• Tidak ada hasil yang ditemukan

--- --- --- ---

5. Pelaksanaan aktivitas apa saja yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran Apresiasi desain dua dimensi dan tiga dimensi?

---

Pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Definisi sebelumnya menyatakan bahwa seorang manusia dapat melihat dalam perubahan yang terjadi, tetapi tidak pembelajaran itu sendiri. Konsep tersebut bersifat teoretis, dan dengan demikian tidak secara langsung dapat diamati.

Kegiatan Pembelajaran 1:

Metode Pembelajaran Desain Dasar Dua Dimensi dan Tiga Dimensi

2. Karakteristik Peserta Didik

Sebagian peserta didik mempunyai kemampuan lebih pada materi tertentu sehingga mereka cepat memahami, sedangkan terhadap sebagian kelompok memiliki kemampuan standar atau biasa-biasa saja.

Mereka dapat memahami materi pembelajaran dalam waktu yang normal seperti yang dijadwalkan. Ada lagi kelompok peserta didik yang sangat sulit menyerap ilmu dibanding peserta didik yang lain. Ada 2 (dua) pendekatan yang dapat dipilih. Pertama, peserta didik menyesuaikan dengan materi pelajaran sedangkan yang kedua sebaliknya, yakni materi pelajaran disesuaikan dengan peserta didik. Kedua pendekatan tersebut dapat dilakukan apabila pembelajaran bersifat individual.

3. Media pembelajaran

Beragam media dapat digunakan untuk mendukung aktivitas pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik. Untuk memudahkan memilih dan menggunakan media tersebut, dilakukan pengklasifikasian/

pengelompokkan media.

beberapa media pembelajaran yang relevan untuk pembejaran:

a. Buku

b. Alat-alat dan bahan-bahan peraga c. Bahan tayang

d. Video

e. Media berbasis computer dan internet

4. Metode Pembelajaran desain dasar dua dimensi dan tiga dimensi melalui:

a. Pendekatan Saintifik

Merupakan teknik pembelajaran untuk dapat merangsang peserta didik lebih aktif mencari dan meneliti sendiri permasalahan

Mata Pelajaran Seni Budaya Seni Rupa SMA

kesenirupaan. Baik ketika berapresiasi, berkreasi, bereksperimen, berpameran, maupun aktivitas mengevaluasi karya.

b. Inkuiri

Dalam konteks pendidikan seni rupa, metode pembelajaran ini, berarti proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik menghayati dan akhirnya dapat merasakan serta menerapkan cara memperoleh pengetahuan kesenirupaan. Suatu proses yang memungkinkan tertanamnya sikap ilmiah, sikap ingin tahu dan menimbulkan rasa mampu untuk selalu mencari jawaban atas masalah seni rupa yang dihadapi secara ilmiah.

c. Pembelajaran Berbasis Proyek

Pembelajaran berbasis proyek dirancang untuk mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru kesenirupaan berdasarkan pengalaman peserta didik dalam mengunjungi pameran seni rupa, museum seni rupa, sanggar seni rupa, asosiasi seni rupa, dan lain-lain.

d. Bahasa Sebagai Penghela

Guru seni budaya atau seni rupa, di samping tugas utamanya melaksanakan pembelajaran kesenirupaan, juga menjadi pelaksana pembelajaran bahasa Indonesia. Artinya, ketika melaksanakan proses pembelajaran guru menjadi pengarah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kegiatan Pembelajaran 1:

Metode Pembelajaran Desain Dasar Dua Dimensi dan Tiga Dimensi

5. Aktifiktas apresiasi seni rupa meliputi:

a. Berapresiasi

Materi pembelajaran apresiasi seni menerapkan pendekatan saintifik, memerlukan objek pengamatan berupa karya seni rupa murni (seni lukis, patung), seni rupa terapan (desain komunikasi visual, desain tekstil) dan kriya (kriya kulit, kriya tekstil, atau karya seni rupa lain sesuai dengan konteks di mana sekolah berada), guru/sekolah, menyiapkan fasilitas, karya-karya asli (lukisan, patung, desain, dan kria) dari kebudayaan daerah setempat. Atau jika tidak memungkinkan dapat dalam bentuk reproduksi, video, film atau karya guru/ karya peserta didik yang representatif sebagai objek apresiasi.

b. Persiapan Aktivitas Apresiasi Seni

Tiga lukisan ditentukan sebagai objek pengamatan, kemudian dipilih 3 peserta didik sebagai pelaku apresiasi, untuk mengamati langsung lukisan di depan kelas dan menginformasikan hasil pengamatannya secara lisan. Pengamatan ini dicatat oleh 3 peserta didik sebagai notulen (1 peserta didik = 1 notulen) bertugas untuk merekam dan mencatat hasil pengamatan yang dilakukan. Selanjutnya guru dengan ringkas memberikan orientasi fokus pembelajaran apresiasi seni (deskripsi, analisis, penafsiran dan evaluasi).

6. Pelaksanaan Aktivitas Apresiasi desain dasar dua dimensi dan tiga dimensi.

a. Mengamati

Peserta didik pertama, maju ke depan kelas melaksanakan pengamatan dan menginformasikan hasil pengamatannya secara lisan kepada semua peserta didik dan guru di kelas.

Mata Pelajaran Seni Budaya Seni Rupa SMA

b. Menanyakan

Peserta didik kedua, maju ke depan kelas dan mengamati karya desain dasar, kemudian bertanya:

“Faktor apakah pada lukisan ini yang dapat menimbulkan perasaan menyenangkan (atau sebutkan perasaan lainnya) dalam diri saya.

c. Mencoba

Peserta didik ketiga, maju ke depan kelas dan mengamati karya desain dasar, kemudian mencoba menjawab pertanyaan: Dengan menunjukkan faktor rupa atau unsur yang menimbulkan perasaan menyenangkan (perasaan lain).

d. Menalar

Ketiga notulen kemudian membacakan hasil pengamatan, jawaban atas pertanyaan, dan hasil asumsi yang di sampaikan oleh tiga peserta didik yang mengamati karya desain dasar. Berdasarkan data ini, guru membuka kegiatan diskusi kelas dan bertindak sebagai moderator. Fokus kajian diskusi adalah menyepakati atau merevisi kebenaran data pengamatan, jawaban pertanyaan yang diajukan, dan asumsi yang telah dikemukakan.

e. Menyajikan

Untuk aktivitas ini guru memandu kegiatan diskusi secara bergiliran di depan kelas. Pada akhir kegiatan diskusi diharapkan diperoleh kesimpulan yang memuaskan tentang aspek keindahan (estetika), aspek seni (artistik) dan aspek nilai (makna) karya.

Kegiatan Pembelajaran 1:

Metode Pembelajaran Desain Dasar Dua Dimensi dan Tiga Dimensi

7. Berkreasi

Dalam bukunya Creative and Mental Growth, Viktor Lowenfeld menyimpulkan adanya the visual type dan the haptic type dalam karya para peserta didik. Maka konsep dan praksis pendidikan formal di sekolah menengah atas berusaha mengembangkan kedua tipe tersebut secara konsekuen.

a. Pengembangan Tipe Visual

Pengertian karya desain dasar tipe visual adalah titik tolak penghayatan peserta didik lebih banyak berdasarkan pengamatan atas bentuk alam sekitar. Sehingga faktor eksternal relatif lebih berperan ketika mereka melukis.

b. Pengembangan Tipe Haptic

Pengertian tipe haptic adalah titik tolak penghayatan peserta didik lebih banyak berdasarkan gagasan pribadi. Sehingga faktor internal lebih banyak berperan. Hal ini terbukti dari karakteristik karyanya yang lebih dominan sebagai ekspresi perasaan subjektif yang mengarah kepada corak non realistis.

8. Metode Penilaian

a. Penilaian Otentik

Penialaian Otentik dilakukan oleh guru secara berkelanjutan. Penilaian terhadap kompetensi sikap dilakukan dengan cara observasi, penilaian diri, penilaian sejawat oleh peserta didik, berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale), disertai rubrik. Sedangkan penilaian dengan jurnal, merupakan catatan guru di dalam dan di luar kelas yang bersisi informasi tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik dalam hal sikap.

Mata Pelajaran Seni Budaya Seni Rupa SMA

b. Tingkat Berpikir

Penilaian kompetensi pengetahuan dilakukan melalui tes tulis (uraian), tes lisan (daftar pertanyaan), dan penugasan (pekerjaan rumah, menulis artikel apresiasi seni).

c. Unjuk Kerja

Penilaian kompetensi keterampilan melalui kinerja peserta didik, yaitu peserta didik diminta mendemonstrasikan suatu kompetensi dalam kegiatan tes praktik, proyek, maupun penilaian portofolio.

d. Portofolio

Portofolio adalah penilaian kumpulan karya peserta didik dalam bidang apresiasi seni rupa murni, desain, dan kria yang bersifat reflektif dan integratif untuk mengetahui kecenderungan karya, perkembangan, prestasi, atau kreativitas peserta didik.

Dalam dokumen DESAIN DASAR DUA DIMENSI DAN TIGA DIMENSI (Halaman 39-45)

Dokumen terkait