FEM I NI SME Sejarah
SEKI LAS PERJALANAN GERWANI (GERAKAN WANI TA I NDONESI A)
Kontribusi perjuangan perempuan dimasa Rezim Soekarno telah terlihat dari sebelum kemerdekaan saja mereka sudah turut ikut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, namun setelah Indonesia diproklamasikan kaum pejuang dari kaum wanita ini memang ada namun tidak terlihat keberadaannya yang diakui. Sejak paruh kedua dasawarsa 1950-an panggung politik Indonesia semakin dikuasai oleh ketegangan antara tiga golongan terkemuka: Angkatan Darat, organisasi-organisasi Islam, dan golongan komunis.
Adapula sekitar tahun 1950an banyak Organisasi wanita juga yang tergabung dari wanita – wanita yang sadar akan sosial yaitu GERWIS (Gerakan Wanita Sedar) 1945 – 1950. Selain itu adapula Perwari, Wanita sosialis, Wanita Demokrat Aisyah, Muslimat NU, dan sebagainya. Namun terlihat gerakan – gerakan ini masih terlibat dirana sosial dan keperempuanan saja. Masih belum terlibat dalam rana perpolitikan Negara dan menegakkan hak – hak kaum tani, perempuan dan anak – anak. Adanya rasa kurang puas GERWIS disebabkan beberapa faktor. Pertama, kebanyakan organisasi perempuan terbatas pada soal kewanitaan, monoton saja. Kedua, banyak mereka mempunyai program pendidikan namun bila terjadi hal – hal yang perlu diperjuangkan secara politik mereka tidak mau. Ketiga, mengenai hak – hak perempuan, tidak bergerak untuk membela perempuan dalam kejadian sehari – hari seperti kasus pemerkosaan. Keempat, tidak pernah ada aksi yang bersifat nasional secara bersama – sama. Kelima, tidak mau membicarakan menentang ijon didesa – desa, lintah darat yang memiskinkan rakyat. Sehingga beberapa gabungan wanita sedar ini tergabung untuk mengubah arah tujuan gerakan wanita lainnya. Setelah pada tanggal 4 Juni1950 tergabunglah 7 organisasi gerakan wanita di kota Semarang, yang mana anggotanya berasal dari kalangan wanita yang berintelektual,namun tidak menutup kemungkinan wanitadari kalangan lainnya, yang penting memiliki tujuan yang sama.
Pembentukkan ini diawali dengan Kongres.
Kongres I dilaksanakan pada tanggal 17 – 22 Desember 1951 di Surabaya yang dipimpin oleh Suharti, pada kongres ini membahas tentang perluasan basis massa perempuan dan sekaligus mendiskusikan untuk pergantian nama. Diajukan untuk mengganti nama dikarenakan banyak gabungan gerakan wanita yang ikut tergabung dalam organisasi ini dan yang tergabung ini bukan hanya dari perempuan yang strata tinggi saja tapi di banyak kalangan
13 Nikmah, Diniah,
Gerwani Bukan PKI, Yogyakarta: Carasvati Books, 2007, http:/ / videlyaesmerella.blogspot.com
nur sayyid sant oso krist eva manifest o wacana kiri169
yang ingin turut serta dalam perjuangan wanita. Sehingga ditetapkan nama GERWANI yaitu gerakan wanita Indonesia ,karena mencakup secara keseluruhan gerakan. Memang pada awalnya mereka masih ragu akan pergantian nama namun setelah di jelaskan arah dan atujuannya maka disepakati gerakan GERWIS berubah nama menjadi GERWANI yaitu Gerakan Wanita Indonesia.
Kongres 2 dilaksanakan pada Maret 1954 yang di ketua oleh Umi Sarjono disini mereka membahas mengenai bahasan terkait sosialis dan feminism dengan tujuan kemakmuran. Pada kongres kali ini GERWANI mengalami pertumbuhan yang pesat dari segi massa, pada saat itu yang mengahadiri kongres di cabang pusat GERWANI ada 80.000 anggota
Kongres 3, yang dilaksanakan pada 23 – 27 Desember 1957 yaitu beberapa bulan sebelum berakhir tahun 1957 anggota GERWANI mencapai 631.342 anggota. Kongres ini masih diketuai oleh Umi Sarjono yang membahas pelayanan sosial, adanya imperialisme, kolonialisme dan feodalisme yang meneyelimuti bangsa Indonesia. Terutama diskriminasi oleh kaum – kaum borjuis terhadap kaum tani dan kaum tertindas.
Kongres 4 yang dilaksanakan pada Desember 1961, perkembangan dan pertumbuhan organisasi gerakan perempuan ini sangatlah pesat, ini dikarenakan anggota Gerwani sekarang 1.125.000 anggota. Pada kongres 4 berlangsung Presiden Soekarno dan Pimpinan PKI (Partai Komunis Indonesia) DN. Aidit memberikan sambutannya. Presiden disana memberikan pujian bahwasanya gerakan GERWANI dapat tumbuh dan berkembangan dalam kepentingan social serta kesejahteraan rakyat.
Namun pada tahun 1965 GERWANI ingin melaksanakan kongres yang ke V namun pada rezim Soeharto GERWANI di katakan organisasi terlarang, organisasi yang anggotanya adalah pelacur,organisasi bangsat dan atheis yang tidak menserminkan wanita Indonesia yang lemah lembut, serta berbudi baik. Hal ini dikarenakan GERWANI diduga terlibat pada G30S yaitu pembunuhan 7 Jenderal di lubang Buaya, mereka di duga melakukan tarian seks, siksaan, pemotongan alat kelamin, padahal sebenarnya para GERWANI ini sedang melaksanakan latihan sukarelawan penggayangan Malaysia. Mereka melihat para tentara membawa tujuh jendral itu, menembakinya walau jendral itu sudah tak bernyawa mereka masih saja ditembaki dan dimasukkan kedalam lubang buaya. Dari cerita salah satu istri prajurit Cakrabirawa. GERWANI merupakan organisasi besar yang sangat berpengaruh pada sejarah bangsa Indonesia. Berani dan dianggap berbahaya oleh kaum penguasa rezim Soeharto. Sehingga diikatakanlah Organisasi Terlarang !! Tidak hanya kaum perempuan GERWAN ditiadakan tapi kaum tertindas lainnya.
Tujuan GERWANI
Perlu kita ketahui GERWANI memiliki tujuan yaitu anti imprealisme yaitu adanya investor asing, penayangan film AS yang akan merusak moral, dan kepentingan asing yang akan merugikan Indonesia. Tujuan ini sejalan dengan kaum komunis yaitu PKI, sehingga GERWANI dan PKI sama secara ideologisnya. Disetiap tahun Gerwani semakin mamiliki banyak anggotanya bahkan kader dari GERWANI ikut dalam Pemilihan Umumya itu menjadi anggota MPRS dan DPRGR pada tahun 1959. Pada anggota DPRGR terdapat 12 orang, MPRS 15 orang, selain itu GERWANI banyak memberikan kontibusinya dalam kegiatan sosial, kemaslatan umat seperti membuat kursus ketiadaan buta huruf, TK, Penitipan anak, kursus kader dan tugas sukarelawan. GERWANI juga ikut terlibat dalam penyelamatan Irian Barat yang sekarang menjadi nama Irian Jaya (papua).
Kini GERWANI telah tersebar dibeberapa daerah besar di Indonesia diantaranya Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NTB, Bali, Jawa dan Irian Jaya. Dan pada tahun 1961 terjadi krisis ekonomi sehingga GERWANI pada saat itu programnya lebih terfokus pada ekonomi.
Latar Belakang Berdiringnya GERWANI
Pada awalnya gerakan ini menampung gerakan – gerakan revolusioner perempuan melawan koloni – koloni belanda, namun setelah merdeka Gerwani mengarahkan arah perjuangannya pada sosial, politik, ekonomi dan umat.
nur sayyid sant oso krist eva manifest o wacana kiri170
Pendidikan: Banyak perempuan desa yang buta huruf, sehingga dikaderisasikan, kemudian dibuka kursus – kursus yang memadai dan diwajibkan belajar kondisi daerah dan kebudayaan penduduk di daerah.
Sosial: Hak – hak wanita diperjuangkan, hak – hak anak, sehingga wanita dan anak tidak tertindas oleh keadaan.
Ekonomi: GERWANI sangat berhubungan dengan kaum perempuan seperti anggaran belanja untuk kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak agar diperbesar.
Politik: Banyaknya kader GERWANI yang terlibat langsung pada pemilihan umum tahun 1959 menjadi DPRGR dan MPRS, selain itu GERWANI peduli akan perkembangan politik Indonesia baik itu kebijakan maupun situasi hubungan luar negeri.
Memang di bandingkan organisasi lainnya program – program organisasi GERWANI lebih progresif dan aktif terutama menangani hak buruh, para petani, dan menyangkut masalah yang tidak disentuh oleh organisasi wanita yang lain sehingga dianggap berbahaya dan perlu diawasi keberadaannya. Seperti adanya program simpan pinjam, taman kanak – kanak, adanya badan – badan penyuluhan tentang perkawinan, kursus – kursus kader di berbagai tingkat organisasi, dan bekerjasama dengan BTI (Barisan Tani Indonesia) membantu aksi-aksi sepihak pendudukan tanah yang dilancarkan oleh BTI dan menuntut agar hak atas tanah juga diberikan kepada kaum perempuan. Dalam hal ini GERWANI sangat berperan aktif dalam pemberantasan buta huruf terutama kepada kaum perempuan dan turut aktuf dalam peningkatan kecerdasan sosial.
GERWANI adalah organisasi terbesar yang sangat berpengaruh dalam sejarah Indonesia yang perlu kita liat sebagai referensi generasi perempuan Indonesia sekarang. GERWANI menerbitkan dua (2) majalah, Api Kartini dan Berita Gerwani. Api Kartini terutama ditujukan bagi pembaca lapisan tengah yang sedang tumbuh tidak hanya memuat tulisan-tulisan tentang masak- memasak, pengasuhan anak, mode, dan sebagainya, selain itu tentang feminisme menegenai imperilaisme (Api Kartini adalah majalah pertama di Indonesia yang menunjukkan pengaruh buruk terhadap film-film Hollywood yang bermutu rendah, dan tidak mendidik yang pada saat itu banyak beredar dan baru belakangan PKI melontarkan masalah imperialisme kebudayaan Barat), poligami, dan pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan serta masalah sekitar kaum perempuan yang bekerja. Sedangkan Berita Gerwani adalah majalah intern organisasi, dengan berita-berita tentang konferensi dan organisasi perempuan di negara-negara sosialis. Itulah perjuangan wanita Indonesia yang gigih untuk kemajuan bangsa tanpa adanya ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan pada rakyat miskin. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang rela mempertahankan keadilan walau itu harus mengorbankan nyawa.
H ubungan GERWANI dengan PKI
Pada awal organisasi GERWIS, terlihat aroma komunis yang kuat.Dikarena sebagian besar perempuan GERWIS memiliki hubungan keluarga dengan kaum komunis. Apalagi tujuan PKI dan GERWANI sejalan sama –sama menyangkut sosialis sehingga semakin kuat kedekatan antara keduanya.
Namun sebenarya walaupun sejalan pada satu tujuan partai, masalah perempuan yang diperjuangkan PKI ada diurutan ke – 9 dari 19 janji – janji PKI. Gerwani belum resmi secara legal bergabung dengan PKI, rencananya pada kongres ke V. Namun kongres V tidak terlaksana karena propaganda rezim Soeharto.
Keterlibatan GERWANI dengan peristiwa 1965
Pada saat kampanye ideologi setelah peristiwa 1965 yang berdarah – darah dilancarkan oleh rezim Soeharto dan propaganda – propaganda di media serta propaganda angkatan darat. Pada tanggal 30 September Suharti Suwarno wakil ketua DPP Gerwani (juga seorang anggota Central Comitte PKI) datang dan mengatakan bahwa dibutuhkan beberapa orang untuk latihan Dwikora di Lubang Buaya. Mereka terheran karena tidak biasa dalam kegiatan GERWANI dan tidak diungkapkan dalam rapat sebelumnya. Dilokasi pun mereka bertugas menyiapkan konsumsi. Namun dipihak lain tidak terlalu aneh jika untuk kepentingan parai GERWANI akan mengutus anggotanya.
nur sayyid sant oso krist eva manifest o wacana kiri171
Pada kenyataannya pada latihan di Halim tidak hanya organisasi GERWANI yang ikut serta namun ada juga pemuda dan pemundi yang tergabung dalam fron nasional seperti Perwari, Wanita Marhaen, Wanita Islam, Aisyah, dan Muslimat yang melakukankan tarian – tarian untuk persiapan ASEAN GAMES. Sehingga disangkut pautkan dengan adanya gerakan pada 30 September yang menghilangkan nyawa 9 jenderal. Pertanyaannya mengapa PKI yang disangkut pautkan dengan gerakan itu? Dan mengapa GERWANI dikatakan perkumpulan wanita – wanita sadis dan tidak beprikemanusiaan? Padahal kita ketahui bahwasanya PKI adalah bagian dari Ir. Soekarno the first leader of Indonesia. Dan GERWANI adalah organisasi yang memperjuangkan kehidupan masyarakat Indonesia tentunya.
Keberadaan GERWANI dan PKI di manipulasi oleh rezim militer melalui propaganda media, mengubah sejarah pada buku sekolah, sehingga sangat melekat di memori masyarakat Indonesia saat ini bahwa GERWANI dan PKI adalah organisasi bejat. Hal ini perlu kita kritisi dan telusuri kebenaran yang sebenarnya.
Dari cerita salah seorang istri prajurit bahwasanya GERWANI yang ada pada lubang buaya yang melakukan tarian seks, pemotongan zakar dan melakukan penyiksaan itu semua BOH ONG seperti yang di tuduhkan pada rezim soeharto.[]
Noktah M erah Gerwani: H ikayat Para Perempuan Perkasa!
nur sayyid sant oso krist eva manifest o wacana kiri172 H and-Out 19
I SLAM & KETERTI NDASAN PEREMPUAN
Prawacana
Perjuangan menegakkan keadilan bagi hak-hak perempuan adalah perjuangan yang telah lama dimulai. Dalam Islam sendiri, banyak figur yang telah menjadi teladan dalam berkiprah dan bergerak untuk memperjuangkan hak tersebut. Siti Hajar (ibunda Nabi Ismail AS.) seorang pejuang hidup dan pengembara yang sangat tegar. Ratu Balqis pemimpin Negeri Saba’ yang adil dan bijaksana serta senang bermusyawarah dengan rakyatnya. Istri Imran yang sangat peduli dengan regenerasi kepemimpinan umat. Siti Maryam (ibunda Nabi Isa AS), seorang perempuan pilihan Allah yang dijadikan sebagai bibit “Sang Penggerak” reformasi kehidupan melalui peran sejarah Nabi Isa, anak yang dikandung, diasuh, dan dikadernya. Tidak kalah hebatnya, kedua putri Nabi Syu’aib AS. yang berprofesi sebagai penggembala domba yang ulet. Menggembala domba adalah peran yang membutuhkan kekuatan, kecerdasan dan kesabaran yang menjadi wahana “diklat” para Nabi Allah. Siti Asyiah (istri Fir’aun) yang tegar menjaga iman dan moralitas dari pengaruh suami dan masyarakat di sekitarnya, serta berperan sebagai tokoh kunci penyiapan Musa kecil sebagai kader pembebabasan Bani Israil. Siti Khadijah binti Khuwailid yang berjuang keras membela ajaran keadilan dan pembebasan perempuan yang dibawa suaminya, Muhammad SAW. dan menjadi perempuan agung yang mengawal Muhammad ketika berhadapan dengan kaum kafir Quraisy. Tidak lupa pula Siti ‘Aisyah ummul mukminin yang dengan kemampuan intelektual dan ketangkasan fisiknya menjadi kader Nabi dalam meriwayatkan hadis dan pendidik ulama yang berhasil serta pernah menjadi panglima dalam perang Jamal.
Dalam sejarah Indonesia pra maupun pasca kemerdekaan pun banyak tokoh perempuan terlibat dalam perjuangan universal melawan kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan, serta penjajahan kolonial Belanda. Sekadar mengingatkan memori kita, sebut saja Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, RA. Kartini, Ratu Syajaratuddin, Nyai Walidah Dahlan, Nyai Ageng Serang, Nyai Sholihah Wahid Hasyim, dan lain-lain. Masih banyak lagi tokoh-tokoh perempuan yang secara pribadi maupun berjamaah berperan aktif memperjuangkan kehidupan yang lebih baik, beradab, dan berwawasan masa depan, setidaknya telah menampik anggapan yang minor terhadap posisi dan kapasitas perempuan.
Jika dalam sejarah masa lalu begitu penting dan strategis peran tokoh-tokoh perempuan, maka bagaimana dengan sejarah masa kini dan masa depan, apakah perempuan juga masih memegang peran strategis itu? Ini adalah pertanyaan besar dan pertanyaan inilah yang mengilhami para tokoh kontemporer gerakan perempuan di seluruh dunia, baik di bidang sosial, politik, ekonomi, maupun keagamaan. Kalau dulu kaum perempuan telah banyak berprestasi dan dicatat dengan tinta emas sejarah, apakah pengalaman heroik dan menakjubkan itu akan terulang atau justeru akan tergulung oleh kabut sejarah yang kelam? Ini salah satu PR gerakan perempuan.
Organisasi-organisasi pejuang anti-ketidakadilan harus terus dikembangkan di seluruh penjuru dunia dan berteriak lantang melawan ketidakadilan, penindasan, kekerasan, dan diskriminasi terhadap perempuan. Namun harus tetap didasari oleh nila-nilai luhur yang diajarkan agama. Tentu gerakan perempuan yang dimaksud bukan dilandasi kebencian kepada laki-laki. Diyakini bahwa untuk melawan diskriminasi tidak perlu bersikap diskriminatif. Menghapus kekerasan tidak dengan kekerasan serupa. Begitu pula melawan ketidakadilan tidak sepatutnya dengan ketidakadilan. Sudah pasti bahwa organisasi tersebut harus di-setting sedemikian rupa agar bergerak sistematis, terarah, dan berjaringan agar menuai hasil yang maksimal bagi berlangsungnya kehidupan yang penuh keadilan dan kedamaian.
Sejarah harem adalah sejarah kelam perempuan. Tradisi harem telah ada sejak ribuan tahun lalu, ketika manusia mempraktikkan sistem kerajaan dalam mengarungi hidup bersama. Tradisi opresif ini terlahir dari rahim sistem masyarakat yang patriarkis dengan eksistensi perempuan dipandang sebagai pelengkap belaka dari keberadaan laki-laki. Bahkan, secara teologis kaum perempuan dituding sebagai penyebab terusirnya Adam dari surga sehingga mereka sudah sepantasnya dijatuhi hukuman setimpal.
nur sayyid sant oso krist eva manifest o wacana kiri173
Sistem sosial yang tidak memihak, ditambah asumsi teologis yang misoginis, semakin mempertegas bahwa perempuan harus 'dirumahkan', dalam arti dipersempit ruang geraknya atau (kalau perlu) dikebiri hak-hak keperempuanannya; sebuah langkah manis untuk melanggengkan sistem patriarkat. Untuk meratakan jalan bagi upaya 'perumahan' tersebut, dicetuskanlah gagasan hudud, yakni pemisahan laki-laki dan perempuan atas dasar perbedaan kelamin. Dan kehadiran agama ternyata malah turut memperkukuh sendi-sendi hudud tersebut melalui sabda-sabda langitnya. Di jazirah Arab pra-Islam, hudud marak dipraktikkan oleh masyarakat Kristen Suriah, Bizantium, Mediterania, Mesopotamia, dan Persia. Karenanya, tidak mengherankan jika Islam yang turun di tanah Arab terkena pula 'getah' doktrin hudud ini. Ambil contoh QS Al-Ahzab ayat 33 yang memerintahkan perempuan berdiam diri di rumah atau QS Al-Nur ayat 32 mengenai pembatasan interaksi langsung antara perempuan dan laki-laki. Aturan moral yang berlandaskan perbedaan kelamin ini merupakan doktrin etis Islam yang dihasilkan dari persentuhannya dengan budaya lokal, yakni hudud.
Seiring dengan perkembangan masyarakat, hudud lambat laun tidak lagi menjadi norma sosial yang abstrak, tapi mulai mengalami institusionalisasi. Hudud berubah menjadi upaya pengurungan (untuk tidak mengatakan pemenjaraan) perempuan dalam suatu tempat yang jauh dari hiruk pikuk aktivitas masyarakat. Biasanya perempuan-perempuan itu ditempatkan di dalam istana. Tugas mereka adalah melayani kehendak raja, mulai urusan mempersiapkan makanan dan mengambilkan minum sang raja sampai ke hal-hal yang berbau seksual. Berawal dari sinilah hudud mengalami institusionalisasi yang kelak dikenal dengan istilah harem.
John L Esposito dalam The Oxford Encyclopedia of Modern Islamic W orld mengatakan harem merupakan puncak dari usaha pemisahan laki-laki dan perempuan. Masih menurut Esposito, harem di dunia Islam terjadi di masa Kekhalifahan Abbasiyah, sebuah imperium yang berjaya di era keemasan Islam (t he Golden Age). Kenyataan ini tidak terlalu mengherankan sebab wilayah kekuasaan Abbasiyah secara geografis berdampingan dengan Ctesipon, ibu kota Persia yang memang masyhur dengan tradisi harem. Baru pada 1909, ketika imperium Usmani berkuasa, institusi harem di dunia Islam mengalami kehancuran lewat campur tangan Barat. Kendati demikian, keruntuhan institusi harem tidak serta-merta menghentikan denyut nadi tradisi harem itu sendiri yang sudah mengakar ribuan tahun. Harem kerajaan memang telah mati, tapi harem domestik, politik, pendidikan, dan sektor publik masih bisa kita saksikan hingga detik ini.
Ranah Domestik
Rumah adalah tempat ikatan keluarga dibangun. Tapi, rumah dalam masyarakat patriarkat dijadikan tempat untuk menyubordinasi perempuan. Dinding-dinding rumah yang tebal telah menutup mata perempuan dari urusan publik. Tradisi kepatuhan, sakralisasi laki-laki (baca: suami), the second sex, kawin paksa, kutukan malaikat, dan kekerasan terhadap perempuan (baca: istri) diciptakan dan dilestarikan di dalamnya. Institusi keluarga itu seolah-olah menjadi blue print institusi harem kerajaan. Kondisi memilukan ini semakin tak tertolong dengan adanya klaim bahwa urusan domestik merupakan masalah privat. Konsekuensi logis dari pandangan semacam ini adalah ketidakberdayaan perempuan untuk membela diri manakala terjadi tindak kekerasan dan ketidakberhakan pihak luar untuk campur tangan di dalamnya, sekalipun oleh lembaga sekaliber negara. Tapi, perempuan-perempuan Indonesia kini setidaknya bisa tersenyum lebar dengan adanya UU Anti-KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga) yang sekaligus menandai berakhirnya klaim 'urusan domestik adalah masalah privat'. Gebrakan baru itu hendaknya menjadi stimulus untuk menghancurkan 'harem-harem modern' dan lebih jauh ke arah penjungkirbalikkan sistem patriarkat demi pembebasan perempuan yang totalistik.
Jilbab
Daya jangkau 'haremisasi' ini merambah pula sampai kepada upaya pengurungan fisiologis; tubuh menjadi objek penguasaan laki-laki atas perempuan. Haremisasi fisiologis ini mengejawantah dalam bentuk pemberlakuan kewajiban memakai penutup kepala bagi perempuan, entah itu bernama jilbab, jubah, kerudung, purdah, burkak, ataupun lainnya. Lebih-lebih, kewajiban tersebut mendapat justifikasi dalam teks-teks suci agama.
nur sayyid sant oso krist eva manifest o wacana kiri174
Dalam Islam, jilbab baru diwajibkan pascahijrahnya Nabi ke Madinah dengan diturunkannya QS Al-Ahzab ayat 59. Ayat ini merupakan hasil interaksi Islam dengan budaya setempat tempat jilbab sudah mentradisi dalam masyarakat Arab pra-Islam. Jadi, ayat jilbab hendaknya dipahami sebagai respons kultural Islam semata, bukannya doktrin. Menurut Asghar Ali Engineer dalam The Rights of Women in Islam, jilbab tidak terlalu dipersoalkan pada masa Nabi. Namun, jilbab mulai mengalami proses pelembagaan ketika berdiri Dinasti Umayyah sebagai konsekuensi logis dari masuknya pengaruh budaya Romawi dan Sasanid Persia.
Fatima Mernissi dalam The Veil and t he Male Elit e menuding upaya 'jilbabisasi' yang digalakkan oleh Dinasti Umayyah telah menambah beban berat perempuan. Gerak perempuan semakin mengalami penyempitan, khususnya dalam hal kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan keilmuan yang setara dengan laki-laki. Hal ini terbukti dengan minimnya nama perempuan dalam daftar tokoh intelektual muslim serta mandulnya kiprah perempuan dalam lembaran sejarah Islam.
Oleh karena itu, tidak terlampau salah jika kita katakan sejarah Islam adalah sejarah laki- laki. Fakta yang sama tentu dialami pula oleh perempuan di seantero dunia yang pernah mewarisi sejarah harem. Sebagai langkah awal untuk meratakan jalan bagi pendekonstruksian harem, jilbab atau apa pun yang setara dengannya harus dipandang sebagai sekadar 'pilihan', bukannya kewajiban.
'Public Sphere'
Wilayah publik yang merupakan ruang berjubelnya manusia dari pelbagai strata sosial dan aneka kepentingan merupakan lahan empuk haremisasi. Dengan diselimuti ideologi patriarkat, dunia publik telah berubah menjadi 'ladang pembantaian' (killing field) bagi eksistensi kaum hawa. Ambil contoh kecil, acara kongko-kongko anak muda di pinggiran jalan atau suatu tempat tertentu di malam hari akan dipandang sebagai hal yang lumrah oleh masyarakat jika dilakukan anak laki- laki. Tapi, penilaian pun akan berubah drastis manakala kegiatan itu dilakukan perempuan. Suara- suara sumbang dan konotasi negatif pun sontak bermunculan karena norma sosial kita masih belum