II. GAMBARAN PELAYANAN BADAN PENGELOLAAN PAJAK DAERAH
2.2. Kinerja Pelayanan BPPD Kota Palembang Periode Tahun
2.2.2. Realisasi Anggaran
35
Capaian kinerja sasaran 2, yaitu: Meningkatnya kualitas Badan Pendapatan Daerah dan pengelolaan administrasi perkantoran, yang terdiri dari 2 (dua) indikator sebagai berikut :
a. Capaian indikator kinerja indeks kepuasan masyarkat pada tahun 2017 telah mencapai target dan realisasi yang telah ditentukan dengan realisasi dan capaian kinerja sebesar 100%, dikarenakan dari 19 kegiatan yang direncanakan pada tahun 2017 telah terlaksana sesuai dengan yang ditargetkan.
b. Capaian indikator kinerja tingkat pengelolaan administrasi perkantoran pada tahun 2017 telah mencapai target dan realisasi yang telah ditentukan dengan realisasi dan capaian kinerja sebesar 100%, dikarenakan dari 4 kegiatan yang terkait telah terealisasi.
Capaian kinerja sasaran 3, yaitu: Meningkatnya Kualitas Aparatur, yang terdiri dari 2 (dua) indikator sebagai berikut :
a. Pada tahun 2017 indikator kinerja tingkat disiplin aparatur telah terealisasi sesuai dengan yang dibutuhkan terkait pengadaan pakaian dinas beserta perlengkapannya.
b. Indikator Kinerja tingkat ketersediaan aparatur yang memiliki sertifikat perpajakan daerah, pertambahan jumlah pegawai mempengaruhi persentasi jumlah pegawai yang memiliki sertifikat perpajakan, sedangkan untuk melaksanakan kegiatan diklat perpajakan untuk penambahan pegawai yang belum memiliki serifikat membutuhkan anggaran yang cukup besar. Karena bersifat kontribusi yang diadakan diluar daerah.
2.2.2. Realisasi Anggaran
Dalam akuntabilitas keuangan, alokasi dan realisasi anggaran Badan
Pengelolaan Pajak daerah Kota Palembang dari sisi pendapatan dan
belanja dilihat dari tabel berikut :
36 Tabel 2.3
Anggaran dan Realisasi Pelayanan BPPD Kota Palembang Menurut Kelompok BelanjaTahun 2013-2017
Uraian
Rencana Anggaran pada Tahun ke- (dalam juta rupiah)
Realisasi Anggaran pada Tahun ke- (dalam juta rupiah)
Rasio antara Realisasi dan Anggaran Tahun ke-
Rata-rata Pertumbuhan (dalam persen)
2013 2014 2015 2016 2017 2013 2014 2015 2016 2017 2013 2014 2015 2016 2017 Anggaran Realisasi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18)
Sumber: Laporan Keuangan Konsolidasi BPPD Tahun 2013-2017
37 Tabel 2.4
Anggaran dan Realisasi Pelayanan BPPD Kota Palembang Menurut Jenis BelanjaTahun 2013-2017
Uraian
Rencana Anggaran pada Tahun ke-
(dalam juta rupiah) Realisasi Anggaran pada Tahun ke-
(dalam juta rupiah) Rasio antara Realisasi dan Anggaran Tahun ke-
Rata-rata Pertumbuhan (dalam persen)
2013 2014 2015 2016 2017 2018 2013 2014 2015 2016 2017 2013 2014 2015 2016 2017 Anggaran Realisasi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19)
Sumber: Laporan Keuangan Konsolidasi BPPD Tahun 2013-2017
38 Pencapaian kinerja dari program dan kegiatan menunjukkan rata-rata pencapaian indikator kinerja keluaran (output) adalah 100%, dan rata-rata pencapaian indikator kinerja hasil (outcome) juga sebesar 100%. Sedangkan untuk realisasi keuangan terdapat Sisa Lebih Pagu Anggaran (SILPA).
3. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan BPPD Kota Palembang
Tantangan merupakan ancaman dari faktor eksternal yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan BPPD. Sedangkan, peluang adalah kesempatan yang datang dari faktor eksternal yang dapat mendukung tercapainya tujuan BPPD dalam lima tahun. Dengan memahami tantangan dan peluang di lingkungan strategisnya, diharapkan BPPD dapat membuat strategi yang tepat demi terwujudnya tujuan pembangunan daerah.
1. Tantangan
a. Potensi kota Palembang sebagai ibukota provinsi Sumatera Selatan yang terus berkembang dan banyak menyelenggarakan event-event internasional masih belum optimal penggalian sumber-sumber penerimaan pajak daerahnya, baik dari sisi intensifikasi maupun ekstensifikasi.
b. Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam memahami dan menjalankan tugas dan fungsi kelembagaan / ketatalaksanaan masih belum memadai, terutama teknis perpajakan daerah.
c. Masih kurangnya upaya pengawasan dan pemeriksaan pajak daerah terutama dalam memperhitungkan, membayar, dan melaporkan pajak daerah dengan benar.
d. Masih banyak terdapat kendala dalam sistem pengelolaan pajak yang
perlu pembenahan serta peningkatan. Pemanfaatan teknologi dapat
membantu meminimalisir dan mengatasi kendala-kendala yang ada serta
meningkatkan pengelolaan pajak daerah dengan lebih baik.
39 e. Kurangnya sosialisasi dan informasi tentang pembayaran pajak daerah sehingga masih banyak masyarakat yang belum paham akan aturan, persyaratan, dan kemudahan dalam membayar pajak daerah.
f. Kualitas pelayanan pada masyarakat khususnya WP dirasakan belum optimal dan belum memuaskan, baik yang dilayani oleh BPPD maupun Unit Pelaksana Teknis (UPT). Hal ini sesuai dengan keinginan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang mudah, murah, tidak berbelit-belit, adanya kepastian, cepat dan tepat waktu dalam pengurusan administrasinya.
2. Peluang
a. Dampak diberlakukannya UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah adalah dilimpahkannya BPHTB dan PBB Sektor Perdesaan dan Perkotaan dari Pusat ke Daerah. Hal ini merupakan peluang bagi peningkatan penerimaan pajak daerah;
b. Dukungan dari Lembaga Eksekutif dan Lembaga Legislatif kepada Badan Pengelolaan Pajak Daerah atas pengelolaan pajak daerah di wilayah Kota Palembang;
c. Kondisi sosial di wilayah Kota Palembang cukup kondusif sehingga dapat memberikan rasa aman bagi investor untuk berinvestasi di wilayah Kota Palembang;
d. Dengan semakin meningkatnya kegiatan penyelenggaraan event-event terutama yang berskala internasional di wilayah Kota Palembang akan bertambah jumlah perusahaan / pengusaha yang melakukan kegiatan bisnisnya sehingga diharapkan dapat meningkatkan potensi PAD khususnya pajak daerah;
e. Bantuan dana dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah untuk
pelaksanaan kegiatan dan pembangunan daerah;
40 f. Kemajuan teknologi dan pemanfaatan perangkat keras yang menunjang
efisiensi dan efektivitas pelayanan kepada publik;
g. Perkembangan PDRB dan pendapatan perkapita di wilayah Kota Palembang dari tahun ke tahun mengalami kenaikan, sehingga mengakibatkan peningkatan dalam pendapatan daerah;
h. Kerja sama yang telah terjalin baik dengan para stakeholder, seperti
pemerintah daerah dan instansi terkait lainnya, pihak perbankan,
pengusaha, asosiasi dan tokoh masyarakat, sehingga pelayanan publik
dapat lebih baik.
41
PERMASALAHAN DAN ISU-ISU STRATEGIS
Identifikasi permasalahan dan isu-isu strategis merupakan tahapan yang krusial pada penyusunan rencana strategis. Pada identifikasi permasalahan dipetakan akar masalah yang menjadi penghambat pencapaian kinerja BPPD periode sebelumnya.
Dengan demikian, diharapkan kebijakan yang dibuat lima tahun mendatang dapat secara efektif menyelesaikan permasalahan. Permasalahan ini merupakan salah satu dasar untuk menentukan isu-isu strategis yang menjadi fokus kerja BPPD lima tahun mendatang.
Selain itu perumusan isu-isu strategis BPPD Kota Palembang periode 2018 - 2023 juga berdasarkan pada telaahanVisi, Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih,dan KLHS serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/Sustainable Development Goals (SDG’s).
3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi BPPD Kota Palembang
Setelah RPJMD Kota Palembang Tahun 2013-2017 berakhir, masih banyak persoalan pembangunan yang harus diselesaikan.
Permasalahan yang dihadapi BPPD Kota Palembang antara lain :
a. Masih kurangnya produk hukum yang diperlukan berkaitan dengan optimalisasi penerimaan pajak daerah seperti Peraturan Daerah, Peraturan Walikota, Keputusan Walikota dan Standar Operasional Prosedur mengenai pelayanan PBB, BPHTB, dan pajak daerah lainnya yang dapat dijadikan dasar pelaksanaan kerja sehingga masih terbatas dalam melakukan upaya peningkatan kinerja dan mengevaluasi kinerja.
BAB
III
42 b. Kota Palembang sebagai ibukota provinsi Sumatera Selatan yang terus berkembang dan banyak menyelenggarakan event-event internasional masih belum optimal penggalian sumber-sumber penerimaan pajak daerahnya, baik dari sisi intensifikasi maupun ekstensifikasi. Terlihat masih belum tergali objek pajak dan dipetakan secara detail potensi yang ada.
c. Sumber daya manusia secara kualitas masih belum memadai di bidang teknis pengelolaan pajak daerah khususnya yang memiliki sertifikasi. Keterbatasan kualitas SDM ini juga disebabkan terbitnya berbagai regulasi baru tentang pajak daerah sehingga persepsi dari setiap pegawai Badan Pengelolaan Pajak Daerah yang belum merata tentang regulasi tersebut. Juga disebabkan karena banyaknya pegawai yang belum sepenuhnya memahami tentang tugas pokok dan fungsi pada unit kerjanya. Selain itu masih belum sepenuhnya memahami tentang pentingnya Standar Operasional Prosedur. Kelemahan lainnya di bidang SDM adalah belum adanya pegawai pada jabatan fungsional.
d. Kendala yang ada di bidang sarana / prasarana adalah beberapa UPT masih belum memiliki gedung UPT tersendiri sehingga menyulitkan dalam hal pelayanan kepada masyarakat serta administrasi dan urusan kantor lainnya.
Tabel 3.1
Hasil Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Palembang
No Komponen Yang Dinilai
2015 2016 2017
Bobot Nilai Rasio Bobot Nilai Rasio Bobot Nilai Rasio
1 Perencanaan Kinerja 30 28,5 95
2 Pengukuran Kinerja 25 17,5 70
3 Pelaporan Kinerja 15 13,21 88,07
4 Evaluasi Internal 10 7,27 72,68
5 Capaian Kinerja 20 14,38 71,88
Nilai Hasil Evaluasi 100 80,85 80,85
Sumber: Hasil Evaluasi atas Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Palembang Tahun 2016 dan 2017.
43 Berdasarkan uraian permasalahan di atas, Pemetaan Permasalahan untuk Penentuan Prioritas dan Kebijakan Renstra BPPD Kota Palembang Tahun 2018 - 2023 secara ringkas dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 3.2
Pemetaan Permasalahan
untuk Penentuan Prioritas dan Kebijakan Renstra BPPD
No. Masalah Pokok Masalah Akar Masalah
1 Kualitas Perencanaan inkonsistensi antara RPJM
dgn Renstra Ada kebijakan yg berubah Intervensi hak budget DPRD Tidak tercapainya target
dalam Renstra
Komitmen organisasi PD untuk melaksanakan prioritas kegiatan dalam pencapaian tujuan RPJM Tidak seluruh rencana kegiatan konsisten memperoleh alokasi anggaran
SDM Perencana atau pihak terkait dalam penyusunan perencanaan dimutasi Pejabat penanggung jawab pencapaian target RPJM tidak mempunyai kompetensi
3.2 Telaahan Visi, Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih
Tujuan penelaahan Visi, Misi, serta Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dan pendorong pelayanan Perangkat Daerah yang dapat mempengaruhi pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah tersebut. Adapun Visi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kota Palembang periode 2018 - 2023 sebagaimana tercantum dalam dokumen RPJMD Tahun 2018 - 2023 adalah:
Pelembang Emas Darussalam 2023
Adapun misi pembangunan daerah Pemerintah Kota Palembang lima tahun
mendatang adalah sebagai berikut:
44 1. Mewujudkan pembangunan infrastruktur perkotaan yang terpadu, merata bekeadilan, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang berbasis Teknologi dan Informasi
2. Mewujudkan masyarakat yang religius, berbudaya, beretika, melalui pembangunan budaya integritas yang didukung oleh Pemerintahan yang bersih, berwibawa dan profesional
3. Mewujudkan Palembang kota yang dinamis sebagai simpul pembangunan regional, nasional dan internasional yang kompetitif dan komparatif dengan menjamin rasa aman untuk berinvestasi
4. Mewujudkan ekonomi kerakyatan yang inovatif dan kreatif serta berdaya saing tinggi 5. Menjadikan Palembang Kota Pariwisata sungai dan budaya serta event olahraga
klas dunia yang harmoni antara kehidupan manusia dan alam
Dalam rangka mewujudkan visi dan misi tersebut sangat ditekankan pentingnya pelibatan masyarakat secara aktif dalam proses pembangunan. Pelibatan masyarakat ini menjadi hal yang harus diperhatikan oleh BPPD Kota Palembang sebagai perangkat daerah yang mempunyai tugas membantu Walikota dalam menjalankan fungsi pengelolaan pajak daerah. BPPD Kota Palembang memiliki tugas membuat mekanisme pembangunan yang melibatkan warga kota secara aktif dalam pembangunan kota. Dari kelima Misi RPJMD Kota Palembang, BPPD Kota Palembang secara khusus menunjang tercapainya misi 2 dengan tujuan sebagai berikut:
1. Meningkatkan penerimaan pajak daerah sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk pembiayaan pembangunan daerah
2. Mewujudkan pelayanan publik yang berkualitas
Dari tujuan tersebut, Badan Pengelolaan Pajak Daerah Kota Palembang menetapkan kebijakan :
1. Optimalisasi penerimaan pajak daerah melalui penguatan kepatuhan, pengawasan dan penggalian potensi pajak daerah dengan memanfaatkan data dan informasi.
2. Mengembangkan sistem pengelolaan pajak daerah berdasarkan peraturan dan
perundang-undangan.
45 3. Peningkatan kualitas pelayanan dan pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana
sebagai penunjang pelayanan pajak daerah.
4. Peningkatan pengelolaan administrasi perkantoran.
5. Menerapkan reward dan punishment terhadap prestasi kerja.
6. Mengembangkan potensi kemampuan personil sesuai bidang dan tanggung jawabnya.
Berdasarkan Identifikasi permasalahan pelayanan BPPD Kota Palembang, terdapat beberapa faktor penghambat dan pendorong yang dapat mempengaruhi pencapaian visi dan misi Walikota serta Wakil Walikota sebagaimana Tabel. 3.3 berikut:
Tabel 3.3
Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah
No. Misi/Program Penghambat Pendorong
1 Mewujudkan masyarakat yang religius, berbudaya, beretika, melalui
pembangunan budaya integritas yang didukung oleh pemerintahan yang bersih, berwibawa, dan profesional
Peningkatan penerimaan pajak daerah melalui penggalian dan pengembangan potensi pajak daerah masih belum optimal terkait dasar hukum, kajian dan peraturan
Dampak diberlakukannya UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah adalah dilimpahkannya BPHTB dan PBB Sektor Perdesaan dan Perkotaan dari Pusat ke Daerah. Hal ini merupakan peluang bagi peningkatan penerimaan pajak daerah
Kesadaran masyarakat dalam memperhitungkan, membayar dan melaporkan pajak daerah dengan benar masih rendah
Dukungan dari lembaga eksekutif, lembaga legislatif, KPK, dan seluruh stakeholder pada penerapan sistem pajak online (e-tax) membuat sistem pembayaran pajak daerah lebih akuntabel serta membuat masyarakat menjadi sadar pajak
Perkembangan / perubahan pada wilayah Kota Palembang yang cepat menyulitkan dalam melakukan (pemutakhiran) pemetaan objek pajak
Dukungan dari Walikota Palembang serta KPK kepada Badan Pengelolaan Pajak Daerah untuk melakukan kerja sama dengan BPN terkait BPHTB dan peta pertanahan di wilayah kota Palembang Dampak krisis ekonomi yang
sangat serius dan lambannya langkah-langkah pemulihan ekonomi yang dilakukan
pemerintah, ditambah lagi dengan terjadinya berbagai tindak
penyimpangan yang dilakukan
Program KPK yang secara intensif melakukan pembinaan, pengawalan, dan pengawasan untuk pencegahan korupsi di kota Palembang khususnya di bidang pajak daerah
46
oknum-oknum birokrasi dalam melakukan tindakan kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) selama ini telah menyebabkan terjadinya krisis kepercayaan terhadap pemerintah. Akuntabilitas pejabat pemerintah yang sangat rendah di mata publik, merupakan ancaman tersendiri bagi pemerintah dalam menjalankan tugas dan fungsinya menggerakkan roda pemerintahan dan pembangunan di daerah, terutama yang berhubungan dengan upaya pemungutan pajak daerah, hal ini diperparah oleh dugaan dan temuan beberapa lembaga hukum terhadap beberapa oknum pemerintahan yang menyalahgunakan
kewenangan pengelolaan pajak daerah
Masyarakat semakin kritis dan sadar akan pentingnya peningkatan pelayanan umum yang berdampak pada tuntutan masyarakat terhadap fasilitas pelayanan yang berkualitas dari pemerintah
Kerja sama yang telah terjalin baik dengan para stakeholder, seperti pemerintah daerah dan instansi terkait lainnya, pihak perbankan, pengusaha, asosiasi dan tokoh masyarakat, sehingga pelayanan publik dapat lebih baik
Dengan semakin meningkatnya kegiatan penyelenggaraan event-event terutama yang berskala internasional di wilayah Kota Palembang akan bertambah jumlah perusahaan /
pengusaha yang melakukan kegiatan bisnisnya sehingga diharapkan dapat
meningkatkan fasilitas pelayanan umum dan meningkatkan penerimaan PAD khususnya pajak daerah Masalah perbatasan wilayah Kota
Palembang menjadi ancaman berkurangnya sumber pendapatan daerah Kota Palembang
Kemajuan teknologi dan pemanfaatan perangkat keras yang menunjang efisiensi dan efektivitas pelayanan kepada publik
Bantuan dana dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah untuk pelaksanaan kegiatan dan pembangunan daerah
47 3.3 Telaahan Renstra K/L
Dalam merumuskan Renstra BPPD Kota Palembang perlu memperhatikan arah pembangunan nasional, rencana strategis kementerian/lembaga maupun instansi yang terkait dengan tugas dan fungsi BPPD Kota Palembang demi terwujudnya perencanaan yang selaras antara pemerintah pusat dengan daerah. Dalam hal ini BPPD Kota Palembang mengacu kepada Renstra Kementerian Keuangan.
Sesuai dengan tugas dan fungsinya sebagai lembaga pengelola keuangan negara, Kementerian Keuangan menjadi aktor utama yang mengatur dan mengelola keuangan negara. Dalam rangka mewujudkan kualitas tersebut, Kementerian Keuangan menetapkan Visi Kementerian Keuangan 2015-2019 yaitu:
”Kami Akan Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Yang Inklusif di Abad ke-21”
Visi tersebut akan diwujudkan melalui Misi Kementerian Keuangan periode 2015-2019 adalah sebagai berikut:
1. Mencapai tingkat kepatuhan pajak, bea dan cukai yang tinggi melalui pelayanan prima dan penegakan hukum yang ketat;
2. Menerapkankebijakan fiskal yang prudent;
3. Mengelola neraca keuangan pusat dengan risiko minimum;
4. Memastikan dana pendapatan didistribusikan secara efesien dan efektif; dan
5. Menarik dan mempertahankan talent terbaik di kelasnya dengan menawarkan proposisi nilai pegawai yang kompetitif.
Dengan demikian, BPPD Kota Palembang dalam menentukan Tujuan, Sasaran, Strategi, dan Arah Kebijakan mempedomani Renstra Kementerian Keuangan.
Terutama dalam hal mewujudkan pengelolaan keuangan daerah yang berkualitas.
Pengelolaan keuangan daerah yang berkualitas adalah manajemen pendapatan dan belanja negara yang proaktif yang menggerakan dan mengarahkan perekonomian negara menyongsong masa depan.
3.4 KLHS
Telaahan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk RPJMD Kota
Palembang tahun 2018-2023 :
48 (1) Gambaran Daya Dukung dan Daya Tampung
Rata-rata Indeks jasa ekosistem tahun 2013 menurun pada tahun 2018 kecuali indeks pengaturan iklim
(2) Isu Strategis Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
- Masih belum terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan sarana dan prasararana bidang pendidikan, kesehatan, air bersih, listrik, sanitasi, dan penataan kawasan kumuh.
- Terjadi pergeseran struktur perekonomian sebagian masyarakat Palembang dari kategori Industri, listrik, air dan bangunan atau biasa disebut sektor sekunder ke kategori ekonomi lainnya yaitu sektor tersier yang terlihat dari besarnya peranan masing-masing kategori ini terhadap pembentukan PDRB Kota Palembang (kategori Industri Pengolahan)
(3) Rekomendasi
Usulan rekomendasi terhadap Isu Strategis dari target TPB yang belum tercapai :
- Memperbaiki kualitas layanan masyarakat.
- Melakukan intensifikasi dan inovasi untuk peningkatan.
- Membuat program-program dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada.
- Sosialisasi dan mendorong masyarakat untuk berperan serta.
(4) Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, dan Strategi Pembangunan
Palembang Emas Darussalam menjadikan Kota Palembang menjadi kota yang aman, damai, tenteram, makmur, dan sejahtera serta adanya harmoni antara kehidupan manusia dan alam.
(5) Arah Kebijakan Pembangunan Wilayah
Arah Kebijakan Pembangunan Wilayah pada sektor unggulan : - Pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah
- Informasi dan komunikasi
- Transportasi dan pergudangan
- Jasa Keuangan dan asuransi
- Industri pengolahan
50 BPPD Kota Palembang memiliki keterkaitan erat terhadap 2 (dua) tujuan dari 17 Tujuan TPB/SDGs. Tiga
tujuan tersebut yaitu tujuan nomor 16, dan 17:
16. Perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh–Mendukung masyarakat yang damai dan inklusif untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses terhadap keadilan bagi semua dan membangun institusi-institusi yang efektif, akuntabel dan inklusif di semua level;
17. Kemitraan untuk Mencapai Tujuan– Memperkuat implementasi dan menghidupkan kembali kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan.
Setiap tujuan memiliki target dan indikator, dari dua tujuan yang terkait dengan fungsi BPPD, target dan indikatornya antara lain terdapat dalam Tabel 3.4.
Tabel 3.4
Target dan Indikator SDG's dari Tujuan 16 dan 17
KodeIndikator Target/Indikator Cara Penghitungan
16.5.1.(a) Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) Survei dengan pendekatan rumah tangga yang dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia yang tersebar di 33 provinsi, 170 kabupaten/kota (121 kabupaten dan 49 kota)dengan sampel 10.000 rumah tangga
16.6.1.(b) Persentase peningkatan Sistem Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (SAKIP) kementerian/lembaga dan pemerintah daerah (provinsi/
kabupaten/kota)
Membandingkan antara hasil Sistem
Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (SAKIP) pada tahun tertentu dengan hasil Sistem
Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (SAKIP) pada tahun sebelumnya di setiap tingkat
pemerintahan 16.6.2.(a) Persentase Kepatuhan pelaksanaan
UU Pelayanan Publik Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah (Provinsi/
Kabupaten/Kota).
Penilaian dari Ombudsman RI serta Survey Kepuasan Masyarakat
17.1.1* Total pendapatan pemerintah sebagai proporsi terhadap PDB menurut sumbernya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS)
17.1.1.(a) Rasio penerimaan pajak terhadap
PDB. Penerimaan Pajak daerah dibagi penerimaan
pendapatan daerah dikali 100 17.1.2* Proporsi anggaran domestik yang
didanai oleh pajak domestik. Penerimaan Pajak daerah dibagi anggaran belanja daerah dikali 100
51 3.6 Penentuan Isu-isu Strategis
Setelah melalui tahapan identifikasi permasalahan pelayanan BPPD Kota Palembang, telaahan visi dan misi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, dan KLHS sertabtelahaan SDGs maka perumusan isu-isu strategis BPPD Kota Palembang Tahun 2018 - 2023 dapat dilakukan. Perumusan isu-isu strategis berorientasi pada penyelenggaraan pelayanan BPPD Kota Palembang untuk lima tahun yang akan datang. Isu dapat ditentukan dari permasalahan eksisting/akan terjadi selama periode perencanaan atau potensi yang belum dikelola dengan baik. Permasalahan dan potensi yang dijadikan isu strategis adalah yang memiliki pengaruh besar terhadap kinerja pembangunan daerah.
Dari hasil evaluasi capaian kinerja BPPD Kota Palembang dan identifikasi permasalahan dapat disimpulkan bahwa masih banyak masalah pembangunan yang belum terselesaikan disebabkan oleh belum optimalnya pengelolaan pajak daerah Kota Palembang. Sedangkan tugas utama BPPD Kota Palembang adalah meningkatkan penerimaan pajak daerah sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk pembiayaan pembangunan daerah. Oleh karena itu, masih rendahnya kualitas pengelolaan pajak daerah di Kota Palembang menjadi isu yang harus dijawab BPPD Kota Palembang dalam periode lima tahun yang akan datang. Cakupan pengelolaan pajak daerah yaitu dari perencanaan, pengendalian, dan evaluasi terhadap kebijakan pengelolaan pajak daerah. Dengan demikian, BPPD Kota Palembang harus meningkatkan kualitas pengelolaan pajak daerah untuk menyelesaikan permasalahan keuangan daerah yang tertuang dalam visi dan misi kepala daerah.
Berdasarkan hasil analisis terhadap identifikasi permasalahan pelayanan Perangkat Daerah, visi dan misi kepala daerah, Renstra Kementerian/Lembaga, dan Tujuan TPB/SDGs maka dirumuskan isu-isu strategis BPPD Kota Palembang untuk 5 (lima) tahun ke depan sebagai berikut :
1) Mendukung pencapaian visi dan misi kepala daerah;
2) Meningkatkan kualitas pengelolaan pajak daerah Kota Palembang; dan
3) Mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/SDG’s;