BAB II KERANGKA TEORITIS
D. Kerangka Analisis Sekuritisasi
3. Referent Object (RO)
Dalam pertarungan antara kubu Bupati Andi Muhammad dengan kubu Ketua DPRD Morowali Zainal Abidin Ishak, masing-masing kubu berupaya mendapatkan dukungan massa sebagai basis kekuatan dalam melakukan perlawanan (konflik).
Kubu Andi Muhammad mendapatkan dukungan dari etnis Mori dan etnis Bugis, sedangkan kubu Zainal Abidin Ishak didukung oleh komunitas etnis Bungku. Isu-isu yang kerap muncul adalah solidaritas etnis, agama, latar belakang sejarah dan asal daerah (putra daerah). Konflik kepentingan kedua kubu elite politik lokal tersebut berlangsung dalam dua episode konflik, yaitu konflik penetapan ibu kota definitif dan pemekaran Morowali (pem-bentukan Kabupaten Morowali Utara). Dalam pertarungan kepentingan antara dua kubu ini menimbulkan akibat masyarakat Morowali terbelah ke dalam dua kelompok masyarakat, yaitu masyarakat Bungku (Islam) dan masyarakat Mori (Kristen) yang hingga saat ini mengalami gap dan saling menutup diri dalam berinteraksi.
Dalam konteks ini, Amita Etzioni,110 melakukan kategorisasi massa berdasarkan tingkat kepentingannya. (1) massa moral; (2) massa kalkulatif; dan (3) massa alienatif. Massa moral merupakan massa yang potensial terikat secara politik pada suatu partai politik karena loyalitas normatif yang dimilikinya. Massa moral bersifat tradisional, cenderung kurang atau tidak kritis terhadap krisis-krisis empirik dan hubungannya dengan elite bersifat primor-dialisme. Massa kalkulatif adalah massa yang memiliki sifat-sifat yang amat peduli dan kritis terhadap krisis-krisis empirik yang dihadapi oleh masyarakat di sekitarnya. Massa ini akrab dengan modernitas, sebagian besar menempati lapisan tengah masyarakat, memiliki sifat kosmopolit dan penuh perhitungan untung-rugi (kalkulatif) dalam berinteraksi. Massa alienatif adalah massa yang teralienasi (tersingkirkan) dan pasrah mobilitas politik, dan pada saat yang sama tidak menyadari sepenuhnya akibat-akibat mobilisasi politik yang terjadi padanya.
Hubungan yang didasarkan dengan nilai primodialisme dan pola patron klien yang paling mudah dan efektif melakukan mobilisasi massa (the client) oleh elite politik lokal untuk melakukan gerakan sosial (social movement) baik bersifat konstruktif maupun destruktif.111 Gurr, mengatakan bahwa identitas etnis dapat menjadi konsumsi politik bagi para pemimpin untuk menarik dukungan massa. Dan etnopolitik merupakan yang paling mudah mengikat massa dengan melalui metode mobilisasi untuk mela-kukan perlawanan terhadap suatu kelompok yang mengancam jati dirinya (eksistensi).
110 Amita Etzioni, (1961). A Comparative Analysis of Complex Organization, New York: Free Press.
111 Clifford Geerzt, Op.Cit.: James C.Scott, (1972).“Patron-Client Politics and Political Change in Southeast Asia” dalam The American Political Science Review. Vol.LXVI. Maret No.1.Hal. 91-113. Scott, merumuskan teori
“patron-client relationship” ingin menunjukkan bahwa konflik akan dapat lebih dipahami jika diketahui kelompok patron-klien mereka terlibat konflik.
Lihat Ted Gurr, Op.Cit.
Gurr112 mengartikan mobilisasi (mobilization) adalah the extent to which group members are prepared to commit their energies and resources to collective action on behalf of their common interests.
Jadi suatu gerakan massa (kelompok) yang terencana memiliki komitmen dalam mencapai kepentingan bersama. Kelompok massa yang dimobilisasi tersebut terdiri dari individu-individu yang memiliki kesamaan nilai, budaya, etnis, agama dan asal daerah. Kelompok ini menurut Gurr113 kerapkali menjadi obyek eksploitasi oleh elite politik dan yang paling mudah digerakkan untuk dibenturkan dengan kelompok primodialisme lainnya.
Dengan demikian, peran massa kadang-kadang dimanipulasi untuk tujuan-tujuan tertentu berdasarkan kepentingan elitenya.
Malahan sesungguhnya mereka seringkali hanya sebatas sebagai massa yang dimobilisasi melalui manipulasi simbol oleh elite agar secara politik elite yang bersangkutan merasa mendapat dukungan kekuatan massa yang lebih banyak sebagai justifikasi melakukan tindakan-tindakan politik.
Baik Buzan maupun Gurr memiliki kesamaan pandangan bahwa secara subtantif konflik bisa terjadi, jika eksistensi dan kepentingan seseorang atau kelompok mengalami ancaman dari orang atau kelompok lain. Dan setiap insan berkeinginan untuk menikmati hidup yang lebih layak serta memiliki naluri untuk menguasai dan mendapatkan sumber-sumber kehidupan politik dan ekonomi (resources) dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya (survive). Pada prinsipnya manusia mempertahankan kepentingannya untuk menjaga agar supaya tetap eksis dalam lingkungannya.
Namun, dalam hubungan antara securitizing actor (elite) dengan referent object (massa) terdapat elemen masyarakat yang menjadi perantara yang memiliki pengaruh terhadap kedua belah
112 Ted Gurr, Ibid. Hal. 127.
pihak untuk mengkonsolidasikan kepentingan-kepentingan mereka. Elemen masyarakat ini lebih dekat dengan elite politik lokal dan menyatu dengan masyarakat tingkat bawah (grass root).
Elemen masyarakat ini biasanya mendapatkan imbalan politik dan ekonomi dari elite politik lokal yang sukses mendapatkan jabatan, bahkan membantu melakukan pengamanan kepentingan, oleh Buzan114 disebut sebagai the functional actors dan Mosca115 menyebutnya sebagai “social force”, yaitu aktor atau elite di luar struktur pemerintahan namun memiliki pengaruh terhadap masyarakat dan didengar oleh pihak elite politik lokal. Dalam dinamika demikian inilah, pemekaran wilayah merupakan arena tempat bertemunya gerakan politik dan gerakan sosial,116 dalam bentuk solidaritas sosial yang berdasarkan ikatan primordialisme.
Di Kabupaten Morowali telah dibentuk organisasi masyarakat, yang terdiri dari kedua kelompok etnis (Bungku dan Mori), yaitu KKB (Kerukunan Keluarga Bungku), Forbers (Forum Bersama Masyarakat Bungku) dari pihak komunitas etnis Bungku (baca:
kubu Bungku) dan FPPKM (Forum Percepatan Pemekaran Kabupaten Morowali) dan FPIK (Forum Pembela ibu kota Kolonedale) dari pihak kelompok etnis Mori dan etnis Bugis (baca: kubu Kolonodale). Elemen-elemen kekuatan masyarakat inilah yang paling dinamis dalam konflik elite politik lokal dalam pemekaran di Kabupaten Morowali. Ini disebabkan oleh adanya faktor kepentingan politik dan ekonomi secara timbal balik (jasa politik) dari elite politik lokal yang sukses mempertahankan atau menggapai jabatan politik.
Dalam pertarungan kepentingan politik elite politik di Kabupaten Morowali selama ini isu yang acapkali muncul adalah pemekaran yang didasarkan pada komunitas etnis dan agama (primordialisme). Polarisasi masyarakat Kabupaten Morowali
114 Lihat Barry Buzan, Op.Cit. Hal. 36.
115 Mosca,Op-cit. Hal. 105.
116 Sebagaimana di kutip oleh Paskarina dan Mariana, Op.Cit. Hal. 2.
terbentuk dalam dua kelompok, sebagai akibat dari dampak konflik elite politik yang berlarut-larut tanpa adanya titik terang penyelesaian: kelompok etnis Bungku yang beragama Islam versus kelompok etnis Mori yang beragama Kristen (termasuk etnis Bugis). Beberapa faktor penting lain penyebab konflik kedua komunitas etnis tersebut adalah di samping perbedaan agama dan kultural, tetapi juga perbedaan latar belakang sejarah kerajaan dan leluhur (homeland).117
Teori sekuriti dan kerangka sekuritisasi Buzan ini sesung-guhnya memiliki beberapa titik kelemahan: Pertama, teori ini tidak menjelaskan adanya variabel ekstrenal, yaitu kekuatan pengaruh elite politik pusat yang memberikan peluang dan ruang fragmentasi pertarungan kepentingan elite politik lokal di Kabupaten Morowali. Dukungan politik dari elite pusat yang menjadi semangat para aktor (elite politik lokal) untuk lebih eksis, bahkan konflik semakin dinamis di berbagai level kelas masyarakat.
Kedua, teori ini Buzan lebih menyuguhkan struktur aktor sebagai pemain yang lebih statis. Padahal, situasi konflik dapat men-dinamisasi berbagai aktor sebagai pemain dalam lakon “pertarungan kepentingan politik”. Hubungan antara securitizing actor (SA) dan referent object (RO) saling menguntungkan. Securitizing actor tidak dapat eksis tanpa dukungan dari referent object, demikian pula sebaliknya. Namun disisi lain, keunggulan teori ini, Buzan memunculkan variabel Logic of Threat (LoT) yang menjadi bagian
117 Lihat Poelinggomang, (2008). Kerajaan Mori: Sejarah dari Sulawesi Tengah, Jakarta, Komunitas Bambu. “Konflik antara Raja Bungku dan Raja Mori telah Berlangsung Sejak Abad ke-18”; Baca, Dokumen, “Kajian Daerah Terhadap Aspek Teknis Pemekaran Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah, 2006”, sejarah mencatat bahwa Kerajaan Mori dan Kerajaan Bungku adalah dua kerajaan yang selalu berperang, yaitu “Perang Ensa Ondau”, dan melahirkan perjanjian Tompira serta perjanjian Kanta dan Kondonge.
Kendati perang antara kedua kerajaan etnis ini berhenti setelah era pendu-dukan Belanda, Raja Mori, Marunduh tidak pernah menyebutkan To Bungku sebagai kawan. Lihat juga, Kruyt, Alb.C. (1979). Kerajaan Mori, Jakarta: PT. Inti Idayu Press, Hal. 21. Hingga kini kedua masyarakat yang
dari “amunisi” permainan dari elite politik, yaitu mengkonstruksi isu-isu kecil (sepele) menjadi isu primordial, ketidakadilan dan marjinalisasi politik yang berskala yang lebih besar. Logic of Threat (LoT) ini juga menjadi konstruksi logika elite politik dalam mengambil tindakan destruktif, ketika eksistensi mereka meng-alami ancaman. Kenyataan inilah yang terjadi di Kabupaten Morowali. Konflik kepentingan elite politik lokal tersebut diawali dengan isu-isu “pemindahan ibu kota definitif ” dan “pemekaran wilayah” kemudian dikembangkan menjadi isu marjinalisasi etnis dan agama serta isu politik (perebutan jabatan).