LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA
3.4 Rencana Intervensi, Implementasi, dan Evaluasi Keperawatan
Rencana asuhan keparawatan dibuat untuk setiap diagnosa yang ditemukan pada tahap prenatal maupun postnatal. Dalam rencana asuhan keperawatan ditentukan tujuan dan kriteria hasil yang akan dicapai dari setiap intervensi yang akan dilakukan.
3.4.1 Rencana Intervensi, Implementasi, dan Evaluasi Prenatal
Diagnosa yang ditemukan pada periode prenatal ialah cemas yang berhubungan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi sebelum dan sesudah melahirkan. Tujuan umum dari intervensi ialah Klien dapat mengatasi/mengontrol rasa cemasnya. Dimana klien menunjukkan pengendalian terhadap cemas yang dibuktikan oleh mengenali penyebab cemas, menggunakan tindakan pencegahan, dan melaporkan
23
Universitas Indonesia cemas dapat dikendalikan. Selain itu klien dapat mengontrol/ mengurangi cemas yang dibuktikan oleh tindakan memperlihatkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan dan melaporkan kesejahteraan fisik dan psikologis. Implementasi yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut ialah mengeksplorasi perasaan klien, memfasilitasi klien untuk mengungkapkan perasaannya, menjadi pendengar yang baik bagi klien, memberikan informasi yang dibutuhkan oleh klien terkait operasi caesar, tubektomi, dan pemberian PASI, dan mengajarkan klien tentang cara mengatasi cemas dengan teknik relaksasi napas dalam, distraksi, dan aktivitas pengalihan. Selain itu juga dilakukan intervensi memberikan informasi yang dibutuhkan klien terkait prosedur operasi caesar serta mendampingi klien dan membantu klien untuk mengurangi rasa cemas dengan aktivitas pengalihan: bercakap-cakap.
Hasil dari intervensi yang dilakukan pada tanggal 15 Mei 2013 pada saat edukasi di poli obstetri ginekologi dan pada tanggal 17 Mei 2013 menjelang operasi caesario, menunjukkan bahwa klien mengatakan rasa khawatirnya berkurang karena tahu bahwa KB steril tidak akan mengganggu hubungan suami istri, klien mengatakan akan melakukan teknik relaksasi yang diajarkan. Klien mengatakan mau dikunjungi untuk dijelaskan lebih lanjut tentang pemberian PASI pada ibu HIV. Kecemasan klien teratasi ditunjukkan dengan nilai TTV yang normal TD: 120/80, HR:87, suhu:36,5, RR:18, klien tampak lebih tenang setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, klien mampu mendemonstrasikan teknik relaksasi napas dalam. Sehingga masalah cemas teratasi sebagian. Selanjutnya klien dianjurkan untuk melakukan teknik mengurangi cemas yang diajarkan dan melakukan kunjungan rumah untuk memberikan informasi yang dibutuhkan terkait masalah klien.
Universitas Indonesia 3.4.2 Rencana Intervensi, Implementasi, dan Evaluasi Postnatal
Diagnosa keperawatan pertama pada periode postnatal ialah kesiapan meningkatkan pengetahuan tentang cara pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi. Tujuan umum dari intervensi yang akan dilakukan ialah Pengetahuan klien tentang pencegahan transmisi dari ibu ke bayi bertambah. Sedangkan tujuan khususnya ialah klien akan memahami tentang cara perawatan bayi yang baik dan benar, carra menghindari agen infeksius dengan baik dan benar, dan perilaku hygiene mencegah transmisi HIV. Implementasi yang dilakukan ialah menelaskan apa yang dimaksud transmisi HIV dari ibu ke bayi, melakukan edukasi pada ibu tentang cara pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi, menjelaskan dan demonstrasikan cara perawatan bayi yang baik dan benar, menjelaskan dan demonstrasikan cara membuang sampah dan menghindari agen-agen infeksius yang meningkatkan transmisi, mencuci tangan, menggunakan sarung tangan, dan lainnya serta melakukan evaluasi pengetahuan dan kemampuan ibu dalam hal pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi.
Hasil dari implementasi yang dilakukan selama dua kali yaitu pada tanggal 25 Mei 2013 dan pada tanggal 29 Juni 2013 menunjukkan bahwa klien mengatakan sekarang menjadi lebih mengerti bagaimana mencegah penularan dari ibu ke bayi. Klien mampu menjelaskan kembali cara mencegah transmisi dari ibu ke bayi. Sehingga masalah teratasi sebagian. Selanjutnya dilakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan pada pertemuan selanjutnya dan didapatkan hasil bahwa klien mengatakan selama ini telah memperhatikan kebersihan bayi dan mencegah bayi terpapar dari cairan infeksius, klien membuang sampah infeksius dengan cara yang benar, dan menggunakan APD jika diperlukan seperti sarung tangan dan masker. Klien juga mampu menyebutkan cara mencegah infeksi pada bayi yang rentan. Sehingga masalah teratasi. Selanjutnya klien dianjurkan untuk melakuakan cara perawatan yang telah diajarkan.
25
Universitas Indonesia Diagnosa keperawatan kedua ialah ialah kesiapan meningkatkan pengetahuan tentang cara melakukan perawatan postnatal pasca operasi caesar. Tujuan umum dari intervensi yang akan dilakukan ialah klien akan melaporkan pengetahuan yang bertambah tentang perawatan postnatal pasca operasi caesar. Sedangkan tujuan khususnya ialah meningkatkan pengetahuan klien tentang personal hygiene, istirahat & tidur, latihan senam nifas, gizi/nutrisi, perawatan/bebat payudara, KB, dan seksualitas pasca persalinan. Implementasi mandiri yang dilakukan yaitu melakukan pengkajian tingkat pengetahuan klien tentang perawatan postnatal, memberikan edukasi tentang perawatan postnatal, meliputi personal hygiene, istirahat & tidur, latihan senam nifas, gizi/nutrisi, perawatan/bebat payudara, KB, dan seksualitas pasca persalinan,membuatkan jadwal kunjungan klien ke poli postnatal, menjelaskan tanda-tanda bahaya yang mungkin terjadi pada ibu nifas dan kapan saja harus berkunjung, dan mengevaluasi kemampuan klien untuk melakukan perawatan postnatal di rumah.
Hasil dari implementasi yang dilakukan pada tanggal 25 Mei 2013 dan pada tanggal 15 Juni 2013 menunjukkan bahwa klien mengatakan sudah lebih mengerti setelah dijelaskan tentang cara perawatan postnatal setelah operasi caesar. Klien dapat menjelaskan kembali cara melakukan perawatan perineum yang baik dan benar, menyebutkan tanggal kembali kontrol, menyebutkan pemenuhan nutrisi yang baik untuk proses penyembuhan. Sehingga masalah teratasi sebagian dan dilakukan evaluasi kemampuan klien dalam melakukan perawatan diri postnatal dan edukasi tentang cara supresi laktasi, pada pertemuan selanjutnya dengan hasil klien mengatakan sudah mengerti bagaimana cara membebat payudara. Klien juga mampu mendemonstrasikan cara melakukan perawatan payudara dan melakukan bebat namun, sampai terakhir kunjungan supresi payudara masih belum berhasil. Sehingga masalah teratasi sebagian. Selanjutnya klien dianjurkan untuk
Universitas Indonesia melakukan cara yang telah diajarkan untuk mengurangi nyeri di payudara dan membalut mammae untuk supresi laktasi.
Diagnosa keperawatan ketiga adalah kesiapan meningkatkan pengetahuan tentang cara pemberian PASI yang baik dan benar. Tujuan umum dari intervensi yang dilakukan ialah engetahuan klien tentang pemberian PASI pada bayi akan bertambah Sedangkan tujuan khusunya ialah klien akan memahami tentang indikasi pemberian PASI dan cara pemberian PASI yang baik dan benar. Implementasi yang dilakukan ialah menjelaskan indikasi pemberian PASI, manfaat, dan tujuannya bagi ibu dengan SIDA pada bayinya, melakukan edukasi ibu tentang cara pemberian PASI yang benar mendemonstrasikan cara penyajian PASI yang benar, dan melakukan evaluasi kemampuan ibu dalam memberikan PASI yang baik dan benar.
Hasil implementasi yang dilakukan tanggal 15 Juni 2013 menunjukkan bahwa klien mengatakan sudah mengerti tentang bagaimana cara memberikan PASI yang baik dan benar untuk bayinya. Klien dapat menyebutkan cara memberikan PASI yang baik dan benar untuk bayi dan mendemonstrasikan cara pembuatan PASI yang benar sehingga masalah teratasi. Selanjutnya menganjurkan klien untuk melakukan cara pemberian dan penyajian PASI seperti yang telah diajarkan pada bayinya.
27 Universitas Indonesia BAB 4