• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.3 Identifikasi Marjin Pemasaran, Farmer’s Share dan Rasio

6.3.3 Rasio Keuntungan Terhadap Biaya Pemasaran

Salah satu indikator yang juga dapat digunakan untuk menilai keragaan pasar dari sebuah sistem pemasaran yaitu resiko keuntungan dan biaya pemasaran. Indikator ini digunakan untuk melihat bagaimana keuntungan yang diperoleh oleh tiap lembaga pemasaran yang terkait dalam upaya pemasaran. Berdasarkan

pengamatan yang dilakukan terhadap indikator rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran, rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran yang dihadapi tiap lembaga pemasaran pada setiap saluran pemasaran memiliki nilai yang berbeda- beda. Hal ini dikarenakan tiap lembaga pada setiap saluran pemasaran beroperasi pada tingkat biaya pemasaran dan harga penjualan yang berbeda pula. Hal ini menyebabkan keuntungan yang diterima oleh tiap lembaga menjadi berbeda. Besaran rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran Ubi Jalar di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Besaran Rasio Keuntungan Terhadap Biaya Pemasaran Ubi Jalar di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor

Lembaga Pemasaran Biaya (Rupiah) Keuntungan (Rupiah) Rasio Keuntungan Terhadap Biaya Saluran Pemasaran 1 Poktan 100,00 200,00 2,00

Pedagang Pengumpul Pasar

Induk Kramat Jati 285,00 215,00 0,75

Pedagang Pengecer 200,00 1.300,00 6,5 Saluran Pemasaran 2 Poktan 100,00 200,00 2,00 Pedagang Pengecer 330,00 2.670,00 8,09 Saluran Pemasaran 3 Poktan 100,00 200,00 2,00 Pedagang Pengecer 270,00 2.230,00 8,26 Saluran Pemasaran 4 Poktan 100,00 200,00 2,00 Pedagang Pengecer 320,00 3.180,00 9,93 Saluran Pemasaran 5 Poktan 100,00 700,00 7,00

Sumber: Data diolah (2015)

Berdasarkan Tabel 17, dapat dilihat bahwa penyebaran yang tidak merata terjadi pada saluran pemasaran 1. Pada saluran pertama, Poktan (Hurip) mempunyai nilai rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran sebesar 2,00, pedagang pengumpul Pasar Induk Kramat Jati mempunyai nilai rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran sebesar 0,75, pedagang pengecer mempunyai nilai rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran sebesar 6,50 hal ini disebabkan karena

pedagang pengecer Pasar Kramat Jati menjual harga ubi jalar yang tinggi sebesar Rp 4.500,00 dengan harga jual yang dibeli dari pedagang pengumpul Pasar Induk Kramat Jati sebesar Rp 3.000,00. Biaya yang dikeluarkan pedagang pengecer Pasar Kramat Jati relatif kecil dengan keuntungan yang didapatkannya. Pada lembaga pemasaran pedagang pengunpul Pasar Induk Kramat Jati, pedagang pengumpul Pasar Induk Kramat Jati mendapatkan keuntungan sebesar Rp 215,00 dan mengeluarkan biaya sebesar Rp 285,00. Keuntungan yang diperoleh pedagang pengumpul Pasar Induk Kramat Jati relatif kecil dikarenakan fungsi pemasarannya sebagai pedagang pengumpul yang memiliki target pembeli adalah pengecer, sehingga pedagang pengumpul tidak bisa mengambil keuntungan yang banyak.

Pada saluran pemasaran 2 Poktan (Hurip) memiliki nilai rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran sebesar 2,00, dan pedagang pengecer memiliki nilai rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran sebesar 8,09. Perolehan nilai rasio tertinggi didapatkan oleh pedagang pengecer Pasar Tangerang dikarenakan pedagang pengecer tersebut mengeluarkan biaya sebesar Rp 330,00 tetapi mendapatkan keuntungan sebesar Rp 2.670,00. Perolehan nilai rasio pada masing- masing lembaga disaluran ini tidak merata dikarenakan adanya lembaga pemasaran yang mengambil keuntungan lebih dibanding lembaga pemasaran lainnya yang ikut terlibat.

Pada saluran 3 konsisten, karena rantai pemasaran nya memiliki lembaga pemasaran yang sama dengan saluran 2. Pada saluran ini Poktan ( Hurip) memiliki nilai rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran sebesar 2,00, dan pedagang pengecer memiliki nilai rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran sebesar 8,26. Pada saluran ini perolehan nilai rasio tertinggi didapatkan oleh pedagang pengecer Pasar Ciputat dikarenakan pedagang pengecer Pasar Ciputat mendapatkan keuntungan sebesar Rp 2.230,00 dan mengeluarkan biaya sebesar Rp 270,00. Perolehan nilai rasio pada masing-masing lembaga disaluran ini tidak merata dikarenakan adanya lembaga pemasaran yang mengambil keuntungan lebih dibanding lembaga pemasaran lainnya yang ikut terlibat.

Pada saluran 4 adalah saluran yang memiliki rantai pemasaran sama dengan saluran 2 dan 3. Poktan (Hurip) memiliki nilai rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran sebesar 2,00 dan pedagang pengecer memiliki nilai rasio keuntungan

terhadap biaya pemasaran sebesar 9,93. Pedagang pengecer Pasar Minggu mendapatkan keuntungan sebesar Rp 3.180,00 dan mengeluarkan biaya sebesar Rp 320,00. Pada saluran ini perolehan nilai rasio tidak merata, dikarenakan adanya lembaga pemasaran yang mengambil keuntungan lebih dibanding lembaga pemasaran lainnya yang ikut terlibat.

Saluran pemasaran 5 adalah saluran yang paling pendek dibanding saluran pemasaran lainnya, pada saluran ini hanya satu lembaga pemasaran yang terlibat adalah Poktan (Hurip). Poktan memiliki nilai rasio sebesar 7,00, poktan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 700,00 dan mengeluarkan biaya sebesar Rp 100,00. Fungsi lembaga pemasaran (Poktan) pada saluran ini hanya menjual kepada masyarakat sekitar dan KWT (Kelompok Wanita Tani). Poktan akan menjual ubi jalar sebagai bahan baku yang akan diolah oleh KWT (Kelompok Wanita Tani) menjadi produk olahan ubi jalar seperti: kripik, saos, dan brownies.

Pada setiap saluran pemasaran pedagang pengecer menjual langsung ke konsumen akhir sehingga pedagang pengecer menguasai informasi harga di pasar yang mengakibatkan pedagang pengecer dapat mengambil keuntungan yang banyak dibanding lembaga pemasaran lainnya (Poktan dan pedagang pengumpul). Setiap lembaga pemasaran memiliki target pasar yang berbeda-beda, sehingga pedagang pengumpul harus menyesuaikan keuntungan yang diambil dengan target pasar lembaga pemasaran tersebut.

Hasil nilai rasio keuntungan yang didapatkan lembaga pemasaran terhadap biaya pemasaran yang dikeluarkan lembaga pemasaran di setiap saluran tidak merata. Saluran pemasaran yang efisien apabila perbandingan rasio keuntungan dengan biaya pemasaran masing-masing lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran merata dan cukup logis, maka sistem pemasarannya dikatakan efisien (Suherty 2009).

6.3.4 Efisiensi Pemasaran

Dalam proses pemasaran suatu komoditas, efisiensi pemasaran merupakan tujuan akhir yang ingin dicapai dalam proses penyaluran barang ataupun jasa. Efisiensi pemasaran dapat dilihat melalui dua sudut pandang yaitu melalui sudut pandang pembeli dan sudut pandang penjual. Efisiensi pemasaran yang efisien

jika biaya pemasaran lebih rendah daripada nilai produk yang dipasarkan, semakin rendah biaya pemasaran dari nilai produk yang dipasarkan semakin efisien melaksanakan pemasaran. Efisiensi harga ditentukan oleh farmer’s share, marjin pemasaran, keuntungan, total biaya pemasaran, total nilai produk lembaga pemasaran, informasi harga dan fasilitas pemasaran (Rosmawati 2011).

Mubyarto (1989) mengemukakan bahwa efisiensi pemasaran dapat tercapai apabila:

(1) Mampu menyampaikan hasil-hasil dari petani produsen kepada konsumen dengan biaya pemasaran semurah-murahnya.

(2) Mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen terakhir kepada semua pihak yang ikut serta di dalam kegiatan produksi dan pemasaran barang itu.

Efisiensi dari sistem pemasaran ubi jalar yang terjadi di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor dianalisis dengan membandingkan total biaya pemasaran di setiap saluran, total keuntungan di setiap saluran, marjin pemasaran di setiap saluran, farmer’s share di setiap saluran, dan rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran yang diterima oleh tiap lembaga pemasaran pada tiap saluran pemasaran yang terbentuk. Rincian mengenai nilai efisiensi pemasaran ubi jalar pada tiap saluran di Desa Cikarawang dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Nilai Efisiensi Pemasaran Ubi Jalar pada Tiap Saluran Pemasaran Ubi Jalar di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor

Saluran Pemasaran Marjin Pemasaran (Rupiah) Farmer's Share (Persen) Total Biaya (Rp/Kg) Keuntungan (Rp/Kg) 1 2.300,00 48,89 805,00 1.715,00 2 3.300,00 40,00 650,00 2.870,00 3 2.800,00 44,00 590,00 2.430,00 4 3.800,00 36,67 640,00 3.380,00 5 800,00 73,33 320,00 700,00

Untuk melihat saluran yang paling efisien dalam proses pemasaran ubi jalar di Desa Cikarawang dilakukan dengan pertama-tama melakukan pengamatan terhadap marjin pemasaran pada tiap saluran. Bila dilihat melalui marjin pemasaran, tiap saluran masing-masing adalah Rp 2.300,00 per kilogram, Rp 3.300,00 per kilogram, Rp 2.800,00 per kilogram, Rp 3.800,00 per kilogram dan Rp 800,00 per kilogram.

Pada saluran pemasaran 5 memiliki nilai total marjin pemasaran terkecil dibanding saluran pemasaran lainnya, sebesar Rp 800,00 per kilogram. Saluran 5 memiliki marjin pemasaran terkecil dibanding saluran pemasaran lainnya, hal ini dikarenakan sedikitnya lembaga pemasaran yang terlibat di saluran pemasaran tersebut. Lembaga pemasaran yang terlibat hanya petani produsen dan Poktan (Hurip). Bila dilihat melalui sisi marjin pemasaran, saluran 5 merupakan saluran yang paling efisien untuk digunakan oleh petani produsen, namun pengamatan terhadap marjin pemasaran saja tidak cukup untuk menentukan apakah saluran pemasaran sudah efisien dalam menyalurkan ubi jalar dari petani produsen sampai kepada konsumen akhir. Oleh karena itu, pengamatan juga perlu dilakukan pada total biaya pemasaran yang dikeluarkan pada tiap saluran pemasaran yang ada.

Bila dilihat dari sisi total biaya pemasaran yang dikeluarkan pada tiap saluran pemasaran yang ada, maka saluran 5 merupakan saluran yang paling efisien karena pada saluran ini biaya pemasaran total yang dikeluarkan untuk menyampaikan ubi jalar dari petani produsen sampai kepada konsumen akhir bernilai terkecil yaitu sebesar Rp 320,00 per kilogram. Pada saluran ini hanya satu lembaga pemasaran yang terlibat adalah Poktan (Hurip). Pada saluran 5 total biaya pemasaran terkecil dibandingkan total biaya pemasaran yang harus dikeluarkan pada saluran 1, 2, 3 dan 4. Pada saluran lainnya biaya pemasaran yang dikeluarkan masing-masing sebesar Rp 805,00 per kilogram, Rp 650,00 per kilogram, Rp 590,00 per kilogram, dan Rp 640,00 per kilogram.

Besarnya biaya total pemasaran yang harus dikeluarkan pada tiap saluran kemudian dibandingkan dengan keuntungan yang diterima pada setiap saluran pemasaran ubi jalar. Keuntungan terbesar dimiliki oleh saluran pemasaran 4 sebesar Rp 3.380,00 per kilogram, sedangkan saluran 1, 2, 3, dan 5 menghasilkan

keuntungan sebesar Rp 1.715,00 per kilogram, Rp 2.870,00 per kilogram, Rp 2.430,00 per kilogram dan Rp 700,00 per kilogram. Keuntungan yang dihasilkan pada saluran 4 merupakan keuntungan yang paling tinggi dibandingkan dengan saluran lain, namun biaya pemasaran yang harus dikeluarkan pada saluran ini sebesar Rp 640,00 per kilogram.

Rendahnya biaya pemasaran pada saluran 5 dikarenakan tidak adanya peran pedagang pengumpul dan pedagang pengecer dalam proses pemasaran sehingga biaya pemasaran yang dikeluarkan menjadi lebih kecil. Apabila dilihat dari biaya pemasaran yang dikeluarkan dan keuntungan yang dihasilkan dari tiap saluran pemasaran, maka saluran 4 merupakan saluran yang lebih efisien dibandingkan saluran lainnya, walaupun total biaya yang dikeluarkan relatif besar. Biaya yang dikeluarkan untuk setiap Rp 1,00 per kilogram akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp 5,28.

Dapat dilihat pada Tabel 18 bahwa total keuntungan terbesar bukan berarti saluran pemasaran tersebut merupakan saluran pemasaran yang efisien, karena total keuntungan terbesar bisa saja disebabkan banyaknya lembaga pemasaran yang terlibat dan mengambil keuntungan di saluran pemasaran tersebut. Dari hasil total keuntungan dibagi total biaya pemasaran pada saluran 1, 2, 3, 4 dan 5 menghasilkan nilai masing-masing sebesar 2,13; 4,41; 4,11; 5,28; 2,18.

Biaya pemasaran yang kecil mampu menghasilkan keuntungan yang besar. Hal ini juga sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Mubyarto (1989) di mana dengan biaya pemasaran yang serendah-rendahnya mampu menyampaikan produk dari petani produsen sampai kepada konsumen akhir.

Langkah selanjutnya yang dilakukan yaitu mengetahui bagian yang diterima petani produsen dari harga yang diterima oleh konsumen akhir (farmer’s share). Farmer’s share tertinggi terdapat pada saluran 5 yaitu sebesar 73,33 persen. Tingginya farmer’s share pada saluran ini disebabkan oleh tingginya harga jual yang diterima oleh petani produsen karena tidak adanya keterlibatan dari pedagang pengumpul dan pedagang pengecer sehingga petani produsen harus mengambil alih peran dari kedua lembaga pemasaran tersebut. Pada saluran lainnya, besarnya bagian petani produsen dari harga yang diterima oleh konsumen lebih kecil dibandingkan dengan saluran 5 masing-masing sebesar 48,49 persen,

40,00 persen, 44,00 persen, 36,67 persen. Dari analisis yang dilakukan pada efisiensi pemasaran melalui indikator farmer’s share maka saluran 5 merupakan saluran yang paling efisien apabila dibandingkan dengan saluran pemasaran lainnya.

Indikator yang kemudian juga digunakan untuk menganalisis efisiensi pemasaran yang terjadi pada tiap saluran pemasaran ubi jalar di Desa Cikarawang yaitu rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran. Melalui alat analisis ini dan dengan mengacu kepada konsep efisiensi yang diungkapkan oleh Mubyarto (1989) di mana efisiensi pemasaran tercapai apabila saluran pemasaran mampu melakukan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar oleh konsumen akhir kepada semua pihak yang ikut serta di dalam kegiatan produksi dan pemasaran barang tersebut, maka dapat dilihat saluran mana yang memiliki efisiensi pemasaran yang paling tinggi adalah saluran 5. Nilai rasio yang dihasilkan pada saluran ini sebesar 7,00. Hal ini dikarenakan sedikitnya biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran yang terlibat (Poktan). Pembagian yang terjadi pada saluran ini memang dapat dikatakan cukup merata. Saluran pemasaran ubi jalar 1 melibatkan lebih banyak lembaga pemasaran dibandingkan dengan saluran lainnya, pada saluran ini terdapat pedagang pengumpul. Sehingga saluran ini terdiri dari Poktan (Hurip), pedagang pengumpul, dan pedagang pengecer. Pada saluran ini rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran yang diterima oleh tiap lembaga pemasaran yaitu 0,75, dan 6,5. Pada saluran ini untuk Rp 1 per kilogram biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp 2,13 per kilogram.

Saluran pemasaran 2 melibatkan dua lembaga pemasaran yaitu Poktan (Hurip) dan pedagang pengecer. Pada saluran ini rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran yang diterima oleh tiap lembaga pemasaran yaitu 2,00 dan 8,09. Pada saluran ini untuk setiap Rp 1,00 per kilogram biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp 4,41 per kilogram.

Saluran pemasaran 3 konsisten seperti saluran pemasaran 2 dan 4, hanya terdapat perbedaan di biaya pemasaran sehingga menghasilkan rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran yang berbeda. Saluran pemasaran ini melibatkan dua lembaga pemasaran yaitu Poktan (Hurip) dan pedagang pengecer. Pada saluran ini

rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran yang diterima oleh tiap lembaga pemasaran yaitu 2,00 dan 8,26. Pada saluran ini untuk setiap Rp 1,00 per kilogram biaya yang dikeluarkan, menghasilkan keuntungan sebesar Rp 4,11 per kilogram.

Saluran pemasaran 4 melibatkan dua lembaga pemasaran yaitu Poktan (Hurip) dan pedagang pengecer. Pada saluran ini rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran yang diterima oleh tiap lembaga pemasaran yaitu 2,00 dan 9,93. Pada saluran ini untuk setiap Rp 1,00 per kilogram biaya yang dikeluarkan menghasilkan keuntungan sebesar Rp 5,28 per kilogram.

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan terhadap analisis rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran ubi jalar yang terjadi di Desa Cikarawang maka dapat dikatakan bahwa saluran 5 merupakan saluran yang relatif efisien untuk menyampaikan komoditas ubi jalar dari petani produsen sampai kepada konsumen akhir karena pada saluran 5 lembaga pemasaran mengambil keuntungan yang seimbang dengan biaya pemasaran yang dikeluarkan.

Dokumen terkait