• Tidak ada hasil yang ditemukan

Relasi Pelembagaan dan Perolehan Suara Pemilu

Perolehan suara partai di pemilu tidak bisa dilepaskan dari pelembagaan partai itu sendiri. Terkait relasi antara pelembagaan partai dan perolehan suara, Huntington (1968) mengatakan bahwa partai politik untuk bisa survive dalam periodesasi pemilu harus memiliki pelembagaan yang baik. Naik turunnya suara partai tidak lepas dari kualitas pelembagaan partai itu sendiri. Secara lebh spesifik, dimensi pelembagaan yang memiliki hubungan kuat dengan pemilu menurut Randal dan Svasand (2002) adalah dimensi value infusion sebaga pelembagaan internal dan reification sebagai pelembagaan eksternal. Oleh karena itu, hal ini akan dibagi menjadi dua faktor, yaitu: faktor internal dan ekternal. Faktor internal berkaitan erat dengan pelembagaan internal partai dalam aspek pelembagaan value infusion. Karena kegagalan dalam melakukan pelembagaan value infusion akan berakibat pada lahirnya konflik intra partai atau fakisonalisasi sehingga suara partai akan terpecah melalui kemunculan partai sempalan. Sedangkan faktor eksternal berkaitan erat dengan aspek pelembagaan reification.

35 Kegagalan pelembagaan reification akan berakibat pada lemahnya pembentukan party id sehingga tidak memiliki basis konsituen tetap.

1. Faktor Internal : Value Infusion dan Faksioalisasi

Sebagaimana yang dijelaskan diatas, bahwa kendala bagi pelembagaan value infusion adalah kemunculan fakisionalisasi atau konflik intra partai. Meskipun motif faksionalisasi tidak selalu berdasarkan kepentingan personal, namun sejumlah studi selalu mengasumsikan bahwa faksionalisasi intra partai sebagai bagian dari patologi politik. Sebuah ilustrasi yang menggambarkan internal groupings (pengelompakan internal) didalam partai politik sering kali dianggap sebagai hambatan dalam perkembangan institusionalisasi partai. Sebagaimana yang digambarkan oleh Huntington (1968) bahwa tumbuhnya faksi-faksi didalam partai politik merupakan antitesis kohesifitas partai politik dalam melembagakan diri. Beberapa ilmuan politik mengganggap faksi sering kali menghasilkan kecurangan, ketidakfektifan, dan sejumlah konsekuensi disfungsional yang lainnya. Studi Fukui dan Aronof (1978) dan Mitchel (1978) menyimpulkan bahwa faksionalisasi politik memperlemah dan memperburuk otoritas dan legitimasi partai.

Meskipun begitu, tidak sedikit dari ilmuan politik yang memaknai faksionalisasi sebagai dengan sense yang lebih netral dari pada asumsi negatif. Nicholas (1977) cenderung memaknai faksionalisasi didalam politik sebagai bagian dari model pengorganisasian relasi politik dibawah kondisi perubahan sosial yang cepat, dari pada mengganggap faksionalisasi sebagai breakdown

36 (kerusakan) dari institusi sosial. Selain, sejumlah ilmuan politik yang lain justru berargumen bahwa faksionalisasi membawa konsekuensi positif. Emmerson (1989) menkritik Huntington yang mengklaim bahwa koherensi (keterpaduan) adalah antonim dari disunity (perpecahan). Emmerson percaya bahwa perbedaan didalam stuktur institusional dibutuhkan bagi masyarakat yang beraneka ragam untuk mengartikulasikan dan memperjuangkan perbedaan kepentingan kelompok-kelompok yang ada.

Begitu juga dengan Beller dan Belloni (1978) yang mengklaim bahwa faksionalisasi memfasilitasi representasi dan artikulasi bermacam-macam kepentingan didalam partai. Beller dan Belloni bahkan menggangap bahwa kompetisi antar faksi-faksi didalam partai akan memfasilitasi mekanisme proses pembuatan keputusan didalam proses kebijakan, idiologi dan pemeilihan pemimpin. Berbagai kasus faksionalisasi seperti yang ada didalam partai LDP di Jepang dan Partai Christian Democrat di Italy, eksistensi faksi-faksi di internal partai tersebut justru meningkatkan adaptibilitas partai. Meskipun begitu, faksionalisasi yang tidak terlembaga dengan baik akan menyebabkan munculnya polarisasi faksi sehingga akan meyebabkan pembilahan partai. Dalam derajat ini, pembilahan partai tentu menyebabkan pembilahan konsituen dari sumber satu partai yang sama sehingga menimbulkan penurunan suara partai secara drastis (Kollner and Basedau, 2005).

2. Faktor Ekternal : Reification dan Prilaku Memilih

Tentang studi perolehan suara partai politik pada pemilu (pemilihan umum), teori sikap dan prilaku memilih (voting behavior) masih menjadi pisau

37 analisis yang paling dominan saat ini. Meskipun begitu, perkembangan pendekatan teori prilaku memilih yang sering kali terbagi menjadi tiga model prilaku memilih, yaitu (1) model sosiologis atu yang dikenal dengan madzhab Colombia, (2) model psikologis yang dikenal dengan madzhab Michigan, dan (3) model rasional yang dikenal sebagai pendekatan ekonomi atau rational choice, tentu tidak lepas dari perkembangan pelembagaan partai politik itu sendiri. Kemunculan tiga pendekatan prilaku memilih tersebut merupakan bagian dari perkembangan partai politik yang adi di Eropa dan Amerika. Oleh karena itu, ada beberapa alasan yang menyebabkan teori prilaku memilih berkaitan erat dengan aspek dan karaker pelembagaan reification sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya.

Pertama, model sosiologis adalah studi pertama tentang prilaku memilih yang berkembang di Eropa dan di Amerika pada tahun 1950-an. Model ini berasumsi bahwa prilaku memilih ditentukan oleh karakteristik sosiologis para pemilih, terutama kelas sosial, agama, dan kelompok etnik/kedaerahan/bahasa (Gaffar, 1992). Model ini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan partai politik, dimana mulai muncul partai massa yang dibentuk berdasarkan kelompok sosial, baik berdasarkan basis kelas sosial, agama, buruh, pengusaha, dan sebagainya. Kemunculan partai massa dengan mengusung jargon memperjuangkan kepentingan kelompok sosial tertentu telah mempengaruhi corak prilaku memilih sehingga muncul model sosiologis. Dalam hal ini, corak aspek pelembagaan reification partai massa berperan besar didalam menentukan prilaku memilih masyarakat berdasarkan asumsi sosiologis. Meskipun begitu, corak model

38 sosiologis ini terjadi ketika partai belum secara intens melakukan proses pelembagaan reification sehingga belum terbentuk partay id sebagaimana dalam model psikologis.

Kedua, karena model sosiologis ini tidak mampu menjelaskan prilaku memilih yang hanya secara simbolisasi terikat oleh kepentingan kelompok sosial, melainkan lebih jauh lagi, ada keterikatan psikologis antara pemilih dengan partai politik melalui partisipasi secara aktif dalam proses pemilu, maka muncullah model psikologis. Model psikologis ini sebetulnya proses perkembangan prilaku memilih dari model sosiologis yang hanya menekankan asumsi representatif atas partai politik yang dianggap mewakili kepentingan kelompok sosial tertentu, ke model prilaku memilih yang didasarkan atas proses sosiliasasi politik sehingga secara psikologis berhasil membentuk sentimen dan identitas partai politik (party id) (Liddle, 2011). Munculnya party id sehingga masyarakat mampu mengidentifikasi dirinya sebagai anggota partai A atau munculnya ketertarikan politik (political interest) terhadap partai A tidak lepas dari keberhasilan partai massa dalam membangun reification atau “imaginasi publik” terhadap partainya.

Ketiga, munculnya model rational choice (pilihan rasional) sebagai pendekatan prilaku memilih berdasarkan adanya fenomena perubahan party id sehingga tidak mampu terjelaskan melalui model psikologis. Hal ini tidak lepas dari perkembangan sosial politik dimana basis ekonomi telah berhasil menggantikan basis idiologis sehingga ikatan party id tidak lagi kuat. Masyarakat tidak lagi berpartisipasi dalam pemilu karena faktor sosiologis maupun psikologis, akan tetapi terikat dengan hukum ekonomi “untung rugi”. Dalam konteks ini,

39 partai politik mulai banyak kehilangan konsituennya akibat dari kecenderungan model prilaku rational choice sehingga memaksa untuk tidak lagi terikat secara fundamental dengan idiologi partai yang terlalu kaku, dan menggantinya dengan issu-issu populis yang berkaitan erat dengan basis ekonomi. Dari sinilah kemudian muncul model partai catch all dimana dalam aspek pelembagan reification tidak lagi terikat dengan idiologi atau kelompok sosial tertentu, melainkan cenderung menggunakan issu populis.

Dokumen terkait