DAFTAR PUSTAKA
Jumlah 30.458.981 100,00 82.638.115 100,00 Sumber : Analisis Data Primer Lampiran 18
4. Pengendalian hama penyakit
5.4. Rantai Pasok Komoditas Jahe
Rantai pasok (supplay chain) adalah seluruh kegiatan yang melibatkan berbagai pihak, baik yang memproduksi atau yang menyalurkan barang/jasa mulai dari pemasok bahan baku sampai kepada konsumen akhir. Struktur rantai pasok jahe di daerah penelitian melibatkan pelaku-pelaku dimulai dari pemasok bahan baku, petani jahe, pedagang perantara sampai kepada tangan konsumen, dimana setiap pihak saling berinteraksi dan terdapat hubungan timbal balik. Anggota rantai
pasok jahe dalam penelitian ini terdiri dari pemasok bahan baku, petani jahe, pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang pengecer, dan konsumen akhir. Pemasaran jahe adalah telaah terhadap aliran produk jahe secara fisis dan ekonomik dari produsen melalui pedagang perantara ke konsumen. Pemasaran melibatkan banyak kegiatan yang berbeda, yang menambah nilai produk pada saat produk bergerak melalui sistem tersebut. Produksi jahe dapat tersedia dan mampu dikonsumsi dengan baik tentunya dibutuhkan lembaga pemasaran yang mau dan mampu menyalurkan komoditi jahe sampai ke tangan konsumen akhir yang didukung sarana pemasaran yang memadai. secara garis besar berikut adalah struktur rantai pasok jahe yang ada didaerah penelitian:
Gambar 3. Struktur Rantai Pasok Jahe Pemasok Bahan Baku
Pemasok bahan baku pada rantai komoditas jahe merupakan pelaku yang tidak terlibat langsung dalam produksi jahe namun berperan serta dalam proses produksi sebagai penyedia bahan baku dan alat-alat pertanian. Bahan baku dalam
Petani Jahe Pedagang pengecer Konsumen Pedagang pengumpul Pedagang Besar/Eksportir Pemasok Bahan Baku
hal ini berupa pupuk, pestisida dan alat-alat pertanian yang digunakan untuk menunjang kegiatan usahatani jahe.
Produsen
Petani produsen merupakan pelaku yang melakukan kegiatan on farm dalam rantai pasok komoditas jahe. Selain itu petani melakukan beberapa fungsi seperti penjualan, pembiayaan dan penanggungan resiko. Petani tidak melakukan pengemasan dan pengangkutan karena pedagang pengumpul yang datang langsung ke lahan produsen untuk melihat kondisi jahe dan melakukan kesepakatan harga dengan pedagangan pengumpul. Fungsi penanggungan resiko juga dialami oleh produsen mulai dari penanaman, pemeliharaan, panen hingga menjualnya kepedagang pengumpul. Petani menjual jahe pada pedagang pengumpul dengan harga rata-rata adalah Rp 6.279/Kg.
Pedagang pengumpul
Pedagang pengumpul adalah pedagang yang membeli hasil produksi jahe dari petani untuk dijual kembali kepada pedagang lainnya atau langsung ke konsumen. Tabel 50. Volume Penjualan Jahe Pedagang Pengumpul di Kabupaten
Simalungun No Pedagag Pengumpul Volume Penjualan (Kg/Minggu) Harga Jual Rp) 1 Parjalangan 15.500 7.200 2 Dolog Huluan 10.100 7.300 3 Sipolha Horison 21.180 7.200 Jumlah 46.780 21.700 Rata-rata 15.593 7.233
Sumber : Analisis Data Primer Lampiran 27
Pada Tabel 50 menunjukkan bahwa rata-rata penjualan jahe pedagang pengumpul sebesar 15.593 Kg per minggu dengan harga rata-rata Rp 7.233 per Kg. Dari hasil
wawancara dengan pedagang bahwa saat ini permintaan jahe sedikit sehingga pedagang pengumpul tidak setiap hari membeli dan menjual jahe. Pedagang pengumpul akan melakukan pembelian jahe jika ada permintaan dari pedagang besar.
Petani dapat dengan bebas menjual hasil produksinya kepada pedagang pengumpul karena tidak ada terikat pada kemitraan. Pedagang pengumpul melakukan beberapa fungsi tata niaga yaitu pembelian, penjualan, sortasi, pengangkutan, pembiayaan, penanggungan resiko dan informasi pasar. Sortasi dan pengemasan dilakukan pedagang pengumpul di lahan petani hal ini dilakukan agar pedagang pengumpul dapat memisahkan jahe sesuai dengan kualitasnya dan dapat menghemat pemakaian goni. Pedagang pengumpul melakukan pengangkutan jahe dari lahan petani langsung ke gudang agen besar tempat pedagang pengumpul menjual jahe. Selain itu pedagang pengumpul juga melakukan penanggungan resiko mulai dari pembelian sampai pada jahe tersebut dijual kembali kepada agen besar. Pedagang pengumpul perlu mengetahui informasi pasar mengenai harga agar pedagang pengumpul dapat melakukan pembelian jahe sesuai dengan harga pasar.
Pedagang besar
Pedagang besar adalah pedagang yang membeli hasil produksi jahe dari pedagang pengumpul untuk di jual kembali ke pedagang pengecer atau langsung ke konsumen. Pedagang besar melakukan fungsi tataniaga yaitu pembelian, penjualan, pengangkutan, penyimpanan, sortasi, pengemasan, pembiayaan, penanggungan resiko dan informasi pasar. Saat ini pemasaran jahe berjalan kurang baik dimana permintaan akan jahe sedikit baik dari dalam maupun luar
negeri sehingga harga jahe menurun. Biasanya agen besar melakukan penjualan setiap hari namun saat ini hanya 2 sampai 4 kali dalam seminggu itu pun jika ada permintaan dan jumlahnya tidak terlalu besar.
Tabel 51. Volume Penjualan Jahe Pedagang Besar di Kabupaten Simalungun No Pedagang Besar Volume Penjualan
(Kg/Minggu) Harga Penjualan (Rp) 1 J. Sipayung 78.570 9.000 2 Edinta Marbun 12.544 8.000 3 Hj. Rusni Sembiring 132.890 Ekspor 28.000 11.000 Domestik 104.890 8.800 Jumlah 224.004 36.800 Rata-rata 74.668 9.200
Sumber : Analisis Data Primer Lampiran 30
Pada Tabel 51 menunjukkan bahwa rata-rata penjualan jahe pedagang besar sebesar 74.668 kg dengan harga rata-rata Rp 9.200. Tujuan pedagang besar ini adalah pedagang pengecer, pengolahan industri baik dalam negeri maupun luar negeri.
Pedagang besar melakukan pengangkutan dari gudang sampai kepada pedagang pengecer maupun sampai kepada luar negeri. Untuk jahe yang diekspor Pedagang besar menggunakan kontener melalui Pelabuhan Belawan. Biaya pengangkutan untuk keluar negeri tidak sepenuhnya ditanggung oleh agen besar, biaya pengangkutan dari gudang agen sampai ke pelabuhan ditanggung oleh agen namun biaya dari pelabuhan sampai ke tujuan ditanggung oleh pihak yang dituju. Agen besar melakukan sortasi untuk memisahkan jahe sesuai dengan kualitas jahe terutama jahe yang harus dikirim keluar negeri biasanya setelah disortasi harus dicuci dan dikeringkan terlebih dahulu sebelum dikemas. Pengemasan yang dilakukan oleh agen besar terdiri dari dua jenis yaitu untuk pengiriman ke luar
negeri biasanya pengemasan menggunakan kotak dan pengiriman jahe untuk dalam negeri menggunakan goni.
Pedagang Pengecer
Pedagang pengecer adalah pedagang yang membeli hasil produksi jahe dari pedagang besar untuk dijual kembali kepada konsumen. Jahe biasanya dipasarkan kepada konsumen di pasar seperti pasar di Raya dan Siantar.
Tabel 52. Volume Penjualan Jahe Pedagang Pengecer Di Kabupaten Simalungun No Sampel Nama Sampel Alamat Volume Penjualan (Rp) Harga Penjualan (Rp)
1 S. Sinaga Raya Bayu 180 9.500
Sumber: Analisis Data Primer Lampiran 32
Pedagang pengecer merupakan pelaku rantai pasok yang pertama kali menerima saran dan keluhan dari konsumen akhir. Pedagang pengecer melakukan beberapa fungsi tata niaga yaitu pembelian, penjualan , pembiayaan, penanggungan resiko dan informasi pasar. Pedagang pengecer melakukan penanggungan resiko mulai dari pembelian sampai pada jahe tersebut dijual kembali kepada konsumen. Pedagang pengecer perlu mengetahui informasi pasar mengenai harga agar pedagang pengecer dapat melakukan pembelian jahe sesuai dengan harga pasar. Konsumen
Konsumen akhir adalah anggota rantai pasok jahe terakhir dan menjadi tujuan akhir rantai pasok. Tujuan rantai pasok adalah memenuhi permintaan konsumen sesuai dengan kualifikasi yang diinginkan konsumen. Dalam rantai pasok jahe domestik, konsumen melakukan pembelian langsung ke pedagang pengecer maupun dari pengolahan jahe, membayarnya secara tunai. Konsumen membeli
jahe dalam bentuk rimpang jahe maupun dalam bentuk olahan seperti bandrek, permen jahe dan lain sebagainya.
Manajemen Rantai Pasok a. Kemitraan
Kerjasama kemitraan merupakan kerjasama antara dua pihak atau lebih yang betujuan memberikan keuntungan satu sama lain. Pemilihan kemitraan adalah salah satu faktor yang mendukung kesuksesan rantai pasok. Pemilihan mitra dalam rantai pasok jahe di daerah penelitian antara lain pemilihan mitra pemasok bahan baku benih dan pemilihan pedagang pengecer.
Petani tidak melakukan kemitraan dengan pemasok bahan baku bibit karena petani jahe melakukan sistem pergiliran tanaman (crop rotation) dalam usahatani jahe. Hal ini dilakukan petani untuk mencegah perkembangan hama dan penyakit serta memelihara kesuburan tanah.
Petani tidak melakukan pemilihan mitra untuk memasarkan hasil produksinya dikarenakan hasil produksi akan di jual kepada pedagang pengumpul yang tidak memerlukan kerja sama. Hal ini merupakan suatu kerugian bagi petani karena harga jual yang tidak stabil dan petani tidak memiliki posisi tawar.
Pedagang pengumpul melakukan kemitraan dengan pedagang besar tanpa adanya pemilihan mitra dengan kriteria khusus. Kemitraan dijalankan dengan dua cara, yaitu dengan sistem jahe di jual oleh pedagang pengumpul langsung diantar ketempat dengan biaya transportasi ditangung pedagang pengumpul dan jahe dijual pengumpul di lahan petani dengan biaya transport ditanggung oleh
pedagang besar. Kemitraan dilakukan pedagang besar dengan beberapa pedagang pengumpul yang berbeda
Kolaborasi yang baik antara pelaku rantai pasok merupakan salah satu faktor tercapainya tujuan rantai pasok, yakni memenuhi permintaan konsumen. Untuk memenuhi permintaan konsumen, dibutuhkan kolaborasi dalam pembagian informasi (information sharing) secara timbal balik di setiap pelaku rantai pasok.
b. Kesepakatan Kontraktual
Kesepakatan kontraktual merupakan perjanjian, baik secara formal maupun informal, antar pihak-pihak yang bermitra atau bekerja sama dengan tujuan menjaga integrasi rantai pasok, mendapatkan keuntungan, dan saling menutupi keterbatasan masing-masing pihak.
Kesepakatan antar pelaku dalam rantai pasok komoditas jahe dilakukan secara informal melalui lisan, dengan kata lain masih berdasarkan kepercayaan. Hal-hal yang disepakati diantaranya, pelaku mampu memproduksi jahe dengan kualitas tinggi, tepat jumlah, dan tepat waktu. Terdapat pula kesepakatan jadwal pengiriman, sistem pembayaran, dan waktu pembayaran.
Namun, ada beberapa kondisi dimana pelaku tidak mampu memenuhi perjanjian mengenai jumlah dan kualitas pasokan. Jika terjadi kekurangan pasokan, pemasok bahan baku akan menginformasikan kepada pihak petani. Begitu juga dengan pedagang pengumpul, jika terjadi kekurangan pasokan akan diinformasikan kepada pihak pedagang besar dan pengecer.