Kondisi yang dialami oleh klien dapat menjadi faktor yang berhubungan dengan kejadian konstipasi pada klien, faktor-faktor tersebut antara lain; kelemahan otot abdomen karena kurangnya latihan, ketidakadekuatan toileting (waktu dan kesulitan melakukan posisi untuk defekasi), kurang aktivitas fisik, kebiasaan defekasi tidak teratur, perubahan makanan, asupan serat tidak cukup, serta asupan cairan tidak cukup.
Batasan karakteristik untuk diagnosa konstipasi yang dialami klien, antara lain: Terjadi perubahan pola defekasi, penurunan frekuensi defekasi, penurunan volume feses, rasa rektal penuh, rasa tekanan rektal, bising usus hipoaktif, feses keras dan berbentuk, nyeri saat defekasi, teraba massa pada abdomen, perkusi abdomen pekak, serta mengejan saat defekasi.
Tujuan dari intervensi keperawatan yang akan diberikan adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 15 menit dalam 7 hari, klien tidak lagi mengalami konstipasi. Tujuan tersebut dikatakan tercapai, jika memenuhi kriteria hasil, yaitu klien dapat mempertahankan bentuk feses lunak setiap 1-3 hari, bebas dari ketidaknyamanan konstipasi, serta menghilangkan indikator untuk mencegah konstipasi.
Rencana intervensi yang akan diberikan pada klien antara lain; monitor tanda dan gejala konstipasi, monitor bising usus, monitor feses (frekuensi, konsisitensi, dan volume), Tinjau ulang diet seimbang, dorong penggunaan buah dan sayur, dorong pemasukan cairan adekuat kira-kira 1,5- 2 L per hari, anjurkan klien untuk meningkatkan aktivitas fisik sesuai kemampuan, memberikan massage abdomen jika teraba massa pada abdomen, serta konsultasikan mengenai penurunan bising usus.
Universitas Indonesia Setelah diagnosa pertama telah cukup diberikan intervensi dan tujuan intervensi relatif tercapai, selanjutnya akan dilakukan intervensi untuk menyelesaikan diagnosa kedua yaitu hambatan mobilitas fisik. Faktor yang berhubungan yang dialami klien untuk diagnosa ini, antara lain; terjadi penurunan kekuatan otot, kaku sendi, gangguan neuromuskular, gaya hidup monoton, dan keengganan memulai pergerakan.
Batasan karakteristik untuk diagnosa ini antara lain; Kesulitan mengubah posisi dari tidur ke duduk, keterbatasan melakukan motorik halus atau kasar, keterbatasan rentang pergerakan sendi, serta pergerakan lambat atau tidak terkoordinasi.
Intervensi yang akan dilakukan untuk diagnosa ini memiliki tujuan bahwa stelah dilakukan tindakan keperawatan selama 20 menit dalam 7 hari, residen memperlihatkan mobilitas (pergerakan sendi, otot, berjalan, dan atau keseimbangan). Tujuan tersebut tercapai jika memenuhi kriteria hasil; klien mampu menggunakan alat bantu berjalan secara benar dengan pengawasan, meminta bantuan mobilisasi jika diperlukan, mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri atau dengan alat bantu, serta terjadi peningkatan kekuatan otot atau sendi.
Rencana intervensi yang akan diberikan untuk mengatasi hambatan mobilitas fisik antara lain; ajarkan dan dukung klien dalam latihan Rentang Pergerakan Sendi (RPS), awasi seluruh kegiatan mobilitas dan bantu klien jika diperlukan, latih klien dalam pemenuhan kebutuhan ADL secara mandiri sesuai kemampuan, berikan penguatan positif selama latihan atau beraktivitas, anjurkan dan dukung klien untuk latihan mengubah posisi, anjurkan dan dukung klien untuk memperlihatkan postur tubuh dengan benar, serta ajarkan klien untuk menggunakan alat bantu sesuai kebutuhan.
3.4 Implementasi
Setelah selesai dalam penyusunan rencana tindakan keperawatan, maka selanjutnya tindakan yang dilakukan adalah mengimplementasikan tindakan yang sudah direncanakan dalan renpra. Implementasi keperawatan yang telah dilakukan untuk mengatasi konstipasi antara lain, memonitor bising usus, mengevaluasi pola defekasi tiap hari, mengevaluasi feses yang keluar (frekuensi, konsistensi, dan volume), menyediakan tambahan serat dari buah untuk klien, membantu menyediakan air putih dan memotivasi peningkatan asupan cairan, membantu meningkatkan pergerakan tubuh, serta melakukan Swedish Abdominal Massage secara teratur.
Implementasi dilakukan selama 8 kali pertemuan dalam 2 minggu, dimulai pada tangal 9 Juni 2014. Pada minggu pertama, dilakukan pertemuan pada hari Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat, sedangkan pada minggu kedua dilakukan pertemuan pada hari Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Pertemuan pertama, dimulai dengan memonitor bising usus, mengevaluasi pola defekasi, mengevaluasi feses yang keluar (frekuensi, konsistensi, dan volume), serta melakukan massage abdomen.
Pada intervensi yang dilakukan selama 2 minggu pada klien, terdapat beberapa tindakan yang dilakukan setiap pertemuan, yaitu massage abdomen dengan gaya Swedia. Tahapan intervensi pada setiap pertemuan yaitu, pertama penulis memberikan salam dan menanyakan keadaan klien pada hari tersebut, termasuk menanyakan keluhan. Setelah menanyakan kondisi, penulis mengevaluasi 24 hours recall terhadap asupan nutrisi, serat dan cairan. Setelah itu, penulis akan melakukan kontrak intervensi yang akan dilakukan hari ini. Setelah klien menyetujui kontrak, penulis akan memulai intervensi dengan memeriksa bising usus dan memulai proses massage.
Proses massage akan dimulai dengan membuka baju klien pada area abdomen dan menutup bagian lain dengan selimut untuk menjaga privasi klien. Setelah itu penulis akan menuangkan minyak zaitun (olive oil) ke tangan kemudian dioleskan pada abdomen klien sambil dilakukan pemijatan. Kurang lebih 10-15 menit
Universitas Indonesia kemudian, proses massage abdomen selesai kemudian penulis akan mengevaluasi perasaan klien setelah dilakukan massage. Pada tahap terminasi, penulis akan memberikan rencana tindak lanjut pada klien untuk meningkatkan asupan serat dan cairan serta membuat kontrak untuk pertemuan selanjutnya.
Massage abdomen dilakukan karena teraba massa keras pada abdomen kuadran 4. Massage dilakukan pada sekitar pukul 16.00 selama 15 menit. Teknik massage abdomen yang digunakan adalah gaya Swedia dengan teknik stroke pettrisage, effleurage, getaran, dan tapotement. Massage abdomen dilakukan sekitar 4-5 kali dalam satu minggu dan telah dilakukan selama 2 minggu.
Pertama, penulis melakukan gerakan effleurage yaitu teknik memijat dengan menggunakan telapak tangan dengan cara mengusap, melingkar dengan gerakan panjang, perlahan dan halus sebanyak kurang lebih 5-10 kali secara keseluruhan. Effleurage dilakukan dari rektus abdominis, obliques eksternal, dan internal lalu otot transversus abdominis, sebanyak 5-10 kali pada masing-masing bagian. Setelah itu remas abdomen sebanyak 3 kali, kemudian effleurage kembali searah jarum jam pada perkiraan jalan usus kurang lebih 5-10 kali. Vibrasi daerah usus kecil dan usus besar sekitar 1 menit atau lebih dan ulangi effleurage searah jarum jam kembali. Selanjutnya remas diatas perkiraan jalan usus, dengan tinju lembut menggunakan tumit tangan atau jempol selama satu menit. Kemudian lakukan gerakan pettrisage, yaitu gerakan meremas-remas dan memegang otot secara ringan diatas perkiraan jalan usus satu kali. Selanjutnya, lakukan teknik getar (vibrasi) diatas perkiraan jalan usus dan akhiri dengan effleurage searah jarum jam pada perkiraan jalan usus.
Pada pertemuan kedua, yaitu Selasa 10 Juni 2014, penulis mencoba memberikan tambahan asupan serat berupa buah papaya sebanyak 200 gr. Selain itu, penulis juga menyediakan air putih dalam mug yang berisi kurang lebih 500 ml air putih sambil terus memotivasi klien untuk meningkatkan asupan cairan. Motivasi peningkatan asupan serat dan cairan dilakukan sambil melakukan massage
abdomen, agar lebih terjalin hubungan saling percaya dan mengurangi kesan menggurui.
Implementasi yang dilakukan sesuai dengan rencana asuhan keperawatan yang dibuat adalah membantu klien untuk melakukan aktivitas fisik. Hampir setiap pagi, klien dibantu oleh petugas untuk keluar dari wisma menggunakan kursi roda untuk berjemur sambil dilakukan rentang pergerakan sendi. Selain itu, penulis juga membantu klien untuk mengubah posisi dari posisi tidur ke posisi berdiri sambil memotivasi untuk melatih perubahan posisi tersebut secara mandiri. Peningkatan aktivitas fisik ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan kelemahan otot abdomen dan penurunan motilitas usus yang dapat meningkatkan risiko konstipasi.
Setelah melakukan intervensi untuk menangani masalah konstipasi, selanjutnya penulis melakukan implementasi untuk membantu mengatasi masalah hambatan mobilitas fisik pada nenek R. Implementasi yang sering dilakukan kepada klien adalah melakukan melatih rentang pergerakan sendi, membantu ambulasi dari tempat tidur ke kursi roda maupun sebaliknya, serta membantu mengubah posisi dari tidur ke berdiri.
3.5 Evaluasi
Pada tanggal 09 Juni 2014, telah dilakukan implementasi memonitor bising usus, mengevaluasi pola defekasi, serta mengevaluasi frekuensi, konsistensi, dan volume feses. Berdasarkan implementasi tersebut didapatkan evaluasi obyektif yaitu jumlah bising usus 1 kali per menit dan evaluasi subyektif, bahwa tadi pagi (Senin, 09 Juni 2014), klien sudah buang air besar, namun feses yang keluar berbentuk kecil-kecil kira-kira seukuran jari dan dengan konsistensi yang keras.
Setelah dilakukan massage abdomen secara teratur, yaitu selama 15 menit dengan frekuensi 4-5 kali dalam seminggu, didapatkan hasil evaluasi obyektif bahwa masih terdapat rabaan massa keras pada abdomen kuadran 4 dan bising usus masih tetap 1 kali per menit hingga 2 minggu intervensi. Selain evaluasi obyektif,
Universitas Indonesia didapatkan pula evaluasi subyektif yang berasal dari pernyataan klien, bahwa klien sudah dapat melakukan defekasi hampir rutin dua hari sekali. Pada pertemuan 3 dan 4, yaitu pada hari Rabu dan Kamis tanggal 11 dan 12 Juni 2014, klien buang air besar 1 kali dalam sehari, konsistensi keras, volume lebih banyak dari defekasi sebelumnya (sekitar 2 jari tangan).
Pada tanggal 16 Juni 2014, ditemukan evaluasi subyektif bahwa klien mengaku telah buang air besar pada hari Sabtu, 14 Juni 2014 (2 hari yang lalu), feses keras namun jumlahnya agak lebih banyak (lebih dari 1-2 jari tangan). Kemudian pada tanggal 17 Juni, klien telah buang air besar pada tanggal 16 Juni 2014 sore hari. Pada pertemuan ke 7, yaitu hari Rabu, 18 Juni 2014 didapatkan pernyataan bahwa klien telah buang air besar pada hari tersebut pagi hari, namun masih keras dan pada pertemuan terakhir tanggal 19 Juni 2014 didapatkan pernyataan juga bahwa klien juga telah buang air besar pada pagi hari. Hasil evaluasi selama 8 pertemuan ini menunjukkan adanya perbaikan frekuensi defekasi dan jumlah feses yang keluar saat defekasi pada klien. Meskipun begitu, pada 8 kali pertemuan tersebut, klien selalu mengaku bahwa BAB nya masih keras dan bising ususnya tetap 1 kali per menit.
Berdasarkan evaluasi obyektif dan obyektif tersebut, dapat dianalisa bahwa maslah konstipasi yang dialami klien telah terselesaikan sebagian, ditandai dengan meningkatnya asupan cairan, meningkatnya frekuensi defekasi, serta meningkatnya volume feses yang keluar. Planning yang disusun adalah tetap memotivasi klien untuk meningkatkan asupan serat dan cairan dan meminta klien memanggil petugas jika ingin minum dan tidak boleh menahan rasa haus. Selain itu, penulis juga meminta petugas untuk memberikan tambahan sayur dan buah ke dalam makanan klien jika memungkinkan.
Mengenai diagnosa yang kedua, yaitu hambatan mobilitas fisik, setelah dilakukan intervensi selama 2 minggu, juga diperoleh evaluasi obyektif dan subyektifnya. Setelah dilakukan RPS dan latihan ubah posisi, didapatkan data obyektif bahwa kekuatan otot masih sama yaitu
Namun, kemampuan klien untuk melakukan RPS dan ubah posisi secara mandiri meningkat jika dibandingkan dengan sebelum intervensi. Berdasarkan evaluasi tersebut, dapat dianalisa bahwa masalah hambatan mobilitas fisik belum dapat terselesaikan.
Kurangnya hasil yang didapat dari intervensi yang telah dilakukan kemungkinan disebabkan karena pelaksanaaan intervensi yang kurang maksimal untuk mengatasi hambatan mobilitas fisik ini. Hal ini dikarenakan penulis, lebih menfokuskan intervensi untuk menyelesaikan diagnosa utama yaitu konstipasi, serta banyaknya tindakan dan tugas lain yang harus dilakukan kepada WBS lain selama melakukan dinas. Oleh karena itu, planning yang disusun oleh penulis adalah mengoperkan kepada petugas wisma untuk terus melatih RPS, kekuatan otot, serta latihan berjalan untuk klien agar dapat kembali percaya diri dan terjadi peningkatan dalam melakukan aktivitas secara mandiri.
5555 3333 5555 3333
42 Universitas Indonesia ANALISA SITUASI