• Tidak ada hasil yang ditemukan

REALISASI PROGRAM PENANAMAN POHON TAHUN

HASIL DAN PEMBAHASAN

REALISASI PROGRAM PENANAMAN POHON TAHUN

Periode: Januari – Desember 2011

No Jenis pohon

Jumlah Pohon

ukuran saat ditanam Lokasi Tanam kategori

mitra penanaman

84

84

Perubahan Tutupan Lahan Tahun 2000 dan 2011 pada Tiap Desa

Nama Desa Awan dan Bayangan Hutan Alam dan Sekunder Lahan Terbuka Rumput dan Semak Belukar

Tahun 2000 Tahun 2011 Tahun 2000 Tahun 2011 Tahun 2000 Tahun 2011 Tahun 2000 Tahun 2011

Cikawao 52.81 52.81 26.67 11.89 13.27 - 19.75 9.97 Cisarua 23.76 23.76 498.47 576.97 31.31 - 113.38 87.85 Laksana 19.53 19.53 64.84 81.27 52.26 - 129.52 211 Loa 18.45 18.45 149.12 114.78 5.4 - 23.89 110.36 Sukarame 3.55 3.55 1119.58 1010.49 5.24 - 170.29 254.16

Perubahan Tutupan Lahan Tahun 2000 dan 2011 pada Tiap Desa (Lanjutan)

Nama Desa Ladang Badan Air Agroforestri Hutan Tanaman Pinus Lahan Terbangun Total

Tahun 2000 Tahun 2011 Tahun 2000 Tahun 2011 Tahun 2000 Tahun 2011 Tahun 2000 Tahun 2011 Tahun 2000 Tahun 2011 Cikawao - - - 37.83 112.5 Cisarua 31.58 - - - 16.65 - - 9.92 698.5 Laksana 93.84 22.77 - 21.09 - - - 1.35 6.48 10.8 366.64 Loa 217.22 146.61 - 5.76 - - 22.69 2.79 - 18.11 414.25 Sukarame 137.14 - - - 31.59 172.87 - 13.68 - 26.33 1467.4 Lampiran 4

85

Step Chi-square df Sig.

1 10.936 8 .205

Step -2 Log likelihood Cox & Snell R Square Nagelkerke R Square

1 127.502a

.394 .532

a. Estimation terminated at iteration number 20 because maximum iterations has been reached. Final solution cannot be found.

Classification Tablea Observed Predicted Y3 Percentage Correct 0 1 Step 1 Y3 0 49 12 80.3 1 18 71 79.8 Overall Percentage 80.0

a. The cut value is .500

Model Summary Lampiran 5 Hasil Uji Regresi Logistik

86

Variables in the Equation

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)

Step 1a X1 10.564 3 .014 X1(1) 1.032 1.144 .813 1 .367 2.805 X1(2) -1.398 .882 2.511 1 .113 .247 X1(3) -.320 1.329 .058 1 .810 .726 X2 .511 2 .774 X2(1) .095 1.072 .008 1 .929 1.100 X2(2) .418 1.047 .160 1 .690 1.519 X3 11.828 3 .008 X3(1) -2.516 1.144 4.835 1 .028 .081 X3(2) -2.751 1.145 5.775 1 .016 .064 X3(3) -.457 1.361 .113 1 .737 .633 X4 4.221 4 .377 X4(1) .434 1.151 .143 1 .706 1.544 X4(2) -1.322 3.607 .134 1 .714 .267 X4(3) 1.498 1.272 1.388 1 .239 4.474 X4(4) 1.507 1.365 1.220 1 .269 4.514 X5 6.141 3 .105 X5(1) 16.040 2.782E4 .000 1 1.000 9.250E6 X5(2) -2.114 1.222 2.993 1 .084 .121 X5(3) -.793 1.370 .335 1 .563 .453 X6 -.591 .472 1.563 1 .211 .554 Constant 4.468 2.082 4.603 1 .032 87.172

a. Variable(s) entered on step 1: X1, X2, X3, X4, X5, X6.

87

87

Kegiatan Operasional Panas Bumi

Internalisasi pertimbangan ekologis dalam kegiatan operasional pengusahaan panas bumi

Aspek Ekologi Aspek Sosial dan Ekonomi

Aktor Potensi biologis dan kondisi fisik kawasan hutan terjamin

Survei Pendahuluan dan Penetapan Wilayah Kerja

Studi pendahuluan menghasilkan informasi mengenai potensi dampak kegiatan pengusahaan panas bumi terhadap fungsi kawasan hutan serta rencana pengelolaan ekosistem sebagai respon dari dampak yang akan mengganggu fungsi kawasan hutan.

Studi pendahuluan mampu menghasilkan data lengkap spesies-spesies flora dan fauna kawasan hutan, daftar spesies-spesies penting berdasarkan endemisitasnya, resiko kepunahan dan kelangkaannya, serta sebaran dan data trend/ series populasi spesies-spesies penting tersebut. Pengukuran tutupan lahan saat ini, tren tutupan lahan periode waktu sebelumnya, dan proyeksi tutupan lahan di masa yang akan datang dengan tahun acuan yang ditetapkan dapat teridentifikasi melalui penafsiran citra satelit resolusi tinggi liputan terkini dan pengecekan lapangan.

Sebagian perambahan berada pada area penambangan panas bumi sehingga diperlukan sosialisasi terhadap masyarakat mengenai proses pengusahaan panas bumi. Perlunya memberikan pemahaman bahwa dalam proses eksplorasi dan eksploitasi harus dilakukan pembukaan lahan guna menghasilkan energi listrik namun tetap disertai dengan reboisasi di areal pengganti. Sosialisasi secara khusus diberikan kepada masyarakat yang berada di desa yang menjadi area lokasi pemboran panas bumi.

BKSDA dan PT PGE

Penetapan wilayah kerja panas bumi memperhatikan informasi mengenai variasi biofisik, kondisi aktual, dan profil kondisi asli ekosistem (referenceecosystem) sebagai sumber pengetahuan untuk mengambil keputusan bagaimana seharusnya proyek panas bumi dilaksanakan di suatu titik lokasi sehingga tidak disertai resiko dan usulan perubahan fungsi kawasan hutan.

Studi pendahuluan menghasilkan data, informasi, dan pengetahuan mengenai perilaku hidup spesies-spesies penting dan karakteristik serta peta habitatnya.

Data kelerengan, tingkat kepekaan erosi tanah, tingkat curah hujan pada kawasan hutan yang menjadi sasaran wilayah kerja panas bumi dapat diketahui secara pasti melalui pengamatan dan pengukuran serta penelitian langsung, yang dilanjutkan analisis mendalam mengenai tingkat kemampuan lahan dalam menerima suatu perlakuan.

Perlu dirancang suatu program untuk membimbing petani secara aktif sbagai upaya pencegahan peladangan berpindah melalui diversifikasi komoditi dalam rangka membuka wawasan petani terhadap sistem pertanian, berikut pengetahuan mengenai kondisi biologis dan fisik kawasan hutan. Hal ini akan membantu mengatasi pengaruh yang merugikan terhadap kesejahteraan akibat terjadinya kejutan harga komoditi di kemudian hari dan produktifitas lahan yang rendah. Sejauh tahapan kebijakan

Pemerintah daerah, BKSDA, PT PGE, dan LSM Pemanfaatan Panas Bumi Bersinergi dengan Pelestarian Fungsi Cagar Alam

88

88

tersebut berhasil dilakukan untuk menstabilkan pendapatan petani, maka hal ini diharapkan dapat membantu dalam mengurangi naiknya pembukaan hutan akibat dari ketidakamanan dan ketidakstabilan ekonomi.

Kegiatan eksplorasi berjalan efektif tanpa kesalahan teknis sehingga dampak eksplorasi dapat dikendalikan sesuai rencana yang telah disusun dalam tahap studi pendahuluan.

Jenis dan skala gangguan yang muncul akibat kegiatan eksplorasi berada di bawah ambang batas kemampuan unsur-unsur biotik ekosistem untuk mempertahankan/ memulihkan diri

Jenis-jenis dan skala gangguan yang muncul dari kegiatan eksplorasi terhadap kondisi fisik kawasan teridentifikasi dan dapat ditangani melalui kegiatan pemulihan fisik kawasan.

Beriringan dengan proses eksplorasi, perlu ditanamkan/ ditekankan tentang pendidikan konservasi kepada masyarakat mengenai kemungkinan konsekuensi lingkungan dan sosial yang merugikan hutan dan penduduk di kawasan hutan jika hutan mengalami kerusakan, baik skala nasional dan internasional serta tidak hanya dibatasi untuk kebijakan yang berkaitan dengan sektor kehutanan saja, tetapi juga melibatkan seluruh kebijakan sektor di luar bidang kehutanan yang mungkin relevan. Penanaman pendidikan konservasi sejak dini dapat dimasukkan ke dalam kurikulum setiap jenjang pendidikan, dimulai dari pendidikan sekolah dasar. Pemerintah daerah, BKSDA dan PT PGE Studi Kelayakan

Rencana pengembangan panas bumi layak dari aspek status dan fungsi serta tujuan pengelolaan hutan. Lebih jauh, rancangan sumur produksi dan injeksi, pemipaan sumur produksi, sistem pembangkit dan seluruh fasilitas utama, serta pendukung pemanfaatan energi panas bumi dapat

Jenis-jenis dan skala gangguan yang mungkin muncul akibat eksploitasi dan pemanfaatan terhadap kondisi biotik ekosistem teridentifikasi dengan baik. Jenis-jenis dan skala gangguan itu seluruhnya masih di bawah ambang batas kemampuan unsur-unsur biotik ekosistem untuk mempertahankan/ memulihkan diri.

Jenis-jenis dan skala gangguan yang mungkin muncul

Sosialiasi tentang pemanfaatan berbagai manfaat selain kayu, yakni berupa hasil hutan bukan kayu serta penyediaan lahan untuk kegiatan budidaya tanaman- tanaman yang memiliki nilai ekonomis tinggi (jamur, tanaman hias, tumbuhan obat-obatan dll). Hal ini dilakukan dalam bentuk kegiatan bisnis usaha dengan pola

Pemerintah daerah, BKSDA, dan PT PGE

89

89

dibangun sesuai zonasi/blok pengelolaan hutan yang ada.

akibat kegiatan eksploitasi dan pemanfaatan terhadap kondisi fisik ekosistem teridentifikasi dengan baik. Jenis- jenis dan skala ganguan itu seluruhnya masih dalam kategori gangguan yang dapat ditangani dan tidak menimbulkan degradasi fungsi ekosistem secara signifikan.

kegiatan yang disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar. Hal ini diharapkan dapat menciptakan perubahan pola pikir dan sifat ketergantungan masyarakat terhadap penebangan pohon atau ekspansi lahan pertanian di dalam hutan.

Terdapat rancangan teknis kegiatan perlindungan atau pemulihan ekosistem yang cukup memadai untuk memastikan tidak ada resiko degradasi potensi biologis kawasan dan degradasi fungsi ekosistem akibat kegiatan eksploitasi dan pemanfaatan panas bumi. Rancangan teknis juga memuat rancangan kegiatan yang secara langsung berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pengelolaan hutan.

Perlu adanya pembinaan dalam menciptakan kemandirian masyarakat, melalui pendidikan kewirausahaan dan keterampilan yang banyak diserap pada lapangan kerja di luar pertanian. Selain itu, adanya peminjaman bantuan modal, ternak atau bahan mentah dapat dijadikan sebagai program andalan di masyarakat dalam hal peningkatan pendapatan melalui kesempatan berusaha. Dalam program tersebut pemerintah harus memberikan bimbingan dan pengawasan agar bantuan tidak diselewengkan. Petani juga harus dibina agar mereka tidak menggunakan uang dari program tersebut untuk hal-hal lain selain dari tujuan program.

Eksploitasi Sumur pengembangan/ produksi dibangun sesuai rancangan teknis yang sesuai zona/blok pengelolaan hutan dan dapat beroperasi dengan kapasitas produksi yang layak atau sesuai perkiraan.

Dampak-dampak kegiatan eksploitasi panas bumi di dalam kawasan hutan dapat dikelola melalui kegiatan perlindungan atau pemulihan yang telah dirancang sebelumnya. Dampak-dampak tambahan yang muncul dan belum diperkirakan dapat dikendalikan secara cepat sehingga tidak mengakibatkan degradasi unsur-unsur

Perlu adanya kualitas manusia yang menguasai ilmu pengetahuan serta peduli dan paham terhadap permasalahan kehutanan, khususnya dalam pengelolaan hutan yang diterjemahkan melalui impelementasi pengelolaan hutan di

BKSDA, PT PGE, dan masyarakat

90

90

Sumber: Royana 2013 (Disesuaikan dengan Tujuan Penelitian) biotik kawasan dan degradasi fungsi ekosistem yang

bersifat permanen.

lapangan yang sesuai dengan kebijakan yang telah dibuat.

Pemanfaatan Seluruh fasilitas PLTP dibangun sesuai rancangan sistem pembangkit yang telah disusun sebelumnya dan sesuai zonasi/blok pengelolaan hutan.

Dampak-dampak pemanfaatan panas bumi untuk energi listrik di dalam kawasan hutan dapat dikelola melalui kegiatan perlindungan atau pemulihan yang telah dirancang. Dampak-dampak tambahan yang muncul dan belum diperkirakan sebelumnya dapat dikendalikan secara cepat, sehingga tidak mengakibatkan degradasi unsur- unsur biotik kawasan dan degradasi fungsi ekosistem yang bersifat permanen.

Pelibatan masyarakat dalam proses reboisasi di lahan pengganti dan adanya pemberian imbalan dengan sistem yang disepakati.

BKSDA, PT PGE dan masyarakat

Dokumen terkait