HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
4) Reflesksi Tindakan 3 Siklus II
Peneliti melakukan wawancara dengan guru sesudah dilaksanakannya tindakan 3. Wawancara dilaksanakan secara non formal. Dalam hal ini peneliti hanya berbincang-bincang dan hasil wawancara ditulis dalam buku catatan. Guru dan peneliti berkolaborasi untuk
mengevaluasi pelaksanaan tindakan selama siklus II. Secara umum guru menilai bahwa pelaksanaan siklus II sudah berjalan cukup baik. Guru menilai adanya perubahan yang positif bagi guru maupun peserta didik., dari wawancara tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
1. Guru berpendapat bahwa pelaksanaan siklus kedua ini sudah berdampak positif bagi peserta didik.
“Hari ini saya lihat sudah semakin jelas terdapat peningkatan baik dari keaktifan maupun prestasi mbak. Saya rasa pertemuan berikutnya peserta didik sudah bisa menulis lebih baik lagi.”
2. Peserta didik menunjukkan adanya peningkatan dalam keterampilan menulis dan kekatifan belajar mereka terhadap pembelajaran bahasa Jerman.
“Kalau dilihat dari nilai tes sebelum pakai Bildgeschichte nilainya pas banget mendekati KKM, tidak terlalu bagus, tap setelah pakai media ini keterampilan menulis peserta didik ada peningkatan.” Pemberian tindakan dalam siklus II memberikan pengaruh positif terhadap peserta didik. Guru mengtakan bahwa bahwa proses belajar mengajar pada siklus kedua ini sudah berjalan dengan baik dan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan lebih santai. Dengan begitu, peserta didik lebih dapat secara mudah memahami materi pembelajaran yang diberikan. Pelaksanaan siklus ini juga sudah tidak terdapat hambatan lagi. Hambatan pada siklus pertama sudah dapat diatasi pada siklus kedua ini. Kekurangan-kekurangan dalam siklus pertama juga sudah dapat diperbaiki. Peserta didik telah mengetahui apa yang harus mereka lakukan dengan Bildgeschichte yang didapat dan mampu
mengembangkan poin-poin dalam media tersebut dengan baik. Guru memaparkan bahwa telah terjadi perubahan pada sikap peserta didik, yaitu keaktifan. Dengan diterapkannya Bildgeschichte peserta didik menjadi lebih aktif dan lebih giat dalam pembelajaran keterampilan menulis. Guru berharap dapat menggunakan Bildgeschichte dengan lebih aktif, sebab media tersebut dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar keterampilan menulis peserta didik. Dua siklus dirasa sudah cukup bagi guru, karena penerapan media tersebut dalam pembelajaran sudah tidak terdapat hambatan dan hasilnya juga sudah memuaskan.
Peneliti juga melakukan wawancara pada peserta didik setelah diberikannya tindakan pada siklus kedua. Secara keseluruhan peserta didik mengungkapkan pembelajaran bahasa Jerman menjadi lebih efektif, lebih menyenangkan, dan lebih membuat peserta didik menjadi aktif. Hasil dari tulisan bahasa Jerman peserta didik pun dalam kategori bagus.
Sebagai upaya untuk mengetahui pendapat dan tanggapan peserta didik terhadap pelaksanaan siklus II yang telah ditempuh, angket disebarkan kepada peserta didik. Angket ketiga sebagai angket yang digunakan setelah tindakan siklus II dibagikan kepada seluruh peserta didik kelas XI Bahasa SMA N 1 Prambanan Klaten pada hari selasa, 7 April 2015 pukul 11.45 WIB. Peserta didik kelas XI Bahasa dengan jumlah 18 hadir semua. Angket dibagikan dengan tujuan untuk mengetahui tanggapan dan pendapat peserta didik terhadap pelaksanaan siklus II, serta untuk mengetahui saran peserta didik pada mata pelajaran
bahasa Jerman berikutnya. Hasil uraian dari angket penelitian III yang telah diisi oleh peserta didik kelas XI Bahasa sebagai berikut.
1) Bildgeschichte membuat peserta didik tertarik dan termotivasi mengikuti pembelajaran bahasa Jerman. Seluruh peserta didik atau 100% peserta didik menyatakan
“Ya, saya lebih termotivasi dengan gambar seri ini karena saya lebih bisa mengerti”.
“Ya, karena membuat saya menjadi terampil dan lebih mudah memahami bahasa Jerman lewat gambar seri dan lebih menarik” 2) Dengan adanya media permainan bahasa Bildgeschichte kesulitan
menulis bahasa Jerman peserta didik dapat teratasi. Menurut jawaban angket peserta didik, media ini dikatakan cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran menulis bahasa Jerman karena materi menjadi lebih mudah dipahami, merangsang peserta didik untuk menulis, dan membantu peserta didik dalam menulis. Sebanyak 14 dari 18 peserta didik atau 78%, menyatakan bahwa media Bildgeschichte dapat membantu kesulitan peserta didik menulis bahasa Jerman.
“Ya tentu saja sangat membantu dan mempermudah pemahaman saya untuk menulis”.
“Ya, dapat membantu”.
3) Sebanyak 17 dari 18 peserta didik atau 94%, menyatakan bahwa dengan diterapkannya mediaBildgeschichtedapat membantu peserta didik menguasai materi bahasa Jerman.
“Iya, karena pembelajaran ini pendidik lebih mengajarkan tentang cara menulis bahasa Jerman yang baik jadi kita tertantang untuk terus belajar bahasa Jerman.”
“Ya, lumayan dalam pembelajaran ini lebih menguasai materi daripada tanpa menggunakan gambar seri.”
4) Sebanyak 17 dari 18 peserta didik atau 94% menyatakan bahwa media permainan Bildgeschichte meningkatkan keaktifan belajar peserta didik.
“Ya, dapat meningkatkan keaktifan”.
Kemudian satu lagi peserta didik berpendapat bahwa “tergantung mood” yang berarti bahwa peserta didik kurang tertarik dalam mengikuti pembelajaran bahasa Jerman.
5) Sebanyak 16 dari 18 peserta didik atau 89%, menyatakan bahwa media Bildgeschichte dapat meningkatkan prestasi belajar keterampilan menulis bahasa Jerman, dan 2 dari 18 peserta didik masih ragu-ragu menyatakannya.
“Ya, peningkatan sedikit demi sedikit terlihat.”
“Ya dengan media Bildgeschichte dapat meningkatkan prestasi saya.” 6) Seluruh peserta didik memberikan saran untuk perbaikan prestasi
belajar keterampilan menulis yang selanjutnya.
“Lebih memperbanyak jam pelajaran bahasa Jerman dan sering menggunakan Bildgeschichte.”
“Sarannya yaitu agar diberikan pembelajaran dengan gambar-gambar karena gampang dimengerti.”
“Lebih baik setiap berapa hari setiap guru khususnya guru bahasa Jerman mengajarkan pembelajaran bahasa Jerman dengan media ini agar tidak mudah bosan dan siswa lebih aktif saat mengikuti pelajaran bahasa Jerman.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa Bildgeschichte cocok digunakan dalam pembelajaran menulis bahasa Jerman dan telah efektif dalam penggunaannya. Media tersebut dapat meningkatkan keterampilan menulis bahasa Jerman, meningkatkan keaktifan peserta didik, serta menciptakan situasi pembelajaran yang lebih menyenangkan.
d) Hasil Tes Keterampilan Menulis Siklus II
Pada tes menulis pada siklus kedua, dilaksanakan melalui tes pada hari Sabtu, 11 April 2015. Pada tes ini semua peserta didik hadir. Waktu untuk mengerjakan tes yang diberikan adalah 45 menit yang dikerjakan secara individu. Secara kesuluruhan peserta didik siap mengikuti evaluasi yaitu mengerjakan tes menulis secara terpimpin dengan bantuan Bildgeschichte atau gambar seri. Dalam pelaksanaan peneliti bertindak sebagai observator. Hasil evaluasi nantinya akan dinilai guru dan penilai 2. Berdasarkan perolehan nilai tes menulis pada siklus pertama, diketahui bahwa 94% populasi kelas telah memenuhi kriteria ketuntasan minimal. Hanya terdapat 1 dari 18 peserta didik atau 6% peserta didik yang belum tuntas. Walaupun belum dapat memenuhi kriteria ketuntasan minimal, satu peserta didik tersebut telah mengalami kenaikan nilai dibandingkan sebelum dilaksanakannya tindakan. Nilai tertinggi pada siklus kedua ini mencapai 89.5, sedangkan nilai terendah adalah 74.5. Rata-rata kelas meningkat menjadi 82.3.
Tabel 25:Nilai Keterampilan Menulis Siklus II No Responden Siklus II Rerata Nilai Penilai 1 Penilai 2 1 80 83 81.5 2 80 79 79.5 3 81 82 81.5 4 74 75 74.5 5 80 83 81.5 6 78 79 78.5 7 88 91 89.5 8 88 90 89 9 78 80 79 10 87 89 88 11 75 77 76 12 85 85 85 13 84 83 83.5 14 83 83 83 15 85 86 85.5 16 82 80 81 17 84 85 84.5 18 79 81 80 Rerata Persentase Ketuntasan
Keterangan: Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75
Penilai 1: Guru Bahasa Jerman SMA N 1 Prambanan Klaten Penilai 2: Alumni PB. Jerman Sekar Rani Pangga Noftrina, S.Pd.
Dari hasil tes mengalami kenaikan yang signifikan dibandingkan sebelum diberikannya tindakan. Rata-rata kemampuan menulis bahasa Jerman peserta didik berada pada angka 82,3. Persentase ketuntasan juga naik hingga 94%. Hanya terdapat satu peserta didik yang masih belum tuntas pada siklus kedua ini. Bahkan, nilai tertinggi yang diperoleh peserta didik dalam tes siklus kedua ini mencapai 89,5. Sedangkan, nilai terendah
dalam tes siklus kedua ini adalah 74,5. Walaupun belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal yaitu 75, tetapi nilai tersebut sudah mendekati kriteria ketuntasan minimal.