• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rematik Penyakit Orang Tua, Siapa Bilang? Sarah Chairani Zakirah.P

Dalam dokumen Jurnal SCRIPTA Vol. 1 Edisi V. Hal 23 28 (Halaman 38-40)

“Mandi tengah malam bisa menimbulkan rematik” ,

“Makan kangkung atau bayam bisa menyebabkan rematik”

Dua kutipan diatas adalah dua di antara sekian mitos dan anggapan masyarakat yang salah mengenai penyakit rematik. Faktanya, tidak ada hasil penelitian yang menghubungkan antara mitos-mitos tersebut dengan kejadian rematik. Rematik atau yang dikenal dalam istilah medis dengan artritis reumatoid adalah penyakit umum yang diderita masyarakat Indonesia baik tua maupun muda.Tetapi, tetap saja banyak orang yang beranggapan bahwa penyakit rematik merupakan penyakit yang diderita hanya pada orang tua. Pada kenyataannya, tidak hanya orang tua, baik remaja maupun anak-anak dapat mengalami penyakit ini. Memang tidak dipungkiri bahwa morbiditas penyakit ini semakin meningkat dengan semakin bertambahnya umur.

Artritis reumatoid (AR) adalah penyakit autoimun yang ditandai oleh inflamasi sistemik kronik dan progresif, dimana sendi merupakan target utama. Manifestasi klinis klasik AR adalah poliartritis simetrik yang terutama mengenai sendi-sendi kecil pada tangan dan kaki. Selain lapisan sinovial sendi, AR juga bisa mengenai organ-organ luar diluar persendian seperti kulit, jantung, paru- paru, dan mata. Mortalitasnya meningkat akibat komplikasi kardiovaskular, infeksi, penyakit ginjal, keganasan dan adanya komorbiditas.

Data di Poliklinik Reumatologi RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta, kasus baru AR merupakan 4,1% dari seluruh kasus baru tahun 2000 dan pada periode Januari s.d. Juni 2007 didapatkan sebanyak 203 kasus AR dari jumlah seluruh kunjungan sebanyak 1346 (15,1%). Wanita yang mengalami AR sekitar tiga kali lebih sering daripada pria. Tetapi, perbedaan seks semakin berkurang dengan semakin meningkatnya usia seseorang. Penelitian mengenai lebih tingginya AR pada wanita dihubungkan dengan faktor resiko reproduksi tertentu, sebuah studi dari Denmark menunjukkan bahwa tingkat AR lebih tinggi pada wanita yang hanya melahirkan satu anak daripada yang telah melahirkan dua atau tiga anak. Tetapi, tingkat AR tidak terdapat kenaikan pada wanita nulliparous atau wanita dengan riwayat keguguran. Tiga dari empat perempuan dengan AR mengalami perbaikan gejala yang bermakna selama kehamilan dan biasanya akan kambuh kembali setelah melahirkan.

Faktor resiko yang berhubungan dengan peningkatan kejadian AR adalah jenis kelamin perempuan, riwayat keluarga menderita AR, umur lebih tua, paparan salisilat dan merokok. Konsumsi kopi lebih dari tiga cangkir sehari, khususnya kopi decaffeinated mungkin juga beresiko. Selain itu, berperan pula beberapa faktor lain diantaranya faktor genetik. Makanan tinggi vitamin D, konsumsi teh dan penggunaan kontrasepsi oral berhubungan dengan penurunan resiko.

AR didiagnosis menggunakan tujuh kriteria dari American College of Rheumatology. Selain itu, The American College of Rheumatology Subcommittee on Rheumatoid Arthritis (ACRSRA) merekomendasikan pemeriksaan laboratorium dasar sebagai pemeriksaan penunjang diagnostik untuk mengevaluasi

ISI

Rematik Penyakit Orang Tua, Siapa Bilang? diantaranya, darah perifer lengkap (CBC),

faktor reumatoid (RF), laju endap darah atau C-reactive protein (CRP). Pemeriksaan fungsi hati dan ginjal juga direkomendasikan karena akan membantu dalam pemilihan terapi. Bila hasil pemeriksaan RF dan anti-CCP negatif bisa dilanjutkan dengan pemeriksaan anti- RA33 untuk membedakan penderita AR yang mempunyai resiko tinggi mengalami prognosis buruk. Pemeriksaan pencitraan (imaging) yang dapat digunakan untuk menilai penderita AR antara lain foto polos (plain radiograph) dan MRI (magnetic resonance imaging).

Bukti klinis dari pengamatan menunjukkan bahwa terdapat kerusakan struktural lebih awal pada AR yang aktif dan pengobatan dengan menggunakan

DMARD (disease-modifying

antirheumatic drugs) lebih awal dapat memperbaiki outcome penyakit.Destruksi sendi pada AR dimulai dalam beberapa minggu sejak timbulnya gejala. Sehingga sangat penting untuk melakukan diagnosis dan melakukan terapi sedini mungkin untuk menurunkan angka perburukan penyakit.

Setiap kunjungan penderita AR, dokter harus menilai apakah penyakitnya aktif atau tidak aktif. Gejala penyakit inflamasi sendi seperti kaku di pagi hari, lamanya kelelahan (fatigue), dan adanya sinovitis aktif pada pemeriksaan sendi mengindikasikan bahwa penyakit dalam kondisi aktif sehingga perubahan program terapi perlu dipertimbangkan.

Rujukan cepat ke rheumatologist sangat disarankan ketika dicurigai AR. ACRSRA merekomendasikan bahwa penderita dengan kecurigaan AR harus dirujuk dalam 3 bulan sejak timbulnya gejala untuk konfirmasi diagnostik dan inisiasi terapi DMARDs.

***

Jadi, dari uraian yang telah saya paparkan diatas, dapat kita simpulkan bahwa penyakit rematik atau dalam dunia medis dikenal dengan artritis reumatoid, tidak hanya menyerang orang tua, melainkan dapat terjadi pada anak-anak,

remaja, maupun orang dewasa. Untuk itu, diperlukan diagnosis dini dan rujukan cepat untuk menghindari adanya perburukan penyakit. Yang terpenting, lagi-lagi adalah masalah kesadaran pasien sendiri untuk rajin mengontrol penyakitnya agar dokter dapat menentukan program terapi yang tepat dalam upaya menurunkan morbiditas dan mortalitas serta meningkatkan quality of life pasien.

1. W.Sudoyo, Aru, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III, Edisi V. Jakarta : Interna Publishing.

2. P. Emery, F. Breedveld, dkk. 2002. Early referral recommendation for newly diagnosed rheumatoid arthritis: evidence based development of a clinical guide.

Available from :

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/ articles/PMC1754044/

3. Candra, Asep. 2012. Mitos dan Fakta Penyakit Rematik. Available from:http://health.kompas.com/rea d/2012/12/11/16473158/Mitos.dan. Fakta.Penyakit.Rematik

SCRIPTA merupakan jurnal ilmiah mahasiswa kedokteran Indonesia yang dikelola oleh tim redaksi yang merupakan Personalia Divisi Jurnal SCORE PEMA FK USU yang mempublikasikan artikel penelitian, artikel tinjauan pustaka, laporan kasus dan artikel penyegar. Adapun SCRIPTA mempublikasikan artikel-artikel yang dituliskan mahasiswa kedokteran di Indonesia dalam menjawab permasalahan- permasalahan kesehatan khususnya bidang kedokteran.

ATURAN REDAKSI UNTUK PENULIS

1. Kepengarangan (Authorship)

Setiap penulis yang mengirimkan artikel ke tim redaksi harus mematuhi beberapa kriteria sederhana yang telah ditetapkan oleh tim redaksi, yakni bersedia dan berkontribusi dalam melakukan perbaikan atas kelengkapan data jika masih ditemui kekurangan maupun kesalahan, berkontribusi dalam memberikan penjelasan yang jelas dari isi naskah baik referensi, data yang diberikan, analisis dan sintesis, penulis harus bersedia untuk menerima hasil evaluasi dari mitra bestari dan melakukan perbaikan naskah sesuai dengan waktu yang telah diberikan oleh tim redaksi dan menyetujui naskah apabila sudah diresmikan oleh tim redaksi. Penulis diwajibkan untuk mengikuti kriteria tersebut.

2. Etika Penelitian dan Publikasi

Penelitian yang menggunakan hewan coba maupun manusia diwajibkan untuk mendapatkan persetujuan sebelumnya oleh Komisi Etika Penelitian (ethical clearance) disiapkan apabila jika dimintai keterangannya oleh tim redaksi. Penelitian

klinis harus mematuhi aturan atau prinsip etik penelitian untuk penelitian medis yang melibatkan manusia berdasarkan Deklarasi Helsinki.

3. Orisinalitas dan Duplikat Publikasi SCRIPTA hanya akan memuat tulisan asli yang belum pernah diterbitkan atau dipublikasikan pada jurnal secara nasional maupun internasional (penulis wajib menyertakan surat lembar orisinalitas ke redaksi bersamaan dengan karya tulis yang akan dikirimkan). Manuskrip yang dikirim juga tidak boleh diajukan pada jurnal lainnya atau dalam bentuk lainnya yang memiliki isi yang sama dengan sebelumnya. Manuskrip yang dikirim untuk dipublikasikan di SCRIPTA juga merupakan persetujuan dari seluruh penulis manuskrip tersebut. Naskah yang telah lulus seleksi akan dipublikasikan di dalam SCRIPTA atas nama penulis yang terkait.

JENIS ARTIKEL YANG DITERIMA 1. Artikel Penelitian

Artikel yang mencakup hasil penelitian klinis, laboratorium, atau eksperimental. Artikel ini tersusun atas judul artikel, abstrak, pendahuluan, metode, hasil, pembahasan, simpulan dan saran, ucapan terima kasih, daftar pustaka, gambar dan tabel. Penulisan artikel ini dibatasi 3500 kata dan 40 referensi.

2. Artikel Tinjauan Pustaka

Artikel yang dimuat oleh penulis dengan menganalisis dan mensistesis permasalahan kesehatan dengan metode pencarian literatur (literature review). Artikel ini disusun atas judul artikel,

Dalam dokumen Jurnal SCRIPTA Vol. 1 Edisi V. Hal 23 28 (Halaman 38-40)

Dokumen terkait