• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.3. Realitas Sosial dalam Film “Miracle In Cell No.7”

Film adalah bentuk komunikasi massa visual yang dominan karena dianggap mampu menjangkau banyak segmen sosial, serta memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayak. Isi dari pesan yang dibawa oleh film dapat mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan cerita yang dibawa dibalik film. Isi dari film adalah merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Menurut Turner (Irawanto, 1999: 14), film sebagai representasi dari realitas masyarakat dimana film adalah potret dari realitas masyarakat. Film selalu merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, dan kemudian memproyeksikannya ke atas layar lebar.

Diamati lebih jauh, film bukan hanya sebagai tontonan maupun hiburan semata. Film mampu merepresentasikan berbagai hal dalam kehidupan masyarakat seperti sejarah, kebiasaan masyarakat, hubungan pernikahan, kehidupan bertetangga, dan lain-lain. Setiap film tentu memiliki cara yang berbeda-beda dalam merepresentasikan isu maupun tema yang diangkat sesuai dengan tujuan pembuat film.

Pada sub bab ini, peneliti mencoba mengemukakan realitas sosial media seperti yang ditampilkan dalam film “Miracle In Cell No.7”. Begitu pula halnya

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA dengan masalah mengenai sosok ayah yang selalu menarik untuk dibicarakan dan tidak pernah ada habisnya untuk dibahas. Pandangan masyarakat mengenai sosok ayah sebagian besar juga terbentuk oleh apa yang selama ini digambarkan oleh media massa, terutama sinema atau film. Berikut hasil interpretasi yang dapat dikemukakan peneliti mengenai realitas sosial media dalam “Miracle In Cell No.7”.

Maskulinitas erat kaitannya dengan gender. Gender berbeda dengan jenis kelamin. Jenis kelamin merupakan konstruksi biologis yang dibawa sejak lahir yang membedakan manusia menjadi laki-laki dan perempuan, sedangkan gender merupakan hasil konstruksi sosial dan budaya yang membedakan manusia menjadi maskulin dan feminin. Perbedaan ini dipertahankan secara kultural dan terwujud di dalam budaya patriarkhi . Budaya patriarkhi menggiring anggapan umum bahwa karakteristik maskulin lekat dengan laki-laki, dan karakter ini dikaitkan dengan tiga sifat khusus yaitu kuat, keras,dan beraroma keringat. Secara sederhana laki-laki dilabeli sifat 'macho'.

Barker mengatakan maskulin merupakan sebuah bentuk konstruksi kelelakian terhadap laki-laki. Laki-laki tidak di lahiran begitu saja dengan sifat maskulinnya secara alami, maskulinitas dibentuk oleh kebudayaan. Secara umum, maskulinitas tradisional menganggap tinggi nilai-nilai, antara lain kekuatan, kekuasaan, ketabahan, aksi, kendali, kemandirian, kepuasan diri, kesetiakawanan dan kerja. Ciri maskulinitas tradisional inilah yang ditampilkan dalam film “Miracle In Cell No.7”. Film ini menampilkan sosok maskulinitas Lee Yong-Gu meskipun Lee Yong-Gu dalam kondisi memiliki keterbelakangan mental. Kekuatan, kemandirian, kesetiakawanan, aksi dan kerja Lee Yong-Gu menjadi ciri maskulinitas yang ditonjolkan. Film “Miracle In Cell No.7” ini juga khas dengan menampilkan laki-laki yang pemberani dan penyayang. Perbuatan yang menonjolkan kasih sayang terhadap putrinya menjadi ciri maskulin yang ditampilkan dalam film ini.

Berdasarkan pengamatan dan hasil analisis dari gambar yang diambil dari potongan-potongan film “Miracle In Cell No.7” tahun 2013, laki-laki digambarkan dalam sosok maskulinitas tradisonal dalam sosok ayah yang memiliki keterbelakangan mental. Visualiasasi gambar dalam film ini dapat

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA dilihat dari penggunaan warna, bahasa tubuh, ekspresi, teknik pengambilan gambar, latar dan aksi yang dilakukan oleh pemeran Lee Yong-Gu.

Penggunaan warna paling dominan pada gambar maskulinitas ini adalah warna terang. Warna terang atau dapat terlihat warna oranye yang cukup dominan membuat kesan sebuah kebahagiaan dan sukacita yang melatarbelakangi gambar tertangkap dalam suatu frame. Warna oranye dapat memiliki makna kehangatan, persahabatan, dan kegembiraa seperti halnya Lee Yong-Gu yang ditunjukkan melalui warna baju baju yang dikenakannya. Tidak hanya terang, dalam film ini juga memakai warna gelap yang identik dengan warna hitam yang membuat kesan kejantanan. Hitam merupakan warna yang melambangkan perlindungan, kekuatan, formalitas, kekayaan, ketakutan, kejahatan, ketidak bahagiaan, perasaan yang dalam, kesedihan, kemarahan, harga diri. Pemilihan warna tersebut bukanlah tanpa alasan, melainkan untuk membuat gambar terlihat semakin dramatis.

Selain warna, bahasa tubuh pemeran Lee Yong-Gu yang terdapat dalam gambar maskulinitas ini juga sangat penting. Karena bahasa tubuh dapat memberikan pesan-pesan yang ingin disampaikan. Bahasa tubuh dapat memberikan pesan-pesan yang ingin disampaikan secara nonverbal. Bahasa tubuh yang begitu terlihat jelas dalam setiap gambar adalah pada saat Lee Yong-Gu selalu berusaha untuk menjaga putrinya Ye Sung agar tidak dilukai oleh orang lain dan bahagia. Selain itu juga terlihat saat Lee Yong-Gu ingin menolong teman satu selnya saat ingin dilukai oleh tahanan lainnya serta pada saat Lee Yong-Gu menolong kepala sipir ketika kebakaran terjadi di penjara. Terlihat pergerakan tubuh Lee Yong-Gu selalu sigap dalam memperjuangkan kebahagiaan putrinya dan orang-orang sekitarnya. Hal ini juga tampak begitu jelas karena didukung dengan metode pengambilan gambar. Metode pengambilan gambar yang diambil secara long shoot menampilkan pergerakan Lee Yong-Gu secara keseluruhan dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Karena cerita dikemas dengan begitu baik dan juga adegan di setiap gambar yang tidak dilebih-lebihkan, film Miracle In Cell No.7 ini mampu membuat emosi penonton naik dan turun dengan adegan-adegan dalam film Miracle In Cell No.7. Atas hasil tersebut, maka disimpulkan bahwa media memiliki kekuatan untuk membius dan mempengaruhi khalayak. Khalayak yang

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA menganggap realitas sama dengan realitas dunia nyata melupakan kenyataan bahwa media melakukan proses seleksi informasi berlapis-lapis secara ketat sebelum menyajikannya ke hadapan khalayak. Seleksi tersebut oleh berbagai pertimbangan, mulai dari pertimbangan atas norma kultural dalam lingkungan sosial, pertimbangan ideologis organisasi media, hingga pemenuhan kebutuhan khalayak.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dalam film “Miracle In Cell No.7” maskulinitas direpresentasikan melalui kode kostum, ekspresi dan cara berbicara. Pada level representasikan digunakan kode kamera. Pada level ini pula ditransmisikan melalui kode konflik, karakter, dialog, aksi, naratif dan setting. Dari pengamatan peneliti, ideologi maskulinitas yang terbagi melalui subtema-subtema yang peneliti pilih, yang paling berperan mewakilkan adanya maskulinitas dalam film ini adalah maskulinitas dalam hubungan dengan dunia kerja, maskulinitas dalam hubungan dengan keluarga dan maskulinitas dalam hubungan dengan dunia sosial. Maskulinitas dalam hubungan dengan dunia sosial, berperan penting dalam kehidupan sosial, dengan sendirinya perubahan sikap dan perilaku orang yang berada di sekitar dapat berubah melalui perbuatan maskulinitas yang dilakukan. Pilihan-pilihan paradigma yang digunakan untuk menggambarkan ketiga subtema tersebut merupakan gabungan sintagmatis dari beberapa kode yang ditampilkan menonjol dari pada kode-kode yang lain yang ada dalam level realitadan level representasi.

Pada subtema maskulinitas dalam hubungan dengan dunia kerja terdapat penggunaan secara menonjol kode kostum pada level realita. Melalui kostum yang digunakan dapat tergambarkan bahwa pekerjaan yang dilakukan adalah pekerjaan yang membutuhkan sisi maskulinitas dalam diri pekerjanya. Pada subtema Maskulinitas dalam hubungan dengan keluarga digunakan kode ekspresi, cara bicara pada level realita dan kode dialog serta aksi yang digunakan pada level representasi. Pada subtema dalam hubungannya dengan dunia sosial, digunakan kode kostum dan ekspresi pada level realita, serta kode setting, kamera, aksi yang digunakan pada level representasi. Konsep maskulinitas yang terjadi pada pemeran Lee Yong-Gu dalam film “Miracle In Cell No.7” merupakan maskulinitas sebelum 1980-an dimana Lee Yong-Gu dianggap sebagai laki-laki yang mempunyai sifat kelelakian, memiliki rasionalitas, kekuatan dan kemandirian. Lee Yong-Gu menunjukkan laki-laki yang tetap bertindak kalem

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA dalam berbagai situasi, tidak menunjukkan emosi, dan tidak menunjukkan kelemahannya. Lee Yong-Gu mempunyai aura keberanian dan agresi, serta harus mampu mengambil risiko walaupun alasan dan rasa takut menginginkan sebaliknya. Konsep maskulinitas yang juga terjadi pada pemeran Lee Yong-Gu dalam film “Miracle In Cell No.7” adalah maskulinitas 1980-an dimana Lee Yong-Gu memiliki sifat alamiahnya laki-laki yang mempunyai rasa perhatian. Laki-laki yang mempunyai kelembutan sebagai seorang bapak, misalnya, untuk mengurus anak. Ini ditunjukkan banyaknya kode dialog dan ekspresi, dan aksi yang dilakukan Lee Yong-Gu untuk menyatakan rasa sayangnya kepada putrinya dan perbuatan yang dilakukan Lee Yong-Gu dalam menolong orang disekitarnya.

Dari secara keseluruhan, film “Miracle In Cell No.7” ingin menyampaikan, maskulinitas terjadi dalam kehidupan lelaki yang memiliki keterbelakangan mental. Dalam dunia keluarga, seorang lelaki yang memiliki keterbelakangan mental mampu menjadi ayah yang baik dan bertanggung jawab. Dalam dunia sosial pun, lelaki yang memiliki keterbelakangan mental mampu menjadi sahabat bagi lelaki normal dan mampu melindungi orang sekitarnya. Dalam dunia kerja, lelaki yang memiliki keterbelakangan mental mampu menjalankan pekerjaannya dengan baik. Akhirnya melalui penelitian ini bahwa film dapat menjadikan media menyampaikan pesan berupa representasi atas realitas sosial yaitu maskulinitas.

5.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan yang telah diperoleh peneliti selama melakukan penelitian, ada beberapa saran yang peneliti anggap perlu, yaitu:

1. Bidang Akademis

Untuk penelitian berikutnya disarankan agar lebih menggali lagi konsep-konsep maskulinitas yang lainnya dengan menggunakan analisis semiotika dengan tokoh yang lain atau menggunakan metode yang lain seperti metode analisis teks media. Sehingga penelitian tersebut dapat

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA memperkaya bahan penelitian mengenai maskulinitas dalam film atau media massa lainnya

2. Bidang Praktis

Diharapkan bagi pembuat film dapat membuat atau mengadaptasi film-film yang bertemakan sosok ayah dengan mengambil sudut pandang yang berbeda sehingga dapat memberikan pemahaman bahkan pengalaman yang berbeda kepada penonton. Bagi penonton diharapkan untuk lebih mencerna dan memahami setiap makna dan pesan yang terkandung dalam film atau media lainnya.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA BAB II

URAIAN TEORITIS

2.1.Paradigma Konstruktivisme

Teori konstruktivisme adalah pendekatan secara teoritis untuk komunikasi yang dikembangkan tahun1970-an oleh Jesse Deli dan rekan-rekan sejawatnya. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu melakukan interprestasi dan bertindak menurut berbagai kategori konseptual yang ada dalam pikirannya. Menurut teori ini, realitas tidak menunjukkan dirinya dalam bentuknya yang kasar, tetapi harus disaring terlebih dahulu melalu bagaimana cara seseorang melihat sesuatu (Morissan, 2009: 107).

Konstruktivisme menolak pandangan positivisme yang memisahkan subjek dan objek komunikasi. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan. Konstruktivisme justru menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan komunikasi serta hubungan-hubungan sosialnya. Subjek memiliki kemampuan melakukan kontrol terhadap maksud-maksud tertentu dalam setiap wacana.

Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu mengintrepretasikan dan beraksi menurut kategori konseptual dari pikiran. Realitas tidak mengambarkan diri individu namun harus disaring melalui cara pandang orang terhadap realitas tersebut. Teori konstruktivisme dibangun berdasarkan teori yang ada sebelumnya, yaitu konstruksi pribadi atau konstruksi personal (personal construct) oleh George Kelly. Ia menyatakan bahwa orang memahami pengalamannya dengan cara mengelompokkan berbagai peristiwa menurut kesamaannya dan membedakan berbagai hal melalui perbedaannya (Littlejohn, 2009: 180).

Paradigma konstrukivisme ialah paradigma dimana kebenaran suatu realitas sosial dilihat sebagai konstruksi sosial, dan kebenaran suatu realitas sosial bersifat relatif. Paradigma konstruktivisme ini berada dama perspektif interpretivisme (penafsiran) yang terbagi dalam 3 jenis , yaitu interaksi simbolik, fenomenologis dan hermeneutik. Paradigma konstruktivisme dalam ilmu sosial merupakan kritik

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA terhadapa paradigm positivis. Menurut paradigma konstruktivisme realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang, seperti yang biasa dilakukan oleh kaum positivis. Konsep mengenai konstruksionis diperkenalkan oleh sosiolog interpretative. Peter L. Berger bersama Thomas Luckman. Dalam konsep kajian komunikasi, teori konstruksi sosial bisa disebut berada diantara teori fakta sosial dan definisi sosial (Eriyanto, 2001: 13).

Paradigma konstruktivisme yang ditelusuri dari pemikiran Weber, menilai perilaku manusia secara fundamental berbeda dengan perilaku alam, karena manusia bertindak sebagai agen yang mengkonstruksi dalam realitas sosial mereka, baik itu melalui pemberian makna maupun pemahaman perilaku menurut Weber, menerangkan bahwa substansi bentuk kehidupan di masyarakat tidak hanya dilihat dari penilaian objektif saja, melainkan dilihat dari tindakan perorang yang timbul dari alasan-alasan subjektif. Weber juga melihat bahwa tiap individu akan memberikan pengaruh dalam masyarakatnya.

Paradigma konstruktivis dipengaruhi oleh perspektif interaksi simbolis dan perspektif struktural fungsional. Perspektif interaksi simbolis ini mengatakan bahwa manusia secara aktif dan kreatif mengembangkan respons terhadap stimulus dalam dunia kognitifnya. Dalam proses sosial, individu manusia dipandang sebagai pencipta realitas sosial yang relatif bebas di dalam dunia sosialnya. Realitas sosial itu memiliki makna manakala realitas sosial tersebut dikonstruksikan dan dimaknakan secara subjektif oleh individu lain, sehingga memantapkan realitas itu secara objektif (Weber, 2006: 56).

Paradigma Konstruktivis berbasis pada pemikiran umum tentang teoriteori yang dihasilkan oleh peneliti dan teoritisi aliran konstruktivis. Littlejohn mengatakan bahwa paradigma konstruktivis berlandaskan pada ide bahwa realitas bukanlah bentukan yang objektif, tetapi dikonstruksi melalui proses interaksi dalam kelompok, masyarakat, dan budaya (Wibowo, 2011: 28).

Paradigma dalam penelitian semiotika banyak mengacu pada paradigma konstruktivis, meski sejumlah penelitian lainnya menggunakan paradigma kritis namun paradigma konstruktivis lebih relevan jika digunakan untuk melihat realitas signifikannya objek yang diteliti,dari paradigma konstruktivis dapat

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA dijelaskan melalui empat dimensi seperti diutarakan oleh (Hidayat dalam Wibowo, 2011: 27) sebagai berikut:

1. Ontologis: relativism, relaitas merupakan konstruksi sosial. Kebenaran suatu realitas bersifat relatif, berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial.

2. Epstemologis: transactionalist/subjectivist, pemahaman tentang suatu realitas atau temuan suatu penelitian merupakan produk interaksi antara peneliti dengan yang diteliti.

3. Axiologis: Nilai, etika dan pilihan moral merupakan bagian tak terpisahkan dari suatu penelitian. Peneliti sebagai passionate participant, fasilitator yang menjebatani keragaman subjektivitas pelaku sosial. Tujuan penelitian lebih kepada rekonstruksi realitas sosial secara dialektis antara peneliti dengan pelaku sosial yang diteliti.

4. Metodologis: menekankan empati dan interaksi dialektis antara peneliti dengan responden untuk merekonstruksi realitas yang diteliti, melalui metode-metode kualitatif seperti participant observasion. Kriteria kualitas penelitian authenticity dan revlectivty: sejauh mana temuan merupakan refleksi otentik dari realitas yang di hayati oleh para pelaku sosial.

2.2.Kerangka Teori

2.2.1.Komunikasi

Istilah komunikasi atau dalam bahasa inggris communication berasal dari kata Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna. Komunikasi minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Dikatakan minimal karena kegiatan komunikasi tidak hanya informatif, yakni agar orang lain mengerti dan tahu, tetapi juga persuasif, yaitu agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, melakukan suatu perbuatan atau kegiatan, dan lain-lain.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Carl I.Hovland berpendapat bahwa ilmu komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegar asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap (Effendy, 2005: 10). Komunikasi hanya bisa terjadi apabila memiliki unsur-unsur komunikasi. Unsur-unsur komunikasi tersebut adalah (Cangara, 2000: 21-28) :

a. Sumber

Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pembuat atau pengirim informasi. Sumber sering disebut pengirim, komunikator, atau source, sender, atau encoder.

b. Pesan

Pesan (message, content, atau information) yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan melalui tatap muka atau melalui media komunikasi.

c. Media

Media yang dimaksud disini adalah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Dalam komunikasi antarpribadi pancaindra dianggap sebagai media komunikasi. Selain pancaindra manusia, telepon, surat, telegram juga digolongkan sebagai media komunikasi antarpribadi. Dalam komunikasi massa media komunikasi dapat dibedakan kedalam dua macam, yakni media cetak dan media media elektronik. Media cetak bisa berupa surat kabar, majalah, buku, leaflet, brosur, stiker, buletin, hand out, poster, spanduk, dan sebagainya. Sementara media elektronik dapat berupa radio, film, televisi, video recording, komputer, dan sebagainya.

d. Penerima

Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Penerima bisa terdiri satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk kelompok, partai, atau negara. Penerima biasa disebut dalam berbagai istilah seperti khalayak, sasaran, komunikan, audience atau receiver.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA e. Pengaruh

Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Pengaruh ini bisa terjadi pada pengetahuan, sikap, dan tingkah laku seseorang.oleh karena itu, pengaruh bisa juga diartikan perubahan atau penguatan keyakinan pada pengetahuan, sikap, dan tindakan seseorang sebagai akibat penerima pesan.

f. Tanggapan balik

Ada yang beranggapan bahwa umpan balik sebenarnya adalah salah satu bentuk daripada pengaruh yang berasal dari penerima. Akan tetapi sebenarnya umpan balik bisa juga berasal dari unsur lain seperti pesan dan media, meski pesan belum sampai pada penerima.

g. Lingkungan

Lingkungan atau sesuatu ialah faktor-faktor tertentu yang dapat memengaruhi jalannya komunikasi. Faktor ini dapat digolongkan atas empat macam, yakni lingkungan fisik, lingkungan sosial budaya, lingkungan psikologis, dan dimensi waktu.

2.2.1.2.Fungsi Komunikasi

William I. Gorden (Mulyana, 2005: 5-35) mengkategorikan fungsi komunikasi menjadi empat, yaitu:

1. Sebagai komunikasi sosial

Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang bersifat menghibur, dan memupuk hubungan hubungan orang lain. Melalui komunikasi kita bekerja sama dengan anggota masyarakat (keluarga, kelompok belajar, perguruan tinggi, RT, desa, dan negara secara keseluruhan) untuk mencapai tujuan bersama.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA a. Pembentukan konsep diri. Konsep diri adalah pandangan kita mengenai diri kita, dan itu hanya bisa kita peroleh lewat informasi yang diberikan orang lain kepada kita. Melalui komunikasi dengan orang lain kita belajar bukan saja mengenai siapa kita, namun juga bagaimana kita merasakan siapa kita. Anda mencintai diri anda bila anda telah dicintai; anda berpikir anda cerdas bila orang-orang sekitar anda menganggap anda cerdas; anda merasa tampan atau cantik bila orang-orang sekitar anda juga mengatakan demikian. George Herbert Mead mengistilahkan significant others (orang lain yang sangat penting) untuk orang-orang disekitar kita yang mempunyai peranan penting dalam membentuk konsep diri kita. Ketika kita masih kecil, mereka adalah orang tua kita, saudara-saudara kita, dan orang yang tinggal satu rumah dengan kita. Richard Dewey dan W.J. Humber (1966) menamai affective others, untuk orang lain yang dengan mereka kita mempunyai ikatan emosional. Dari merekalah, secara perlahanlahan kita membentuk konsep diri kita. Selain itu, terdapat apa yang disebut dengan reference group (kelompok rujukan) yaitu kelompok yang secara emosional mengikat kita, dan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita. Dengan melihat ini, orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan dirinya dengan ciri-ciri kelompoknya. Kalau anda memilih kelompok rujukan anda Ikatan Dokter Indonesia, anda menjadikan norma-norma dalam Ikatan ini sebagai ukuran perilaku anda. Anda juga merasa diri sebagai bagian dari kelompok ini, lengkap dengan sifat-sifat doktrin menurut persepsi anda.

b. Pernyataan eksistensi diri. Orang berkomunikasi untuk menunjukkan dirinya eksis. Inilah yang disebut aktualisasi diri atau lebih tepat lagi pernyataan eksistensi diri. Fungsi komunikasi sebagai eksistensi diri terlihat jelas misalnya pada penanya dalam sebuah seminar. Meskipun mereka sudah diperingatkan moderator untuk berbicara singkat dan langsung ke pokok masalah, penanya atau komentator itu sering

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA berbicara panjang lebar mengkuliahi hadirin, dengan argumen-argumen yang terkadang tidak relevan.

c. Untuk kelangsungan hidup, memupuk hubungan, dan memperoleh kebahagiaan. Sejak lahir, kita tidak dapat hidup sendiri untuk mempertahankan hidup. Kita perlu dan harus berkomunikasi dengan orang lain, untuk memenuhi kebutuhan biologis kita seperti makan dan minum, dan memenuhi kebutuhan psikologis kita seperti sukses dan kebahagiaan. Para psikolog berpendapat, kebutuhan utama kita sebagai manusia, dan untuk menjadi manusia yang sehat secara rohaniah, adalah kebutuhan akan hubungan sosial yang ramah, yang hanya bisa terpenuhi dengan membina hubungan yang baik dengan orang lain. Abraham Moslow menyebutkan bahwa manusia punya lima kebutuhan dasar: kebutuhan fisiologis, keamanan, kebutuhan sosial, penghargaan diri, dan aktualisasi diri. Kebutuhan yang lebih dasar harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum kebuthan yang lebih tinggi diupayakan. Kita mungkin sudah mampu kebuthan fisiologis dan keamanan untuk bertahan hidup. Kini kita ingin memenuhi kebutuhan sosial, penghargaan diri, dan aktualisasi diri. Kebutuhan ketiga dan keempat

Dokumen terkait