BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
(RAPAT : SETUJU) Kita pindah ke pasal 2
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Pimpinan mohon maaf,
Ini sekali lagi saya usul. Kan didalam nantikan ada mengakomodir tentang Kementerian Agama. Itu diakomodir dimana dalam hal ini? Ketika misalkan menteri lain tidak ada. Tidak, kan dia melihat di batang tubuh ini memang tidak berulang-ulang disebut menteri karena disitu sudah spesifik dicantumkan. Ada Menteri Agama misalkan yang mengurusi tentang pendidikan keagamaan. Nah, itu nanti di ketentuan umum ini diakomodirnya dimana? Kalau bukan di menteri lain atau dicantumkan saja di ketentuan umum menteri agama.
LEGAL DRAFTER:
Ada 2 kemungkinan bu. Kalau tidak kita masukkan di Ketentuan Umum, kita masukkan di pasal yang berkaitan dengan agama.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
38 KETUA RAPAT:
Baik, saya kira jadi nomenklatur yang kita atur disini adalah nomenklatur yang diatur dalam tatacara penyusunan peraturan perundang-undangan.
Baik, kemudian kita pindah ke pasal 2. Pasal 2 ada masukan tetapi kita baca dulu hasilnya, Pendidikan Tinggi berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Ini dari Jawa Timur ditambahkan dilandaskan pada semangat Proklamasi. Saya kira pasal 2 yang asli kita sahkan. Baik.
(RAPAT : SETUJU)
Kemudian pasal 3, Pendidikan Tinggi berasaskan:
a. kebenaran ilmiah;
b. penalaran;
c. kejujuran;
d. keadilan;
e. manfaat;
f. kebajikan;
g. tanggung jawab;
h. kebhinnekaan; dan i. keterjangkauan
Setuju ya. Ada masukan dari Jawa Timur. Ditambah dengan prinsip kebebasan.
Kebenaran ilmiah diganti dengan kebenaran religious.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Pimpinan mohon izin,
Untuk menjelaskan tentang azas. Ini padanannya sudah betul belum kata per kata ini?
KETUA RAPAT:
Ada dari legal drafter. Ya, silakan.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
39 F-PG (IR. RULLY CHAIRUL AZWAR, M.SI):
Sebelum ini ditanyakan ada masukan yang tidak dicantumkan tadi didalam hasil kunjungan. Ya, jadi aksesbilitas bahasa Indonesia apa? Oh, itu masuk ya, tariff maupun jumlah masuk. Ok, yang penting akses itu masuk sini karena pengertian keterjangkauan biasanya hanya rupiah.
PEMERINTAH:
Terjangkau itu artinya bisa dicapai dalam arti ekonomi maupun jarak.
KETUA RAPAT:
Ya, jadi istilah kebebasan dan kebenara religious tidak perlu masuk. Setuju ya. Baik.
(RAPAT : SETUJU)
Kemudian pasal 4, Pendidikan Tinggi berfungsi:
a. mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa;
b. mengembangkan sivitas akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil dan kooperatif melalui pelaksanaan Tridharma; dan
c. mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ini ada masukan dari Sulawesi Selatan pasal 4 ayat (1) huruf c perlu ditambahkan kata ilmu agama setelah kata teknologi. Sehingga pasal ini berbunyi mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, ilmu agama, dan/atau seni untuk memenuhi kepentingan Nasional dan peningkatan ke bangsa. Mungkin sama dengan yang tadi. Sama jadi tidak perlu masuk karena sudah ada ilmu pengetahuan dan teknologi.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Pimpinan begini,
Ini yang dari awal tadi sudah saya sounding tentang ini ilmu pengetahuan. Didalam ilmu pengetahuan itu ada ilmu agama. Clear itu satu tetapi kami mengusulkan ilmu pengetahuan, teknologi dan agama, begitu. Kenapa disitu ada agama? Kenapa disitu ada agama. Justru itu yang saya bilang tadi. Ini bicara tentang agama secara universal. Sementara ilmu agama bicara tentang sisi yang sebagai rumpun bagian dari ilmu pengetahuan. Itulah kenapa kemudian kami
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
40 mengusulkan di Undang-Undang. Mohon maaf, jadi kita mungkin tidak harus mengacu selalu ini content untuk level pendidikan tinggi.
Jadi, sekali lagi ketika bicara lebih jelas tentang agama. Itu bukan secara sama satu agama tetapi secara universal. Jadi, saya sekali lagi mengajukan selalu kata-kata yang baku merupakan ilmu pengetahuan, teknologi dan agama. Bukan ilmu agama tetapi agama.
KETUA RAPAT:
Ya, silakan.
F-PG (IR. RULLY CHAIRUL AZWAR, M.SI):
Ketua,
Saya pikir tadi kita sependapat dan sudah dicetuskan bahwa ilmu pengetahuan itu didalamnya ada agama. Nanti yang penting bu Reni dijamin ada pasalnya. Tidak ada masalah ilmu agama. Yang penting tadi habis objektifitas dicabut itu. Itu Pak Dirjen saya minta objekfitas dicabut.
Artinya itu mencakup ilmu pengetahuan.
Yang kedua, b itu saya ditambahkan sesuai dengan usulan saudara ketua ada kata-kata daya saing kompetitif karena teknologi itu justru untuk meningkatkan daya saing. Di b itu saja, mengembangkan sivitas ilmu yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, kompetitif dan kooperatif juga itu. Ditambahkan kompetitif dan berdaya saing karena kata-kata daya saing memang seringkali muncul atau berdaya saing juga bagus, terampil, berdaya saing dan kooperatif.
KETUA RAPAT:
Jadi, kembali ke soal yang diusulkan oleh ibu Reni. Tadi dibagian awal dan juga sama disampaikan oleh Bpk. Dirjen Pendidikan Tinggi Agama bahwa apabila kita bicara ilmu pengetahuan itu didalamnya sudah masuk ilmu agama. Jadi, saya kira inheren dengan ini. Sudah bisa disepakati ya.
PEMERINTAH:
Sebentar pak,
Ini saya justru mempermasalahkan yang point a itu mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa. Sepertinya ada sesuatu yang kemampuan dan watak.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
41 Kemampuan dan watak. Jadi, yang seimbang. Ini saya belum menemukan satu istilah yang baku tetapi untuk saya mengembangkan kemampuan dan watak ini sesuatu yang tidak match. Jadi, watak itu sesuatu yang berdiri sendiri, kemampuan berdiri sendiri.
KETUA RAPAT:
Usulnya bagaimana pak?
PEMERINTAH:
Mungkin ada rumusan yang jauh lebih bagus.
KETUA RAPAT:
Jadi, kalimatnya disini mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa.
Kombinasi dari kemampuan dan watak itu kan menghasilkan peradaban sebenarnya. Coba ini siapa yang ahli dibidang ini.
F-PDIP (DR. IR. WAYAN KOSTER, MM) : Pak Ketua,
Ini di Undang-Undang Sisdiknas sudah ada, pasal 3.
KETUA RAPAT:
Jadi, pasal 3 di Undang-Undang Sisdiknas sudah seperti itu. Sepakat ya. Ok.
(RAPAT : SETUJU)
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Pimpinan, mohon maaf,
Catatan untuk PPP tentang usulan tadi ilmu pengetahuan, teknologi dan agama.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
42 Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Ya, saya kira tolong dicatat ada catatan dari ibu Reni tentang ini. Kemudian kita pindah ke pasal 5, Pendidikan Tinggi bertujuan:
a. berkembangnya potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten dan berbudaya untuk kepentingan bangsa;
b. dihasilkannya lulusan yang menguasai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memenuhi kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa;
c. dihasilkannya ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penelitian agar bermanfaat bagi kemandirian dan kemajuan bangsa, serta kemajuan paradaban dan kesejahteraan umat manusia; dan
d. terwujudnya pengabdian kepada masyarakat berbasis penalaran dan karya penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Setuju ya. Baik.
(RAPAT : SETUJU)
Sekarang masuk Bab II Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi. Bagian kesatu, Prinsip dan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan tinggi. Pasal 6, Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi diselenggarakan dengan prinsip:
a. pencarian kebenaran ilmiah oleh sivitas akademika;
b. demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi
manusia, nilai agama, nilai budaya, kemajemukan, persatuan, dan kesatuan bangsa.
c. pengembangan budaya akademik dan pembudayaan kegiatan baca-tulis bagi sivitas akademika;
d. pembudayaan dan pemberdayaan bangsa yang berlangsung sepanjang hayat;
e. keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas mahasiswa dalam pembelajaran;
f. pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa dengan memperhatikan lingkungan secara selaras dan seimbang;
g. kebebasan dalam memilih program studi berdasarkan minat, bakat, dan kemampuan mahasiswa;
h. satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna;
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
43 i. keberpihakan pada kelompok masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi dan memiliki
kelayakan akademik; dan
j. pemberdayaan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan tinggi.
Setuju? Setuju ya.
(RAPAT : SETUJU) F-PDIP (DR. IR. WAYAN KOSTER, MM) :
Pak Ketua,
Bagus sekali kalau Pak Ketua, membaca secara rinci, lengkap. Cuma kami khawatir nanti kecapean Pak Ketua. Mungkin kalau langsung saja tanya pasal ini ada pendapat. Itu saja. Kalau tidak sudah, ketuk. Sudah begitu saja Pak Ketua. Kasihan Pak Ketua nanti.
KETUA RAPAT:
Saya khawatir kalau ada yang tersisa. Tidak, ini niatnya baik. Jangan sampai gara-gara dinamika kita di yudisial review. Kalau capai nanti kita minta anggota bacanya gentian.
Baik, kita pindah ke pasal 7,
(1) Menteri bertanggung jawab atas penyelenggaraan Pendidikan Tinggi.
(2) Tanggungjawab Menteri atas penyelenggaraan pendidikan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup pengaturan, perencanaan, pengawasan, pemantauan, dan evaluasi, serta pembinaan dan koordinasi.
(3) Tugas dan wewenang Menteri atas penyelenggaraan pendidikan tinggi meliputi:
a. mengembangkan dan mengkoordinasikan pendidikan tinggi sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional untuk mewujudkan tujuan pendidikan tinggi;
b. menetapkan kebijakan nasional dan menyusun rencana pengembangan jangka panjang, menengah, dan tahunan pendidikan tinggi yang berkelanjutan;
c. menjamin peningkatan mutu, relevansi, keterjangkauan, pemerataan yang berkeadilan dan akses pendidikan tinggi secara berkelanjutan;
d. memantapkan dan meningkatkan kapasitas pengelolaan akademik dan pengelolaan sumber daya perguruan tinggi;
e. memberikan dan mencabut izin penyelenggaraan program studi;
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
44 f. menghimpun dan mendayagunakan seluruh potensi masyarakat untuk mengembangkan
pendidikan tinggi;
g. membentuk dewan, majelis, komisi dan/atau konsorsium yang melibatkan masyarakat untuk merumuskan kebijakan pengembangan pendidikan tinggi; dan
h. melakukan tugas lain untuk menjamin pengembangan dan pencapaian tujuan pendidikan tinggi.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai lingkup tanggung jawab Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penyelenggaraan pendidikan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), serta tugas dan wewenang Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Nah, ini ada masukan dari Jawa Timur, ada masukan dari Sulawesi Selatan, terhadap substansi pasal 7.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Tambahan saya kira masukan dari Kementerian Agama juga pimpinan.
KETUA RAPAT:
Ya, kemudian huruf e, izin prodi cukup perguruan tinggi saja. Jadi, kemudian dalam memberikan otonomi seluas-luasnya. Tidak ada dunia ini pembuka program studi harus ditangani Pemerintah Pusat. Ini desentralisasi maksudnya ini. Prodi itu kewenangan rector. Sekarang ini yang terjadi malah terbalik. Kalau ada yang khawatir maka dihalangi oleh akreditasi PT atau PT membuka prodi yang tidak bermutu. E, memberikan dan mencabut izin penyelenggaraan program studi, fakultas dan. Kemudian dari Sulawesi Selatan UIN Makasar mengusulkan penambahan point pada pasal 7 mengenai pengaturan terkait perlu pengaturan wewenang dan fungsi kementerian agama dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. Diusulkan penambahan satu ayat baru menjadi ayat (3) baru dengan rumusan, dalam hal penyelenggaraan pendidikan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkait dengan bidang agama, Menteri Agama bertanggung jawab melakukan pengaturan, perencanaan, pengawasan, pengetahuan dan evaluasi beserta pembinaan dan koordinasi. Konsekuensi dari pengaturan tersebut maka ketentuan ayat (3) yang sekarang menjadi ayat (4) dan ayat (4) yang sekarang menjadi ayat (5) dibuat dengan rumusan sebagai berikut: tugas dalam rangka Menteri agama meliputi: ketentuan mengenai lingkup tanggung jawab menteri dan Menteri Agama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (3) penyelenggaraan pendidikan tingi dan tugas serta wewenang menteri dan Menteri Agama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
45 Konsistensi dengan hasil perubahan diatas ayat maka bersambung pada pasal 16 dan seterusnya. Silakan dari Pak Dirjen.
DIRJEN DIKTI:
Terima kasih Pak.
Jadi, saya mempertanyakan juga sebenarnya sebagaimana yang tadi telah disampaikan dari UIN Makasar karena kalau kita lihat secara tersurat dari pasal 7 itu memang sama sekali tidak memberikan kesempatan dan peluang pada kementerian lain. Dan itu juga sebenarnya ada kaitannya dengan pasal sebelumnya tadi. Yang menghapus terhadap kementerian lain tadi itu sebenarnya itu. Nah, oleh karena itu ini karena ini saya rasa wilayahnya wilayah yang sangat politis dan luar biasa saya rasa ini. Menurut saya, saya sependapat kalau mengenai pasal khusus mengenai peran kepentingan agama itu bisa disuratkan disini. Kalau seandainya tidak kemudian disuratkan disini mungkin akan ada tambahan di penjelasan tetapi harus ada itu. Sebab kalau tidak ada lalu ada konsekuensi yang saya rasa tidak mudah diselesaikan. Misalnya lalu anggaran pendidikan untuk yang selama ini dialokasikan oleh Pemerintah untuk Kementerian Agama misalnya dalam bidang pendidikan. Lalu itu juga akan jadi masalah kalau kemudian tidak ada cantolan pasalnya disini.
Nah, oleh karena itu menurut saya maka harus ada satu tambahan pasalkah, ataukah ada pasal ayat, ada satu tambahan ayat disini. Yang menjelaskan tentang peran Kementerian Agama itu didalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. Dan itu saya rasa tidak salah. Sebab dibelakang ada pasal itu tentang pendidikan tinggi keagamaan. Dan itu akan lebih bagus juga kalau kemudian didepan tadi ada pasal kementerian lain. Kemudian disini ada peran kementerian lain juga yang dimasukkan disini. Kemudian dibelakang ada pasal-pasal yang terkait dengan pendidikan tinggi keagamaan atau pendidikan tinggi vokasi yang diselenggarakan oleh kementerian lain dan seterusnya itu kemudian masuk.
Ini saya rasa usulan saja. Cuma secara konkritnya saya mohon maaf saya mungkin belum bisa memberikan satu formasi yang lebhi rinci.
Terima kasih pak.
KETUA RAPAT:
Baik, jadi, dalam usulan dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan ini. Dari Jawa Timur spesifik bahwa prodi itu tidak perlu izin menteri. Kira-kira intinya itu. Yang kedua, coba Pak Djoko ada tanggapan pak soal ini sebelum soal agama.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
46 Silakan.
DIRJEN DIKTI:
Yang agama juga boleh ada tanggapan pak? Baik, yang pertama tentang izin prodi ini. Ini kalau perguruan tingginya sudah matang dia benar tetapikan best practice di kita sendiri, korban di masyarakat kan sudah banyak. Banyak sekali berjatuhan. Oleh karena itu saya berpendapat Pemerintah masih sangat perlu mengembalikan. Saya kira itu dari Jawa Timur. Yang dari Sulawesi Selatan saya juga sependapat ini sama Pak Dirjen Agama hanya bidangnya diganti ilmu. Supaya lebih tajam. Ini disini, terkait dengan bidang agama, menjadi terkait dengan ilmu agama.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Yang lain anggota? Pak Rully.
F-PG (IR. RULLY CHAIRUL AZWAR, M.SI):
Ini dalam kaitan butir 3 ayat e, Jawa Timur memang mengusulkan bahwa pengaturan kalau memang posisi Pak Dirjen atau Pemerintah prodi masih membutuhkan izin menteri tetapi saya mau mempertanyakan kewenangan menteri yang lebih besar dari itu. Fakultas atau jurusan itu. Apakah perlu dicantumkan tidak? Kalau pendirian mencabut, mendirikan, merubah itu juga kewenangan menteri jugakan, mencabut, mendirikan, merubah status, mengolah pendidikan tinggi.
Inikan jadi pendidikan tinggi karena ada Satker. Bisa naik dia ke semi otonom. Kan juga satu bentuk pemberian izin status pendidikan. Itu kewenangan menteri bukan?
Jadi, menurut hemat saya dalam kewenangan ini tolong diinventarisasi lagi. Jangan sampai ada yang kelewatan karena ini pasal induknya, pasal 7 ini. Ini jangan sampai kewenangan-kewenangan yang justru lebih tinggi, yang lebih vital tidak diatur, yang prodi diatur.
KETUA RAPAT:
Pak Dirjen, jadi maksud Pak Rully itu di ayat e pasal 7 ayat (3)e, memberikan dan mencabut izin penyelenggaraan program studi. Kenapa tidak dimasukkan memberikan dan mencabut pendirian? Pendirian perguruan tinggi, pembukaan fakultas baru, jurusan dan prodi misalnya.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
47 Silakan pak.
DIRJEN DIKTI:
Jadi, ini informasi dari Pak Nizam yang untuk tentang itu diaturnya dibelakang pak sebetulnya. Di pasal 70.
F-PG (IR. RULLY CHAIRUL AZWAR, M.SI):
Maksudnya bukan menteri yang punya wewenang? Kalau menteri dicantumkan disini juga kecuali kalau bukan kewenangan menteri. Inikan klausul tentang kewenangan menteri pak, tugas dan wewenang menteri atas penyelenggaraan pendidikan tinggi. Kenapa masuknya sebagian hanya disini? Coba judul ini tentang apa pak? Pasal 7, tugas dan wewenang menteri atas penyelenggaraan tingkat tinggi meliputi. Kalau memang ada.
DIRJEN DIKTI:
Tidak kalau disini itu dengan disini itu, tetapi ini tempatnya nanti dijabarkan dengan peraturan Pemerintah pak. Tugas dan wewenang ayat (3) ini. Itu di pasal ayat (4).
KETUA RAPAT:
Kalau demikian halnya. Mungkin Pak Rully kita sinkronkan nanti. Dimana kewenangan itu perlu diperjelas. Apakah di pasal 7 atau dibagian lain nanti. Kita atur dalam Tim Sinkronisasi. Ya, silakan.
………….:
Pimpinan,
Kalau untuk pendirian itu wewenang Pemerintah pasal 70 sudah jelas. Kalau untuk program studi baru menteri. Itu beda.
Terima kasih Pimpinan.
KETUA RAPAT:
Betul, jadi saya kira kita lihat nanti dimana posisi Menteri, dimana posisi Pemerintah. Kita lihat dalam pasal-pasal berikutnya.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
48 F-PG (IR. RULLY CHAIRUL AZWAR, M.SI):
Jadi, catatan saja Pak Ketua. Tolong simpulkan lagi nanti tentang kewenangan lain.
Jangan sampai ada yang kelewatan. Kalau itu menteri. Kalau Pemerintah tidak.
KETUA RAPAT:
Ya, jadi yang pasti prodi itu tetap harus izin menteri. Setuju ya, baik.
(RAPAT : SETUJU)
Nah, sekarang soal agama tadi. Tolong diulangi Pak Djoko apa yang bapak setujui tadi dengan ungkapan dari Dirjen Pendidikan Tinggi Agama. Kalau bisa dirumuskan bisa lebih konkrit.
DIRJEN DIKTI:
Jadi, disini ada rumusan yang terkait dengan kewenangan Menteri Agama. Jika itu berkaitan dengan ilmu agama. Jadi, kalimatnya disini, itu yang dihuruf tebal. Coba yang dihuruf tebal pak yang no. 3, Sulawesi Selatan, nah yang merah itu pak. Itukan terkait dengan bidang agama itu diganti dengan terkait dengan ilmu agama. Salah-salah kalau bidang agama itu malah ilmunya bukan ilmunya malah yang diatur tetapi ini maunya ilmunya pak.
KETUA RAPAT:
Jadi, kalau rumusannya seperti ini, dalam hal penyelenggaraan pendidikan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkait dengan ilmu agama, Menteri Agama bertanggung jawab melakukan pengaturan dan seterusnya. Itu sependapat pak. Bisa disepakati itu? Ok.
(RAPAT : SETUJU) Ok, silakan.
F-PKS (IR. MEMED SOSIAWAN) : Pimpinan,
Tambahan sedikit mengenai prodi tadi pak. Sekedar dijadikan bahan evaluasi. Selama inikan prodi-prodi ini ribuan pak jumlahnya. Sekolah swasta itu ribuan. Dan masing-masing punya
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
49 fakultas, punya jurusan, program pendidikan. Apakah semuanya swasta dan negeri ini, pembukaan dan penyelenggaraannya melalui izin menteri. Kan selama ini hanya rector. Dan yang mengetahui sumber daya dan kemampuan daya dukung universitas untuk menyelenggarakan sebuah prodi itukan, iyakan begitu. Saya pikir apakah ini tidak meributkan Pak Menteri dengan ribuan menganalisa, ribuan begitu dengan sumberdaya masing-masing jurusan fakultas, dan perguruan tinggi itu untuk bapak prodi ini bisa berdiri, dan prodi itu tidak bisa berdiri.
Sekedar catatan tetapi ini bisa jadi evaluasi. Terima kasih Pimpinan.
KETUA RAPAT:
Ya, silakan.
F-PG (H.M. NASRUDIN, SH) : Ketua,
Pada saat pembahasan awal kita masih ingat dan tidak lupa kalau ingat nanti bahwa untuk izin prodi memang oleh menteri tetapi tidak perlu ke Jakarta lagi. Menteri membuat cabang-cabang disetiap provinsi. Yang atas nama menteri bisa memberikan izin terhadap pendirian dan pembukaan prodi. Seperti itu Pak Dirjen. Ok, terima kasih Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Silakan Pak Koster.
F-PDIP (DR. IR. WAYAN KOSTER, MM) : Ketua,
Pertama merespon yang kewenangan menteri itu. Benar memang perlu diberikan kewenangan kepada menteri ini karena tidak bisa terlalu dibebaskan karena pengalaman kita dibebas-bebaskan benar. Bebas benaran dia. Jadi, tidak karu-karuan jatuhnya batal. Ini kan sudah dikontrol di ayat (4) dengan PP. Mana yang akan diberikan kewenangan tanpa melalui menteri seperti UI. Saya kira sudah tahu tetapi kalau yang lain-lain kan banyak, apalagi yang swasta. Nah, itu saya kira Pemerintah akan melakukan penilaian disitu dan itu sudah diatur di IP saya kira. Jadi, tidak ada masalah ini. Tetap. Jadi, tidak mutlak juga kewenangan menteri ini. Seluruhnya saya kira tidak.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
50 Kemudian yang kedua perbaikan kecil di ayat (3) huruf c, menjamin peningkatan mutu relevansi keterjangkauan, pemerataan yang berkeadilan dan akses pendidikan tinggi secara berkelanjutan. Saya kira ini ada yang double ini. Keterjangkauan sama akses. Mungkin maksudnya begini, menjamin peningkatan mutu relevansi keterjangkauan dan pemerataan pendidikan tinggi yang berkeadilan dan secara berkelanjutan. Saya kira begitu. Jadi, akses itu sudah keterjangkauan….(rekaman terputus)….
KETUA RAPAT:
Legal drafter itu harus hadir. Ahli bahasa tolong diundang besok untuk hadir pada saat konsinyering. Jadi, kalau ada perdebatan disini ada yang menengahi. Baik, jadi kita sepakati bahwa prodi tetap harus izin menteri. Kita sudah sepakati tadi. Kemudian soal agama tadi kita sudah sepakati penambahan satu pasal. Ayat ya, ok. Ayat yang terkait dengan agama. Dalam hal penyelenggaraan pendidikan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkait dengan ilmu agama, Menteri Agama bertanggungjawab melakukan pengaturan, perencanaan, pengawasan, pemantauan dan evaluasi serta pembinaan dan koordinasi. Setuju, ok.
(RAPAT : SETUJU)
Sekarang kita pindah ke bagian ayat (4), ketentuan lebih lanjut, saya kira tidak ada perubahan. Ketentuan lebih lanjut mengenai macam-macam ini diatur dalam Peraturan Pemerintah. Setuju ya.
(RAPAT : SETUJU)
Kemudian bagian kedua, Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Paragraph I, silakan Pak Memed.
F-PKS (IR. MEMED SOSIAWAN) : Pimpinan,
Sebelum masuk ke bab itu, saya hanya ingin menanyakan bagaimana dengan kewenangan menteri di 16 K/L yang menyelenggarakan pendidikan tinggi itu selain Menteri Agama. Ini ditampung disini atau di ayat lain, atau di bab lain atau tidak ada sama sekali
Sebelum masuk ke bab itu, saya hanya ingin menanyakan bagaimana dengan kewenangan menteri di 16 K/L yang menyelenggarakan pendidikan tinggi itu selain Menteri Agama. Ini ditampung disini atau di ayat lain, atau di bab lain atau tidak ada sama sekali