pendidikan karakter di Indonesia.
METODE
Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif, sedangkan pendekatannya berbasis studi kepustakaan. Penelitian ini cenderung untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang menjadi obyek penelitian. Informasi tersebut dapat diperoleh dari buku-buku, karya ilmiah, tesis, disertasi, ensiklopedia, Jurnal, dan konsideran peraturan perundang-undangan, dan sumber-sumber lainnya. Dengan melakukan studi kepustakaan, peneliti dapat memanfaatkan semua informasi dan pemikiran-pemikiran yang relevan dengan fokus penelitian.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini pada umumnya ialah sumber informasi tertulis baik cetak atau pun non cetak yang ter-kait dengan historisitas dan dinamika pendidikan karakter di Indonesia. Namun lebih spesifik sumber data dapat di bagi menjadi dua, yakni:
1. Sumber data Primer, maksudnya sumber data penelitian utama dan pokok yang menjadi landasan dalam penulisan artikel ini. Di antara-nya data tentang peraturan perundang-undangan yang ada kaitanantara-nya dengan Pendidikan karakter:
- Undang-undang Dasar RI tahun 1945
- Undang-undang No. 4 Tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah
- Undang-Undang No 12 tahun 1954 tentang pernyataan berlakunya Undang-undang Nomor 4 tahun 1950 dari Republik Indonesia terdahulu tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah untuk seluruh Indonesia
- Penetapan Presiden No. 19 tahun 1965 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pancasila
- Undang-undang No. 2 tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
- Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
- Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025
- Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025 - Desain Induk Pendidikan karakter
- Peraturan presiden No. 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter
- Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Pendidikan karakter pada satuan Pendidikan Formal
2. Data Skunder, maksudnya sumber data pendukung yang melengkapi dan menambah kayanya pembahasan dalam tulisan ini. Diantaranya ialah:
- Pendidikan karakter Karangan Haidar Putra daulay & Nurgaya Pasa
- Mengartikulasikan Pendiidkan Nilai karangan Rohmat Mulyana - Membumikan Pendidikan Nilai karangan Zaim Elmubarok - Pendidikan Karakter karangan Agua Wibowo
- Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan karangan Nurul Zuhriah
- Pendidikan karakter berbasis agama dan Budaya karangan Haedar Nashir
Dalam penelitian kepustakaan, metode yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian berupa data-data kepustakaan yang telah dipilih, dicari, disajikan dan dianalisis. Sumber data penelitian ini mencari data-data kepustakaan yang substansinya membutukan tindakan pengolahan secara filosofis dan teoritis. Studi pustaka di sini adalah studi pustaka tanpa disertai uji empirik (Muhadjir, 2016: 159). Data yang disajikan adalah data yang berbentuk kata yang memerlukan pengolahan supaya ringkas dan sistematis (Muhadjir, 2016: 29). Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan mengumpulkan buku-buku tentang Pendidikan karakter dan sistem Pendidikan nasional. Kemudian dipilih, disajikan dan dianalisis serta diolah supaya ringkas dan sistematis.
Setelah data diperoleh maka dianalisis dengan jalan mengorgani-sasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, dan mensintesiskannya, mencari, dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang di pelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritrakan kepada orang lain. Dengan kata lain proses analisi data ini bertujuan untuk menseleksi data berdasarkan reliabilitasnya dan membuat menyusunnya kedalam redaksi kalimat untuk dapat disajikan kepada orang lain. Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisi data berupa analisis isi (content analysis). (Moleong, 2017: 248-249). Analisis isi merupakan analis ilmiah tentang isi pesan suatu data (Muhadjir, 2016: 49). Jadi data-data yang telah dikumpulkan dan disajikan kemudian di diperbandingkan dengan data yang lain, sehingga dapat dianalisis dan dinarasikan dalam redaksi kalimat sang penulis.
KAJIAN TEORITIS
Sebelum dipaparkan tentang historisitas dan dinamika Pendidikan karakter dalam bingkai sistem Pendidikan nasioanal, terlebih dahulu akan diuraikan pengertian masing-masing kata kunci dalam penelitian ini. Tujuannya untuk mempermudah pembaca dalam memahami tulisan ini secara komprehensif. Kemudian sebagaimana yang telah
disinggung pada pendahuluan, bahwa keberadaan Pendidikan karakter di Indonesia sudah ada sejak lama namun pelaksanaanya belum ter-program secara sistemik dan terintegrasi. (Kemendiknas, 2010: 4). Maka dengan dengan alasan kemudahan dalam membahas dan memahami, maka penulis mengklasifikasi pembahasan historisitas dan dinamika Pendidikan karakter menjadi dua pembahasan yakni pada masa Pra dan pasca munculnya kebijakan nasional pembangunan karakter bangsa. Pada masa pra berarti akan di mulai dari pra kemerdekaan sampai sebelum munculnya kebijakan tersebut, sedangkan masa pasca berarti sampai saat sekarang ini.
Pengertian Pendidikan karakter
Istilah karakter sering disamakan dengan nilai, padahal keduanya adalah hal yang berbeda. Dalam bahasa Indonesia ‘karakter’ merupakan istilah yang diserap dari bahasa Inggris ‘character’, dalam KBBI diartikan sebagai tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang mem-bedakan seseorang dengan yang lain; watak. (Tim Penyusun, 2015: 682). Definisi ini tentulah rancu, karena terdapat beberapa isitilah yang disepadankan sama dengan karakter, yakni akhlak, budi pekerti, dan watak. Padahal dalam banyak literatur, masing-masing istilah ter-sebut dibahas secara eksplisit berbeda.
Thomas Lickona mendefinisikan karakter sebagai sifat alami sese-orang dalam merespons situasi secara bermoral. Sifat alami itu dimanifes-tasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain dan karakter mulia lainnya. (Lickona, 2016: 22). Pengertian yang dikemukakan Lickona ini, menurut Wibowo mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Aristoteles, bahwa karakter itu erat kaitannya dengan ’habit’ atau kebiasaan yang terus menerus dilakukan. (Wibowo, 2016: 32-33) Dengan demikian seseorang dapat dikatakan berkarakter atau berwatak jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya. (Wibowo, 2016: 33)
Dalam versi ke-Indonesiaan, karakter didefinisikan sebagai nilai-nilai yang unik-baik yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang. Karakter juga sering diasosiasikan dengan istilah apa yang disebut
dengan temperamen yang lebih memberi penekanan pada definisi psikososial yang dihubungkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Sedangkan karakter dilihat dari sudut pandang behaviorial lebih menekankan pada unsur somatopsikis yang dimiliki seseorang sejak lahir. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses perkembangan karakter pada seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor yang khas yang ada pada orang yang bersangkutan yang juga disebut faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture) dimana orang yang bersangkutan tumbuh dan berkembang. (Kemendiknas, 2010: 7)
Tidak tahu secara pasti kapan istilah ‘karakter’ ini menjadi trend di Indonesia. Namun istilah ini sudah menjadi perbincangan hangat sejak tahun 2005, dan bahkan pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025, menempatkan pendidikan karakter sebagai misi pertama dari delapan misi, guna mewujudkan visi pembangunan nasional. (Lampiran RPJMN 2015-2019, 2015: 21). Hingga akhirnya dilakukan sarasehan yang bersifat nasional pada tanggal 14 Januari 2010 dengan dihadiri lebih dari 200 orang pakar, praktisi, dan pemerhati, untuk merumuskan pendidikan karakter dalam versi ke-Indonesiaan. Disusul pada tahun berikutnya tepat pada 2 Mei 2011, Menteri Pendidikan Nasional RI, Muhammad Nuh, menjadikan pendidikan karakter sebagai tema dalam sambutan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Tema tersebut ialah “Pendidikan Karakter Sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa dengan Subtema Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti”
Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa karakter adalah kebiasaan berupa sifat (baik dan buruk) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku, yang muncul secara alami dari dalam diri seseorang. Sehingga dikatakatan berkarakter atau berwatak jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya.
Di bawah ini akan di uraikan beberapa pengertian pengertian Pen-didikan karakter menurut beberapa tokoh:
1. Kemendiknas mendefiniskan Pendidikan karakter usaha menanam-kan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (domain kognitif) tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan (domain afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (domain perilaku). Jadi pendidikan karakter terkait
erat kaitannya dengan habit atau kebiasaan yang terus menerus dipraktekan atau dilakukan. (Kemdiknas, 2010: 10)
2. Agus Wibowo, Pendidikan yang menanamkan dan mengembangkan karakter-karakter luhur kepada anak didik sehingga mereka memiliki karakter luhur itu, menerapkan dan mempraktikkan dalam kehidup-annya, entah dalam keluarga, masyarakat dan sebagai warga negara. (Wibowo, 2016: 36).
3. Pendidikan karakter ada usaha untuk mendidik seseorang pada tiga ranah, Pertama ranah pengisian otak (Head), yakni memberikan pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk. Kedua pengisian hati (heart), yakni membina sikap dan mental seseorang untuk men-cintai kebaikan serta membenci keburukan. Ketiga mengisi perbuatan (hand) memandu untuk dapat melaksanakan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk. (Daulay &Pasa, 2016: 4-5).
Pengertian Sistem Pendidikan Nasional
Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen didikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pen-didikan nasional. Keseluruhan komponen itu menyangkut Tujuan, fungsi, landasan, kurikulum, pembiayaan, sarana dan prasarana, guru, peserta didik, evaluasi, administrasi, dan lain-lain. Saat ini keberadaan sistem Pendidikan nasional masuk dalam perundang-undangan, yang pertama kali Undang-undang No. 2 tahun 1989, kemudian digantikan dengan Undang-undang No. tahun 2003 hingga saat ini.
Fungsi dari adanya sistem Pendidikan nasional untuk menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Selain itu keberadaannya menjadi landasan dari semua aktivitas penyeleng-garaan Pendidikan.
Pendidikan nasional sendiri berarti pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indo-nesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Pendidikan saat ini tidak total bersifat senralistik, tetapi dalam hal ini otonomi daerah memberikan kebebasan bagi satuan tingkat untuk mengelola dan mengembangkan Lembaga pendidikannya, namun dengan alasan
pemerataan dan peningkatan mutu maka pemerintah memberlakukan sistem Pendidikan nasional sebagai landasan dan pijakannya.
Pendidikan Karakter Pra lahirnya Kebijakan Nasional Pem-bangunan Karakter Bangsa
Uraian tentang sub judul ini akan di bagi kepada beberapa bagian, yang didasarkan pada kronologis waktu. Mulai dari pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan.
- Pra kemerdekaan
Sangat sedikit literatur yang bisa ditemui tentang praktik Pendi-dikan karakter pada masa pra kemerdekaan. Namun walaupun begitu bukan berarti masyarakat Indonesia pada pra kemerdekaan tidak menyelenggarakan Pendidikan yang bernuansa mendidik perilaku dan moral. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, adat, dan agama. Sehingga dapatlah dipastikan bahwa para pengajar mendidik para murid-muridnya dengan dasar-dasar nilai budaya dan keagamaan.
Salah satu yang dapat dilacak pada pra kemerdekaan ialah praktik Pendidikan di taman siswa yang diplopori oleh Ki Hadjar Dewantara. Taman siswa ini berdiri pada tahun 1922. Ki hadjar dewantara tidak mempergunakan istilah Pendidikan karakter namun budi pekerti. Menurutnya budi pekerti ialah jiwa dari pengajaran. Budi pekerti bukan konsep yang bersifat teoritis sebagaimana yang dipahami oleh masyarakat pada umumnya, dan bukan pula pengajaran budi pekerti dalam arti mengajar teori tentang baik buruk, benar salah dan seterus-nya. Akan tetapi pengajaran budi pekerti mengandung arti pemberian kuliah atau ceramah tentang hidup kejiwaan atau perikeadaban manusia. Atau dengan kata lain, keharusan memberi keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan tentang budi pekerti secara luas dan mendalam. (Muthoifin, 2015: 171).
Menurutnya guru bukan hanya sosok yang berilmu pengetahuan saja, melainkan sosok dengan batin dan kepribadian yang luhur. Sehingga mampu mereka untuk melahirkan generasi yang berbudi luhur. Semboyan yang sangat terkenal dalam dunia Pendidikan ialah
ing ngarso sung tulodo, in madya mangun karso, tut wuri handayani.
Kini menjadi semboyan dalam Pendidikan nasional saat ini. - Orde Lama
Masa orde lama di mulai sejak tahun 1945 sampai dengan 1965. Pada masa ini lazim di sebut sebagai rezimnya Sokerno, karena pada saat ituia sedang menjabat sebagai presiden pertama Indonesia. Pada masa ini, Pendidikan karakter diteriakkan dengan lantang oleh presiden Soekarno, melalui programnya nation and character building. Menurut-nya untuk dapat membangun peradaban suatu bangsa maka harus ter-lebih dahulu membangun karakter manusia. Jika telah tertanam karakter pada diri bangsa ini, maka apapun akan mudah di capai. (Wahyudin, 2016: 27-28)
Bung Karno mengonseptualisasi karakter bangsa Indonesia dalam satu konsep yang dinamakan “Kemandirian Nasional“. Ajarannya yang terkenal dengan hal tersebut adalah “Tri Sakti” Bung Karno. Untuk menjadi bangsa yang sakti dan besar, kita harus mengikuti tiga prinsip: “Mandiri di bidang Ekonomi”, “Berdaulat di bidang Politik!” dan “Ber-kepribadian di bidang kebudayaan!”
Kemudian secara formal implementasi program nation dan character
building bung karno tersebut, tercantum dalam UU No. 4 Tahun 1950
tentang Dasar-Dasar Pendidikan Dan Pengajaran Di Sekolah. Dapat disebut ini merupakan peraturan perundang-undangan pertama yang mengatur secara eksplisit tentang Pendidikan. Perlu di ketahui pada masa ini Undang-undang tentang sistem Pendidikan nasional belumlah ada. Dalam UU No. 4 tahun 1950 termuat beberapa hal yang memiliki muatan karakter, yakni pada pasal 3 tentang tujuan pendidikan dan pengajaran yang intinya bertujuan untuk membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis dan bertangung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Selain itu juga pada pasal 4 yang memuat tentang dasar pendidikan dan pengajaran ialah pancasila, UUD RI, dan Kebudayaan kebangsaan. (UU. No. 4 tahun 1950: 3).
Keberadaan UU No. 4 tahun 1950 ini ternyata menjadi Panjang dengan keluarnya UU No 12 tahun 1954. Disebut menjadi Panjang, karena hadirnya UU No. 12 tahun 1954 berisi tentang pernyataan berlakunya
kembali UU No. 4 tahun 1950 sembari menunggu hadirnya UU baru yang lebih sempurna.
Terkait dengan Pendidikan karakter pada UU No. 12 tahun 1954 ini juga memuat nuansa karakter, Namun belum disebutkan Istilah karakter. Pada UU ini ditekankan bahwa Pendidikan Indonesia memiliki dua sifat yakni Nasional dan demokrasi. Bersifat Nasional dalam arti bahwa pendidikan dan pengajaran itu didasarkan atas kebudayaan kita sendiri. Dalam pendidikan yang demikian pengajaran sejarah akan menjadi pengajaran yang penting sekali. Bermacam-macam peristiwa yang terjadi dalam, sejarah kita harus ditinjau kembali, dengan mem-pelaiari sumber-sumber kita sendiri, sehingga dapat disusun kitab-kitab sejarah Indonesia, yang bersifat lain dari pada jika dilihat dengan kaca mata bangsa asing. Peristiwa-peristiwa yang dapat dibanggakan dan menunjukkan kejayaan bangsa kita harus ditegaskan dengan sejelas-nya, sehingga menimbulkan rasa kepercayaan atas diri sendiri pemuda-pemuda kita. Sedang bersifat Demokrasi dalam arti menciptakan generasi yang demokratis, misalnya saja bertindak lahir dan batin secara yang diperintahkan, secara imperatif, tetapi atas kemauan sendiri, atas rasa kemerdekaan dan inisiatif sendiri. (UU. No 12 tahun 1954: 1-3).
Kemudian selang beberapa tahun kemudian Presiden Berambisi dengan slogannya nation dan character buiding, menyahuti hal ini maka Soekarno mengeluarkan Penetapan Presiden No. 19 tahun 1965 tentang pokok-pokok sistem pendidikan nasional pancasila. Dalam Penpres ini disebutkan bahwa Pendidikan Nasional merupakan unsur mutlak dalam
Nation dan Character Building. Dalam Penpres ini Pendidikan Nasional
bertujuan untuk membina suatu bangsa yang mampu atas tanggungjawab sendiri menyelesaikan Revolusinya, tahap demi tahap, dengan pengertian bahwa Agama adalah unsur mutlak dalam rangka Nation dan Character
Building. (Penpres No. 19 tahun 1965: 3-4)
- Orde Baru
Pada masa periode orde baru, pemerintahan ini memiliki program kerja yang populer dikenal dengan istilah pembangunan jangka panjang. Awal dari pemerintahan orde baru kebijakannya focus pada empat tahap strategi politik yang secara langsung berpengaruh pada kebijakan pendidikan nasional. Empat tahap itu ialah pertama, penghancuran PKI berserta ideologinya dan semua kader-kader politiknya. Kedua,
konsilidasi pemerintahan dan pemurnian Pancasila dan UUD 1945.
Ketiga menghapuskan atau menghilangkan dualisme kepemimpinan
nasional. Keempat, mengembalikan stabilitas politik dan mernencana-kan pembangunan. (Mu’id & Shofa, 2012: 11-12).
Pada masa orde baru lahir untuk pertama kalinya pertauran tentang sistem Pendidikan Nasional, yakni UU No. 2 tahun 1989. Pada Undang-undang ini penyelenggaraan pendidikan nasional berakar pada kebu-dayaan bangsa Indonesia da yang berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Terdapat beberapa muatan pendidikan karakter pada beberapa pasalnya, seperti pada pasal 4 tentang tujuan dari pendidikan nasional yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang