• Tidak ada hasil yang ditemukan

Refleksi Penelitian

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 53-61)

CP 18-05-2022 “Belum pernah sih.” “Saya cenderung mengabaikan jika itu tidak merugikan saya

4.3 Refleksi Penelitian

Berdasarkan analisis yang dilakukan peneliti, maka hasil penelitian yang ditemukan antara lain:

Peneliti menemukan bahwa informan mampu melakukan kompetensi literasi digital dimulai dari aspek akses hingga evaluasi meskipun terdapat informan yang pernah melakukan penyebaran hoaks secara tidak sadar, hal ini disebabkan karena informan kurang melakukan seleksi serta verifikasi terhadap informasi yang diperoleh. Dilihat dari kompetensi akses ke-10 informan sering mengakses informasi lewat media sosial baik untuk mencari hiburan, informasi, atau berbagi informasi, namun tidak jarang juga mereka sering menemukan berita atau informasi hoaks di media sosial. Seperti yang kita ketahui bahwa teknologi dapat mempengaruhi perilaku manusia dimana nantinya hal ini akan membentuk perilaku sosial dan kebudayaan manusia. Hal ini juga berkaitan dengan perkembangan teknologi yang dapat merubah cara berpikir serta mempengaruhi interaksi sosial manusia. Peneliti melakukan validasi temuan kepada Septi Wulandari, S.Sos (wawancara pada tanggal 7 Juli 2022 melalui Whatsapp) beliau merupakan akademisi sekaligus beliau aktif dalam kegiatan literasi digital dan sering dijadikan moderator dalam webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kominfo, beliau menyatakan :

“Jadi memang menurut saya apa ya, yah inilah dampak dari salah itu perkembangan teknologi khususnya adanya media baru. Di satu sisi memang dampak positifnya tidak bisa kita pungkiri, banyak sekali dampak positif yang bisa kita akses, yang bisa kita terima dengan adanya internet yang kemudian memunculkan media sosial ini. Tetapi dampak negatifnya juga apa ya, ya sampai sekarang masih terus kita temui salah satunya adalah dengan adanya berita atau informasi hoaks. Karena memang apa ya, sifat dari media sosial sendiri sebagai media baru dia interaktif, ada otonomi juga dari pengguna dalam memposting segala sesuatu kemauan dia sendiri. Jadi ya, ini yang salah satunya menjadi dampak dari kemudahan mengakses informasi di media sosial. Jadi ya memang itu tidak bisa kita pungkiri tetapikan bagaimana kemudian kita bisa meminimalisir itu.”

Tak hanya itu seorang praktisi yaitu Irene Syebatia Bumi, M.I.Kom (wawancara pada tanggal 18 Juli 2022 melalui Whatsapp) juga memberikan tanggapan terkait hal tersebut:

“Persebaran beragam informasi di era digital saat ini tentu tidak dapat dihindarkan dari hoaks yang bermunculan di masyarakat, hanya bermodalkan tangkapan layar, atau potongan video dapat menjadi sebuah pemberitaan yang membangun opini publik yang justru sebenarnya informasi yang terkandung didalamnya bisa saja berbeda. Tentunya hal-hal seperti ini pastinya dengan tujuan untuk menjatuhkan atau menyudutkan pihak-pihak tertentu.”

Seorang news presenter TV & customer relations officer yaitu Waode Meyshella Anggraini Riandalas (wawancara 20 Juli 2022) juga memberikan tanggapan terkait hal tersebut:

“Batasan memang sangat kabur kalau sudah bahas dunia maya. Semua orang bisa mengirim dan mendapatkan informasi sesuka hati mereka. Makanya perlu wawasan yang baik terkait kemajuan teknologi. Kalau sudah tahu resiko eksistensi internet, masing-masing individu harus punya mental kritis. Kerap mempertanyakan dan memastikan kebenaran dari segala sesuatu yang kita terima itu penting.

Terkait hal menyeleksi informasi di media sosial peneliti menyimpulkan dengan banyaknya informasi yang beredar di media sosial serta semakin banyak juga sumber sumber berita yang bermunculan yang dapat membuat seseorang kebingungan dan dapat terpapar hoaks. Dalam hal ini penelitian ini bertolak belakang dengan konsep jika semakin banyak informasi yang diperoleh dari berbagai sumber maka dapat diyakini membangun wawasan serta pengetahuan luas. Bahwasanya tidak semua informasi yang tersebar di media sosial itu adalah benar. Sehingga dalam hal seleksi yang dilakukan ke-10 informan mampu menyeleksi setiap informasi yang tersebar di media sosial dan tidak menerima mentah-mentah informasi yang tersebar di media sosial. Bahwa kita harus mampu mengenali bagaimana ciri dari informasi yang mengandung hoaks, mulai dari melihat kredibilitas akun atau portal yang menyebarkan informasi, hingga isi pesan yang disampaikan. Maka peneliti kemudian melakukan validasi temuan dengan Septi Wulandari, S.Sos (tanggal 7 Juli 2022 ) beliau menyatakan :

“Menurut saya akhirnya kita ketika mengakses informasi di media sosial ini memang kita butuh kemampuan selektif dalam diri kita sendiri. Kita harus punya apa ya, eee.. istilahnya

apa sih namanya, self-control. Karenakan gini informasi- informasi di media sosial khususnya itu kan semacam kayak filter bubble, jadi ketika algoritmanya juga jalan, ketika kita mencari satu berita tertentu otomatis di media sosial itu pun kita akan disuguhkan berbagai macam informasi-informasi yang berkaitan dengan apa yang kita cari. Nah disitulah kemudian kemampuan kita bagaimana kita membekali diri kita, meliterasi diri kita untuk tau mana informasi yang memang kita butuhkan atau tidak kita butuhkan, mana informasi yang benar mana informasi yang salah seperti itu. Dan secara pribadi sih sebenarnya yang penting adalah kita bisa membatasi media sosial ini sebagai hal yang memang menguntungkan kita saja.

Kayak mengakses informasi-informasi, kalau menurut saya ketika itu memang hal yang sangat penting lebih baik pilih media yang secara kredibilitas itu tidak diragukan. Misalkan media-media mainstream yang bisa kita akses, misalnya kalau kita melihat informasi-informasi seperti kecelakaan atau peristiwa apapun itu, oh ini benar gak sih. Nah itu lebih baik kita memilih media-media yang memang sudah kita diakui kredibilitasnya. Media-media online yang ga asal dan kita juga harus jeli, kadang-kadang sekarang gini, misalnya sekarang ada tempo.com atau tempo.id di media sosial. Nah kadang-kadang ada yang plesetannya kan tempo yang o nya double dan sebagainya. Itu kita yang harus jeli meliterasi diri kita, itu sangat penting.”

Tak hanya itu seorang praktisi yaitu Irene Syebatia Bumi, M.I.Kom (wawancara pada tanggal 18 Juli 2022) juga memberikan tanggapan terkait hal tersebut :

“Tentu sangat penting karena dengan melakukan sebuah seleksi informasi kita sebagai penerima informasi dapat melihat dengan jelas mana hal-hal yang bisa dipercaya ataupun tidak.”

Seorang news presenter TV & customer relations officer yaitu Waode Meyshella Anggraini Riandalas (wawancara 20 Juli 2022) juga memberikan tanggapan terkait hal tersebut:

“Penting sekali. Proses seleksi inilah yang nantinya akan mempengaruhi kualitas individu.”

Mengenai konsep pemahaman, ke-10 informan mampu memahami apa yang telah mereka peroleh dari webinar tersebut, mereka juga mampu memahami setiap jenis informasi yang disajikan. Khususnya pemahaman terkait literasi digital hal ini sangat diperlukan di tengah maraknya hoaks saat ini. Karena ketika pemahaman literasi digital ini tidak segera diberikan di kalangan masyarakat maka hal ini yang dapat memicu penyebaran hoaks semakin

merambat kemana-mana. Namun konsep pemahaman ini ada baiknya dimulai dari diri sendiri.

Karena bukan cuma anak muda yang butuh pemahaman ini, namun kalangan orang tua juga membutuhkannya agar mereka tidak dengan mudahnya membagikan setiap informasi yang mereka terima tanpa memastikan kebenarannya. Maka peneliti kemudian melakukan validasi temuan dengan Septi Wulandari, S.Sos (tanggal 7 Juli 2022 ) beliau menyatakan :

“Ini juga sebenarnya hampir sama juga ya, sudah sedikit saya jelaskan di pertanyaan no 2 tetapi sekali lagi bahwa kompetensi-kompetensi literasi digital itu hal yang sangat penting diterapkan dalam penanganan hoaks. Kenapa ini bisa terjadi, menurut saya ya karena memang kemampuan literasi ini yang akhirnya rendah di kalangan orang tua. Karena apa, karena tidak ada akses bagaimana mereka meliterasi diri mereka sendiri, kemudian apapun berita atau informasi yang mereka terima itu adalah mereka anggap benar. Ketika ada eee informasi link di channel youtube, atau berita-berita online yang mungkin dikirim lewat media percakapan atau media sosial gitu ya. Itu mereka menganggap itu adalah sesuatu yang benar tanpa mereka meng cross check data, fakta, data dan sebagainya. Ini sudah menjadi salah satu bukti bahwa ketika kompetensi literasi digital itu tidak dipahami tidak diterapkan dengan baik, hoaks akan semakin menyebar dengan cepat begitu. Otomatis kompetensi ini memang sangat harus dibutuhkan dalam menangani hoaks, minimal dari tiap-tiap individu itu punya pagar sendiri untuk memahami mana yang perlu di share bahwa ini hoaks, ini ini bukan, atau mana yang perlu dibaca, atau bermanfaat untuk dirinya atau nggak gitu.”

Disamping itu Irene Syebatia Bumi, M.I.Kom (wawancara pada tanggal 18 Juli 2022) juga memberikan tanggapan terkait hal tersebut:

“Hal ini tentunya perlu diterapkan dalam setiap individu khususnya dalam lingkup kecil disekitar kita, bagaimana kita mampu mengendalikan diri untuk tidak menyebarkan berita/tidak percaya berita begitu saja dan mengingatkan orang-orang disekeliling kita, hal tersebut tentunya akan menumbuhkan sikap kritis terhadap sebuah pemberitaan dan sedikit demi sedikit pastinya dapat menjadi sebuah kebiasaan dalam diri seorang individu dalam merespon sebuah pemberitaan.”

Seorang news presenter TV & customer relations officer yaitu Waode Meyshella Anggraini Riandalas (wawancara 20 Juli 2022) juga memberikan tanggapan terkait hal tersebut:

“Penting sekali. Salah satu cara yang menurut saya harus diterapkan mengingat masifnya perkembangan teknologi.”

Dalam penelitian ini peneliti juga menyimpulkan bahwasanya kita harus mampu menganalisis dengan baik suatu informasi yang kita terima. Pada hal ini ke-10 informan mampu menganalisis dikarenakan mereka dapat memberikan pemahaman mereka masing-masing terkait informasi yang dapat menimbulkan efek negatif bagi orang lain khususnya bagi yang tidak memahami konsep literasi digital. Dimana nantinya kita tidak mudah terjebak pada suatu pemahaman yang salah yang kita peroleh dari media sosial. Seperti halnya yang telah terjadi kepada salah satu informan yang mengatakan bahwa dirinya pernah tanpa sadar terlibat dalam penyebaran hoaks. Maka peneliti kemudian melakukan validasi temuan dengan Septi Wulandari, S.Sos (tanggal 7 Juli 2022 ) beliau menyatakan :

“Ya itu, kadang-kadang kita individu masyarakat itu antara jari dan otak, itu lebih cepat jari bergerak. Jadi begitu dapat informasi apa, lihat, gak ditelaah dulu, udah main share aja. Misalnya itu ada unsur kelucuannya, ada unsur komedinya, ada unsur hal-hal lain yang misal membuat panik. Misalkan jalan ini ditutup dan sebagainya, mohon lewat jalur ini. Itu langsung aja di share atau orang yang ngeshare sebelumnya itu adalah orang yang kita percaya, atau kita kenal pasti kita mikir ini benar. nah hal semacam itu yang membuat orang akhirnya gak sengaja ikut menyebarkan hoaks, karena dari sumber yang awalnya mereka menganggap ini adalah berita benar, jadi ya itu kadang-kadang gak sadar. jadi memang harus di cek lagi apapun itu, informasi apapun itu harus dicek dulu. Bahwa akhirnya kita bisa jadi gak sadar menyebarkan hoaks, selalu saring sebelum sharing, terus sebelum posting harus dipikirkan dulu, ini ada manfaatnya atau nggak, sumbernya siapa. Nah itu strategi untuk menyaring informasi-informasi agar apa yang kita sebarkan itu hal-hal yang bermanfaat.

kalau saya selalu ada beberapa tahapan dalam menyaring itu, sumbernya dari mana kalau sumbernya gak jelas yaudah gak usah di share. Terus apa sih isinya begitu, penting gak, ada manfaatnya gak buat orang yang saya share informasi ini, kalau gak ada ya ngapain juga. itu salah satu cara menyaring informasi itu hoaks atau bukan.”

Kemudian hasil temuan ini juga ditanggapi oleh Irene Syebatia Bumi, M.I.Kom (wawancara pada tanggal 18 Juli 2022) terkait hal tersebut:

“Tentu setiap kita pernah secara tidak sengaja menyebarkan pemberitaan hoax, ramai-ramai menghakimi public figur yang dianggap melakukan kesalah, atau membela seorang

korban mati-matian. Tapi ternyata suatu ketika terungkap fakta yang sesungguhnya dan berbeda dengan pemberitaan selama ini. Maka dengan begitu mulailah untuk lebih kritis terhadap hal-hal yang tersebar di media dan hal tersebut menjadi pembelajaran agar kelak tidak lagi terpancing dengan hoax yang beredar.”

Seorang news presenter TV & customer relations officer yaitu Waode Meyshella Anggraini Riandalas (wawancara 20 Juli 2022) juga memberikan tanggapan terkait hal tersebut:

“Itu bisa terjadi karena minimnya pengetahuan. Ia tidak melakukan riset terlebih dahulu sebelum ikut menyebarluaskan hoaks dan lebih memilih mengikuti emosi dan "tren"

orang banyak.”

Dalam menghadapi hoaks di media sosial peneliti menyimpulkan bahwa kita juga harus melakukan yang namanya verifikasi baik dari judul informasi, isi kontennya, maupun sumber informasi tersebut. Ketika kita menemukan suatu informasi yang dirasa mengandung hoaks maka ada baiknya kita segera melakukan pelaporan kepada pihak berwenang baik secara langsung maupun dengan cara memanfaatkan fitur-fitur yang ada di media sosial kita. Dalam hal ini penelitian menemukan tiga dari 10 informan belum melakukan pelaporan terhadap informasi atau berita hoaks, dan dua dari 10 tidak akan melakukan pelaporan dikarenakan mereka menganggap itu adalah suatu hal yang sia-sia karena masih banyak hoaks yang belum ditangani oleh pihak terkait, selain itu mereka juga tidak melaporkan karena tidak mengetahui secara detail akar permasalahan kasus hoaks tersebut. Maka peneliti kemudian melakukan validasi temuan dengan Septi Wulandari, S.Sos (tanggal 7 Juli 2022 ) beliau menyatakan :

“Jadi ketika kita melihat banyak informasi palsu, informasi yang berseliweran di media sosial, tidak melaporkan kepihak yang berwajib ke pihak berwenang ya barangkali ini salah satu skeptisisme masyarakat ya, ketika melihat betapa ini informasi-informasi semacam ini tidak ditangani sepenuhnya oleh pihak berwenang ya malas aja, ngapain kita lapor, ya karena banyak sekali informasi dan laporan yang barangkali juga masuk ke pihak berwenang dan tidak diproses. Ya ini jadi semacam skeptisisme, ya karena memang ya gimana ya bahwa informasi hoaks ini kan banyak sekali, ketika kemudian pihak berwenang menerima laporan yang sangat banyak ini ya pasti mereka juga bisa aja memilah ya, mana yang dianggap paling penting dan eee dan seperti apa ketika harus proses hukum itukan harus ada juga alat bukti dan sebagainya. Jadi itu pasti banyak pertimbangan untuk melanjutkan kasus tertentu.

Kemudian tentang aturan bagaimana itu hoaks, hoaks itu kan kaitannya dengan UU ITE ya kalau gak salah. Nah itu aturan-aturan itu sendiri, menurut saya pemahaman saya juga masih kadang-kadang UU itu kadang masih ambigu. Memahaminya belum seragam, kemudian juga ada pasal-pasal yang mungkin gak jelas gitu ya, bahkan tajam ke bawah saja pasal -pasal tersebut. Jadi ya agak ini juga akhirnya, kesulitan sendiri kan pihak berwenang untuk menangani ini. Sementara masyarakat ya akhirnya memilih, kalau bagi saya ya masyarakat disini pentingnya yang namanya literasi digital. Ketika informasi hoaks ini tidak bisa dilaporkan atau sudah skeptisisme misalnya dengan pihak berwenang, ah paling juga gak diurus atau kasus ini tidak ditangani dengan serius. Minimal kita paham bagaimana cara melaporkan menggunakan fitur-fitur pelaporan tertentu di media sosial itu akan selalu ada.

Dan gak bosan-bosannya untuk minimal meliterasi diri kita dan orang-orang terdekat kita.

Kita tau nih, oh ini termasuk informasi hoaks, nah meliterasi diri kita dan lingkungan kita itu hal kecil yang pasti sangat berdampak. Menurut saya ini kita tidak bisa serta merta menyerahkan ini pada pihak berwenang ya, bagaimana kalau semua informasi hoaks ini dilaporkan, laporan di kepolisian ini akan menjadi sangat penuh gitu ya. jadi ee.. tidak bisa mengandalkan pihak berwenang, bahkan mungkin kalau dari Kominfo sendiri, itukan ada ya tim Siber hoaks yang mencari informasi-informasi seperti itu. atau sekarang juga banyak website yang kemudian kita bisa mengecek gitu ya, apakah itu informasi hoaks atau ngga, cek fakta dan sebagainya. "

Kemudian hasil temuan ini juga ditanggapi oleh Irene Syebatia Bumi, M.I.Kom (wawancara pada tanggal 18 Juli 2022) beliau mengatakan:

“Setiap keputusan yang diambil seorang individu tentunya hak sepenuhnya dari individu tersebut, langkah utama dalam menyikapi hoax adalah kritis dan tidak langsung menyebarkan informasi tersebut ataupun menghakimi seseorang yang diberitakan buruk tanpa tahu kebenarannya. Langkah tersebut adalah langkah yang menurut saya harus menjadi dasar dalam setiap individu ketika merespon pemberitaan, jika individu tersebut memutuskan untuk melaporkan atau tidak, hal itu adalah tahap selanjutnya penanganan hoax yang sepenuhnya keputusan ada di orang tersebut.”

Seorang news presenter TV & customer relations officer yaitu Waode Meyshella Anggraini Riandalas (wawancara 20 Juli 2022) juga memberikan tanggapan terkait hal tersebut:

“Memang tidak bisa dipungkiri bahwa tiap individu punya kepentingan yang berbeda.

Ada yang tidak mau repot dan ada yang punya urgensi agar hoaks segera diproses. Namun dibutuhkan kesadaran dan perhatian yang tinggi dari masyarakat bila ingin meminimalisir persebaran berita hoaks. Itulah kenapa, mental kritis sangat dibutuhkan untuk masyarakat karena ujungnya, ini untuk kepentingan mereka.”

Kemudian peneliti menyimpulkan kita juga perlu adanya evaluasi, hal ini balik lagi dengan yang namanya menentukan sumber informasi yang kredibel. Disamping itu kita juga harus bisa melakukan upaya-upaya dalam hal menghadapi hoaks di media sosial, mulai dari strategi seperti apa yang harus kita lakukan kedepannya. Maka pada indikator ini ke-10 informan melakukan indikator evaluasi dimana mereka mencari informasi-informasi yang mereka perlukan dari portal berita yang telah terverifikasi kebenarannya. Karena semakin mereka mengetahui kebenaran suatu informasi maupun portal berita semakin selektif pula dalam memperoleh berita yang kredibel. Namun pada evaluasi ini ditemukan satu dari 10 informan ada yang pernah secara tidak sadar terlibat dalam penyebaran hoaks yang disebabkan kurangnya literasi digital dalam bermedia sosial. Maka hal ini juga menjadi penting diperhatikan dalam berkomunikasi atau mencari informasi di media sosial. Dan kompetensi literasi digital tentunya sangat diperlukan untuk menyikapi itu semua. Maka peneliti kemudian melakukan validasi temuan dengan Septi Wulandari, S.Sos (tanggal 7 Juli 2022 ) beliau menyatakan :

“Kalau strategi yang dilakukan diri sendiri oleh kita sebagai bagian dari publik ya menangani hoaks di media sosial itu ya dengan literasi digital. Literasi digital itu luas ya, bisa dengan cara kita memahami, bagaimana fungsi dari apa yang kita gunakan di media sosial.

kemudian apa-apa saja yang ada manfaatnya dan ada dampak buruk dari media sosial kita harus paham . etika-etika bermedia sosial juga harus kita pahami, kemudian berkaitan dengan apapun itu, secara teknik tentang fitur-fitur itu kita juga harus paham dari media sosial, dampak negatifnya. Karena kan media sosial itu bukan hanya media kita untuk bercengkrama, berinteraksi di dunia virtual, tetapi benar-benar menjadi media yang besar, media sebagai sarana informasi. kalau saya ya itu yang pertama memang harus meliterasi minimal membuat kita paham apa itu media sosial, apa dampak baik dan buruknya, sehingga itu membuat kita secara otomatis melakukan kontrol terhadap apa yang ingin kita sampaikan di media sosial terkait data pribadi dan lain sebagainya.”

Disamping itu Irene Syebatia Bumi, M.I.Kom (wawancara pada tanggal 18 Juli 2022) juga memberikan pandangan terkait hal ini, beliau mengatakan:

“Kembali lagi, kita tidak bisa mengkontrol apa yang tersebar di media apalagi ketika hal tersebut sudah dipercaya oleh banyak masyarakat. Tentunya sudah banyak cara lembaga-lembaga yang aktif mengiklankan anti terhadap hoax, namun sebagai seorang individu hal paling sederhana adalah dimulai dari lingkup terkecil kita yaitu keluarga. Saling mengingatkan untuk lebih kritis terhadap berita. Jika hal tersebut terus menerus kita lakukan tentunya akan melekat pada diri seseorang.”

Seorang news presenter TV & customer relations officer yaitu Waode Meyshella Anggraini Riandalas (wawancara 20 Juli 2022) juga memberikan tanggapan terkait hal tersebut:

“Harus mulai dari diri sendiri. Selalu menyebarkan informasi yang sudah valid kebenarannya. Budaya riset inilah yang akan menjadikan kita terbiasa untuk selalu memeriksa kebenaran dari informasi yang kita dapatkan. Kedua, lapor kepada pihak yang berwenang.”

Dalam hal ini ditemukannya juga bahwa informan telah mengaplikasikan new media berupa media sosial dalam mengekspresikan diri mereka lewat kegiatan produktif yang dapat mereka lakukan. Dimana hal ini merupakan salah satu karakteristik dari sebuah new media yaitu suatu hal baru dari identitas diri ataupun komunitas dalam hal berinteraksi dalam tempat, ruang, waktu. Dalam proses komunikasi terdapat lima unsur komunikasi salah satunya adalah efek komunikasi itu sendiri, dimana dalam hal ini pesan yang diterima oleh informan lewat webinar Literasi Digital memberikan pengetahuan baru bagi mereka serta mereka juga dapat mempraktekkan apa yang telah mereka peroleh dari webinar tersebut dalam menggunakan media digital secara efektif. Sehingga masing-masing informan telah mengetahui strategi apa yang dapat dilakukan dalam menghadapi penyebaran hoaks saat ini dan mereka juga semakin mengenal literasi digital itu sendiri

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 53-61)

Dokumen terkait