• Tidak ada hasil yang ditemukan

Relevansi Konsep Menuntut Ilmu Menurut Syekh Muhammad Syakir dalam Kitab Washaya Al- Abaa’ Lil Abnaa’ dengan pendidikan dalam Kitab Washaya Al-Abaa’ Lil Abnaa’ dengan pendidikan

PEMIKIRAN SYEKH MUHAMMAD SYAKIR

B. Relevansi Konsep Menuntut Ilmu Menurut Syekh Muhammad Syakir dalam Kitab Washaya Al- Abaa’ Lil Abnaa’ dengan pendidikan dalam Kitab Washaya Al-Abaa’ Lil Abnaa’ dengan pendidikan

Akidah-Akhlak di MI dan Mts.

Keputusan mentri agama republik Indonesia nomor: 165 tahun 2014 tentang “kurikulum 2013 mata pelajaran pendidikan agama Islam dan bahasa arab pada madrasah”. Kurikulum 2013 dimasudkan untuk mengembangkan

potensi peserta didik menuju kemampuan dalam berfikir reflektif bagi penyelesaian masalah sosial di masyarakat. Adapun tujuan adalah mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagi pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Rumusan kompetensi Inti dalam buku ini menggunakan notasi: 1) untuk kompetensi Inti sikap spiritual, 2) KI-2 untuk Kompetensi sikap social, 3) KI-3 untuk Kompetensi inti ketrampilan. Urutan tersebut mengacu pada urutan yang disebutkan dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasioanal No. 20 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa kompetensi terdiri dari kompetensi sikap, pengetahuan dan ketrampilan.

Selanjutnya Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang telah dirumuskan untuk jenjang satuan pendidikan Madrasah ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (Mts) dan Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Kejuruan (MAK) dipergunakan untuk merumuskan kompetensi dasar (KD) yang diperlukan untuk mencapainya. Mengingat standar kompetensi lulusan harus tercapai pada akhir jenjang. Sebagai usaha untuk memudahkan operasioanal perumusan kompetensi dasar, diperlukan tujuan antara yang menyatakan capaian kompetensi pada tiap akhir jenjang kelas pada setiap jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (Mts), Madrasah Aliyah (MA), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Capaian kompetensi pada tiap akhir jenjang kelas dari 1 samapi VI, kelas VII samapai dengan IX, Kelas X samapi dengan kelas XII disebut dengan Kompetensi Inti.

Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasioal, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Kompetensi Inti (KI) kurikulum adalah pengikat berbagai kompetensi dasar yang harus dihasilkan dengan mempelajari tiap mata pelajaran serta berfungsi sebagai integrator horizontal antara mata pelajaran

Kompetensi Dasar Kurikulum 2013 di Madrasah. Sebagai rangkaian untuk mendukung Kompetensi Inti, capaian pembelajaran mata pelajarn

diuraikan menjadi kompetensi-kompetensi dasar. Pencampaian

kompetensi Inti adalah melalui pembelajaran. Rumusannya

dikembangkan dengan mempraktikan karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta cirri dari suatu mata pelajaran sebagai pendukung pencapaian.

Kompetensi Inti, kompetensi dasar dikelompokan menjadi empat sesuai dengan rumusan Kompetensi Inti yang didukungnya, yaitu: 1). Kelompok kompetensi dasar sikap spiritual (mendukung KI-1) atau kelompok 1, 2). Kelompok kompetensi dasar sikap sosial (mendukung KI-2) atau kelompok 2, 3). Kelompok kompetensi dasar pengetahuan (mendukung KI-3) atau kelompok 3, dan 4). Kelompok kompetensi dasar ketrampilan (mendukung KI-4) atau kelompok 4.

Untuk memastikan keberlanjutan penguasaan kompetensi, proses pembelajaran dimulai dari kompetensi pengetahuan, kemudian dilanjutkan menjadi kompetensi ketrampilan, dan berakhir pada pembentukan sikap. Dengan demikian, proses penyusunan maupun pemahamannya (dan bagaimana membacanya) dimulai dari kompetensi dasar kelompok hasil rumusan kompetensi dasar krlompok 3 dipergunakan untuk merumuskan kompetensi dasar kelompok 4.

Hasil rumusan Kompetensi Dasar kelompok 3 dan 4 dipergunakan untuk merumuskan Kompetensi Dasar kelompok 1 dan 2. Proses

berkesinambungan ini untuk memastikan bahwa pengetahuan berlanjut ke ketrampilan dan bermuara ke sikap sehingga ada keterkaitan erat yang mendekati linier antara kompetensi dasar pengetahuan, ketrampilan dan sikap.

1. Tujuan Mata Pelajaran Akidah-Akhlak di MI dan Mts a. Tujuan Mata Pelajaran Akidah-Akhlak di MI

Akidah akhlak di MI merupakan salah satu mata pelajaran di MI merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang mempelajari tentang rukun iman yang dikaitkan dengan pengenalan dan penghayatan terhadap al-Asma’ al-Husna , serta penciptaan suasana keteladanan dan pembiasaan dalam mengamalkan akhlak terpuji dan adab Islami

melalui pemberian contoh-contoh perilaku dan cara

mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Secara subtansial mata pelajaran Akidah-Akhlak memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kedapa peserta didik untuk mempraktikan al-Akhlak al-Karimah dan adab Islami dalam kehidupan sehari-hari sebagai manifestasi dari keimanannya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta qada dan qadar.

Al-Akhlak al –Karimah sangat penting untuk dipraktekan dan dibiasakan sejak dini oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mengantisipasi dampak negatif era globalisasi

dan krisis multidimensional yang melanda bangsa dan Negara Indonesia.

Mata pelajaran Akidah-Akhlak di MI bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat

1) Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian,

pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengamalan peserta didik tentang akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt.

2) Mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai akidah Islam.

2. Tujuan Mata Pelajaran Akidah-Akhlak di Mts

Akidah-Akhlak di Mts adalah salah satu mata pelajaran PAI yang merupakan peningkatan dari akidah dan akhlak yang telah dipelajari peserta didik di MI. peningkatan itu dilakukan dengan cara mempelajari rukun iman mulai dari iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, sampai iman kepada qada dan qadar yang dibuktikan dengan dalil-dalil naqli dan aqli, serta pemahaman dan penghayatan terhadap al-Asma al-Husna dengan menunjukkan ciri-ciri/perilaku seseorang

dalam realitas kehidupan individu dan sosial serta pengalaman akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari.

Secara subtansial mata pelajaran Akidah-Akhlak memiliki kontribusi dalam memberikan kontribusi dalam memberikan

motivasi kepada peserta didik untuk mempelajari dan

mempraktikkan akidahnya dalam bentuk pembiasaan-pembiasaan utuk mempraktikan aklak terpuji dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari. Al-Akhlak al-Karimah ini sangat penting untuk dipraktikan dan dibiasakan oleh peserta didik dalam kehidupan individu, bermasyarakat dan berbangsa, terutama untuk mengantisipasi dampak negatif dari era globalisasi dan krisis multidimensioanal yang melanda bangsa dan Negara Indonesia.

1) Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian,

pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah swt.

2) Mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai akidah Islam.

Menurut penulis konsep etika menuntut ilmu menurut Syekh Muhammad Syakir dalam kitab Washaya Al-abaa’ Lil Abnaa’ yang garis besarnya berisi belajar yang sungguh-sungguh, semangat tinggi, manajemen waktu, membaca dan memahami pelaran, bertaya, diskusi, taat pada aturan, memperhatikan situasi dan kondisi yang kondusif, lebih memulyakaan pendidik dari pada orang tua, akhlak terpuji, dan mencari ridho pendidik relevan dengan pendidikan Akidah-Akhlak di Mi dan Mts. Yang mana pendidikan Akidah-Akhlak di Mi dan Mts mengunakan kurikulum 2013 untuk mengembangkan potensi peserta didik menuju kemampuan dalam berfikir reflektif bagi penyelesaian masalah sosial di masyarakat. Adapun tujuanya adalah mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagi pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Mata pelajaran Akidah-Akhlak memberikan pelajaran rukun iman serta penghayatan terhadap Asma’ al-Husna, teladan dan pembiasaan dalam mengamalkan akhlak terpuji dan meghindri akhlak tercela, adab Islami dan melalui contoh-contoh perilaku dan cara mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan individu maupun sosial. Sehingga konsep etika menuntut ilmu menurut Syekh Muhammad Syakir dalam kitab Washaya

Al-Abaa‟ Lil Abnaa‟ dapat menjadi pedoman bagi peserta didik dalam

menuntut ilmu agar dapat menjalankan etika menuntut ilmu serta dipermudah belajarnya, manfaat ilmunya dan mendapat ridho Allah.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan dan penyajian yang telah penulis lakukan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan

1. Konsep Etika Menuntut Ilmu Menurut Syekh Muhammad Syakir dalam Kitab Washaya Al-Abaa’ Lil Abnaa’sebagai berikut:

a. Belajar Sungguh-Sungguh dan Semangat Tinggi

b. Manajemen Waktu

c. Membaca dan Memahami Pelajaran

d. Melaksanakan diskusi e. Belajar Secara Bertahab f. Taat pada Aturan

g. Menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif h. Lebih Memulyakan Pendidik dari pada Orang Tua i. Akhlak terpuji

j. Mencari Ridho Pendidik

2. Relevansi Konsep Etika Menuntut Ilmu Menurut Syekh Muhammad Syakir dalam Kitab Washaya Al-Abaa’lil Abnaa’ dengan Pendidikan Akidah-Akhlak di MI dan Mts

Konsep etika menuntut ilmu menurut Syekh Syakir dalam kitab

Washaya Al-Abaa’lil Abnaa’ relevan dengan pendidikan akidah-akhalak di MI dan Mts. Dimana dalam menuntut ilmu peserta didik

harus memperhatikan hal-hal seperti yang diutarakan oleh Syekh Syakir dalam kitab Washaya Al-Abaa’lil Abnaa’. Relevansi kitab

Washaya al Aba’ lil Abnaa’ dengan pendidikan akidah-akhlak di MI dan Mts. Hal itu dapat dilihat pedidikan di Indonesia sekarang menggunakan kurikulum 2013. Mata pelajaran Akidah-Akhlak memberikan pelajaran rukun iman serta penghayatan terhadap Asma’ al-Husna, teladan dan pembiasaan dalam mengamalkan akhlak terpuji dan meghindri akhlak tercela, adab Islami dan melalui contoh-contoh perilaku dan cara mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan individu maupun sosial. Sehingga konsep etika menuntut ilmu menurut Syekh Muhammad Syakir dalam kitab Washaya Al-Abaa‟ Lil Abnaa‟ dapat menjadi pedoman bagi peserta

didik dalam menuntut ilmu agar dapat menjalankan etika menuntut ilmu serta dipermudah belajarnya, manfaat ilmunya dan mendapat ridho pendidik.

Hal tersebut dapat menjadi solusi dalam memperbaiki kualitas ahklak dan kualitas pendidikan di berbagai bidang, khususnya dalam menghadapi perkembangan zaman sekarang.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah penulis uraikan di atas maka untuk menindak lanjuti dapat penulis kemukaan saran-saran sebagai berikut: 1. Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dari lahir sampai

ilmu. Maka dalam situasi dan konsidi apapun tetap semangat dalam menuntut ilmu.

2. Peserta didik dalam menuntut ilmu harus memperhatikan hak dan kewajibannya dalam menuntut ilmu serta menghiasi diri dengan akhlak terpuji. Menjalankan perintah pendidik serta tugas-tugasnya dengan baik dan meninggalkan larangan yang ada.