Istilah anthropometricberasal dari kata “anthro” yang berarti manusia, sedangkan kata”metron” yang berarti ukuran. Secara definitif anthropometric
dinyatakan sebagai suatu studi yang menyangkut pengukuran dimensi tubuh manusia yang berkaitan dengan karakteristik tubuh manusia berupa bentuk, ukuran dan kekuatan tubuh.Sementara itu, rasio kita ketahui merupakan sebuah perbandingan dari ukuran-ukuran tubuh.Sejalan dengan itu, Verducci (1980: 215) menyatakan bahwa “Rasio anthropometric merupakan pengukuran lebih jauh mengenai bagian-bagian luar dari tubuh”.Pengukuran anthropometric diantaranya meliputi pengukuran yang membedakan antara panjang tungkai dan tinggi badan.
Panjang tungkai bisa dikatakan relatif panjang apabila ditinjau dari segi perbandingannya dengan tinggi badan.Pada postur yang normal, panjang tungkai dibandingkan dengan togok pada orang dewasa adalah berimbang.Tetapi dalam kenyataannya, tidak semua individu memiliki ukuran anthropometric yang seimbang seperti itu.Ada individu yang memiliki tungkai yang secara proporsional lebih panjang dibanding togok, dan sebaliknya ada juga yang memiliki togok yang lebih tinggi dibandingkan dengan tungkainya.
a. Panjang Tungkai
Panjang tungkai adalah jarak vertikal antara telapak kaki sampai pangkal paha yang diukur dengan cara berdiri tegak atau juga diukur dengan mencari selisih tinggi badan dengan tinggi togok (diukur dengan posisi duduk). Panjang tungkai sebagai bagian dari postur tubuh yang memiliki hubungan yang sangat erat dalam kaitannya sebagai pengungkit disaat melakukan lari.Panjang tungkai sebagai salah satu anggota gerak bawah memiliki peran penting dalam unjuk kerja olahraga khusunya dalam lari 100m. Sebagai anggota gerak bawah, panjang tungkai berfungsi sebagai penopang gerak anggota tubuh bagian atas, serta penentu gerakan baik dalam berjalan, berlari maupun melompat.Panjang tungkai melibatkan tulang-tulang dan otot-otot pembentuk tungkai, baik tungkai bawah maupun tungkai atas.
Panjang tungkai merupakan unsur yang sangat penting dalam melakukan lari terutama dalam lari 100m, karena dengan tungkai yang panjang dapat menunjang unsur-unsur lain yang diperlukan pada saat melakukan lari tersebut sehingga akan menghasilkan langkah yang maksimal. Tungkai panjang disertai otot-otot yang baik mempunyai peranan penting untuk melakukan tolakan dengan cepat dan kuat, karena berdasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan tungkai merupakan bagian tubuh yang sangat dominan di dalam melakukan lari yang baik,
dengan kata lain panjang tungkai sangat mempengaruhi kemampuan daya lari seseorang.
Terkait dengan hal diatas, pada dasarnya bentuk tubuh yang tinggi, atletis dan memiliki otot-otot yang baik dapat mendukung penampilan atlet untuk meraih prestasi dan pada umumnya orang yang atletis disertai dengan anggota tubuh ideal.Sehubungan dengan hal ini Syarifuddin (1997: 73) menyatakan “orang yang tinggi umumnya anggota badan, lengan dan tungkainya juga panjang.Bentuk tubuh serta anggota badan yang demikian akan memberi keuntungan bagi cabang olahraga yang spesialisasinya memerlukan tubuh yang demikian.”
b. Tinggi Badan
Jhonson dan Nelson (1986: 34) menyatakan penampila pria dan wanita dipengaruhi oleh usia, tinggi badan dan struktur badan. Tinggi badan menentukan keberhasilan dalam sejumlah cabang olahraga, termasuk cabang olahraga atletik yaitu lari 100m. Atlet yang memiliki tinggi badan lebih tinggi akan lebih menguntungkan, yaitu jangkauan langkah akan menjadi lebih jauh. Atlet yang memiliki sifat dan karakteristik tinggi badan yang ideal dimungkinkan akan mempuyai keuntungan secara mekanika.
Umumnya pemilihan cabang olahraga tidak terlepas dari postur tubuh yang dimiliki atlet, postur yang dikatakan baik bila: 1) bagian atau segmen tersusun rapi, 2) tidak ada ketegangan pada persendian, tulang, ligamen dan otot disekelilingnya.
Sebaliknya postur dikatakan jelek bila bagian-bagian tubuh tidak tegak lurus dan otot-ototnya tegang oleh karena harus mengadakan kompensasi untuk menjaga keseimbangan badannya.Postur selain memberikan tanda lahiriah juga menentukan fungsi mekanik tubuh. Kalau postur tubuh jelek akan terjadi kelainan fungsi mekanik dalam olahraga.
Berdasarkan pemaparan diatas, atlet yang memiliki tinggi badan yang lebih tinggi akan lebih baik dalam melakukan langkah dalam lari 100m, dengan kata lain tinggi badan seseorang berpengaruh terhadap daya langkah. Seorang yang memiliki tinggi badan yang lebih tinggi akan memiliki jangkauan yang lebih jauh kedepan dalam melakukan langkah dibandingkan dengan seorang yang memiliki
badan yang lebih rendah. Hal ini terjadi apabila kemampuan melompat antara atlet yang memiliki tinggi badan tinggi dan tinggi badan lebih rendah adalah sama. c. Pengungkit
Rasio anthropometrik dalam lari 100 meter terletak pada panjang tungkai dan tinggi badan. Perbandingan panjang tungkai dengan tinggi badan merupakan rasio ukuran anthropometrik yang secara biomekanika dapat mempengaruhi peningkatan kecepatan lari 100 meter.
Hal tersebut berhubungan dengan prinsip-prinsip kerja pengungkit yang memberikan keuntungan, baik dari penggunaan energi untuk memperoleh gaya yang lebih besar maupun memperoleh kecepatan dan luas gerak. Prinsip kerja pengungkit terdiri dari tiga macam pengungkit dilihat dari letak tuas (titik dimana pengungkit berotasi) dengan titik penerapan gaya dan titik penerapan beban. Pada sebuah pengungkit, jarak garis tegak lurus dari suatu gaya terhadap sumbunya dinamakan lengan momen. Lengan momen untuk penerapan gaya disebut dengan lengan gaya (FA), sedangkan lengan momen untuk beban disebut dengan lengan beban (RA).
Pengungkit tipe pertama merupakan tipe pengungkit dimana tuas terletak diantara titik penerapan gaya dan titik penerapan beban. Pengungkit tipe pertama mungkin memiliki lengan gaya dan lengan beban yang sama (gaya dan beban di terapkan sama jauhnya dari tuas). Secara mekanik ada dua macam jenis pengungkit jenis pertama yang dapat berfungsi untuk melipat-gandakan gaya atau memperbesar kecepatan dan luas gerak. Pertama, jika lengan gaya lebih panjang dari pada lengan beban, hal ini digunakan untuk memperoleh gaya yang lebih besar. Kedua, jika lengan beban lebih panjang daripada gaya akan mendapatkan keuntungan untuk memperoleh kecepatan dan luas gerak.
A
F R Gambar 2.11Pengungkit tipe I(Hidayat, 1997:227) Keterangan gambar:
A : Tuas F : Titik gaya R : Titik beban
FA : Lengan gaya RA : Lengan beban
Pengungkit tipe kedua merupakan tipe pengungkit yang memiliki lengan gaya lebih panjang dibandingkan dengan lengan beban oleh karena titik tangkap beban selalu berada diantara tuas dan titik penerapan gaya. Pengungkit tipe kedua ini memberikan keuntungan penambahan gaya dengan mengorbankan kecepatan gerak.
F A
R
Gambar 2.12Pengungkit tipe II (Hidayat, 1997:227)
Pengungkit tipe ketiga merupakan tipe pengungkit yang memiliki lengan beban lebih panjang dibandingkan dengan lengan gaya, karena kerja gaya selalu berada diantara tuas dan titik penerapan beban. Pengungkit tipe ketiga memberikan keuntungan penambahan kecepatan dengan mengorbankan pemakaian gaya. Pada umumnya sebagian besar gerak yang terjadi pada tubuh manusia merupakan penerapan prinsip kerja pengungkit tipe ketiga.
F A
R
Gambar 2.13 Pengungkit tipe III (Hidayat, 1997:228)
Semakin panjang lengan gaya, semakin sedikit energi yang digunakan untuk menggerakkan beban, demikian pula sebaliknya semakin panjang lengan beban maka akan semakin besar energi yang digunakan untuk mengatasinya.
Barthles (1981:54) mengemukakan bahwa pengungkit digunakan untuk memperoleh keuntungan mekanis, sehingga dengan gaya kecil yang diterapkan pada lengan gaya yang panjang dapat diubah untuk mengatasi atau mengangkat beban yang cukup besar atau untuk memperoleh kecepatan yang tinggi.
Pada tubuh manusia, lengan momennya adalah tulang, titik tumpu terletak pada tulang sendi dan gaya diberikan oleh otot-otot yang menyisip pada tulang. Bebannya adalah berat bagian tubuh yang bergerak ditambah beban apa saja yang ditambahkan. Jauhnya titik tangkap beban dari persendian tergantung pada berat
bagian tubuh ditambah dengan berat badan, dengan demikian semakin berat bebannya maka titik tangkap beban semakin jauh dari sumbunya.
Sebenarnya, system pengungkit pada tubuh manusia lebih banyak menggunakan system pengungkit tipe ketiga. Hal tersebut dapat dilihat pengungkit pada tubuh manusia memiliki lengan gaya lebih pendek dibandingkan dengan lengan bebannya, karena otot-otot yang bekerja atau yang menggerakkan bagian-bagian tubuh menyisip dekat dengan tulang sendi dan titik tangkap beban jauh dari persendian sebagai tuas maka system pengungkit pada tubuh manusia memberikan keuntungan dalam hal kecepatan
Ditinjau berdasarkan tipe-tipe pengungkit tersebut sistem pengungkit yang berlaku pada gerakan ekstensi sendi pergelangan kaki termasuk dalam tipe kedua. Pada sistem pengungkit tipe kedua berlaku prinsip bahwa oleh karena jarak antara sumbu dan titik gaya pada batang pengungkit lebih panjang dibandingkan jarak antara sumbu dan titik badan, maka didapat keuntungan dalam efisiensi penggunaan gaya dalam menghasilkan gerakan pengungkit. Sesuai dengan prinsip ini, dalam setiap pengungkit ekstensi sendi pergelangan kaki akan memperoleh keuntungan dalam efisiensi dalam penggunaan gaya apabila telapak kaki yang berperan sebagai batang pengungkit mempunyai ukuran lebih panjang.