• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. DASAR TEORI

A. REMAJ

yang tinggi dengan pasangannya. Alasan pengambilan keputusan aborsi pada remaja adalah karena ketidaksiapan dalam menjalani kehidupan selanjutnya baik dari secara ekonomi maupun secara sosial. Konsekuensi nyata dari tindak aborsi tersebut diantaranya, secara fisik mengandung resiko kesehatan dan secara psikis menyebabkan remaja mengalami Post Abortion Syndrome (PAS) atau Post Traumatic Stress Syndrome. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi PAS, diantaranya, remaja cenderung rajin berdoa minta ampun pada Tuhan, mendoakan janin yang telah diaborsi dan menyibukkan diri atau mulai menfokuskan diri pada masa depan.

in the Case of Premarital Pregnancy

Antonia Wahyuningsih Faculty of Psychology Sanata Dharma University

Yogyakarta

This research aimed at depicting the adolescent’s experience of abortion in the case of premarital pregnancy. The abortion that was meant in this research was the criminality abortus provocatus or the intentional harsh act of stopping pregnancy due to some reasons other than the medical indication ones. This study was a qualitative research and qualitative descriptive was employed as the research method. The data gathering method was depth-interview which purpose was to reveal the motives of abortion by the adolescent, the impacts of abortion and the attempts to overcome the Post Abortion Syndrome. The researcher also carried out an observation on the nonverbal behavior as the complementary data.

Based on the analyzed data, the author could draw a conclusion that the adolescent who committed abortion was the one who tended to involve most frequently in sexual activities with his/her couple. The reason of abortion decision making among adolescents was their being unready to go well through their further life both economically and socially. The real consequence of the abortion was, physically, bearing the risk of unhealthiness, and psychologically causing the adolescent to experience Post Abortion Syndrome (the PAS) or Post Traumatic Stress Syndrome. In order to overcome the PAS, the adolescent tended to try some efforts, e.g. praying obediently for God’s forgiving upon him/her and for the aborted embryo, making himself/herself busy with some meaningful activities, or starting to focus on his/her future.

satu syarat mendapatkan gelar Sarjana Psikologi.

Terima kasih atas bantuan semua pihak yang telah mendukung penulis selama ini dengan kritik ataupun saran, semangat, kehadiran, perhatian, gurauan, bantuan baik mental, spritual dan materi. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada:

1. Tuhan Yesus pemberi segalanya dan Bunda Maria yang selalu mendampingi. 2. Ibu dan bapak yang telah menjadikanku tetap mampu berdiri dan merasakan

kasih sayang. Terimakasih atas doa dan keringat yang terus mengalir untukku. Bu...selamanya, asih ada untuk ibu. Aku sayang bapak dan ibu....

3. Buat Romo Woto, terima kasih atas spirit dan perhatiannya baik secara moril ataupun materiil dalam mendampingi kehidupanku hingga aku mampu sampai pada tujuanku. Romo Bas dan Romo Ratno, terimakasih atas perhatian dan bantuannya.

4. Bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

5. Ibu Sylvia Carolina, M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi, terima kasih telah membimbingku hingga sampai kelulusan.

6. Ibu Agnes Indar E., S.Psi., Psi., M.Si. selaku dosen penguji dan Bapak Wijoyo Adi Nugroho selaku dosen penguji dan pembimbing akademik.

7. Ibu Titik Kristiyani, S.Psi. yang pernah mendampingi dalam studi.

8. Seluruh dosen Psikologi, staf Fakultas Psikologi (Mbak Nani, Mas Gandung, Mas Muji dan Pak Gie) dan civitas akademika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, terima kasih telah membantu kelancaran studi penulis.

9. Seluruh staf dan karyawan perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, terima kasih atas bantuan dalam peminjaman buku-bukunya. 10.Mamak, Bapak, Mbah, Pakde, Bude, Bulek, Paklek, Mbak-Mbak, Mas-Mas,

Mas Medi, Ika, Emi, Eni, Mbak Asih, Mbak Lina, Dek Novi dan keluarga

12.Mas Nano: si Ndut yang ngaku ganteng, “My Candy”. Terima kasih buat semua kasih, waktu, dan perhatian yang ada sehingga aku tidak sendiri. Tetap semangat ya....”Satu Tiket” menanti untuk diraih sehingga kau bisa mewujudkan citamu. Semoga segala sesuatunya indah pada waktunya.

13.Keluarga besar Mama dan Papa, terimakasih atas kasih, doa, dan dukungannya selama ini.

14.Sahabat-sahabatku yang imutz: Tika, Heny, Eka, Wi2en, Pita, Prima, Aning, Ri2s, Mas Di2k Terima kasih atas persahabatan dan persaudaraan selama ini, berkat kalian aku menemukan saudara baru. Don’t give up ya...I Love U All.... dan temen-temen mumet: Ria, mbak Diah, Sari, Dewi, Meme, Jean, Marto, Uni, Evi, Kuncup, Sigit, Perik, Beny, Oskar : aku kangen sama kalian.

15.Fr. Dadang, terima kasih atas kasih dalam untaian doamu dan persahabatan yang membuatku tidak sendiri. Semoga terang jalanmu memenuhi Panggilan-Nya. Om Giono, makasih ya...dah jadi om yang baik, semoga juga jadi bruder yang baik. Hendar, makasih juga ya...atas dukungan dan pengalamannya 16.Fr. Dwi, terima kasih telah membantuku membuka pengalaman mengarang.

Bruder Trie, Makasih juga ya...kapan makan baksonya?

17.Tio, Encis, Yudi, Indro, Mas Becak, Mas Kuntul, Mas Osak, Mas Rusman, Wiwib, Mbak Oki, Mbak Eni, Mbak Ika, Bambang: makasih ya....atas kebersamaan selama ini dan dukungannya.

18.Buat temen-temen kost (Shinta, Sinta, Amel, Wenny, Patmi), terima kasih atas dukungan dan kebersamaannya, aku pasti akan merindukan saat-saat jadul bersama kalian. Buat Dodon dan Dek Beni, terimakasih atas bantuan Transletnya.

19.Buat saudara-saudara di pegunungan Menoreh, terima kasih atas perhatian dan dukungan selama tinggal di Yogyakarta.

mendapat kakak yang baik seperti kalian, dan keluarga Tantra, semoga semakin tetap eksis menciptakan mahakarya seni hidup.

22.NN, SS, CC, dan MM, terimakasih atas kerelaannya berbagi kisah hidup yang telah tertuang dalam pikiran, hati dan kertasku.

23.Komunitas tari Genta Rakyat, terimaksih pernah memberiku kesempatan untuk menarikan tarianku.

24.Teman-teman Fakultas Psikologi Angkatan 2000-2004: Roni, Ajeng, Desta, Hera, Astria, Ina, Tita, Iput, Weda, Lia, Nopek, Dani, Ana, Dias, Diana, ratih dan lain-lain yang belum tersebutkan, terimakasih atas dukungan dan kebersamaannya

25.Mbak Santi, Mas Tomi, dan Bapak-Bapak di PPM, terimakasih atas pengalaman berkaryanya, ilmu, kasih, perhatian, dan bimbingannya. I learned how to work and care to others.

26.Tini “Hp 3744”, My com-com : makasih ya...berkat adamu, aku bisa menulis sepuasku. Galon “Motor” berkat adamu, aku bisa sampai kemana-mana & bertemu dengannya.

27.Buat warga Paingan, terima kasih atas perhatiannya telah diterima dengan baik sebagai warga kost.

28.Buat adik-adik: Diky, Tresa, Dek Nova, Dek Dina, Boby, Bagas dan yang lainnya, makasih atas keceriaannya.

Penulis menyadari bahwa penelitian dan penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari sempurna. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga dengan selesainya skripsi ini, dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya.

Yogyakarta, 5 mei 2007 Penulis

Antonia Wahyuningsih

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI... xii

DAFTAR TABEL... xv

DAFTAR BAGAN ... xvi

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. LATAR BELAKANG... 1

B. RUMUSAN MASALAH ... 6

C. TUJUAN PENELITIAN ... 7

D. MANFAAT PENELITIAN... 7

BAB II. DASAR TEORI ... 9

A. REMAJA... 9

1. Pengertian Remaja ... 9

2. Karakteristik Umum Perkembangan Remaja... 10

1. Pengertian Kehamilan ... 18

2. Kehamilan Pranikah Pada Remaja ... 19

C. ABORSI ... 20

1. Pengertian Aborsi... 20

2. Macam-macam Aborsi ... 21

3. Faktor-faktor yang Mendorong Aborsi ... 24

4. Pengambilan Keputusan Aborsi... 25

5. Dampak Aborsi ... 26

6. Upaya-upaya Mengatasi Post Abortion Syndrome... 27

D. GAMBARAN REMAJA YANG MELAKUKAN ABORSI DALAM KASUS KEHAMILAN PRANIKAH ... 28

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 31

A. JENIS PENELITIAN ... 31

B. SUBJEK PENELITIAN... 32

C. METODE PENGUMPULAN DATA... 32

1. Wawancara... 33

2. Observasi... 36

D. ANALISIS DATA ... 37

E. KEABSAHAN DATA ... 39

1. Deskripsi Subjek Penelitian ... 44

2. Penyajian Data ... 44

C. PEMBAHASAN ... 111

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN... 119

A. KESIMPULAN ... 119

B. SARAN ... 120

DAFTAR PUSTAKA ... 122

TABEL II. Ringkasan Gambaran Pengalaman Aborsi Pada Remaja

dalam Kasus Kehamilan Pranikah ... 99

Bagan 2 : Bagan Hasil Penelitian Subjek II (CC) ... 82 Bagan 3 : Bagan Hasil Penelitian Subjek III (MM)... 98

Setiap masyarakat, cepat atau lambat akan mengalami perubahan sosial. Salah satu perubahan ini adalah perilaku seksual yang menyimpang di kalangan remaja. Penyimpangan perilaku seksual yang dimaksud dalam konteks ini adalah hubungan seks bebas yang dilakukan oleh pasangan yang belum menikah (pranikah) (Hidayana, 2004). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Boyke, seorang ginekolog dan konsultan seks, di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu, dan Banjarmasin diperkirakan ada 30 % murid SLTA dan mahasiswa berumur antara 17-21 tahun pernah melakukan hubungan seks pranikah (Kusmaryanto, 2002).

Salah satu dampak nyata dari hubungan seks bebas pranikah adalah kemungkinan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted pregnancy) dan kemudian diikuti pertimbangan usaha aborsi (Kristinawati, 2002). Menurut Vinita (dalam Hidayana, 2004) bahwa suatu kehamilan yang tidak diinginkan karena tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat dapat mengakibatkan terjadinya aborsi sebagai salah satu pemecahan masalahnya. Aborsi merupakan tindakan penghentian dan pengeluaran hasil kehamilan dari rahim, sebelum janin bisa hidup di luar kandungan (viability), artinya dari trimester pertama kehamilan (pada usia janin 7-12 minggu) sampai awal trimester ke tiga yaitu pada usia janin kira-kira 24 minggu (Bertens, 2002).

Data WHO di seluruh dunia memperkirakan bahwa setiap tahun dilakukan 20 juta aborsi tidak aman (abortus provocatus criminalis) dan 70.000 wanita meninggal akibat aborsi tidak aman. Abortus provocatus criminalis adalah penghentian kehamilan secara sengaja sebelum janin mampu hidup di luar kandungan dengan alasan-alasan lain, selain alasan indikasi medis (Therapeutik). Secara medis maupun secara hukum Abortus provocatus criminalis ini dilarang karena dari segi cara dan dampaknya, tindakan ini menyebabkan kematian yang disengaja dan termasuk tindak pembunuhan (Kusmaryanto, 2002).

Masalah aborsi ini sangat memprihatinkan karena adanya kecenderungan peningkatan aborsi dari tahun ke tahun. Misalnya data dari sebuah klinik di Jakarta menunjukkan pelaku aborsi di atas usia 20 tahun (48%), 16-19 tahun (46,9%), dan usia 12-15 tahun (5,5%). Berdasarkan data tersebut, dapat kita ketahui bahwa kecenderungan aborsi lebih tinggi dilakukan oleh perempuan berusia di bawah 20 tahun dibandingkan dengan yang berusia di atas 20 tahun (Hidayana, 2004). Hal ini juga menunjukkan bahwa tindak aborsi lebih banyak dilakukan oleh remaja. Setiap tahunnya diperkirakan sekitar dua juta bayi diaborsi dan 750.000 di antaranya dilakukan oleh remaja putri yang belum menikah (Media Indonesia, Februari 2000). Departemen Kesehatan juga mencatat bahwa di kalangan remaja kita setiap tahunnya terjadi 700 ribu kasus aborsi, atau 30% dari keseluruhan kasus aborsi (sekitar 2 juta kasus) (BKKBN, 2005). Berdasarkan kasus di atas menunjukkan bahwa tindak aborsi telah menjadi salah satu pilihan bagi

seorang perempuan khususnya remaja untuk mengatasi kehamilan yang tidak diinginkan. Pilihan melakukan aborsi adalah suatu keputusan serius yang dapat memiliki dampak penting terhadap masa depan seseorang khususnya remaja (Alison &Catherine, 1991).

Menurut Harjaningrum (2005), ada beberapa faktor yang mendorong seorang remaja melakukan aborsi yaitu faktor ekonomi dan sosial. Berdasarkan faktor ekonomi, aborsi dilakukan karena alasan ekonomi seperti kondisi ekonomi remaja yang belum mapan sehingga masih tergantung pada orang tua, dan alasan belum bekerja kerap menjadi faktor pendorong. Menurut faktor sosial, alasan remaja melakukan aborsi diantaranya karena adanya khawatir akan dampak sosial seperti putus sekolah/kuliah, malu pada lingkungan sekitar, takut mendapat ejekan dari masyarakat, sang pacar yang tidak mau bertanggung jawab, bingung siapa yang akan mengasuh bayi, atau karena takut terganggu karir masa depannya.

Tindakan aborsi sendiri dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu aborsi yang dilakukan sendiri dan aborsi yang dilakukan oleh orang lain. Tindakan aborsi yang dilakukan sendiri misalnya dengan cara meminum obat-obatan yang dapat membahayakan janin seperti jamu yang dapat menggugurkan janin atau minum pil aborsi (mifepristone) (Bertens, 2002). Adapun cara lainnya yaitu dengan sengaja melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan janin seperti melakukan olah raga lari atau lompat-lompat. Tindakan aborsi yang dilakukan oleh orang lain misalnya dengan bantuan dokter, bidan, atau dukun beranak.

Salah satu contoh kasus, Mary Tan menjalani aborsi 13 tahun yang lalu tetapi sampai sekarang ia masih mengenang anaknya yang berkemungkinan lahir tanpa tempurung kepala. Pada saat-saat tertentu Ny. Tan membicarakan hal itu dengan airmata mengalir. "Saya kira tidak ada perempuan yang bisa sembuh dari trauma aborsi. Saya tidak bisa lupa pada saat-saat ketika obat disuntikkan ke perut saya dan bagaimana bayi itu berusaha melawan untuk tetap hidup," kata Ny. Tan dengan terisak-isak. Dia menggugurkan kandungannya ketika hamil empat bulan. Ny. Tan yang kini memiliki empat anak, menyimpan rapat emosinya hingga mengakibatkan lahirnya tekanan di bawah sadar berupa keinginan bunuh diri pada momen-momen tertentu (Suara Pembaharuan, 2003).

Berdasarkan kasus di atas, diketahui bahwa peristiwa aborsi dapat menyebabkan tekanan psikologis pada pelakunya. Seseorang perempuan yang secara diam-diam melakukan aborsi, setelah proses aborsi biasanya akan mengalami Post Abortion Syndrome (PAS) (Harjaningrum, 2005). Gejala yang sering muncul adalah depresi, kehilangan kepercayaan diri, merusak diri sendiri, mengalami gangguan fungsi seksual, bermasalah dalam berhubungan dengan kawan, perubahan kepribadian yang mencolok, serangan kecemasan, perasaan bersalah dan penyesalan yang teramat dalam. Mereka juga sering menangis berkepanjangan, sulit tidur, sering bermimpi buruk, sulit konsentrasi, selalu teringat masa lalu, kehilangan ketertarikan untuk beraktivitas, dan sulit merasa dekat dengan anak-anak yang lahir kemudian (Harjaningrum, 2005). Secara medis aborsi dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti infeksi pada rahim, perdarahan hebat, embolisme (tersumbatnya pembuluh darah oleh bekuan darah), rahim yang terkoyak atau berlubang, komplikasi anastesi, kejang, dan luka leher rahim. Apabila kondisinya parah, rahim terpaksa diangkat, bahkan tak jarang nyawa pun harus dikorbankan (Harjaningrum, 2005).

Contoh kasus tindak aborsi lainnya, seperti yang dilakukan oleh Ika gadis berusia 20 tahun, bukan nama sebenarnya, seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Saat itu janin Ika sudah berusia lebih 12 minggu. Semula keluarga Ika berusaha mencari sang pacar, tetapi jejaknya pun tidak ada. Lelaki itu raib bagaikan ditelan bumi. Kemudian keluarga Ika memutuskan bahwa Ika harus aborsi. ”Saya tidak berani menentang kehendak keluarga, takut kalo jantung Babe kumat lagi,” kata Ika. Ika pun dibawa dari satu klinik ke klinik lain, dari satu dokter ke dokter lain tetapi tetapi semua menolak melakukan aborsi karena usia janin sudah lebih tiga bulan. Bahkan, “Setelah perut saya diraba-raba dokter menasihati agar kandungan dipelihara saja, sayang kalo diaborsi,” ujar Ika mengenang pengalamannya. Namun, saran dokter tidak digubris oleh ibunya. “Kalo tak ada dokter yang berani biar ku bawa ke dukun tulang, yang penting janin itu harus keluar dari rahim kamu,”ujar Ika menirukan hardikan ibunya. Ika pun dibawa ke kawasan Tangerang , Banten. Ika seakan tidak percaya ketika ia membaca papan nama dengan tulisan “Dukun Tulang” di depan pondok yang mereka datangi itu. Di sana sudah menunggu sepasang suami istri setengah baya. Ika disuruh berbaring dan diberi minuman, “ Beberapa menit kemudian mataku terasa berat sekali, ingin tidur saja,” kata Ika mengenang peristiwa yang tidak akan pernah dilupakannya itu. Tiba-tiba ia merasakan perutnya seperti dipelintir dengan keras sehingga menimbulkan bunyi gemeretak dari dalam perutnya. Ika mengaku tidak merasakan sakit. Namun, dia merasa seakan-akan tubuhnya putus menjadi dua bagian. Malam hari Ika mengalami pendarahan hebat. Seluruh lantai kamar mandi penuh darah. Ika dilarikan ke rumah sakit. “Untung segera dibawa, kalo beberapa menit saja terlambat anak ini sudah tewas karena kehabisan darah, “ kata dokter di rumah sakit itu. Setelah melalui perawatan yang intersif selama 30 hari secara medis Ika dinyatakan sembuh. Namun, dokter dirumah sakit meminta kepada keluarga agar Ika berkonsultasi dengan psikolog karena Ika juga mengalami persoalan psikologis karena aborsi yang dialami Ika membuat jiwanya rapuh. Agar tidak berkembang menjadi trauma yang permanen maka Ika harus ditangani psikolog (InfoKESPRO, 2001)

Bersadarkan kasus di atas, dampak aborsi baik secara fisik maupun psikis (post abortion syndrome) merupakan konsekwensi dari sebuah pilihan. Konsekwensi tersebut dapat menyebabkan timbulnya kecemasan dan persoalan psikologis yang berkepanjangan pada diri remaja. Adapun upaya yang dilakukan untuk mengatasi dampak aborsi tersebut diantaranya, melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan pasca aborsi ke dokter, meminta

bantuan konselor untuk mengatasi masalah dan perasaan negatif akibat aborsi, terbuka pada orang terdekat atau keluarga atas apa yang telah dialaminya, berdoa minta ampun pada Tuhan dan rajin mendoakan janin yang telah diaborsi, mencegah terjadinya kontak seksual dengan pasangan dan berusaha menyibukkan diri dengan aktivitas baru. Masalah-masalah akibat aborsi yang tidak segera diatasi maka dapat mengganggu perkembangan remaja baik secara fisik maupun psikis (Alison &Catherine, 1991).

Dalam kasus aborsi remaja tidak hanya sebagai pelaku semata tetapi juga sebagai korban, namun hingga saat ini masih ada remaja yang tetap melakukan aborsi untuk mengatasi kehamilan yang tidak diinginkan. Padahal tindak aborsi memiliki dampak negatif baik secara fisik maupun psikis. Adanya kenyataan tersebut, peneliti tertarik untuk memahami secara lebih mendalam tentang gambaran pengalaman aborsi yang masih dilakukan hingga saat ini khususnya pada remaja dalam kasus kehamilan pranikah. Pemahaman atas masalah ini dipandang perlu untuk dilakukan sebelum lebih banyak korban akibat tindak aborsi.

B. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengalaman remaja yang melakukan aborsi dalam kasus kehamilan pranikah? Untuk memperoleh pembahasan yang lebih mendetail dari penelitian ini, maka peneliti membaginya dalam beberapa rincian pertanyaan, yaitu :

1. Apakah yang menjadi dasar atau latar belakang seorang remaja memutuskan untuk melakukan aborsi?

2. Apakah dampak dari keputusan melakukan tindak aborsi baik secara fisik maupun psikis pada remaja yang melakukan aborsi?

3. Upaya apakah yang dilakukan oleh remaja yang melakukan aborsi untuk mengatasi Post Abortion Syndrome (PAS)?

C. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan memahami secara lebih mendalam tentang pengalaman aborsi pada remaja dalam kasus kehamilan pranikah yang terkait dengan latar belakang melakukan aborsi, dampak aborsi baik secara fisik maupun psikis, dan upaya mengatasi Post Abortion Syndrome (PAS).

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Teoritis

Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat memberi sumbangan informasi bagi penelitian-penelitian dalam bidang Psikologi Sosial terutama dengan topik penelitian tentang aborsi.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi perkembangan psikologi konseling, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan acuan atau sumber informasi bagi konselor dalam mendampingi para remaja yang melakukan aborsi.

b. Bagi remaja yang melakukan aborsi pada kasus kehamilan pranikah, hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi dalam memahami dirinya.

c. Bagi keluarga, hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi untuk orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam memahami dan memberi dukungan kepada remaja yang melakukan aborsi pada kasus kehamilan pranikah dalam menentukan pilihan hidupnya.

d. Bagi masyarakat, hasil penelitian ini dapat menambah wawasan masyarakat untuk memahami keadaan remaja yang melakukan aborsi pada kasus kehamilan pranikah sehingga masyarakat dapat berperan serta dalam memberikan pengawasan terhadap remaja guna mencegah terjadinya hubungan seks pranikah yang dapat berakhir pada tindakan aborsi.

A. REMAJA

1. Pengertian Remaja

Istilah remaja atau adolescence, berasal dari kata Latin “adolescere”, yang berarti tumbuh ke arah kematangan. Kematangan di sini mempunyai arti yang lebih luas yaitu mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik (Hurlock, 1996).

Menurut Santrock (2003), masa remaja diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan bilogis, kognitif, dan sosial-emosional. Beberapa ahli perkembangan menggambarkan remaja sebagai masa remaja awal dan akhir. Masa remaja awal (early adolescence) kira-kira sama dengan masa sekolah menengah pertama dan mencakup kebanyakan perubahan pubertas. Masa remaja akhir (late adolescence) menunjuk kira-kira setelah usia 15 tahun. Masa remaja akhir lebih memiliki minat pada karir, pacaran, dan eksplorasi identitas yang seringkali lebih nyata dalam masa remaja akhir ketimbang dalam masa remaja awal (Santrock, 2003).

Monks (1989) mengemukakan bahwa masa remaja secara global berlangsung antara umur 12 sampai 21 tahun dengan pembagian sebagai berikut: 12-15 tahun termasuk sebagai remaja awal, 15-18 tahun termasuk sebagai remaja pertengahan, dan 18-21 tahun sebagai remaja akhir.

Menurut Kartini-Kartono (1982), batasan usia remaja adalah 12 – 21 tahun. Masa remaja dibagi menjadi tiga periode, yaitu pra-pubertas dengan batasan usia 12-14 tahun, masa pubertas awal dengan batasan usia 14-17 tahun, dan pubertas akhir atau adolesensi dengan batasan usia 17-21 tahun.

Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa dengan segala perubahan-perubahan yang dialami meliputi perubahan fisik, sosial, dan mental termasuk perubahan minat dan tujuan hidup dengan batasan usia 12-21 tahun. Penulis membatasi subjek penelitian

Dokumen terkait