BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Refleksi
Setelah siklus I pertemuan pertama dan kedua dilaksanakan, diharapkan siswa dapat memahami nilai pecahan sederhana dengan baik. Meskipun siswa baru sebatas melihat teman lain berdemonstrasi, peneliti mengharapkan siswa dapat memahaminya dengan baik dan mendalam. Jika pengenalan siswa akan pecahan sederhana belum mendalam, maka siklus II masih harus dilanjutkan. Siklus II tetap akan dilakukan dengan menggunakan demonstrasi mandiri, agar siswa mempunyai pengalaman langsung memotong, mengarsir dan
2. Siklus II
a. Rencana Tindakan
Siklus II akan dilaksanakan selama 2 kali pertemuan, setiap pertemuan 2 JP dengan metode demonstrasi mandiri.
1) Siklus II pertemuan pertama Kegiatan pembelajaran:
Guru menunjukkan potongan kertas berbentuk segitiga, lingkaran,
jajar genjang dan segi enam dengan arsiran sesuai nilai pecahan 3 2 ; 4 2 ; 4 3 ; 6 4 dan seterusnya.
Guru meminta empat siswa maju ke depan kelas.
Siswa memotong kertas sesuai nilai pecahan dan menempelkan kembali di papan tulis.
Guru menjelaskan ulang dari apa yang telah ditunjukkan siswa. Siswa menceritakan kegiatan sehari – hari.
Siswa menggambar slogan tentang kesehatan.
2) Siklus II pertemuan kedua Kegiatan pembelajaran:
Guru menunjukkan potongan kertas berbentuk lingkaran yang sudah terbagi dalam beberapa bagian.
Guru menunjukkan hasil arsiran siswa.
Guru meminta empat siswa lain menggambar lingkaran kemudian mengarsir sendiri sesuai nilai pecahan.
Siswa dapat menjelaskan gerak benda dan kegunaannya.
b. Pelaksanaan Tindakan
Siklus II pertemuan pertama dan kedua merupakan siklus untuk merealisasikan bahwa siswa dapat, memotong, mengarsir dan menggambar sendiri sesuai nilai pecahan.
c. Observasi
Dari pengamatan yang akan dilakukan oleh guru, nantinya akan terlihat berhasil tidaknya siswa memotong, mengarsir dan menggambar sendiri sesuai nilai pecahan. Jika sudah berhasil, artinya siswa sudah mengenal pecahan sederhana dengan optimal.
d. Refleksi
Setelah siklus II pertemuan pertama dan kedua dilaksanakan dengan demonstrasi mandiri, peneliti sangat mengharapkan siswa benar-benar dapat memahami pecahan sederhana dengan baik dan optimal. Jika siswa sudah dapat memahami nilai pecahan dengan baik dan optimal, serta hasil dari nilai ulangan harian dapat mencapai target yang diharapkan maka siklus II ini dapat dihentikan.
C. Data, Pengumpulan Data dan Instrumen.
Dalam penelitian ini diperlukan data yang menyatakan kondisi awal yang berupa kumpulan nilai ulangan harian selama dua tahun terakhir. Sedangkan instrumen untuk pengumpulan nilai ulangan pada postes I dan postes II berupa soal-soal ulangan.
D. Penyusunan Instrumen
Dalam penelitian ini terdapat dua macam instrumen yaitu: instrumen pembelajaran dan instrumen pengumpulan data. Instrumen pembelajaran terdiri dari Silabus, RPP dan LKS dengan komponen berupa Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Sub materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian dan sumber. Sedangkan instrumen pengumpulan data terdiri dari soal ulangan (Postes I dan II) dan kisi- kisi soal. Kisi- kisi tersebut dibuat agar soal- soalnya memiliki validitas yang tinggi terutama validitas isi dan konstruksi. Kecuali itu, soal-soalnya juga dikonsultasikan dengan pembimbing.
SILABUS PEMBELAJARAN TEMATIK Satuan Pendidikan : Mata Pelajaran Terkait : Kelas / Semester : Aspek Terkait : Unit / Tema : Mata Pelajaran Kompetensi
Dasar Indikator Materi Pokok Kegiatan Pembelajaran Sumber Belajar Peni laia n RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK Satuan Pendidikan : Hari / Tanggal : Kelas / Semester : Aspek Terkait : Unit / Tema : Alokasi Waktu : Mata Pelajaran Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Sub Materi Pokok Kegiatan Pembelajar an Indika tor Penilaian
LEMBAR KERJA SISWA Satuan Pendidikan : Hari / Tanggal : Kelas / Semester : Aspek Terkait : Unit / Tema : Alokasi Waktu : I. Indikator Hasil Belajar
III. Kegiatan Belajar
IV. Refleksi
E. Analisis Data
Sebelum peneliti mengadakan penelitian, peneliti memeriksa kondisi awal anak dengan melihat nilai ulangan harian selama dua tahun terakhir dengan diperoleh hasil sebagai berikut
1. Tahun Pelajaran 2006 / 2007 siswa yang tidak tuntas mencapai 17 dari 35 siswa atau 48,6% dengan nilai rata – rata kelas 63,4.
2. Tahun Pelajaran 2007/ 2008 siswa yang tidak tuntas mencapai 11 dari 34 siswa atau 32% dengan nilai rata-rata kelas 67, 2.
Setelah data ulangan harian selama dua tahun terakhir diperoleh, peneliti menentukan indikator keberhasilan atau target yang ingin dicapai dalam penelitian pada Siklus I yaitu rata-rata 75. Peneliti mengharapkan, dalam siklus I siswa dapat memahami nilai pecahan dengan baik, meskipun dalam siklus tersebut siswa masih sebatas melihat teman lain berdemonstrasi. Setelah siklus I dilaksanakan, peneliti ingin melihat bagaimana hasil yang dapat diperoleh siswa setelah menggunakan metode demonstrasi terbimbing dan kendala apa yang muncul dalam pelaksanaan siklus I tersebut. Jika siklus I sudah terlaksana dengan baik, peneliti masih ingin meningkatkan kemampuan siswa sehingga menjadi lebih
demonstrasi mandiri. Dalam pelaksanaan siklus II, peneliti ingin menentukan target akhir yang dapat diperoleh siswa yaitu dapat mencapai rata-rata 90 dan semua siswa dapat mencapai ketuntasan. Jika target yang diharapkan dapat tercapai dan semua siswa dapat mencapai ketuntasan, maka penelitian akan diakhiri.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 27 April sampai 8 Mei 2009 di SD Tarakanita Bumijo I Yogyakarta. Penelitian ini dibagi ke dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Siklus pertama dilaksanakan dengan metode demonstrasi terbimbing, sedangkan siklus kedua menggunakan metode demonstrasi mandiri. Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti menentukan langkah-langkah sebagai berikut: pemeriksaan hasil ulangan siswa di kelas lain selama 2 tahun terakhir, mencari rata-rata kelas setiap hasil ulangan, melaksanakan penelitian, melaksanakan tes setiap akhir siklus, menghitung rata-rata hasil tes setiap akhir siklus, dan membandingkan indikator keberhasilan dengan rata-rata hasil hasil ulangan harian selama 2 tahun terakhir. Setelah menentukan langkah- langkah penelitian, peneliti melaksanakan penelitian tersebut. Penelitian pada siklus I pertemuan pertama dan kedua siswa diajak ke dalam pembelajaran dengan metode demonstrasi terbimbing. Pelaksanaan penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut:
1. Siklus I
a. Siklus I Pertemuan Pertama
Dua siswa maju untuk membelah apel menjadi dua bagian dan empat bagian dengan bantuan guru. Setelah satu siswa membelah apel menjadi dua bagian, guru meminta siswa menunjukkan kepada teman-temannya. Guru mengajukan pertanyaan: Menjadi berapa bagiankah apel yang telah dibelah oleh temanmu? Kemudian siswa menjawab bahwa apel yang telah dibelah menunjukkan seperdua atau setengah bagian. Kemudian satu siswa lagi membelah apel menjadi empat bagian sama besar dan menunjukkan pula kepada teman- temannya. Guru mengajukan pertanyaan : Menjadi berapa bagiankah apel yang telah dibelah oleh temanmu? Kemudian
Empat siswa memotong kertas berbentuk lingkaran dan bunga. Setelah empat siswa memotongnya, guru menunjukkan potongan kertas satu persatu. Guru menunjukkan potongan kertas tiga bagian, kemudian guru bertanya : Menjadi berapa bagiankah kertas yang dipotong temanmu ini? Kemudian siswa menjawab tiga bagian. Guru menunjukkan kembali potongan kertas empat bagian, enam bagian dan delapan bagian, kemudian guru menanyakan kembali pada siswa berapa bagian potongan yang ditunjukkan oleh guru.
Guru dan siswa menunjukkan bahwa potongan apel dan kertas merupakan bagian yang sama besar.
b. Siklus I Pertemuan Kedua
Guru menunjukkan kertas berbentuk lingkaran, bujursangkar dan persegi panjang yang telah diarsir sesuai nilai pecahan. Guru meminta tiga siswa maju untuk memotong kertas tersebut. Siswa memotong kertas sesuai nilai pecahan. Setelah tiga siswa tersebut memotongnya, siswa satu persatu menunjukkan dan guru menanyakan berapa nilai pecahan yang telah dipotong oleh temanmu ini ? Siswa secara bergantian menjawab bahwa potongan kertas tersebut menunjukkan pecahan
2 1 , 3 1 , dan 4 1 .
Guru menegaskan bahwa potongan kertas yang ditunjukkan oleh ketiga temannya menunjukkan bahwa arsiran sesuai nilai pecahan.
Setelah siklus pertama pertemuan pertama dan kedua berakhir, siswa melaksanakan tes akhir (postes) untuk melihat hasil penelitian.
2. Siklus II
a. Siklus II Pertemuan Pertama
Guru menunjukkan potongan kertas berbentuk segitiga, lingkaran, jajar genjang, segi enam dengan arsiran sesuai nilai pecahan
3 2, 4 2, 4 3,dan 6 4 . Kemudian guru meminta empat siswa maju ke depan kelas untuk memotong kertas sesuai nilai pecahan dan menempelkan ke papan tulis tanpa bantuan
temannya sudah benar, kemudian guru menjelaskan dan menegaskan apa yang telah ditunjukkan oleh ke empat teman tersebut.
b. Siklus II Pertemuan Kedua
Guru menunjukkan potongan kertas berbentuk lingkaran yang sudah terbagi dalam beberapa bagian. Kemudian guru meminta keempat siswa maju masing-masing untuk mengarsir potongan kertas tersebut sesuai nilai pecahan yang berbeda tanpa bantuan dari guru. Guru menunjukkan hasil yang dikerjakan oleh keempat teman tersebut. Guru juga menanyakan apakah yang dikerjakan keempat teman tersebut juga sudah benar. Guru kemudian meminta empat siswa lain untuk menggambar sendiri masing-masing sebuah lingkaran yang berbeda nilai pecahannya dan mengarsirnya sesuai nilai pecahan tersebut. Kemudian guru juga menunjukkan hasil pekerjaan keempat teman tersebut dan menanyakan juga apakah hasilnya juga benar. Guru kemudian menegaskan bahwa hasil dari keempat teman tersebut benar. Kemudian guru memberi kesempatan semua siswa untuk menggambar dan mengarsir sendiri sesuai nilai pecahan yang ditentukan oleh guru. Setelah siklus kedua pertemuan pertama dan kedua dilaksanakan, siswa melaksanakan tes akhir untuk melihat hasil penelitian.
B. Deskripsi Data
Sebelum peneliti mengadakan penelitian, diperoleh data nilai ulangan harian selama 2 tahun terakhir. Tahun pelajaran 2006/2007 rata-rata kelas 63,4 dengan siswa yang tuntas 51,4%, sedangkan tahun 2007/2008 rata-rata kelas 67,2 dengan siswa yang tuntas 67,6%. Jika digabungkan, kedua rata-rata kelas tersebut menjadi 65,3. Sebenarnya hasil atau rata-rata keduanya sudah dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM), namun peneliti merasa masih banyak siswa yang belum bisa mencapai KKM secara perorangan. Hal itu mungkin dikarenakan materi pecahan sederhana merupakan materi baru bagi siswa di kelas III yang belum pernah didapat di kelas I dan II. Dari hasil
rata-ditingkatkan misalnya menjadi 70. Setelah peneliti mengadakan penelitian pada siklus I diperoleh hasil dari tes akhir/ postes sebagai berikut:
Tabel 1
HASIL ULANGAN HARIAN (Siklus 1) Kelas III A 3 SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta
Tahun Ajaran 2008 / 2009
No No Nama Anak NILAI Keterangan
Induk
1 4175 Benedictus Desta Indrawan 85 Tuntas 2 4180 Eric Valdy Malakauseya 95 Tuntas 3 4199 Tiffany Angela 65 Tuntas 4 4296 Agnes Angela Karin Pramusita 100 Tuntas 5 4297 Agung Susilo Lo 75 Tuntas 6 4298 Albert Theodore 95 Tuntas 7 4299 Aldora Wibowo 85 Tuntas 8 4300 Angela Shannon Agnan Handoko 80 Tuntas 9 4301 Antonius Primerus Karel Brillianto 90 Tuntas 10 4302 Arcellia Aliza Budiman 80 Tuntas 11 4303 Aurea Emiris Prasetio 100 Tuntas 12 4304 Avellina Beatrice Carissa Hardono 85 Tuntas 13 4305 Chintya Deviani Rahardjo 70 Tuntas 14 4306 Christian Ekaputra 85 Tuntas 15 4308 Dimas Juniardy Wicaksono Subana 80 Tuntas
16 4309 Edwin 85 Tuntas
17 4310 Eufrasia Anindita Pinasthi Pratama 85 Tuntas 18 4311 Francisco De Geronimo Abimanyu Setya Tjandra. 85 Tuntas 19 4312 Fransiscus Xaverius Jesua deo Amorrista 90 Tuntas 20 4313 Grace Nevyta Ferdianto 75 Tuntas 21 4314 Ignasius Jericho Affandi 80 Tuntas 22 4315 Jagad Mellian Tejo Ndaru 85 Tuntas 23 4316 Jessica Amanda Putri 90 Tuntas
26 4319 Leonhard Owen Chrismanto 95 Tuntas 27 4320 Louis Alfian Wibowo 95 Tuntas 28 4322 Michael Siswanto 100 Tuntas 29 4323 Monica Anggraeni 95 Tuntas 30 4324 Nikita Mayllenia Soebagio 90 Tuntas 31 4325 Nikolaus Johan Tirtono 75 Tuntas 32 4326 Rafael Tirta Bayu Andika 90 Tuntas 33 4328 Sherly Laurensia Yuanto 65 Tuntas 34 4329 Valeria Shania Agnan Handoko 85 Tuntas 35 4330 Vanessa Abigail Dwipajana 70 Tuntas 36 4331 Vania Valencia 75 Tuntas 37 4332 Vincensa Regina Indarto 90 Tuntas 38 4333 Wilhelmina Wilma Wijaya 95 Tuntas
Setelah peneliti mengadakan tes akhir pada siklus I diperoleh hasil dengan rumus jumlah skor semua siswa dibagi jumlah siswa, diperoleh rata-rata kelas 85.1. Skor tertinggi yang diperoleh siswa mencapai 100 dan skor terendah 65. Semua siswa yang mengikuti postes I 100% mencapai ketuntasan sesuai KKM yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 65. Adapun hasil postes I oleh peneliti dibuat grafik berdasarkan nilai yang diperoleh siswa.
Tabel 2, Destribusi Frekuensi Skor Siswa Siklus I
NO Interval Kumulatif Jumlah Siswa (Frekuensi)
1 91 - 100 9
2 81 - 90 17
3 71 - 80 8
0
5
10
15
20
JUMLAH
ANAK
91
-100
81
-90
71
-80
61
-70
51
-60
SKOR
PEROLEHAN NILAI POS TES 1
Gambar 1. Grafik Distribusi Frekuensi Skor Siswa Siklus I
Setelah hasil postes I diperoleh dan dapat diketahui semua siswa mencapai ketuntasan, peneliti masih ingin meningkatkan kemampuan siswa menjadi lebih baik lagi dan rata-rata kelas dapat meningkat lebih tinggi lagi. Penelitian akan dilanjutkan dan target akhir yang ingin peneliti capai adalah 90. Melalui metode demonstrasi mandiri pada siklus II, peneliti mengharapkan siswa dapat lebih memahami pecahan sederhana sehingga kemampuan siswa dapat lebih ditingkatkan semaksimal mungkin. Setelah penelitian pada siklus II dilaksanakan, diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 3
HASIL ULANGAN HARIAN (Siklus 2) Kelas III A 3 SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta
Tahun Ajaran 2008 / 2009
No No Nama Anak NILAI Keterangan
Induk
1 4175 Benedictus Desta Indrawan 85 Tuntas 2 4180 Eric Valdy Malakauseya 100 Tuntas 3 4199 Tiffany Angela 80 Tuntas 4 4296 Agnes Angela Karin Pramusita 100 Tuntas 5 4297 Agung Susilo Lo 100 Tuntas 6 4298 Albert Theodore 100 Tuntas 7 4299 Aldora Wibowo 100 Tuntas 8 4300 Angela Shannon Agnan Handoko 100 Tuntas 9 4301 Antonius Primerus Karel Brillianto 90 Tuntas 10 4302 Arcellia Aliza Budiman 95 Tuntas 11 4303 Aurea Emiris Prasetio 100 Tuntas 12 4304 Avellina Beatrice Carissa Hardono 100 Tuntas 13 4305 Chintya Deviani Rahardjo 75 Tuntas 14 4306 Christian Ekaputra 100 Tuntas 15 4308 Dimas Juniardy Wicaksono Subana 75 Tuntas
16 4309 Edwin 95 Tuntas
17 4310 Eufrasia Anindita Pinasthi Pratama 95 Tuntas 18 4311 Francisco De Geronimo Abimanyu Setya Tjandra. 85 Tuntas 19 4312 Fransiscus Xaverius Jesua deo Amorrista 95 Tuntas 20 4313 Grace Nevyta Ferdianto 100 Tuntas 21 4314 Ignasius Jericho Affandi 100 Tuntas 22 4315 Jagad Mellian Tejo Ndaru 100 Tuntas 23 4316 Jessica Amanda Putri 100 Tuntas 24 4317 Josephine Amelia Tiffany 95 Tuntas 25 4318 Kenzie Ongko Wijaja 95 Tuntas 26 4319 Leonhard Owen Chrismanto 85 Tuntas 27 4320 Louis Alfian Wibowo 100 Tuntas
30 4324 Nikita Mayllenia Soebagio 95 Tuntas 31 4325 Nikolaus Johan Tirtono 100 Tuntas 32 4326 Rafael Tirta Bayu Andika 80 Tuntas 33 4328 Sherly Laurensia Yuanto 85 Tuntas 34 4329 Valeria Shania Agnan Handoko 95 Tuntas 35 4330 Vanessa Abigail Dwipajana 95 Tuntas 36 4331 Vania Valencia 95 Tuntas 37 4332 Vincensa Regina Indarto 85 Tuntas 38 4333 Wilhelmina Wilma Wijaya 95 Tuntas
Dari data tersebut diketahui bahwa skor tertinggi yang diperoleh siswa mencapai 100 dan skor terendah 75. Adapun hasil postes II oleh peneliti dibuat grafik berdasarkan nilai yang diperoleh siswa.
Tabel 4, Destribusi Frekuensi Skor Siswa Siklus II
NO Interval Kumulatif Jumlah Siswa (Frekuensi)
1 91 - 100 27
2 81 - 90 7
3 71 - 80 4
4 61 - 70 0
0
5
10
15
20
25
30
JUMLAH
ANAK
91
-100
81
-90
71
-80
61
-70
51
-60
SKOR
PEROLEHAN NILAI POS TES 2
Gambar 2. Grafik Distribusi Frekuensi Skor Siswa Siklus II
C. Analisis Data
Setelah pelaksanaan siklus I dengan diakhiri Postes I hasil yang diperoleh adalah:
1. Nilai tertinggi yang dicapai siswa memperoleh 100 dan terendah 65. 2. Nilai rata-rata kelas yang diperoleh dengan rumus jumlah skor semua
siswa dibagi jumlah siswa yaitu 38 3235
Setelah pelaksanaan Siklus II dengan diakhiri Postes II hasil yang diperoleh adalah:
1. Nilai tertinggi yang dicapai siswa memperoleh 100 dan terendah 75. 2. Nilai rata-rata kelas yang diperoleh dengan rumus jumlah skor semua
siswa dibagi jumlah siswa yaitu 38 3560
= 93.7.
3. Jumlah siswa yang tuntas mencapai semua (38 siswa).
D. Refleksi 1. Siklus I
Pada pelaksanaan siklus I yang diakhiri dengan postes I rata-rata kelas yang dicapai siswa 85.1 dengan 100% siswa tuntas. Artinya siswa tersebut telah melampaui 100% ketuntasan. Metode demonstrasi terbimbing yang dialami siswa bersama guru dapat mencapai hasil yang baik. Namun demikian, masih ada beberapa siswa yang mengeluh masih bingung untuk memahami pecahan sederhana tersebut. Kemungkinan tersebut dikarenakan siswa baru sebatas melihat teman lain yang melakukan demonstrasi dan belum melakukan sendiri. Meskipun ada beberapa siswa yang masih merasa bingung, namun suasana pembelajaran berjalan dengan lancar dan siswa merasa senang dengan metode tersebut terlihat adanya antusias siswa mengikuti pembelajaran tersebut. Meskipun demikian, peneliti masih ingin tahu apakah kemampuan siswa masih dapat ditingkatkan lebih tinggi lagi pada siklus II sehingga hasil yang diperoleh siswa menjadi lebih baik lagi dibanding siklus I. Artinya rata-rata yang diperoleh siswa dapat mencapai lebih dari 85.1. Oleh karena itu peneliti masih ingin melanjutkan penelitian ini pada siklus II dengan menggunakan metode demonstrasi mandiri.
2. Siklus II
Setelah hasil pada siklus I diperoleh dan kemudian dilanjutkan pada siklus II, ternyata hasil dari rata-rata siswa mencapai 93.7 dan semua siswa tuntas. Ini berarti, dengan metode demonstrasi mandiri yang dialami siswa, siswa menjadi lebih memahami akan nilai pecahan sederhana. Siswa mengalami sendiri dalam pembelajaran yang menyenangkan tersebut sehingga hasilnya lebih memuaskan. Karena hasil yang diperoleh pada siklus II sudah lebih baik, bahkan memuaskan, maka peneliti merasa penelitian ini dapat dihentikan atau diakhiri.
Dari hasil pengamatan peneliti jalannya proses belajar mengajar secara umum berjalan dengan lancar. Materi pecahan sederhana yang tadinya dirasa sulit oleh siswa, ternyata dapat dipermudah oleh peneliti dengan menggunakan metode demonstrasi terbimbing. Dengan demonstrasi terbimbing, siswa sudah meningkat kemampuannya dalam memahami pecahan sederhana, kemudian lebih ditingkatkan lagi dengan metode demontrasi mandiri. Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi, anak terlihat merasa senang karena anak mengalami sendiri dalam memotong, menempel, menggambar, dan mengarsir sendiri sesuai nilai pecahan. Pengalaman tersebut sangat berarti bagi anak sehingga anak mampu memahami nilai pecahan sederhana.