PEM I KI RAN NEGARA
SEJARAH PEM IKI RAN NEGARA
Bahwa manusia adalah makhluk polit ik yang dapat mencapai apa saja yang diinginkan sepanjang mereka t et ap sadar bahwa mereka hidup dalam sat u negara.
(Aristoteles, dalam karya besarnya “Politics”).
Prawacana
Negara terbentuk berdasarkan adanya: sekumpulan orang yang menempati suatu wilayah tertentu, pemerintah yang sah yang mengorganisasikannya dan biasanya mempunyai kedaulatan, baik kedalam maupun keluar.1 Dalam berbagai pembahasan tentang negara menurut pengertiannya
yang paling modern, ada dua hal yang sering dibicarakan secara mendalam, yaitu perkembangan kesejarahan dan konsepsi mengenai kedaulatan negara.2 Yang tersebut pertama tidak begitu menampilkan permasalahan yang berarti. Boleh jadi konsep kedaulatan, yang dalam banyak sumber dikatakan sebagai kekuasaan tertinggi dalam suatu negara, merupakan salah satu konsep yang paling sulit untuk diperoleh kesepakatan pengertiannya.
Karena itu suatu perbedaan harus ditentukan antara negara-negara yang benar-benar berdaulat dengan negara-negara yang setengah berdaulat; atau negara yang bahkan tidak mempunyai kedaulatan sama sekali. Yang pertama (negara berdaulat) jelas mempunyai otonomi secara penuh untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi, sementara yang berikutnya (negara setengah berdaulat) seringkali masing dikontrol oleh kekuatan asing dalam setiap gerak langkahnya. Negara-negara yang tergolong setengah berdaulat memiliki tipe yang harus dibedakan: Pert ama, negera-negara yang mempunyai kekuasaan penuh dalam mengurusi masalah-masalah dalam negeri, tetapi dalam masalah-masalah luar negeri masih tetap dikuasai oleh kekuasaan asing. Kedua, negara-negara yang mempunyai kekuasaan penuh untuk berhubungan dengan negara-negara lain, tetapi dalam hubungan dalam masalah-masalah dalam negeri sama sekali tidak mempunyai kekuasaan penuh. Ketiga, negara-negara yang hanya mempunyai sedikit kebebasan dalam berbagai hal. Ketiga tipe tersebut diatas dalam batas tertentu bisa menunjukkan beberapa tingkat kolonialisme. Dalam hal ini kolonialisme diartikan sebagai pengawasan yang dilakukan oleh suatu negara terhadap negara lain, baik secara militer maupun politis.
Perbedaan dalam negara setengah berdaulat tersebut mungkin akibat kelemahan militer, pemberian konsesi-konsesi kepada kekuatan negara lain melindungi apa yang masih tersisa dalam kedaulatannya. Hubungan antara Uni Soviet dengan beberapa negara satelitnya bisa dianggap sebagai salah satu bentuk kolonialisme. Kebijaksanaan Uni Soviet terhadap negara-negara satelitnya tidak semata-mata dikenakan kepada pemerintah negara yang bersangkutan, tetapi juga terhadap individu warga negaranya. Dengan kata lain segenap warga negara yang ada di negara-negara satelit diharuskan pula menerima pandangan-pandangan pemerintah Uni Soviet, bahkan jika dipandang perlu Uni Soviet bisa melakukan intervensi langsung dengan pasukan-pasukan militernya.
Tinjauan Kesejarahan
Negara dalam pengertian sekarang boleh dikatakan merupakan gejala yang relatif baru. Di jaman Yunani Kuno sebenarnya sudah disadari arti pentingnya negara bagi manusia, tetapi bentuk negara yang ada dalam pandangan mereka tidak lebih luas dari negara-negara kota (Cit y St at e). Manusia memerlukan negara untuk mencapai perkembangan tertinggi dalam peradabannya. Manusia tidak dibawah negara, tetapi merupakan bagian integral dari negara, kerena itu seharusnya tidak boleh ada perbedaan antara kepentingan umum dan kepentingan perseorangan.
Berangkat dari pemikiran semacam itu, Aristoteles dalam karya besarnya “Politics” pernah menjelaskan: bahwa manusia adalah makhluk politik yang dapat mencapai apa saja yang diinginkan sepanjang mereka tetap sadar bahwa mereka hidup dalam satu negara. Untuk mencapai tujuan-
1 Cheppy Hari Cahyono,
Ilmu Polit ik dan Perspekt ifnya, (Jogjakarta: TIARA W ACANA YOGYA, Cet. II., 1991) hlm. 39.
2 Harold J. Laski, State in Theory and Pract ice (1935); Ernst Cassirer, The M iyt h of The Stat e (1946); Reinhold
Niebuhr, Struct ure of Nat ions and Empires (1950); dan juga Stuart Gerry Brown, “St at e”, dalam Encyclopedi Int ernat ional
nur sayyid sant oso krist eva manifest o wacana kiri50
tujuan itulah manusia harus diberi kesempatan untuk mewujudkan kemampuan moral dan intelektualnya secara penuh.
Faktor-faktor ekonomi, tidak bisa tidak merupakan tumpuan utama untuk mentransformasikan bentuk kerajaan-kerajaan feodal dalam abad pertengahan kearah negara- negara dalam pengertian yang lebih modern. Dalam kaitan ini perkembangan industri sebagai akibat langsung dari tumbuhnya perdagangan dan perniagaan, memperkuat landasan untuk menancapkan suatu sistem moneter dalam perekonomian. Kalau sebelumnya Raja selalu bertumpu pada bangsawan-bangsawan pemilik tanah dan pasukan-pasukan pengawal setianya sebagai tenaga pendukungnya, maka dengan mulai mapannya sistem moneter telah mendorong Raja untuk mulai memungut pajak secara tetap dan mendirikan angkatan perang yang permanen. Tentara kerajaan ini menggantikan tentara-tentara feudal sebelumnya, dan akhirya mampu menghancurkan kekuatan para bangsawan.
Kasus yang sama juga terjadi dalam perkembangan negara-negara modern. Usaha menemukan dan mengeksploitasi tanah-tanah baru merupakan dua faktor penting yang mampu mengarahkan perkembangan kebanggaan Nasional (National Pride). Pertumbuhan kekuatan kelas- kelas pedagang lebih jauh bisa menopang ekspansi perdagangan internasional, membatasi kekuasaan para bangsawan, yang ini merupakan tahap-tahap perkembangan dari negara. Negara melansir konsesi perdagangan didaratan asing, membangun angkatan darat dan laut untuk melindungi orang-orang dan kapal yang tengah mengusahakan sumber-sumber baru, dan melanjutkan kebijaksanaan lain dalam perdagangan yang memberikan keuntungan bagi kas negara.3 Dalam kerangka perubahan-perubahan ini, masyarakat Eropa mengetengahkan satu kebijakasanaan baru yang dikenal dengan istilah Merkantilisme.4 Politik semacam ini mencoba menempatkan superioritas negara dalam bidang politik dan ekonomi diatas saingan-saingannya. Kekayaan negara diakumulasikan melalui berbagai penghasilan di daerah-daerah koloninya dan pemeliharaan keseimbangan perdagangan yang sangat menguntungkan. Dengan demikian, kolonialisme menjadi kekuatan utama yang mendorong tumbuhnya konflik-konflik internasional pada abad XVI, XVII dan XVIII. Dengan adanya perjuangan-perjuangan ini, negara nasional sebagai unit politik yang paling dasar menjadi lebih diperhatikan lagi.
Setelah perkembangan negara mencapai puncaknya seperti sekarang ini, konsep kedaulatan mulai diperdebatkan orang. Istilah kedaulatan menunjuk pada kekuatan absolut dan final dalam suatu masyarakat tertentu. Dalam kenyataannya, ada banyakbentuk kedaulatan yang bisa dibedakan satu sama lain, misalnya ada kedaulatan t ituler sebagaimana yang dimiliki oleh Mahkota Kerajaan Inggris, kedaulatan hukum yang didalamnya setiap orang ataupun kelompok berhak menentukan dan mengatur fungsi-fungsi pemerintahannya sendiri, atau ada pula sebutan kedaulatan polit ik dan konstitusional dimana masing-masing orang mempunyai kekuasaan penuh sebagamana yang berlaku di Amerika Serikat.
Gagasan kedaulatan sebenarnya sudah mulai dibicarakan oleh Aristoteles, dimana dalam bukunya “Politics” telah dikatakan, bahwa kekuasaan tertinggi dan sah negara bisa saja dipegang oleh satu tangan, beberapa orang, atau malahan banyak orang. Dalam tradisi Romawi kedaulatan ada ditangan rakyat, kendatipun dalam pelaksanaannya didelegasikan kepada Raja. Sampai dengan munculnya negara modern, masalah kedaulatan masih dirasakan kabur. Penerapan ajaran
3 Untuk membandingkan arti kemerdekaan dapat kita refleksikan dari para tokoh kemerdekaan Indonesia sebagai
berikut; Ki Hajar Dewantara menulis; “Dalam pendidikan harus senantiasa diingat bahwa kemerdekaan bersifat tiga macam: berdiri sendiri (zelstandig), tidak tergantung pada orag lain (onafhankelijk), dan dapat mengatur dirinya sendiri
(vrijeid, zelfsbeschikking).” Kalau istilah Belanda itu diterjemahkan kedalam jargon yang lebih dikenal sekarang, maka
ketiga komponen kemerdekaan itu ialah self-reliance, independence, dan self-det erminat ion. Sukarno lebih menekankan
independence, yaitu terlepasnya Indonesia dari penguasaan oleh suatu bangsa dan penguasaan asing. Hatta dan Syahrir
lebih menekankan self-reliance yaitu otonomi setiap individu dalam memutuskan apa yang harus dikerjakan. Tan Malaka selepas sekolah guru di Harlem, Belanda, memilih menjadi guru untuk anak-anak para kuli kontrak di perkebunan Deli, melihat kemerdekaan sebagai self-det erminat ion, yaitu kesanggupan setiap kelompok sosial menentukan nasibnya sendiri dan tidak menggantungkan peruntungannya pada kelompok sosial lainnya. Perbedaan tekanan itu menjadi lebih jelas kalau dilihat dari hubungan dengan apa yang hendak ditentang. Kemerdekaan sebagai independence secara telak menolak penjajahan. Kemerdekaan sebagai self-reliance membatalkan ketergantugan. Sedangkan kemerdekaan sebagai self-
determinat ion menampik segala jenis penindasan dan pembodohan.
4
nur sayyid sant oso krist eva manifest o wacana kiri51
feodalisme, dimana sumber-sumber kekuasaan telah ditumbuhkan dengan konflik antara gereja, bangsawan dan otoritas raja, telah menutupi pengertian yang jelas tentang kedaulatan itu sendiri.
Dalam kegelapan ini, muncullah nama Jean Bodin, seorang pemikir Perancis abad XVI yang pertama kali merumuskan konsepsi modern tentang kedaulatan. Dalam pandangan Bodin, sebagaimana telah disinggung diatas, kedaulatan tidak lain merupakan: kekuasaan yang absolut dan final dalam masyarakat. Dari pandangan Bodin itulah kemudian muncul teori tentang negara sebagai kelompok individu dalam satu wilayah tertentu didalam pemerintahan sendiri dan melalui pemerintah melakukan pengawasan kedaulatan terhadap berbagai masalah yang dihadapi.5
Asal M ula Negara
Tentang asal mula negara akan disinggung masalah teori perjanjian masyarakat . Satu- satunya dasar yang dipakai adalah, teori perjanjian masyarakat paling dekat dengan ajaran-ajaran demokrasi yang diimpikan oleh banyak negara.
Dengan teori perjanjian masyarakat (social contract, social compact), dimaksudkan adalah teori yang berusaha menjelaskan asal mula dan sifat negara, termasuk pemerintah, yang dianggapnya sebagai hasil perjanjian antara individu-individu yang mendirikan masyarakat dan negara, atau antara warga negara suatu negara dengan pemerintanya.
Teori penjanjian masyarakat ini telah memperoleh berbagai bentuknya mulai dari jaman Yunani Kuno sampai jaman modern sekarang ini, dan memperoleh popularitasnya pada abad XVII dan XVIII. Diatara tokoh pemikir teori perjanjian masyarakat yang sudah banyak dikenal adalah Plato, Epicurus, Cicero, St. Agustinus, Hugo Grotius, Thomas Hobbes, John Locke, Jean Jacques Rousseau, dan Immanuel Kant.6
Semua teori yang dikemukakan oleh para tokoh diatas, umumnya menandaskan bahwa hubungan antara penguasa negara dan yang dikuasai semata-mata dilandasi oleh kesepakatan, baik yang tegas maupun yang tidak, diatara kedua belah pihak, yangmana masing-masing masih diikat oleh kewajiban-kewajiban tertentu yang harus dipenuhi demi eksistensi negaranya.
Untuk menjelaskan perkembangan suatu masyarakat sebelum adanya negara sebagaimana bentuknya sekarang ini teori perjanjian masyarakat biasanya mengetengahkan salah satu dari dua sasaran umum. Yang pert ama, ingin memberikan jastifikasi terhadap kekuatan absolut seorang raja, seperti yang dilakukan Thomas Hobbes dalam bukunya “Leviat han” yang boleh dikatakan ingin membela kedudukan Raja Stuart. Yang kedua, ingin memberikan justifikasi terhadap beberapa bentuk perlawanan rakyat melalui wakil-wakilnya didalam badan-badan perwakilan, seperti yang dilakukan oleh John Locke dalam bukunya Two Treat ises of Civil Government yang ingin memberikan justifikasi terhadap “The Glorious Revolution” tahun 1688.
Apabila kita amati tulisan Locke dalam bukunya tersebut akan jelas kelihatan pengaruh koloni Amerika yang dimanifestasikan dalam pernyataan kebebasan dan kemerdekaannya dari kekuasaan Inggris untuk memnuhi kewajiban-kewajiban kontraktual.
Demikian kalau kita amati semua teori mengenai perjanjian masyarakat ini, akan timbul kesan umum bahwa dalam banyak hal teori-teori perjanjian masyarakat ini lebih menekankan pada peranan rakyat itu sendiri dalam hubungannya dengan kekuasaan pemerintahnya. Berikut ini akan dipaparkan penjelasan pemikiran para tokoh tentang teori penjanjian masyarakat.
Plato
Dalam sejarah filsafat, Plato merupakan murid dari Socrates yang paling cemerlang. Tiga buah karya tulis Plato yang banyak kaitannya dengan sejarah pemikiran mengenai negara dan hukum adalah; Polit eia (tentang negara), Politikus (tentang abdi negara), Nomoi (tentang undang- undang). Dalam kepustakaan filsafat Plato disebut sebagai pencipta ajaran alam cit a (ideeenler), sementara aliran filsafat yang dikembangkan sering disebut sebagai Idealisme. Plato terkesan dengan pemikiran kaum Sofis, sehingga pemikirannya banyak dipengaruhinya.
5 Strurt Gerry Brown, Ibid.
6 Uraian lebih lanjut tentang pemikiran sarjana ini bisa dilihat dalam Soehino,
Ilmu Negara, (Jogjakarta: Liberty),
nur sayyid sant oso krist eva manifest o wacana kiri52
Pandangannya tentang asal mula negara, Plato menggaris bawahi bahwa negara itu muncul karena adanya berbagai kebutuhan dan keinginan manusia semata-mata. Lebih lanjut ditegaskan, bahwa mengingat kebutuhan dan keinginan manusia yang berbeda-beda dan bahkan bisa bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya, mau tidak mau mereka harus bekerjasama agar kebutuhan yang saling berbeda-beda tersebut bisa terwujudkan. Dalam kerjasama tersebut, masing-masing orang bekerjasama sesuai dengan tugas dan fungsinya sendiri sesuai dengan kemampuannya. Kalau yang demikian itu dapat berjalan dengan baik diperkirakan semua kebutuhan dan kepentingan tiap-tiap orang akan bisa terpenuhi secara lebih memuaskan.
Adanya kebersamaan dan kesatuan inilah yang nantinya akan membentuk masyarakat atau negara. Masyarakat atau negara muncul karena keinginan dan kesepakatan bersama manusia untuk mempersatukan diri didalam mencapai tujuan bersama.
Epicurus
Ajaran filsafat yang dikembangkan Epicurus dalam segi tertentu sangat berbeda dengan ajaran Aristoteles. Dan ajaran filsafat tersebut dapat dikatakan bertolak belakang. Karena zaman yang dilalui kedua tokoh ini bertolak belakang. Aristoteles hidup pada zaman Alexander Yang Agung, justru Epicurus hidup pada masa kebalikannya. Zaman dimana Epicurus hidup diwarnai dengan perpecahan yang terjadi di Yunani sebagai akibat meninggalnya Raja Alexander tersebut.
Pada zaman Aristoteles, hubungan antara manusia dengan negara demikian harmonis, dimana negara dan masyarakat dianggap sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia. Pada zaman Epicurus sebagai akibat perpecahan tersebut orag mulai bersikap acuh tak acuh terhadap eksistensi negara. Antara manusia sebagai individu dengan negara mulai timbul jurang yang memisahkan secara tegas. Negara tidak lagi dipandang sebagai bagian penting dalam kehidupan, akan tetapi individu yang harus memperhatikan dirinya sendiri. Diarasakan tidak akan ada kemungkinan lagi untuk mendidik para warga negara menjadi pendukung yang setia dan loyal terhadap negara.
Berdasarkan sikap terhadap situasi dan kondisi negara semacam itu, Epicurus mengetengahkan ajarannya yang banyak bersifat individualistis. Karena itu Epicurus diidentifikasikan sebagai pencipta ajaran Individualisme yang dalam perkembangan selanjutnya mampu mendesak ajaran Universalisme Aristoteles.
Dalam pandangan Individualisme Epicurus, negara dan masyarakat dianggap bukan bagian yang penting dalam kehidupan manusia, tetapi justru manusia itu sendiri yang menempati posisi sentral sebagai anggota negara atau masyarakat. Adanya negara tidak lain adalah untuk memenuhi kebutuhan para individu yang tinggal didalamnya. Ajaran Epicurus juga dikenal dengan sebutan at oomisme, karena memandang masyarakat sebagai suatu keadaan yang kompak, sementara individu-individu dipandang sebagai atoom-atoom yang menempati posisi vital. Masyarakat mempunyai dasar-dasar kehidupan yang otonom, dan lebih merupakan realitas dibanding masyarakat yang tidak mempunyai dasar kehidupan sendiri.
Karena negara dan masyarakat itu adalah hasil perbuatan manusia sebagai individu- individu, maka negara tidak berbeda dengan benda mati. Negara tidak lebih sebagai suatu mekanisme. Negara tidak lebih dari suatu alat manusia yang dibentuk dengan senjata untuk kepentingan manusia itu sendiri. Jika negara sudah terbentuk, ia harus mengutamakan individu- individu sebagai dasar bagi kepentingan negara.
Cicero
Cicero adalah pemikir besar Romawi tentang negara dan hukum. Pemkiran Cicero banyak dipengaruhi oleh karya-karya Plato dan ajaran filsafat kaum Stoa. Pengaruh yang demikian besar ini nampak dalam dua karya Cicero, yaitu De Republica (tentang negara), dan De Legibus (tentang hukum atau undang-undang). Dengan demikian ajaran Cicero tentag asal mula negara tidak berbeda dengan ajaran Plato, yaitu melalui perjanjian masyarakat dan kontrak sosial. Namun demikian Cicero telah memodifikasi pemikiran Plato dengan memasukkan pengaruh-pengeruh Stoa didalamnya.
nur sayyid sant oso krist eva manifest o wacana kiri53
Dalam pandangan Cicero, negara adalah suatu kenyataan yang harus ada dalam kehidupan manusia. Negara disusun oleh manusia berdasarkan atas kemampuan rasionya, khususnya rasio murni manusia yang disesuaikan dengan hukum alam kodrat. Kendatipun ajaran Cicero berbeda dengan ajaran Epicurus yang menganggap negara sebagai hasil perbuatan manusia yang berfungsi sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan mereka, namun ajaran Cicero ini jelas menunjukkan konsep perjanjian masyarakat tentang asal mula negara.
H ugo Grotius
Grotius juga dikenal sebagai pemikir besar tentang negara dan hukum. Grotius dikenal sebagai peletak dasar (pelopor) dan bahkan dianggap sebagai pencipta teori Hukum Alam Modern. Ajaran hukum alam yang dikemukakan oleh Grotius bayak dipengaruhi oleh hukum alam Yunani Kuno (Aristoteles), pemikiran Stoa (Zeno), dan juga jalan pemikiran Cicero. Pengaruh ini nampak dalam karyanya; De Jure Belli ac Pacis (Hukum Perang dan Damai) yang ditulis khusus untuk Raja Louis XIII dari Perancis.
Ajaran Grotius tentang hukum dan negara ini mencoba mengangkat akal manusia sebagai salah satu dasar yang paling efektif untuk mengatasi berbagai perpecahan yang terjadi dalam bidang keagamaan. Selain itu pemikiran tentang asal mula negara sangat dipengaruhi oleh Aristoteles dimana ia berpendapat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang selalu mempunyai hasrat hidup bermasyarakat. Namun demikian Grotius lebih memusatkan analisanya pada akal manusia itu sendiri. Dikatakan bahwa karena manusia itu memiliki akal atau rasio maka kepentingan pribadi atau keuntungan individual tidak akan mengalahkan kepentingan umum.
Dalam pandangan Grotius dan juga penganut aliran hukum alam pada umumnya, negara terjadi karena adanya suatu perjanjian, mengingat manusia adalah makhluk sosial yang selalu mempunyai hasrat untuk hidup bermasyarakat. Dan perjanjian itu wajar terjadi karena manusia mampu menggunakan rasionya. Berdasar pada hasrat atau rasio itulah negara terbentuk melalui suatu perjanjian untuk mencapai tujuan bersama, yaitu adanya ketertiban dan keamanan umum. Didalam perjanjian itu juga disepakati pula Raja diserahi tugas untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. Masyarakat selalu tunduk pada perjanjian itu karena menurut rasionnya perjanjian itu dianggap benar dan baik.
Thomas H obbes
Sebagai pemikir besar tentang negara dan hukum, ia memiliki dua buah karya yang cukup popular, De Cive (tetang warga negara), dan Leviat han (tentang negara). Hobbes dikenal sebagai pengunut setia aliran hukum alam seperti Grotius. Dalam banyak hal ajaran Hobbes berangkat dari keadaan manusia sebelum adanya negara, dimana manusia hidup dalam keadaan bebas tanpa ikatan apapun. Dalam keadaan yang disebut in abstrakt o ini manusia saling bermusuhan, berlawanan, curiga-mencurigai, dan mementingkan dirinya sendiri. Dalam keadaan yang demikian ini tidak jarang terjadi peperangan antara orang yang satu dengan lainnya, antara seorang dengan semua orang, dan juga antara semua orang melawan semua orang, bellum omnium cont ra omnes.
Keadaan yang serba tidak teratur ini sebenarnya berpangkal pada sifat-sifat yang melekat pada tiap-tiap manusia dalam keadaan in abstrakt o, yaitu pertama, competitio (competition). Dengan adanya sifat ini manusia cenderung berlomba-lomba untuk mengatasi manusia yang lain. Manusia yang satu berusaha mengungguli manusia yang lain, dan dalam persaingan ini mereka cenderung membenarkan segala cara yang akan ditempuhnya. Kedua, defentio (defend). Sesuai dengan sifat yang pertama diatas, manusia yang satu tidak mau dikuasai oleh manusia lainnya. Karena itu timbul sifat yang kedua yaitu kecenderungan untuk membela diri, mempertahankan diri dan mengusahakan jaminan bagi keselamatannya. Dan yang ketiga, adalah sifat Gloria, yaitu sifat ingin selalu dihormati, disegani dan dipuja.
Dalam pandangan Hobbes, keinginan atau hasrat yang kuat untuk menciptakan perdamaian antara manusia itu bisa terwujud apabila mereka mengadakan suatu perjanjian yang disebut perjanjian masyarakat. Perjanjian itu tidak saja membentuk masyarakat tetapi berkembang samp[ai akhirnya membentuk suatu negara. Dalam negara itulah keselamatan manusia terjamin, melalui negara itu pula manusia dapat memiliki sesuatu yang diinginkan.
nur sayyid sant oso krist eva manifest o wacana kiri54
Perjanjian masyarakat ini dikatakan bersifat langsung. Ini berarti manusia yang terlibat perjanjian itu secara langsung menyerahkan hak atau kemerdekaanya kepada seorang Raja yang tidak terlibat dalam perjanjian bahkan diluar perjanjian. Raja merupakan pihak yang tidak terkena perjanjian, akan tetap memperoleh kekuasaan dari orang-orang yang mengadakan perjanjian tersebut. Karena pada prinsipnya tidak ikut terlibat dalam perjanjian masyarakat, maka tidak ada kewajiban bagi raja untuk terlibat dalam perjanjian tersebut. Sebenarnya dari kenyataan inilah absolutisme seorang raja memperoleh pembenaran (justifikasi). Raja dapat melaksanakan apa yang diinginkan, dan kalau perlu seorang raja dapat membunuh seseorang demi terciptanya perdamaian sesuai dengan tujuan utama perjanjian masyarakat.
John Locke
Beliau adalah pemikir besar tentang negara dan hukum dari Inggris. Ia hidup pada masa pemerintahan Raja Willem III yang mengendalikan pemerintahannya melalui suatu bentuk monarkhi terbatas. Oleh karena itu tidak heran jika ajaran-ajaran Locke, khususnya tentang ajaran negara dan hukum merupakan pembenar terhadap monarkhi terbatas Raja Willem III.
Sebagai penganut hukum alam, Locke sependapat bahwa hukum alam tetap menjadi landasan rasional perjanjian masyarakat yang timbul dari tuntutan penghargaan terhadap hak-hak manusia dalam keadaan yang masih alamiah. Namun demikian Locke berusaha melepaskan cara berfikir yang logis, deduktif, dan matematis untuk kemudian berganti dengan cara yang baru yang lebih realistis dengan berlandaskan pada praktek ketatanegaraan dan hukum yang lebih aktual.
Locke mandasarkan teorinya kepada keadaan alamiah manusia atau keadaan manusia di alam bebas. Sangat berbeda dengan Thomas Hobbes yang melihat keadaan alamiah itu tidak