1 DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA
RISALAH RAPAT RAPAT DENGAR PENDAPAT
PANJA RUU TENTANG PENDIDIKAN TINGGI KOMISI X DPR-RI
(PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA, PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF, DAN PERPUSTAKAAN NASIONAL)
Tahun Sidang : 2011-2012
Masa Sidang : III (tiga)
Jenis Rapat : Rapat Dengar Pendapat RUU Tentang Pendidikan Tinggi Tinggi Komisi X DPR-RI
Sifat Rapat : Terbuka
Rapat Ke :
Hari, tanggal : Rabu, 14 Maret 2012
Waktu : Pukul 14.00 WIB s.d. selesai
Tempat : Ruang Rapat Komisi X DPR-RI
Dengan : Tim Panja Pemerintah RUU tentang Pendidikan Tinggi Ketua Rapat : H. Syamsul Bachri S, M.Sc /Wakil Ketua (F-PG) Sekretaris Rapat : Agus Salim, S.H./Kabagset. Komisi DPR-RI Acara : 1. Pembahasan RUU tentang Pendidikan Tinggi;
2. Lain-lain.
Anggota Hadir : 23 Anggota dari 26 Anggota
Pemerintah : 1. Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud beserta jajarannya 2. Dirjen Pendidikan Tinggi dan Agama Kemenag beserta
jajarannya
PIMPINAN PANJA RUU TENTANG PENDIDIKAN TINGGI 1. Prof. Dr. H. Mahyuddin NS, SP.OG (K) (F.PD/Ketua) 2. H. Syamsul Bachri S, M.Sc (F.PG/Wakil Ketua)
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
2 3. Drs. Utut Adianto (F.PDIP/Wakil Ketua)
4. H. Asman Abnur, SE., M.Si (F.PAN/Wakil Ketua) FRAKSI PARTAI DEMOKRAT
1. Drs. Parlindungan Hutabarat 2. Theresia EE. Pardede, S.Sos 3. Angelina Sondakh, SE, M.Si 4. Juhaini Alie, SH, MH 5. H. Sholeh Soe’aidy, SH 6. Rinto Subekti, SE., MM FRAKSI PARTAI GOLKAR 1. Ir. Rully Chairul Azwar, M.Si.
2. Dra. Hj. Harbiah Salahuddin, M.Si 3. HM. Nasruddin, SH
4. Ir. H. Zulfadhli
FRAKSI PDI PERJUANGAN 1. Nyoman Dhamantra 2. Dr. Ir. Wayan Koster, MM 3. Puti Guntur Soekarno, S.IP 4. Tb. Dedi Suwandi Gumelar
FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA 1. H. Raihan Iskandar, Lc
2. Memed Sosiawan
FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL 1. Drs. Ibrahim Sakty Batubara, M.AP.
FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN 1. Dr. Reni marlinawati
2. Drs. H. Hisyam Alie
FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA 1. H. Dedi Wahidi, S.Pd.
FRAKSI PARTAI GERINDRA 1. Jamal Mirdad
FRAKSI PARTAI HANURA 1. Djamal Aziz, B.Sc., SH, MH
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
3 KETUA RAPAT (H. SYAMSUL BACHRI S, M.SC / WAKIL KETUA (F-PG):
Yang saya hormati Pak Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi dan Agama Departemen Agama beserta seluruh jajaran dari Pemerintah,
Bapak-ibu anggota Panja dari Komisi X DPR yang saya hormati,
Dengan mengucapkan Bismillahirahmanirahim rapat Panja pada sore hari ini kita buka.
(RAPAT DIBUKA PUKUL 14.00 WIB.)
Sesuai dengan laporan dari Sekretariat Komisi X bahwa rapat pada hari ini telah memenuhi kuorum. Dihadiri lebih dari separuh anggota Panja dan memenuhi seluruh unsur Fraksi.
Dengan demikian ini rapat Panja pada hari ini dapat kita buka dan kita nyatakan tertutup untuk umum. Dan dapat mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan kewenangan Panja.
Sebagaimana kita ketahui bahwa rapat Panja kita yang terakhir yaitu pada hari Rabu, 22 Februari bulan lalu tahun 2012. Dan telah mengambil beberapa kesepakatan-kesepakatan yang menjadi keputusan Panja waktu itu. Ada beberapa point yang telah disepakati oleh Panja termasuk hal-hal yang diperbincangkan cukup mendalam. Yang pertama adalah Panja menyepakati ada tambahan pada pasal 3, pendidikan berasaskan keterjangkauan. Itu masuk kedalam rumusan. Kemudian Panja juga menyetujui pasal 11 ada penambahan huruf a yaitu frasa ilmu agama dalam rumpun ilmu pengetahuan. Dengan demikian, rumpun ilmu pengetahuan merupakan kumpulan sejumlah pohon, cabang, dan ranting ilmu pengetahuan yang berkembang secara alamiah dan disusun secara sistematis. Ayat (2), Rumpun ilmu pengetahuan sebagaimana dimaksud ayat (1) terdiri atas:
a. ilmu agama; itu tambahan yang disepakati waktu itu. Selebihnya tidak ada masalah.
Kemudian berikutnya Panja juga sepakat pada pasal 33 tentang pendidikan keagamaan ada penambahan kata “tinggi” dan pengurangan kalimat sebagai berikut: penambahan frasa pada ayat (1), (2), (3) dan (4), sebelum kata keagamaan” ditambah kata “tinggi”. Sehingga dengan, Pemerintah atau masyarakat dapat menyelenggarakan pendidikan tinggi keagamaan dan seterusnya. Jadi, setiap ada istilah pendidikan keagamaan diawali dengan pendidikan tinggi.
Sehingga menjadi pendidikan tinggi keagamaan.
Kemudian pada ayat (4) di pasal yang sama ada pendidikan, disini kelihatannya diminta kepada Tim Ahli untuk merumuskan kembali yaitu ayat (4) Pendidikan tinggi keagamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk ma’had aly. Ini kelihatannya agak terpotong jadi mungkin nanti ini akan disempurnakan. Mengenai rumusan pasal 33 tentang pendidikan tingggi keagamaan diserahkan ke Timus. Pasal 33 belum diatur mengenai tata kelolanya.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
4 Kemudian terakhir rapat Panja Dikti menyepakati pasal 77, 78, 79, 80, dan 81 dipending untuk dibahas setelah uji public. Mudah-mudahan pada hari ini kita bisa membahasnya. Kemudian Panja RUU Dikit pasal 89 dibuatkan 2 opsi untuk menjadi bahan uji public dan diputuskan setelah uji public. Opsi I ini menyangkut PTN wajib mencari dan menjaring calon mahasiswa warga Negara Indonesia yang memiliki potensi akademik tinggi, tetapi kurang mampu secara ekonomi, untuk diterima paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah seluruh mahasiswa baru yang tersebar pada semua program studi. Itu kira-kira alternative I sesuai dengan naskah yang ada di RUU. Ayat (2) tidak, seperti itu juga ayat (3) juga seperti itu. Nah, diusulkan alternatifnya sebagai alternative II atau opsi II ayat (1) pasal 89, PTN wajib mencari dan menjaring calon mahasiswa warga Negara Indonesia yang memiliki potensi akademik tinggi dari berbagai golongan social masyarakat.
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Menteri. Nah, opsi ini tentu diilhami ketika kita melakukan semacam workshop kecil di hotel Century. Dimana kita undang narasumber waktu itu dari pengamat Dharmaningtyas satu lalu dari Komisi Yudisial. Untuk memberikan semacam pandangan-pandangan, hal-hal yang terkait dengan konsistensi dengan Undang-Undang Dasar.
Jadi, yang jadi problem disini adalah penentuan paling sedikit 20%. Jadi, opsi II tidak ada lagi prosentase disebutkan disitu. Rapat Panja menyepakati pasal 91 tentang organisasi kemahasiswaan akan dirumuskan ulang oleh Timus. Kemudian rapat Panja Dikti menyepakati bahwa kesepakatan Panja pada tanggal 22 Februari 2012 pasal diatas akan digunakan untuk bahan public. Nah, ini sudah kita laksanakan. Uji public sudah kita laksanakan di 3 wilayah, Malang, Banjarmasin dan Makasar. Semalam Panja internal menentukan rapat untuk mendengarkan laporan hasil uji public dari 3 daerah tersebut. Nah, pada siang hari ini dari Tim Ahli Komisi X telah mencoba menyusun masukan-masukan yang diperoleh dari uji public. Nah, oleh karena itu kami berharap bapak-ibu sudah bisa menerima ini. Tolong dibagikan kepada para anggota. Naskah ini ada 2, pertama naskah versi 22 Februari yang sudah kita masukan beberapa kesepakatan. Kemudian pada tanggal berikutnya adalah daftar masukan dari uji public dibeberapa daerah. Nah, itulah kira-kira yang nanti tentu Panja ini berwenang untuk menerima atau menolak masukan yang sudah diterima atau yang diperoleh di 3 daerah.
Dalam rapat hari ini acuan kita adalah naskah pertanggal 22 Februari. Itu yang akan kita bahas, kita sepakati. Sehingga menjadi keputusan Panja RUU Dikti yang akan kita laporkan nanti pada rapat selanjutnya. Jika pada rapat-rapat sebelumnya Panja melakukan rapat-rapat sinkronisasi. Dimana sebelumnya ada 2 naskah lalu diintegrasikan atas mandate yang diberikan oleh Panja kepada tim yang diusulkan oleh Kementerian, oleh Pemerintah dan juga Tim yang diusulkan oleh Komisi X. Dan naskah itu sudah kita bahas. Kalau tidak salah 3 kali Panja. Dan hasil bahasan yang terakhir tertanggal 22 Februari 2012.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
5 Jadi, bapak-ibu sekalian yang saya hormati,
Mulai hari ini kita akan mengesahkan pasal per pasal. Hari ini, besok kita lanjutkan dengan konsinyering hari Kamis, Jumát dan Sabtu. Mudah-mudahan dengan pembahasan dengan waktu yang tersedia itu Panja ini dapat merampungkan tugasnya dan bisa kita segera bentuk Tim Perumus dan Tim Sinkronisasi. Sehingga kita bisa mengakhiri tugas Panja ini sebagaimana yang ditugaskan oleh Pansus RUU Pendidikan Tinggi.
Kira-kira itulah bapak-ibu sekalian pengantar dari Pimpinan Panja. Sebelum kita masuk kepada pembahasa pasal demi pasal mungkin ada yang ingin disampaikan dari Pemerintah atau kawan-kawan dari anggota Panja, kami persilakan.
Ya, Pak Nas.
F-PG (H.M. NASRUDIN, SH) :
Terima kasih Ketua.
Jadi, sesuai dengan apa yang disampaikan Ketua barusan, kami menggarisbawahi bahwa untuk pertemuan hari ini, itu menyepakati dulu masukan-masukan dari hasil uji publik karena tadi malam baru intern kita. Sementara dari Kementerian Agama dan Kementerian Dikbud itu belum ada informasi tentang itu. Sehingga perlu disepakati dulu merupakan item-item mana yang kita terima sebagai bahan masukan. Untuk selanjutnya pembahasan perpasalnya pada kesempatan lain. Itu yang pertama.
Yang kedua, sesuai dengan naskah RUU Tanggal 22 Februari. Itu belum ada penghapusan pasal demi pasal atau dari masukan-masukan kementerian, satu diantaranya Kementerian Agama. Sebab pada draft berikutnya suda ada beberapa pasal item yang hilang.
Nah, ini mohon untuk diluruskan kembali karena naskah 22 Februari itu tidak lepas dari usulan Kementerian Agama yang sudah kita sama-sama bahas.
Terima kasih Ketua.
KETUA RAPAT:
Silakan yang lain. Dari Pemerintah silakan Pak Djoko.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
6 DIRJEN DIKTI:
Baiklah, jadi tadi benar. Yang pertama kita harus perhatikan masukan-masukan selama uji public. Kemudian yang kedua tentunya sejak pembahasan kita yang terakhir sampai sekarang, itu pun ada beberapa informasi yang masuk. Yang nanti kiranya diberi waktu untuk meluruskan semuanya itu. Sehingga kita memang ada pilihan sesuai dengan apa yang kita akan gariskan untuk pendidikan tinggi kedepan. Ini kita, prinsipnya begini. Kita boleh mendengarkan apa saja tetapi keputusan ada pada teman-teman di Komisi X DPR. Ini yang penting ini dipahami dulu. Dan itu tentunya sesudah kita berdiskusi bersama.
Ada yang ingin saya sampaikan masukan ini juga datang dari kalangan kami di Pemerintah. Isinya sederhana saja bunyinya. Ini RUU-nya terlalu rinci, itu saja. Ini kok terlalu, di itu saja masukannya. Nanti kita bicarakan. Memang mana-mana yang memang harus secara rinci.
Kalau saya boleh contohkan misalnya tentang governance itu, itu memang harus rinci. Sudah titik tetapi ada hal-hal yang lain. Kalau saya juga boleh berpendapat. Ini dari kami Pemerintah, misalnya tentang gelar tidak usah jelimet. Bisa diatur sendiri pakai Perment kan begitu atau yang lain-lain, nanti kita bisa milah-milah. Ini kalau kita mendengarkan masukan tentang hal tersebut.
Jadi, nanti tinggal pilih, oh ini prinsip tidak boleh diganggu. Oh, yang ini bisa disederhanakan pakai PP, ini bisa pakai Perment dan seterusnya. Saya kira itu tetapi yang prinsip tadi itu misalnya tentang governance itu saya kira sangat penting.
Saya kira itu saja Pak Pimpinan, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Baik, masih ada? Silakan Pak.
PEMERINTAH:
Terima kasih Pak Ketua.
Assalamuálaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Saya menambahkan sedikit saja sebenarnya karena saya pikir yang sangat mendasar.
Pada waktu pertemuan kita yang terakhir sebelum DPR melakukan uji public itu, ada beberapa pasal yang saya rasa akan kita lihat ulang setelah uji public. Pasal itu adalah menyangkut di pasal 33 yang tadi sudah dibicarakan oleh Pak Ketua saya rasa itu. Terutama adalah menyangkut mengenai untuk pendidikan tinggi keagamaan. Kalau usulan Kementerian Agama sebagaimana
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
7 yang sudah kita rumuskan tentu tidak seperti ini tetapi ketika di draft tanggal 22 Februari ini kemudian di pasal 4 itu muncul semacam ini. Oleh karena itu rasa-rasa ini mungkin perlu didiskusikan lebih panjang karena seingat saya dulu adalah akan dibicarakan pasca uji public. Itu yang pertama.
Kemudian yang kedua, saya rasa terkait dengan persoalan yang menyangkut mengenai otonomi. Itu juga saya rasa kemarin pesan yang disampaikan pada tahap akhir itu adalah juga akan dilakukan pembahasan lebih lanjut pasca kita uji public, misalnya tentang otonomi. Yang seringkali dikaitkan dengan persoalah BHP dan seterusnya dan sebagainya. Saya rasa itu juga pasal-pasal yang saya rasa sangat sensitive. Umpama di kalangan mahasiswa. Jadi, menurut saya ini juga perlu kita cermati dengan sangat arif, dengan hati-hati. Supaya apa yang kita hasilkan bersama-sama ini nanti adalah untuk kepentingan bersama. Dan kemudian tidak ada lagi yang akan melakukan yudisial review, dan seterusnya dan sebagainya.
Kemudian juga yang saya pikir kemarin menjadi bahan untuk kita diskusikan setelah uji public itu adalah mengenai persoalan presentase 20% dan sebagainya dan seterusnya itu. Nah, saya rasa di 3 aspek ini barangkali perlu kita diskusikan dengan sangat mendasar karena ini saya rasa mencakup banyak hal yang sangat sensitive. Tidak hanya bagi kita tetapi masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu mungkin yang paling penting menurut saya, sore hari ini kita akan melihat rumusan-rumusan yang dihasilkan dari uji publik yang dilakukan kawan DPR itu dan kemudian setelah itu baru kita diskusikan.
Terima kasih pak.
KETUA RAPAT:
Baik, masih ada? Silakan Bu Reni.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Terima kasih.
Assalamuálaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Saya kira saya setuju pada kesempatan hari ini agenda utama kita adalah menyampaikan laporan hasil uji publik. Tadi malam secara internal kita sudah melakukan rapat dan kita sudah tahu tetapi karena hari ini juga ada mitra kita yang berkepentingan untuk mengetahui. Jadi, ada
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
8 baiknya kita lakukan dulu pelaporan. Mengenai hal-hal ada ayat yang hilang, ada isu-isu yang memang sudah terumuskan. Nanti saya kira dibahas lebih intensif didalam konsinyering saya kira karena kalau membahas pasal per pasal sekarang, suasananya juga kurang kondusif.
Ruangannya terlalu luas, layarnya juga terlalu jauh. Jadi, apalagi Pak Dirjen Dikti juga lagi menikmati hidangan. Jadi, tidak khusuk juga.
Jadi, saya kira agenda utama itu saja, siang hari ini. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Baik, ada lagi? Baik, yang pertama, mau bicara? Ya, Pak Rully.
F-PG (IR. RULLY CHAIRUL AZWAR, M.SI):
Ya, kita belum masuk pada substansi Pak. Memang hari ini kita rencanakan untuk menyelesaikan utang-utang kita dulu yang belum selesai menurut saya. Ada beberapa yang kita pending-pending. Saya pikir baiknya begitu kalau memang disetujui karena ini terkait dengan pasal-pasal yang nyebar karena cluster. Andaikata itu sudah selesai mungkin kita bisa membahas mulai pasal per pasal tetapi sebenarnya kalau Pak Ketua juga sependapat bahwa nyebarnya sudah ditandai, dipisahkan, tidak apa-apa juga kita mengurut itu tetapi lebih efektif saya pikir clusternya diselesaikan dulu pak.
Tadi saya mendengarkan dari Pak Ketua, Pemerintah artinya Ketua Pemerintah bahwa memang ada yang perlu memang dipadatkan, ada yang perlu dilonggarkan saja tidak usah terlalu detail, gelar segala macam. Nah, saya ingin mungkin mendengarkan dari hal yang pending- pending itu pak dari Pemerintah apa? Soal government yang pending bagaimana kiranya? Nanti kita menyampaikan tentang yang pending itu termasuk yang keagamaan itu yang pending bagaimana. Kita nanti dengar dari Pemerintah dan kita bagaimana. Itu 2 cluster itu yang penting menurut saya.
Yang ketiga ada cluster yang penting sekali yang soal K/L, kementerian lain itu bagaimana? Kan itu tersebar juga dimana-mana. Apakah kita mengambil sikap, kita mau dengar dari Pemerintah, kira-kira kementerian lain terutama agama pak, apakah sudah ada kesepakatan Pemerintah untuk memang ini dirasionalkan semuanya kepada satu system pendidikan Nasional atau belum? Nanti kita mau dengar. Kalau 3 itu bisa kita bahas, saya pikir baik hari ini pak.
Terima kasih.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
9 KETUA RAPAT:
Saya kira sebelum yang lain, saya minta Pak Djoko menanggapi soal posisi pendidikan di K/L diluar kementerian keagamaan pak. Ada posisi Pemerintah yang tegas?
DIRJEN DIKTI:
Jadi, untuk koordinasi kementerian didalam lingkup koordinator bidang Kesra sudah dilakukan itu pak. Dan posisinya untuk yang terkait dengan K dan L lain itu semuanya disatukan di kementerian. Itu satu. Kemudian untuk yang Kementerian Agama dan kita, itu akan diatur secara bilateral dengan menggunakan PP. Itu hasil dari rapat Kesra yang dilaksanakan di Kementerian Pendidikan Nasional pada tanggal, hari Selasa minggu yang lalu, itu seperti itu keluarnya. Kalau saya boleh menyampaikan seperti itu.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Tidak, kalau boleh saya minta lebih lanjut penjelasan, batasan-batasan atau oleh PP saja menyangkut cakupannya, ruang lingkupnya pak atau menyangkut apa saja, yang bilateral itu ada PP, apakah hal yang terkait dengan akademik ataukah dengan non-akademik?
DIRJEN DIKTI:
Oh, jangkauannya, jangkauannya apakah akademik atau non-akademik? Pengertian kami bisa. Paling ujung sini itu akademik, paling ujung sana itu bisa akademik dan non-akademik dan lain-lain. Untuk prakteknya nantinya kami duduk sama-sama. Duduk sama-sama, bagaimana kita akan melaksanakan hal tersebut. Kita duduk sama-sama. Sekarang juga sudah duduk sama- sama.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Maksud saya begini Pak Dirjen, apakah kita status quo dengan polarisasi yang seperti sekarang? Apakah seperti itu, ataukah misalkan ada pola baru? Maksudnya seperti saat ini, sekarangkan pendidikan yang umum ada di Kemendikbud. Pendidikan keagamaan menjadi kewenangan sepenuhnya Kemenag. Apakah misalkan seperti itu atau ada pola baru yang itu akan dibuat? Misalkan nanti ada batasan-batasan karena pendidikan diagama diberikan kewenangan berbentuk universitas, sekolah tinggi, institute. Sehingga kewenangan untuk menetapkan, “ilmu pengetahuan umum” misalkan itu diberikan kewenangan tersendiri tanpa misalkan itu harus berada prodinya di Kemendikbud ataukah seperti itu? Contoh misalkan, yang di UIN itukan
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
10 Fakultas Kedokterannya ternyata lebih bagus. Nah, apakah UIN ini harus semuanya mengacu kesitu atau misalkan UIN bisa mengembangkan, Kemenag bisa mengembangkan sendiri itu.
DIRJEN DIKTI:
Tentunya apa yang nantinya terakhir akan dibuat. Untuk itu bisa seperti itu dan bisa saya belum tahu hasil perundingan kita nanti. Intinya disitu.
KETUA RAPAT:
Kita mencari cantolan yang tepat nanti.
F-PG (IR. H. ZULFADHLI) :
Harus ada cantolan di Undang-Undang karena PP-nya harus ikut.
KETUA RAPAT:
Iya, nanti kita pada pasal yang tepat, kita carikan cantolan yang mengakomodasi pembicaraan yang bilateral itu. Baik, bapak-ibu sekalian, saya kira kita mengarah. Ada 2 persoalan pokok yang disampaikan. Yang pertama, bagaimana memperlakukan masukan-masukan yang terakhir kita terima terutama dari uji public. Ada 2 pendekatan yang bisa kita lakukan. Pendekatan yang pertama Tim Ahli sudah menginsenrt disamping rumusan yang sudah kita sepakati. Jadi, apabila pada tiba pasal yang bersangkutan da nada masukan, disitulah kita bicarakan. Apakah masukan itu relevan kita terima kita masukkan atau tidak tetapi kalau ada pasal yang tidak ada masukan sama sekali, saya kira kita anggap kita sahkan. Jadi, dimana ada pasal lalu ada masukan. Disitu kita bicarakan intensif. Jadi, parallel tetapi kalau tidak ada masukan pada pasal yang bersangkutan, kita lewati, kita sepakati.
Saya kira itu. Dari pada kita menyeluruh, sangat makro mungkin akan sulit kita mempolakan. Itu satu. Jadi, saya sarankan apabila kita membahas pasal tertentu lalu disampingnya ada masukan terutama dari uji public kita bicarakan secara mendalam. Apakah masukan itu kita terima atau tidak? Tergantung kita semua. Kita diskusikan mendalam relevansi atau tidak. Bisa disepakati itu?
(RAPAT : SETUJU)
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
11 Yang kedua, soal penyederhanaan yang disampaikan oleh Pak Djoko tadi. Saya kira ini hal yang sama. Apabila kita masuk pada bab kemudian pasal. Kita berasumsi, kita beranggapan ini bisa disederhanakan maka kita bisa sepakati penyederhanaan melalui Timus tanpa merubah substansi. Timus itu tidak boleh merubah substansi. Hanya menyederhanakan format, menyederhanakan kalimat dan mensinkronisasi kalimat. Sebab kalau kita sederhanakan sekarang, ini bisa berlarut-larut. Bisa berlarut-larut dan belum tentu kita bisa selesai sesuai dengan waktu.
Jadi, apabila kita tiba pada satu pasal tertentu dan kita anggap ini bisa disederhanakan, oh ini substansinya bisa kita tuangkan dalam PP misalnya. Maka kita sepakati itu tetapi kalau kita anggap memang ini harus rinci, ya kita sepakati kalau memang harus rinci dalam Undang-Undang.
Jadi, saya ingin menyarankan kepada kita semua, apakah pola itu bisa juga kita sepakati?
Sehingga kita bisa maju pasal demi pasal. Bisa disepakati?
F-PG (IR. RULLY CHAIRUL AZWAR, M.SI):
Ya, Panja pasal-pasalnya nyebar, bukan pasal-pasal nyebar itu sudah tercluster tidak apa- apa karena kalau kita bicara pasal per pasal itu biasanya nanti bisa lompat-lompat juga.
Mendingan prinsip clusternya disetujui, seperti ini prinsip agama ada, kita setujui dulu. Nanti itu lebih gampang kita. Lalu prinsip mengenai pendidikan agama itu seperti apa? Itu masih bisa kita kaji lebih jalan, lebih jauh. Nah, persoalan yang kedua misalnya persoalan tata kelola. Prinsip perlu lex spesialis atau tidak terhadap otonom karena kalau misalnya itu diatur oleh PP pengaturannya, saya yakin pasti Undang-Undangnya tidak bisa mengakomodir, PP otonom yang diatur disini.
Mungkin saya juga pikir yayasan belum diatur disini. Yayasan belum diatur. Bagaimana tata kelola yayasan? Ini juga sepertinya perlu ada pemikiran-pemikiran lagi untuk mengatakan prinsipnya bagaimana? Kalau prinsipnya kita setuju. Nanti tolong Tim Ahli mengecek pasal-pasalnya. Supaya itu semua disesuaikan dengan rinci. Supaya kita tidak bolak-balik pak. Begitu kita masuk pasal itu, dari depan, tengah, belakang kadang-kadang nyambung semua untuk pasal itu.
Saya prinsipnya kalau yang kedua itu karena ada pesan rapat yang lalu itu pending. Dan itu harus diselesaikan. Saya pikir disini saja kita dengar kira-kira pemikiran Pemerintah ada yang baru tidak. Nanti kita juga bisa bahas. Bahas prinsipnya pak, tidak usah bahas detailnya. Dan ini nanti kita bahas pasal per pasal.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Baik, jadi apa yang dikemukakan oleh Pak Rully itu bisa diselesaikan pada tingkat sinkronisasi melalui mengintegrasikan dalam satu cluster. Tempat-tempat yang mungkin dianggap
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
12 berserakan dan lain-lain sebagainya. Yang penting substansinya kita sepakati dulu. Sesudah itu Tim Sinkronisasi yang akan menempatkan dimana tempat yang tepat. Bisa disepakati begitu? Ya, baik.
(RAPAT : SETUJU)
Sekarang kita masuk pada bagian I. Judul tidak ada perubahan. Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Presiden Republik Indonesia. Tidak ada soal. Bisa disetujui?
(RAPAT : SETUJU)
Nah, point menimbang ini ada masukan dari Jawa Timur, a, b, c, d, sampai f ada masukan dari Jawa Timur. Perlu dilihat dari sisi legal drafting. Ada legal drafting hadir tidak? Ada, ini sudah kita penuhi. Dalam setiap frase ilmu pengetahuan dan teknologi harus konsisten ditambah dengan seni dan budaya. Silakan.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Pimpinan,
Kan dari awal saya sudah sampai ke pimpinan mengingatkan saya untuk pelan-pelan, takut saya melahirkan didalam ruang rapat waktu itu. Mengingatkan betapa pentingnya nilai-nilai agama itu. Ada pertimbangan historis sampai Bung Karno segala macam. Pokoknya panjang- lebar. Intinya bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan agama, begitukan. Jadi, kita, saya sudah mengatakan bahwa ketika kita bicara agama, jangan hanya bicara Islam bukan itu. Agama secara universal ada agama Islam dan 5 agama lainnya diakui oleh negara. Kemudian ada baru disitu ada pendidikan keagamaan. Pendidikan keagamaan pun jangan dilihat dalam konteks Islam karena disitu ada universitas, ada sekolah tinggi. Itulah kenapa kemudian kami mengajukan, dalam setiap ilmu pengetahuan, teknologi dan agama. Jadi, didalam ilmu pengetahuan sebagai ilmu maka disitu ada ilmu agama. Jadi, agama secara universal, ada sebagai satu keagamaan, ada agama sebagai satu cabang ilmu begitu.
Jadi, ketika ada ilmu pengetahuan, teknologi dan agama. Itu selalu begitu. Jadi, seperti itu Pak konsistensinya. Nah, kemudian dari situ di break down logikanya maka perlu diadakan satu pendidikan tinggi agama. Kemudian setelah itu diperlukan adanya pendidikan keagamaan. Itulah kenapa kemudian diperlukan ada satu rumpun ilmu yang membahas tentang ilmu agama.
Demikian pimpinan. Jadi, setiap ada ilmu pengetahuan, teknologi dan agama itu selalu melekat.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
13 Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Baik, terima kasih Bu Reni.
Ada yang ingin mengomentari, menimbang ini? Silakan.
PEMERINTAH:
Terima kasih Pak.
Sebagaimana yang sudah kita diskusikan. Dan memang semula pendidikannya memang ilmu pengetahuan, teknologi, lalu ada seni budaya, macam-macam. Kemudian karena beberapa pertimbangan kemudian kita buang beberapa frase. Nah, oleh karena itu maka agama masuk disitu. Jadi, agama memang masuk disitu. Kalau memang mau dibikin panjang tetapi kalau mau kita bikin pendek, seni dan budaya itu tidak masuk tetapi ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena apa? Karena didalam ilmu pengetahuan sendiri juga seni dan budaya, dan macam-macam itu sudah masuk disitu. Masuk disitu misalnya termasuk juga ilmu agama sudah masuk dalam ilmu- ilmu pengetahuan kalau kita mau konsisten menggunakan kalimat yang ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi kalau kemudian ada seni dan budaya maka agama harus masuk didalamnya.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Ya, jadi ini ada 2 alternatif. Kita sepakati apa yang ada tanpa ada perubahan. Artinya bahwa seni dan budaya tidak perlu masuk karena sudah inheren dalam ilmu pengetahuan.
Demikian pula agama sudah inheren dalam ilmu pengetahuan. Dengan demikian menimbang ini tidak perlu ada perubahan. Sepakat? Baik.
(RAPAT : SETUJU)
Kemudian mengingat. Nah, ini mengingat ini beberapa pakar menambahkan beberapa pasal-pasal lain dalam Undang-Undang Dasar. Yang terkait dengan masukan dari Jawa Timur, perlu ditambahkan Undang-Undang yang terkait, misalnya Undang-Undang Sisdiknas, Undang- Undang Guru dan Dosen, Undang-Undang tentang Penyelenggaran Pemerintah yang bersih dan Bebas KKN. Ini ada masukan kan. Kami persilakan.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
14 F-PG (IR. H. ZULFADHLI) :
Mohon pendapat. Jadi, kebetulan kami waktu di Jawa Timur. Ini memang ada yang menyampaikan ini dengan pertimbangan bahwa Undang-Undang ini memang intinya kita ingin lebih mempertajam amanah apa yang ada dalam Undang-Undang Sisdiknas. Artinya meskipun kita tahu bahwa Undang-Undang ini harus sinkron dengan Undang-Undang yang sama, yang ada tetapi karena ini memang khusus pendidikan tinggi merupakan bagian daripada sistem pendidikan Nasional maka memang yang harus memang menjadi catatan masuk didalam mengingat memang ini Undang-Undang Sisdiknas termasuk Undang-Undang Guru dan Dosen karena itu menjadi bagian atau sub sistem daripada pendidikan secara Nasional tetapi untuk yang seperti Pemerintah yang bersih dan bebas KKN atau Undang-Undang yang lain yang tidak langsung itu sebaiknya tidak perlu tetapi yang khusus untuk Sisdiknas dengan Undang-Undang Guru dan Dosen dan ini langsung menyentuh terkait dengan persoalan pendidikan tinggi maka ini bagian daripada mengingat. Sepanjang tidak melanggar legal drafting aturannya.
KETUA RAPAT:
Silakan, ada? Sebelum saya tanyakan kepada legal drafting.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Iya, saya kira Undang-Undang Dasar itukan payung hukum tertinggi. Kemudian penjelasan dari situ tentang pendidikan itu diatur oleh Undang-Undang Sisdiknas, Undang-Undang Guru dan Dosen. Oleh karena itu didalam mengingat kedua Undang-Undang tersebut harus dicantumkan dibawah Undang-Undang Dasar.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Ya, Pak Rully.
F-PG (IR. RULLY CHAIRUL AZWAR, M.SI):
Ya, idenya kami sependapat bahwa ini turunan Undang-Undang No. 20 tetapi lebih baik kita tanyakan legal drafting. Kalau saya berpendapat memang karena ini sejajar. Jadi, kalau ada
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
15 perubahan yang Undang-Undang ini juga menjadi masalah di Undang-Undang ini. Jadi, kalau menurut saya. Walaupun kita tahu pemikirannya tetapi tidak lazim.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Kita tanya saja legal drafting. Apakah sebuah Undang-Undang menjadi referensi Undang- Undang yang lain atau cukup mereferensi ke Undang-Undang Dasar? Coba beri nasehat kepada kita.
LEGAL DRAFTER:
Terima kasih Pimpinan.
Assalamuálaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Iya pak sebagai legal drafter, tentulah kita berdasarkan pada Undang-Undang PPP. Di Undang-Undang PPP ini jelas pak di lampiran 40, no. 40 dan 41 bahwa, saya bacakan pak bahwa Peraturan Perundang-undangan yang digunakan sebagai dasar hukum hanya peraturan perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. Itu prinsip pertama pak.
Yang kedua boleh saya bacakan angka 40, jika terdapat peraturan perundang-undangan dibawah Undang-Undang Dasar yang memerintahkan secara langsung pembentukan peraturan perundang-undangan maka peraturan perundang-undangan tersebut dicantumkan didalam dasar hukum. Artinya jika tidak ada Undang-Undang yang memerintahkan secara langsung untuk membentuk satu Undang-Undang maka tidak perlu dicantumkan pak.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Ya, Undang-Undang Guru dan Sisdiknas tidak memerintahkan membuat Undang-Undang tentang Pendidikan Nasional. Oleh karena itu kedua Undang-Undang itu tidak layak masuk dalam pertimbangan. Setuju ya.
(RAPAT : SETUJU)
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
16 Kemudian selanjutnya dengan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia memutuskan. Saya kira tidak ada soal. Sepakat Panja.
(RAPAT : SETUJU)
Yang Bab I Ketentuan Umum pasal 1, dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1) pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Setuju ya, ya baik.
(RAPAT : SETUJU)
Ayat (2) Pendidikan Tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program sarjana, program magister, program doktor, program spesialis, dan program diploma yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Ada usul dari Panja Dikdok, setelah program spesialis ada program sub spesialis. Jadi, diminta ditambahkan disitu. Program doctor, program spesialis, sub spesialis. Kami minta pendapat dari Pak Dirjen soal ini.
DIRJEN DIKTI:
Baik Pak, terima kasih.
Tadi malam itu dibahas tetapi masih diawal pak, disana. Sekarang dibahas diruang Komisi X, sebelah mana. Sebelah sana. Jadikan posisinya yang masih diperdebatkan, kalau sesudah spesialis ada sub spesialis. Sementara dari KKNI itukan hanya sampai 9. Jadi, kalau mulai sub spesialis itu diberikan 9 maka spesialis itu menjadi 8 dan yang program profesi dokternya sendiri, dokter umum itu menjadi 7. Nah, tadi malam itu mereka masih mendiskusikan itu pak tetapi yang penting disini saya kira dinyatakan saja bahwasannya ada program sub spesialis. Masalah nanti…(rekaman terputus)…
KETUA RAPAT:
Itu masih tentative, bisa disepakati begitu? Coba.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Yang pertama saya setuju sub spesialis dicantumkan tetapi dimiringkan. Artinya ini akan dibahas lebih lanjut. Saya tentang ini tentang diploma. Saya mohon penjelasan dari Pak Dirjen Dikti. Ini tentang diploma. Apakah misalkan DI, DII, DIII, lalu D IV itu apa sebagainya, S1, itukan
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
17 belum, apakah ini perlu juga dicantumkan disini atau seperti apa? Pak Dirjen mohon penjelasan tentang program diploma ini.
KETUA RAPAT:
Ya, silakan Pak Dirjen.
DIRJEN DIKTI:
Maaf ini tadi masih sub spesialis tadi itu.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Tentang DIV to the point saja tentang DIV. Apakah DIV itu masih ada, masih bagian dengan DIII atau misalkan langsung ke S1.
DIRJEN DIKTI:
Tidak, DIV ada bu. DIV itu adalah sarjana terapan, ada. DIV itu sama dengan S1. S1 itu sama dengan DIV. Jadikan, iya begitu.
F-PG (IR. H. ZULFADHLI) : Pimpinan,
Saya perlu memberikan pandangan juga bahwa ini pernah kita bahas beberapa kali termasuk yang tawaran dari Pak Raihan dari PKS ingin memasukkan substansi tentang pendidikan tinggi yang lebih luas. Namun, kita sepakat pada waktu kita rapat-rapat bahwa kita mengacu kepada Undang-Undang Sisdiknas karena ini betul-betul, arti daripada pendidikan tinggi ini, nomenklatur ini betul-betul persis sama dengan Sisdiknas karena kita ingin sinkron. Itu pegangan kita karena kalau kita menambahkan lagi, misalkan sub spesialis atau seperti ini usulan diploma lebih rinci. Berarti akan membuat ruang kita untuk juga menambah lagi makna-makna lain.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
18 Baik, jadi ini sinkron dengan Undang-Undang Sisdiknas. Jadi, kita sahkan.
(RAPAT : SETUJU)
Ayat (3), Ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali, disusun, dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu, yang dilandasi oleh metodologi ilmiah untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau kemasyarakatan tertentu.
Bisa disetujui?
(RAPAT : SETUJU) Ayat (4), teknologi adalah penerapan dan pemanfaatan.
PEMERINTAH:
Sebentar pak,
Ini tadi ada tambahan secara objektif. Untuk menerangkan metodologi ilmiah untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau kemasyarakatan tertentu. Saya rasa kalimat ini sudah cukup pak. Tidak usah ditambah dengan kata objektif. Sebab kalau kita berpikir objektif dan seterusnya itu ada konsekuensi metodologis. Yang saya rasa tidak cepat diselesaikan. Saya rasa rumusan ini sudah cukup bagus yang di ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali, disusun, dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu, yang dilandasi oleh metodologi ilmiah untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau kemasyarakat umum tertentu.
Saya rasa ini sudah cukup bagus. Jadi, kata objektif tadi saya rasa tidak perlu dimunculkan. Sebab kalau tadi dinyatakan ada tambahan objektif itu ada konsekuensi metodologis yang ditanggung oleh kata itu. Makanya ini, saya baca ini. Makanya tadikan beliau.
KETUA RAPAT:
Saya juga ada tulisan ini secara objektif. Tolong diberikan Pak Dirjen.
PEMERINTAH:
Rumusannya sudah sangat bagus ini. Jadi, saya hanya mempertanyakan kata objektif tadi.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
19 KETUA RAPAT:
Coba diperbaiki. Ini naskahnya harus sama, tidak boleh beda-beda. Beda koma saja sudah jadi soal. Ya, saya kira dari secretariat yang agak keliru. Jadi, saya bacakan, Ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali, disusun, dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu, yang dilandasi oleh metodologi ilmiah untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau kemasyarakatan tertentu. Cukup itu ya, baik.
(RAPAT : SETUJU)
Kemudian berikutnya ayat (4), Teknologi adalah penerapan dan pemanfaatan berbagai cabang ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan, kelangsungan, dan peningkatan mutu kehidupan manusia. Disepakati ya, baik.
(RAPAT : SETUJU)
Ayat (5), Perguruan Tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi. Saya kira clear ya.
(RAPAT : SETUJU)
Ayat (6), Perguruan Tinggi Negeri, selanjutnya disingkat PTN, adalah Perguruan Tinggi yang didirikan dan/atau diselenggarakan oleh Pemerintah. Setuju ya.
(RAPAT : SETUJU)
Ayat (7), Perguruan Tinggi Swasta, selanjutnya disingkat PTS, adalah Perguruan Tinggi yang didirikan dan/atau diselenggarakan oleh Masyarakat. Setuju ya.
(RAPAT : SETUJU) Ayat (8), ya.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Pimpinan,
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
20 Mohon maaf sebelum dilanjut. Ini diberkas saya yang terdahulu. Sebenarnya kita mengajukan adanya ketentuan umum ini tentang pengabdian masyarakat. Secara definitive makanya, disini tidak ada Tridharma. Sesungguhnya ketika penelitian dicantumkan, maka pengabdian masyarakat pun sebenarnya harus ada, apa yang dimaksud pengabdian masyarakat.
KETUA RAPAT:
Jadi, Tridharma Perguruan Tinggi yang selanjutnya disebut Tridharma, adalah kewajiban perguruan tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Kita sepakati dulu ini.
(RAPAT : SETUJU)
Nah, sekarang yang dipertanyakan oleh Ibu Reni, penelitian ada, pengabdian masyarakat tidak ada, kemudian pendidikan juga tidak ada. Pendidikan pengabdian masyarakat. Jadi, ok, sekarang kita sahkan dulu. Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi, data, dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan/atau pengujian dalam suatu cabang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bisa disepakat ini? Ok.
(RAPAT : SETUJU)
Dan sekarang yang dipertanyakan tadi tentang pengabdian masyarakat. Saya kira catatan saja dulu. Nanti kita rumuskan. Kita sepakat bahwa ada rumusan tentang pengabdian masyarakat.
Ok.
(RAPAT : SETUJU)
Ok, Timsin atau Timus. Kemudian ayat (10), Pembelajaran adalah proses interaksi mahasiswa dengan dosen dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Setuju ya.
(RAPAT : SETUJU)
Ini sebenarnya sama dengan pengertian penelitian. Penelitian juga itu digunakan istilah penelitian dalam beberapa pasal-pasal. Pembelajaran juga digunakan dalam beberapa pasal- pasal. Jadi, pengertian dalam pasal 1 ini adalah sebuah istilah yang harus dibakukan. Sehingga dalam penerapannya tidak lagi menimbulkan perbedaan penafsiran. Jadi, itu urgensi ibu Reni kenapa ini dicantumkan. Demikian pula civitas akademika dosen. Saya kira semua orang tahu itu
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
21 dosen itu siapa tetapi juga perlu dicantumkan sebagai istilah baku yang akan digunakan dalam Undang-undang. Saya kira itu maksudnya. Bisa disepakati.
Kemudian ayat (11), Sivitas Akademika adalah masyarakat akademik yang terdiri atas dosen dan mahasiswa. Sepakat ya.
(RAPAT : SETUJU)
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Ada tambahan itu yang hasil uji public. Ada kata tenaga kependidikan.
KETUA RAPAT:
Oh, sorry, sivitas akademika adalah masyarakat akademik yang terdiri atas dosen dan mahasiswa. Perlu penambahan frasa dengan tenaga kependidikan.
DIRJEN DIKTI:
Bukan pak, bukan karena tenaga kependidikan tidak melakukan kegiatan akademik. Tidak melakukan tetapi mahasiswa yang melakukan.
KETUA RAPAT:
Jawa Timur ini tidak relevan kita cantumkan. Baik. Selanjutnya, ayat (1), Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ok, ya.
(RAPAT : SETUJU)
Ayat (13), Mahasiswa adalah peserta didik pada jenjang pendidikan tinggi. Sepakat ya.
(RAPAT : SETUJU)
Ayat (14), Masyarakat adalah kelompok warga negara Indonesia nonpemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan tinggi. Sepakat ya.
(RAPAT : SETUJU)
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
22 Ok, nanti ibu Reni interupsi sebentar lagi. Kemudian ayat (15), Program Studi adalah kesatuan kegiatan pendidikan dan pembelajaran yang memiliki kurikulum dan metode pembelajaran tertentu dalam satu jenis pendidikan akademik, pendidikan profesi, dan pendidikan vokasi. Setuju? Setuju ya.
(RAPAT : SETUJU)
Ayat (16), Universitas adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik, dan/atau pendidikan vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan dan teknologi dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Setuju? Ya, silakan Pak Koster dulu.
F-PDIP (DR. IR. WAYAN KOSTER, MM) :
Ini mohon dibaca lagi Ketua karena inikan definisi. Seharusnya dia tuntas dalam satu kalimat, satu makna satu kalimat. Inikan ada ini, dan jika memenuhi syarat, nah itulah. Universitas adalah dan seterusnay ilmu pengetahuan dan teknologi. Mestinya kan dia berhenti disitu tetap ada syarat. Yang sebenarnya ini definisi ini bukan ketentuan umum ini. Mungkin ini perlu diformulasikan ulang saja ini. Dipecah atau bagaimana?
Saya kira ini tim dari Pemerintah saya kira sudah paham. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Baik, jadi memang ada unsur dari mana ini, unsur perbaikan, universitas adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik, pendidikan profesi dan/atau pendidikan vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan dan teknologi. Bisa disepakati yang baru?
DIRJEN DIKTI:
Sepakat pak, sepakat.
KETUA RAPAT:
Jadi, yang kita gunakan adalah yang kanan. Sepakat ya.
(RAPAT : SETUJU) F-PG (H.M. NASRUDIN, SH) :
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
23 Ketua,
Mundur sedikit kebelakang. Ini masalah pemahaman tentang masyarakat ini masih belum konkrit. Sebab disini ada bunyi masyarakat adalah kelompok warga Negara non-Pemerintah. Itu maksudnya bagaimana Warga Negara non-Pemerintah itu? Kan kelompok masyarakat pegawai negeri juga kalau kita mengatasnamakan lembaga Pemerintah kan juga masyarakat. Jadi, kok disitu ada masyarakat dalam kelompok warga Negara Indonesia non-Pemerintah . Berarti kalau yang Pemerintah bukan masyarakat pemahamannya. Mohon penjelasannya pak.
KETUA RAPAT:
Ya, ada yang mau menjelaskan dari Pemerintah. Pak Djoko. Masyarakat adalah kelompok warga Negara Indonesia non-Pemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan tinggi. Istilah non-Pemerintah ini apa?
DIRJEN DIKTI:
Kalau saya memang tidak perlu dicantumkan. Masyarakat itu sudah kata yang umum.
Jadi, semura orang tahu. Misalnya seperti orang. Nanti disini menyangkut orang kita mendefinisikan orang, mestinyakan tidak. Ini malah hilang semua pak. Kalau saya boleh berpendapat.
KETUA RAPAT:
Ya, pak Rully.
F-PG (IR. RULLY CHAIRUL AZWAR, M.SI):
Ketua,
Mungkin sesuai dengan tata cara legal drafting karena masyarakat itu ada pemahaman dalam sistem pendidikan tinggi itu ada pemahaman, ada perguruan tinggi, ada Pemerintah dan masyarakat. Makanya ada definisinya disini, itu ide awalnya. Yang sebetulnya kata-kata non- Pemerintah saja yang kita cari dulu. Maksudnya kita pahami itu bahwa masyarakat itu semua yang diluar sebenarnya yang ngatur regulator ini. Silakan pak.
KETUA RAPAT:
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
24 Begini saja coba, kelihatannya non-Pemerintah ini memang jadi dispute. Bagaimana kalau kita sebutkan, masyarakat adalah kelompok warga negara Indonesia yang mempunyai perhatian, dan peranan dalam bidang pendidikan tinggi?
F-PG (IR. H. ZULFADHLI) : Pak Pimpinan,
Mungkin begini pak, pertama kita perlu konsisten dulu dengan apa kalau kita dengan Undang-Undang Sisdiknas inikan sudah ada memang ketentuan umum di Undang-Undang Sisdiknas. Seperti ini, ini Cuma menegaskan bahwa kita inikan ada GO, dan NGO bahwa ini masyarakat ini yang non-government istilahnya non-Pemerintah. Iya, dari situ Undang-Undang Sisdiknas.
KETUA RAPAT:
Jadi, daripada bikin gara-gara kita konsisten dengan yang dalam Undang-Undang Sisdiknas. Setuju ya. Ok.
(RAPAT : SETUJU) Ya, silakan.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Pimpinan,
Yang pertama mohon abangku ini mengetuk palu jangan coba-coba, mentang-mentang dia memimpin sidang. Iya, saya berpendapat justru tentang masyarakat itu kan sebagai civil sociaty. Ini tidak perlu dicantumkan. Malah saya tadi berpikir. Justru kita harus mencantumkan dari Tridharma itu. Baru berikutnya pendidikan adalah kemudian penelitian adalah, baru pengabdian masyarakat adalah. Makanya tadi kenapa saya, mohon maaf saya kembali ke ujung tentang pembelajaran. Pembelajaran itu tidak relevan untuk dicantumkan disini karena itu bagian dari pendidikan. Kemudian disini juga ada pengertian dosen. Yang mengacu kepada Undang-Undang Guru dan Dosen. Menjadi antitesis juga dosen adalah pendidikan profesional dan ilmuwan dengan tugas mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu melalui pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan. Kan bukan pembelajaran. Oleh karena itu menurut saya pembelajaran ini lebih baik diganti dengan pendidikan. Definisi pendidikan mengacu kepada Undang-Undang Sisdiknas.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
25 KETUA RAPAT:
Begini bu Reni. Hal-hal yang sudah kita ketuk tolong jangan dimentahkan lagi.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Oh, tidak. Saya bukan mementahkan, saya justru ingin meluruskan. Ingin meluruskan konsistensi dalam pembahasan kita maksud saya.
KETUA RAPAT:
Ya, sudah konsisten apa yang sudah kita susun. Jadi, istilah masyarakat ini juga memang diperlukan karena kita bicara perguruan tinggi swasta. Dalam perguruan tinggi swasta juga ada diselenggarakan oleh masyarakat. Nah, masyarakat dalam pengertian ini tentu yang terkait dengan yang punya perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan. Jadi, saya kira ini sinkron. Jadi, tidak perlu lagi dipersoalkan.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Baik Pimpinan. Dengan demikian untuk pasal untuk dalam ketentuan dan pembelajaran kalau begitu mohon dicatat Fraksi PPP tidak menyetujui tercantumnya tentang Pembelajaran adalah proses interaksi mahasiswa dengan dosen dan sumber belajar pada suatu lingkungan.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Ok, saya kira tidak apa-apa. Dicatat saja. Ok, baik.
F-PDIP (DR. IR. WAYAN KOSTER, MM) : Pak Ketua,
Ini minta maaf Pak Ketua, yang tadi point 16 yang universitas tadi itu. Oh, belum. Tadikan sudah. Oh balik lagi. Oh iya.
KETUA RAPAT:
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
26 Program studi bisa disepakati ya. Jadi, Program Studi adalah kesatuan kegiatan pendidikan dan pembelajaran yang memiliki kurikulum dan metode pembelajaran tertentu dalam satu jenis pendidikan akademik, pendidikan profesi, dan pendidikan vokasi. Setuju ya. Baik.
(RAPAT : SETUJU)
Nah, sekarang ayat (16) universitas. Silakan pak Koster ada soal.
F-PDIP (DR. IR. WAYAN KOSTER, MM) :
Yang ayat (16) itu universitaskan dia tidak harus atau tidak menjadi tugas utamanya untuk menyelenggarakan pendidikan profesi. Dia hanya kalau untuk memenuhi persyaratan tertentu saja dan untuk keperluan tertentu saja barangkali ini dia laksanakan. Nah, kalau dirumuskan seperti yang dikolom sebelah itu cocok. Seakan-akan universitas itu dia menjadi keharusan untuk menyelenggarakan ketiga-tiganya itu akademik, vokasi maupun profesi. Padahal kan tidak begitu dia. Tolong dicermati karena ini Undang-Undang dan mendefinisikan sesuatu jangan sampai ini salah. Tolong Pak Nizam, Pak Djoko dan lain itu dicermati lagi ini.
KETUA RAPAT:
Ok, jadi, kalimat yang sebelah kanan ini, universitas adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik, pendidikan vokasi, dan/atau pendidikan profesi dalam sejumlah ilmu pengetahuan dan teknologi.
...:
Kalau pakai kata-kata dapat bagaimana pak?
KETUA RAPAT:
Memang ini harus alternatif saya kira. Jadi, dapat, tidak harus. Jadi, mungkin dan/atau yang pertama itu jangan dihapus, tetap saja. Dan atau. Ya, silakan Pak Nizam.
PEMERINTAH (PROF. NIZAM):
Mohon izin, sebetulnya definisi yang disebelah kiri itu juga sesuai dengan Undang-Undang Sisdiknas. Dan memang mandat utamanya itu adalah untuk menyelenggarakan pendidikan
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
27 akademik atau vokasi. Profesi itu adalah dapat diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Pakai dapat. Dan yang disebelah kiri itu sudah sesuai dengan Undang-Undang Sisdiknas.
KETUA RAPAT:
Yang pas sebelah. Yang ada merahnya itu. Yang ini.
F-PG (IR. RULLY CHAIRUL AZWAR, M.SI):
Kembali ke awal lagi. Cuma kata-kata yang dipersoalkan pak Koster itu, ini kata-kata definisi tidak lazim, begitu kan Pak Koster. Jadi, ini disimple saja dan/atau dapat melaksanakan kegiatan vokasi. Ini sebagaimana disyaratkan dalam segala macam itu yang. Oh, profesi sorry.
Dan dapat menyelenggarakan tingkat profesi titik. Tidak usah pakai memenuhi syarat.
KETUA RAPAT:
Syaratnya hilang dan dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Coba drop itu. Ok, setuju itu ya. Baik.
(RAPAT : SETUJU) Kemudian, oh iya silakan pak.
DIRJEN DIKTI:
Terima kasih.
Jadi, terkait definisi universitas, institut dan seterusnya itu sebetulnya persis sama dengan penjelasan Undang-Undang Sisdiknas pasal 20. Itu sama persis. Kalau kita mengacu ke Sisdiknas maka itu sesungguhnya harus dipakai. Mungkin itu.
KETUA RAPAT:
Jadi, maksud bapak utuh. Tidak ada dihapus. Jadi, kalimatnya universitas adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik, dan/atau pendidikan vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan jika memenui syarat menyelenggarakan pendidikan vokasi. Begitu pak. Iya, ok, ini tidak terlalu Pak Koster ya karena sesuai Sisdiknas kita konsisten saja. Setuju ya, ok.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
28 (RAPAT : SETUJU)
Ya, baik, ayat (17), Institut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik, dan/atau pendidikan vokasi dalam sekelompok cabang ilmu pengetahuan dan teknologi dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Setuju ya.
(RAPAT : SETUJU)
Kemudian ayat (18), sekolah tinggi setuju? Setuju. Sama ya.
(RAPAT : SETUJU) Ayat (19), politeknik sama ya, setuju.
(RAPAT : SETUJU) Ayat (20) akademik. Sama, setuju.
(RAPAT : SETUJU)
Ayat (21), akademik komunitas. Nah, baru, Akademi Komunitas adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi yang berbasis keunggulan lokal. Ada pendapat?
Setuju? Penjelasan Pak Dirjen.
DIRJEN DIKTI:
Baik pak. Jadi, inikan intinya akademik komunitas ini ingin mewadahi pemenuhan dari kebutuhan tenaga kerja dari berbagai sector yang bisa sifatnya local tetapi sebetulnya bisa juga tidak local. Nah, ini mungkin harus ada penyesuaian sedikit ini. Meskipun disini tidak ada masukan tetapi kita boleh memberi masukan juga. Jadi, misalnya untuk memenuhi kebutuhan dipilah.
Tenaga yang operator alat berat misalnya. Pendidikannya cukup 1 tahun. Meskipun dia di Kalimantan, oleh pabrik yang terkait dengan penambangan batubara disana. Kemudian lulus D1.
Diakan boleh kerja nanti di Aceh, di Sumatera Selatan, tambang batubaranya banyak kan bisa.
Oleh karena itu kalau saya malah ingin usul ini menjadi terlalu menyempitkah kalau berbasis local.
Jadi bagusnya bagaimana pak?
KETUA RAPAT:
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
29 Kalau begitu kita serahkan kepada Tim Perumus ini.
DIRJEN DIKTI:
Tim Perumus, intinya bagaimana bisa mencakup selain local juga memenuhi tenaga kerja pada level sesuai dengan nanti Diploma I kan ada didalam sanakan, ada tingkat Diploma I, paling tingkat Diploma II tingkat kompetensinya.
……….:
Bagaimana berbasis kebutuhan, tenaga kerja dan keunggulan local.
F-PG (IR. RULLY CHAIRUL AZWAR, M.SI):
Nanti harus ada ininya pak, harus ada juga menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau dalam satu apa dulu yang berbasis itu. Jadi, pendidikan vokasi apa? Itu mesti disebutkan. Cabang ilmu pengetahuan atau teknologi tertentu didalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang berbasis local, misalnya begitu ditambahkan. Kalau setuju silakan.
KETUA RAPAT:
Saya sarankan kita serahkan ke Timus saja.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Pimpinan,
Saya kira ini bukan hanya persoalan Timus. Kalau Timus itu redaksional yang sudah dibahas secara umum. Kalau ini kalau akademik komunitas ini saya kira itu kita minta rumusan yang untuk dari Pemerintah karena mereka yang paham. Selanjutnya apa, besarannya apa, prinsipnya apa. Jadi, untuk itu saya bilang catatan saya kira untuk akademi komunitas ini.
DIRJEN DIKTI:
Mungkin begini pak. Kalau dirumuskan yang lebih sederhana, saya pikir begini, akademi komunitas adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan berbasis keunggulan local
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
30 dan/atau untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja. Itu mungkin apa yang dirumuskan Pak Djoko tadi bisa terserap di, untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja.
F-PDIP (DR. IR. WAYAN KOSTER, MM) : Pak Ketua,
Saya usul di ini saja dulu, Pemerintah ditugaskan untuk merumuskan karena tidak memenuhi kebutuhan tenaga kerja, bukan begitu. Semua sekolah juga begitu. Ini kana da tujuan spesifiknya. Ada keahlian tertentu, terampil tertentu, tingkat pendidikannya juga maksimum DII, terus ada di sekian sector. Nah, ini. Pak Nizam kira-kira nanti sudah bisa dia nanti malam.
Tugaskan Pemerintah saja.
KETUA RAPAT:
Ok, Pak Djoko, silakan.
DIRJEN DIKTI:
Kalau ini coba saya menyusun kalimat tetapi nanti kata kuncinya ada disitu. Jadi, Akademi komunitas adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi untuk memenuhi dan mengembangkan tenaga kerja yang berbasis keunggulan local maupun keperluan khusus atau maupun kebutuhan khusus.
KETUA RAPAT:
Maupun untuk memenuhi kebutuhan khusus.
F-PDIP (DR. IR. WAYAN KOSTER, MM) :
Begini saja Pak, yang local itu tidak usah. Memenuhi dan mengembangkan tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan khusus. Sudah begitu saja. Khusus itukan bisa sector, bisa local.
KETUA RAPAT:
Silakan Bu Reni.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
31 F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Ya, ini bagaimana dengan akademi pak, bagaimana dengan ketentuan akademi yang harus terdiri dari setiap kabupaten? Itu juga kan tujuannya untuk mengcover apa yang dimaksud di akademi komunitas ini begitu. Makanya menurut saya pak lebih baik, sudah dipending saja dulu.
Kita serahkan kepada Pemerintah untuk memberikan kesempatan. Nanti Pak Dirjen diskusi lagi dengan timnya saya kira. Baru nanti bawa lagi ke kita.
KETUA RAPAT:
Iya, inikan Pak Dirjen sudah berusaha menyampaikan. Maksudnya supaya ini bisa cepat.
Tidak usah ada yang dipending-pending kalau bisa. Jadi, ini kita coba exercise ini. Akademi komunitas adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi untuk memenuhi dan mengembangkan tenaga kerja yang berbasis keunggulan local maupun untuk memenuhi kebutuhan khusus. Bagus, ya sudah ini jangan ada yang protes lagilah. Ya, diperbaiki.
F-PDIP (DR. IR. WAYAN KOSTER, MM) :
Menyelenggarakan pendidikan vokasi untuk memenuhi kebutuhan khusus sudah begitu saja.
KETUA RAPAT:
Ya, bagian dari khusus.
DIRJEN DIKTI:
Lokal ini dibutuhkan karena ini terkait dengan perkembangan di setiap kabupaten.
…….:
Atau Pimpinan…(rekaman terputus)….
KETUA RAPAT:
Termasuk keunggulan local dan kebutuhan khusus. Jadi, saya ulangi lagi, Akademi komunitas adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi untuk memenuhi dan mengembangkan tenaga kerja yang berbasis keunggulan local dan/atau kebutuhan khusus.
Setuju.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
32 (RAPAT : SETUJU)
Baik, kemudian ayat (22), Pemerintah, setuju ya.
(RAPAT : SETUJU) Pemerintah Daerah setuju ya.
(RAPAT : SETUJU)
Ayat (24), Kementerian adalah kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam bidang pendidikan. Setuju ya.
(RAPAT : SETUJU) Silakan bu.
PEMERINTAH:
Mohon izin Pimpinan,
Barangkali kami usul untuk definisi Kementerian, ini berdasarkan Undang-Undang No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara. Disana mungkin lebih relevan. Kementerian adalah perangkap pemerintahan yang membidangi urusan pemerintahan dibidang pendidikan. Jadi, bukan kementerian adalah kementerian.
KETUA RAPAT:
Coba dari legal drafter. Ada pendapat soal ini? Ikuti saja Undang-undang yang terakhir. Itu undang-undang ya bu?
PEMERINTAH:
Undang-Undang No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara. Kementerian adalah perangkat pemerintahan yang membidangi urusan pemerintahan dibidang pendidikan.
KETUA RAPAT:
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
33
Ya, jadi Kementerian adalah perangkat pemerintahan yang membidangi urusan pemerintahan dibidang pendidikan. Begitu ya itu bunyi undang-undang. Setuju ya. Ok.
(RAPAT : SETUJU) Kementerian lain adalah ada juga pasal lain?
PEMERINTAH:
Sama, jadi kementerian adalah perangkat pemerintahan yang membidangi urusan pemerintahan dalam bidang selain pendidikan, itu tidak masalah.
F-PG (H.M. NASRUDIN, SH) :
Saya mau tanya. Waktu kita buat ini sepertinya masih ada K/L-K/L. Apakah ini masih relevan dicantunmkan?
Terima kasih, itu saja.
KETUA RAPAT:
Ada yang bisa jawab itu? Kata masih ada kementerian lain, walaupun hanya satu kementerian, kan itu bukan merupakan kementerian yang secara khusus membidangi pendidikan.
Tadikan mau masuk kementerian lain. Walaupun yang sesungguhnya, yang kementerian- kementerian selama ini mengelola pendidikan juga masuk dalam kategori kementerian lain.
Walaupun itu ditiadakan tetapi masih ada kementerian lain diluar Kementerian Pendidikan yaitu Kementerian Agama. Jadi, kementerian lain tetap harus ada itu.
Terima kasih.
F-PG (IR. RULLY CHAIRUL AZWAR, M.SI):
Kalau begitu maaf ketua. Kalau begitu kalau Cuma ada satu, kita mau hanya satu.
Kementerian agama ya disebut agama. Kalau kementerian lain ini untuk menunjukkan banyak.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
34 PEMERINTAH:
Mohon izin,
Didalam beberapa pasal memang masih ada kementerian lain terutama dalam pendidikan profesi. Dalam pendidikan profesi itu kementerian bekerjasama dengan pihak lain.
F-PG (IR. RULLY CHAIRUL AZWAR, M.SI):
Setuju, setuju.
KETUA RAPAT:
Ok, supaya tidak confuse, kita sepakati.
(RAPAT : SETUJU)
Kemudian ayat (26), Lembaga Pemerintah Non-Kementerian, selanjutnya disingkat LPNK, adalah badan atau lembaga Pemerintah yang melaksanakan tugas dan fungsi yang tidak termasuk dalam tugas dan fungsi Kementerian atau kementerian lain. Setuju ya.
Ya, silakan bu.
PEMERINTAH:
Pimpinan, ada juga,
Lembaga Pemerintah Non-Kementerian selanjutnya disingkat LPNK adalah lembaga pemerintah pusat yang melaksanakan tugas pemerintahan tertentu.
KETUA RAPAT:
Definisi dalam Undang-Undang itu bu? Tolong diketik disampingnya. Coba lagi bu.
PEMERINTAH:
Dalam Perpres 103, Lembaga Pemerintah Non-Kementerian selanjutnya disebut LPNK adalah lembaga pemerintah pusat yang melaksanakan tugas pemerintahan tertentu.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
35 KETUA RAPAT:
Setuju ya, ok, ini nomenklaturnya adalah Undang-Undang.
(RAPAT : SETUJU)
Kemudian Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam bidang pendidikan. Setuju ya, ayat (27).
(RAPAT : SETUJU) Kemudian pasal 2 ini ada masukan dari Jawa Timur.
F-PDIP (DR. IR. WAYAN KOSTER, MM) : Pak Ketua,
Ini ada usulan menteri adalah di Undang-Undang 20 adalah menteri yang
bertanggungjawab dalam bidang pendidikan. Kalau sekarangkan pendidikan dan kebudayaan.
KETUA RAPAT:
Coba dari Pemerintah, silakan.
PEMERINTAH:
Pimpinan,
Jadi, kalau di Undang-Undang No. 39 definisinya semacam ini, menteri adalah pembantu Presiden yang memimpin kementerian, karena ini pendidikan didalam bidang pendidikan. Ini Undang-Undang No. 39.
KETUA RAPAT:
Dibaca pelan-pelan.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
36 PEMERINTAH:
Menteri adalah pembantu Presiden yang memimpin kementerian dalam bidang pendidikan. Itu di Undang-Undang.
KETUA RAPAT:
Ini khusus pendidikan karena kita bicara pendidikan tinggi. Setuju ya. Ok.
(RAPAT : SETUJU) Baik, kita masuk kepada pasal 2, silakan.
...:
...(tidak menggunakan mix)...
KETUA RAPAT:
Dalam pendidikan maksudnya. Jadi, menteri lain adalah menteri yang membantu Presiden yang memimpin kementerian selain bidang pendidikan.
PEMERINTAH:
Usul lagi Pimpinan. Yang atas tadi mungkin bukan dalam tetapi dibidang pendidikan lebih ringkas.
KETUA RAPAT:
Nah, dalam pendidikan tinggi. Kalau begitu yang dibawah juga selain dibidang pendidikan.
Dalam diganti di, dibawah juga. Ahli bahasa ini nanti. Selain dibidang pendidikan. Mungkin yang bagus itu selain bidang pendidikan.
...:
Tidak pakai dalam itu pak ketua?
KETUA RAPAT:
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
37 Ada masukan lain dari legal drafter? Silakan.
LEGAL DRAFTER:
Terima kasih Pimpinan.
Di Undang-Undang PPP ini definisi itu harus yang digunakan berulang-ulang. Kalau tidak berulang-ulang dia diperuntukkan untuk satu judul bab, bagian atau paragraf sedangkan dibatang tubuh kita tidak ada sama sekali menyebutkan istilah menteri lain. Makanya kita hapus menteri lain. Sama sekali tidak ada penyebutan menteri lain. Kementerian lain ada.
KETUA RAPAT:
Jadi, kita bakukan saja kementerian lain. Istilah menteri lain ternyata tidak diatur dalam Undang-Undang. Setuju dicabut menteri, baik.
(RAPAT : SETUJU) Kita pindah ke pasal 2.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Pimpinan mohon maaf,
Ini sekali lagi saya usul. Kan didalam nantikan ada mengakomodir tentang Kementerian Agama. Itu diakomodir dimana dalam hal ini? Ketika misalkan menteri lain tidak ada. Tidak, kan dia melihat di batang tubuh ini memang tidak berulang-ulang disebut menteri karena disitu sudah spesifik dicantumkan. Ada Menteri Agama misalkan yang mengurusi tentang pendidikan keagamaan. Nah, itu nanti di ketentuan umum ini diakomodirnya dimana? Kalau bukan di menteri lain atau dicantumkan saja di ketentuan umum menteri agama.
LEGAL DRAFTER:
Ada 2 kemungkinan bu. Kalau tidak kita masukkan di Ketentuan Umum, kita masukkan di pasal yang berkaitan dengan agama.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
38 KETUA RAPAT:
Baik, saya kira jadi nomenklatur yang kita atur disini adalah nomenklatur yang diatur dalam tatacara penyusunan peraturan perundang-undangan.
Baik, kemudian kita pindah ke pasal 2. Pasal 2 ada masukan tetapi kita baca dulu hasilnya, Pendidikan Tinggi berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Ini dari Jawa Timur ditambahkan dilandaskan pada semangat Proklamasi. Saya kira pasal 2 yang asli kita sahkan. Baik.
(RAPAT : SETUJU)
Kemudian pasal 3, Pendidikan Tinggi berasaskan:
a. kebenaran ilmiah;
b. penalaran;
c. kejujuran;
d. keadilan;
e. manfaat;
f. kebajikan;
g. tanggung jawab;
h. kebhinnekaan; dan i. keterjangkauan
Setuju ya. Ada masukan dari Jawa Timur. Ditambah dengan prinsip kebebasan.
Kebenaran ilmiah diganti dengan kebenaran religious.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Pimpinan mohon izin,
Untuk menjelaskan tentang azas. Ini padanannya sudah betul belum kata per kata ini?
KETUA RAPAT:
Ada dari legal drafter. Ya, silakan.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
39 F-PG (IR. RULLY CHAIRUL AZWAR, M.SI):
Sebelum ini ditanyakan ada masukan yang tidak dicantumkan tadi didalam hasil kunjungan. Ya, jadi aksesbilitas bahasa Indonesia apa? Oh, itu masuk ya, tariff maupun jumlah masuk. Ok, yang penting akses itu masuk sini karena pengertian keterjangkauan biasanya hanya rupiah.
PEMERINTAH:
Terjangkau itu artinya bisa dicapai dalam arti ekonomi maupun jarak.
KETUA RAPAT:
Ya, jadi istilah kebebasan dan kebenara religious tidak perlu masuk. Setuju ya. Baik.
(RAPAT : SETUJU)
Kemudian pasal 4, Pendidikan Tinggi berfungsi:
a. mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa;
b. mengembangkan sivitas akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil dan kooperatif melalui pelaksanaan Tridharma; dan
c. mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ini ada masukan dari Sulawesi Selatan pasal 4 ayat (1) huruf c perlu ditambahkan kata ilmu agama setelah kata teknologi. Sehingga pasal ini berbunyi mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, ilmu agama, dan/atau seni untuk memenuhi kepentingan Nasional dan peningkatan ke bangsa. Mungkin sama dengan yang tadi. Sama jadi tidak perlu masuk karena sudah ada ilmu pengetahuan dan teknologi.
F-PPP (DR. HJ. RENI MARLINAWATI):
Pimpinan begini,
Ini yang dari awal tadi sudah saya sounding tentang ini ilmu pengetahuan. Didalam ilmu pengetahuan itu ada ilmu agama. Clear itu satu tetapi kami mengusulkan ilmu pengetahuan, teknologi dan agama, begitu. Kenapa disitu ada agama? Kenapa disitu ada agama. Justru itu yang saya bilang tadi. Ini bicara tentang agama secara universal. Sementara ilmu agama bicara tentang sisi yang sebagai rumpun bagian dari ilmu pengetahuan. Itulah kenapa kemudian kami
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
40 mengusulkan di Undang-Undang. Mohon maaf, jadi kita mungkin tidak harus mengacu selalu ini content untuk level pendidikan tinggi.
Jadi, sekali lagi ketika bicara lebih jelas tentang agama. Itu bukan secara sama satu agama tetapi secara universal. Jadi, saya sekali lagi mengajukan selalu kata-kata yang baku merupakan ilmu pengetahuan, teknologi dan agama. Bukan ilmu agama tetapi agama.
KETUA RAPAT:
Ya, silakan.
F-PG (IR. RULLY CHAIRUL AZWAR, M.SI):
Ketua,
Saya pikir tadi kita sependapat dan sudah dicetuskan bahwa ilmu pengetahuan itu didalamnya ada agama. Nanti yang penting bu Reni dijamin ada pasalnya. Tidak ada masalah ilmu agama. Yang penting tadi habis objektifitas dicabut itu. Itu Pak Dirjen saya minta objekfitas dicabut.
Artinya itu mencakup ilmu pengetahuan.
Yang kedua, b itu saya ditambahkan sesuai dengan usulan saudara ketua ada kata-kata daya saing kompetitif karena teknologi itu justru untuk meningkatkan daya saing. Di b itu saja, mengembangkan sivitas ilmu yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, kompetitif dan kooperatif juga itu. Ditambahkan kompetitif dan berdaya saing karena kata-kata daya saing memang seringkali muncul atau berdaya saing juga bagus, terampil, berdaya saing dan kooperatif.
KETUA RAPAT:
Jadi, kembali ke soal yang diusulkan oleh ibu Reni. Tadi dibagian awal dan juga sama disampaikan oleh Bpk. Dirjen Pendidikan Tinggi Agama bahwa apabila kita bicara ilmu pengetahuan itu didalamnya sudah masuk ilmu agama. Jadi, saya kira inheren dengan ini. Sudah bisa disepakati ya.
PEMERINTAH:
Sebentar pak,
Ini saya justru mempermasalahkan yang point a itu mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa. Sepertinya ada sesuatu yang kemampuan dan watak.