• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemberdayaan POPA merupakan upaya strategis dalam mengembangkan kemampuan masyarakat khususnya keluarga yang mempunyai anak tunarungu dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Upaya ini akan memungkinkan keluarga anak tunarungu dan masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam peran yang bukan hanya terbatas pada penerima manfaat, tetapi juga penilai dan pemelihara capaian-capaian usaha kesejahteraan sosial.

Hasil kajian menunjukkan bahwa kapasitas POPA sebagai suatu organisasi belum dapat melaksanakan fungsinya dalam memenuhi kebutuhan dan aspirasi anggota-anggotanya. Hal ini terkait dengan rendahnya SDM anggota dan pengurus, kurang berfungsinya kepemimpinan, kurangnya kerjasama antar anggota, kurangnya kemampuan pengurus dalam pengelolaan (manajemen) organisasi dan terbatasnya dana untuk mendukung kegiatan.

Kurangnya kapasitas POPA terkait dengan permasalahan anggota dan permasalahan organisasi. Anggota POPA sebagai penerima dampak dari keberadaan anak tunarungu mengalami masalah baik psikologis, ekonomi maupun sosial. Sementara faktor-faktor yang menghambat POPA sebagai organisasi adalah kurangnya sarana dan prasarana dan tidak memperoleh dukungan baik dari masyarakat maupun pemerintah. Oleh karena itu, pemberdayaan POPA harus mencakup perbaikan lembaga, peningkatan pendanaan, dan pemecahan masalah anggota baik dalam aspek psikologis, ekonomi dan sosial. Upaya memberdayakan POPA dilakukan dengan memanfaatkan sumber dan potensi baik dari dalam maupun yang berada di luar POPA.

Sebagaimana dikemukakan dalam Bab Tinjauan Pustaka, Sub-bab Pemberdayaan dan Partisipasi masyarakat, pemberdayaan merupakan proses mengalihkan kemampuan, kekuatan dan kekuasaan kepada masyarakat agar menjadi lebih berdaya melalui pendayagunaan aset material lokal guna mendukung kemandirian melalui organisasi dan juga merupakan proses memotivasi, mendorong dan menstimulasi agar suatu komunitas mempunyai kemampuan menentukan pilihan hidupnya melalui proses dialog (Hikmat, 2001).

Berpijak dari pengertian ini, pemberdayaan POPA dapat dilakukan dengan pengembangan organisasi melalui kegiatan mendorong, memotivasi, meningkatkan kesadaran akan potensinya, memperkuat daya dan potensi yang dimiliki, dan menciptakan kondisi yang memungkinkan orangtua dan anak tunarungu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Penentuan Masalah dan Identifikasi Potensi Lokal

Penentuan masalah dilakukan secara partisipatif melalui FGD dengan melibatkan pengurus, anggota, tokoh masyarakat, lembaga/organisasi sosial, pihak swasta dan pemerintah lokal. Penyusunan program dilakukan melalui FGD. Pengkaji sebagai fasilitator. Sebelum FGD dilakukan, pengkaji menyampaikan permasalahan POPA berdasarkan hasil kajian. Kemudian pengkaji memfasilitasi pihak-pihak yang dilibatkan untuk mengkategorikan atau mengelompokkan permasalahan dan menentukan masalah yang menjadi prioritas untuk dipecahkan, menentukan cara-cara mengatasi permasalahan, mengidentifikasi sumber-sumber atau potensi lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemberdayaan POPA, dan mengidentifikasi hambatan-hambatan yang mungkin ditemui dalam proses pemberdayaan POPA.

Hasil FGD tentang penentuan masalah dan identifikasi potensi lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan POPA adalah sebagai berikut:

1) Prioritas masalah:

a) Kurangnya kapasitas POPA

b) Masalah psikologis, ekonomi dan sosial anggota c) Kurangnya dukungan pihak lain.

d) Kurangnya sarana dan prasarana. 2) Cara mengatasi:

a) Konsultasi dengan para ahli b) Reorganisasi POPA

c) Meningkatkan kemampuan pengurus d) Mengembangkan usaha bersama. e) Melibatkan partisipasi masyarakat

56

g) Memanfaatkan sarana umum.

3) Potensi lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan: a) Ada gedung serbaguna milik Kelurahan Sebengkok yang dapat

digunakan untuk kegiatan POPA sebelum mempunyai gedung sendiri.

b) Adanya pekerja sosial di FPPC yang dapat dimanfaatkan untuk konsultasi masalah-masalah sosial anggota.

c) Terdapat program untuk mengatasi masalah sosial dari Bagian Sosial Kota Tarakan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pelayanan kesejahteraan sosial keluarga dan anak tunarungu.

d) Terdapat program pendidikan dan pelatihan pengembangan kelembagaan sosial dari Bagian Sosial Kota Tarakan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan pengurus.

e) Terdapat Forum Pemberdayaan Penyandang Cacat (FPPC) yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan pelayanan kepada anak tunarungu dan keluarganya.

f) Adanya lembaga masyarakat seperti PKK, MUI, tokoh masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. g) Ada anggota POPA yang mempunyai unit usaha konveksi dan bersedia bekerjasama dengan membentuk usaha konveksi bersama. h) Terdapat pengusaha lokal yang dapat dijalin kerjasama dalam

pengembangan usaha anggota dan pemasaran. 4) Hambatan-hambatan dalam pemberdayaan POPA:

a) Untuk memecahkan masalah psikologis dan sosial anggota perlu keterlibatan ahli (psikolog dan pekerja sosial), sementara jumlah psikolog/psikiater dan pekerja sosial di Kota Tarakan terbatas, sehingga apabila melibatkan mereka maka jadwal kegiatan konsultasi harus menyesuaikan dengan jadwal mereka.

b) Untuk mendukung kegiatan POPA baik kegiatan bimbingan maupun pengembangan ekonomi anggota membutuhkan tempat yang memadai. Penyediaan sarana dan prasarana membutuhkan dana yang besar, sehingga kebutuhan ini membutuhkan waktu lama untuk memenuhinya. Hambatan sarana dan prasarana ini dapat diatasi dengan menggunakan gedung serbaguna kelurahan.

Permasalahan, cara mengatasi, potensi dan hambatan dalam pemberdayaan POPA secara lebih rinci disajikan pada Tabel 7

Tabel 7 Permasalahan, Cara Mengatasi, Potensi dan Hambatan dalam Pemberdayaan POPA

No Masalah Cara Mengatasi Potensi yang Mendukung

1 Kurangnya sarana dan prasarana

Memanfaatkan gedung serbaguna kelurahan sebelum mampu

membangun gedung sendiri

Pemerintah lokal, tokoh masyarakat 2 Kurangnya kapasitas POPA - Reorganisasi POPA - Meningkatkan kemampuan pengurus - Meningkatkan partisipasi

dan kerjasama antar anggota

- Meningkatkan kerjasama antar anggota.

- Program pemecahan masalah sosial dari Bagian Sosial

- Program pendidikan dan pelatihan dari Bagian Sosial - PKK, FPPC dan tokoh masyarakat 3 Kurangnya dukungan pihak lain - Melibatkan partisipasi masyarakat - Menjalin kerjasama dengan pihak swasta dan pemerintah

- Pengusaha lokal - Program pemecahan

masalah sosial dari Bagian Sosial

4 Masalah psikologis, ekonomi dan sosial anggota.

- Masalah psikologis dan sosial: konsultasi dengan para ahli, membentuk kelompok arisan. - Masalah ekonomi :

mengembangkan usaha bersama.

- Mengembangkan bengkel kerja (work

shop)

- Psikolog/psikiater - Pekerja sosial - Anggota POPA yang

mempunyai unit usaha konveksi

Sumber: Hasil FGD

Rancangan Program Pemberdayaan POPA

Proses Penyusunan Program

Penyusunan program dilakukan melalui FGD dengan melibatkan pengurus, anggota, PKK, tokoh masyarakat, pemerintah lokal, FPPC, dan Bagian Sosial. Program yang disusun mencakup program jangka pendek, jangka menengah dan

58

jangka panjang berdasarkan hasil identifikasi masalah, cara mengatasi dan potensi lokal yang dapat mendukung pemberdayaan POPA. Sasaran program jangka pendek adalah pengembangan kapasitas organisasi POPA. Program jangka menengah adalah meningkatkan partisipasi masyarakat untuk mendukung POPA dan program jangka panjangnya adalah meningkatkan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah yang dialami anggota POPA dan anak tunarungu.

Tujuan

Tujuan umum program pemberdayaan POPA adalah mewujudkan POPA mandiri secara organisasi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan anggota dan anak tunarungu baik dalam aspek ekonomi maupun sosial secara berkelanjutan.

Tujuan tersebut dicapai melalui tujuan khusus sebagai berikut: 1) Meningkatkan kapasitas POPA

2) Meningkatkan partisipasi masyarakat untuk mendukung pengembangan POPA.

3) Meningkatkan kemampuan anggota dalam memecahkan masalah psikologis, sosial dan ekonomi anggota.

4) Mengembangkan kegiatan bimbingan terhadap anak tunarungu.

Tahapan dan Sasaran

Program pemberdayaan POPA dilakukan secara bertahap, meliputi program jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

1) Program kangka pendek :

Penguatan kapasitas organisasi, mencakup proses memotivasi untuk meningkatkan kesadaran anggota, penataan keorganisasian, peningkatan pengetahuan dan keterampilan pengelolaan organisasi, dan peningkatan kerjasama antar anggota.

Tujuan dari tahapan ini adalah meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan fungsinya, sehingga POPA menjadi kuat secara organisasi dan mampu menyelenggarakan kegiatan-kegiatan organisasi sesuai dengan kebutuhan anggota. Sararan utama dari tahap ini adalah perbaikan organisasi.

2) Program jangka menengah

Peningkatan partisipasi masyarakat dan pengembangan jejaring, yaitu membangun kerjasama dengan berbagai pihak dengan tujuan memperoleh dukungan dalam mengembangkan POPA dan memelihara keberlanjutannya.

3) Program jangka panjang:

Pengembangan kegiatan yang berorientasi pada pemecahan masalah yang dialami keluarga dan perkembangan anak tunarungu. Pengembangan kegiatan ini dilakukan setelah POPA kuat secara organisasi, sehingga memungkinkan dilakukan secara kesinambungan. Kegiatannya meliputi pemecahan masalah anggota dan pengembangan kegiatan bimbingan untuk anak-anak tunarungu. Tujuannya adalah memecahkan masalah yang dialami anggota berkaitan dengan kemiskinan yang dialami dan keberadaan anak tunarungu dalam keluarga serta memperkuat kegiatan bimbingan terhadap anak tunarungu. Sasaran dari program ini adalah keluarga dan anak tunarungu.

Program Kegiatan

Program kegiatan pemberdayaan POPA disusun bersama-sama pihak yang terlibat melalui FGD. Penyusunan program didasarkan pada hasil penentuan masalah, cara-cara mengatasi, tujuan, dan potensi lokal yang dapat mendukung pengembangan dan tahapan pengembangan POPA. Hasil penyusunan program kegiatan yang disusun melalui FGD tersaji pada Tabel 8.

56

Tabel 8 Program Kegiatan Pemberdayaan POPA

Program Kegiatan Tujuan Sasaran Penanggung jawab

Pihak Yang

Terlibat Peran Pihak Yang Terlibat (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Peningkatan motivasi melalui diskus i tentang permasalahan, manfaat dan harapan antar pengurus dan anggota. Meningkatkan kesadaran anggota tentang pentingnya POPA untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan tunarungu Pengembangan organisasi Pengurus POPA - Pengurus - Anggota - PKK - Tokoh Masyarakat - Pemerintah lokal - Penanggungjawab pelaksanaan program, menyelenggarakan diskusi.

- Mengikuti diskusi - Memotivasi anggota - Memfasilitasi diskusi

- Memotivasi dan memberikan penjelasan tentang masalah tunarungu.

Reorganisasi POPA: - Menambah kepengurusan - Menyusun AD/ART - Menyusun pembagian tugas. - Memperbaiki pembukuan Memperkuat kinerja

organisasi Pengembangan organisasi Pengurus POPA

- Pengurus - Anggota - PKK dan tokoh Masyarakat - Pemerintah lokal - Bertanggungjawab terhadap pelaksanaan, menyelenggarakan reorganisasi.

- Mengikuti kegiatan reorganisasi

- Memfasilitasi terselenggaranya reorganisasi

- Memberikan pendampingan dalam penyusunan administrasi organisasi.

Peningkatan kapasitas POPA Membangun kerjasama antar anggota : - Pertemuan berkala. - Membentuk forum diskusi Mengembangkan kekompakan anggota dan menumbuhkan solidaritas. Pengembangan Organsiasi Pengurus POPA - Pengurus - Anggota - Tokoh Masyarakat

- Bertanggungjawab terhadap pelaksanaan, meyelenggarakan pertemuan berkala, menjadwalkan kegiatan, membentuk forum diskusi.

- Mengikuti pertemuan berkala dan kegiatan diskusi, bersama pengurus menyusun jadwal kegiatan.

- Memotivasi dan memfasilitasi kegiatan

6

Program Kegiatan Tujuan Sasaran Penanggung jawab

Pihak Yang

Terlibat Peran Pihak Yang Terlibat (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Peningkatan pengetahuan dan keterampilan pengurus - Pendidikan dan pelatihan manajemen organisasi - Pendampingan dalam pengelolaan manajemen Meningkatkan kemampuan pengurus dalam mengelola POPA Pengembangan organisasi

Bagian Sosial - Bagian sosial - Pengurus dan

anggota

- Pemerintah lokal (Kelurahan) - FPPC

- Penangungjawab program dan menyelenggarakan diklat manajemen organisasi.

- Mengikuti pendidikan dan pelatihan menajemen organisasi sosial. - Memfasilitasi terselenggaranya diklat - Memberikan pendampingan dalam

pelaksanaan diklat Peningkatan partisipasi masyarakat Mempublikasikan program POPA kepada masyarakat Memperoleh dukungan dalam melaksanakan kegiatan Pengembangan organisasi Pemerintah Lokal (Kelurahan) - Pengurus dan anggota - Pemerintah Lokal (Kelurahan) - PKK dan Tokoh Masyarakat

- Bersama tokoh masyarakat dan pemerintah lokal menentukan kegiatan. - Bertanggungjawab terhadap pelaksanaan

program, memotivasi dan

mensosialisasikan program kepada masyarakat.

- Mendorong dan menggerakkan masyarakat untuk mendukung program.

6

58

Program Kegiatan Tujuan Sasaran Penanggung jawab

Pihak Yang Terlibat

Peran Pihak Yang Terlibat (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Menjalin kerjasama dengan lembaga lain dan pemerintah Mengembangkan kemampuan POPA dalam menyelenggarakan kegiatan dan dukungan pendanaan. Pengembangan organisasi Pemerintah Lokal (Kelurahan) - Pemerintah lokal - Pengurus dan anggota - PKK dan tokoh Masyarakat - Bagian Sosial - FPPC

- Penanggungjawab pelaksanaan kegiatan dan memfasilitasi kerjasama.

- Bersama FPPC dan Bagian Sosial menentukan bentuk kegiatan dan mengembangkan kerjasama. - Memberikan pendampingan dalam

menjalin kerjasama.

- Bersama pengurus dan anggota POPA menentukan bentuk-bentuk dan pengembangan kerjasama.

- Bersama pengurus dan anggota POPA menentukan bentuk-bentuk dan pengem bangan kerjasama. Konsultasi psikologis dan Pengembangan sosial ekonomi keluarga Menyelenggarakan pelatihan orang tua (parent training), Meningkatkan kemampuan keluarga dalam memberikan perlakuan khusus untuk mendukung perkembangan anak. Pengembangan sosial ekonomi Keluarga

Bagian sosial - Bagian sosial - Pengurus dan Anggota - Psikolog dan Pekerja sosial - Pemerintah lokal - FPPC

- Penanggungjawab pelaksanaan program, menyelenggarakan pelatihan.

- Mengikuti pelatihan memberikan perlakuan kepada tunarungu.

- Memberikan penjelasan dan pelatihan - Memfasilitasi terselenggaranya pelatihan. - Memberikan pendampingan dalam

pelatihan.

6

Program Kegiatan Tujuan Sasaran Penanggung jawab

Pihak Yang Terlibat

Peran Pihak Yang Terlibat (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Menyelenggarakan konseling keluarga Memecahkan masalah-masalah psikologis dan sosial anggota Pengembangan sosial ekonomi Keluarga

Pengurus POPA - Pengurus - Anggota - Psikolog - Pekerja sosial

- Penanggungjawab pelaksanaan program

- Mengikuti konsultasi keluarga - Penanggungjawab konseling psikologis - Penanggungjawab konseling masalah sosial Membentuk kelompok arisan - Mengembangkan solidaritas dan modal usaha Pengembangan sosial ekonomi Keluarga

Pengurus POPA Pengurus dan Anggota - Bersama-sama menyelenggarakan kelompok arisan. Membentuk usaha bersama konveksi - Meningkatkan pendapatan keluarga - Mendukung pendanaan dari dalam Pengembangan sosial ekonomi Keluarga

Pengurus POPA - Pengurus dan anggota - Bagian Sosial - PKK dan tokoh masyarakat - Pengusaha - Penanggungjawab pelaksanaan kegiatan dan bersama anggota mengembangkan kelompok usaha bersama.

- Memfasilitasi bimbingan usaha dan permodalan

- Menggerakan masyarakat untuk mendukung usaha.

- Memberikan bimbingan pengelolaan usaha dan pemasaran.

Menjalin kemitraan dengan pengusaha - Memperoleh bimbingan dalam mengelola usaha, memperoleh dukungan permodalan dan pemasaran hasil produksi Pengembangan sosial ekonomi Keluarga

Pengurus POPA - Pengurus dan anggota - Bagian sosial dan pemerintah lokal - Tokoh Masyarakat - Pengusaha

- Bersama bagian sosial dan pengusaha menentukan bentuk-bentuk kerjasama

- Memfasilitasi bimbingan usaha dan permodalan

- Menggerakan masyarakat untuk mendukung usaha.

- Memberikan bimbingan pengelolaan usaha, permodalan dan pemasaran.

Sumber: Hasil FGD

6

64 Peningkatan Kapasitas POPA

Peningkatan kapasitas POPA merupakan upaya untuk memperbaiki kinerja organisasi, sehingga memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah anggota. Upaya tersebut mencakup peningkatan kemampuan pengurus, perbaikan manajemen organisasi, peningkatan partisipasi dan kerjasama antar anggota. Kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kapasitas POPA terdiri dari:

1) Peningkatan motivasi terhadap pengurus dan anggota melalui diskusi tentang permasalahan, manfaat dan harapan antar pengurus dan anggota. 2) Reorganisasi POPA dengan menambah kepengurusan, menyusun

AD/ART secara partisipatif, menyusun program kerja, menyusun pembagian tugas antar pengurus dan memperbaiki administrasi.

3) Membangun kerjasama antar anggota POPA dan peningkatan partisipasi dengan menyelenggarakan pertemuan berkala dan membentuk forum diskusi.

4) Peningkatan pengetahuan dan keterampilan pengurus dalam menajemen melalui penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan manajemen organisasi sosial serta pendampingan dalam pengelolaan manajemen.

5) Penyediaan sarana dan prasarana melalui pemanfaatan gedung serbaguna kelurahan sambil berusaha membangun sendiri.

Indikator keberhasilan dari peningkatan kapasitas ini dapat dilihat dari: 1) Terselenggara forum diskusi antar anggota, dan anggota dapat mengikuti

kegiatan diskusi untuk memecahkan masalah-masalah anggota dan organisasi.

2) Terselenggara reorganisasi, bertambahnya kepengurusan, tersusun AD/ART, tersusun program kerja, tersusun pembagian tugas pengurus secara jelas dan membaiknya pembukuan.

3) Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan manajemen organisasi sosial yang terlihat dari membaiknya administrasi POPA

Peningkatan Partisipasi Masyarakat

Pengembangan partisipasi masyarakat dan kerjasama dengan lembaga lain dalam masyarakat dimaksudkan sebagai upaya untuk memperoleh dukungan dari pihak luar untuk mendukung perkembangan POPA secara berkelanjutan. Peningkatan partisipasi masyarakat dan kerjasama dengan lembaga sosial ini bertujuan untuk memperoleh dukungan dalam menyelenggarakan kegiatan dan dukungan pendanaan. Pihak yang dilibatkan dalam kegiatan ini adalah tokoh masyarakat, PKK, pemerintah lokal dan FPPC.

Kegiatan yang dilakukan dalam meningkatkan partisipasi ini adalah: 1) Mensosialisasikan program-program POPA kepada masyarakat

2) Menjalin kerjasama dengan lembaga lain dan pemerintah lokal (Bagian Sosial) untuk mengembangkan kemampuan POPA dalam menyelenggarakan kegiatan dan dukungan pendanaan.

Keberhasilan kegiatan ini dilihat dari indikator sebagai berikut:

1) Semakin banyak anggota masyarakat yang terlibat dalam mendukung keberlanjutan POPA

2) Terjalin kerjasama dengan lembaga lain dan memperoleh dukungan pendanaan.

Konsultasi dan Pengembangan Sosial Ekonomi Keluarga

Anggota POPA sebagai keluarga yang memiliki anak tunarungu menghadapi masalah dalam memenuhi kebutuhan khusus anak. Masalah tersebut mencakup aspek psikologis dan sosial. Pemecahan masalah psikologis, sosial dan ekonomi menuntut keterlibatan para ahli yang berwenang, yaitu psikolog/psikiater dan pekerja sosial. Di Kota Tarakan, terdapat psikolog 1 orang, psikiater 1 orang dan pekerja sosial 2 orang. Dalam rangka mengembangkan ekonomi anggota, pendekatan kelompok melalui pembentukan usaha bersama merupakan strategi yang memungkinkan dilakukan dalam keanggotaan POPA yang sebagian besar miskin. Pihak yang dilibatkan dalam kegiatan ini adalah pengurus, anggota, psikolog/psikiater, pekerja sosial, PKK, FPPC. Tokoh masyarakat, pemerintah lokal dan pengusaha.

66 Kegiatan dalam meningkatkan kemampuan memecahkan masalah anggota ini terdiri dari:

1) Penyelenggaraan pelatihan orangtua (parent training), melalui pemberian informasi tentang masalah yang berkaitan dengan tunarungu dan pelatihan dalam memberikan perlakuan khusus untuk memungkinkan perkembangan anak.

2) Penyelenggaraan konseling keluarga untuk memecahkan masalah-masalah psikologis dan sosial berkaitan dengan keberadaan tunarungu dalam keluarga.

3) Membentuk kelompok arisan untuk meningkatkan kerjasama antar anggota dan membentuk modal usaha anggota.

4) Pembentukan usaha bersama konveksi untuk meningkatkan pendapatan keluarga dengan memanfaatkan potensi yang ada.

5) Mengembangkan kerjasama dengan pemerintah dan pengusaha lokal untuk memperoleh dukungan pendanaan, bimbingan pengelolaan usaha dan pemasaran.

Keberhasilan kegiatan ini dapat dilihat dari indikator sebagai berikut:

1) Terselenggara pelatihan orangtua dan semua anggota POPA dapat mengikuti kegiatan pelatihan tersebut.

2) Terselenggara konseling keluarga dalam POPA secara berkesinambungan 3) Terbentuk kelompok arisan anggota POPA.

4) Terbentuk usaha bersama konveksi dan meningkatnya pendapatan keluarga

Kesimpulan

Kapasitas POPA

Kapasitas POPA kurang mendukung dalam memenuhi kebutuhan dan aspirasi anggota-anggotanya. Hal ini tercermin pengetahuan dan keterampilan pengurus dan anggota dalam mengelola organisasi sosial kurang mendukung kinerja POPA, pemimpin belum menjalankan fungsi kepemimpinannya dalam memberikan motivasi dan menggerakkan organisasi, kerjasama antar anggota belum terjalin dengan baik.

Dalam aspek manajemen organisasi, perencanaan telah disusun secara demokratis, namun secara substansi kurang berorientasi pada tujuan jangka panjang. Program-program kegiatan yang disusun lebih banyak program kegiatan yang bersifat insidentil. Pelaksanaan kegiatan POPA tidak berjalan dengan baik. Partisipasi anggota dalam pelaksanaan kegiatan rutin (bimbingan keterampilan) sangat kurang. Evaluasi terhadap program dan kegiatan tidak pernah dilakukan. Dalam aspek dukungan dana, POPA mengalami kekurangan finansial untuk mendukung operasional kegiatan sehari-hari.

Permasalahan POPA 1) Masalah anggota:

a) Masalah umum yang dihadapi keluarga yang mempunyai anak tunarungu adalah kekhawatiran terhadap masa depan anak.

b) Terkait dengan kondisi keluarga ada perbedaan antara keluarga yang berlatar belakang sosial ekonomi cukup dengan keluarga miskin. Masalah yang dirasakan keluarga berkondisi sosial ekonomi cukup adalah kesulitan dalam memberikan perlakuan khusus, sedangkan keluarga miskin adalah bertambahnya beban ekonomi.

c) Bagi keluarga yang cukup, biaya bukan merupakan masalah untuk memenuhi kebutuhan khusus bagi anak-anaknya, sedangkan dari keluarga miskin, lebih mempermasalahkan pemenuhan kebutuhan pokok umumnya.

68 2) Masalah organisasi:

Masalah yang dihadapi POPA adalah : kekurangan dana untuk mendukung operasional yang disebabkan keluarga tidak membayar biaya bimbingan; tidak mempunyai unit usaha, dan tidak memiliki jaringan dengan sektor swasta. Masalah lainnya adalah keberadaannya kurang diketahui masyarakat, tidak memperoleh dukungan dari pemerintah dalam bentuk pendidikan, pelatihan, pendampingan maupun dana dan kurang sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan bimbingan.

Strategi pemberdayaan POPA

Strategi pemberdayaan dilakukan dengan menyusun program secara partisipatif melalui FGD. Program yang disusun untuk memberdayakan POPA mencakup peningkatan kapasitas POPA, peningkatkan kemampuan memecahkan masalah psikologis, sosial dan ekonomi anggota dan pengembangan jejaring. Tujuannya adalah mewujudkan POPA mandiri secara organisasi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan anggota baik dalam aspek ekonomi maupun sosial secara berkelanjutan.

Rekomendasi

Berkaitan dengan program yang telah dirumuskan secara partisipatif bersama-sama masyarakat, maka dalam rangka mendukung pelaksanaan program, beberapa hal yang perlu dilakukan pihak pemerintah dan swasta: 1) Pemerintah

a) Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi diharapkan dapat memberikan pelatihan usaha ekonomi produktif dan dapat mengalokasikan dana modal usaha bagi masyarakat kepada POPA. b) RSU Poli THT serta Poli Jiwa dapat dimintakan bantuannya untuk

memeriksa tingkat ketunarunguan anak atau memberikan perawatan kepada anak yang mengalami gangguan kesehatan.

c) Pemerintah perlu memberikan fasilitas dalam bentuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan, tidak berorientasi ekonomi dengan mensosialisasikan berbagai program yang dilaksanakan.

2) LSM :

a) FPPC yang sudah mempunyai program pemberdayaan terhadap penyandang cacat di Kota Tarakan dapat membantu menyediakan tenaga instruktur dalam bimbingan keterampilan anak tunarungu. b) PPK Pokja I dalam kegiatan rutin setiap bulan melibatkan atau

mengajak POPA untuk memperkenalkan dan mempromosikan program POPA kepada masyarakat di Kelurahan Sebengkok.

Dokumen terkait