• Tidak ada hasil yang ditemukan

Relevansi Kesantunan Berbahasa dalam Percakapan

BAB III METODE PENELITIAN

H. Teknik Penyajian Hasil Analisis Data

3. Relevansi Kesantunan Berbahasa dalam Percakapan

Di bawah ini disajikan sampel data kesantunan berbahasa yang dipatuhi dan dilanggar dalam percakapan film Sang Pemimpi yang relevan dengan pembelajar-an keterampilpembelajar-an menyimak dpembelajar-an berbicara.

a. Pematuhan Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Film Sang Pemimpi

Pematuhan prinsip kesantunan berbahasa dalam film Sang Pemimpi yang diperoleh penulis meliputi: (1) maksim kearifan, (2) maksim kedermawanan, (3) maksim pujian, (4) maksim kerendahan hati, (5) maksim kesepakatan, dan (6) maksim simpati. Sampel data dari enam maksim tersebut relevan dengan keterampilan menyimak dan berbicara. Berikut ini disajikan sampel data pe-matuhan maksim kesantunan berbahasa dalam film Sang Pemimpi akan di-relevansikan dengan pembelajaran keterampilan menyimak dan berbicara.

1) Pematuhan Maksim Kearifan

Pematuhan maksim kearifan dalam percakapan film Sang Pemimpi relevan dengan pembelajaran keterampilan menyimak dan berbicara misal-nya percakapan ibu dan Ikal pada data nomor (01). Dalam data nomor (01) tersebut dapat dipahami bahwa ibu berperan sebagai penutur dan Ikal sebagai mitra tutur. Ibu bermaksud memberitahukan adanya surat untuk

Ikal dan Arai. Tuturan ibu yang menunjukkan keuntungan secara maksimal, yaitu „Ibu selipin aja di bawah pintu‟. Tuturan ibu telah memaksimalkan

keuntungan pada Ikal, sebagaimana dikemukakan oleh Leech (2011: 166), Nadar (2009: 30), Rustono (1999: 66), Tarigan (2009: 44), dan Wijana (1996: 56). Dengan demikian, biaya yang harus dikeluarkan Ikal berupa tenaga untuk mengambil surat yang terselip di bawah pintu dan ucapan terima kasih sebagai penghormatan atas kebaikan Ibu.

2) Pematuhan Maksim Kedermawanan

Pematuhan maksim kedermawanan dalam percakapan film Sang

Pemimpi relevan dengan pembelajaran keterampilan menyimak dan

ber-bicara misalnya percakapan Arai dan Ikal pada data nomor (04). Tindakan kedermawanan yang ditunjukkan Arai sebagai penutur jelas membebani biaya diri sendiri, yakni memanjat pagar, meraih tiang antena, dan menggerak-gerakkan antena televisi. Tuturan Arai, yaitu „gimana, Boy?‟ menunjukkan bahwa Arai memaksimalkan keuntungan pada Ikal, sebagai-mana dijelaskan oleh Leech (2011: 209), Nadar (2009: 30), Rustono (1999: 67), Tarigan (2009: 77), dan Wijana (1996: 57). Ikal yang sedang duduk di depan televisi memberi respon dengan tuturan, yakni „mantap, Boy‟

terhadap gambar di televisi. 3) Pematuhan Maksim Pujian

Dalam kategori pematuhan maksim pujian, percakapan Pak Julian dan Arai misalnya, pada data nomor (11) dalam film Sang Pemimpi dapat direlevansikan dengan pembelajaran keterampilan menyimak dan

ber-bicara. Tuturan Pak Julian telah memaksimalkan pujian kepada Arai, sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Leech (2011: 211), Nadar (2009: 30), Rustono (1999: 68), Tarigan (2009: 79), dan Wijana (1996: 57). Tuturan Pak Julian memberikan penilaian secara maksimal pada Arai setelah menuturkan kata-kata inspirasi. Penilaian Pak Julian ialah memuji Arai dengan mengatakan bahwa Arai, anak muda yang cerdas sekali. 4) Pematuhan Maksim Kerendahan Hati

Pematuhan maksim kerendahan hati dalam film Sang Pemimpi, percakapan Ikal dan Arai pada data nomor (15) misalnya, relevan dengan pembelajaran keterampilan menyimak dan berbicara. Tuturan Ikal me-matuhi maksim kerendahan hati ditunjukkan dengan mengatakan bahwa ia, Arai, dan Jimbron adalah orang miskin. Tuturan Ikal tersebut telah memaksimalkan penjelekkan terhadap diri sendiri, sebagaiman diungkap-kan oleh Leech (2011: 214), Nadar (2009: 30), Rustono (1999: 69), Tarigan (2009: 80), dan Wijana (1996: 58).

5) Pematuhan Maksim Kesepakatan

Pematuhan maksim kesepakatan dalam film Sang Pemimpi, percakap-an Arai dpercakap-an Ikal pada data nomor (14) misalnya, relevpercakap-an dengpercakap-an pembe-lajaran keterampilan menyimak dan berbicara. Maksud tuturan Arai ialah mengajak Ikal dan Jimbron untuk menggapai mimpi sampai ke Paris dan keliling dunia. Kesepakatan yang ditunjukkan oleh Ikal berupa tuturan yang mengatakan bahwa mereka akan ke Paris dan keliling dunia. Kesepakatan ditunjukkan Ikal sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Leech

(2011: 218), Nadar (2009: 30), Rustono (1999: 69), Tarigan (2009: 82), dan Wijana (1996: 59).

6) Pematuhan Maksim Simpati

Pematuhan maksim simpati dalam percakapan film Sang Pemimpi relevan dengan pembelajaran keterampilan menyimak dan berbicara misal-nya percakapan ibu dan Ikal pada data nomor (22). Ibu sebagai penutur melontarkan tuturan dengan mengatakan bahwa ia berdoa supaya Ikal bisa bertemu dengan Arai. Tuturan Ibu menunjukkan rasa bersedih atas meng-hilangnya Arai tanpa kabar. Tuturan ibu tersebut telah memaksimalkan rasa simpati, sebagaimana diungkapkan oleh Leech (2011: 219), Nadar (2009: 31), Rustono (1999: 70), Tarigan (2009: 82), dan Wijana (1996: 60).

b. Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Film Sang Pemimpi

Pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa dalam film Sang Pemimpi yang diperoleh penulis meliputi: (1) maksim kearifan, (2) maksim pujian, dan (3) maksim kesepakatan. Sampel data dari tiga maksim tersebut relevan dengan keterampilan menyimak dan berbicara. Berikut ini disajikan sampel data pelanggaran maksim kesantunan berbahasa dalam film Sang Pemimpi akan direlevansikan dengan pembelajaran keterampilan menyimak dan berbicara. 1) Pelanggaran Maksim Kearifan

Pelanggaran maksim kearifan dalam percakapan film Sang Pemimpi relevan dengan pembelajaran keterampilan menyimak dan berbicara misal-nya percakapan Jimbron dan Arai pada data nomor (20). Tuturan Jimbron yang mengatakan bahwa buku itu miliknya bermaksud menyuruh Arai

mengambilkan buku itu. Tuturan Jimbron menerapkan tuturan kurang santun karena membebani biaya pada Arai. Biaya yang harus dikeluarkan oleh Arai berupa mengambilkan buku dan menyerahkannya pada Jimbron. 2) Pelanggaran Maksim Pujian

Pelanggaran maksim pujian dalam percakapan film Sang Pemimpi relevan dengan pembelajaran keterampilan menyimak dan berbicara misal-nya percakapan Arai dan Ikal pada data nomor (06). Tuturan Arai dan Ikal termasuk tuturan kurang santun. Mereka saling melontarkan tuturan dengan kata-kata kasar, terkesan sombong, dan menyindir. Arai mengatakan bahwa Ikal seorang pemalas. Kata pemalas jelas bukan merupakan pujian pada pihak lain. Tuturan Ikal yang menunjukkan kesan sombong dengan mengatakan bahwa tabungan uang koin miliknya hampir penuh. Tuturan Arai jelas menyinggung perasaan Ikal. Akibatnya, tuturan Ikal terkesan sombong dan menyindir Arai. Penyebab tuturan Arai dan Ikal kurang santun karena saling kritik secara langsung dengan kata-kata kasar.

3) Pelanggaran Maksim Kesepakatan

Pelanggaran maksim kesepakatan dalam percakapan film Sang

Pemimpi relevan dengan pembelajaran keterampilan menyimak dan

berbicara misalnya percakapan Arai dan Ikal pada data nomor (19). Arai bermaksud mengajak Ikal dan Jimbron untuk mengikutinya. Ketidak-setujuan muncul pada tuturan Ikal, yakni „Ah, ke mana, Rai? Hampir patah tulangku semua nih.‟ Penyebab tuturan tersebut kurang santun adalah

dorongan rasa emosi Ikal, yaitu rasa kesal terhadap Arai yang memaksa Ikal untuk mengikutinya padahal Ikal sedang kelelahan.

Berdasarkan kurikulum pembelajaran di SMA, berikut ini disajikan pem-belajaran keterampilan menyimak dan berbicara yang terdapat dalam silabus kelas X semester 2 SMA.

a. Pembelajaran keterampilan menyimak dan berbicara pada siswa kelas X semester 2 SMA dalam standar kompetensi 9. Memahami informasi melalui tuturan dan 10. Mengungkapkan komentar terhadap informasi dari berbagai sumber.

b. Kompetensi dasar yang terdapat dalam silabus adalah 9.2 Menyimpulkan isi informasi yang didengar melalui tuturan tidak langsung (rekaman atau teks yang dibacakan) dan 10.1 Memberikan kritik terhadap informasi dari media cetak dan atau media elektronik.

c. Indikator keterampilan menyimak 9.2 yang menjadi fokus penelitian adalah: 1) mencatat pokok-pokok isi informasi melalui rekaman atau teks yang

dibacakan;

2) menyimpulkan isi informasi yang didengar; dan

3) menyampaikan secara lisan isi informasi secara runtut dan jelas.

Indikator keterampilan berbicara 10.1 yang menjadi fokus penelitian adalah: 1) mendata informasi dari sebuah rekaman dengan mengetahui sumbernya; 2) merumuskan pokok persoalan yang menjadi bahan perdebatan umum di

masyarakat; dan

d. Tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran disesuaikan dengan indikator dan tujuan penelitian. Penelitian ini penulis meneliti penggunaan kesantunan berbahasa dalam per-cakapan film Sang Pemimpi. Dengan demikian, tujuan pembelajarannya di-kaitkan dengan penggunaan bahasa yang santun. Fokus tujuan pembelajaran keterampilan menyimak 9.2 adalah:

1) siswa mampu mencatat pokok-pokok isi informasi melalui rekaman atau teks yang dibacakan;

2) siswa mampu menyimpulkan isi informasi yang didengar; dan

3) siswa mampu menyampaikan secara lisan isi informasi secara runtut dan jelas dengan menerapkan kesantunan berbahasa.

Fokus tujuan pembelajaran keterampilan berbicara 10.1 adalah:

1) siswa mampu mendata informasi dari sebuah rekaman dengan mengetahui sumbernya;

2) siswa mampu merumuskan pokok persoalan yang menjadi bahan per-debatan umum di masyarakat; dan

3) siswa mampu memberikan kritik dengan disertai alasan dengan menerap-kan kesantunan berbahasa.

e. Bahan pembelajaran

Bahan atau sumber pembelajaran disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Bahan pembelajaran yang digunakan adalah (1) buku Panduan Belajar

Haryanta dan Alex Suryanto terbitan Erlangga dan (2) modul berisi ringkasan materi yang dibuat oleh guru sesuai dengan kurikulum pembelajaran di SMA. Film Sang Pemimpi digunakan sebagai media pembelajaran. Pematuhan dan pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa dalam percakapan tokoh film Sang

Pemimpi dapat dijadikan bahan pembelajaran keterampilan menyimak dan

berbicara, diharapkan siswa mampu memahami tuturan dan menafsirkan maksud dari tuturan tersebut sehingga dapat mempraktikkan penggunaan tuturan yang santun dalam berkomunikasi.

4. Skenario Pembelajaran Film Sang Pemimpi Sutradara Riri Riza di Kelas X

Dokumen terkait