• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Matthew dalam teori erikson,tahap ini muncul antara usia 12 sampai 20 tahun, berkorelasi dengan tahap genital perkembangan psikoseksual Freud. Erikson menjadi terkenal lantaran deskripsinya tentang tahap psikososial yang ini, persisnya karena di dalamnya mengandung konsepnya yang paling terkenal, krisis identitas.

Erikson yakin tahap ini merepresentasikan periode transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Di tahap-tahap sebelumnya, anak belajar siapa diri mereka dan apa yang dapat mereka lakukan, yaitu berbagai peran yang tersedia bagi mereka. Di tahap ini anak harus hati-hati mempertimbangkan semua informasi yang sudah dikumpulkan tentang diri dan masyarakat mereka, dan akhirnya mengikatkan diri mereka pada komitmen sejumlah strategi untuk menjalani hidup. Meraih sebuah identitas namun bukan seperti yang sudah dimilikinya. Erikson menyebut interval antara remaja sampai dewasa ini moratorium psikososial. Erikson (1964) mendeskripsikan dengan gamblang apa persisnya periode antara kanak-kanak dan dewasa ini seperti berikut:

Seperti pemain trapeze, anak muda berada di tengah gerakan yang berisiko, melepaskan pegangannya terhadap kanak-kanak dan melompat untuk meraih suatu pegangan yang kukuh di masa dewasa, bergantung interval napasnya antara masa lalu dan masa depan, dan bergantung reliabilitas hal-hal yang harus dilepaskan dan orang-orang yang akan

‘menerima’ mereka di ujung sana. (hlm. 90).

Karena identigas adalah sebuah konsep yang sangat kompleks, ia menganggap memang harus didekati dari banyak sudut.

59

Jika seorang dewasa muda tidak meninggalkan tahap ini dengan sebuah identitas, mereka akan meninggalkannya dengan sebuah kebingungan peran, bahkan mungkin dengan sebuah identitas negatif. Kebingungan peran dicirikan oleh ketidakmampuan memilih suatu peran di dalam hidup, karenanya memperpanjang moratorium psikologis hingga waktu tak terhingga, atau melakukan sejumlah komitmen yang dibuat-buat yang segera ditinggalkannya untuk membuat komitmen lain yang juga direka-reka. Sedangkan Erikson mendefinisikan

identitas negatif sebagai “identitas yang dibelokkan dari semua identifikasi dan peran yang, di tahap kritis perkembangan, sudah dinilainya tidak diinginkan atau berbahaya namun

menjadi yang paling nyata untuk dikejarnya” (1959, hlm. 131).

Jika anak-anak muda muncul dari tahap ini dengan identitas positif lebih daripada kebingungan peran atau identitas negatif, mereka juga akan muncul dengan kebajikan yang

disebut kesetiaan. Erikson mendefinisikan kesetiaan sebagai “kemampuan untuk

mempertahankan loyalitas dengan janji yang bebas diberikannya tak peduli kotnradiksi tak terelakkan dari sistem-sistem nilai tertentu” (1964, hlm. 125).

Tahap-tahap yang mendahului tahap ini menyediakan bagi anak kualitas-kualitas di mana sebuah identitas dapat diperoleh. Di tahap ini, seseorang harus mensintesis informasi ini. Berkembangnya sebuah identitas menandai akhir dari masa kanak-kanak dan dimulainya masa dewasa. Dari titik ini ke depan, hidup tak lebih dari bertindak sesuai identitas tersebut.

Sekarang karena seseorang ‘tahu siapa dirinya’, tugas di dalam hidup adalah mengembangkan ‘diri’ itu seoptimal mungkin di sisa hidupnya.

Ideologi versus Totalisme. Ritualisasi yang terdapat di tahap ini adalah ideologi. Remaja mencari sebuah ideologi yang dapat mensintesiskan semua perkembangan ego di tahap-tahap perkembangan sebelumnya. Ideologi membangkitkan sebuah rancangan

60

permainan bagi hidup, ia memberikan makna hidupnya. Sebuah identitas tidak dapat muncul sampai sebuah ideologi memampukan integrasi yang seperti itu. Sebuah ideologi yang dipilih bisa bersifat religius, politis atau filosofis. Satu-satunya syarat adalah bertindak sesuai ideologi ini lebih jauh entah dalam tujuan pribadi maupun budayanya.

Ritualisasi yang berlebihan atas ideologi akan menghasilkan ritualisme totalisme. Totalisme melibatkan sebuah komitmen yang mutlak terhadap ideologi-ideologi yang terlalu simplistik. Contohnya, para remaja mungkin menerima nilai-nilai yang disuarakan oleh

berbagai ‘pahlawan’ di pemujaan religius, kelompok musik, kultur narkoba, para atlet, para

gangster, aktor film, atau kelompok-kelompok politik. Menurut Erikson, ketika para remaja terlalu mengidentifikasi diri dengan kelompok atau individu tersebut, ini karena sepertinya mereka bisa menyediakan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan hidup yang paling mereka rasakan sulit.

Penting untuk diingat bahwa menurut prinsip epigenetik, semua krisis muncul di semua tahap perkembangan. Contohnya, krisis identitas eksis pada anak muda seperti juga pada orang dewasa, namun yang membedakan adalah tingkat kematangannya mencari resolusi. Karena alasan-alasan biologis, psikologis dan sosial, hanya di masa remaja krisis identitas muncul di titik krisisnya.37

Menurut Laura Berk diambil dari teori Erikson: Identitas vs. Kegamangan Peran. Erikson (1950, 1968) adalah orang pertama yang menganggap identitas (identity) sebagai pencapaian pribadi utama di usia remaja dan sebagai langkah penting menuju sosok dewasa yang produktif dan berguna. Pembentukan identitas melibatkan pendefinisian tentang siapa diri Anda, apa yang Anda hargai, dan arah yang Anda pilihan dalam menjalani hidup.

37 Matthew H. Olson B.R. Hergenhahn, Pengantar Teori-Teori Kepribadian, Edisi Kedelapan (Pustaka Pelajar,

61

Seorang pakar menggambarkan pembentukan identitas sebagai satu teori tegas tentang diri sendiri sebagai satu teori tegas tentang diri sendiri sebagai agen rasional – pribadi yang bertindak atas dasar alasan, bertanggung jawab atas tindakan tersebut, dan dapat menjelaskannya (Moshman, 2005. Pencarian jati diri yang sebenarnya ini memunculkan banyak pilihan – pekerjaan, hubungan antarpribadi, keterlibatan dalam masyarakat, keanggotaan kelompok etnik, ekspresi orientasi seksual seseorang, dan cita-cita moral, politik, dan keagamaan.

Meskipun benih pembentukan identitas sudah tertanam dari awal, remaja baru benar- benar bergelut dengan tugas ini saat memasuki masa remaja akhir dan masa dewasa awal. Menurut Erikson, dalam masyarakat yang kompleks, remaja mengalami krisis identitas (identity crisis) – masa periode menderita sementara karena mereka bereksperimen dengan banyak alternatif sebelum menetapkan pilihan nilai dan tujuan. Mereka melalui sebuah proses pencarian batin, memilah-milah karakteristik yang mendefinisikan diri di masa kanak-kanak dan memadukannya dengan watak, kemampuan, dan komitmen yang muncul. Kemudian, mereka mematri semua watak ini menjadi sebuah inti batin yang memberikan suatu identitas matang –rasa kesinambungan diri saat mereka melangkah melalui berbagai peran dalam kehidupan sehari-hari. Setelah terbentuk, identitas terus disempurnakan di masa dewasa saat orang menilai kembali komitmen dan pilihan terdahulu.

Erikson menyebut konflik psikologis di masa remaja sebagia konflik identitas vs. kegamangan peran (identity versus role confusion). Bila konflik yang dihadapi oleh remaja sebelumnya diselesaikan dalam cara negatif atau bila masyarakat membatasi pilihan mereka pada pilihan-pilihan yang tidak sejalan dengan kemampuan dan kemauan mereka, mereka terkesan picik, tanpa arah, dan tidak siap menghadapi tantangan masa dewasa.

62

Para teoretisi saat ini mengamini pendapat Erikson bahwa mempertanyakan nilai, rencana, dan prioritas penting bagi identitas dewasa, tetapi mereka tidak lagi menggambarkan proses ini sebagia sebuah “krisis” (Grotevant, 1998; Korger, 2005). Kebanyakan anak muda tidak menganggap perkembangan identitas itu sebagai traumatis dan mengganggu, melainkan sebagai sebuah proses eksplorasi (exploration) yang diikuti dengan komitmen (commitment). Ketika remaja mencoba-coba segala peluang hidup, mereka mengumpulkan informasi penting mengenai diri dan lingkungan mereka dan teurs menlangkah mengambil keputusan-keputusan yang bertahan lama. Dalam melakukan hal itu, mereka menempa sebuah struktur diri yang terorganisasi (Arnett, 2000, 2006; Moshman, 2005). Dalam bagian berikut, kita akan melihat bahwa remaja menjalankan tugas pendefinisian diri dalam cara yang mirip dengan deskripsi Erikson.38

Menurut singgih gunarsa Kepribadian yang belum matang (immature personality), pada masa ini. menurut pandangan Erik Erikson (Papalia et al., 1998), remaja memasuki masa pencarian dan pembentukan identitas dir (self identity). Dalam hal ini kepribadian remaja belum mencapai kematangan (immaturity). Menurut para ahli psikologi perkembangan, pribadi yang tidak matang ditandai oleh sifat keragu-raguan (indecisiveness) dalam mengambil sesuatu keputusan (Elkind dlm. Papalia et al., 1998), kurang percaya diri atau harga diri rendah (Thomburg, 1982), kurang mampu mengontrol emosi dan perilaku (Santrock, 1999). Keadaan ini memungkinkan remaja untuk mudah dipengaruhi hal-hal yang positif maupun negatif oleh lingkungan eksternal. Bila ia memperoleh pengaruh positif, hal ini akan menguntungkan bagi perkembangan kepribadiannya, misalnya mengembangkan kegiatan ilmiah dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja. Sebaliknya, ia pun akan dapat

38Laura E. Berk. Develepment Through The Lifespan. Buku 1 Edisi Kelima Transisi Menjelang Dewasa

63

memperoleh pengaruh negatif, sehingga remaja akan mudah terjerumus pada tindakan yang negatif pula, misalnya ikut terlibat dalam penyalahgunaan narkoba.39

Menurut Pandangan Erikson dari bukunya John W. shartok Erik Erikson (1950, 1968) adalah tokoh pertama yang memahami betapa pentingnya pertanyaan-pertanyaan mengenai identitas untuk memahami perkembangan remaja. Teori Erikson telah diperkenalkan di bab 1. Ingatlah tahap kelima dari perkembangan, tahap yang dialami individu di masa remaja, yaitu terhadap identitas versus kebingungan identitas (identity versus identity confusion). Menurut Erikson, di masa ini, remaja harus memutuskan siapakah dirinya, bagaimanakah dirinya, tujuan apakah yang hendak diraihnya.

Pencarian identitas yang berlangsung di masa remaja ini juga disertai oleh berlangsungnya moratorium psikososial (psychosocial moratorium), istilah yang digunakan oleh Erikson untuk merujuk pada kesenjangan antara keamanan ankanak-kanak dan otonomi orang dewasa. Selama periode ini, masyarakat secara relatif membiarkan remaja bebas dari tanggung jawab dan bebas mencoba berbagai identitas. Remaja bereksperimen dengan berbagai peran dan kepribadian. Pada suatu waktu mereka ingin mengejar sebuah karier (sebagai contoh, menjadi seorang pengacara) dan karier lain di waktu lainnya (dokter, aktor, guru, pekerja sosial, atau astronot, contohnya). Mereka mungkin berpakaian rapi di suatu hari, namun tidak rapi di hari berikutnya. Eksperimen ini merupakan usaha yang dilakukan dengan disengaja oleh remaja agar dapat menemukan kesesuaian mereka di dunia. Sebagian besar remaja bahkan membuang peran yang tidak disukai.

Remaja yang berhasil mengatasi konflik identitas akan tumbuh dengan penghayatan mengenai diri yang menyegarkan dan dapat diterima. Remaja yang tidak berhasil mengatasi krisis identitas menderita apa yang disebut Erikson sebagai kebingungan identitas.

64

Kebingungan ini dapat menggejala ke dalam dua bentuk: menarik diri, mengisolasi diri dari kawan sebaya dan keluarga, atau mereka meleburkan diri ke dalam dunia kawan sebaya dan kehilangan identitasnya di tengah crowd-nya.40

Menurut bukunya Singgih Gunarsa menemukan model untuk identifikasRemaja pada masa ini sedang merenggangkan diri dari ikatan emosional dengan orangtuanya. Mereka sedang membongkar landasan hidup, yang sudah diletakkan orangtuanya sepanjang masa anak.

Menruut E.H. Erikson pada masa ini remaja harus menemukan identitas diri. Ia harus memiliki gaya hidup sendiri yang bisa dikenal dan ajek walaupun mengalami berbagai macam perubahan. Pada waktu menjalani dan mengalami perubahan pertumbuhan badan dan kematangan seksual yang baru baginya, remaja mempertanyakan pandangan orang tentang dirinya maupun pandangan dirinya mengenai dirinya sendiri. Peranan dan kemampuannya memerlukan orientasi baru tertuju pada tuntutan dan persiapan bagi penempatan suatu posisi dalam masyarakat. Dari semua kemampuan yang telah diperolehnya akan dipilihnya kemampuan, yang diharapkan bisa diamalkan pada kesempatan yang timbul pada masa dewasa. Melalui proses pemilihan yang kritis dan cara mencobakan berbagai kemampuan, remaja mengarahkan diri pada kemungkinan yang tersedia baginya kelak. Secara bertahap remaja memilih dan memenuhi kewajiban dan persyaratan berhubung dengan ikatan-ikatan pribadi berkaitan dengan kayakinan hidup yang telah dipilihnya dan pekerjaannya. Dengan

demikian gaya hidup yang khas baginya akan jelas terlihat dari terbentuknya “identitas diri”

dalam menduduki tempatnya di masyarakat.

Ikatan pribadi pada masa ini sangat penting untuk pembentukan identitas diri.

Hubungan dengan orang dewasa dalam lingkungan keluarga, dapat dikatakan sedang di”peti

65

es-kan”. Banyak pengetahuan mengenai peranan dan pekerjaan sangat diperlukan untuk memperoleh ruang lingkup pilihan yang luas. Pengetahuan dan contoh nyata dalam kehidupan harus didapatkannya dari model di masyarakat. Model orang yang patut dicontoh baik tingkahlakunya maupun kepribadiannya. Orang yang pantas menjadi model sedapat mungkin memiliki sifat-sifat, sika-sikap, pandangan-pandangan yang sehat, penuh tanggungjawab di samping berkemampuan swasembada dan berhasil. Seorang yang sukses dalam roda kehidupan masyarakat dan dikagumi remaja, mudah dijadikan model identifikasi. Remaja melihat tokoh yang dikagumi, ingin menjadi sama dengan tokoh tersebut. Sejauh mana perasaan bisa dicapainya, tergantung dari kemampuan dan kesempatan baginya.

Masalah yang sering timbul dalam menunaikan tugas perkembangan ini terletak pada

“langkahnya” tokoh identifikasi yang patut dijadikan model bagi remaja. Bagi tokoh diambil

dari dunia perfilman, yang menonjolkan kekerasan dan agresifitas. Demi generasi baru yang lebih baik, perlu lebih banyak tokoh masyarakat yang berhasil dalam hidupnya, bukan hanya untuk dirinya, melainkan untuk masyarakat umum. Dengan demikian remaja dapat mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh-tokoh yang mementingkan kepentingan umum dan kesejahteraan sosial. Dalam usaha mengidentifikasikan diri dengan tokoh yang dikagumi, tentunya harus dilhat pula kemampuan manakah bisa menunjang tercapainya idaman tersebut.41

Menurut penney upton Masa remaja (12 hingga 18 tahun)Konflik dasar identitas versus kebingungan peran, peristiwa penting hubungan sosial, hasil remaja perlu mengembangkan rasa diri dan identitas pribadi. Keberhasilan memunculkan kemampuan

41Singgih D. Gunarsa dan Yulia Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (Jakarta: PT BPK

66

untuk tetap yakin pada diri sendiri, sedangkan kegagalan mengakibatkan kebingungan peran dan rasa diri yang lebih42.

Tahap Pubertas (Tahap Genital) menurut pendapat William CrainMasa remaja juga terganggu dan kacau lantara konflik dan tuntutan sosial yang baru. Tugas utama remaja, kata Erikson, adalah membangun pemahaman baru mengenai identitas ego – sebuah perasaan tentang siapa dirinya dan apa tempatnya di tatanan sosial yang lebih besar. Krisis ini merupakan salah satu dari krisis identitas versus kebingungan peran.

Karena remaja merasa tidak begitu pasti dengan siapa dirinya mereka pun sangat

bersemangat untuk mengidentifikasi diri dengan ‘geng tertentu’. Mereka bisa “menjadi sangat nge-geng, tidak toleran, dan kejam waktu mengucilkan orang lain yang ‘berbeda’ dari

mereka...”

Walaupun pembentukan-identitas merupakan proses seumur hidup, tapi masalah identitas ini mencapai krisisnya di masa remaja. Inilah waktu bagi terjadinya begitu banyak perubahan batin, begitu banyaknya sampai-sampai komitmen masa depan dipertaruhkan di titk ini. Dan di waktu-waktu seperit ini, identitas sebelumnya jadi tampak tidak adekuat bagi semua pilihan dan keputusan yang harus dibaut sekarang.

Sebagai contoh Erikson (1959, h.123) melukiskan seorang mahasiswi yang berlatarbelakang konservatif baru masuk kuliah. Sesapainya di kampus, dia bertemu banyak orang dari bermacam-macam latar belakang, dan dari antara semuanya itu, dia harus memilih teman-teman dekatnya. Dia juga harus memutuskan bagaimana sikapnya terhadap seks dan pekerjaan apa yang harus diperjuangkannya nanti. Di titik ini identitas dan identifikasinya saat itu memberinya sedikit pertolongan. Setiap keputusan tampaknya meneguhkan sejumlah aspek masa lalunya dan mengabaikan sejumlah aspek yang lain. Jika, contohnya, dia

67

memutuskan untuk menjadi aktif secara seksual, maka dia akan mengganggu nilai-nilai keluarga yang dipegangnya selama ini dan melukai harapan-harapan tersembunyi mereka. Jika dia memilih untuk bersaing memperoleh pekerjaan yang didominasi pria, seperti kedokteran atau hukum, maka dia akan menabrak sejumlah nilai keluarganya namun mempertahankan nilai-nilai lain. Karena itu, ketika membuat keputusan dan komitmen, dia mengkaji lagi pengidentifikasian-diri yang sudah dibuat sebelumnya dan membentuk sebuah identitas baru. Tugasnya adalah menempa bagi dirinya bisa jadi berbeda total dair pandangan dan harapan-harapannya di masa kecil, semata-mata demi menyongsong masa dewasanya” (Erikson, 1958, h.124-126).

Remaja sering kali menunda komitmen apa pun karena kebutuhan batinya untuk menghindari identitas yang terlalu mapan, sebuah perasaan terlalu prematur untuk menerima peran-peran sosial yang terkotak-kotakkan.

Tugas utama masa remaja, kalau begitu, menemukan sejumlah cara hidup di mana kita bisa membuat komitmen permanen. Perjuangan di tahapan ini membawa mereka pada kekuatan ego baru dalam bentuk kesetiaan-sebuah kemapuan untuk mempertahankan loyalitas yang sudah diniati sejak dulu (1964, h.125).43

Menurut pendapat dari Jeas feist Identitas versus Kebingungan Identitas, pencarian terhadap identitas ego mencapai sebuah klimaks selama masa remaja ketika anak mudah berjuang untuk menemukan siapa mereka dan siapa yang bukan mereka. Dengan kedatangan pubertas, masa remaja mencari peran-peran baru untuk membantu mereka menemukan identitas seksual, ideologis, dan pekerjaan mereka. Dalam pencarian ini, anak-anak muda menggunakan beragam gambar-gambar dirinya yang sudah diterima atau ditolak sebelumnya. Kalau begitu, benih identitas ini sudah bersemi selama masa bayi, dan terus

68

tumbuh selama masa kanak-kanak, usia bermain, dan usia sekolah. Kemudian pada masa remaja, identitas menguat menjadi sebuah krisis ketika anak muda belajar mengatasi konflik psikososial identitas versus kebingungan identitas.

Sebuah krisis identitas bisa bertahan selama bertahun-tahun dan dapat menghasilkan kekuatan ego yang kuat atau lemah.

Menurut Erikson (1982), identitas muncul dari dua sumber: (1) afirmasi atau penolakan remaja terhadap identifikasi kanak-kanak, dan (2) konteks historis dan sosial mereka, yang mendukung konformitas bagi standar-standar tertentu. Anak muda sering kali menolak standar-standar orangtua mereka, lebih menyukai penilaian teman sekolompok atau geng sebayanya. Dalam peristiwa apa pun, masyarakat menjadi tempat mereka memainkan peran yang substansial dadlam upaya mereka memainkan peran yang substansial dalam upaya mereka membentuk identitas-diri.

Identitas bisa juga didefinisikan secara positif maupun negatif ketika para remaja memutuskan ingin menjadi apa mereka dan apa yang mereka yakini, sembari menemukan juga bahwa mereka tidak ingin menjadi apa dan apa yang tidak mereka percayai. Sering kali mereka harus menolak kebajikan orangtua ataukah nilai kelompok sebayanya, sebuah dilema yang semakin meningkatkan kebingungan identitas mereka.

Kebingungan identitas adalah sindrom masalah yang mencakup gambar diri yang terpecah-belah, sebuah ketidakmampuan membangun keintiman, perasaan kemendesakan waktu, kurangnya konsentrasi pada tugas-tugas yang disyaratkan, dan penolakan terhadap standar keluarga atau komunitas. Sama seperti kecenderungan distonik lain, beberapa kebingungan identitas adalah normal sekaligus dibutuhkan. Anak muda harus mengalami beberapa keraguan dan kebingungan tentang siapa mereka sebelum dapat mengembangkan

69

identitas yang stabil. Mereka bisa saja mingga dari rumah (seperti yang dilakukan Erikson) untuk mengembara sendiri dalam pencarian dirinya, bereksperimen dengan obat-obatan dan seks, mengidentifikasi diri dengan geng jalanan, bergaung dengan kelompok keagamaan, atau memberontak terhadap masyarakat di sekitarnya tanpa mendapatkan jawaban alternatif. Atau bisa saja mereka cukup bersahaja dan cukup menimbang-nimbang di mana tempat mereka akan cocok dengan dunia dan nilai apa yang paling mereka anut.

Meskipun kebingungan identitas adalah bagian tak teralakan dari pencarian kita akan identitas, terlalu banyak kebingungan dapat mengarah kepada penyesuaian patologis dalam bentuk regresi bagi tahap-tahap perkembangan sebelumnya. Kita mungkin bisa menangguhkan tanggung jawab msa dewasa dan mendorongnya tanpa tujuan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dari satu pasangan seksual ke pasangan lain, atau dari sebuah ideologi ke ideologi lain. Sebaliknya, jika sanggup mengembangkan proporsi identitas akan memiliki: (1) kepercayaan pada sejumlah prinsip ideologis, (2) kemampuan untuk memutuskan bagaimana semestinya kita bersikap, (3) percaya kepada rekan-rekan sebaya dan orang dewasa yang memberi kita nasihat tentang tujuan-tujuan dan aspirasi-aspirasi, dan (4) keyakinan pada pilihan kita mengenai sebuah pekerjaan yang cocok.

Kesetiaan: Kekuatan Dasar Masa Remaja

Kekuatan dasar yang muncul dari krisis identitas remaja adalah kesetiaan (fidelity), atau keyakinan penuh pada ideologi tertentu. Setelah menetapkan standar-standar internal mereka tentang hubungan, para remaja tidak lagi memerlukan bimbingan orangtua namun memiliki keyakinan pada ideologi religius, politik dan sosial mereka sendiri.

Rasa percaya yang dipelajari pada masa bayi adalah dasar bagi kesetiaan pada masa remaja. Anak-anak muda harus belajar memercayai orang lain sebelum dapat memiliki iman

70

dalam pandangan mereka sendiri tentang masa depan. Setelah mengembangkan harapan selama masa bayi, sekarang mereka harus mengikuti harapan itu dengan kekuatan dasar lainnya – kehendak, tujuan dan kompetensi. Setiap komponen ini adalah prasyarat bagi kesetiaan, sama seperti kesetiaan sangat esensial bagi pencapaian kekuatan-kekuatan ego selanjutnya.

Kebalikan patologis dari kesetiaan adalah penolakan peran, patologi inti masa remaja yang menghalangi kemampuan seseorang mensintesiskan beragam gambar-diri dan nilai menjadi sebuah identitas yang beroperasi secara aktual. Penolakan peran dapat mengambil bentuk pengecutan atau perlawanan (Erikson, 1982). Kepengecutan (diffience) adalha kekurangan kepercayaan-diri atau keyakinan-diri ekstrem yang terekspresikan sebagai sikap malu-malu (shyness) atau keengganan mengekspresikan diri. Sebaliknya, perlawanan (defiance) adalah tindakan pemberontakan terhadap otoritas. Para remaja yang biasanya memegang dengan penuh kekeras-kepalaan keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang tidak bisa diterima secara sosial disebabkan hanya karena keyakinan dan praktik tersebut tidak bisa diterima. Namun sejumlah penolakan peran, kata Erikson, dibutuhkan bukan hanya karena mengizinkan remaja mengembangkan identitas pribadi mereka namun, juga karena hal ini menyuntikkan sejumlah ide baru dan vitalitas baru ke dalam struktur sosial44

Dokumen terkait