• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

4. Regional Branding

Helmi (2007) mengemukakan brand is everthing, merek adalah kepercayaan. Melalui merek produk dapat keluar dari komoditisasi (ordinary)

menjadi unik (extraordinary). Bagi investor ketika akan melakukan investasi disuatu daerah, mereka akan melakukan survei tentang kondisi daerah tersebut. Bagi daerah-daerah yang biasa-biasa saja tentu tidak akan menjadi pilihaninvestor untuk menanamkan investasinya, untuk itu diperlukan suatu aktivitas pengelolaan

image di suatu daerah agar tidak terkena cap jelek bagi investor. Hal ini juga berlaku bagi suatu produk daerah. Merek bagi suatu daerah/kota di era otonomi daerah dapat meningkatkan daya saing suatu wilayah menjadi sangat penting, wilayah yang tidak memiliki daya saing tinggi akan tertinggal dari wilayah lain. Dalam konteks marketing, wilayah yang ingin maju dan memenangi persaingan harus berhasil menerapkan standar global.

Wilayah Tegal secara umum telah dikenal oleh masyarakat Indonesia terutama berkaitan dengan karakteristik budaya yang tercermin dari logat

berbicaranya, warung Tegal, teh poci, sate kambing muda dan kemampuan mengolah logam. Keterkenalan wilayah Tegal ini perlu ditingkatkan dan dimanfaatkan dalam rangka mengembangkan industri kecil tahu dengan menjadikannya sebagai identitas sekaligus pembeda dari produk lainnya. Peningkatan citra produk tahu Tegal yang berkualitas dan bebas bahan kimia berbahaya dan produk olahan Tahu Aci Tegal yang khas dan spesifik harus dilakukan secara intensif dan terus menerus melalui promosi dan pameran. Hal ini merupakan proses untuk mengkomunikasikan sesuatu yang berbeda kepada masyarakat luas sehingga tercipta image yang menarik terhadap produk tahu Tegal dan menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung maupun para investor yang ingin menanamkan modalnya.

Kegiatan yang dirumuskan sebagai implementasi strategi ini adalah fasilitasi penyelenggaraan dan peran serta pameran dan eksebisi produk lokal dan Food Festival. Kegiatan pameran produk lokal ini bertujuan untuk meningkatkan citra produk-produk lokal secara umum yang dihasilkan oleh Kabupaten Tegal termasuk industri kecil yang memproduksi tahu. Food Festival merupakan kegiatan serupa dengan kegiatan pameran yang lebih memfokuskan pada produk- produk makanan. Kegiatan ini bertujuan untuk lebih memperkenalkan dan meningkatkan citra makanan yang diproduksi di Kabupaten Tegal. Sasaran kegiatan ini adalah para konsumen baik dalam maupun luar daerah Kabupaten Tegal, para investor yang diharapkan menanamkan modal dalam rangka pengembangan industri di Kabupaten Tegal terutama industri kecil tahu. Selain pelaksanaan pameran di Kabupaten Tegal secara teratur, perlu diberikan fasilitas bagi industri tahu untuk eksebisi mengikuti pameran dan promosi di daerah lain. Peran serta industri kecil tahu dalam pameran dan promosi di daerah lain harus digiatkan dalam rangka lebih mengenalkan produk tahu dari Kabupaten Tegal. 5. Melakukan penetrasi terhadap rantai suplai dan pengendalian harga

kedelai

Permasalahan utama dalam usaha industri kecil tahu secara umum di Indonesia dan khususnya di Indonesia adalah bahan baku. Berbagai masalah timbul akibat ketergantungan terhadap kedelai impor yang harganya tergantung nilai mata uang Dolar Amerika. Kondisi ini diperparah dengan terbatasnya bahkan susah ditemukannya komoditas kedelai lokal. Nilai kedelai impor selain tergantung nilai dolar juga terkait sistem distribusinya yang panjang dari importir hingga ketangan industri kecil tahu. Berdasarkan informasi, rantai distribusi kedelai impor melewati 3 (tiga) distributor sebelum sampai ke toko pengecer kedelai di Kabupaten Tegal. Hal ini jelas menaikan nilai harga kedelai. Oleh karena itu ada harapan oleh para pengusaha agar dapat memotong rantai distribusi kedelai sehingga harga sedikit lebih rendah.

Implementasi strategi ini benar-benar membutuhkan usaha dengan komitmen yang besar dan sungguh-sungguh dari seluruh stakeholders. Strategi ini akan benar-benar berhadapan dengan para pelaku ekonomi lain yang tentu tidak ingin kehilangan keuntungan dari mengusahakan dan mengendalikan rantai suplai komoditas kedelai impor ini. beberapa kegiatan yang dilakukan untuk strategi ini adalah :

a. Temu koordinasi pengusaha tahu, pemerintah daerah, pemerintah pusat, importir dan distributor

Dalam rangka menyatukan komitmen bersama dan bersungguh-sungguh membantu pengembangan industri kecil tahu maka diperlukan koordinasi yang baik seluruh stakeholders-nya. Temu koordinasi ini menjadi jembatan menyatukan pandangan dan menggugah kerelaan pihak importir untuk sedikit mensuplai langsung kebutuhan kedelai industri kecil tahu di Kabupaten Tegal dan didukung oleh para distributornya. Dukungan pemerintah pusat dan daerah sebagai pelaksana regulasi sangat dibutuhkan demi kelancaran kerjasama ini. b. Kerjasama optimalisasi peran dan fungsi BULOG bagi suplai kedelai

Langkah lain dalam rangka penetrasi rantai supplai ini adalah mengoptimalkan peran dan fungsi BULOG. Lembaga pemerintah ini diharapkan dapat turut serta memotong rantai suplai dan distribusi dengan mengimpor, memasok dan menyalurkan kedelai kepada industri kecil tahu di Kabupaten Tegal. c. Fasilitasi subsidi harga bahan baku

Kegiatan ini merupakan rencana cadangan yang disiapkan dalam rangka menjaga kestabilan kemampuan industri kecil tahu bila sewaktu-waktu terjadi lonjakan harga kedelai. Sebagaimana diketahui nilai mata uang dolar sangat tidak stabil bagi rupiah. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi nilai mata uang dolar sebagai mata uang dunia. Oleh karena itu perlu disiapkan rencana menghadapi keadaaan yang tidak terkontrol sebagaimana terjadi pada tahun 2008, 2012 dan 2013.

d. Fasilitasi usaha tani kedelai

Sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap kedelai impor, maka usaha tani kedelai di Indonesia secara umum dan di Kabupaten Tegal khususnya perlu didukung. Permasalahan dari usaha tani kedelai berdasarkan informasi dari pihak yang berwenang adalah nilai ekonomis kedelai dengan harga kedelai yang tinggi yaitu berkisar Rp10 000. Hal ini disebabkan kedelai merupakan tanaman sub tropis yang membutuhkan banyak perlakuan untuk menghadapi ancaman berbagai hama penyakit. Teknis usaha tani yang subsisten dengan luas tanaman kecil juga menjadikan usaha tani kedelai tidak efisien, tidak seperti yang diusahakan di luar negeri. Hal tersebut menyebabkan kedelai lokal tidak dapat bersaing dengan kedelai impor dan menyebabkan petani enggan menanam kedelai. Kebijakan pertanian Indonesia yang lebih mengutamakan memacu produksi padi dengan segala bantuannya juga merupakan faktor petani lebih memilih menanam padi daripada kedelai.

Oleh karena itu, dalam rangka mendukung ketersediaan kedelai lokal guna mengurangi ketergantungan terhadap kedelai impor maka diperlukan komitmen bersama. Dalam rangka menarik minat petani untuk menanam kedelai maka petani perlu difasilitasi untuk menghasilkan kedelai yang mampu dijual dipasaran. Bantuan fasilitasi tersebut dapat diberikan lewat subsidi input produksi maupun membeli kedelai petani dengan harga sesuai nilai ekonominya oleh pemerintah untuk kemudian dijual kembali dengan harga subsidi.

Strategi W–O

1. Menumbuhkembangkan jiwa dan kapasitas kewirausahaan pengelola

Dokumen terkait