BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum
Konten merupakan suatu informasi yang tersebar lewat media sosial. dalam membuat suatu konten tentunya harus memenuhi nilai-nilai yang telah dibuat sesuai standar jurnalistik.
Namun tidak jarang kita juga menemukan konten yang dibuat oleh individu atau kelompok untuk kepentingan tertentu. Dimana nantinya konten ini akan menjadi hoaks di kalangan masyarakat. Seperti yang kita ketahui masyarakat saat ini tidak terlepas dari yang namanya gawai, serta zaman teknologi juga terus berekembang. Jika teknologi ini tidak digunakan dengan baik dan tepat maka hal ini yang nantinya akan menimbulkan suatu hal yang dapat merugikan bagi masyarakat itu sendiri. Fenomena hoaks yang ada saat ini sering membuat masyarakat ikut terjerumus di dalamnya serta dengan tanpa sadar ataupun tidak sengaja masyarakat tersebut ikut menyebarkan hoaks tersebut. Sehingga penerapan literasi digital sangat dibutuhkan di masa sekarang ini guna meningkatkan self-control pada diri setiap masyarakat atas banyaknya informasi hoaks yang tersebar di media sosial.
Penelitian ini diperoleh dengan cara wawancara bersama sepuluh narasumber secara online lewat Whatsapp. Wawancara dilakukan pada tanggal 17-05-2022 dengan narasumber Sandra, Gabriella Sabatini, Cristina Setianingrum, Ruth Kharis, sedangkan tanggal 18-05-2022 wawancara dilakukan dengan Adinda, DK, CP, AI, Ang, dan AP. Kemudian hasil wawancara dianalisis oleh peneliti, dimana analisis yang dilakukan peneliti berfokus pada indikator kompetensi literasi digital oleh Japelidi. Maka pada bab ini peneliti akan memaparkan hasil penelitian serta menganalisis apa yang telah diperoleh berdasarkan data terkait Analisis Kompetensi Literasi Digital Untuk Menghadapi Hoaks Di Media Sosial Pada Mahasiswa Fiskom UKSW.
4.2 Kompetensi Literasi Digital Japelidi
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa literasi digital merupakan pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, serta menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengkomunikasikan informasi secara kognitif dan teknikal. Sedangkan kompetensi literasi digital merupakan kemampuan seseorang yang diperlukan di era digital, dalam hal ini tidak hanya kemampuan dalam mencari informasi di internet namun juga
kemampuan membuat pengetahuan baru. Maka dari itu penelitian ini mengambil data lewat pertanyaan wawancara dengan 10 orang narasumber menggunakan enam indikator kompetensi digital dari Japelidi. Adapun ke-6 indikator tersebut diantaranya adalah akses, seleksi, paham, analisis, verifikasi, evaluasi. Berikut adalah analisis dari setiap jawaban narasumber atas pertanyaan wawancara yang telah diberikan:
a) Akses
Kompetensi pertama yang dipakai oleh Japelidi yaitu akses, dimana hal ini merupakan kemampuan dalam mendapatkan informasi dengan cara menggunakan media berbasis digital.
Dalam penelitian ini semua narasumber mampu mengakses informasi yang mereka inginkan lewat media digital, serta umumnya mereka semua telah memiliki akun media sosial masing- masing. Media sosial sendiri merupakan platform digital yang dapat kita gunakan untuk saling berkomunikasi dengan orang lain, selain itu media sosial juga merupakan tempat mencari maupun membagikan informasi. Dimana dalam media sosial ke-10 narasumber ini tidak jarang dari mereka bukan hanya sebatas mencari informasi melainkan juga mau berbagai informasi kepada khalayak media, serta ada juga dari sebagian mereka menggunakan media digital sebagai tempat untuk bercerita tentang pribadi mereka sendiri. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan narasumber diantaranya sebagai berikut:
Narasumber Akun media sosial yang dimiliki
Tujuan memiliki akun tersebut
Coding Wawancara
Sandra 17- 05-2022
“Iya saya punya social media, sosial medianya instagram, twitter, tiktok, line, WA (biasa paling sering ini).”
“Biasanya lebih mencari informasi atau melihat update terbaru dan berinteraksi dengan teman. Untuk informasi biasanya berupa berita, konten informative maupun hiburan.”
1. Kebutuhan Informasi 2. Kebutuhan
Interaksi Sosial
Gabriela Sabatini 17- 05-2022
“Saya punya media sosial ada instagram, whatsapp, twitter itu saja.”
“Biasanya saya pakai untuk ikuti trend yg lagi ramai dan upload foto-
foto untuk
mengekspresikan diri saya kaya foto lagi jalan-jalan atau foto alam.”
1. Kebutuhan Informasi 2. Kebutuhan
Ekspresi diri
Cristina Setianingrum 17-05-2022
“Ya memiliki, Instagram &
Twitter.”
“Mencari informasi terkini, pembagian kegiatan pribadi ataupun organisasi, mencari referensi untuk menambah ide, menjalin komunikasi dengan teman daring.”
1. Kebutuhan Informasi 2. Kebutuhan
Interaksi Sosial 3. Kebutuhan Ruth Kharis
Linia Nehe 17- 05-2022
“Ya, tentu saja saya memiliki media sosial, media sosial saya yaitu whatsapp, instagram, tiktok, youtube.”
“Biasa nya saya memakai media sosial tersebut hanya hal-hal tertentu, seperti komunikasi dengan sosial saya, mencari-cari
pengetahuan yang belum saya ketahui sebelumnya, lalu terkadang saya juga suka upload kegiatan- kegiatan saya sehari-hari di media sosial saya.”
1. Kebutuhan Interaksi Sosial 2. Kebutuhan
Edukasi 3. Kebutuhan
Ekspresi diri
Adinda 18-05- 2022
“Ada sosial media, yang sering ku pake ada instagram sama twitter.”
“Biasanya cari tau info- info terkini, sama share cerita atau pengalaman gitu.”
1. Kebutuhan Informasi 2. Kebutuhan
ekspresi diri DK 18-05-
2022
“Ya, saya punya, Instagram dan Twitter.”
“Instagram untuk posting hal yang berhubungan dengan portofolio. Twitter sebagai media digital diary saya”
1. Kebutuhan Ekspresi diri
CP 18-05- 2022
“Ya (seperti instagram, twitter).”
“Hanya untuk
memposting sesuatu atau sekedar mencari hiburan.”
1. Kebutuhan Ekspresi diri 2. Kebutuhan
Informasi
AI 18-05-2022 “Saya memiliki media sosial seperti Instagram, Twitter, LinkedIn, dan Facebook.”
“Biasanya, yang saya lakukan di media sosial saya adalah mengunggah foto bersama teman, keluarga, membagikan informasi, dan terkadang juga menuangkan pemikiran saya disitu.”
1. Kebutuhan Ekspresi diri 2. Kebutuhan
Informasi
Ang 18-05- 2022
“Iya, saya memiliki media sosial yaitu Whatsapp, Instagram, Facebook,Tiktok.”
“Yang biasa saya lakukan di media sosial itu mencari informasi ,sebagai sarana untuk saya berkomunikasi dengan orang lain, sebagai hiburan (menghilangkan rasa bosan) dan kadang untuk sekedar memposting tentang diri saya di media sosial-media sosial tersebut.”
1. Kebutuhan Informasi 2. Kebutuhan
Interaksi Sosial 3. Kebutuhan
Hiburan 4. Kebutuhan
Ekspresi diri
AP 18-05- 2022
“Memiliki media sosial seperti Instagram.
“Biasanya digunakan untuk memperoleh informasi terbaru atau viral, selain itu digunakan untuk mengupload konten yang berhubungan dengan voice over.”
1. Kebutuhan Informasi 2. Kebutuhan
Ekspresi diri
Dari hasil wawancara di atas peneliti melihat bahwa tujuan dari penggunaan media sosial telah diterapkan masing-masing informan diantaranya untuk mencari informasi, ekspresi diri, melakukan interaksi sosial, serta mencari hiburan. Hal ini selaras dengan teori Uses and Gratification menurut Elihu Katz (1973) dimana dalam teori terdapat tiga asumsi yang pertama audiens diharapkan oleh banyak pilihan media. Dimana media-media ini berupaya untuk memenuhi kebutuhan audiens. Yang kedua media dikaitkan dengan teori ini untuk mencoba mengidentifikasi kebutuhan tiap individu. Yang ketiga tiap media yang ada berusaha saling memenuhi kebutuhan audiens. Disamping itu McQuail (1987) menganalisis empat faktor mengapa audiens menggunakan media sosial antara lain audiens menggunakan media untuk sarana hiburan, kedua untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan, ketiga untuk
memperkuat identitas pribadi mereka, keempat untuk menciptakan interaksi sosial.25 Sehingga mereka memiliki akun media sosial bukan semata-mata hanya karena ikut-ikutan namun karena ingin memenuhi kebutuhan psikologis dan sosial mereka masing-masing.
Seperti yang kita ketahui bahwa berita hoaks merupakan berita yang belum tentu kebenarannya sehingga dapat menimbulkan efek negatif di kalangan masyarakat. Dalam hal mengakses tidak jarang dari mereka juga sering menemukan adanya informasi atau berita hoaks yang tersebar di media sosial mereka. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan narasumber sebagai berikut:
Narasumber Pernah/Tidak
menemukan hoaks di media sosial
Bentuk informasi Hoaks yang ditemukan
Coding Wawancara
Sandra 17-05-2022 “Tentu pernah.” “Biasa informasi hoaks mengenai sesuatu yang viral. Misalnya tentang covid, lalu pernah juga dengar sekilas tentang informasi vaksin.
Biasanya informasi atau berita hoaks yang ditemui itu tuh lebih ke gimana apa ya,
informasi-informasi tentang covid, misalnya beberapa kali dilihat juga di WA. Paling sering itu dikirim sama ada keluarga juga, gini loh cara penanganan kalau misalnya ada gejala covid, terus ini
1. Hoaks Berupa Konten Menyesatkan
25 Hans Karunia H, Nauvaliana Ashri, and Irwansyah Irwansyah, ‘Fenomena Penggunaan Media Sosial : Studi Pada Teori Uses and Gratification’, Jurnal Teknologi Dan Sistem Informasi Bisnis, 3.1 (2021), 92–104
<https://doi.org/10.47233/jteksis.v3i1.187>.
obat-obat yang kira- kira bisa disimpan atau dibeli untuk menghindari covid, terus kayak eee.. ada juga sempat informasi mengenai vaksin, ada vaksin di sini padahal enggak. Dan banyak juga informasi yang kayak kabar burung tapi gak jelas ini informasinya dari mana, kayak gitu.”
Gabriela Sabatini 17- 05-2022
“Pernah, pas itu nemu di twitter.”
“Ada video pas zaman demo soal RUU KUHP video mahasiswa dipukuli oleh polisi..
ternyata video itu bukan soal demo RUU KUHP tapi demo di tahun-tahun yang lalu.”
1. Hoaks Berupa Konten Keliru
Cristina Setianingrum 17-05-2022
“Pernah.” “Seperti berita kematian seorang tokoh politik, obat penyembuh COVID- 19, berita tilangan kendaraan di daerah, pendaftaran sekolah yang dipungut biaya besar, dan lain-lain.”
1. Hoaks Berupa Konten Manipulasi
Ruth Kharis Linia Nehe 17-05-2022
“Ya, tentu saja saya menemukan beberapa kali saya menemukan di media sosial.”
“Biasanya informasi yang saya temukan seperti narasi-narasi yang disampaikan atau dimuat di media sosial tidak sinkron dengan fakta di lapangan, data-data yang benar seperti apa, lalu penipuan dari suatu perusahaan ilegal kepada para pengguna media sosial.”
1. Hoaks Berupa Konten Keliru 2. Hoaks Berupa Konten Palsu
Adinda 18-05-2022 “Kayaknya sih sering, tapi lupa apa-apa aja.”
“Yang paling sering itu hoaks-hoaks yang di share tentang anak hilang atau orang- orang yang cari simpati dengan cara melukai diri padahal cuman cari untung aja gitu.”
1. Hoaks Berupa Konten Menyesatkan
DK 18-05-2022 “Ya, pernah.” “Yang saya ingat salah satunya kasus dari Audrey yang mengaku mengalami pelecehan seksual padahal sebenarnya tidak.”
1. Hoaks Berupa
Konten Keliru
CP 18-05-2022 “Pernah.” “Informasi-informasi seperti broadcast
1. Hoaks Berupa Pesan berantai
message yang
mengancam penerima untuk mengirim kembali broadcast message tersebut kepada orang lain.”
AI 18-05-2022 “Pernah, kak.” “Salah satunya adalah berita hoaks kabar artis meninggal, atau berita hoaks kalau mendapatkan hadiah dari bank tertentu.”
1. Hoaks Berupa Konten Palsu
Ang 18-05-2022 “Pernah.” “Berita atau informasi yang di posting tanpa penjelasan yang membuat masyarakat menyimpulkan sendiri.”
1. Hoaks Berupa Konten Keliru
AP 18-05-2022 “Pernah.” “Bermacam-macam,
contohnya saat ramai berita tentang covid banyak informasi simpang siur informasi tentang bawang putih yang dapat menyembuhkan virus corona.”
1. Hoaks Berupa Konten Keliru
Dari hasil wawancara tersebut peneliti menemukan bahwa bentuk hoaks yang tersebar di media sosial sangatlah beragam seperti mulai dari konten yang menyesatkan, keliru, manipulasi, palsu, hingga bentuk pesan berantai. Adapun yang dimaksud konten menyesatkan
yaitu konten yang dibentuk dengan memanfaatkan informasi asli seperti gambar yang bertujuan menjelekkan seseorang ataupun kelompok. Konten keliru merupakan konten yang disajikan dengan konteks yang salah, biasanya ini memuat peristiwa yang terjadi sebelumnya namun tidak sesuai dengan fakta yang ada. Konten manipulasi yaitu konten yang diedit dari informasi yang sebenarnya guna mengecoh publik. Konten palsu yaitu konten yang benar- benar tidak isinya tidak bisa dipertanggung-jawabkan biasanya berupa lowongan kerja. Konten pesan berantai yaitu konten yang dibuat dengan tujuan penerima pesan harus meneruskan pesan tersebut kepada orang lain yang pada dasarnya pengirim awal pesan tersebut memberikan ancaman kepada penerima pesan.26
Informasi hoaks ini cepat beredar akibat banyak orang yang membaca informasi hanya sebagian saja tanpa memperhatikan keseluruhan informasinya. Bahkan ada yang hanya membaca judulnya saja. Pesan hoaks di atas juga menyebar dengan cepat, tidak terlepas dari fitur jejaring sosial. Media sosial dibangun dari struktur sosial yang terbentuk pada jaringan atau internet. Namun, seperti yang dikatakan Carrells (2002), struktur sosial atau organisasi yang terbentuk di internet pada dasarnya didasarkan pada jaringan informasi yang beroperasi pada teknologi informasi dan mikroelektronika. Jaringan yang terbentuk antar pengguna merupakan jaringan yang dimediasi oleh alat-alat teknologi.27
Setelah mengetahui apa itu media sosial tentunya media sosial juga memiliki manfaat, sehingga manfaat media sosial tersebut dapat digunakan dengan berbagai cara khususnya untuk hal positif dan produktif bahkan di masa pandemi saat ini. Dalam aspek mengakses ini mereka mampu menggunakan media sosial mereka sebaik mungkin, hal ini dapat dilihat dari pernyataan berikut ini:
Narasumber Cara memanfaatkan media sosial di untuk hal positif dan hal produktif
Coding Wawancara
Sandra 17-05-2022 “Kalau untuk di masa pandemi untuk saat ini biasanya saya itu cenderung memanfaatkan
1. Mencari informasi 2. Membagikan
26 Sobih AW Adnan, “Mengenal Tujuh Jenis Hoaks”, https://m.medcom.id/amp/4KZ6rAqK-mengenal-7-jenis- hoaks, (diakses pada 13 Agustus 2022, pukul 18.31).
27 Christiany Juditha, “Interaksi Komunikasi Hoax Di Media Sosial Serta Antisipasinya”, Journal Pekommas, 3.1 (2018), 31–34.
media digital itu untuk eee dapat informasi, biasanya yang sering saya lakukan itu, kemarin sempat cari informasi mengenai covid, terus juga informasi mengenai kegiatan-kegiatan magang yang memang bisa menambah kegiatan selama masa pandemic. Untuk memanfaatkan hal positif ini biasanya selain cari informasi juga saya lebih fokus memberikan informasi yang memang bisa saya berikan gitu.”
informasi
Gabriela Sabatini 17-05-2022
“Cara manfaatkannya sih dengan follow akun- akun yg berfaedah, soalnya pas itu mikir selama pandemi bosen cuma kuliah daring. Jadi ngapain ya enaknya, kepikiran buat ikut relawan-magang eh sampai akhirnya sekarang bisa dapat kerjaan dari medsos.”
1. Follow akun berfaedah
Cristina
Setianingrum 17-05- 2022
“Mengikuti akun yang membagikan informasi-informasi positif/edukatif/hiburan, ikut membagikan konten baik di media sosial, memanfaatkan fitur media sosial dengan bijak dan turut aktif membagikan postingan baik di media sosial pribadi.”
1. Follow akun yang
positif/edukatif /hiburan 2. Membagikan
informasi
Ruth Kharis Linia Nehe 17-05-2022
“Zaman teknologi semakin canggih. Kita pun tidak boleh ketinggalan untuk memanfaatkan teknologi tersebut. Biasa nya saya suka mencari informasi-informasi yang positif di media sosial, melalui konten-konten tentang pengetahuan tentang kesehatan,pendidikan, berita-berita terkini lain nya. Lalu, biasa juga saya menggunakan informasi di media sosial untuk mengikut event-event lomba seputaran jurusan saya, Lalu juga informasi-informasi
1. Mencari informasi 2. Mengikuti
event perlombaan
mengenai magang, atau dunia pekerjaan di media sosial.”
Adinda 18-05-2022 “Ehmm biasaya kalau sudah ada akun yang sering share berita-berita nggak penting atau hoaks itu saya mute sih kak, atau kalau sudah parah ya di unfollow, dan kalau untuk twitter biasanya saya mute untuk beberapa kata kunci yang mengganggu. Intinya lebih suka share hal- hal yang positif, lucu, atau menyenangkan aja sih.”
1. Membagikan postingan positif, lucu, menyenangkan
DK 18-05-2022 “Saya berusaha untuk secukupnya menggunakan media sosial dan menghindari mengupload konten-konten yang dapat menimbulkan pro kontra dari followers saya.”
1. Menghindari upload konten yang
menimbulkan pro kontra
CP 18-05-2022 “Membantu menyebarkan campaign positif/membuat konten yang bisa mengedukasi orang lain.”
1. Menyebarkan campaign positif yang dapat
mengedukasi AI 18-05-2022 “Cara saya dalam memanfaatkan media digital
saat ini untuk hal positif dan produktif adalah dengan mengikuti akun-akun yang isi kontennya adalah hal-hal positif juga, yang bermanfaat. Salah satunya seperti, mengikuti akun yang mengunggah mengenai flying yoga, olahraga di rumah, masak di rumah, atau akun- akun yang memberikan tips and trick mengenai dunia perkuliahan, seperti itu.”
1. Mengikuti akun positif dan bermanfaat
Ang 18-05-2022 “Saya biasanya menggunakan media digital untuk mencari-cari informasi mengenai tempat yang ingin saya kunjungi dan juga beberapa aplikasi saya gunakan untuk kuliah
1. Mencari informasi
daring seperti (Zoom, gmeet, Classroom , Edmodo dll). Saya juga sering mencari informasi seperti berita yang sedang hangat dibicarakan maupun informasi dan berita lainnya.”
AP 18-05-2022 “Saat ini media digital saya gunakan untuk mengupload hasil voice over , selain itu untuk memperoleh informasi tentang kelas-kelas online yang berhubungan dengan voice over.”
1. Upload voice over
Berdasarkan jawaban informan di atas peneliti melihat bahwa para informan dalam hal prioritas pemanfaatan media sosial, mereka lebih mengoptimalkan fungsi mencari informasi dari media sosial tersebut selain itu mereka juga memanfaatkan fungsi edukasi. Mereka juga sering membagikan konten atau informasi yang dirasa bermanfaat bagi orang.
Maka dapat disimpulkan bahwa kompetensi akses dari 10 narasumber yang berasal dari mahasiswa FISKOM UKSW, 10 narasumber menyatakan dalam hal mengakses, media sosial digunakan sebagai sumber kebutuhan informasi, ekspresi diri, mencari hiburan, mencari edukasi. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah mampu menempatkan diri mereka secara efektif dalam mengakses media sosial. Jika dikaitkan dengan fungsi media menurut Jan H.Kietzmann, Kristopher Hermkens, Ian P dan Bruno (2011) maka mereka berada pada fungsi conversations dimana pengguna media sosial dapat berkomunikasi dengan pengguna lain.
Sharing yang merupakan pertukaran, pembagian, serta menerima konten dari media sosial itu sendiri. Serta reputation yang merupakan identifikasi diri sendiri maupun orang lain.28
b) Seleksi
Ini merupakan kemampuan memilih berbagai informasi melalui berbagai sumber yang diakses serta dilihat dapat bermanfaat bagi pengguna media digital. Tentunya proses seleksi ini sangat dibutuhkan ketika kita menerima sebuah informasi di media sosial. Dalam hal ini mayoritas narasumber juga telah mampu melaksanakan proses seleksi ini, karena hampir
28 Danang Sanggabuwana and Susi Andrini, ‘Dampak Media Sosial Terhadap Usaha Kecil Dan Menengah (UKM) Sentra Industri Keramik Plered, Kabupaten Purwakarta’, InterKomunika, 2.2 (2018), 172
<https://doi.org/10.33376/ik.v2i2.37>.
semua narasumber selalu menyeleksi setiap informasi yang mereka terima di media sosial. Hal tersebut dibuktikan lewat pernyataan berikut ini:
Narasumber Menyeleksi atau Tidak setiap informasi di media sosial
Cara menyeleksi informasi di media sosial
Coding Wawancara
Sandra 17-05-2022 “Untuk setiap informasi yang dari sosmed atau yang saya dapat dari sosmed ini, iya saya selektif.”
“Kalau ditanya caranya, caranya itu eee.. melalui diliat dulu dari akunnya.
Step pertama yang saya lihat itu dari akunnya apakah akun ini terpercaya atau terverifikasi seperti itu.”
1. memastikan akun adalah sumber terpercaya
Gabriela Sabatini 17-05-2022
“Tentu iya.” “Caranya dengan melihat-lihat dulu akun tersebut, misal kaya di instagram biasanya sebelum follow akun-akun informasi di lihat dulu unggahannya feeds atau storynya, kalo ada unggahan yg sifatnya memicu perdebatan dan konflik pasti gak akan saya follow.”
1. memperhati kan jenis konten
Cristina
Setianingrum 17- 05-2022
“Ya.” “Memperhatikan
konteks isi/konten yang dibagikan, membaca dengan tuntas,
membandingkan dengan
berita/informasi dari media lainnya.”
1. Memperhatikan jenis konten 2. Membandingkan
dengan informasi media lain
Ruth Kharis Linia Nehe 17-05-2022
“Ya tentu saja, saya akan
menyeleksi terlebih dahulu informasi tersebut.”
“Saya membacanya dengan teliti terlebih dahulu, saya juga memperhatikan portal tersebut apakah itu resmi atau tidak, sebab kominfo mengkonfirmasi ada ribuan lebih portal situs yang tidak resmi.”
1. memastikan akun adalah resmi
Adinda 18-05-2022 “Iyaa diseleksi.” “Biasanya hanya mengikuti akun-akun atau portal berita yang kredibel saja.”
1. Memastikan akun adalah sumber terpercaya
DK 18-05-2022 “Ya, saya selalu menyeleksi setiap informasi.”
“Biasanya saya memastikan terlebih dahulu benar atau tidaknya informasi dari banyaknya media yang memberitakan
1. Memastikan jenis kontennya
ataupun dari pihak terkait.”
CP 18-05-2022 “Jika saya menerima
informasi, selalu akan saya cross check
kebenarannya terlebih dahulu.”
“Membandingkan dengan berita lainnya apakah ada yg
janggal atau tidak.
tentu saja disini media sangat berperan aktif, saya cenderung lebih mudah menerima informasi yang berasal dari media yang sudah
terverifikasi seperti Detik.Com, CNN, dan masih banyak lagi.”
1. memperhatikan jenis konten
AI 18-05-2022 “Pasti saya seleksi kak.”
“Saya akan melihat apakah orang yang membawakan informasi tersebut kredibel atau tidak.
Saya juga memastikan portal media tersebut adalah lembaga yang benar, dalam artian tidak membawa provokasi dan perpecahan.”
1. memastikan orang penyebar informasi 2. memastikan akun
adalah sumber terpercaya
Ang 18-05-2022 “Iya , saya menyeleksi setiap informasi yang saya
“Dengan mencari berita di portal berita yang terpercaya dan
1. memastikan akun adalah sumber terpercaya
2. membandingkan isi konten
dapat di media sosial.”
akurat serta mencocokkan isi beritanya.”
AP 18-05-2022 “Iya menyeleksi.” “Biasanya dengan melihat portal beritanya terdahulu atau sumber berita terdahulu.”
1. Memastikan akun adalah sumber terpercaya
Berdasarkan hasil wawancara peneliti melihat bahwa rata-rata proses seleksi yang pertama dilakukan informan adalah melihat akun atau portal berita yang menyebarkan informasi di media sosial, dalam hal ini mereka melihat apakah akun atau portal tersebut kredibel atau tidak. Kemudian mereka juga memperhatikan isi konten yang disebarkan di media sosial. Hal ini selaras dengan temuan penelitian Anisa Rizki Sabrina (2018) mengenai
“Literasi Digital Sebagai Upaya Preventif Menanggulangi Hoax” yang menyatakan bahwa untuk menumbuhkan literasi digital pada level individu pertama perlunya mengmbangkan kesadaran akurat dalam memilih sumber informasi yang kredibel. Kemudian membandingkan informasi yang sama dengan platform lain di media sosial. 29
Dalam hal menyeleksi mereka juga melakukan hal yang berbeda terhadap setiap informasi yang muncul secara acak di media sosial mereka. Karena tidak semua informasi yang muncul tersebut merupakan hal menarik bagi diri mereka. Sehingga tidak jarang dari mereka memilih untuk mengabaikannya saja. Berikut pernyataan setiap narasumber atas hal tersebut:
Narasumber Hal yang dilakukan ketika muncul informasi acak di media sosial
Coding Wawancara
Sandra 17-05-2022 “Biasanya terhadap setiap informasi yang muncul secara acak di sosmed, itu balik lagi saya selektif lagi. Contoh
1. memperhatikan jenis konten
29 Anisa Rizki Sabrina, ‘Literasi Digital Sebagai Upaya Preventif Menanggulangi Hoax’, Communicare : Journal of Communication Studies, 5.2 (2019), 31 <https://doi.org/10.37535/101005220183>.
kalau misalnya di instagram saya udah pasti tentu follow akun-akun yang terpercaya jadi otomatis yang masuk di timeline saya, saya bisa pastikan kemungkinan besar itu adalah berita- berita yang bebas dari hoaks. Tapi kalau di explore dan lain-lainnya itu biasanya saya gak terlalu notice banget untuk berita-beritanya. Lalu seperti kalau misalnya di sosmed lain seperti tiktok, lalu twitter itukan gak bisa kita kontrol ya beritanya apa yang bisa masuk ke dalam timeline kita. Itu biasanya balik lagi kayak di explore biasanya saya gak terlalu notice banget dan kalau memang ini merupakan berita yang penting dan krusial gitu, biasanya saya recheck lagi di internet dan dari akun-akun yang saya percaya ini kira-kira mereka memberitakan gak, berita yang saya lihat secara acak itu, seperti itu.”
Gabriela Sabatini 17- 05-2022
“Kalau saya diskip aja, kalo masih muncul biasanya saya blokir akunnya. Biasanya kaya informasi yg monoton, kaya soal kpop lalu akun- akun quotes galau, sama akun-akun artis yg isinya hanya memamerkan tubuh, serta akun-akun yg sering menyebarkan hoax, kebetulan kurang tertarik juga.”
1. memperhatikan akun
Cristina Setianingrum 17-05-2022
“Menyeleksi dengan cara yang sudah saya sebutkan diatas.( memperhatikan konteks isi/konten yang dibagikan, membaca dengan tuntas,
membandingkan dengan
berita/informasi dari media lainnya).”
1. memperhatikan jenis konten
Ruth Kharis Linia Nehe 17-05-2022
“Biasa kalo ada hal yang menarik menurut saya, saya akan membukanya dan mencari tahu.
Namun saya juga harus membacanya dengan baik.”
1. memperhatikan jenis konten
Adinda 18-05-2022 “Membiarkan sih kak, baru kalau mulai muncul dengan konten-konten mengganggu baru diblokir atau dilaporkan gitu.”
1. memperhatikan jenis konten
DK 18-05-2022 “Saya hanya sekadar cukup tahu mengenai informasi tersebut.”
1. memperhatikan jenis konten
CP 18-05-2022 “Kembali lagi, menyaring sebelum sharing.”
1. memperhatikan jenis konten
AI 18-05-2022 “Saya akan mengabaikan informasi yang tidak penting (menurut saya), namun jika informasi tersebut penting dan benar, saya akan membacanya.
Jika dirasa perlu, saya akan bagikan ke Instagram story saya.”
1. memperhatikan jenis konten
Ang 18-05-2022 “Biasanya aku baca baik-baik dulu benar cari tahu informasinya benar gak. Tapi gak semuanya juga.”
1. memperhatikan jenis konten
AP 18-05-2022 “Menyaring/ menyeleksi setiap informasi yang ada di media sosial.”
1. memperhatikan jenis konten
Dilihat dari paparan wawancara di atas peneliti melihat bahwa para informan melakukan proses seleksi rata-rata dengan cara memperhatikan akun kemudian memperhatikan jenis konten. Hal ini dilakukan mulai dari mengikuti akun terpercaya, memblokir akun yang dirasa tidak penting, membuka informasi yang dirasa itu menarik, hingga mengabaikan informasi-informasi yang muncul secara acak di media sosial mereka. Maka dalam hal ini perlunya kecermatan dalam melihat akun atau portal yang menyebarkan informasi di media sosial karena akun yang terpercaya adalah akun yang telah diverifikasi oleh Dewan Pers serta telah menegakkan kode etik jurnalistik.
Disamping itu narasumber juga mampu membedakan mana informasi ataupun berita yang mengandung clickbait, dimana hal ini nantinya dapat menjebak orang-orang agar terjerumus ke dalam hoaks. Maka mahasiswa Fiskom dalam hal ini berada pada kategori mampu meminimalisir dirinya agar tidak terjerumus dalam informasi yang mengandung clickbait. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan narasumber sebagai berikut:
Narasumber Cara membedakan informasi yang mengandung clickbait
Coding wawancara
Sandra 17-05-2022 “Kalau menurut saya pribadi dari judul-judul berita yang clickbait tersebut sebenarnya ee..bahkan di setiap akun-akun atau portal media terpercaya pun seperti contoh ya, saya tau saya pernah liat di kompas itu pernah juga mereka membuat berita yang judulnya memang clickbait. Tapi poin pentingnya itu kalau saya pribadi saya harus bisa membedakan dari
1. Melihat judul menggunakan 5W+1H
judulnya itu apakah ini hanya sekedar clickbait atau memang judul ini sudah clickbait dan juga memprovokasi. Kalau misalnya lihat udah memprovokasi biasanya saya udah males baca, gak akan saya baca, apalagi kalau misal ditambah saya lihat akunnya ini kayak akun-akun yang udah gak tau nih akun dari mana dan gak terkenal dan gak terverifikasi.
Biasa saya udah gak bakal baca tapi kalau dari akun yang memang hanya sekedar clickbait doing judulnya, tapi isinya cukup bisa dipercaya misalnya dari eee unsur- unsur beritanya, contoh 5W+1H ditambah dengan gambar atau video-video yang mendukung biasanya itu saya masih bisa percaya untuk berita seperti itu.”
Gabriela Sabatini 17-05- 2022
“Baik, kalau bedainnya pertama dari judul yang agak sensitif sih.
Misalnya kayak judul "Takjub!
Baru-Baru ini Ufo blablabla", biasanya saya langsung skip , kalau kepo pun pasti dibaca dulu isinya sedikit.”
1. Melihat judul
Cristina Setianingrum 17-05- 2022
“Pertama, memastikan siapa yang mengunggah konten. Kedua, melihat judul yang diberikan, jika mengandung kata-kata
1. Memastikan sumber 2. Melihat judul 3. Memperhatikan
jenis konten
berlebihan (contoh : VIRAL, Mahasiswa blabla), biasanya jika judul sudah seperti itu tidak akan saya lihat. Ketiga, jika tema/konten yang disampaikan adalah isu terbaru, harus diingat bahwa informasi yang disampaikan dengan cepat tidak semua disampaikan dengan tepat.”
Ruth Kharis Linia Nehe 17- 05-2022
“Biasa nya saya melihat dulu apakah judul tersebut berpotensi atau menimbulkan hal-hal yg tidak hoax atau tidak. Karena kalo saya melihat judul itu ke arah yang tidak jelas, saya tidak akan baca berita tersebut.”
1. Melihat judul
Adinda 18-05-2022 “Pertama, baca sampai selesai dan kalau dirasa berita tersebut masih belum ada isinya, membandingkan dengan portal berita lain.”
1. Memperhatikan jenis konten 2. Membanding
dengan portal lain
DK 18-05-2022 “Menurut saya judul berita clickbait biasanya menggunakan kalimat hiperbola atau terkesan dilebih-lebihkan. Antara judul dan isinya itu kebanyakan tidak relevan. Hal tersebut biasanya untuk menarik minat khalayak, contohnya menggunakan bahasa
1. Melihat judul
provokatif ataupun kalimat hiperbola.”
CP 18-05-2022 “Cenderung orang hanya
membaca judul tanpa melihat isi berita secara keseluruhan, maka dari itu pentingnya literasi digital untuk mengetahui sumber kebenaran yang sesungguhnya.”
1. Memastikan sumber informasi
AI 18-05-2022 “Pertama, saya akan melihat portal media tersebut, kedua saya akan membaca isi dari informasi yang disampaikan, ketiga saya tidak melihat satu referensi berita yang serupa sekali saja, agar tidak terjebak dalam framing media.”
1. Memastikan akun adalah sumber terpercaya 2. Memperhatikan
jenis konten 3. Membandingkan
dengan sumber lain
Ang 18-05-2022 “Untuk membedakan clickbait biasanya saya langsung fokus ke isi beritanya dulu.”
1. Memperhatikan jenis konten
AP 18-05-2022 “Caranya dengan membaca artikel tersebut sampai selesai, apabila berita tersebut dengan judul yang ada beda isinya , maka hal tersebut dapat disebut click bait, selain itu biasanya berita yang click bait judulnya/ headline terkesan provokatif.”
1. Memperhatikan jenis konten
Pada bagian ini peneliti melihat bahwa informan sudah melakukan tindakan yang benar terkait informasi yang mengandung clickbait, mulai dari memperhatikan jenis konten seperti tidak terprovokasi terhadap judul berita atau informasi, menggunakan 5W+1H untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, lalu mereka juga kritis terhadap konten yang muncul
di media sosial dengan membanding sumber atau portal berita satu dengan yang lain. Mereka juga memperhatikan dan memastikan sumber informasi yang mereka dapat.
Maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa 10 mahasiswa Fiskom UKSW mampu menyeleksi setiap informasi yang mereka butuhkan secara efektif agar terhindar dari hoaks yang dimulai dari melihat judul berita, membaca isi berita, hingga membandingkan dengan sumber lain. Dimana seleksi ini juga dapat menjadi tolak ukur untuk melihat kemampuan seseorang dalam upaya mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Hal ini selaras dengan cara mengidentifikasi hoaks menurut Bahri (2021) diantaranya dengan waspada terhadap judul provokatif, mengamati serta meneliti sumber berita, memeriksa fakta yang sebenarnya, hingga melihat keaslian foto yang dimuat.30
c) Paham
Hal ini merupakan kemampuan dalam memahami setiap informasi yang telah diseleksi sebelumnya. Dalam hal ini para narasumber sebelumnya telah mengikuti webinar terkait literasi digital. Dimana setelah mengikuti webinar ini hampir semua mereka mulai memahami apa yang dimaksud literasi digital yang dapat mereka simpulkan lewat pemahaman mereka sendiri. Hal tersebut dapat dilihat dari masing-masing tanggapan yang telah mereka berikan sebagai berikut:
Narasumber Pengertian Literasi Digital menurut pribadi mereka
Sandra 17-05-2022 “Terkait mengenai webinar literasi digital kemarin yang saya ikuti, saya jadi tahu bahwa sebenarnya literasi digital ini merupakan sesuatu hal yang sangat penting dimiliki terutama buat generasi seumuran saya, maupun generasi di atas atau di bawah saya. Itu sangat penting dimiliki dan harus terus di apa ya, disosialisasikan diajarin ke orang-orang banyak. Menurut saya manfaatnya agar kita lebih mampu menyeleksi informasi yang diterima, bisa mengecek kembali informasi, menghindari hoaks dan lain-lain.”
30 Najla Amaly and Armiah Armiah, ‘Peran Kompetensi Literasi Digital Terhadap Konten Hoaks Dalam Media Sosial’, Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah, 20.2 (2021), 43 <https://doi.org/10.18592/alhadharah.v20i2.6019>.
Gabriela Sabatini 17-05-2022
“Intinya sih dalam literasi digital ga cuma kita harus melek digital atau teknologi, tapi gimana caranya kita gak terbuai dengan digital itu sendiri dengan mencermati literasinya.
Kaya hati-hati sama berita-berita yg dari judulnya aja udah kelihatan itu hoax, harus sering-sering baca jurnal atau buku juga karena itu info yang bisa dipertanggung jawabkan.”
Cristina
Setianingrum 17-05- 2022
“Literasi digital setau saya adalah kemampuan para pengguna internet (warganet) untuk menerima dan menyaring informasi yang ada internet. Manfaat literasi digital adalah menjadikan saya sebagai pengguna internet menjadi lebih bijak dalam menyaring informasi dan mengerti kegunaan fitur dalam internet khususnya media sosial.”
Ruth Kharis Linia Nehe 17-05-2022
“Menurut pemahaman saya literasi digital itu, kemampuan untuk memahami sesuatu informasi dan memakai informasi dari berbagai macam sumber, dengan memanfaatkan digitalisasi. Manfaat nya buat saya itu, saya jadi lebih kritis terhadap informasi atau pun sesuatu, menambah penguasaan 'kosakata' individu, dari berbagai informasi yang dibaca, menambah fokus akan topik atau sesuatu hal yang berkaitan dengan informasi yang dimuat di media sosial.”
Adinda 18-05-2022 “Literasi digital intinya bagaimana kita menggunakan dan mencerna informasi dari media digital dengan rasa tanggungjawab tinggi baik dari sisi menerima informasi maupun memberi informasi. Manfaatnya, banyak sih, kita jadi lebih kritis dengan paparan media sosial, menjadi lebih hati- hati dalam berperilaku di media sosial, dan karena ada tanggungjawab tadi jadinya tidak mudah untuk merugikan orang lain.”
DK 18-05-2022 “Literasi digital menurut saya merupakan salah satu hal yang cukup penting untuk dipahami oleh seluruh masyarakat dunia, dimana di dalamnya memuat pengetahuan dan
wawasan dalam penggunaan media digital. Manfaat literasi digital menurut saya salah satunya adalah kita dapat dengan mudah dan cepat dalam memperoleh informasi dan menjadi tahu bagaimana cara memanfaatkan media sosial dengan bijak dan produktif.”
CP 18-05-2022 “Literasi digital menurut saya adalah kecakapan dalam berteknologi, hal ini juga berkaitan dengan kemampuan seseorang menggunakan media sosialnya dengan hal positif, kreatif dan inovatif. Menurut saya tentu saja manfaatnya agar tidak mudah terserang oleh berita hoaks, karena disini perannya literasi digital yang baik mampu membedakan mana berita yang benar mana berita yang mengarah kepada konteks negatif.”
AI 18-05-2022 “Yang saya ketahui tentang literasi digital adalah pembelajaran dan pengenalan dalam bagaimana seharusnya kita bertindak dalam menggunakan dan bermain media digital. Manfaat dari literasi digital adalah untuk memberikan pemahaman dan informasi bahwa kita harus bijak dalam menggunakan media digital.”
Ang 18-05-2022 “Yang saya ketahui tentang literasi digital adalah kemampuan kita untuk lebih memahami mengenai teknologi dan dunia digital. Manfaat literasi digital menurut saya kita dapat mendapatkan informasi terkini yang dibagikan dengan cepat , kita dapat mencari referensi untuk sumber belajar kapanpun dan dimanapun yaitu melalui internet dan dapat juga menambah keterampilan baru dengan lebih mudah efektif dan hemat biaya.”
AP 18-05-2022 “Yang saya peroleh yaitu untuk dapat lebih menggunakan media sosial dengan bijak, dan ketika menerima informasi jangan langsung mudah percaya atau untuk dapat dicek kebenarannya.”
Dari pendapat di atas peneliti melihat bahwa sejauh ini masing-masing informan sudah memahami apa yang dimaksud literasi digital serta mereka juga telah mengetahui apa manfaat dari literasi digital itu sendiri, dan mereka juga merasa bahwa sangat penting untuk menerapkan literasi digital ini khususnya generasi muda karena bukan hanya untuk melek digital namun agar tidak mudah terbuai terhadap arus media yang bisa saja membawa kita terjerumus ke hal- hal yang negatif.
Disamping itu pemahaman juga dapat menghantarkan seseorang pada kemampuan memaknai setiap pesan yang mereka terima baik lewat teks maupun video beserta teks. Dimana dalam hal ini narasumber pada umumnya memahami sebuah pesan ketika disampaikan lewat video beserta teks, namun ada juga dari mereka yang lebih menyukai maupun lebih mudah memahami ketika sebuah pesan itu disampaikan hanya lewat teks. Hal ini dapat dilihat dari tanggapan narasumber sebagai berikut:
Narasumber Lebih Menyukai
Informasi berupa Teks atau Video beserta Teks
Alasannya
Sandra 17-05-2022 “Video beserta text.” “Karena menurut saya itu lebih mudah diserap dan dipahami.”
Gabriela Sabatini 17-05-2022 “Kalau saya lebih suka teks.”
“ Karena lebih rinci, kalo video kan cuma nampilin gerak gerik aja, ada juga sih video text tp kurang lengkap, soalnya
masyarakat Indonesia khususnya agak males baca, tapi kalo saya suka yg teks.”
Cristina Setianingrum 17-05- 2022
“Video beserta teks.” “Karena visual sangat membantu penyampaikan pesan sebuah informasi.”
Ruth Kharis Linia Nehe 17-05- 2022
“Saya pribadi, lebih paham video beserta teks.”
“Karena dari video pasti ada gambar atau visualisasi mengenai informasi tersebut. Jadi, lebih memudahkan memahami nya.”
Adinda 18-05-2022 “Video beserta teks sih.”
“Soalnya adanya audio dan visual itu membantu kita lebih mudah mencerna pesan.”
DK 18-05-2022 “Menurut saya video
beserta teks dapat lebih
mudah untuk
dipahami.”
“Dengan adanya video, khalayak dapat menerima pesan dalam bentuk audio dan visual yang tentunya dapat mempermudah dalam menerjemahkan pesan yang disampaikan.”
CP 18-05-2022 “Video beserta teks.” “Karena audio visual cenderung lebih mudah dimengerti karena bersifat interaktif.”
AI 18-05-2022 “Informasi video
beserta teks.”
“Karena saya jauh lebih mudah dan enjoy untuk menangkap informasi yang disajikan secara demikian.”
Ang 18-05-2022 “Saya lebih mudah
memahami jika informasi dalam bentuk video dan teks.”
“Karena menurut saya menarik dan tidak membosankan.”
AP 18-05-2022 “Menurut saya lebih
mudah dipahami dalam bentuk video beserta teks.”
“Karena selain bisa membaca teks tersebut dapat melihat visual yang ditampilkan, karena dapat lebih menarik perhatian.”
Dalam hal memahami bentuk informasi yang disajikan di media sosial peneliti menemukan bahwasanya para informan lebih mudah memahami bentuk informasi berupa video dan teks. Dimana hal ini merupakan bagian dari multimedia, adapun pengertian multimedia menurut Turban (2002) yaitu kombinasi dari paling sedikit dua media input dan output berupa audio, video, teks, gambar.31 Seperti yang kita ketahui bahwa media dalam bentuk video dan teks ini merupakan suatu kombinasi yang dapat merangsang indra pendengaran dan penglihatan, sehingga hal ini lebih menarik untuk dilihat para penerima informasi atau pengguna media sosial itu sendiri.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan berdasarkan data di atas 10 Mahasiswa Fiskom UKSW telah mampu memberikan pemahaman terkait literasi digital khususnya bagi diri mereka sendiri agar mampu menyikapi hoaks di media sosial. Hal ini selaras dengan pendapat Sabrina (2019) yang menyatakan bahwa literasi digital ini dapat meningkatkan self-control dalam menggunakan media sosial. Dimana self-control ini nantinya akan memproteksi diri individu dalam membatasi dirinya agar terhindar dari hoaks yang beredar di media sosial.32 Disamping itu peneliti juga menemukan bahwa 9 dari 10 Mahasiswa Fiskom lebih menyukai bentuk informasi yang disampaikan lewat video beserta teks, dan satu diantaranya lebih menyukai informasi yang disampaikan hanya dalam bentuk teks saja dikarenakan informan tersebut lebih dominan suka membaca teks.
d) Analisis
Ini merupakan kemampuan untuk menganalisis kekurangan serta kelebihan informasi yang telah dipahami sebelumnya. Analisis juga merupakan tolak ukur yang penting dalam sebuah kompetensi literasi digital dalam menggunakan media sosial yang cenderung membawa kita pada pemahaman yang simpang siur terhadap informasi yang telah kita terima. Maka dalam hal ini narasumber umumnya mampu melakukan analisis atas setiap informasi hoaks yang mereka peroleh di media sosial. Hal ini dapat kita lihat dari pernyataan masing-masing narasumber sebagai berikut:
Narasumber Tanggapan terkait informasi hoaks yang beredar di media
Coding Wawancara
31 Najla Amaly and Armiah Armiah, ‘Peran Kompetensi Literasi Digital Terhadap Konten Hoaks Dalam Media Sosial’, Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah, 20.2 (2021), 43 <https://doi.org/10.18592/alhadharah.v20i2.6019>.
32 Erni Novita Sari and others, ‘Peran Literasi Digital Dalam Menangkal Hoax Di Masa Pandemi (Literature Review)’, Madani Jurnal Politik Dan Sosial Kemasyarakatan, 13.03 (2021), 225–41 <http://www.e- jurnal.unisda.ac.id/index.php/MADANI/article/view/2799>.
sosial
Sandra 17-05-2022 “Biasanya kalau saya lihat berita hoaks beredar di sosmed itu saya biasanya gak mau terlalu pusing banget ya, kayak yauda saya lihat, oh ini berita hoaks,tapi kalau misalnya ada berita hoaks yang dikirim ke saya atau ada keluarga biasa ada mengirim link ke saya terus tanya, ini benar gak yah San?
Nah itu biasanya saya menanggapinya itu baru saya bantu jelasin gitu, oh ini bener kok, oh ini gak bener, kalau menurut saya, biasa saya gitu.”
1. Model Oposisional
Gabriela Sabatini 17-05- 2022
“Tanggapannya, mau nyalahin yang sebarin juga gak punya hak juga. Saran aja sih buat kita-kita khususnya anak muda jangan gampang terprovokatif dengan berita-berita yang gak bener, dipikir dululah setiap mau bicara, nulis atau apapun itu.”
1. Model oposisional
Cristina Setianingrum 17- 05-2022
“Tanggapan saya adalah geram sekaligus prihatin, mengapa di era digitalisasi seperti ini masih ada oknum yang menyebarkan berita hoaks bukannya memberikan edukasi terkait literasi digital. Kemampuan
1. Model oposisional
penerimaan setiap warganet tentunya berbeda, sudah seharusnya menjadi tanggung jawab kita sebagai orang yang mengunggah di internet bisa memberikan informasi yang layak.”
Ruth Kharis Linia Nehe 17- 05-2022
“Cukup sedih dan kecewa.
Karena media sosial bisa digunakan sebagai media informasi kita tentang pengetahuan², pendidikan, dan lain sebagainnya, tapi para oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab malah menyalahgunakannya.”
1. Model oposisional
Adinda 18-05-2022 “Ngga kaget lagi sih kak jujur, karena mereka mungkin juga mengejar keuntungan dengan cara yang nggak baik. Tapi ya tetap saja banyak masyarakat yang belum ter literasi dengan baik jadi tentu saja hoaks membuat orang-orang seperti itu bisa mengalami berbagai macam kerugian. Bahkan untuk orang yang membacanya saja itu sudah buat mereka rugi dengan waktu yang mereka miliki.”
DK 18-05-2022 “Dengan banyaknya pengguna media sosial saat ini, tentunya
1. Model oposisional
sulit untuk mengatur atau mengendalikan hadirnya berita hoaks yang dapat tersebar dengan luas dan cepat di tengah masyarakat. Untuk itu menurut saya literasi digital sangat penting bagi masyarakat agar mereka dapat dengan bijak menggunakan sosial media dan dapat mencegah hadirnya berita hoaks.”
CP 18-05-2022 “Dampak globalisasi memang tidak bisa disalahkan karena berdampak juga kepada timbulnya hoaks, kita tidak bisa mengontrol arus global namun kita bisa mengontrol jempol kita sebelum mengirimkan berita hoaks kepada orang lain.”
1. Model oposisional
AI 18-05-2022 “Saya sangat menyayangkan oknum yang berbuat hal demikian, saya berharap pembelajaran terkait literasi digital terus dilakukan baik dari kalangan pelajar menengah hingga atas agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial mereka dan tidak terjebak dalam berita hoaks yang muncul.”
1. Model oposisional
Ang 18-05-2022 “Sebaiknya sebelum memberikan suatu informasi atau berita di media sosial kita harus baca dan cermati dengan baik beritanya dan sebaiknya jangan terpaku dengan satu situs berita saja minimal 3 situs sebagai rujukan.”
1. Model oposisional
AP 18-05-2022 “Tanggapannya yaitu, untuk dapat menggunakan media sosial lebih bijak dan dapat menyaring informasi sebaik- baiknya.”
1. Model oposisional
Dari hasil diatas peneliti melihat bahwa informan memiliki beragam tanggapan terkait informasi hoaks yang beredar di media sosial seperti ada yang geram, sedih, kecewa, bahkan sudah merasa biasa aja dengan hal tersebut. Peneliti juga menemukan bahwa menurut mereka hoaks ini digunakan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab untuk mendapatkan keuntungan tersendiri, hal ini merupakan bentuk dari tujuan hoaks tersebut disebarluaskan. Bahkan ahli hukum Kominfo sendiri yaitu Henri Subianto menyebut bahwa pelaku yang menyebarkan hoaks memiliki motif jahat yaitu memperoleh keuntungan dari informasi hoaks yang disebarkan di masyarakat melalui media sosial.
Disamping itu berkaitan dengan informasi hoaks yang mampu membentuk seseorang pada keyakinan yang salah maka narasumber juga memiliki tanggapan tersendiri berdasarkan analisa mereka masing-masing. Dimana analisa tersebut diantaranya sebagai berikut:
Narasumber Tanggapan terkait hoaks dapat membentuk keyakinan yang salah
Coding Wawancara
Sandra 17-05-2022 “Tanggapan saya biasanya jika memang itu orang terdekat saya, saya akan bantu untuk meluruskan gitu, jika memang
1. Model oposisional
saya tau kalau berita yang saya lihat itu oh yang benar itu seperti ini gitu, saya akan bantu meluruskan saya akan bantu jelaskan. Tapi kalau misalkan itu secara umum itu biasanya saya hanya mantau aja sih, liat komen- komen.”
Gabriela Sabatini 17-05- 2022
“Tanggapannya bener banget, apa yang kita tonton dan baca bisa membentuk karakter kita.
Maka dari itu peran teman pergaulan, orang tua sampai tenaga pengajar juga perlu sih buat menyadarkan kita agar gak masuk di area yang salah (percaya semua hal yang ada di dunia maya).”
1. Model oposisional
Cristina Setianingrum 17- 05-2022
“Tanggapan saya adalah literasi digital menjadi penting dalam kasus ini, bahwa internet itu sifatnya netral dan penggunanya-lah yang perlu dibekali edukasi terkait literasi digital di tengah arus informasi.”
1. Model oposisional
Ruth Kharis Linia Nehe 17-05-2022
“Cukup disayangkan ya. Kita sebagai pengguna media sosial harus nya bisa pandai dan memilah-milah informasi yang baik dan benar. Karena itu pentingnya dari sebuah literasi
1. Model oposisional
digital yang baik dan benar.
Supaya pikiran dan pemahaman kita tidak terpaku pada berita yang tidak benar (hoaks).”
Adinda 18-05-2022 “Lebih untuk ke beberapa kasus, aku memilih untuk tidak peduli sih kak.. karena kalaupun ikut buka suara pasti kurang cukup
meyakinkan untuk
memberhentikan hoaks yang sudah membentuk pemikiran seseorang tersebut.”
1. Model oposisional
DK 18-05-2022 “Menurut saya itu kembali kepada individu masing-masing.
Bagaimana mereka dapat menyaring informasi yang ada dan bagaimana cara mereka menyikapinya, karena tiap manusia memiliki pemikiran atau persepsi tersendiri dan mudahnya informasi yang tersebar tentu menyulitkan kita maupun pemerintah untuk mengontrol baik atau tidaknya informasi tersebut.”
1. Model oposisional
CP 18-05-2022 “Tanggapan saya ya kembali lagi kepada integritas diri sendiri, kalau orang tersebut tidak kuat iman untuk menahan godaan hoaks ya tentu saja akan terpengaruh, maka dari itu
1. Model oposisional
sebaiknya kita menyaring
informasi sebelum
menerimanya.”
AI 18-05-2022 “Saya akan memberikan
pemahaman saya mengenai literasi media kepada org terdekat saya, agar beliau melek literasi dan dapat membedakan mana informasi yang harus dipercaya dan tidak.”
1. Model oposisional
Ang 18-05-2022 “Sebaiknya lebih ditingkatkan literasi digital ditengah masyarakat.”
1. Model oposisional
AP 18-05-2022 “Tentunya perlu adanya sebuah kesadaran dari masing-masing individu untuk dapat menerima informasi yang baik.”
1. Model oposisional
Dalam hal ini peneliti melihat bahwa para informan masih memiliki rasa peduli terhadap orang-orang yang akan atau telah terjerumus ke dalam informasi hoaks ini. Mereka melakukan tindakan seperti membantu memastikan apakah berita itu benar atau tidak. Dalam hal ini juga peneliti juga menemukan bahwasanya ternyata hal-hal yang kita lihat di media sosial dapat membentuk karakter kita. Dalam hal fitur-fitur yang ada di media sosial juga dapat membentuk konsep diri seseorang berdasarkan stimulus yang mereka lihat dari media sosial itu sendiri. Disamping itu peneliti juga melihat bahwa orang sekitar kita juga berpengaruh dalam memberikan pemahaman serta menyadarkan kita agar tidak mudah terjerumus pada keyakinan yang salah.
Maka dapat disimpulkan dari 10 narasumber ditemukan bahwa 10 narasumber tersebut telah mampu melakukan kemampuan analisis. Hal ini selaras dengan model oposisional berdasarkan teori decoding menurut Stuart Hall. Dimana model oposisional ini terjadi ketika khalayak menerima pesan dari media kemudian mereka menyikapinya secara kritis. Dalam hal
ini mereka akan menolak pesan yang disampaikan media jika itu bertolak belakang dengan cara berpikir mereka sendiri terhadap apa yang disampaikan media khususnya informasi-informasi hoaks di media sosial.33
e) Verifikasi
Tahap ini merupakan kemampuan yang dilakukan dengan cara konfirmasi silang dengan informasi yang sejenis. Berdasarkan indikator pertanyaan terkait verifikasi dapat kita lihat bahwa mahasiswa Fiskom UKSW mampu memberikan gambaran baik terkait kompetensi dalam melakukan verifikasi. Hal tersebut dapat dilihat dari pernyataan narasumber sebagai berikut:
Narasumber Setelah menerima informasi,
melakukan
verifikasi atau tidak
Cara verifikasi
informasi yang diterima
Coding Wawancara
Sandra 17-05-2022 “Saya kurang yakin ini bisa disebut verifikasi atau bukan.”
“Biasanya kalau
misalnya saya
menemukan sebuah berita yang eee cukup menarik perhatian tapi kayaknya ceritanya kayak kurang lengkap itu biasanya saya cari- cari juga berita yang sejenis itu atau kejadian yang sama tapi dari akun-akun lainnya gitu biar bisa melengkapi.
Biasanya disitu ketahuan, biasanya kalau saya sendiri lihat itu ketahuan oh kok yang
1. Mencari sumber lain
33 Morissan, Teori Komunikasi Individu Hingga Massa, (Jakarta: Kencana, 2013 ), hlm. 458.
disampaikan berita ini sama berita ini kok bisa beda. Nah itu biasanya ee saya gak terlalu ini banget gitu.”
Gabriela Sabatini 17-05-2022
“Iyapsss.” “Biasanya saya tanya dulu ke orang lain misal ada kecelakaan di dekat Klaten Jawa Tengah, biasanya saya tanya temen yg di Klaten dulu bener gak beritanya begitu.”
1. Bertanya pada teman
Cristina
Setianingrum 17- 05-2022
“Iya.” “Memperhatikan
konteks isi/konten yang dibagikan, membaca dengan tuntas, membandingkan
dengan
berita/informasi dari media lainnya.”
1. Memperhatikan isi konten 2. Mencari sumber
lain
Ruth Kharis Linia Nehe 17-05-2022
“Iya pasti saya verifikasi dulu.”
“Biasa nya saya akan membaca narasi yang ditampilkan, sampai selesai. Tapi kembali lagi jika ada clickbait, maka saya tidak membaca nya. Karena menurut saya tidak penting sekali.”
1. Memperhatikan isi konten