• Tidak ada hasil yang ditemukan

(RAPAT : SETUJU) Satu lagi

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 66-75)

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(RAPAT : SETUJU) Satu lagi

...:

Sebagai mahasiswa bisa dikendalikan lalu mentaati itu. Sebagai mahasiswa mentaati.

Tidak ada berkewajiban menjaga etika dan norma. Iya mentaati terhadap segala aturan dan peraturan yang disepakati perguruan tinggi. Jadi, biar rektor itu punya kekuatan untuk kalau kamu tidak ikut saya, kamu ini.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

67 PEMERINTAH:

Ok, saya pikir juga ada kata Tridharmanya karena tugas mahasiswa ingin, itu saya jadi mahasiswa, waktu saya jadi Ketua Himpunan Tridharma diulang-ulang itu kewajiban mahasiswanya. Jadi, nanti itu ditambah, mahasiswa berkewajiban menjaga etika dan norma pendidikan tinggi. Untuk menjamin terlaksananya Tridharma perguruan tinggi dan pengembangan budaya , tambahan itu saja.

KETUA RAPAT:

Coba apa yang diinginkan Pak Dirjen tadi coba di insert di ayat (6), mahasiswa berkewajiban mentaati dan menjaga etika dan norma pendidikan tinggi. Norma itu termasuk ini pak, termasuk kode etik apa segala macam itu. Ya, jadi mentaati dan menjaga. Jadi, tambahannya satu point. Mentaati dan menjaga etika dan norma perguruan tinggi. Setuju ya.

...:

Ketua itu kok mentaati etika dan bagaimana, aturan ditaati? Tetapi kalau etika itukan susah ditaati, bagaimana?

PEMERINTAH:

Norma yang ditaati. Etika dilaksanakan.

KETUA RAPAT:

Saya rasa menjaga saja sudah benar ini. Tidak usah pakai mentaati, nanti didemo kita sama kawan-kawan mahasiswa. Ya, silakan Pak Rully.

F-PG (IR. RULLY CHAIRUL AZWAR, M.SI):

Cuma saya ingin tambahan 1 saja ketua. Itunya cukup. Cuma saya ingin tetap ada satu istilah melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi. Itu kewajiban mahasiswa yang utama justru ini saya pikir.

F-PDIP (NYOMAN DHAMANTRA) :

Begini Ketua, boleh ditambahkan Tridharma kan tradisi. Kalau inikan tujuannya budaya.

Jadi, boleh ditambahkan tradisi Tridharmanya karena Tridharma bukan budayanya.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

68 F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):

Tidak, maksudnya begini. Kan sekarang itu banyak mahasiswa yang demo. Apalagi lagi dikampun nun jauh disana sekolah, kampusnya dilempari, jendelanya dirusak. Maksudnya jangan lakukan itu. Begitukan Pak Ketua.

F-PG (IR. H. ZULFADHLI) :

Mungkin begini juga Pak Pimpinan. Itukan terkait denga sivitas akademika. Sivitas akademika kan sebelumnya sudah kita setujui bahwa didalamnyakan dosen dan mahasiswa.

Sekarang hanya mempertegas saja tetapi saya pikir kalau sudah terkait Tridharma sudah terkait sivitas akademika tadi dan sebelumnya. Saya malah lebih mempertanyakan yang ayat (7) pak Pimpinan. Kira-kira mohon gambaran ini, kira-kira Peraturan Menteri seperti apa yang mau dibuat untuk mengacu tentang mahasiswa ini? Jangan sampai ini jadi alat pukul kita ini nanti. Artinya tidak perlulah kalau memang tidak perlu ada yang diatur.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Ini apalagi yang mau diatur? Tidak perlulah ini lagi saya kira. Di Makasar kemarin ada beberapa perguruan tinggi mempertanyakan memang ini kebebasan mahasiswa dalam organisasi intra akademik, intra universitas. Ditambahlah ini. Jadi, kalau begitu cukuplah ini.

DIRJEN DIKTI:

Sebentar pak. Semangatnya kan sekarang ini rektor itu diatur mahasiswa. Loh, ini pengalaman. Ini satu contoh konkrit. Saya itu bukan barusan saja di Jakarta. Ngatur mahasiswa untuk mereka dikeluarkan dari rumah dinas dosen karena mereka menguasai rumah dinas dosen.

Itu negosiasinya luar biasa. Dan mereka bawa parang ke kantor pak.

KETUA RAPAT:

Wah itu rektornya konyol pak.

DIRJEN DIKTI:

Kalau tidak konyol tidak bisa memimpin perguruan tinggi pak.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

69 KETUA RAPAT:

Mahasiswa yang melanggar hukum harus dihukumlah. Jadi, mahasiswa berkewajiban menjaga etika dan norma pendidikan tinggi. Untuk menjamin terlaksananya Tridharma perguruan tinggi dan budaya akademik.

DIRJEN DIKTI:

Menjaga etika dan mentaati norma. Menjaga etika dan mentaati norma.

KETUA RAPAT:

Ok, masih soal berkewajiban mentaati norma. Dan menjaga etika dan mentaati norma.

Jadi, mahasiswa berkewajiban mentaati norma. Menjaga etika dan mentaati norma pendidikan tinggi. Untuk menjamin terlaksananya Tridharma perguruan tinggi dan menjamin pengembangan budaya akademik. Masuk ya. Jadi, mentaati norma pendidikan tinggi untuk melaksanakan. Jadi, mahasiswa berkewajiban menjaga etika dan mentaati norma pendidikan tinggi. Untuk melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi dan menjamin pengembangan budaya akademik.

Cukup ya.

Tridharma saja saya kira tidak usah perguruan tinggi. Tridharma saja cukup. Sampai Tridharma saja. Jadi, mahasiswa berkewajiban menjaga etika dan mentaati norma pendidikan tinggi. Untuk menjamin terlaksananya Tridharma Perguruan Tinggi. Untuk menjamin terlaksananya Tridharma Perguruan Tinggi.

...:

Iya, budaya akademik di sivitas akademika sudah ada pak. Di pasal sebelumnya sivitas akademika sudah mengatur tentang budaya akademik.

KETUA RAPAT:

Cukup begitu ya.

...:

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

70 Pak Ketua,

Pak Koster sebenarnya hanya minta kata perguruan tinggi dihapus. Sudah ada didepan.

Tridharma tetap.

KETUA RAPAT:

Saya baca sekali lagi, mahasiswa berkewajiban menjaga etika dan mentaati norma pendidikan tinggi. Untuk menjamin terlaksananya Tridharma dan pengembangan budaya akademik. Setuju ya.

(RAPAT : SETUJU)

Ini terakhir sebelum kita tutup pasal 15,

(1) Mahasiswa mengembangkan bakat, minat, potensi, dan kemampuan melalui kegiatan kokurikuler dan ekstra kurikuler sebagai bagian dari proses pendidikan mahasiswa.

………….:

Ketua,

Ayat (7) itu keterangannya begitu saja. Apa didrop? Ketentuan lebih lanjut, didrop atau bagaimana? Oh, iya dihapus.

………:

Ayat (7) didropkan. Ayat (7) didrop saja.

DIRJEN DIKTI:

Jangan pak, jangan. Jadi, penjelasannya begini, ketentuan itukan tidak hanya mengatur tingkah laku mahasiswa dan lain-lain tetapi juga ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang bantuan untuk mahasiswa. Nanti ada pak itu ketentuan. Tidak, tetapi ini artinya kalau ada hal-hal lain yang belum diatur, yang berkaitan dengan mahasiswa ini. Inikan terus jadi blank saja tidak boleh ngatur kan repot pak.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

71 F-PG (IR. H. ZULFADHLI) :

Tidak kalau tidak dicantumkan tidak berarti tidak boleh diatur pak tetapi kalau sudah dicantumkan harus diatur. Jadi, bapak misalkan tidak diatur disini. Suatu saat memang perlu mengatur tentang bantuan silakan karena tidak bertentangan tetapi kalau sudah dicantumkan disini, bapak harus membuat Peraturan Menteri itu, yang ini yang dicurigai oleh mahasiswa. Ini yang dicurigai mahasiswa. Ini jadi alat pukul lagi. Kalau menteri masih Pak Nuh.

DIRJEN DIKTI:

Kenapa kok takut dicurigai mahasiswa. Saya itu 5 tahun tidak ada masalah.

F-PG (IR. H. ZULFADHLI) :

Tidak, saya tidak setuju. Karena apa? Kalau Menterinya masih Pak Nuh, Dirjen Pak Djoko saya percaya……(rekaman terputus)…..

DIRJEN DIKTI:

Tidak dilarang sepanjang tidak melanggar Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah, apapun Peraturan Menteri bisa mengatur teknis. Pak, kalau diamanahkan malah wajib dibuat pak.

F-PG (IR. H. ZULFADHLI) :

Saya sependapat dengan Irjen, sama-sama dirjennya soalnya. Saya lebih setuju memang ada ayat ini karena saya rasa ada banyak hal yang harus dituangkan disini. Satu contoh saja misalnya pengaturan mengenai organisasi kemahasiswaan. Itu saya rasa juga.

DIRJEN DIKTI:

Itu berikutnya pak, itu pasal berikutnya. Ini ada nanti pak. Ini khusus yang mahasiswa secara umum. Di pasal berikutnya kita mengatur intrakurikuler dan ekstrakurikuler.

F-PG (IR. H. ZULFADHLI) :

Ok, itu memang harus diatur dengan Peraturan Menteri. Ini pasal ini tidak mengatur tentang itu pak.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

72 DIRJEN DIKTI:

Kemudian misalkan begini pak. Ada satu contoh yang baku yang saya rasa dibikin oleh Pak Dirjen Dikti ini misalnya mengenai pengaturan tentang penulisan karya ilmiah mahasiswa.

Itukan saya rasakan bagian dari dunia akademik. Bagian penting dari Tridharma perguruan tinggi.

Nah, itu yang saya maksudkan. Kalau seandainya maunya memang ada ketentuan seperti ini maka itu lalu menjadi semakin kuat posisinya. Itu tidak memberangus mahasiswa saya rasa tetapi itu memperkuat posisinya. Memperkuat posisi, aturan-aturan yang dikeluarkan oleh menteri terkait dengan persoalan Tridharma perguruan tinggi itu.

Itu yang saya maksud pak. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Ya,

F-PG (IR. H. ZULFADHLI) :

Jadi, persoalannya begini Pak Ketua. Ini sudah jam 5 lewat 10 menit ini. Sebetulnya kita prinsipnya tidak menolak kalau Perment mau keluar. Tidak perlu cantum ayat (7) pun tidak ada larangan itu. Dicantumkan malah ada kewajiban pertama. Kedua, menimbulkan kecurigaan.

Walaupun mahasiswa kita tidak takut pak. Saya juga pernah jadi mahasiswa. Cuma ngapain tambahin masalah kalau tidak perlu tetapi menurut saya intinya dilarang tidak. Kalau itu tidak dilarang, kalau misalnya dicantumkan, tidak dilarang, tidak apa-apa. Tidak usah dicantumkan saja ini.

KETUA RAPAT:

Ya, jadi, mungkin sama dengan Surat Edaran soal karya ilmiah itu. Tidak diatur tetapi dipatuhi juga oleh perguruan tinggi itu. Bagaimana Pak Dirjen?

DIRJEN DIKTI:

Ini kalau ketentuan Perment kita tidak berjarak peraturan rector. Kalau peraturan rector bisa tetapi kalau Perment itu harus ada cantolannya PP. PP harus ada cantolannya Undang-Undang. Harus pak. Itu sudah ketentuan.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

73 KETUA RAPAT:

Bagaimana? Kita setuju saja ya.

F-PG (IR. RULLY CHAIRUL AZWAR, M.SI):

Saya tidak setuju pak karena begini.

DIRJEN DIKTI:

Kecuali bunyinya disini ketentuan lebih lanjut mengenai mahasiswa diatur oleh rector, boleh. Harus ada pak. Rector yang boleh. Menteri tidak boleh. Saya kira ini dari hukum.

KETUA RAPAT:

Pak Memed silakan.

F-PKS (IR. MEMED SOSIAWAN) : Ketua,

Sebenarnya system pendidikan kita sejak tahun 1945 sampai sekarang tidak ada ayat ini juga berjalan, menghasilkan professor, menghasilkan doctor, menghasilkan rector, menghasilkan jenderal, pemimpin. Jadi, tanpa kita melihat juga mayoritas ada keburukan disana bahwa ada keburukan tetapi itu bukan mayoritas yang dilakukan oleh mahasiswa. Artinya tanpa ayat (7) ini pun sekarang ini sudah terjadi mechanism pendidikan dan kelakuan mahasiswa yang tidak ada masalah pak. Dan peraturan-peraturan yang muncul pun selama puluhan tahun ini pun terhadap mahasiswa juga tidak ada masalah juga. Yang dikeluarkan oleh menteri maupun oleh rector kepada mahasiswa.

Jadi, adanya ayat (7) ini dan tidak adanya, kalau pun tidak ada, itu mekanisme kita sudah berjalan. Dan pengaturan terhadap mahasiswa sudah berjalan. Buktinya banyak professor kita yang lahir dari mahasiswa-mahasiswa kita sendiri. Dan tidak ada masalah. Jadi, saya lebih berpendapat ayat ini, ayat (7) ini dihilangkan pak.

KETUA RAPAT:

Ya, Pak Dirjen umumnya fraksi-fraksi ini menghendaki ini dihilangkan.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

74 DIRJEN DIKTI:

Jadi, begini kalau hitungannya sudah berjalan susah pak. Dulu juga tidak ada aturan apa-apa peraturan juga hidup, kan repot. Jadi, tidak bisa ukurannya itu pak. Ukurannya sebetulnya, kita mau apa.

………..:

Kok Pak Dirjen takut sama mahasiswa.

DIRJEN DIKTI:

Saya tidak takut pak tetapi yang inikan malah bapak-bapak yang takut nanti mahasiswa protes. Tidak. Kalau perlu boleh ditambahkan, ketentuan lebih lanjut mengenai mahasiswa jika diperlukan, nah ditambah kata itu bolehlah. Jadi, itu boleh karena sekarang ini kenyataannya peraturan tentang kemahasiswaan itu ada pak. Ada.

F-PG (IR. H. ZULFADHLI) :

Tetapikan tanpa cantolan pak. Tanpa cantolan PP, tanpa di Undang-Undang pun ada. Kan tidak ada masalah.

DIRJEN DIKTI:

Maksud saya PP-nya itu PP yang tentang apa.

F-PG (IR. H. ZULFADHLI) :

Iya, cukup pak cantolan itu tetapi jangan Undang-Undang ini masuk. Ini pak, kita ini terus-terang kita uji public kemarin memang ada sedikit kelemahan. Kita tidak khusus kepada mahasiswa karena itu stakeholder utama. Kita kegalangan ke perguruan tinggi. Yang kebetulan yang ngundang itu tidak ada unsur mahasiswa. Semestinya kita harus ada uji public dengan mahasiswa ini, stakeholder sebelum ini disahkan. Bukan apa? Ini stakeholder utama inikan dosen sama mahasiswa, sivitas akademika yang akan kita atur ini.

Artinya untuk itu saya pikir lebih baik kalau pun masih eksekutif masih berharap ini masuk.

Saya pikir kita tunda dulu ini dalam posisi nanti kita bahas nanti.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

75 KETUA RAPAT:

Ok, saya kira begitu ya kita endapkan dulu. Mudah-mudahan Pak Djoko bisa melobi.

Sehingga mereka setuju atau sebaliknya. Ok, jadi pasal 14 ayat (7) kita pending.

(RAPAT : SETUJU)

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 66-75)

Dokumen terkait