• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Matthew ,tahap ini berlangsung sejak usia 6 tahun hingga sekitar 11 tahunan, berkorelasi dengan tahap latensi perkembangan psikoseksual Freud. Umumnya sebagian besar anak sibuk bersekolah di usia-usia ini, dan di tahap ini anak belajar banyak keterampilan yang dibutuhkan bagi kelangsungan ekonomi, keterampilan-keterampilan teknologis yang akan memampukan mereka menjadi anggota yang produktif dalam budaya mereka:

Panggung batin seperti dipersiapkan bagi ‘pintu masuk menuju kehidupan’, kecuali

hidup itu pertama-tama haruslah berada di dalam kehidupan sekolah, entah sekolahnya di lapangan atau hutan atau ruang kelas. Anak harus melupakan harapan dan keinginan di masa lalu, sedangkan imajinasinya yang dinamis harus dijinakkan dan ditundukkan pada hukum- hukum tentang benda-benda yang tak bernyawa – bahkan ca-lis-tung. Karena sebelum anak secara psikologis siap menjadi orangtua beneran dapat menjadi orangtua biologis lebih dulu, namun dia tetap harus mulai menjadi seorang pekerja dan penyedia yang potensial. (Erikson, 1985, hlm. 258-259).

Sekolah adalah tempat anak dilatih bagi pekerjaan di masa depan dan penyesuaian dengan budayanya. Karena kelangsungan hidup mensyaratkan kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain, keterampilan sosial termasuk di antara pelajaran yang penting diajarkan sekolah. Namun, pelajaran yang paling penting yang dipelajari anak di tahap ini

adalah “kesenangan menyelesaikan tugas lewat perhatian yang terus-menerus dan

memelihara kerajinan” (Erikson, 1985, hlm. 259). Dari pelajaran ini datanglah rasa

52

kegigihan, yang menyiapkan anak untuk mencari dengan penuh kepercayaan diri tempat- tempat yang produktif di dalam masyarakat di antara individu-individu lainnya.

Jika anak tidak mengembangkan rasa kegigihan, mereka akan mengembangkan perasaan inferioritas, menyebabkan mereka hilang keyakinan akan kemampuan diri mereka untuk bisa menjadi anggota masyarakat yang memberikan sebuah kontribusi. Anak-anak

yang seperti ini cenderung mengembangkan sebuah ‘identitas negatif’, sebuah konsep yang

akan dijelaskan di dalam diskusi kita terkait tahap berikutnya.

Bahaya lain yang muncul di tahap ini adalah anak di kemudian hari terlalu melebihkan nilai dari posisi mereka di tempat kerja. Untuk orang yang seperti ini, kerja disamakan dengan hidup, dan karenanya dibutakan dari banyak aspek penting lain eksistensi manusia. “Jika ia menerima kerja sebagai satu-satunya kewajibannya, dan ‘kerja apa’ sebagai satu-satunya kriterianya tentang keberhargaan, dia dapat menjadi seorang pendukung dan budak yang tidak berpikir jernih tentang teknologi yang dikuasainya dan mereka-mereka

yang berada suatu posisi yang mengeksploitasi dirinya” (Erikson, 1985, hlm. 261). Menurut

Erikson, keterampilan yang dibutuhkan bagi pekerjaan di masa depan memang harus diperkuat di tahap ini namun bukan dengan mengabaikan atribut-atribut lain yang penting dari manusia.

Jika rasa kegigihan anak lebih besar daripada rasa inferioritasnya, mereka akan

meninggalkan tahap ini dengan kebajikan berupa kompetensi. “Kopetensi ... adalah latihan

bebas ketahanan dan kecerdasan dalam menyelesaikan tugas-tugas, tidak terhalang oleh

53

olok-olok atau kurangnya perhatian dari individu-individu yang dianggap paling penting oleh anak-anak.29

Semangat versus rasa rendah diri (industry versus inferiority) adalah tahap keempat dari perkembangan menurut Erikson dan berlangsung di masa sekolah dasar. Prakarsa anak- anak membawa mereka terlibat dalam kontak dengan pengalaman-pengalaman baru yang kaya. Ketika mereka beralih ke masa kanak-kanak pertengahan dan akhir, mereka mengarahkan energinya untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan intelektual. Tidak ada saat lain yang lebih penuh semangat atau antusiasme untuk belajar dibandingkan pada akhir periode pengembangan imajinasi pada masa kanak-kanak awal. Bahaya yang dihadapi di masa sekolah dasar adalah anak dapat mengembangkan rasa rendah diri – merasa tidak kompeten dan tidak produktif.30

Industri versus Inferioritas menjelaskan delapan tahap perkembangan manusia milik Erik Erikson (1968). Tahap keempatnya, industri versus inferioritas, terjadi selama masa kanak-kanak pertengahan dan akhir. Istilah industri menunjukkan tema dominan periode ini: Anak-anak tertarik pada asal mula sebuah benda dan cara kerjanya. Ketika anak-anak didorong untuk berusaha membuat, membangun, dan menjadikan benda itu bekerja – membuat pesawat mainan, membangun rumah pohon, memperbaiki sepeda, menyelesaikan masalah, atau memasak – perasaan mereka terhadap industri meningkat. Meskipun demikian, orang tua yang menganggap usaha anak mereka dalam menciptakan sesuatu itu sebagia

“kenakalan” atau “membuat kekacauan” akan memberikan rasa interioritas pada anak.

Dunia sosial anak di luar keluarga mereka pun berkontribusi terhadap rasa industri. Sekolah menjadi sangat penting dalam hal ini. Misalkan saja anak-anak yang kecerdasannya

29 Matthew H. Olson B.R. Hergenhahn, Pengantar Teori-Teori Kepribadian, Edisi Kedelapan (Pustaka Pelajar,

Yogyakarta: 2013), 296-297

54

sedikit di bawah rata-rata. Anak-anak tersebut terlalu pandai bagi sekolah luar biasa namun kurang cerdas untuk kelas anak-anak jenius. Anak-anak tersebut sering kali tidak bagus nilainya, sehingga menimbulkan rasa inferioritas. Sebaliknya, perhatikan anak-anak yang rasa industrinya diciutkan di rumah. Guru-guru yang sensitif dan berkomitmen mungkin akan membantu mengembalikan rasa industri tersebut di sekolah (Elkind, 1970).31

Menurut penney upton,usia sekolah (6 hingga 11 tahu) Konflik dasar indistri versus inferioritas, peristiwa penting sekolah, hasil anak-anak perlu mengatasi tuntutan-tuntutan sosial dan akaemik baru. Keberhasilan memunculkan rasa berkemampuan, sedang kegagalan memunculkan peraana inferioritas.32

Tahap Latensi menurut William Crain, bahaya di tahapan ini adalah perasaan berlebih-lebihan ketidaktepatan dan inferioritas. Kebanyakan dari kita mungkin masih ingat rasa sakit dari kegagalan di kelas atau diperolok-olok di taman bermain. Namun perasaan inferior yang terlalu mendalam memiliki akar yang sangat beragam. Bisa jadi anak menemui kesulitan di tahap ini karena tidak berhasil menyelesaikan konflik di tahap-tahap sebelumnya. Contohnya, di tahap kedua seorang gadis kecil mungkin lebih banyak mengembangkan keraguan daripada otonomi, sehingga dia tidak merasa pasti akan dirinya sendiri saat berusaha menguasai tugas-tugas baru. Namun bisa juga sikap sekolah dan komunitas menghalangi perkembangan anak untuk memahami kegigihan.

Erikson (1959, h.87) berulang kali menemukan bahwa di dalam kehidupan orang- orang yang penuh inspirasi besar dan bertalenta tinggi, ternyata gurulah yang dulu sudah membuat dia merasa berbeda dan unik, dengan mendukung talenta-talentanya sewaktu dia masih kecil. Dan keberhasilan memecahkan masalah di tahap ini akan membawa anak

31John W. Santrock, Life Span Development (Jakarta: Erlangga, 2012) p.364. 32Penney Upton. Psikologi Perkembangan. (Jakarta: Erlangga, 2012), p.254-255

55

kepada penguatan ego yang disebut Erikson kompetensi – sebuah latihan intelegensia dan kemampuan secara bebas dalam menyelesaikan tugas-tugas, tanpa diganggu perasaan inferioritas y ang berlebihan (1964, h.124).33

Produktivitas versus Inferioritas (Industry vs Inferiority)

Ketidakaekuatan di tahap-tahap sebelumnya juga dapat memberikan kontribusi bagi perasaan inferioritas anak anak. Contohnya, jika anak mendapatkan terlalu banyak rasa bersalah dan terlalu sedikit tujuan selama usia bermain, mereka tampaknya akan merasa inferior gitu, kegagalan tidak bisa dielakkan. Erikson cukup optimis bahwa setiap orang akan berhasil mengatasi krisis di tahap mana pun meskipun mereka belum berhasil penuh di tahap sebelumnya.

Proporsi antara produktivitas dan inferioritas mestinya lebih mendukung kepada produktivitas. Namun inferioritas, seperti kualitas-kualitas distonik lainnya, tidak bisa dihindari. Seperti yang dikatakan Alfred Adler (Bab 3), inferioritas bisa berfungsi sebagai motivasi untuk manusia melakukan yang terbaik. Sebaliknya, terlalu tenggelam dalam inferioritas dapat memblokir aktivitas produktif dan melemahkan perasaan kompetensi manusia.

Komptensi: Kekuatan Dasar Usia Sekolah

Dari konflik produktivitas versus inferioritas, anak-anak usia sekolah mengembangkan kekuatan dasar kompetensi-yaitu kepercayaan diri menggunakan kemampuan fisik dan kognitif untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul di usia sekolah.

Jika perjuangan antara produktivitas dan inferioritas terlalu mengarah kepada inferioritas atas produktivitas yang berlebihan, anak-anak akan cenderung mudah menyerah

56

dan mundur ke tahap perkembangan sebelumnya. Mereka bisa jadi terlalu asyik dengan fantasi-fantasi genital dan Oedipal infantilnya, dan menghabiskan banyak waktu dalam permainan yang tidak produktif. Regresi ini disebut kelembaman/inersia (inertia), antitesis dari kompetensi dan menjadi patologi inti usia sekolah.34

Menurut pendapat Erik H Erikson produktivitas versus inferioritas, tahap batin ini

tampaknya semua merupakan persiapan untuk “memasuki kehidupan”, kecuali bahwa

kehidupan yang pertama haruslah kehidupan sekolah, terlepas apakah sekolah adalah sebuah ladang atau hutan atau ruang kelas. Anak harus melupakan harapan-harapan dan keinginan- keinginannya di masa lalu, sementara imajinasi mereka yang tumbuh subur dijinakkan dan diikatkan pada hukum benda-benda yagn bersifat umum – Three R’s (Tiga R, Reading, wRiting, aRithmetics, membaca, menulis, berhitung). Hal ini karena sebelum anak, yang secara psikologis sudah menjadi orangtua yang belum sempurna, dapat menjadi seorang orangtua biologis, ia harus mulai dengan menjadi seorang pekerja dan penyedia potensial.

Di semua budaya, anak-anak pada tahap ini menerima instruksi sistematik tertentu, meskipun, seperti yang kita lihat di bab tentang orang-orang Indian Amerika, belum tentu selalu dalam bentuk sekolah yang oleh orang-orang yang melek huruf harus diorganisasikan di seputar guru-guru khusus yang harus belajar tentang bagaimana cara mengajarkan melek huruf.

Bahaya anak, pada tahap ini, terletak pada perasaan tidak adekuat dan inferioritas. Kalau ia putus asa dengan alat-alat dan keterampilan-keterampilannya atau statusnya di antara partner-partner alatnya, ia mungkin kehilangan semangat untuk mengidentifikasikan diri dengan mereka dan dengan salah satu bagian dunia alat. Kehilangan harapan akan

asosiasi “industrial” seperti itu dapat mendorongnya kembali ke persaingan familiar yang

57

lebih terisolasi dan kurang sadar alat seperti masa oedipalnya dulu. Keputusasaan anak atas perlengkapannya di dunia alat dan di dalam anatomi, dan menganggap dirinya dijebloskan ke keadaan yang sedang-sedang saja atau tidak adekuat.

Di bagian sebelumnya kami telah menyebutkan tentang bahaya yang mengancam individu dan masyarakat ketika anak sekolah mulai merasa bahwa warna kulitnya, latar belakang orangtuanya, atau gaya pakaiannya, dan bukan keinginan dan kemauannya utnuk belajar, yang akan menentukan harga dirinya sebagai pelajar, perasaan identitas dirinya.35

Menurut John W. Sartock Industri versus Inferioritas, menjelaskan delapan tahap perkembangan manusia milik Erik Erikson (1968). Tahap keempatnya, industri versus inferioritas, terjadi selama masa kanak-kanak pertengahan dan akhir. Istilah industri menunjukkan tema dominan periode ini: Anak-anak tertarik pada asal mula sebuah benda dan cara kerjanya. Ketika anak-anak didorong untuk berusaha membuat, membangun, dan menjadikan benda itu bekerja – membuat pesawat mainan, membangun rumah pohon, memperbaiki sepeda, menyelesaikan masalah, atau memasak – perasaan mereka terhadap industri meningkat. Meskipun demikian, orang tua yang menganggap usaha anak mereka

dalam menciptakan sesuatu itu sebagia “kenakalan” atau “membuat kekacauan” akan

memberikan rasa interioritas pada anak.

Dunia sosial anak di luar keluarga mereka pun berkontribusi terhadap rasa industri. Sekolah menjadi sangat penting dalam hal ini. Misalkan saja anak-anak yang kecerdasannya sedikit di bawah rata-rata. Anak-anak tersebut terlalu pandai bagi sekolah luar biasa namun kurang cerdas untuk kelas anak-anak jenius. Anak-anak tersebut sering kali tidak bagus nilainya, sehingga menimbulkan rasa inferioritas. Sebaliknya, perhatikan anak-anak yang

58

rasa industrinya diciutkan di rumah. Guru-guru yang sensitif dan berkomitmen mungkin akan membantu mengembalikan rasa industri tersebut di sekolah (Elkind, 1970).36

Dokumen terkait