Anggota III : Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si. (
2.2 Religi: Dari Tradisi ke Agama Kristen
Apa yang terjadi dalam musik popular Batak Toba dengan fenomena adopsi beberapa lagu dari budaya dunia, khususnya peradaban Eropa, sebenarnya adalah ekspresi dari kontinuitas dan perubahan dari system religi yang dianut masyarakat Batak Toba. Awalnya mereka menganut religi tradisi, dengan berpusat pada penyembahan kepada Tuhan yang disebut Debata Mulajadi Nabolon, yang kemudian secara berangsur-angsur berpindah kepada sistem religi baru yaitu Kristen Protestan, terutama yang dibawa oleh zending Jerman, dimotori oleh Ingwer Ludwig Nommensen. Kontinuitas dan perubahan sistem religi ini, menurut
penulis juga menjadi daya dorong bagi tumbuh dan berkembangnya kebudayaan musik populer Batak Toba, yang di dalamnya mengandung unsur musik tradisi dan juga musik Barat. Oleh karena itu perlu di sini diuraikan secara umum mengenai sistem religi tradisi dan kemudian peralihannya ke Kristen Protestan.
Menurut sistem kepercayaan orang-orang Batak Toba dalam mitologinya, persoalan kehidupan selalu ada sangkut pautnya dengan ketuhanan yang dipercaya sebagai karya dari Mula Jadi Nabolon. Mite yang mirip dengan mitologi dalam kepercayaan Hindu dalam cerita turun temurun masyarakat Batak Toba ini, yaitu adanya tiga oknum dewa masing-masing Batara Guru, Soripada, dan Mangala
Bulan sebagai aspek dari Mulajadi Nabolon yang memiliki otoritas di bumi untuk
mengatur kehidupan manusia (Situmorang, 2009:21).
Dalam beberapa literature budaya, konsep mitologi ini berbeda dengan konsep yang diungkapkan oleh Sitor Situmorang tentang “tri tunggal” Dewa orang Batak. Dalam tulisan lain, Tampubolon menyebut ketiga Dewa tersebut bukanlah
implisit dari jelmaan Mula Jadi Nabolon, melainkan tiga dewa yang berdiri secara
sendiri-sendiri yaitu: (1) Mulajadi Nabolon, ( 2) Debata Asi-asi, dan (3) Batara
Guru yang sesuai dengan pekerjaannya di bumi.
Debata Mulajadi Nabolon diyakini sebagai pencipta alam semesta alam
yang besar (Nabolon), dan menciptakan dewa-dewa yang lebih rendah. Debata
Asi-asi sebagai dewa yang menurunkan berkat dan kAsi-asih melalui oknum perantara (roh
leluhur, roh penghuni suatu tempat). Batara Guru berarti maha guru yang memberi ilmu pengetahuan, ilmu-ilmu gaib, pengobatan dan penangkalan roh-roh jahat. (Tampubolon, 1978:9-10).
Mitologi Batak Toba pada umumnya disampaikan melalui cerita dari mulut ke mulut (tradisi lisan), biasanya pemberitaan seperti ini sukar untuk dipercaya. Hal ini terbukti dari banyaknya beredar cerita-cerita dongeng di kalangan suku Batak Toba. Selanjutnya, Warneck mengemukakan bahwa hampir semua suku bangsa di dunia memiliki dongeng, yang tidak memiliki hubungan satu sama lain. Masing-masing berdiri sendiri (Hutauruk, 2006:8)2
Ajaran religi Batak Toba yang terdapat dalam mitologi ini, diperjelas oleh Batara Sangti, yang menyebutkan ketiga dewa (sama dengan versi Situmorang) sebagai pemilik otoritas kedewaan dengan konsep pekerjaan ketiga dewa tersebut mengatur tata kehidupan manusia. Dalam legenda Siboru Deak (Deang) Parujar dalam tonggo-tonggo (doa) yang disampaikan pada Mula Jadi Nabolon disebutkan sebagai Debata Natolu, Natolu Suhu, Naopat Harajaon. Batara Sangti menguraikan pekerjaan dan tugas keempat oleh Debata Asi-asi yaitu menolong manusia dengan bersusah payah dan berkorban. Dewa ini berfungsi sebagai: naso pinele jala naso
sinomba (yang tidak disaji dan tidak disembah) sebagai tugas keempat dimaksud
dari na opat harajaon (Sangti, 1977:279).
2Dongeng ini masuk ke dalam sebuah kajian yang disebut secrita rakyat atau folklor. Danandjaya (1994:3) mengemukakan Sembilan ciri folklor yaitu: (1) Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan. (2) Folkor bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif atau dalam bentuk standar dalam waktu yang lama minimal dua generasi. (3) Folklor ada
(exist) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini diakibatkan oleh cara
penyebarannya dari mulut ke mulut (lisan), biasanya bukan melalui cetakan atau rekaman sehingga oleh proses lupa folklore mudah mengalami perubahan. (4) Folklor bersifat anonim, nama penciptanya sudah tidak diketahui lagi. (5) Biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola. Cerita rakyat bisanya selalu mempergunakan kata-kata klise seperti “bulan empat belas hari.” (6) Folklor mempunyai kegunaan (function) dalam kehidupan bersama suatu kolektif. Cerita rakyat misalnya sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam. (7) Folklor bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan ligika umum. Ciri folkor ini berlaku bagi folklor lisan dan sebagain lisan. (8) Folklor menjadi milik bersama dari kolektif tertentu. Hal ini disebabkan karena penciptanya yang pertama sudah tidak ada sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya. (9) Folklor umumnya bersifat polos dan lugu, sehingga sering terlihat kasar, terlalu spontan. Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proteksi emosi manusia yang paling jujur manifestasinya.
Dari beberapa versi cerita lisan yang terdapat kehidupan orang Batak Toba dapat disimpulkan, bahwa orang Batak Toba pada zaman keberhalaan sudah mempercayai adanya Tuhan yang satu yang disebut Mulajadi Na Bolon yang menjadi sumber dari segala yang ada. Orang Batak kala itu percaya ada kekuatan besar Debata yang menjadikan langit dan bumi dan segala isinya. Ia juga memelihara kehidupan secara terus menerus. Debata Mulajadi Na Bolon adalah sebagai Tuhan yang tidak bermula dan tidak berakhir. Dia adalah awal dari semua yang ada. Kepercayaan terhadap dewa-dewa ini, kemudian berubah menjadi kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, seiring datangnya agama Kristen Protestan ke Tano Batak, yang dibawa oleh Ingwer Ludwig Nommensen.
Ben M. Pasaribu mengatakan tentang konsep menyatunya antara agama dan adat pada masyarakat Batak Toba sebagai berikut.
... dalam masyarakat Batak Toba, yang mayoritas beragama Kristen dan Katolik, terdapat beberapa organisasi agamaniah yang berdasar kepada sistem kepercayaan Batak asli, yang dijalankan menurut persepsi dari pendiri-pendiri oraganisasi-organisasi tersebut dan beberapa persentuhan dengan agama wahyu.
Hubungan antara organisasi agamaniah yang tradisi dengan organisasi gereja Kristen merupakan suatu hubungan yang bervariasi sekali, tergantung kepada perkembangan situasi masa yang mempengaruhi persepsi Kristen terhadap unsur kebudayaan tersebut. ... Sehingga selain gereja Kristen Protestan yang menghadirkan acara margondang dalam beberapa peristiwa gereja, gereja Katolik juga mengadakan suatu misa yang didasari oleh beberapa sekwen-sekwen dalam acara margondang dari organisasi agamaniah tersebut. Misalnya, Gondang Elek-elek sebagai kyre, daupa sebagai evangelium, Gondang Santi sebagai offertorium, Tortor Ulubalang sebagai agnus dei, Gondang Puji-Pujian sebagai sanctus dan sebagainya (Ben M. Pasaribu 1986:53-54).
Etnik Batak Toba adalah salah satu etnik natif Sumatera Utara, yang daerah kebudayaannya berada di seputar danau Toba, yang kini adalah sebagai salah satu
pusat industri pariwisata di Indonesia. Etnik Batak Toba pada masa sekarang ini daerah budayanya meliputi empat Kabupaten di Sumatera Utara, yaitu Kabupaten: (a) Tapanuli Utara, (b) Toba Samosir, (c) Samosir, dan (d) Humbang Hasundutan. Mereka memiliki berbagai kesenian, seperti sastra, tari (tortor), musik (gondang), dan rupa (gorga), dan lain-lain.
Masyarakat Batak Toba ini sejak abad ke-19 telah berinteraksi secara pesat dengan peradaban Eropa dan agama Kristen Protetan khususnya dari organisasi Reinische Mission Gesselschaft (RMG) yang kemudian berubah menjadi Verenigte Evangelische Mission (VEM).
Penyebaran agama Kristen, awalnya dimulai oleh Pendeta Burton dan Ward dari Gereja Baptis Inggeris tahun 1824. Kedua pendeta ini mencoba memperkenalkan Injil di kawasan Silindung (sekitar Tarutung sekarang). Kehadiran mereka tidak diterima oleh masyarakat Batak Toba. Kemudian tahun 1834 Kongsi Zending Boston Amerika Serikat, mengirimkan dua orang pendeta, yaitu Munson dan Lymann. Kedua misionaris ini dibunuh oleh penduduk di bawah pimpinan Raja Panggalamei, di Lobupining, sekitar Tarutung, pada bulan Juli 1834. Tahun 1849, Kongsi Bibel Nederland mengirim ahli bahasa Dr. H.N. van der Tuuk untuk menyelidiki budaya Batak. Ia menyusun Kamus Batak-Belanda, dan menyalin sebahagian isi Alkitab ke bahasa Batak. Tujuan utama Kongsi Bibel Nederland ini adalah merintis penginjilan ke Tanah Batak melalui budaya. Tahun 1859, Jemaat Ermelo Belanda dipimpin oleh Ds. Witeveen mengirim pendeta muda G. Van Asselt ke Tapanuli Selatan. Ia tinggal di Sipirok sambil bekerja di perkebunan Belanda. Kemudian disusul oleh para pendeta dari Rheinische Mission Gesellschaft (RMG), pada masa sekarang menjadi Verenigte Evangelische Mission
(VEM), dipimpin Dr. Fabri. Penginjilan sampai saat ini berjalan lambat. Kemudian tahun 1862 datanglah pendeta RMG, yang kemudian diterima oleh masyarakat Batak Toba, yaitu Dr. Ingwer Ludwig Nommensen. Di bawah pimpinannya misi penginjilan terjadi dengan pesat. Sampai dekade-dekade awal abad kedua puluh, sebagian besar etnik Batak Toba telah menganut agama Kristen Protestan. Berdasarkan rapat pendeta pada 3 Februari 1903, penginjilan diperluas ke daerah Simalungun dan Karo, dan ternyata berhasil dengan baik (Nestor Rico Tambunan 1996:58-60).