• Tidak ada hasil yang ditemukan

REFLEKSI KRITI S FREI RE; DARI TATANAN EKONOM I GLOBAL SAM PAI KAPI TALI SASI PENDI DI KAN

DI SKURSUS PENDI DI KAN KAUM TERTI NDAS

REFLEKSI KRITI S FREI RE; DARI TATANAN EKONOM I GLOBAL SAM PAI KAPI TALI SASI PENDI DI KAN

H akikat Pendidikan Kritis Freire

Pendidikan merupakan suatu proses yang dilakukan oleh masyarakat agar dapat bersosialisasi dan beradaptasi dalam budaya yang mereka anut. Pendidikan menjadi salah satu bentuk usaha untuk mempertahankan eksistensi kehidupan dan budaya manusia. Dengan kata lain pendidikan adalah salah satu strategi budaya manusia untuk mempertahankan eksistensi kehidupan mereka. Hubungan antara individu, masyarakat dan negara pada dasarnya merupakan hubungan yang tidak berimbang. Diantara hubungan ketiga komponen tersebut, individu memiliki posisi yang paling lemah. Negara mempunyai kekuasaan yang sah dan dijamin oleh hak monopolinya untuk menggunakan kekerasan baik secara fisik maupun secara administratif. Masyarakat juga memiliki kedudukan yang unggul terhadap individu karena masyarakat dapat menguasai individu lewat kekuatan dominasi dalam ekonomi, maupun lewat kekuatan hegemoni dalam kebudayaan. Dipandang dari sisi epistemologis manusia merupakan makhluk berakal yang dapat menggunakan pikirannya dengan bebas untuk mencari kebenaran dalam pengetahuannya (t rut h). Dan dari sisi etis manusia adalah makhluk yang memiliki hati nurani yang memungkinkannya mencapai kebenaran dalam sikap, keputusan dan tindakan-tindakannya (right ness).

Menelaah posisi manusia menurut filsafat Freire bertolak dari kehidupan nyata, bahwa di dunia ini sebagian besar manusia menderita sedemikian rupa, sedangkan sebagian lainnya menikmati jerih payah orang lain dengan caracara yang tidak adil dan yang menikmati ini justru bagian minoritas ummat manusia. Dilihat dari segi jumlah saja ini menunjukkan bahwa keadaan tersebut mempelihatkan kondisi yang tidak beribang dan tidak adil. Persoalan itu yang disebut Freire sebagai “situasi penindasan”. Bagi Freire situasi penindasan apapun nama dan alasannya adalah tidak manusiawi dan menafikan harkat kemanusiaan (dehumanisasi). Dehumanisasi bersifat ganda, dalam pengertian, terjadi atas diri mayoritas kaum tertindas dan juga atas diri minoritas kaum penindas. Keduanya menyalahi kodrat manusia sejati. Mayoritas kaum tertindas menjadi tidak manusiawi karena hak-hak asasi mereka dinistakan, karena mereka dibuat tak berdaya dan dibenamkan dalam “kebudayaan bisu” (submerged in t he cult ure of silence). Adapun minoritas kaum penindas menjadi tidak manusiawi karena telah mendustai hakekat keberadaan dan hati nurani sendiri dengan memaksakan penindasan bagi sesamanya.

Pendidikan Revolusioner: Melawan Kapitalisme

Pendidikan revolusioner harus dipandu oleh filosofi pendidikan revolusioner. Sasaran pendidikan harus mengenali dan mengakui keterkaitan timbal balik antara kehidupan sosial dengan pendidikan. Pendidikan revolusioner harus menyikapi perkembangan masyarakat kapitalis. Pendidikan harus memposisikan dirinya sebagai alat kritik egalitarian dan anti-otoritarian kontemporer terhadap perkembangan wacana pendidikan dan masyarakat. Zaman dimana sekolah murah tampaknya memang sudah usai. Bahkan keinginan untuk menjadi guru yang manusiawi kini menjadi suatu keinginan yang tidak realistis. Hanya beberapa gelintir sekolah yang memberikan imbalan “manusiawi” pada profesi guru. Jika diusut lebih jauh, komersialisasi pendidikan bersinggungan erat dengan tatanan serta pergeseran formasi kelas sosial yang berlangsung saat ini; formasi sosial yang meluluhlantakkan struktur dan sistem sosial yang lama. Termasuk didalamnya adalah dunia pendidikan. Dunia pendidikan adalah Iingkaran yang berisi aktor-aktor yang mengalami perubahan sosial besar. Dunia harus sujud sepenuhnya pada demokrasi liberal yang saat ini menguasai arena kehidupan sosial. Tatanan ekonomi global ini yang menyebabkan kapitalisasi pendidikan. Mengenai kapitalisme, kritik Karl Marx terhadap kapitalisme tidak hanya dituukan kepada distribusi kekayaan, tetapi kapitalisme dipandang melanggengkan buruh menjadi terpaksa, teralienasi dan tidak bermakna, sehingga transformasi manusia menjadi “sebuah barang aneh yang timpang”. Emansipasi keterasingan manusia dalam masyarakat kapitalisme adalah usaha bagaimana menemukan hakekat manusia yang terhegemoni ideologi kapitalisme yang mengasingkan manusia.

nur sayyid sant oso krist eva manifest o wacana kiri188

Menurut Franz Magnis Suseno ciri masyarakat modern adalah (1) Masyarakat berdasar industrialisasi dan perubahan total gaya hidup, (2) lahirnya masyarakat infomasi yang tidak tergantung alam, (3) Terjadi pertarungan ideologi, politik, budaya dan ekonomi modernisasi atau globalisasi hakekatnya bukan hanya perubahan institusional-melainkan juga perubahan kesadaran manusia. Problem modernitas menimbulkan budaya materialisme, konsumerisme, kriminalitas, pelecehan seksual, permisif, hedonisme dan tindakan asusila lainnya. Globalisasi telah memunculkan-masyarakat mekanis-masyarakat global yang pluralistic dan kapitalistik. Menurut Samuel Huntington sebab utama dan paling berbahaya dari munculnya konflik politik global adalah adanya benturan antar peradaban.

Globalisasi dan modernisme mempunyai kaitan erat dengan kapitalisme pendidikan, dimana pendidikan dijadikan ajang akumulasi modal, dan menjadi ajang bisnis elit-elit pendidikan. Maka tidak heran kalau banyak muncul lembaga pendidikan yang berorientasi pasar (market oriented). Seiring berkembangnya pasar modal, maka semakin tinggi pula kebutuhan tenaga kerja. Dan yang paling efektif untuk menghasilkan tenaga kerja pasar adalah lembaga pendidikan. Pada titik inilah lembaga pendidikan telah kehilangan ruh dan mengalami disorientasi paradigmatik dimana pendidikan seharusnya berperan sebagai medan transormasi sosial bukan sebagai alat reproduksi sosial. Masyarakat pasar global dengan perangkat industri dan perdagangan bebas menantikan out put pendidikan yang sesuai dengan ketrampilan dan kompetensi dalam berbagai bidang kerja.

Tantangan ekonomi liberal telah berdampak pada; pert ama, semua negara terpacu untuk membuka pasar dan mecabut semua subsidi yang memiliki tujuan perlindungan. Pasar yang dibuka ini diharapkan akan memacu suatu negara untuk berkompetisi secara terus menerus. Kedua, melakukan privatisasi terhadap sektor publik. Pemerintah mulai dilucuti agar tidak melakukan kontrol, tetapi membiarkan sektor swasta untuk mengambil alih. Keyakinan ket iga, bahwa sistem ekonomi liberal menempatkan Negara sebagai penjamin bagi kelangsungan sistem ekonomi pasar. Terobosan ini bermula pada pencopotan semua layanan publik, namun lama kelamaan menjadi upaya untuk melakukan kapitalisasi atas semua bentuk layanan publik. Termasuk dalam hal ini pendidikan yang dulunya berorientasi pada pencerahan sekarang berorientasi pasar. Posisi pendidikan dalam masyarakat global seharusnya melakukan refleksi kritis terhadap t he dominant ideology kearah tranformasi sosial. Dan tujuan pendidikan adalah menciptakan “manusia ideologis” yaitu manusia yang mempunyai kesadaran kritis. Manusia sa at ini telah diberangus oleh perkembangan teknologi yang menciptakan kesadaran semu. Manusia menjadi sangat tergantung terhadap kemudahan-kemudahan teknologi. Secara terus-menerus manusia menjadi budak kapitalisme. Masyarakat modern adalah masyarakat yang mekanis dan statis, dimana manusia telah manusia rakus mengkonsumsi produk-produk industri.

Refleksi dan Aksi

Maka sekarang sudah saatnya melakukan aktualisasi issu pendidikan sebagai alat perlawanan dan transformasi sosial. Alternatif gerakan sosial yang bisa dilakukan adalah pert ama; mendorong kemandirian politik para pendidik. Artinya para pendidik harus tanggap secara kritis setiap kebijakan politik yang diambil oleh pemerintah yang berdampak pada sektor pendidikan. Kedua, membentuk organ independent yang mengusung issue-issue pendidikan. Dalam konteks ini sekolah bukan hanya sebagai tempat belajar tetapi juga berperan dalam kerja-kerja pengorganisasian. Ketiga, penentuan basis ideologi gerakan yang mengikat organ itu sendiri. Dalam konteks penguatan basis ideologi inilah serangkaian prinsip pedagogi yang demokratis, partisipatoris, anti diskriminasi pada semua struktur pendidikan. Keempat ; Menghadirkan sekolah alternatif yang memungkinkan proses idelogisasi untuk mengusung gerakan sosial. Konteks pengalaman politik inilah yang menjadikan sekolah sebagai kawah pendidikan bagi seorang aktivis sosial. Sekolah seharusnya menjadi tempat mengenal realitas sosial. Realitas dalam konteks sosial adalah realitas yang harus selalu dipertanyakan. Realitas yang harus diubah dengan pikiran dan tindakan nyata. Pendidikan merupakan instrument yang laten untuk melawan sistem yang tidak adil dan menindas. Pendidikan harus dijadikan ruang mediasi transformasi sosial menuju formasi sosial yang menjamin tatanan sosial yang lebih adil. Maka, realitas sosial sesunggunya memerlukan perlawanan besar dan panjang.[]

nur sayyid sant oso krist eva manifest o wacana kiri189 H and-Out 23

EPI STEM OLOGI PENDI DIKAN KRI TI S