bersifat interaktif.”
AI 18-05-2022 “Informasi video
beserta teks.”
“Karena saya jauh lebih mudah dan enjoy untuk menangkap informasi yang disajikan secara demikian.”
Ang 18-05-2022 “Saya lebih mudah
memahami jika informasi dalam bentuk video dan teks.”
“Karena menurut saya menarik dan tidak membosankan.”
AP 18-05-2022 “Menurut saya lebih
mudah dipahami dalam bentuk video beserta teks.”
“Karena selain bisa membaca teks tersebut dapat melihat visual yang ditampilkan, karena dapat lebih menarik perhatian.”
Dalam hal memahami bentuk informasi yang disajikan di media sosial peneliti menemukan bahwasanya para informan lebih mudah memahami bentuk informasi berupa video dan teks. Dimana hal ini merupakan bagian dari multimedia, adapun pengertian multimedia menurut Turban (2002) yaitu kombinasi dari paling sedikit dua media input dan output berupa audio, video, teks, gambar.31 Seperti yang kita ketahui bahwa media dalam bentuk video dan teks ini merupakan suatu kombinasi yang dapat merangsang indra pendengaran dan penglihatan, sehingga hal ini lebih menarik untuk dilihat para penerima informasi atau pengguna media sosial itu sendiri.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan berdasarkan data di atas 10 Mahasiswa Fiskom UKSW telah mampu memberikan pemahaman terkait literasi digital khususnya bagi diri mereka sendiri agar mampu menyikapi hoaks di media sosial. Hal ini selaras dengan pendapat Sabrina (2019) yang menyatakan bahwa literasi digital ini dapat meningkatkan self-control dalam menggunakan media sosial. Dimana self-control ini nantinya akan memproteksi diri individu dalam membatasi dirinya agar terhindar dari hoaks yang beredar di media sosial.32 Disamping itu peneliti juga menemukan bahwa 9 dari 10 Mahasiswa Fiskom lebih menyukai bentuk informasi yang disampaikan lewat video beserta teks, dan satu diantaranya lebih menyukai informasi yang disampaikan hanya dalam bentuk teks saja dikarenakan informan tersebut lebih dominan suka membaca teks.
d) Analisis
Ini merupakan kemampuan untuk menganalisis kekurangan serta kelebihan informasi yang telah dipahami sebelumnya. Analisis juga merupakan tolak ukur yang penting dalam sebuah kompetensi literasi digital dalam menggunakan media sosial yang cenderung membawa kita pada pemahaman yang simpang siur terhadap informasi yang telah kita terima. Maka dalam hal ini narasumber umumnya mampu melakukan analisis atas setiap informasi hoaks yang mereka peroleh di media sosial. Hal ini dapat kita lihat dari pernyataan masing-masing narasumber sebagai berikut:
Narasumber Tanggapan terkait informasi hoaks yang beredar di media
Coding Wawancara
31 Najla Amaly and Armiah Armiah, ‘Peran Kompetensi Literasi Digital Terhadap Konten Hoaks Dalam Media Sosial’, Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah, 20.2 (2021), 43 <https://doi.org/10.18592/alhadharah.v20i2.6019>.
32 Erni Novita Sari and others, ‘Peran Literasi Digital Dalam Menangkal Hoax Di Masa Pandemi (Literature Review)’, Madani Jurnal Politik Dan Sosial Kemasyarakatan, 13.03 (2021), 225–41 <http://www.e-jurnal.unisda.ac.id/index.php/MADANI/article/view/2799>.
sosial
Sandra 17-05-2022 “Biasanya kalau saya lihat berita hoaks beredar di sosmed itu saya biasanya gak mau terlalu pusing banget ya, kayak yauda saya lihat, oh ini berita hoaks,tapi kalau misalnya ada berita hoaks yang dikirim ke saya atau ada keluarga biasa ada mengirim link ke saya terus tanya, ini benar gak yah San?
Nah itu biasanya saya menanggapinya itu baru saya bantu jelasin gitu, oh ini bener kok, oh ini gak bener, kalau menurut saya, biasa saya gitu.”
1. Model Oposisional
Gabriela Sabatini 17-05-2022
“Tanggapannya, mau nyalahin yang sebarin juga gak punya hak juga. Saran aja sih buat kita-kita khususnya anak muda jangan gampang terprovokatif dengan berita-berita yang gak bener, dipikir dululah setiap mau bicara, nulis atau apapun itu.”
1. Model oposisional
Cristina Setianingrum 17-05-2022
“Tanggapan saya adalah geram sekaligus prihatin, mengapa di era digitalisasi seperti ini masih ada oknum yang menyebarkan berita hoaks bukannya memberikan edukasi terkait literasi digital. Kemampuan
1. Model oposisional
penerimaan setiap warganet tentunya berbeda, sudah seharusnya menjadi tanggung jawab kita sebagai orang yang mengunggah di internet bisa memberikan informasi yang layak.”
Ruth Kharis Linia Nehe 17-05-2022
“Cukup sedih dan kecewa.
Karena media sosial bisa digunakan sebagai media informasi kita tentang pengetahuan², pendidikan, dan lain sebagainnya, tapi para oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab malah menyalahgunakannya.”
1. Model oposisional
Adinda 18-05-2022 “Ngga kaget lagi sih kak jujur, karena mereka mungkin juga mengejar keuntungan dengan cara yang nggak baik. Tapi ya tetap saja banyak masyarakat yang belum ter literasi dengan baik jadi tentu saja hoaks membuat orang-orang seperti itu bisa mengalami berbagai macam kerugian. Bahkan untuk orang yang membacanya saja itu sudah buat mereka rugi dengan waktu yang mereka miliki.”
DK 18-05-2022 “Dengan banyaknya pengguna media sosial saat ini, tentunya
1. Model oposisional
sulit untuk mengatur atau mengendalikan hadirnya berita hoaks yang dapat tersebar dengan luas dan cepat di tengah masyarakat. Untuk itu menurut saya literasi digital sangat penting bagi masyarakat agar mereka dapat dengan bijak menggunakan sosial media dan dapat mencegah hadirnya berita hoaks.”
CP 18-05-2022 “Dampak globalisasi memang tidak bisa disalahkan karena berdampak juga kepada timbulnya hoaks, kita tidak bisa mengontrol arus global namun kita bisa mengontrol jempol kita sebelum mengirimkan berita hoaks kepada orang lain.”
1. Model oposisional
AI 18-05-2022 “Saya sangat menyayangkan oknum yang berbuat hal demikian, saya berharap pembelajaran terkait literasi digital terus dilakukan baik dari kalangan pelajar menengah hingga atas agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial mereka dan tidak terjebak dalam berita hoaks yang muncul.”
1. Model oposisional
Ang 18-05-2022 “Sebaiknya sebelum