• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. DEVOSI KEPADA BUNDA MARIA BAGI PARA ANGGOTA

F. Rangkuman

Devosi adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. Dalam Gereja katolik, ada berbagai macam devosi. Salah satunya adalah devosi kepada Bunda Maria. Bunda Maria diakui sebagai pribadi yang rendah hati dan selalu

mendengarkan kehendak Tuhan dalam karya penyelamatan. Bunda Maria diakui sebagai pribadi yang selalu mendengarkan doa, menjadi panutan dalam keluarga-keluarga Katolik dan kelompok-kelompok tertentu, bahkan Bunda Maria dapat diteladani pribadinya dalam karya pelayanan. Devosi kepada Bunda Maria adalah devosi yang sangat popular dalam kalangan umat Katolik. Dengan berdevosi kepada Bunda Maria, umat Katolik mengalami ketenangan, kedamaian, bahkan banyak doa yang terkabulkan melalui perantaraan Bunda Maria. Salah satu kelompok yang menjadikan Bunda Maria sebagai tokoh panutan adalah kelompok Legio Maria. Semangat Bunda Maria telah menjadi semangat para Legioner dalam karya pelayanan di paroki. Bunda Maria menjadi tokoh model bagi karya pelayanan Legio Maria, sehingga segala pelayanan Legioner membawa semangat Maria untuk memberi kekuatan dan kedamaian bagi mereka yang dilayani.

BAB III

METODE PENELITIAN

Dalam bab sebelumnya, penulis telah memaparkan penjelasan tentang devosi kepada Bunda Maria dalam kehidupan menggereja para anggota Legio Maria. Pada bab ini, penulis akan menguraikan tentang metode penelitian yang dipakai dalam skripsi ini meliputi jenis penelitian, desain penelitian, tempat dan waktu penelitian, informan penelitian, fokus penelitian, teknik dan instrumen pengumpulan data, teknis analisis data, dan validasi data.

A. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan naturalistik melalui wawancara dan observasi langsung untuk melihat bagaimana objek penelitian dalam hal ini para anggota Legio Maria memaknai devosi kepada Bunda Maria dalam kehidupan menggereja di Paroki St. Paulus Pringgolayan (Sugiyono, 2018:14)

B. Desain Penelitian

Desain penelitian ini berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah di mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2018:15).

C. Tempat dan waktu Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan di Gereja St. Paulus, Pringgolayan, Yogyakarta.

Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan April- Mei 2021 D. Informan Penelitian

Dalam memilih informan penelitian sebagai subjek penelitian, penulis menggunakan teknik sampel purposif dengan pertimbangan kriteria. Kriteria yang ditentukan yaitu anggota Legio Maria yang aktif dalam kehidupan menggereja di paroki. Untuk validasi data, penulis menetukan kriteria informan yaitu pegiat devosi Bunda Maria dalam kehidupan menggereja di paroki. Informan dalam penelitian ini adalah lima belas anggota Legio Maria Paroki Santo Paulus Pringgolayan, Yogyakarta.

E. Fokus Penelitian

Penelitian ini mengambil fokus Makna devosi kepada Bunda Maria bagi para anggota Legio Maria dalam kehidupan menggereja.

Tabel 1. Kisi-kisi Wawancara

No Fokus Aspek yang diungkapkan

1. Pelaksanaan devosi kepada Bunda Maria bagi para anggota Legio Maria dalam kehidupan menggereja di Paroki St. Paulus pringgolayan, Yogyakarta

a. Devosi kepada Bunda Maria yang terjadi di Paroki St. Paulus Pringgolayan Yogyakarta.

b. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk memaknai devosi kepada Bunda Maria dalam kehidupan menggereja di Paroki Pringgolayan, Yogyakarta.

c. Pemahaman Legio Maria terhadap Devosi kepada Bunda Maria.

2. Kehidupan menggereja para anggota Legio Maria dalam memaknai devosi kepada Bunda Maria

a. Kehidupan menggereja para anggota Legio Maria yang dimaknai dengan devosi kepada Bunda Maria.

b. Pemahaman para anggota Legio Maria sebagai anggota Gereja dalam kehidupan menggereja.

3. Kegiatan yang cocok untuk memaknai devosi kepada Bunda Maria bagi para anggota Legio Maria dalam kehidupan menggereja

a. Usulan kegiatan yang sesuai untuk memaknai devosi kepada Bunda Maria dalam kehidupan menggereja bagi para Legioner.

F. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data

Pada penelitian ini, data diperoleh dari berbagai sumber dengan menggunakan metode pengumpulan data yang dilakukan secara terus-menerus sampai data menjadi lengkap. Maka teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah:

a. Observasi Informan

Observasi informan dilakukan oleh peneliti dengan melibatkan diri dalam kegiatan sehari-hari para informan sebagai sumber data penelitian. Sugiyono (2018:311) mengungkapkan bahwa observasi informan, peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang diucapkan, dan berpartisipasi dalam aktivitas mereka. Dalam penelitian ini, penulis mengamati langsung

pemaknaan kegiatan devosi kepada Bunda Maria para anggota Legio Maria dalam kehidupan menggereja di Paroki St. Paulus Pringgolayan, Yogyakarta.

b. Wawancara

Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu (Sugiyono, 2018:317). Metode wawancara dipilih dalam penelitian ini dengan menggunakan bentuk wawancara terstruktur. Peneliti menyiapkan pertanyaan-pertanyaan tertulis mengenai hal-hal yang hendak ditanyakan kepada informan. Namun demikian dalam penelitian ini dimungkinkan wawancara berlangsung dengan metode semiterstruktur apabila jawaban dari informan dirasa kurang representatif.

c. Studi Dokumen

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu (Sugiyono, 2018:329). Dokumen yang akan digunakan dalam penelitian ini berupa arsip buku, data dan administrasi dari para anggota Legio Maria di Paroki St. Paulus Pringgolayan, Yogyakarta yang ditelaah sampai mendapatkan informasi yang mendukung penelitian.

2. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman observasi dan wawancara. Rincian pedoman tersebut adalah sebagai berikut:

a. Pedoman Observasi

Tabel 2: Pedoman Observasi

Tujuan Aspek yang diamati

Untuk memperoleh informasi dan data yang akurat mengenai pemaknaan devosi kepada Bunda Maria dalam kehidupan menggereja bagi para anggota Legio Maria di Paroki St.

Paulus Pringgolayan, Yogyakarta.

a. Proses pelaksanaan devosi Legio Maria

b. Kegiatan menggereja yang dilakukan sebagai pemaknaan terhadap devosi kepada Bunda Maria

c. Situasi yang terjadi dalam proses pelaksanaan kegiatan devosi para anggota Legio Maria.

d. Sosok-sosok yang berperan aktif dalam memaknai devosi dalam kehidupan menggereja

b. Pedoman Studi Dokumen

Berikut merupakan pedoman studi dokumen yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini:

Tabel 3. Pedoman Studi Dokumentasi

Aspek Dokumen

Devosi kepada Bunda Maria 1. Profil Legio Maria Paroki St. Paulus Pringgolayan Yogyakarta

2. Teks doa catena

3. Arsip dokumentasi foto kegiatan devosi Legio Maria

Legio Maria dalam kehidupan menggereja

1. Arsip dokumentasi foto kegiatan menggereja para anggota Legio Maria untuk memaknai devosi kepada Bunda Maria

c. Pedoman Wawancara

Berikut ini pedoman wawancara yang digunakan peneliti dalam penelitian:

1) Apa yang bapak/ibu ketahui tentang devosi?

2) Apa makna devosi bagi bapak/ibu sebagai seorang legioner?

3) Bagaimana tujuan devosi Legio Maria bagi bapak/ibu sebagai legioner?

4) Motivasi apa yang membuat anda berdevosi kepada Bunda Maria melalui kegiatan Legio Maria?

5) Apa saja kegiatan devosional bapak/ibu sebagai legioner?

6) Siapa Bunda Maria bagi para anggota Legio Maria dan bagi pribadi?

7) Apa visi, keistimewaan dan semangat Bunda Maria yang diteladankan oleh bapak/ibu sebagai legioner?

8) Kegiatan apa yang dilakukan untuk memaknai kegiatan devosi kepada Bunda Maria dalam dalam kehidupan menggereja di paroki Pringgolayan?

9) Apa yang anda pahami tentang Gereja dan kehidupan menggereja?

10) Apa faktor pendukung dan penghambat yang saudara-saudari alami dalam mengikuti kegiatan legio atau kegiatan menggereja?

11) Kegiatan seperti apa yang diharapkan dalam masa pandemi untuk memaknai devosi kepada Bunda Maria?

Menurut Sugiyono (2018:333) analisis data diperoleh dari berbagai sumber, dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (Triangulasi), dan dilakukan secara terus menerus sampai tuntas. Pada penelitian ini, penulis menggunakan teknik analisis data dengan metode interaktif. Berikut ini gambaran skema tahapan analisis data dengan metode interaktif:

1. Reduksi Data (Data Reduction) berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting dan membuang hal-hal yang tidak penting sehingga data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.

2. Penyajian data (Data Display) dimaksudkan agar data dapat terorganisir, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami untuk dan memungkinkan untuk menarik kesimpulan berupa uraian singkat.

3. Penarikan kesimpulan dan Verifikasi (Conclusion Drawing/Verification) merupakan proses penarikan kesimpulan dari reduksi data dan penyajian data.

12) Kesaksian hidup melalui kegiatan dan pelayanan bapak/ibu sebagai legioner seperti apa di tengah masyarakat sebagai wujud konkret pelayanan Legio Maria?

13) Dampak yang didapatkan dalam kegiatan Legio Maria di tengah masyarakat?

14) Faktor pendukung dan penghambat baik sebagai pribadi maupun kelompok dalam menjalankan kegiatan di tengah masyarakat?

G. Teknik Analisis Data

H. Validasi Data

Dalam penelitian ini, validasi data yang dipakai adalah triangulasi.

Triangulasi dalam penelitian ini digunakan untuk melakukan uji kredibilitas sebagai pengecekan data dari berbagai sumber terpercaya lainnya melalui observasi dan wawancara bersama Pastor paroki selaku Pastor pendamping Legio Maria, Ketua RT untuk kegiatan Legio Maria dalam kehidupan menggereja dan pelayanan di masyarakat.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab sebelumnya, penulis memaparkan tentang metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi. Pada bab ini, penulis akan memaparkan hasil penelitian yang diperoleh melalui hasil studi dokumen, observasi dan wawancara bersama informan untuk mendapatkan informasi.

A. Sejarah Singkat Legio Maria Paroki St. Paulus Pringgolayan, Yogyakarta Legio Maria paroki St. Paulus Pringgolayan, Yogyakarta dibentuk oleh Bapak Agustinus Sunarto yang merupakan pemula berdirinya Legio Maria yang sebelumnya masih menjadi bagian dari paroki St. Yusuf, Bintaran. Awal mula Legio Maria hadir di stasi Pringgolayan, paroki St Yusuf, Bintaran karena semangat legioner dari Bapak Agustinus Sunarto di paroki sebelumnya yakni paroki Sedayu, menginspirasinya untuk membentuk kelompok Legio Maria di stasi Pringgolayan.

Keinginan ini akhirnya direspon baik oleh beberapa umat katolik yang akhirnya bergabung dalam kelompok Legio Maria.

Awalnya, Legio Maria beranggotakan 12 orang, namun dengan berjalanya waktu, kelompok Legio Maria menjadi salah sau kelompok yang anggotanya terbanyak yakni 35 orang yang tersebar di dua presidium yakni presidium Sekar Mawar Ingkang Ngemuwados (Bunga Mawar yang Gaib) dan presidium Lintang Panjer Enjing (Bintang Timur) (Legio Maria Pringgolayan, 2016: 1).

Perkembangan pesat dialami ketika stasi Pringgolayan mulai menjadi Paroki mandiri sejak 25 Januari 2018. Pada tahun itu berdiri presidium Legio Maria untuk yunior, namun dalam perjalanan waktu, kurang adanya perhatian untuk

presidium yunior sehingga mulai berkurang anggotanya sejak pandemi covid, sehingga presidium yunior bergabung pada dua presidium lainnya. Walau anggota berkurang, tidak mengurangi semangat mereka dalam karya pelayanan seturut semangat Bunda Maria.

B. Hasil Penelitian

Pada bagian ini, penulis memaparkan hasil penelitian yang dilakukan melalui observasi, studi dokumen dan wawancara bersama para informan. Pada bagian observasi, penulis akan membahas tentang proses pelaksanaan devosi yang dilakukan oleh para anggota Legio Maria, kegiatan yang dijalankan untuk memaknai devosi, situasi yang terjadi serta pribadi-pribadi yang terlibat dalam kegiatan, baik devosional maupun pemaknaan devosi melalui kegiatan pelayanan.

Pada bagian studi dokumen, penulis akan memaparkan profil Legio Maria paroki St. Paulus Pringgolayan, dan dokumen mengenai kegiatan Legio Maria yang telah dan sedang dijalankan, doa-doa yang digunakan dalam kegiatan devosi Legio Maria serta keanggotaan Legio Maria. Sedangkan pada bagian wawancara, penulis akan memaparkan hasil wawancara bersama para informan dalam hal ini para anggota Legio Maria baik senior maupun yunior. Melalui wawancara penulis mendapatkan data mengenai makna devosi untuk hidup menggereja bagi para anggota Legio Maria di Paroki St. Paulus Pringgolayan.

1. Hasil Observasi Pelaksanaan kegiatan Devosi kepada Bunda Maria bagi Para Legio Maria di Paroki St. Paulus Pringgolayan, Yogyakarta.

Dalam observasi, penulis hadir dan mengamati langsung proses kegiatan devosi kepada Bunda Maria bagi para anggota Legio Maria yang diadakan setiap hari Kamis di panti paroki St. Paulus Pringgolayan. Kegiatan devosional ini

kemudian dikonkretkan dalam kegiatan pelayanan yang dijalankan setiap hari setelah kegiatan devosi. Kegiatan pelayanan menjadi wujud konkret berupa niat yang dijalankan oleh semua anggota selama seminggu.

Adapun acara yang dilakukan dalam setiap kegiatan, yang disaksikan dan dihadiri langsung oleh penulis, sbb:

a. Acara pertemuan/sidang Legio Maria yang dilaksanakan setiap hari Kamis pukul 16.30-18.00

1) 16.15 WIB, saling sapa dan persiapan pertemuan dan kegiatan devosional.

2) 16.30-16.35 WIB, Doa pembuka oleh petugas

3) 16.35-17.05 WIB, Alokusio yang dibawakan oleh pastor atau yang bertugas 4) 17.05-17.30 WIB, kegiatan devosional (doa-doa Legio Maria)

5) 17.30-17.50 WIB, menentukan aksi nyata yang akan dijalankan selama seminggu

6) 17.50-18.00 WIB, kegiatan penutup.

b. Acara kunjungan yang dijalankan setiap hari senin, selasa dan rabu dalam pekan.

1) Senin pukul 09.00 WIB, kunjungan orang sakit ke rumah sakit Panti Rapih 2) Selasa pukul 09.00 WIB, kunjungan orang sakit, lansia, jompo dan KLMTD di

dalam dan luar paroki secara berkelompok

3) Rabu pukul 09.00 WIB (jadwal disesuaikan dengan lapas), kunjungan ke lapas.

Melalui observasi, penulis melihat kedisiplinan dari setiap anggota Legio Maria baik dalam pertemuan, kegiatan devosional dan kunjungan. Bukan hanya kedisiplinan tetapi keaktifan setiap anggota sangat membantu kelancaran proses

kegiatan devosional Legio Maria. Setiap kunjungan selalu didahului dan diakhiri dengan doa bersama mereka yang dikunjungi sesuai dengan situasi mereka.

2. Hasil Studi Dokumen

Pada bagian ini penulis memaparkan mengenai profil Legio Maria paroki St.

Paulus Pringgolayan, Yogyakarta. Pemaparan ini berdasakan hasil studi dokumen yang dimiliki oleh paroki dan diambil juga dari sekretariat Legio Maria. Penulis juga membaca buku pegangan wajib anggota Legio Maria yang merupakan dokumen utama seorang Legioner untuk membantu penulis menemukan pemaknaan hidup seorang legioner dalam kehidupan menggereja.

Legio Maria paroki St. Paulus Pringgolayan, Yogyakarta berdiri sejak 10 Februari 1989 berkat inisiatif Bapak Agustinus Sunarto. Legio Maria berdiri berawal dari keprihatinan Bapak Narto karena tidak ada kelompok kategorial Legio Maria di Stasi Pringgolayan. Niat ini diterima baik oleh umat, akhirnya berdirilah presidium Sekar Mawar Ingkang Ngemu Wados yang awalnya beranggotakan 12 orang.

Dalam perjalanan waktu, Legio Maria yang awalnya beranggotakan 12 orang, akhirnya berkembang dan semakin banyak umat yang bergabung menjadi anggota Legio Maria. Dengan bertambahnya anggota, didirikan lagi satu presidium pada tanggal 8 Februari 2016 dan diberi nama presidium Lintang Panjer Enjing yang merupakan presidium kedua dari paroki Pringgolayan yang pada tahun itu telah menjadi paroki Administratif dari paroki St. Yusuf Bintaran (Legio Maria Pringgolayan, 2016: 1).

3. Hasil Wawancara

Pada bagian ini penulis akan memaparkan profil para informan. Selain itu penulis akan memaparkan hasil wawancara bersama para informan yang merupakan anggota aktif Legio Maria paroki St. Paulus Pringgolayan, Yogyakarta.

Wawancara yang dilakukan dengan mendatangi anggota Legio Maria dari rumah ke rumah sejak tanggal 5 April 2021- 20 Mei 2021.

a. Profil Informan

Informan dalam penelitian ini adalah anggota Legio Maria yang aktif dalam kehidupan menggereja melalui devosi, pertemuan rutin dan karya pelayanan yang dilakukan setiap hari sebagai bentuk pemaknaan terhadap kegiatan devosional Legio Maria. Informan yang diwawancarai berjumlah 15 orang, terdiri dari 13 perempuan dan dua laki-laki, dan untuk triangulasi, penulis mewawancarai Romo paroki dan salah satu suster yang merupakan pendamping para anggota Legio Maria. Profil informan akan ditulis menggunakan kode untuk mempermudah dalam penyebutan. Profil informan sebagai berikut:

1) Informan 1 (I1), berusia 72 tahun, pendiri Legio Maria paroki Pringgolayan, sudah 60 tahun menjadi anggota Legio Maria (1961-2021)

2) Informan 2 (I2), berusia 70 tahun, salah satu pemula Legio Maria di paroki Pringgolayan. Menjadi anggota Legio Maria sejak 1961-2021 (60 tahun).

3) Infoman 3 (I3), berusia 70 tahun, ketua Legio Maria paroki Pringgolayan dua periode yakni tahun 2016-2021. Menjadi anggota Legio Maria sejak 1980-2021 (41 tahun)

4) Informan 4 (I4), berusia 68 tahun, merupakan legioner senior. Menjadi anggota Legio Maria sejak 1989-2021 (32 tahun).

5) Informan 5 (I5), berusia 69 tahun, merupakan Legio Maria senior. Menjadi anggota Legio Maria sejak 1989-2021 (32 tahun).

6) Informan 6 (I6), berusia 64 tahun, merupakan Legio Maria senior. Menjadi anggota Legio Maria sejak 2000-2021 (21 tahun).

7) Informan 7 (I7), berusia 64 tahun, sekretaris Legio Maria. Menjadi Legio Maria sejak tahun 2006-2021 (15 tahun).

8) Informan 8 (I8), berusia 66 tahun, merupakan Legio Maria senior. Menjadi anggota Legio Maria sejak 1989-2021 (32 tahun).

9) Informan 9 (I9), berusia 66 tahun, merupakan Legio Maria senior. Menjadi anggota Legio Maria sejak 2006-2021 (15 tahun).

10) Informan 10 (I10), berusia, 64 tahun, merupakan Legio Maria senior. Menjadi anggota Legio Maria sejak 1989-2021 (32 tahun).

11) Informan 11 (I11), berusia 62 tahun, merupakan Legio Maria Senior. Menjadi anggota Legio Maria sejak tahun 1989-2021 (32 tahun).

12) Informan 12 (I12), berusia 69 tahun, merupakan Legio Maria senior. Menjadi anggota Legio Maria sejak tahun 1989-2021 (32 tahun).

13) Informan 13 (I13), berusia 70 tahun, merupakan Legio Maria yunior. Menjadi anggota Legio Maria sejak tahun 2018-2021 (3 tahun).

14) Informan 14 (I14), berusia 53 tahun, merupakan Legio Maria yunior. Menjadi legio Maria sejak tahun 2016-2021 (5 tahun).

15) Informan 15 (I15), berusia 21 tahun, mahasiswi dan merupakan Legio Maria yunior. Menjadi anggota Legio Maria sejak 2013-2021 (8 tahun).

b. Makna Devosi kepada Bunda Maria

1) Apa yang bapak ibu ketahui tentang devosi?

Pertanyaan ini ditanyakan kepada semua informan yang diwawancarai.

Jawaban dari pertanyaan ini juga sangat beragam namun hampir serupa. Menurut I1, I4, I5 dan I14, yang diketahui mengenai devosi itu adalah doa kepada seseorang yang dipercaya bahwa bisa mengabulkan doa kita. Menurut I15 devosi adalah salah satu doa yang tidak didoakan saat perayaan Ekaristi, tetapi didoakan oleh umat Katolik ketika memerlukan pertolongan.

Bagi I2, I7 dan I13 menjawab: yang diketahui mengenai devosi itu doa terus menerus atau bisa dibilang novena kepada siapa atau apa yang kita percaya bisa dengarkan doa kita. Jawaban yang hampir sama dengan jawaban I1, I4, I5 dan I14 namun lebih menekankan doa yang terus menerus atau disebut dengan kata lain novena.

Informan 3, 6, 8, 9, 10 mengungkapkan pendapatnya bahwa devosi itu sebuah doa yang ditujukkan kepada orang atau sesuatu yang kita percaya dapat mengabulkan doa atau memberi harapan baru bagi kita. Seperti devosi kepada patung Bunda Maria, Hati Kudus Yesus, juga devosi yang lainnya. Pendapat ini senada dengan jawaban dari informan sebelumnya tetapi lebih menekankan pada contoh konkrit yang selalu dilakukan oleh para informan.

Bagi I11 dan I12 melihat devosi merupakan doa yang dilakukan bersama kelompok tertentu, bersama keluarga atau perorangan. Devosi tidak hanya sekedar

doa, tetapi dilihat sebagai kerendahan hati di hadapan Tuhan untuk lebih mendekatkan diri dalam keheningan dan menemukan apa yang kita doakan atau mohonkan.

2) Apa makna devosi bagi bapak/ibu sebagai seorang Legioner?

Bagi I1, I5, I12 dan I14, mengungkapkan bahwa makna devosi bagi mereka adalah doa-doa yang didaraskan pasti akan didengarkan dan bahkan dikabulkan.

Dengan devosi bisa mendoakan banyak kebutuhan dalam rumah tangga terlebih ketika menghadapi masalah dan kesulitan. Dengan devosi juga bisa membuat mereka lebih nyaman dan mengisi waktu kosong dengan doa dan devosi karena inilah waktu yang tepat bagi mereka untuk lebih mengarahkan diri kepada Tuhan melalui devosi.

Informan 2, I4, I7 dan I10, mengungkapkan bahwa makna devosi bagi mereka adalah sebagai bentuk syukur, ungkapan harapan dan doa ketika mereka mengalami kesulitan dan syukur ketika doa mereka dikabulkan oleh Tuhan.

Bagi I3, I6, I8 dan I15 mengungkapkan bahwa makna devosi bagi mereka sebagai Legioner adalah doa yang sangat berarti untuk menambah iman kepada Tuhan dan menghormati Bunda Maria, walaupun disadari bahwa devosi tanpa perbuatan sama saja tidak berarti. Sedangkan bagi I9, I11, dan I13 mengungkapkan bahwa dengan devosi bisa mengalami kekuatan, ketenangan dan hati damai ketika diam, hening dan punya banyak waktu untuk berdoa karena selalu sibuk dengan pekerjaan rumah tangga dan tugas sebagai guru.

3) Bagaimana Tujuan Devosi Legio Maria bagi bapak/ibu sebagai Legioner Pemahaman dan penghayatan I1, I5, I8 dan I13 mengenai tujuan devosi Legio Maria sebagai Legioner adalah menambah iman kepada Tuhan dan menghormati Bunda Maria, dan semakin mencintai Tuhan dan sesama dalam karya pelayanan untuk kemuliaan Tuhan dan keselamatan sesama.

Bagi I2, I3, I6, I11 mengungkapkan bahwa tujuan devosi sebagai Legioner yang sudah sekian tahun, mereka hanya ingin melayani sesama, mengunjungi sesama yang mengalami sakit dan tantangan, menghibur mereka yang sedang kesusahan seperti Bunda Maria, karena bagi mereka, sebagai seorang Legioner harus meneladan dan punya semangat Bunda Maria dalam pelayanan. Legio Maria bukan saja berdoa tetapi aksi nyata.

Informan 4, 7 dan 12 mengungkapkan pengalaman mereka bahwa tujuan berdevosi melalui kelompok Legio Maria bagi mereka sebagai Legioner, bisa lebih mengenal Bunda Maria dan semangatnya yang selama ini sebagai awam tidak diketahui. Dengan masuk kelompok Legio Maria mereka bisa lebih mendalami siapa Bunda Maria dan spiritnya yang menjadi semangat dalam karya pelayanan legioner.

Bagi I9, I10, I14 dan I15 mengungkapkan dengan singkat bahwa mereka mengikuti Legio Maria adalah satu panggilan dan perutusan ketika menjalani misi Legio Maria dan menjadikannya misi pribadi dengan membawa semangat Bunda Maria, karena Bunda Maria adalah teladan dan semangat untuk para Legioner.

4) Motivasi apa yang membuat anda bedevosi kepada Bunda Maria melalui kegiatan Legio Maria?

Pengalaman I1 dan I2 mengungkapkan bahwa menjadi Legioner itu awalnya hanya ikut-ikutan saja karena banyak kaum muda di zaman dulu yang terlibat aktif dalam kehidupan menggereja. Dalam perjalanan waktu mereka disadarkan oleh seorang imam lewat renungannya yang menyapa untuk melihat panggilan Tuhan di balik keterlibatan menjadi Legioner. Di situlah mereka disadari bahwa mereka

Pengalaman I1 dan I2 mengungkapkan bahwa menjadi Legioner itu awalnya hanya ikut-ikutan saja karena banyak kaum muda di zaman dulu yang terlibat aktif dalam kehidupan menggereja. Dalam perjalanan waktu mereka disadarkan oleh seorang imam lewat renungannya yang menyapa untuk melihat panggilan Tuhan di balik keterlibatan menjadi Legioner. Di situlah mereka disadari bahwa mereka

Dokumen terkait