Penyebab Anemia
1 dari 4 remaja putri mengalami ANEMIA
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 32 anemia sebanyak 26,4% berumur 5-14 tahun dan 18,4% berumur 15-24 tahun.25 Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di Jawa Tengah tahun 2012 menyatakan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri usia 10-18 tahun sebesar 57,1% dan usia 19-45 tahun sebesar 39,5%.53
Berdasarkan data prevalensi anemia pada ibu hamil di Jawa Tengah, diketahui tahun 2007 kejadian anemia pada ibu hamil sebesar 57,7% lebih tinggi dari angka nasional yaitu 50,9%. Berdasarkan survei data yang dilakukan oleh Marlin Waility dkk dari Dinas Kesehatan Kota Semarang tahun 2012, jumlah ibu hamil yang menderita anemia sebanyak 19,14% mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2011 yaitu sebanyak 17,93%. Penelitian yang dilakukan oleh Erizka, dkk tahun 2015 di wilayah kota Semarang pada WUS menunjukkan bahwa 9,7%
mengalami anemia. Kejadian anemia berdasarkan tempat tinggal lebih tinggi di wilayah perdesaan daripada wilayah perkotaan. Penelitian sebelumnya oleh Sumarni (2008) menunjukkan prevalensi anemia pada pengantin wanita di wilayah perdesaan Kabupaten Probolinggo sebesar 48,5%.8 Pada ibu hamil, prevalensi yang mengalami anemia di wilayah perkotaan sebesar 20,6% sedangkan di wilayah perdesaan sebesar
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 33 22,8%.3 Dari data tersebut dapat diketahui bahwa kejadian anemia lebih tinggi terjadi di wilayah perdesaan dibandingkan dengan wilayah perkotaan.54,55
Gambar 7. Proporsi Anemia Menurut Umur dan Jenis Kelamin25 Sumber : Riskesdas, 2013
5. Dampak Anemia
Anemia defisiensi zat gizi pada remaja merupakan suatu kondisi yang dapat berdampak sangat besar pada kehidupan remaja. Secara umum anemia defisiensi zat gizi menggambarkan status gzi yang buruk pada remaja. Hal ini dapat berdampak terutama pada remaja putri. Ketika remaja putri dengan anemia melahirkan (saat remaja maupun dewasa),
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 34 bayi yang lahir dapat mengalami berbagai kondisi seperti berat badan lahir rendah, kesakitan, bahkan kematian yang dapat berdampak pada ibu (yang awalnya merupakan remaja anemia) dan bayinya. Dampak lainnya yang dapat disebabkan oleh anemia adalah terhambatnya perkembangan fisik dan kognitif pada remaja. Anemia juga akan menurunkan produktivitas remaja secara langsung karena akan berdampak pada penurunan konsentrasi belajar dan penurunan kesehatan jasmani. Penurunan kesehatan jasmani yang terjadi dapat beragam, contohnya permasalahan pada saluran pencernaan, saraf pusat, kardiovaskular, dan imunitas. Dalam keadaan anemia akibat defisiensi besi, imunitas tubuh juga menurun karena sel darah putih yang tidak bisa bekerja secara efektif dalam keadaan defisiensi besi.43
Gambar 8. Dampak Anemia pada Remaja Putri dan WUS
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 35 Dampak anemia bagi remaja putri adalah sebagai berikut56,57:
1) Menurunnya kesehatan reproduksi.
2) Terhambatnya perkembangan motorik, mental dan kecerdasan.
3) Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar.
4) Mengganggu pertumbuhan sehingga tinggi badan tidak optimal.
5) Menurunkan fisik olahraga serta tingkat kebugaran.
6) Mengakibatkan muka pucat.
7) Menurunkan daya tahan tubuh sehingga rawan mengalami penyakit infeksi.
Gambar 9. Dampak Jangka Pendek dan Panjang Akibat Gangguan Gizi pada Wanita Usia Subur
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 36 Dalam jangka panjang anemia pada remaja putri akan berakibat pada masa kehamilannya kelak. Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan pesalinan.
Dampak anemia pada kehamilan bervaiasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kehamilan (abortus, partus/premature), gangguan proses persalinan (misalnya; pendarahan), gangguan pada masa nifas (daya tahan terhadap infeksi dan stres kurang, produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR (berat bayi lahir rendah), kematian perinatal, dan lain-lain. Anemia juga berdampak pada kematian ibu atau bayinya.58
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 37
BAB 4.
Peran Zat Gizi untuk Mencegah Anemia
1. Peran Makronutrient dan Mikronutrient a. Energi
Tubuh membutuhkan energi untuk berlangsungnya proses fisiologis, seperti kontraksi otot, pembentukan dan penghantaran impuls, sekresi kelenjar, dan berbagai reaksi sintesis dan degradasi selain itu energi juga diperlukan untuk melakukan berbagai pekerjaan tubuh salah satunya adalah kerja tubuh dalam metabolism berbagai zat gizi, termasuk zat gizi yang berperan dalam pembentukan hemoglobin.
Apabila terjadi kekurangan energi, kapasitas kerja tubuh akan terganggu sehingga akan terjadi pembongkaran cadangan protein di dalam tubuh.59 b. Protein
Protein merupakan zat gizi makro yang erat kaitannya dengan yang telah proses-proses kehidupan dengan fungsi utana membentuk jaringan baru (termasuk sel darah merah) dan mempertahankan jaringan yang telah ada. Protein berperan dalam pengangkutan zat besi ke dalam
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 38 plasma dan seluruh bagian tubuh yang membutuhkan. Protein plasma transferin mengangkut besi ke sum-sum tulang untuk pembentukan hemoglobin baru. Sisa besi disimpan dalam bentuk feritrin dan hemosiderin di dalam hati, sum-sum tulang belakang, limfa dan otot.60
Selain berperan dalam transport besi, penyimpanan dan komponen hemoglobin, protein juga berperan dalam absorbsi besi. Asam-asam amino memiliki efek pemacu (meningkatkan penyerapan) karena gugus ini mengikat besi non heme. Asam amino dengan gugus sulfur (terutama sistein) dapat ditemukan pada produk hewani seperti daging, ikan dan unggas. Sulfur yang terdapat dalam makanan hewani ini dapat mengubah besi non heme menjadi bentuk yang lebih mudah diserap.61
Menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2013, kecukupan protein pada wanita usia antara 19-29 tahun 56 gram, dan usia 30-45 tahun adalah 75 gram. Penelitian yang dilakukan oleh Syatriani dan Aryani (2010) di Makasar, menyatakan ada hubungan yang bersifat positif antara asupan protein dengan kejadian anemia. Mereka menyatakan bahwa remaja yang kekurangan protein berisiko 3,48 kali lebih besar untuk mengalami anemia daripada remaja yang tidak mengalami protein.62
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 39 c. Zat besi
Zat besi merupakan mineral esensial. Zat besi dalam tubuh dapat berkombinasi dengan protein sehingga mampu menerima dan melepaskan oksigen dan karbondioksida. Zat besi memiliki beberapa fungsi esensial di dalam tubuh, diantaranya sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, pengangkut elektron di dalam besisel dan sebagai bagian terpadu berbagai reaksi enzim dalam jaringan tubuh.63
Besi dalam makanan terdapat dalam dua bentuk yaitu besi heme dan non-heme. Besi heme lebih mudah diserap dari pada besi non-heme.
Absorbsi besi heme bisa mencapai 10 hingga 30%. Dalam keadaan defisit penyerapannya bisa mencapai 40%. Besi heme tersedia 10-15% dalam diet sehari-hari yang banyak ditemukan pada makanan seperti, daging, ikan dan unggas. Sementara itu, besi non-heme sebagian besar berasal dari sumber nabati, meskipun ada beberapa dari hewani. Sumber besi non-heme ini 85-90% terdapat dalam makanan sehari-hari namun hanya 5%
yang diserap. Sumber makanan yang mengandung besi non-heme diantaranya telur, serealia, kacang-kacangan, sayuran hijau dan beberapa
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 40 jenis buah-buahan. Mengonsumsi besi heme bersamaan dengan besi non-heme dapat meningkatkan absorbsi besi non-non-heme, karena besi non-heme mengandung faktor yang memacu absorbsi besi non-heme.64
Gambar 10. Sumber Makanan Mengandung Zat Besi
Asupan zat besi digunakan untuk mengganti kehilangan zat besi melalui feses, urin, dan kulit sehingga jumlah zat besi yang dikonsumsi sebaiknya berdasarkan jumlah zat besi yang hilang dari dalam tubuh.
Kehilangan basal ini sekitar 14 μg/kgBB/hari atau setara dengan 0,9 mg zat besi pada laki-laki dewasa dan 0,8 mg zat besi pada perempuan dewasa. Namun, perempuan dewasa mengalami menstruasi yang
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 41 menyebabkan kehilangan zat besi ± 1,3 mg per hari. Hal itu mengakibatkan kebutuhan zat besi bervariasi menurut usia dan jenis kelamin.65,66
Tabel 2. Kebutuhan Harian Zat Besi Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin67
Kelompok Umur Zat besi (mg)
Laki-laki 10 – 12 tahun 13
13 – 15 tahun 19
16 – 18 tahun 15
19 – 29 tahun 13
30 – 49 tahun 13
50 – 64 tahun 13
65 – 80 tahun 13
>80 tahun 13
Perempuan 10 – 12 tahun 20
13 – 15 tahun 26
16 – 18 tahun 26
19 – 29 tahun 26
30 – 49 tahun 26
50 – 64 tahun 12
65 – 80 tahun 12
>80 tahun 12
Sumber : Angka Kecukupan Gizi, 2013
Hasil penelitian yang dilakukan di SMAN 4 Surabaya menunjukkan bahwa remaja putri yang memiliki asupan zat besi kurang berisiko 8,7 kali lebih besar mengalami anemia dibandingkan dengan remaja putri yang memiliki asupan zat besi cukup.68 Selain itu, hasil penelitian di SMAN 1 Manyar Gresik menunjukkan bahwa remaja putri dengan
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 42 tingkat kecukupan asupan zat besi yang kurang memiliki kadar hemoglobin yang rendah sehingga menyebabkan tingginya kejadian anemia.69
d. Vitamin A
Vitamin A merupakan vitamin larut lemak dan memiliki interaksi dengan zat besi. Vitamin A memobilisasi cadangan besi di dalam tubuh untuk dapat mensintesis hemoglobin. Status vitamin A yang buruk berhubungan dengan perubahan metabolisme besi dalam kasus kekurangan besi. Penelitian lain menyebutkan bahwa pemberian suplementasi vitamin A akan meningkatkan kadar Hb, mekanismenya kemungkinan dapat menurunkan anemia karena vitamin A berperan dalam mobilisasi cadangan besi di hati, meningkatkan eritropoesis, dan mengurangi anemia yang disertai infeksi. Rendahnya status vitamin A akan menyebabkan simpanan besi tidak bisa dimanfaatkan untuk porses eritropoesis. Selain itu, vitamin A dan β-Karoten akan membentuk suatu kompeks dengan besi untuk membuat besi tetap larut dalam lumen usus sehingga absorbsi besi dapat terbantu.
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 43 Penelitian yang dilakukan oleh Zimmermann et all (2006), penelitian pada anak-anak di Maroko menunjukkan bahwa pemberian suplementasi vitamin A dapat membantu mobilisasi zat besi dari tempat penyimpanannya untuk proses eritropoesis. Kadar suplementasi vitamin A sebanyak 200.000 UI dan 60 mg ferrous sulfate selama 12 minggu dapat meningkatkan kadar hemoglobin sebanyak 7 g/dl.70
e. Vitamin C
Gambar 11. Makanan Sumber Vitamin C
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 44 Vitamin C merupakan jenis vitamin larut air yang berbentuk kristal putih, dimana ditemukan dalam makanan sebagai asam askorbat dan dehydroascorbic acid. Bentuk oksidasi vitamin C, dehydroascorbic acid lebih mudah diabsorbsi daripada bentuk reduksi, Ascorbic acid. Vitamin C yang tereduksi masuk kedalam sel melalui alat angkut glukosa.
Vitamin C berperan dalam reaksi redoks sel karena dengan mudah kehilangan elektron dan dapat diubah menjadi bentuk dehydroascorbic acid kembali. Selain itu vitamin C membantu penyerapan zat besi di usus halus dengan mereduksi besi feri menjadi besi fero.59
Dalam penelitian Safwan Ariba (2017) menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara status hemoglobin dengan asupan vitamin C.
Namun, penelitian sebelumnya menunjukkan hubungan positif antara status vitamin C dengan kadar hemoglobin. Dimana terdapat peningkatan jumlah asam askobat berkisar antara 25 – 1000 mg yang ditambahkan kedalam formula cair yang mengandung besi oksida 4,1 mg, penyerapan zat besi meningkat secara progresif dari 0,8% menjadi 7,1%
sehingga meningkatkan status hemoglobin.71
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 45 Kebutuhan vitamin C berbeda-beda menurut umur dan jenis kelamin. Berikut kebutuhan vitamin C berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin.
Tabel 3. Kebutuhan Vitamin C Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin67
Kelompok Umur Vitamin C (mg)
Laki-laki 10 – 12 tahun 50
13 – 15 tahun 75
16 – 18 tahun 90
19 – 29 tahun 90
30 – 49 tahun 90
50 – 64 tahun 90
65 – 80 tahun 90
>80 tahun 90
Perempuan 10 – 12 tahun 50
13 – 15 tahun 65
16 – 18 tahun 75
19 – 29 tahun 75
30 – 49 tahun 75
50 – 64 tahun 75
65 – 80 tahun 75
>80 tahun 75
Sumber : Angka Kecukupan Gizi, 2013
Berdasarkan penelitian pada remaja putri di SMAN 1 Manyar Gresik diketahui bahwa tingkat kecukupan asupan vitamin C yang kurang menyebabkan rendahnya kadar hemoglobin. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian pada mahasiswi di Universitas Airlangga yang menunjukkan bahwa frekuensi konsumsi zat enhancer, yaitu vitamin C
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 46 yang jarang berdampak pada rendahnya kadar hemoglobin. Hal itu menyebabkan terjadinya anemia.72
Zat besi non heme dalam makanan hanya dapat diabsorbsi sebesar 5%. Rendahnya absorbsi zat besi non heme dapat ditingkatkan hingga empat kali lipat dengan adanya vitamin C. Vitamin C membantu proses reduksi zat besi dari bentuk ferri menjadi bentuk ferro yang mudah diabsorbsi. Vitamin C dan zat besi membentuk senyawa kompleks feroaskorbat yang larut dalam air dan mudah diabsorbsi.66
f. Vitamin B2
Riboflavin (B2) memiliki kontribusi terhadap kejadian anemia.
Dalam sebuah penelitian pada hewan, riboflavin telah terbukti meningkatkan penyerapan besi. Defisiensi riboflavin dapat secara signifikan meningkatkan tingkat kehilangan besi di gastrointestinal serta menurunkan mobilisasi zat besi dari simpanannya.
Menurut penelitian oleh Shi, Zumin (2014) pada populasi di China, menunjukkan bahwa asupan riboflavin secara positif dikaitkan dengan ferritin dan anemia pada wanita. Temuan ini sesuai dengan peran
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 47 biologis riboflavin dalam meningkatkan penyerapan dan pemanfaatan zat besi (ketika asupan riboflavin tinggi, kemampuan untuk memobilisasi besi dari ferritin dan memanfaatkannya untuk sintesis hemoglobin juga akan tinggi). Memperbaiki kekurangan riboflavin dapat menjadi salah satu komponen dalam pencegahan anemia.73
g. Vitamin B6
Vitamin B6 merupakan vitamin larut air yang terdapat dalam 3 bentuk yaitu pyridoxal, pyridoxine, dan pyridoxamine. Selain dalam metabolisme protein, vitamin B6 juga berperan untuk sintesis heme dalam pembentukan hemoglobin. Jika tubuh defisiensi B6, maka metabolisme protein akan terganggu, begitu juga dengan pembentukan Hb. Hal ini sejalan dengan penelitian pada remaja putri di Semarang, menyebutkan ada hubungan yang positif antara asupan vitamin B6 dengan kadar hemoglobin, semakin tinggi asupan vitamin B6 maka semakin besar pula nilai hemoglobin yang diperoleh.74
Anemia yang disebabkan oleh defisiensi vitamin B6 adalah anemia sideroblastik. Hampir sama dengan anemia defisiensi besi, hanya saja perbedaannya terletak pada besi serum anemia sideroblastik tinggi
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 48 (menunjukkan saturasi transferin). Hal ini terjadi karena besi tidak bisa digunakan untuk sintesis heme dan tersimpan di mitokondria, sehingga produksi dan perkembangan sel darah merah tergangggu. Menurut angka kecukupan gizi (AKG 2004) kebutuhan vitamin B6 untuk wanita usia 19-29 tahun sebesar 1,3 mg per hari.
h. Vitamin B12
Vitamin B12 atau kobalamin merupakan senyawa yang mengandung kobalt yang memiliki cincin korin dengan aktivitas biologis vitamin.61 Vitamin B12 diserap dalam keadaan terikat pada faktor intrinsik, yaitu suatu glikoprotein kecil yang disekresikan oleh sel parietal mukosa lambung. Asam lambung dan pepsin membebaskan vitamin dari ikatan dengan protein dalam makanan, sehingga menyebabkan vitamin dapat berikatan dengan kobalofilin.
Kobalofilin merupakan protein pengikat yang disekresikan di air liur. Selanjutnya, kobalofilin di duodenum mengalami hidrolisis sehingga vitamin membebaskan ikatan dengan faktor intrinsik. Vitamin B12 diserap disepertiga distal ileum melalui reseptor yang mengikat
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 49 kompleks faktor intrinsik - vitamin B12, tetapi tidak mengikat faktor intrinsik atau vitamin dalam bentuk bebas.61
Vitamin B12 memiliki fungsi yang berkaitan erat dengan folat.
Vitamin B12 dibutuhkan untuk mengubah folat menjadi bentuk aktifnya.
Vitamin B12 berperan dalam reaksi perubahan homosistein ke metionin menggunakan kelompok 5-metil tetrahidrofolat dengan enzim metionin sintase. Jika vitamin B12 tidak tersedia dengan cukup, maka 5-metil tetrahidrofolat tidak diubah sehingga mengurangi ketersediaan prekursor nukleutida untuk sintesis DNA sebelum pembelahan sel dan menyebabkan anemia megaloblastik. Anemia megaloblastik atau anemia permisiosa adalah anemia yang disebabkan defisiensi vitamin B12 dan dapat dikurangi dengan pemberian suplemen folat.75
i. Zink/Seng
Seng (Zink) merupakan zat gizi mikro yang dapat mempengaruhi metabolisme besi. Seng dapat berinteraksi dengan besi baik secara langsung maupun tidak langsung lewat interaksinya dengan vitamin A.
Interaksi secara langsung dimulai saat penyerapan, jika ratio keduanya lebih dari 2:1, maka akan terjadi gangguan pada zat gizi miko yang lebih
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 50 sedikit. Kedua zat gizi mikro ini juga berkompetisi saat transportasi karena keduanya diangkut oleh pengangkut yang sama, yaitu transferin.
Interaksi tidak langsung antara seng dan besi yang terjadi melalui peran seng dalam sintesis protein termasuk protein transporter besi yaitu transferin. Defisiensi seng akan mempengaruhi metabolisme besi karena seng berperan sebagai kofaktor dalam reaksi oksidasi retinol.
Konsentrasi retinol plasma yang rendah berkaitan dengan penurunan besi plasma dan hemoglobin.76
j. Folat
Folat dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah dan sel darah putih dalam sum sum tulang. Selain itu, folat juga sebagai pembawa karbon tunggal dalam pembentukan heme. Defisiensi folat akan menyebabkan gangguan pematangan inti eritrosit, yang berakibat timbulnya sel darah dengan bentuk dan ukuran yang tidak normal.
Pemberian asam folat berhubungan dengan penurunan 40% risiko anemia pada wanita hamil dan 35% menurunkan risiko anemia megaloblastis.74
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 51 Pada penelitian Oky Nor dan Sri Sumarmi (2015) pada wanita usia subur, menunjukkan bahwa folat berkorelasi signifikan dengan kadar hemoglobin. Hal ini membuktikan bahwa asam folat terlibat dalam metabolisme beberapa asam amino salah satunya glisin sebagai bahan utama sintesis heme, meskipun jumlah asupan asam folat yang baik pada kelompok anemia tidak serta merta akan meningkatkan kadar hemoglobin karena zat gizi di dalam tubuh saling berinteraksi untuk sintesis heme.77
2. Zat Penghambat Absorpsi Zat Besi a. Tanin
Tanin adalah komponen zat organik yang kompleks, terdiri dari senyawa fenolik yang sulit dipisahkan dan sulit mengkristal.78 Tanin terdapat pada teh, kopi, biji cokelat, infus herbal, rempah-rempah tertentu seperti oregano, dan beberapa sayuran.79
Berdasarkan penelitian di SMA dan SMK Depok diketahui bahwa remaja putri dengan frekuensi konsumsi inhibitor zat besi, yaitu teh dan kopi yang sering memiliki kadar hemoglobin dalam kategori anemia.80
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 52 Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian di SMAN 10 Makassar bahwa asupan tanin atau konsumsi teh yang tinggi berdampak pada status hemoglobin yang termasuk anemia.81 Tanin yang terdapat pada teh dan kopi dapat menghambat absorbsi zat besi. Tanin akan mengikat mineral seperti zat besi, zink, dan kalsium. Konsumsi 1 cangkir kopi (236 ml) perminggu dapat menurunkan kadar serum feritin sebesar 1%. Selain itu, senyawa polifenol pada teh hitam akan mengikat mineral, termasuk zat besi jika teroksidasi. Konsumsi teh 1 cangkir (mengandung 20-50 mg polifenol) dapat menghambat absorbsi zat besi sebesar 50-70%, sedangkan konsumsi teh 2-3 cangkir (mengandung 100-400 mg polifenol) dapat menghambat absorbsi zat besi sebesar 60-90%.82
b. Fitat
Fitat adalah senyawa organik yang mengandung fosfat. Fitat sebagai bentuk penyimpanan fosfor yang terbesar pada serealia dan leguminosa.83 Fitat merupakan inhibitor (penghambat) absorbsi zat besi.84
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 53 Fitat merupakan bentuk penyimpanan fosfor yang terbesar pada biji-bijian dan kacang-kacangan. Fitat dapat mengurangi absorbsi mineral esensial, seperti kalsium, zat besi, seng, dan magnesium. Senyawa fitat mengikat mineral tersebut dalam bentuk ion sehingga ketersediaan mineral menurun dan menyebabkan defisiensi mineral, terutama zat besi.83
Fitat akan berikatan dengan mineral, seperti kalsium, magnesium, dan zat besi serta protein membentuk suatu ikatan sehingga kelarutan senyawa yang diikatnya menurun dan menyebabkan senyawa menjadi sukar larut. Hal ini mengakibatkan absorbsi mineral dan protein terhambat sehingga bioavailabilitas di dalam tubuh menurun.83
Fitat terdapat pada sereal kulit padi, sereal gandum, tepung ekstraksi tinggi, biji-bijian, polong-polongan, dan kacang-kacangan.79 Hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Probolinggo menunjukkan bahwa kebiasaan sering mengonsumsi sumber pangan inhibitor zat besi, seperti tahu dan tempe yang mengandung fitat menyebabkan terjadinya anemia.85
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 54 Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian di SMAN 10 Makassar bahwa remaja putri dengan asupan fitat yang tinggi memiliki status hemoglobin kategori anemia.81 Absorbsi zat besi yang terhambat dipengaruhi oleh jumlah fitat yang ditambahkan, 2 mg fitat dapat menghambat absorbsi zat besi sebesar 18%, 25 mg sebesar 64%, dan 250 mg sebesar 82%.86
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 55
BAB 5.
Strategi Pencegahan dan Pengawasan Anemia pada Santriwati
Pencegahan anemia terkait gizi pada remaja dapat dilakukan berdasarkan faktor determinan yang menyebabkan anemia terjadi pada remaja. Hal terpenting yang dilakukan adalah dengan melakukan penilaian status gizi yang cukup dengan tujuan menentukan zat gizi tertentu yang mengalami defisiensi sehingga menyebabkan anemia.
Umumnya anemia zat gizi berkaitan dengan defisiensi zat gizi yang diperlukan dalam pembentukan hemoglobin dan sel darah yang normal.
Salah satu anemia defisiensi zat gizi yang paling sering terjadi adalah anemia defisiensi zat besi (Fe). Sehubungan dengan hal ini, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah dengan pendidikan serta penyuluhan gizi pada remaja dalam rangka meningkatkan konsumsi makanan-makanan yang kaya akan zat besi pada remaja. Makanan yang disarankan untuk dikonsumsi adalah lauk hewani (mengandung zat besi tinggi) serta makanan-makanan yang kaya akan asam folat, vitamin C, serta vitamin A. Kedua vitamin tersebut merupakan vitamin yang
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 56 berperan dalam membantu penyerapan zat besi dan pembentukan hemoglobin. Selain itu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan fortifikasi zat besi, asam amino esensial dan berbagai zat gizi pencegah anemia lainnya ke dalam produk makanan yang sering dikonsumsi remaja. Pencegahan selanjutnya yang dapat dilakukan terkait dengan anemia defisiensi zat besi dan folat adalah dengan melakukan suplementasi dalam jangka waktu yang panjang agar cepat meningkatkan kadar hemoglobin remaja.87
a. Pendidikan Gizi
Secara spesifik, pendidikan dan penyuluhan gizi merupakan pendekatan edukatif untuk mengubah perilaku masyarakat target sehingga dapat terjadi peningkatan perbaikan pangan dan status gizi.
Tujuan dari pendidikan ini adalah meningkatnya pemahaman masyarakat akan makanan dan gizi sehingga mereka dapat menganut pola makan yang sehat. Pendidikan gizi ini dapat ditujukan langsung pada remaja yang mengalami anemia, orang tua, serta guru dari remaja tersebut. Harapannya agar pengetahuan mereka terkait anemia defisiensi zat gizi meningkat dan dapat mengadopsi pola makan yang dapat
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 57 diterapkan untuk mencegah anemia defisiensi zat gizi. Secara umum pendidikan akan secara efektif meningkatkan pengetahuan tetapi tidak secara langsung akan efektif juga dalam mengubah prakteknya.
Meskipun demikian pengetahuan merupakan faktor yang dominan dalam terbentuknya tindakan seseorang.
Dalam pendidikan gizi terkait anemia, guru diharapkan dapat berperan dalam membantu terlaksananya pencegahan anemia defisiensi zat gizi, terutama pada remaja putri. Pendidikan gizi dan kesehatan dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran lain seperti biologi, dan pendidikan jasmani dan kesehatan. Selain itu materi pendidikan gizi juga dapat diintegrasikan ke dalam ekstrakurikuler seperti UKS, PMR dan Bhakti Husada.
Selain guru, tokoh masyarakat yang berpengaruh dalam lingkungan remaja target dapat ikut membantu dalam pendidikan gizi terkait anemia defisiensi zat gizi. Tokoh-tokoh tersebut contohnya ketua organisasi, pimpinan kelompok, kader, dan petugas kesehatan di lingkungan remaja target. Penyuluhan dan motivasi dapat diberikan langsung kepada remaja sehingga pesan pencegahan anemia dapat tersampaikan.88
Buku Pintar Santri Bebas Anemia | 58 b. Fortifikasi Zat Gizi
Fortifikasi zat gizi dapat dilakukan untuk menggantikan zat gizi yang hilang dalam proses pembuatan bahan pangan serta meningkatkan gizi bahan pangan yang difortifikasi. Contoh bahan pangan yang dapat difortifikasi untuk mencegah anemia defisiensi zat gizi adalah fortifikasi tepung terigu. Tepung terigu difortifikasi dengan zat besi. Hal ini dapat membantu remaja untuk mengonsumsi zat besi secara cukup sehingga menurunkan risiko terjadinya anemia defisiensi zat besi. Di seluruh dunia telah terdapat banyak negara yang mewajibkan agar fortifikasi besi dan asam folat dilakukan pada tepung terigu. Di Indonesia, bahan pangan yang telah difortifikasi zat besi adalah tepung terigu, minyak goreng, beras, mentega, dan beberapa snack.88
c. Suplementasi
Suplementasi merupakan langkah pencegahan anemia defisiensi zat gizi pada remaja yang dapat dilakukan pemerintah. Salah satu program nyata yang telah berlangsung adalah pemberian tablet tambah