• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. METODE PENELITIAN

4.2. Pembahasan

Gambar 8. Hubungan antara cahaya (Lux) dengan bahan organik yang dihasilkan oleh perifiton (gC/m2) melalui pendekatan klorofil.

4.2. Pembahasan

Selama pengamatan, perifiton yang ditemukan berasal dari satu kelas, yaitu Bacillariophyceae yang terdiri dari empat genus, yaitu Thallasiotrhix, Melosira, Stauroneis, dan Navicula. Perifiton sudah ditemukan mulai dari hari ke-7 hingga hari ke-17. Perifiton mengalami kenaikan pertumbuhan sejak hari ke-7 hingga hari ke-12. Setelah itu pertumbuhan menurun hingga hari ke-17. Hal ini menunjukkan bahwa perifiton pada substrat buatan tersebut telah mengalami kestabilan. Menurut Uehlinnger (2000), kelimpahan perifiton yang berfluktasi secara tidak teratur pada skala hari dan minggu terlihat bersatu di titik keseimbangan dalam skala waktu yang lebih lama. Pertumbuhan organisme tersebut antara lain dipengaruhi oleh cahaya matahari, unsur hara, dan suhu.

Cahaya pada stasiun 1 berkisar antara 24.630-114.500 Lux dan 11.120-98.360 Lux pada stasiun 2. Cahaya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan perifiton (Weitzel, 1979). Hal ini dapat terlihat dari kelimpahan perifiton pada stasiun 1 di setiap pengamatan yang lebih besar daripada stasiun 2. Hal ini terjadi karena stasiun 1 terkena sinar matahari langsung sehingga cahaya yang masuk ke stasiun 1 lebih besar dan cocok daripada yang masuk ke stasiun 2.

Nilai unsur hara yang diperoleh meliputi kadar ortofosfat, nitrat, nitrit, dan amonia. Pada stasiun 1, kadar unsur hara tersebut secara berturut-turut adalah 0,001 mg/L, 2 mg/L, 0,001 mg/L, dan 0,02 mg/L. Pada stasiun 2, kadar nitrat dan nitrit yang diperoleh sama dengan stasiun1, sedangkan kadar ortofosfat dan amonia secara

23  

berturut-turut adalah 0,005 mg/L dan 0,01 mg/L. Kondisi unsur hara pada kedua stasiun didasarkan pada nilai N dan P yang tersedia pada kedua stasiun. Berdasarkan kadar ortofosfat, kedua stasiun termasuk perairan oligotrofik (Vollenweinder 1969 in Wetzel 1975). Nitrat yang terdapat pada kedua stasiun baik untuk pertumbuhan perifiton (Parson dan Takeshi 1987 in Nuraeni 1996), dan kadar amonia yang terdapat di kedua stasiun masih bisa ditoleransi oleh perifiton (Pescod 1973). Unsur hara pada perairan tersebut masih mencukupi bagi pertumbuhan perifiton.

Selama pengamatan, suhu perairan pada stasiun 1 berkisar antara 23,20-27,2 oC, sedangkan pada stasiun 2 berkisar antara 22,00-24,50 oC. Berdasarkan data tersebut, dapat terlihat bahwa stasiun 1 memiliki rentang suhu lebih luas dan lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun 2. Hal ini diduga karena stasiun 1 merupakan tempat yang terkena sinar matahari langsung sedangkan stasiun 2 tidak terkena sinar matahari langsung. Cahaya matahari yang masuk ke stasiun 1 lebih besar daripada stasiun 2 sehingga menjadikan suhu pada stasiun 1 lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun 2.

Kecepatan arus selama pengamatan berkisar antara 0,4-0,5 m/s. Hal ini menunjukkan bahwa arus pada daerah tersebut tergolong sedang sampai cepat (Welch 1980 in Muharram 2006). Hal ini diduga karena adanya perbedaan ketinggian di sekitar kedua stasiun yang cukup besar. Selain itu, pergantian unsur hara akan berlangsung lebih cepat pada perairan dengan arus sedang hingga cepat. Hal ini mengakibatkan unsur hara pada perairan tersebut lebih berflukuasi. Organisme yang mampu hidup pada perairan tersebut merupakan organisme yang melekat dan tahan terhadap arus. Substrat dasar perairan berupa batuan.

Berdasarkan nilai Indeks Keanekaragaman (H’), Indeks Keseragaman (E), dan Indeks Dominansi (C) (Tabel 5), dapat diketahui bahwa pada kedua stasiun memiliki nilai indeks keanekaragaman rendah yang menunjukkan bahwa penyebaran jumlah individu tiap genus tergolong rendah. Hal ini diduga karena kedua stasiun berada pada perairan dengan arus yang sedang sampai cepat, sehingga hanya organisme tertentu saja yang mampu hidup pada perairan tersebut. Secara umum, nilai indeks keseragaman pada kedua stasiun relatif tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran individu tiap jenis cenderung merata. Bila dilihat

24  

dari nilai indeks dominansi, kedua stasiun memiliki nilai indeks dominansi rendah yang menggambarkan bahwa tidak ada genus yang mendominansi dalam komunitas tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas tersebut berada dalam keadaan stabil.

Bahan organik pada kedua stasiun yang diukur baik dengan pendekatan oksigen maupun pedekatan klorofil mencapai nilai tertinggi pada hari ke-12. Hal ini diduga terjadi karena perifiton sebagai penghasil bahan organik di kedua stasiun memiliki kelimpahan tertinggi pada hari ke-12. Menurut Kevern et.al (1966), tingkat pertumbuhan dalam waktu singkat pada perifiton dapat dijadikan sebagai perkiraan dari produktivitas perifiton. Selain itu, menurut Larned and Santos (2000), klorofil pada daerah yang terang memiliki nilai yang lebih besar daripada daerah yang teduh. Hal ini mengakibatkan bahan organik yang dihasilkan pada daerah yang terang lebih besar daripada daerah yang teduh. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengukuran, stasiun 1 menghasilkan bahan organik yang lebih besar dibandingkan dengan stasiun 2 pada setiap waktu pengamatan. Hal ini dapat terjadi karena ketersediaan cahaya matahari pada stasiun 1 lebih besar daripada stasiun 2. Cahaya matahari diperlukan bagi produktivitas dan pertumbuhan perifiton. Dengan produktivitas dan kelimpahan perifiton yang lebih besar, maka stasiun 1 dapat menghasilkan bahan organik yang lebih besar pula.

Berdasarkan hasil analisis menggunakan ANOVA RAL pada kedua pendekatan, nilai P yang diperoleh lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap bahan organik yang dihasilkan antara perlakuan pada stasiun 1 (terkena sinar matahari lansung) dengan stasiun 2 (tidak terkena sinar matahari langsung).

Setelah dilakukan analisis dengan menggunakan ANOVA RAL, selanjutnya dilakukan analisis dengan menggunakan regresi. Regresi ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara cahaya dengan kelimpahan dan bahan organik yang dihasilkan oleh perifiton. Berdasarkan hasil regresi antara cahaya dengan kelimpahan perifiton, diperoleh nilai koefisien korelasi dan koefisien determinasi yang tinggi. Nilai koefisien korelasi yang tinggi menunjukkan adanya hubungan antara cahaya dengan perifiton dan nilai koefisien determinasi yang tinggi menunjukkan bahwa hubungan tersebut sangat erat. Hasil regresi antara cahaya

25  

dengan bahan organik yang dihasilkan oleh perifiton menggunakan pendekatan klorofil memiliki nilai koefisien korelasi dan determinasi yang tinggi. Hal ini juga menunjukkan bahwa cahaya memiliki hubungan yang erat terhadap bahan organik yang dihasilkan oleh perifiton melalui pendekatan klorofil. Pada regresi antara cahaya dengan bahan organik yang dihasilkan oleh perifiton melalui pendekatan oksigen, koefisien korelasi dan koefisien determinasi yang diperoleh tidak terlalu tinggi. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang tidak erat antara cahaya dengan bahan organik yang dihasilkan oleh perifiton melalui pendekatan oksigen.

Bahan organik yang dihasilkan oleh perifiton dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami oleh organisme lainnya, di antaranya adalah bentos. Beberapa kelompok bentos yang memanfaatkan perifiton adalah gastropoda dan larva insekta. Larva insekta tersebut berasal dari Ordo Ephemeroptera (famili Heptageniidae, Baetidae, Ephemerellidae, Caenidae, Leptophlebiidae), Tricoptera (famili Glossosomatidae, Helicopsychidae, Molannidae, Odontoceridae, Goreridae, Leptoceridae), Lepidoptera, Coleoptera (famili Elmidae, Psephenidae), Diptera (famili Chironomidae, Tabanidae, Simuliidae), dan Hemiptera (famili Corixidae) (Wetzel 2001).

Gambaran mengenai potensi pemanfaatan perifiton sebagai pakan alami akan dijelaskan dengan penjabaran sebagai berikut. Akan tetapi, panjabaran tersebut menggunakan data bentos pada hulu Sungai Cisadane disebabkan belum adanya data bentos pada hulu Sungai Ciampea dengan pertimbangan bahwa karakteristik hulu Sungai Cisadane hampir serupa dengan hulu Sungai Ciampea.

Pada bagian hulu Sungai Cisadane tersebut terdapat lima famili bentos, yaitu Elmidae, Simuliidae, Tabanidae, Baetidae, Heptageniidae, dan Pyralidae, dengan kepadatan total 449 individu/m2 (Andriana 2008). Kelima famili tersebut tergolong sebagai bentos yang memanfaatkan perifiton sebagai pakan alami (Otemin 2002).

Secara umum kelompok bentos yang ditemukan di Sungai Cisadane tersebut memiliki kisaran ukuran 1-37 mm dengan bobot rata-rata 0,0055 gram. Bila dalam satu hari dapat dihasilkan bahan organik sebesar 0,44-2,44 grC/m2, maka bahan organik dapat dimanfaatkan oleh 400-2218 individu/m2, dari kelima famili tersebut. Penghitungan tersebut dilakukan dengan asumsi bahwa bahan organik yang termanfaatkan adalah 50% (0,22-1,22 grC/m2) untuk menjaga keberlangsungan

26  

pertumbuhan perifiton, serta dengan tingkat pemanfaatan perifiton sebesar 10% dari bobot bentos (0,00055 gram). Jumlah bahan organik yang dihasilkan oleh perifiton masih mencukupi untuk dimanfaatkan oleh bentos pemakan perifiton di Sungai Cisadane. Uraian tersebut dapat dijadikan sebagai gambaran bagi potensi sediaan bahan organik oleh perifiton yang dapat dimanfaatkan oleh bentos di Sungai Ciampea.

Hal tersebut menunjukkan bahwa hulu sungai-sungai di wilayah bogor, seperti Sungai Ciampea masih berada dalam kondisi baik karena masih dapat menyediakan makanan bagi organisme yang tinggal di sungai tersebut. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian dan pengawasan dalam pemanfaatan sungai di sekitar hulu Sungai Ciampea oleh masyarakat dan pemerintah setempat agar kondisi perairan tetap terjaga dengan baik dan tidak tercemar.

Dokumen terkait