• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

C. Remaja

1. Definisi Remaja

Penggolongan remaja menurut Thornburg (dalam Dariyo, 2004) terbagi kedalah tiga tahap yaitu remaja awal (usia 13-14 tahun), remaja tengah (usia 15-17 tahun), dan remaja akhir (usia 17-21 tahun). Pada masa remaja awal, umumnya individu berada di bangku Sekolah Menengah Pertama. Remaja tengah, berada di jenjang sekolah tingkat kedua atau SMA dan remaja akhir berada dalam jenjang pendidikan sekolah menengah atas hingga lulus SMA sampai perguruan tinggi.

Pada masa remaja, kelompok teman sebaya memiliki peran yang penting dalam perkembangan remaja baik secara emosional maupun secara sosial. Buhrmester (Papalia, 2008) mengatakan kelompok teman sebaya merupakan sumber afeksi, simpati, pemahaman panduan moral, tempat bereksperimen, dan setting untuk mendapatkan otonomi dan independensi dari orang tua. Piaget (Ali, 2009) remaja adalah usia individu yang terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, anak tidak merasa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama atau paling tidak sejajar.

Istilah adolescent atau remaja berasal dari bahasa Latin adolescere yang berarti “ tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Dalam budaya Amerika, periode remaja dipandang sebagai masa “Strom dan Stress”, frustasi, penderitaan, konflik, krisis penyesuaian, mimpi, melamun tentang cinta, dan perasaan teralinesasi (tersisihkan) dari kehidupan sosial budaya orang dewasa (Lustin Pikunas, dalam Yusuf, 2011).

Remaja (adolescent) diartikan sebagai perubahan perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa yang mengakibatkan perubahan fisik, kognitif, dan psikososial (Papalia, 2014). Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan jika remaja sudah tidak termasuk golongan anank-anak, akan tetapi belum dapat diterima secara penuh untuk memasuki golongan dewasa. Masa remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan remaja adalah suatu perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional yang ditandai dengan perkembangan fungsi seksual, proses berfikir abstrak dan kemandirian dengan batasan usia antara 12-21 tahun. Peneliti mengambil subjek penelitian dengan rentang usia 17-21 tahun atau yang disebut dengan masa remaja akhir.

2. Hakekat Perkembangan Remaja

Perkembangan (development) adalah suatu pola pergerakan dan perubahan yang dimulai pada waktu konsepsi dan berlanjut sepanjang siklus kehidupan pada remaja. Perkembangan yang dialami mencakup pertumbuhan, walaupun juga mencakup penurunan.

Proses dari perkembangan yang terjadi pada remaja meliputi proses perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Proses perubahan tersebut adalah

a. Proses Biologis

Proses biologis (biological processes) mencakup perubahan-perubahan yang melibatkan fisik individu tersebut. Gen yang orang tua wariskan pada anak, seperti perkembangan otak, pertambahan tinggi badan, berat badan, keterampilan motorik, dan perubahan hormonal. Perubahan tersebut merefleksikan proses perkembangan biologis dalam proses perkembangan remaja. Pada masa remaja akhir, proporsi tubuh individu mencapai proporsi tubuh orang dewasa dalam semua bagiannya.

Dalam perkembangan seksualitas remaja ditandai dengan dua ciri, yaitu ciri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder. Ciri-ciri seks primer pada remaja pria ditandai dengan pertumbuhan testis, setelah testis tumbuh, penis mulai

bertambah panjang, pembuluh mani dan kelenjar prostat semakin membesar. Matangnya organ-organ seks tersebut, memungkinkan remaja pria mengalami “mimpi basah”. Pada remaja wanita, kematangan organ-organ seksnya ditandai dengan tumbuhnya rahim, vagina, dan ovarium. Pada masa inilah, untuk pertama kalinya remaja wanita mengalami “menarche”, peristiwa “ menarche” diikuti oleh menstruasi yang terjadi dalam interval yang tidak beraturan.

Ciri-ciri seks sekunder pada masa remaja pria adalah tumbuh rambut pubik atau bulu kapok disekitar kemaluan atau ketiak, terjadi perubahan suara, tumbuh kumis, dan tumbuh jakun. Sedangkan pada wanita tumbuh rambut pubik atau bulu kapok disekitar kemaluan dan ketiak, bertambah besar buah dada, dan bertambah besarnya pinggul (Yusuf, 2011).

b. Proses Kognitif

Proses kognitif (cognitive processes) meliputi perubahan dalam pikiran, inteligensi dan bahasa individu. Perubahan tersebut dapat terlihat dari aktifitas menghafal rumus matematika, menghafal materi perkuliahan, dan membayangkan kehidupan kedepan.

Menurut Piaget masa remaja sudah mencapai tahap oprasi formal, remaja sudah dapat berpikir logis tentang berbagai gagasan yang abstrak. Proses pertumbuhan otak mencapai

kesempurnaan, dan berat otak sudah menyamai orang dewasa (Yusuf, 2011).

c. Proses Sosial-Emosional

Proses sosial-emosional (socio-emotional processes) meliputi perubahan hubungan individu dengan manusa lain, hal ini juga berkaitan dengan emosi, keperibadian, dan peran dari konteks sosial perkembangan. Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi yang tinggi.

Pertumbuhan fisik terutama organ-organ seksual mempengaruhi berkembangannya emosi atau perasaan dan dorongan-dorongan baru yang dialami sebelumnya, misalnya perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan dengan lawan jenis. Pada usia remaja awal, perkembangan emosinya menunjukkan sifat yang sensitif dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi sosial,emosinya bersifat negatif dan temperamental, sedangkan remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosinya.

Pada masa remaja perkembangan sosial ditandai dengan berkembangnya “social cognition”, yaitu kemampuan untuk memahami orang lain. Pemahaman ini mendorong remaja untuk menjalin hubungan sosial yang lebih akrab dengan teman sebaya, baik melalui jalinan persahabatan atau percintaan. Pada masa ini berkembang juga sikap “conformity”, yaitu

kecenderungan untuk menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran (hobby) atau keinginan orang lain (teman sebaya) (Yusuf, 2011).

3. Tugas Perkembangan Remaja

Menurut Havinghurst (Mukhtar dkk, 2001) mengatakan terdapat 10 perkembangan yang harus dilalui oleh remaja, yaitu:

a. Mencapai hubungan yang lebih dewasa dengan teman sebaya, baik laki-laki maupun perempuan.

b. Mencapai peran jenis kelamin sebagai laki-laki atau perempuan.

c. Menerima keadaan jasmaninya dan menggunakan dengan efektif.

d. Mencapai kemandirian secara emosional dari rasa ketergantungan pada orang tua maupun orang dewasa lainnya. e. Mencapai kemandirian secara ekonomi pada masa yang akan

datang.

f. Memilih dan mempersiapkan diri untuk menjalankan pekerjaan tertentu.

g. Menyiapkan kesiapan diri untuk menghadapi pernikahan dan keluarga.

h. Mengembangkan keterampilan dan konsep intelektual sebagai warga masyarakat.

i. Menginginkan dan melakukan tindakantindakan yang secara sosial bertanggung jawab.

j. Memilih seperangkat system tata nilai dan tata krama yang menuntun perilakunya.

D. Perbedaan Dukungan Sosial Teman Sebaya Berdasarkan Pencapaian Identitas Diri pada Remaja Akhir

Masa remaja adalah masa transisi untuk menjauh dari orang tua dan mendekati teman sebaya untuk memperoleh dukungan sosial (Slavin dan Berndt, 1990). Sumber dukungan emosional yang utama pada remaja adalah teman sebaya, remaja merasa nyaman dengan bersama orang yang melewati perubahan dan perkembangan yang sama (Jackie dalam Papalia, 2011). Peran orang tua akan sedikit berkurang ketika remaja memilih untuk mengembangkan diri dengan teman sebaya, teman sebaya memiliki peran sebagai media dalam menunjukkan sesuatu yang benar atau pun salah.

Menurut Hall dan Lindzey (1985) dengan bersama teman sebaya remaja merasakan kehadiran seseorang yang mengerti dan memahami dirinya, sehingga remaja menaruh kepercayaan yang besar pada teman. Rogacion (1982) menegaskan remaja lebih senang ketika membicarakan suatu masalah atau hal-hal tertentu bersama dengan teman sebaya. Cowie dan Wallace (2000) mengatakan bahwa dukungan sosial peer group merupakan dukungan sosial yang bersumber dari teman sebaya, mereka secara spontan menawarkan bantuan kepada orang lain.

Dukungan sosial yang berasal dari teman sebaya dapat membuat remaja memiliki kesempatan untuk melakukan berbagai hal yang belum pernah remaja lakukan, remaja belajar untuk mengambil peran baru dalam kehidupannya (Tarakanita, 2001). Remaja yang mampu menjalankan peran sosial di masyarakat adalah remaja yang sudah berhasil membentuk identitas diri. Marcia (Papalia, 2009) membangun teori identitas terukur melalui metode wawancara dan menemukan empat tipe status identitas, yaitu identity diffusion, identity foreclosure, identity moratorium, dan identity achievement. Perbedaan keempat status identitas tersebut terletak pada ada tidaknya eksplorasi dan komitmen.

Eksplorasi dan komitmen merupakan tolak ukur dalam menempatkan individu ke masing-masing status identitas diri. Identity diffusion menunjukkan tidak adanya komitmen dan eksplorasi, identity foreclosure menunjukkan adanya komitmen tanpa melalui eksplorasi, identity moratorium menunjukkan adanya eksplorasi akan tetapi belum memiliki komitmen, dan identity achievement menunjukkan adanya eksplorasi dan sudah memiliki komitmen.

Dukungan sosial teman sebaya dapat mempengaruhi pencapaian status identitas moratorium atau achievement (Marcia, 1966). Teman sebaya menawarkan alternatif sudut pandang dan pengalaman baru untuk mendorong eksplorasi. Teman sebaya dapat memberikan dampak pada pencapaian identitas diffusion atau foreclosure. Misalnya, individu yang mencapai status foreclosure akan lebih memilih teman yang memiliki

toleransi terhadap keberagaman dan mencerminkan nilai –nilai yang mirip dengan diri sendiri (Bosma dan Kunnen, 2001).

Remaja yang berada pada status identity diffusion mendapat dukungan sosial yang tinggi. Mereka tidak menjadi dirinya sendiri, menjadi apa saja yang diinginkan oleh orang lain, dan tidak mampu membuat keputusan mengenai pekerjaan dan ideologi sehingga remaja dengan status identity foreclosure mendapat dukungan sosial yang tinggi. Remaja pada status identitas ini tidak memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi diri, mengalami kerapuhan, kesulitan dalam mempertimbangkan alternatif dan menolak informasi yang salah. Remaja yang berada dalam identity moratorium merupakan remaja yang melibatkan orang lain dalam masalah yang sedang dihadapi, sering melupakan hal-hal yang sensitif, memiliki banyak masalah dengan demikian remaja yang mencapai status identity moratorium mendapatkan dukungan sosial yang tinggi. Remaja yang berada dalam status identity achievement merupakan remaja yang sangat solid, mementingkan kehidupan masa depan, fleksibel, dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan. Remaja tersebut mendapat dukungan sosial teman sebaya yang rendah.

Remaja yang mencapai status identitas tertentu memperlihatkan dukungan sosial teman sebaya yang diterimanya tinggi atau rendah, hal ini dikarenakan seseorang yang sudah menapai status identitas tertentu memperoleh informasi untuk membandikan diri dengan orang lain.

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat mengetahui adanya perbedaan dukungan sosial teman sebaya dilihat berdasarkan pencapaian status identitas diri.

E. Hipotesis

Berdasarkan uraian di atas penulis mengajukan hipotesis atau jawaban sementara bahwa: terdapat perbedaandukungan sosial teman sebaya pada tahap pencapaian status identitas diri pada remaja.

Identity Diffusion Identity Foreclosure Identity Moratorium Identity Achievment Dukungan sosial rendah Dukungan sosial tinggi Dukungan sosial tinggi Dukungan sosial tinggi Remaja

28

Dokumen terkait