IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
6. Analisis Matriks IFE dan EFE
Analisis matriks IFE dan EFE dilakukan terhadap lingkungan internal dan eksternal program UKM, sehingga diperoleh faktor-faktor kunci yang termasuk dalam kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Skor yang diperoleh dari matriks ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan kekuatan
dan mengatasi kelemahan yang dimiliki, serta menunjukkan kemampuan dalam meraih peluang dan mengatasi ancaman eksternalnya.
a. Matriks IFE
Faktor yang menjadi kekuatan utama program UKM adalah prosedur pengurusan yang tidak berbelit dengan bobot 0,148 dan rating 4, sehingga diperoleh skor 0,591. Selain itu faktor kekuatan lain yang dapat dimanfaatkan adalah syarat pengajuan mudah dan proses realisasi yang cepat (0,564), SDM sigap dalam melayani nasabah (0,541) dan margin/bagi hasil rendah (0,513). Hasil perhitungan faktor strategi internal dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Matriks IFE
Bobot Rating Skor
FAKTOR INTERNAL (a) (b) (c=a x b)
KEKUATAN
1. Prosedur pengurusan tidak berbelit 0,148 4,000 0,591 2. Syarat pengajuan mudah 0,141 4,000 0,564 3. Proses realisasi pembiayaan cepat 0,141 4,000 0,564 4. Marjin/bagi hasil rendah 0,147 3,500 0,513 5. SDM sigap dalam melayani nasabah 0,144 3,750 0,541
Jumlah (A) 2,773
Persentase (%) 87,052
KELEMAHAN
1. Keterbatasan informasi 0,049 1,500 0,073 2.Masih lemahnya SDM dan kemampuan di bidang pembiayaan UKM 0,050 1,500 0,075 3. Produk UKM BSM belum dikenal luas di masyarakat 0,044 1,750 0,078 4. Keterbatasan jumlah petugas BSM 0,072 1,250 0,090 5. Iklan produk pembiayaan UKM kurang 0,065 1,500 0,097
Jumlah (B) 0,412
Persentase (%) 1,000 12,948
TOTAL (A+B) 3,185
Kelemahan utama program ini adalah iklan pembiayaan UKM kurang dengan bobot 0,065 dan rating 1,500 sehingga diperoleh skor 0,097. Selain itu, faktor keterbatasan jumlah SDM dan kemampuan di bidang pembiayaan UKM (0,090), produk UKM belum dikenal luas di masyarakat (0,078), masih
43 lemahnya SDM dan kemampuan di bidang pembiayaan (0,075), serta keterbatasan informasi (0,073).
Dari hasil análisis perhitungan faktor-faktor internal didapatkan total skor 3,185 di atas rataan 2,5. Hal ini menunjukkan posisi internal program UKM yang cukup kuat, dimana program memiliki kemampuan di atas rataan dalam memanfaatkan kekuatan dan mengantisipasi kelemahan internal (David, 2006).
Dengan nilai 87,50% untuk faktor kekuatan dan 12,95% untuk faktor kelemahan, maka faktor-faktor kelemahan bukan merupakan keterbatasan bagi suatu program yang memiliki ruang lingkup tertentu untuk berkembang (misal, keterbatasan informasi dapat diatasi dengan adanya iklan dan talkshow di radio lokal, masih lemahnya SDM di bidang pembiayaan UKM dapat diatasi dengan pelatihan-pelatihan, keterbatasan jumlah SDM diatasi dengan pegawai outsourching atau kontrak)
b. Matriks EFE
Pembiayaan UKM memiliki potensi pasar yang besar merupakan peluang utama dengan bobot 0,152 dan rating 4,000 sehingga diperoleh skor 0,610. Faktor peluang lain fatwa MUI tentang riba (0,531), meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berbank syariah (0,525), masih banyak masyarakat terjerat rentenir (0,507) produk UKM didukung pemerintah (0,3499) dan hasil perhitungan faktor strategi internal dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Matriks EFE
Bobot Rating Skor
FAKTOR EKSTERNAL (a) (b)
(c=a x b)
PELUANG
1. Pembiayaan UKM memiliki potensi besar 0,152 4,000 0,610 2. Produk UKM didukung pemerintah 0,154 3,250 0,499 3. Masih banyak masyarakat terjerat rentenir 0,156 3,250 0,507 4. Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk
berbank Syariah 0,150 3,500 0,525 5. Fatwa MUI tentang riba 0,133 4,000 0,531
Jumlah (A) 2,672
Persentase (%) 85,684
ANCAMAN
1. Bank pesaing makin gencar dalam penetrasi pasar segmen UKM
0,042 2,000 0,083 2. Penawaran penghasilan lebih menarik di Bank
pesaing bagi pegawai 0,046 2,000 0,092 3. Banyak bermunculan bank Syariah yang
menyalurkan pembiayaan UKM 0,046 1,500 0,069 4. Banyak lembaga non bank yang menyalurkan
pembiayaan UKM 0,079 1,750 0,138 5. Perubahan kondisi sosial, ekonomi dan politik
bersifat dinamis 0,043 1,500 0,064
Jumlah (B) 0,446
Persentase (%) 1,000 14,316
TOTAL (A+B) 3,118
Faktor yang menjadi ancaman utama adalah banyak lembaga non bank yang menyalurkan pembiayaan UKM dengan bobot 0,790 dan rating 1,750 sehingga diperoleh skor 0,138, penawaran penghasilan lebih menarik (0,092), Bank pesaing makin gencar dalam penetrasi pasar segmen UKM (0,083), banyak bermunculan bank syariah yang menyalurkan program UKM (0,069), perubahan kondisi sosial, ekonomi dan politik (0,064).
Dari hasil analisis perhitungan faktor strategi eksternal didapatkan total skor 3,118, di atas nilai rataan 2,5. Hal ini menunjukkan bahwa program UKM memiliki strategi efektif untuk memanfaatkan peluang dan meminimalkan ancaman/pengaruh negatif eksternal (David, 2006). Dengan nilai peluang 85,68% dan ancaman 14,32%, maka ancaman dari bank pesaing seperti BRI dan Bank Danamon, serta BUMN lain bukan merupakan ancaman yang berarti.
45
7. Analisis Matriks IE
Penentuan posisi strategi matriks IE didasarkan pada hasil total nilai matriks IFE yang diberi bobot pada sumbu X dan total nilai matriks EFE pada sumbu Y (David, 2006). Total nilai matris IFE 3,185 dan nilai matriks EFE 3,118. Dengan demikian posisi produk UKM terletak pada sel I, yaitu growth. Strategi yang sesuai untuk diterapkan pada sel ini adalah strategi intensif seperti penetrasi pasar, pengembangan pasar dan pengembangan produk. Dengan adanya produk UKM bagi nasabah pembiayaan, maka nasabah pembiayaan dapat mendapatkan bantuan modal dengan margin/bagi hasil rendah. Bagi BSM produk UKM merupakan salah satu cara untuk mengembangkan pembiayaan yang mempunyai tingkat risiko pembiayaan bermasalah kecil, sehingga meningkatkan keuntungan bank.
Hasil identifikasi dari kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman produk UKM, serta posisi persaingan yang berada pada sel I dan selanjutnya akan digunakan untuk merumuskan alternatif strategi dengan menggunakan matriks SWOT. Posisi produk UKM berdasarkan matriks IE dapat dilihat pada Gambar 7.
Total Skor IFE
Kuat Rataan Lemah 4,0 3,0 2,0 1,0
I II III
IV V VI
VII VIII IX
Gambar 7. Matriks IE
8. Analisis Matriks SWOT
Pengembangan strategi pada matriks ini dilakukan sesuai hasil matriks IE, dimana posisi produk UKM terletak pada sel I, yaitu growth. Pencocokan faktor strategi internal dan eksternal dalam keadaan saat ini, dengan pengembangan produk dan penetrasi pasar.
9. Strategi penyaluran UKM BSM
Berdasarkan hasil analisis matrik IFE dan EFE, dapat disusun matrik SWOT yang menghasilkan empat tipe strategi yang dapat dilakukan, yaitu strategi S-O, W-O, S-T dan W-T (David, 2006). Hasil analisis SWOT dapat dilihat pada Tabel 8.
T o t a l S k o r E F E Tinggi Menengah Rendah 3,0 2,0 1,0
47 Tabel 8. Hasil análisis SWOT
Faktor Internal Faktor Eksternal STRENGTHS (S) 1.Prosedur pengurusan tidak berbelit
2.Syarat pengajuan mudah 3.Proses realisasi
pembiayaan cepat 4.Marjin/bagi hasil rendah 5.SDM sigap dalam melayani nasabah WEAKNESSES (W) 1.Keterbatasan informasi 2.Masih lemahnya kemampuan SDM di bidang pembiayaan UKM 3.Produk UKM BSM belum dikenal masyarakat 4.Keterbatasan jumlah petugas BSM 5.Iklan produk pembiayaan kurang OPPORTUNITIES (O) 1. Pembiayaan UKM memiliki potensi besar 2. Produk UKM BSM
didukung pemerintah 3. Masih banyak masyarakat
terjerat rentenir
4.Produk pembiayaan BSM mempunyai margin rendah 5.Persyaratan UKM BSM
mudah
STRATEGI S-O 1. Memperluas pasar dan
jaringan pembiayaan (S1,S4 : O1,O5) 2. Komitmen terhadap pengembangan UKM (S2,S5 :O2,O3 3. Meningkatkan jumlah
dan mutu pembiayaan UKM (S3,S4 : O4,O5)
STRATEGI W-O 1. Lebih meningkatkan
pengenalan produk UKM (W1,W3, W5 : O1, O2, O3)
2. Melakukan pelatihan SDM perbankan (W2 :O1) 3.Memaksimalkan
sumber daya yang ada (W4: O4,O5) THREATS (T)
1.Bank pesaing makin gencar dalam pemasaran segmen UKM
2.Penawaran penghasilan lebih menarik
3.Banyak bermunculan bank Syariah
4.Banyak lembaga non bank yang menyalurkan UKM 5.Perubahan kondisi sosial,
ekonomi dan politik yang dinamis STRATEGI S – T 1. Mengemas produk pembiayaan sederhana (S1,S2,S3,S4,S5 : T1,T3,T4) 2. Meningkatkan mutu pelayanan (S5 :T5) 2. Menawarkan
penghasilan yang lebih menarik (S5 :T2) STRATEGI W – T 1.Meningkatkan mutu produk UKM (W1,W2 : T1, T3,T4) 2.Konsisten dalam menjaga posisi pembiayaan UKM secara internal (W2,W3,W4,W5 : T2,T5)
a. Strategi Kekuatan-Peluang (S-O)
i. Memperluas pasar dan jaringan pembiayaan
Sebagian besar nasabah pembiayaan ada di kota Bogor, maka perluasan pangsa pasar sangat memungkinkan untuk dilakukan, terutama di daerah-daerah perbatasan antara kota dan kabupaten, mengingat Kabupaten lebih luas dari pada kota Bogor. Dengan mempertahankan kemudahan persyaratan yang tidak berbelit, maka akan sangat memungkinkan pembiayaan UKM diterima, baik di wilayah kabupaten maupun kota Bogor.
ii. Komitmen terhadap pengembangan UKM
BSM berkewajiban untuk selalu mendorong dan
memajukan pengembangan UKM, karena masih banyak masyarakat yang masih memilih untuk meminjam pada perorangan dengan bunga sangat tinggi.
iii. Meningkatkan jumlah dan mutu pembiayaan UKM
Meningkatkan volume pembiayaan dilakukan dengan cara lebih gencar dalam melakukan penetrasi pasar, mencari nasabah pembiayaan baru yang potensial dan melakukan presentasi pada komunitas tertentu, seperti pedagang pasar, pengusaha industri makanan dan lainnya.
b. Strategi Kekuatan-Ancaman (S-T)
i. Mengemas produk pembiayaan yang sederhana
Bentuk analisa pembiayaan yang sederhana, tetapi tetap mengacu pada prinsip kehati-hatian (5C, yaitu Character, Capacity, Capital, Collateral, Condition of economic) akan lebih mempercepat proses pembiayaan. Dengan demikian nasabah pembiayaan akan merasa mendapat kemudahan didalam proses pembiaaan.
49 Pada saat ini pelayanan unggul suatu bank merupakan nilai lebih yang dapat dijual kepada customer, karena pada dasarnya produk yang dijual kepada customer adalah sama. Dengan adanya mutu pelayanan unggul, maka BSM dapat melawan ancaman dari bank pesaing yang juga semakin gencar dalam melayani nasabah di bidang pembiayaan syariah.
iii. Menawarkan penghasilan yang lebih menarik
Untuk mencegah agar SDM tidak keluar dari BSM maka penghasilan yang diberikan kepada pegawai harus lebih menarik dari pada Bank pesaing.
c. Strategi Kelemahan-Peluang (W-O)
i. Lebih meningkatkan pengenalan produk UKM
Meningkatkan pengenalan produk UKM kepada
masyarakat dilakukan dengan cara iklan, baik melalui radio dan koran lokal maupun melalui brosur dan leaflet, disamping melalui pameran dan pembukaan gerai di mal, serta media internet (iklan/promosi on line).
ii. Memaksimalkan sumber daya yang ada
Sumber daya yang ada berupa sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya lainnya seperti produk dan peralatan. SDM dapat ditingkatkan dengan cara memberi pelatihan-pelatihan,
baik berupa product knowledge maupun pelatihan praktis
mengenai UKM. Sumber daya seperti produk yang sudah ada dapat dimaksimalkan melalui penambahan-penambahan fitur yang lebih inovatif. Sumber daya peralatan seperti komputer juga dapat dimaksimalkan dengan cara menyesuaikan dengan teknologi yang sedang berkembang.
SDM merupakan kunci utama sukses tidaknya program UKM, sehingga pelatihan SDM mutlak diperlukan. Selain untuk refreshment pelatihan juga diperuntukkan untuk pengenalan pengembangan produk-produk UKM.
d. Strategi Kelemahan-Ancaman (W-T)
i. Meningkatkan mutu produk UKM
Peningkatan mutu produk UKM dilakukan dengan cara menyesuaikan produk dengan kondisi ekonomi yang sedang berjalan, sehingga kemauan dari para pelaku UKM dan terakomodir. Salah satu cara meningkatkan mutu produk adalah menyebarkan kuesioner kepada para nasabah pembiayaan, sehingga bank akan mengetahui produk seperti apa yang diinginkan oleh nasabah pembiayaan.
ii. Konsisten dalam menjaga posisi pembiayaan UKM secara internal Penanganan pembiayaan UKM harus dilakukan dengan teliti dan cermat, dikarenakan pembiayaan UKM mempunyai karakteristik massal dan banyak. Meskipun demikian jika dikelola dengan baik, maka akan menghasilkan keuntungan bank menjadi besar, karena pembiayaan UKM memiliki risiko kecil dan menyebar yang berbeda dengan pembiayaan korporasi.
6) Pemilihan alternatif strategi
Berdasarkan matriks IE, dapat dikatakan bahwa produk UKM BSM berada di kuadran I (daerah growth), sehingga rumusan pemilihan alternatif strateginya melakukan penetrasi pasar dan pengembangan produk.
i. Strategi penetrasi pasar
Strategi penetrasi pasar ini lebih ditujukan kepada pengelolaan produk UKM yang telah ada, yaitu mempertahankan prosedur pengurusan yang sudah cukup sederhana dan meningkatkan mutu sumber daya yang ada. Tindakan-tindakan yang dilakukan adalah :
51 i) Meminimalkan biaya administrasi pembiayaan
ii) Menambah tenaga marketing dengan cara outsourching maupun kontrak.
ii. Strategi pengembangan produk
Strategi pengembangan produk dapat dilakukan dengan peningkat kegiatan promosi produk secara kontinyu sehingga produk dapat lebih dikenal masyarakat. Strategi ini dapat dilakukan dengan cara :
i) Iklan melalui talkshow di radio lokal ii) Pemasangan iklan pada koran lokal
iii) Mengadakan gathering nasabah pembiayaan yang sudah ada dan calon nasabah pembiayaan yang akan diambil.
iv) Bundling dengan produk lain seperti tabungan, giro dan deposito.
7) Implikasi Hasil Penelitian
Kinerja PT. BSM Bogor adalah keberhasilan petugas secara menyeluruh dalam melaksanakan kegiatan perbankan sehari-hari, terutama dalam melayani nasabah. Kecakapan dan keterampilan petugas sangat diperlukan, sehingga tujuan dari pelayanan kepada nasabah dapat tercapai dengan baik. Kinerja pegawai di PT. BSM Bogor ditunjukkan oleh komitmen pihak manajemen dan para pegawai yang tulus, penguasaan dan pemahaman product knowledge perbankan.
Para pimpinan PT. BSM Bogor harus dapat mengoreksi bawahan, disiplin dalam memberikan reward dan punishment, mampu menjadi panutan bagi para pegawai di bawahnya, berupaya memotivasi pegawai dan berinteraksi dengan baik, melakukan bimbingan kepada pegawai, selalu mengembangkan kemampuan di bidang perbankan, mampu mengelola asset perbankan dengan baik, sadar akan tanggungjawabnya sebagai pimpinan dan mempunyai sumbangan pikiran untuk mengembangkan perusahaan.
Implikasi hasil penelitian pada masalah mutu produk pembiayaan dan pelayanan pembiayaan dalam hubungannya dengan kepuasan nasabah ialah bahwa kedua peubah tersebut berhubungan dengan kepuasan nasabah, walaupun secara uji statistik tidak nyata. Sebagai ilustrasi, rinciannya sebagai berikut :
1. Peningkatan mutu produk pembiayaan
Mutu produk pembiayaan perlu ditingkatkan dan berorientasi pada kebutuhan dan kondisi pasar. Perbaikan mutu produk harus memperhatikan kepentingan dan keinginan nasabah. Langkah perbaikannya adalah :
a. Lebih mengenal dan memahani kebutuhan nasabah mengenai produk
pembiayaan.
b. Melakukan benchmark ke bank pesaing. 2. Peningkatan pelayanan di bidang pembiayaan
Pelayanan di bidang pembiayaan perlu ditingkatkan, diantaranya dengan cara :
a. Meningkatkan kecepatan dan ketepatan pelayanan, sehingga memberikan
nilai tambah, karena nasabah akan merasa diperhatikan. b. Menanggapai feed-back dari nasabah dengan cepat.
c. Meningkatkan teknologi sehingga akan memudahkan nasabah dalam bertransaksi seperti e-banking dam m-banking. Nasabah akan dapat menghemat waktu, cost, dan membuat sesuatu menjadi sederhana dalam segala transaksi.
d. Meningkatkan Service Excellent di semua lini dari front liners sampai ke back office.
e. Meningkatkan kemudahan fasilitas di luar bank seperti ATM (automatic Teller Machines), bank koresponden di luar negeri (untuk memudahkan nasabah yang sering bepergian ke luar negeri), kuantitas dan keberadaan outlet kantor.
f. Meningkatkan mutu SDM, karena SDM merupakan modal utama dalam peningkatan pelayanan perbankan. Peningkatan mutu SDM dengan cara
53 pelatihan-pelatihan, kursus-kursus, seminar dan segala bentuk kegiatan yang berkaitan dengan perbankan.