KEPEMIMPINAN GAYA KOREA DI INDONESIA
A. Struktur Organisasi Office
3. Relation to broad environment (hubungan dengan alam/lingkungan) Pada dasarnya, seseorang memiliki cara pandang yang berbeda terkait
hubungannya dengan alam. Hal ini banyak dipengaruhi oleh budaya yang melatarbelakangi individu tersebut dalam berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitar. Terdapat tiga kategori individu dalam kaitannya dengan sikap mereka terhadap alam, yaitu mastery, subjugation, dan harmony. Mastery merupakan sikap manusia yang menguasai, mengendalikan dan mengubah lingkungan sesuai kebutuhan kita tanpa memperhatikan keselarasan lingkungan.
Sementara subjugation merupakan sikap yang ingin menaklukan lingkungan namun tidak mengubah elemen-elemen dasar dalam alam. Kemudian yang terakhir, harmony berarti hidup selaras dengan lingkungan alam maupun lingkungan sekitar.
96
Berdasarkan hasil olah data wawancara yang diperoleh peneliti, tampak bahwa manajer dari Korea memilih hidup selaras dan berdampingan dengan alam juga lingkungan sekitar. Hal ini ditunjukkan dengan tidak banyak yang masalah yang ditimbulkan dari kegiatan pabrik bagi alam maupun bagi lingkungan sekitar sehingga semua dapat berjalan selaras tanpa saling merugikan.
Pernyataan yang mendukung tentang pandangan manajer dari Korea yang berupaya hidup selaras dengan alam dapat disimpulka dari hasil wawancara dengan narasumber 1, 2 dan 3 (R1, R2 dan R3) yang diwakili dengan pernyataan dari R1 dan R2 :
“We need to live in harmony with the environment. In my opinion, our company manage everything quiet well related with the environment and also the surrounding. It shows that the surrounding do not complain about the factory activity.”
“Kita harus menjaga lingkungan. Lingkungan harus tetap baik supaya kita hidup nyaman di dalam lingkungan. Factory kami sudah memiliki manajemen yang ramah lingkungan.”
Pernyataan tersebut dibenarkan oleh bawahan mereka yang merupakan karyawan lokal. Mereka melihat bahwa manajer dari Korea memilih hidup selaras dengan alam dan lingkungan sekitar mereka. Hal ini didukung oleh pernyataan dari narasumber 4, 5, 6, 7, dan 8 (R4, R5, R6, R7, R8, R9 dan R10) yang merupakan karyawan lokal. Berikut diwakili oleh R7 dan R4:
“Hubungan pabrik dengan lingkungan sekitar baik. Banyak pegawai yang juga berasal dari daerah sekitar sini. Kegiatan pabrik tidak sampai mengganggu masyarakat. Jam kerjanya juga jam 7 sampai jam 4 sore (sekitar 8 jam).”
“Manajemen pengolahan limbah dan sistem pembuangan di factory ini sudah cukup baik dan tidak merugikan masyarakat sekitar.”
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manajer dari Korea memiliki kepemimpinan gaya Korea yang mencoba selaras hidup dengan alam dan lingkungan
97
sekitar. Hal ini sesuai dengan budaya Timur yang kebanyakan diterapkan oleh negara-negara Asia.
4. Activity (aktivitas)
Orientasi terhadap aktivitas manusia berkaitan dengan sikap manusia terhadap suatu aktivitas atau kegiatan. Terdapat tiga kategori manusia berdasarkan cara mereka melakukan aktivitas. Ada masyarakat yang berorientasi pada pelaksanaan dan melakukan sesuatu (doing), ada pula mpatasyarakat yang berpikir dan mempertimbangkan setiap keputusan yang akan dilakukan sebelum melakukan tindakan (thingking) dan yang terakhir tipe masyarakat yang yang melakukan segala sesuatu secara spontan dan pada waktu yang mereka tentukan sendiri (being).
Melihat hasil dari olah data wawancara yang dilakukan pada manajer dari Korea maupun karyawan lokal menunjukkan bahwa orang Korea cukup bijaksana dalam bertindak, dimana mereka mempertimbangkan setiap keputusan yang akan mereka ambil dengan cermat namun melakukan tindakan dengan cepat setelahnya.
Untuk membuktikan hal tersebut, dapat dilihat pada pernyataan narasumber 1, 2 dan 3 (R1, R2 dan R3) yang diwakili oleh R2 dan R3 menyatakan bahwa :
“Kita perlu mempertimbangkan banyak hal dalam bertindak atau melakukan sesuatu. Tetapi terus menjalankan yang seharusnya kita lakukan.”
“Pekerjaan harus diselesaikan karena merupakan bagian dari tanggung jawab masing-masing. Think before act but don’t wait too long.”
Hal tersebut dibenarkan oleh bawahan yang berinteraksi langsung dengan manajer dari Korea, yaitu narasumber 4, 5 dan 6 (R4, R5 dan R6) yang diwakili dengan pernyataan dari R4 sebagai berikut :
“Saya melihat atasan saya (manajer) berusaha melakukan segala sesuatunya dengan hati-hati (penuh pemikiran) tetapi mereka cepat dalam bertindak.”
98
Kesimpulan yang dapat ditarik dari karakter gaya kepemimpinan korea terkait dengan cara mereka melakukan tindakan yaitu thingking, dimana mereka mempertimbangkan setiap hal yang akan dilakukan tetapi memilih bertindak dengan cepat.
5. Time (waktu)
Pada dimensi time atau waktu ini akan dianalisis bagaimana manajer dari Korea menghargai sebuah waktu dan orientasi mereka terhadap masa lalu, saat ini atau pun masa depan.
Berikut adalah pernyataan manajer dari Korea tentang waktu, yang diwakili oleh narasumber 1 (R1) dan narasumber 3 (R3):
“Of course we believe our past and want to keep our tradition until now. But the young generations now get a lot influenced by western culture. Korea have 5000 years history. Also history of each family is important for us.”
“Past made what we are now. The present (now) made what we are in the future. I will keep my tradition from the past (of my country) to work in everywhere even it’s abroad.”
“Jam kerja di Korea lebih panjang daripada orang Indonesia. Kebiasaan kami bekerja dengan cepat dengan hasil yang baik.”
Melihat pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa orang Korea sangat menghargai sejarah dan tradisi dari negaranya. Jika memungkinkan akan terus dijaga dan dilestarikan, tetapi tidak berarti setiap hal harus dilakukan berdasarkan tradisi dan adat-istiadat setempat. Terlebih lagi bagi orang Korea yang hidup di luar negaranya, mereka berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar dan budaya di negara dimana mereka tinggal.
Hal ini didukung oleh pernyataan karyawan yang berinteraksi langsung dengan manajer dari Korea dan diwakili dengan pernyataan dari narasumber 5 (R5) dan narasumber 6 (R6) sebagai berikut:
“Perbedaan budaya, ras maupun gender dijembatani dengan peraturan kerja bersama yang ada sehingga tidak ada yang merasa dirugikan. Mereka berusahan menyesuaikan budaya kita.”
99
“Mereka (manajer) sangat menghargai waktu. Loyalitas orang Korea pada pekerjaan sangat tinggi. Pernah ada kejadian dimana seorang manajer sedang sakit, harus infus 2 jam istirahat di mess tetapi yang mengejutkan setelah itu dia tetap kembali bekerja di factory.”
“Mereka (manajer) juga pernah bercerita pada saya, di pabrik-pabrik di Korea jika sesorang wanita harus melahirkan bahkan tetap bekerja sampai tiba saatnya dia melahirkan kemudian dibawa ke rumah sakit, tetapi 3 jam setelah persalinan mereka siap kembali bekerja. Hal seperti ini terjadi di Korea.”
Menyimpulkan pernyataan dari manajer Korea dan bawahan mereka yang merupakan karyawan lokal, diketahui bahwa gaya kepemimpinan Korea memiliki dedikasi pada pekerjaan yang sangat tinggi, menghargai waktu dan berusaha menjaga tradisi mereka sekalipun harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana dia tinggal dan bekerja untuk hal-hal tertentu yang dianggap perlu.
6. Space (ruang)
Dimensi space atau keruangan ini membedakan pandangan orang terhadap sebuah ruang, khususnya tempat bekerja di PT. Semarang Garment dan bagaimana mereka menginginkan tempat tersebut agar tetap terjaga secara pribadi (private) atau bisa berbagi dengan orang lain (public).
Beberapa diantara mereka menggunakan ruang tersendiri sebagai ruang kerja namun ada beberapa manajer yang memiliki ruang kerja tanpa sekat dan menyatu dengan karyawan lain yang merupakan bawahan dalam depertemen yang sama. Hal tersebut ditunjukkan dengan pernyataan dari manajer Korea maupun karyawan lokal yang diwakili oleh Narasumber 2 dan 4 (R2 dan R4) berikut :
“Saya suka ruang yang privat. Tetapi ruangan saya di sini sudah cukup buat saya. Saya menyatu dengan pekerja yang lain.”- R2
“Terdapat ruang-ruang tertentu yang khusus bagi atasan dan tidak dapat dimasuki oleh karyawan tanpa ijin terlebih dahulu kepada manajer.”- R4
Pernyataan perwakilan dari pihak manajer dan karyawan lokal tersebut menunjukkan kriteria orang Korea dalam menentukan ruangannya.
100
4.2.4.2. Dimensi Budaya Pola-pola Parson
Selain menggunakan enam dimensi Kluchkhon dan Strotdbeck untuk mengamati dan menganalisis kepemimpinan gaya Korea di Indonesia, juga didukung oleh lima dimensi dari pola-pola Parson. Berikut akan diberikan pembahasan secara lengkap.