• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rekomendasi Arahan Pengembangan Pemanfaatan Lahan Gugus Pulau Desa Talise

Dalam dokumen 6. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 75-79)

D. Terumbu Karang

6.8. Rekomendasi Arahan Pengembangan Pemanfaatan Lahan Gugus Pulau Desa Talise

Gugus Pulau Talise merupakan pulau yang sangat kecil sehingga dapat dikatakan bahwa keseluruhan areal wilayahnya merupakan wilayah pesisir (baik di darat maupun perairannya). Berbagai penelitian yang telah dilakukan di pulau ini belum terintegrasi dan masih ditujukan pada masing-masing kepentingan.

seperti untuk pertanian, perikanan dan pariwisata belum ada. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi atau arah pengembangan yang lebih terpadu berdasarkan masing-masing sektor. Pulau ini dalam pengembangannya hanya dapat dimanfaatkan untuk pariwisata, serta pengembangan industri pertanian dan perikanan skala kecil. Pengembangan aktivitas ini haruslah disesuaikan dengan kondisi pulau yaitu daya dukung sehingga sumberdaya yang ada wilayah pesisir pulau tidak mengalami penurunan kualitas.

Kondisi saat ini menunjukkan bahwa di gugus Pulau Desa Talise ada kegiatan industri perikanan yaitu budidaya kerang mutiara yang dilakukan oleh perusahaan swasta, ada aktifitas penangkapan ikan baik untuk dijual ataupun untuk konsumsi sendiri, dan kegiatan pertanian, sedangkan untuk kegiatan pariwisata belum terlihat berkembang. Hal ini terindikasi dari masih sedikitnya orang yang mengunjungi gugus Pulau Talise dan melakukan wisata baik bahari maupun pantai.

Selain kegiatan di bidang perikanan yaitu budidaya kerang mutiara dan perikanan tangkap, ada juga aktifitas lain yang dilakukan oleh penduduk Pulau Talise seperti dalam bidang pertanian yaitu kelapa, kacang mente, singkong dan pisang juga ada padi ladang. Kegiatan produktif lain yang juga menjadi pilihan penduduk bahwa ada yang menjadi pegawai negeri, pedagang dan buruh.

Kegiatan-kegiatan produktif ini menjadikan lahan pesisir gugus Pulau Desa Talise terbagi menjadi beberapa jenis pemanfaatan. Selain dimanfaatkan untuk kegiatan produktif, lahan yang ada juga dijadikan sebagai tempat pengembangan pemukiman. Pemanfaatan lahan yang tidak terarah serta karakteristik pulau dengan keterbatasannya, menjadikan gugus Pulau Desa Talise dalam arahan pengembangannya harus berbasis pada kriteria kesesuaian dan daya dukung yang dimilikinya.

Penelitian ini juga menghasilkan arahan pengembangan pemanfaatan lahan yang didasarkan pada analisis kesesuaian lahan, analisis daya dukung dan analisis prioritas (Gambar 42). Beberapa arahan pengembangan pemanfaatan adalah : 1. Pengembangan gugus Pulau Talise tidak hanya dilihat dari sisi keuntungan

secara ekonomi tetapi juga manfaat bioekologi dari ekosistem sumberdaya hayati yang ada. Kondisi fisik dari beberapa lokasi di Pulau Talise yang sudah

mengalami penurunan fungsi ekologi dari ekosistem yang ada seperti erosi pantai di Kinabuhutan, hutan bakau yang semakin habis, beberapa lokasi terumbu karang yang sudah rusak. Hal ini berpengaruh terhadap proses kelangsungan hidup penduduk gugus Pulau Desa Talise yaitu adanya banjir bila musim hujan, ketersediaan ikan di pesisir berkurang, erosi yang cukup serius sehingga garis pantai bergeser. Sesuai dengan analisis prioritas dengan menggunakan program SMART dan VISA menunjukkan bahwa kegiatan konservasi untuk wilayah pesisir gugus Pulau Talise merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Analisis kriteria kesesuaian menunjukkan bahwa luas area yang memiliki kriteria sangat sesuai (S1) untuk dikonservasi adalah seluas 334 ha. Sedangkan luas lahan yang memiliki kriteria sesuai (S2) seluas 190 ha.

2. Konservasi mangrove dilakukan dengan rehabilitasi/perbaikan lahan yang mengalami kerusakan ataupun lahan bekas penebangan mangrove.

3. Arahan pemanfaatan wilayah pesisir khususnya lahan darat berdasarkan analisis indeks lokasi, maka hanya ada dua jenis fungsi pada lahan darat yaitu ada areal sebagai hutan lindung sebesar 663,94 ha dan sebagai hutan produksi terbatas sebesar 178 ha. Adapun sisa lahan dengan luas 834 ha dapat difungsikan juga sebagai daerah konservasi ataupun dimanfaatkan secara terbatas oleh penduduk pulau. Pemanfaatan teknologi untuk industri rumah tangga yang tepat guna akan menambah nilai hasil produksi pertanian yang ada.

4. Luas lahan yang digunakan untuk pemukiman sekarang ini tidak lebih dari 100 ha, sedangkan hasil analisis berdasarkan kriteria kesesuaian terdapat lahan seluas 493 ha dengan kriteria sangat sesuai untuk dikembangkan menjadi lahan pemukiman. Ketersediaan sumber air tawar berdasarkan hasil analisis masih belum mengurangi kapasitas daya dukungnya yaitu masih dapat memenuhi sampai 1000 KK dari 641 KK yang ada sekarang. Analisis prioritas menunjukkan bahwa pengembangan pemanfatan lahan pemukiman menjadi prioritas selanjutnya.

5. Arahan pengembangan pemanfaatan selanjutnya berdasarkan analisa prioritas adalah budidaya kerang mutiara. Luas lahan budidaya kerang mutiara yang

sekarang sudah termanfaatkan sekitar 400an ha dan berdasarkan hasil analisis kriteria kesesuaian untuk lahan yang sangat sesuai memiliki luas 574,8221 ha. Pengembangan budidaya ini masih memungkinkan dan dapat memberikan dampak positif terhadap penduduk Pulau Talise, baik itu untuk peningkatan pendapatan asli maupun pemanfaatan tenaga kerja lokal. Kualitas perairan di sekitar lokasi budidaya juga masih sangat mendukung dan belum terindikasi adanya pencemaran. Hal ini dapat dilihat dari parameter kimia BOD yang dapat dijadikan indikator adanya pencemaran, kisaran nilainya masih dibawah 3 yang menurut Lee et al, (1978) klasifikasinya tidak tercemar.

6. Berdasarkan hasil analisis kriteria kesesuaian untuk lahan yang sangat sesuai memiliki luas 574,8221 ha Hal ini disebabkan pada lokasi-lokasi tersebut kondisi sumberdaya terumbu karangnya masih dalam kondisi baik. Ketersediaan sumber air tawar yang menjadi hal utama dalam wisata bahari di pulau kecil masih sangat menunjang. Untuk menjadikan Pulau Talise sebagai salah satu tujuan objek wisata bahari, maka diperlukan suatu upaya sosialisasi atau promosi yang dapat dilakukan oleh masyarakat Pulau Talise atau bahkan melibatkan pemerintahan Kabupaten Minahasa Utara sebagai salah satu stakeholder-nya.

7. Prioritas pengembangan pemanfatan lahan gugus Pulau Talise selanjutnya adalah wisata pantai. Berdasarkan daya dukung kawasan maka areal ini dapat menampung 650 orang Hasil analisis kriteria kesesuaian, luas lahan yang sangat sesuai (S1) untuk dikembangkan sebagai daerah wisata pantai adalah seluas 325 ha.

8. Pengembangan usaha budidaya rumput laut menjadi prioritas terakhir dalam pengembangan pemanfatan lahan gugus Pulau Talise. Hal ini disebabkan sampai saat ini tidak ada lagi masyarakat mengusahakan aktifitas ini sejak usaha mereka kena penyakit batang putih. Adapun hasil kriteria kesesuaian untuk pemanfaatan sebagai tempat budidaya rumput, untuk kriteria sangat sesuai memiliki luas lahan 228 ha.. Untuk memulai dari awal lagi usaha ini memerlukan suatu dorongan dari dinas perikanan atau mengadakan program contoh yang dapat menimbulkan rasa percaya diri dari masyarakat untuk memulai usaha budidaya rumput laut.

Gambar 42. Peta Zonasi Pemanfaatan Pulau Talise Berdasarkan Kesesuaian Lahan dan Analisis Multi criteria.

Dalam dokumen 6. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 75-79)

Dokumen terkait