• Tidak ada hasil yang ditemukan

Reaksi Xanthoproteat dengan Protein

Dalam dokumen LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II (Halaman 67-75)

LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka

3.3. Cara Kerja

3.3.5. Reaksi Xanthoproteat dengan Protein

Memasukkan sejumlah kecil serbuk kasein atau gelatin ke dalam tabung reaksi. Menambahkan 1ml HNO3 pekat, kemudian memanaskan perlahan-lahan. Mengamati perubahan warna yang terjadi.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Tabel pengamatan

2.1.1 Pengendapan protein dan kation

Perlakuan Pengamatan

Tabung 1 : 5 ml air + Cu SO4 10% dari warna bening menjadi warna biru Tabung 2 : 5 ml larutan albumin

+ Cu SO 4 10%

warna biru muda dan terbentuk endapan albumin yang berbentuk heliks

Tabung 3 : 5 ml air + 4 tetes HCl 10 % + Cu SO4 10%

warna yang awalnya bening menjadi warna biru muda

Tabung 4 : 5 ml larutan albumin + 4 tetes HCl 10% + Cu SO4 10%

terjadi emulsi dan terdapat endapan albumin

Tabung 5 : 5 ml air 4 tetes NaOH 10% + Cu SO4 10%

abung 6 : 5 ml albumin + 4 tetes NaOH 10% + Cu SO4 10%

NaOH tidak bereaksi dengan albumin dan terbentuk benang-benang, larutan berubah warna jadi biru muda dan terbentuk endapan albumin

2.2 Pembahasan

2.2.1 Koagulasi protein

Pada percobaan koagulasi protein, protein yang digunakan merupakan albumin putih telur. Pada uji ini, albumin ditambahkan dengan asam asetat dan apabila dipanaskan maka akan terbentuk endapan. Koagulasi yang dimaksud adalah merupakan proses penggumpalan atau pembekuan sehingga membentuk endapan. Misalnya jika terjadi luka, langkah awal koagulasi adalah dengan pelepasan komponen fosfolipid (en:phospholipid) yang disebut faktor jaringan (en:tissue factor) dan fibrinogen sebagai inisiasi sebuah reaksi berantai]. Segera setelah itu keping darah bereaksi membentuk penyumbat pada permukaan luka, reaksi ini disebut hemostasis awal (en:primary). Hemostasis lanjutan (en:secondary) terjadi hampir bersamaan:protein dalam plasma darah yang disebut faktor koagulasi merespon secara berjenjang dan sangat rumit untuk membentuk jaring-jaring fibrin yang memperkuat penyumbatan keping darah (Furie, 2005). Pada uji koagulasi, panas digunakan untuk mengacaukan ikatan hydrogen dan interaksi hidrofobik nonpolar pada protein sehingga protein albumin terdenaturasi dan terkoagulasi sehingga kemampuan mengikat airnya menurun. Hal tersebut dapat terjadi karena suhu tinggi dapat

meningkatkan energy kinetik dan menyebabkan molekul penyusun protein bergerak atau bergetar sangat cepat sehingga mangacaukan ikatan molekul tersebut. Hal ini terjadi karena energy panas akan mengakibatkan terputusnya interaksi non-kovalen yang ada pada struktur alami protein tapi tidak memutuskan ikatan kovalennya yang berupa ikatan peptida.

2.2.2 Pengendapan protein dan kation

Selanjutnya adalah percobaan mengenai pengendapan protein, dimana pada praktikum kali ini pengendapan yang dilakukan adalah pengendapan dengan amonium sulfat dan pengendapan dengan mineral pekat. Dalam pemgendapan dengan amonium sulfat pada semua sampel yang diuji menunjukkan adanya pengendapan larut. Hal tersebut menunjukkan bahwa suatu protein dapat diendapkan. Sedangkan untuk pengendapan dengan mineral pekat hanya dilakukan pada sampel susu dan susu kedelai. Dimana pada sampel susu jika dengan 1 ml HNO3 telah terjadi endapan. Untuk sampel kedelai pada percobaan kedua yaitu dengan 2 ml HCl baru terjadi pengendapan. Sesuai dengan teori bahwa pengendapan protein terjadi dikarenakan adanya gugus fungsional dan bentuk ion ganda (switzer ion) yang terdapat pada sruktur protein yang telah dicampurkan sebelumnya.

Suatu asam amino mengandung baik suatu ion karboksilat (-COO2-) maupun suatu ion ammonium (-NH3+) dalam suatu molekul. Oleh karena itu asam amino bersifat amfoter.: asam ini dapat bereaksi dengan asam(HCl) ataupun dengan basa(NaOH) dalam praktikum, masing-masing dengan menghasilkan suatu kation atau suatu anion.

Dalam Asam: Suatu kation Dalam Basa: Suatu anion

C

CO

2-

H

3

N

+

H

R

+ H

+

C

CO

2

H

H

3

N

+

H

R

C CO2- H3N+ H R H + OH- C CO2- H2N H R + H2O

Pengendapan ini terjadi apabila protein yang berada dalam keadaan isoelektrik bermuatan negative bertemu dengan logam yang bermuatan positif sehinggaa menyebabkan netralisasi dan menghasilkan endapan garam proteinat yang mengendap dan bersifat reversible. Larutan protein telur dan susu pada saat ditambah dengan CuSO4 membentuk endapan yang berwarna biru. Warna biru ini berasal dari logam Cu2+ yang berwarna biru. Saat penambahan CuSO4 berlebih menyebabkan endapan biru tersebut larut sehingga membentuk larutan yang berwarna biru. Berdasarkan hal ini berarti pengendapan protein dengan logam berat bersifat reversible.

Reaksi secara umum :

2.2.3 Pengaruh logam berat pada protein dan asam amino

Percobaan ketiga yaitu pengendapan dengan logam dihasilkan tabung 1 PbNO3 + 1mL albumindan tabunng 2 PbNO3 + kasein hasil yang diperoleh kedua dua terdapat endapan berwarna putih susu dan larutan keruh. Endapan yang terbentuk merupakan endapan yang berasal dari protein yang diuji, endapan ini terjadi karena adanya reaksi logam Pb dengan protein. Logam Pb ini merupakan logam yang mengandung ion positif. Dimana salah satu sifat dari logam yang mengandung ion positif dapan menghasilkan endapan jika direaksikan dengan protein. Sama halnya dengan Hg yang juga merupakan logam yang mengandung ion positif yang juga dapat menghasilkan endapan jika direaksikan dengan protein dasar reaksi pengendapan oleh logam berat adalah penetralan muatan. Dimana pengendapan akan terjadi bila protein berada dalam bentuk isoelektrik yang bermuatan negatif, dengan adanya muatan positif dari logam berat akan terjadi reaksi netralisasi dari protein dan dihasilkan garam protein yang mengendap.

Dari percobaan ini dapat diketahui bahwa protein dapat terkoagulasi sebagai akibat dari denaturasi protein. Denaturasi protein dapat terjadi karena adanya pengaruh dari logam-logam berat. Jika terjadi denaturasi protein, akan terjadi pula penurunan kelarutan protein dalam air, sehingga terbentuklah gumpalangumpalan putih.

Penambahan logam berat seperti AgNO3, Pb-asetat, dan HgCl akan membentuk endapan logam proteinat. Ikatan yang terbentuk amat kuat dan akan memutuskan jembatan garam, sehingga protein mengalami denaturasi. Secara bersamaan gugus – COOH dan gugus –NH2 yang terdapat dalam protein dapat bereaksi dengan ion logam berat dan membentuk senyawa kelat. Jumlah endapan yang yang dihasilkan dipengaruhi oleh kereaktifan logam berat yang ditambahkan. Logam Ag dan Hg lebih reaktif daripada Pb karena kedua logam tersebut merupakan logam transisi pada system periodic unsur.

Persamaan reaksi :

2.2.4 Reaksi warna biuret untuk protein

Pada praktikum ini hal pertama yang dilakukan adalah memasukan 1ml larutan protein albumin pada masing-masing tabung reaksi, lalu ditambahkan dengan 1 ml NaOH 0,1 N pada larutan protein albumin. Setelah ditambah larutan NaOh, terdapat endapan putih di dalam larutan dan bintik-bintik berwarna merah muda, yang sebelumnya albumin (putih telur) berwarna putih bening kental. Penambahan larutan NaOH pada larutan protein tersebut yaitu sebagai katalis yang berfungsi untuk menghancurkan atau memecahkan protein. Kemudian pada larutan protein albumin tersebut ditambahkan dua tetes larutan CuSo4 0,1 N, sampai timbul warna pada larutan protein albumin. Setelah ditambahkan larutan CuSo4 pada larutan protein albumin, terjadi perubahan warna pada larutan albumin yaitu warna larutan menjadi berwarna ungu dan warna ungu tetap tidak hilang walaupun di kocok, serta masih terdapat endapan putih.

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan terbukti adanya protein pada larutan albumin. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

R – CH – COOH + 2NaOH + CuSO4  R – CH – COOH + Cu(OH)2 + Na2SO4

NH2 NH2

Larutan CuSO4 yang bersifat basa akan bereaksi dengan polipeptida, sedangkan polipeptida merupakan penyusun protein. Yang menandakan adanya protein yaitu terdapat ikatan peptida yang lebih banyak, hal itu terbukti saat penambahan larutan CuSO4 dan dikocok larutan tetap berwarna ungu yang menandakan bahwa ikatan peptidanya kuat, karena apabila ikatan peptidanya lemah, penambahan larutan CuSO4 akan menyebabkan warna ungu tersebut memudar saat dikocok. Uji Biuret digunakan untuk membuktikan adanya peptida pada larutan protein albumin. Dan dari hasil percobaan yang telah dilakukan terbukti adanya protein pada larutan albumin.

2.2.5 Reaksi xanthroproleat dengan protein

Uji xanthoprotein digunakan untuk menunjukkan adanya asam amino tirosin, fenilalanin, dan triptofan dalam protein. Inti benzen yang terdapat di dalam molekul tirosin, fenilalanin, dan triptofan akan ter-nitrasi dengan penambahan HNO3. Senyawa nitro yang terbentuk berwarna kuning dan dalam lingkungan alkalis akan terionisasi dengan bebas dan warnanya menjadi lebih tua atau berubah menjadi jingga.

Uji xantoprotein merupakan uji kualitatif pada protein yang digunakan untuk menunjukkan adanya gugus benzena (cincin fenil). Asam amino yang menunjukkan reaksi positif untuk uji ini adalah tyrosin, phenilalanin, dan tryptophan. Reaksi positif ada uji xantoprotein adalah munculnya gumpalan atau cincin warna kuning. Pada uji ini, digunakan larutan HNO3 yang berfungsi untuk memecah protein menjadi gugus benzene.

BAB V

KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan dapat disimpulkan bahwa :

 Pada protein dapat terdenaturasi karena pengaruh logam berat, suhu (pemanasan), dan pH (asam-basa).

 Pada uji koagulasi, terbentuk gumapalan-gumpalan yang berasal dari protein. Koagulasi dapat terjadi bila larutan protein berada pada titik isoelektriknya.

DAFTAR PUSTAKA

Andika Rudianto. 2012. Asam amino dan protein Bebas.

http://andikarudianto.blogspot.com/2012/05/asam-amino-dan-protein.html Qworo. 2012. Kimia Organik : asam amino.

http://qworo.blogspot.com/2012/05/kimia-organik-asam-amino.html Velahumaira. 2014. Laporan Kimia Organik II.

LAMPIRAN

PERTANYAAN PRAPRAKTIK

1. Apa artinya residu, denaturasi, dan polipeptida?

2. Jelaskan mengapa asam glutamat bersifat asam dan lisina adalah asam amino basa? 3. Apakah tripeptida akan memberikan uji Biuret positif? Jelaskan!

4. Manakah dari berikut yang membedakan protein dan asam amino biuret, ninhidrin, atau xantoproteat?

Jawaban:

1. Residu adalah protein yang terdiri dari unit monomer asam amino, atau peptida merupakan polimer asam amino dan asam amino yang menyusun peptida tersebut dinamakan residu.Denaturasi adalah perusakan bentuk tiga dimensi dari molekul oleh berbagai cara fisik dan kimia, seperti perubahan suhu atau pH sedikit saja mengakibatkan perubahan struktur, selain itu juga disebabkan oleh pengaruh sinar X atau sinar UV dan penambahan pelarut organic.Polipeptida adalah apabila peptida mengandung lebih dari 10 asam amin.

2. Asam glutamat bersifat asam dan lisina bersifat basa karena struktur asam glutamat terdapat gugus penentu –COOH (gugus penentu asam) sedangkan pada struktur lisina terdapat gugus penentu –NH2 (gugus penentu basa).

3. Uji biuret selalu positif untuk protein, tetapi untuk asam amino tidak. Hasil positif dinyatakan dengan pembentukan kompleks ungu merah jambu, jika Cu2+ dalam larutan basa ditambahkan pada polimer protein yang mengandung ikatan poliamida, dimana protein adalah poliamida, zat ini dapat dihidrolisis dalam larutan atau basa, menghasilkan asam bebas. Reaksi ini digambarkan dengan tripeptida yang residu asam aminonya terikat pada ikatan amidanya.

4. Uji yang membedakan protein dari asam amino yaitu uji biuret dimana sesuai jawaban no.3, dimana uji biuret selalu positif untuk protein, tetapi tidak untuk asam amino. Protein adalah poliamida, yang dapat dihidrolisis dalam larutan atau basa menghasilkan asam bebas. Reaksi ini digambarkan dari ikatan peptida yaitu peptida yang terdiri dari 3 asam amino

Dalam dokumen LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II (Halaman 67-75)

Dokumen terkait