BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
1. Setting Penelitian
Menurut Spradly (1980) yang dikutip Sugiyono,39 penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, tetapi disebut “social situation” atau situasi sosial yang terdiri dari atas tiga elemen yaitu: tempat (place), pelaku (actors), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis. Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti mengambil setting sebagai berikut: Pertama, tempat (place) atau lokasi penelitian adalah Kabupaten Morowali (hasil pemekaran Kabupaten Poso) yang terbentuk sejak tahun 1999 berdasarkan UU No 51/tahun 1999. Kedua, pelaku (actors) adalah elite politik lokal, baik berada di Kabupaten Morowali, maupun yang berada di Provinsi Sulawesi Tengah, dan termasuk anggota-anggota
37 Ibid. Hal. 4.
38 Lihat, Nachmias-Chava Frankfort and Nachmias David. 1996. Research Methods in the Social Sciences, Fifth Edition. London, Arnold. Hal. 280.
39 Sugiyono, (2005). Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta. Hal.
DPD asal Sulawesi Tengah yang memiliki akses kepentingan politik terhadap elite politik lokal. Ketiga, kegiatan (activity) keseluruhan kehidupan masyarakat di Kabupaten Morowali (elite politik lokal maupun masyarakat secara umum) dipengaruhi oleh dinamika konflik elite politik lokal maupun dampaknya. Sejak Morowali berdiri sebagai daerah otonom telah diwarnai oleh maraknya dinamika konflik elite politik lokal dalam beberapa kasus, yaitu tarik menarik ibu kota, pemilihan kepala daerah, politisasi birokrasi, perpecahan internal DPRD, pro-kontra peme-karan Morowali (pembentukan Morowali Utara) dan ancaman konflik etnis (etnis Bungku dan etnis Mori).
Berdasarkan asumsi bahwa dalam penelitian kualitatif yang lebih diutamakan adalah “proses” dari sebuah kejadian dan “makna”
di balik kejadian tersebut. Maka sampel ini berkaitan dengan peristiwa (kejadian), manusia, situasi dan sebagainya yang me-nunjuk kan gejala, berkaitan dengan realitas konflik elite politik lokal di Kabupaten Morowali. Oleh karena itu, teknik sampling dilakukan empat model: (1) Accidential sampling, yaitu mengambil sampel dengan pertimbangan tertentu yang tidak dirancang pertemuannya terlebih dahulu.(2). Purposive sampling, yaitu menentukan sampel dengan pertimbangan tertentu yang di pan-dang dapat memberikan data secara maksimal. (3) Cluster-quota sampling, yaitu memilih sejumlah informan dari wilayah tertentu sampai batas data yang diinginkan terpenuhi. (4). Snow-ball sampling, yaitu peneliti memilih informan secara berantai hingga keperluan data telah maksimal.40 Hal ini dilakukan, jika seorang responden tidak menjawab sebuah pertanyaan, peneliti segera meneruskan pencarian ke pihak lain yang direkomendasikannya.
Peneliti kebetulan banyak mengenal para elite politik lokal, tokoh masyarakat, LSM, tokoh pemuda dan masyarakat di Kabupaten Morowali karena beberapa kali melakukan penelitian kerjasama
40 Suharsimi Arikunto, (2006). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 16.
dengan Pemerintah Daerah Morowali dengan Lembaga Penelitian Universitas Tadulako (Limlet Untad) yang merupakan unit kerja peneliti.
2.Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini akan memanfaatkan data-data lapangan, pustaka, dokumen-dokumen, jurnal, surat kabar dan kesaksian-kesaksian para aktor konflik. Karena itu, data-data akan dikumpulkan dari penelitian lapangan (field research), penelitian pustaka (library research), dan penelitian partisipatoris (participatory research), yang dapat diulas sebagai berikut:
a. Penelitian Lapangan (Field Research)
Penelitian lapangan merupakan strategi penting dalam pengum pulan data dengan menggunakan metodologi kualitatif.
Menurut Nachmias41 penelitian lapangan (field research) merupa
kan studi tentang perilaku orang seharihari secara alamiah.
Dalam penelitian lapangan ini, peneliti menggunakan dua metode pengumpulan data, yaitu pengamatan berperan serta (participant observation) dan wawancara mendalam (in-depth interview):
1. Pengamatan Berperan Serta (Participant observation)
Denzin42 mengemukakan bahwa pengamatan berperan
serta adalah strategi lapangan yang secara simultan mema
dukan analisis dokumen, wawancara dengan responden dan informan, partisipasi dan observasi. Guba dan Lincoln43 mengatakan bahwa setidaknya ada 6 alasan mengapa peneliti memanfaatkan pengamatan langsung (direct observation):
41 Nachmias-Chava Frankfort and Nachmias David. 1996. Op.Cit. Hal. 281.
42 Norman K Denzin and Lincoln S. Yvonna (eds), (1994). Handbook of Qualitative Research, New Dehli: SAGE Publications. Hal. 183.
43 Lincoln, Y Vonna S and E Egon G Guba, (1985). Naturalistic Inquiry.
Pertama, pengamatan ini didasarkan atas pengamatan secara langsung. Tampaknya pengamatan langsung merupakan alat yang ampuh untuk mengetes suatu kebenaran. Kedua, teknik pengamatan juga memungkinkan peneliti melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya.
Ketiga, pengamatan memungkinkan peneliti mencatat peris
tiwa dalam situasi yang berkaitan dengan pengetahuan proporsional maupun pengetahuan yang langsung diperoleh dari data. Keempat, sering terjadi ada keraguan pada peneliti, janganjangan data yang di jaringnya ada yang kurang tepat (bias). Kemungkinan hal itu terjadi karena kurang dapat mengingat peristiwa atau hasil wawancara, adanya jarak antara peneliti dan yang diwawancarai. Untuk lebih meyakin
kan, peneliti melakukan pengamatan secara langsung. Kelima, teknik pengamatan memungkinkan peneliti mampu mema
hami situasisituasi yang rumit. Keenam, dalam kejadian
kejadian tertentu, model atau teknik komunikasi lainnya tidak memungkinkan atau tidak efektif, sehingga pengamatan langsung dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat.
2. Wawancara mendalam (in-depth interview)
Wawancara merupakan bentuk komunikasi antara dua orang (face to face), melibatkan seorang peneliti yang ingin memperoleh informasi dari seorang responden dengan mengajukan pertanyaanpertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu. Peneliti membagi dua bentuk wawancara, yaitu wawancara tidak terstruktur dan wawancara terstruktur.44 Wawancara tidak terstruktur yang biasa disebut wawancara mendalam, wawancara intensif, wawancara kualitatif, dan wawancara terbuka (open ended interview). Sedangkan
44 Deddy Mulyana, (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, Bandung: PT. Ramaja Rosdakarya.
Hal.180.
wawancara terstruktur biasanya disebut wawancara baku (standardized interview) Dalam penelitian disertasi ini, peneliti akan mempergunakan wawancara tak struktur yang lebih dinamis dan informal sifatnya sehingga antara peneliti dan informan akan tercipta suasana yang lebih akrab dan familiar. Denzin45 dalam bukunya, The Research Act in Sociology, 1970 merumuskan setidaknya ada tiga alasan para interaksionis lebih cenderung memanfaatkan wawancara terbuka (tak terstruktur) sebagai salah satu teknik mengum
pulkan data dilapangan: Pertama, wawancara terbuka (open ended interview) memungkinkan responden/informan meng
gunakan caracara unik dalam mendefinisikan dunia nyata
nya. Kedua, wawancara terbuka (open ended interview) mengasumsikan bahwa tidak ada urutan tetap pertanyaan yang sesuai untuk semua responden/informan. Ketiga, wawan
cara terbuka (open ended interview) memungkinkan responden/
informan membicarakan isuisu penting yang tidak terjadwal (free time).
Dalam penelitian lapangan ini, peneliti menggunakan teknik pengamatan berperan serta dan wawancara terbuka (open ended interview) karena berdasarkan karakteristik masyarakat, khususnya elite politik lokal di Kabupaten Morowali bersifat tertutup, sehingga memerlukan pendekatan kekeluargaan untuk lebih dekat dan akrab sehingga dapat memudahkan peneliti melakukan wawancara yang lebih dinamis dan mendalam. Oleh karena itu, peneliti melakukan pendekatan persuasif untuk masuk ke dalam kelompok mereka atau masuk sebagai bagian dari keluarga guna memperoleh informasi sebanyak mungkin.
45 Norman K Denzin, (1970). The Research Act in Sociology, London: Butterworth.
b. Penelitian Pustaka (Library Research)
Peneliti juga menggunakan penelitian pustaka (library research) untuk memanfaatkan datadata sekunder yang berupa dokumendokumen tertulis, catatancatatan harian dari pelaku atau informan lain, dari media massa baik cetak maupun elektronik, terutama yang berkenaan kejadian masa lalu sebagai memori sosial. Sumbersumber pustaka dalam penelitian ini dapat dibagi ke dalam empat sumber, yaitu:
1. Primary Sources: Sumber ini berkaitan dengan suratsurat, riwayat hidup (catatan harian), surat kabar dan majalah, artikel dan foto dari subjek penelitian yang pernah ada dan masih hidup hingga kini.
2. Secondary Sources: Sumber kedua ini memberikan solusi atas keterbatasan primary sources yang disebabkan oleh keterbatasan waktu yang dimiliki peneliti. Secondary sources menyediakan bagi peneliti data yang berkaitan dengan sejarah masa lalu sebagai hasil karya ahli sejarah melalui penelitian secara intensif dengan memanfaatkan primary sources.
3. Running Records: Sumber data ini menyediakan berkas (files) atau dokumen statistik (statistical documents) yang disimpan dengan baik oleh sebuah lembaga.
4. Recollections: Data yang berkaitan dengan katakata/ucapan
ucapan (the words) atau tulisantulisan (writings) individu/
seseorang atau kelompok tentang pengalaman masa lalu yang didasarkan pada ingatan (memory).46
c. Participative Action Research (PAR)
Participative action research (PAR) merupakan metode penelitian yang menganjurkan peneliti untuk terlibat langsung
46 Lawrence W Neuman, (1997). Social Research Methodes Qualitative and Quantitative Approachs (Third Edition), Allyn & Bacon A Viacom Company, the United States of America. Hal. 396-398
dalam pengumpulan data mengenai obyek penelitian atau suatu kajian komunitas masyarakat dan lingkungan masyarakat, yang menjadi fokus dan ruang lingkup kajian secara aktual.
Peneliti terlibat langsung sebagai partisipan dalam suatu kejadian peristiwa yang memungkinkan mendapatkan data yang lebih akurat, cermat dan obyektif. Dalam penelitian metode PAR sesungguhnya tidak berbeda dengan metode dan teknik pengumpulan data dalam ilmuilmu sosial, yaitu peneliti terlibat langsung atau menjadi partisipan dalam suatu kejadian yang menjadi obyek atau fokus kajian tersebut. Dalam penelitian teknik PAR datadata diperoleh, baik bersifat kuantitatif maupun kualitatif untuk menggambarkan kasus
kasus aktual yang diteliti.47 PAR juga menganjurkan peneliti ikut berpartisipasi, harus lebih adaptif terhadap lingkungan sosial dan kultural masyarakat. Dalam penelitian partisipatoris diperlukan pengenalan lingkungan sosial dan geografis sebagai orientasi pengenalan lingkungan.
Dalam penelitian PAR, peneliti lebih memperkenalkan diri baik secara formal maupun informal. Secara formal peneliti mendekatkan diri kepada lembaga birokrasi dan lembaga politik. Secara informal peneliti memperkenalkan diri kepada tokohtokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, LSM dan tokoh pemuda serta ormas yang lebih banyak aktif dalam episodeepisode unjuk rasa dan konflikkonflik sosial.
Keterlibatan langsung peneliti dimungkinkan pada kejadian
kejadian unjuk rasa dan rapatrapat baik dilaksanakan oleh elite politik lokal maupun masyarakat. Hal ini dimungkinkan karena, sejak awal terbentuknya Kabupaten Morowali, peneliti secara kebetulan berada di lapangan atau lokasi penelitian dalam menulis buku tentang Biografi Wakil Rakyat (Anggota DPRD) Kabupaten Morowali Periode 2001 – 2004, turut ikut
serta dalam berbagai kejadiankejadian konflik baik dalam bentuk rapatrapat akbar yang dilakukan oleh kedua kubu maupun rapatrapat internal elite politik lokal. Modal data empiris inilah kemudian menjadi inspirasi bagi peneliti untuk mengajukan proposal penelitian disertasi ini pada tahun akademik 2006. Konflik tersebut terus berlangsung hingga kini, walaupun eskalasinya agak turun, dengan tuntutan
“pemekaran” Kabupaten Morowali menjadi Kabupaten Morowali Utara.