ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN
KESEHATAN MASYARAKAT PERKOTAAN PADA PASIEN
KEHAMILAN DENGAN SINDROMA DEFISIENSI IMUN
AKUT (SIDA) DI RSUPN DR CIPTO MANGUNKUSUMO
KARYA ILMIAH AKHIR
RANI SETIANI SUJANA 0806334306
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM PROFESI NERS
DEPOK JULI 2013
UNIVERSITAS INDONESIA
ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN
KESEHATAN MASYARAKAT PERKOTAAN PADA PASIEN
KEHAMILAN DENGAN SINDROMA DEFISIENSI IMUN
AKUT (SIDA) DI RSUPN DR CIPTO MANGUNKUSUMO
KARYA ILMIAH AKHIR
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ners
RANI SETIANI SUJANA 0806334306
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM PROFESI NERS
DEPOK JULI 2013
Karya ilmiah akhir
dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.
Nama NPM
Tanda Tangan Tanggal
ii Universitas Indonesia Karya ilmiah akhir ini adalah hasil karya saya sendiri,
dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.
Nama : Rani Setiani Sujana
NPM : 0806334306
Tanda Tangan :
Tanggal : 01 Juli 2013
Universitas Indonesia Analisis praktik ..., Rani Setiani, FIK UI, 2013
iii Universitas Indonesia HALAMAN PENGESAHAN
Karya ilmiah akhir ini diajukan oleh :
Nama : Rani Setiani Sujana
NPM : 0806334306
Program Studi : Ilmu Keperawatan
Judul Karya Tulis Akhir : Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (SIDA) di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo.
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ners pada Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia
DEWAN PENGUJI
Pembimbing : Hayuni Rahmah, S.Kp, MNS ( )
Penguji : Tri Budiati, S.Kep., M.Kep, Sp. Kep.Mat ( )
Ditetapkan di : Depok Tanggal : 01 Juli 2013
iv Universitas Indonesia Puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada penulis untuk menyelesaikan pembuatan karya ilmiah akhir yang berjudul “Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (SIDA) di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo”. Saya menyadari tanpa adanya bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak akan sulit bagi saya untuk menyelesaikan karya ilmiah ini. Oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih kepada:
1) Ibu Hayuni Rahmah, S.Kp, MNS selaku dosen pembimbing yang telah mencurahkan waktu dan pikirannya untuk membimbing dan mengarahkan saya dalam menyusun karya ilmiah akhir ini.
2) Ibu Tri Budiati, S.Kep., M.Kep, Sp. Kep.Mat selaku koordinator mata ajar dan pembimbing klinik yang telah banyak membimbing selama praktik. 3) Clinical Instructor dan perawat di lahan praktik klinik KKMP Peminatan
Maternitas di Poli Obstetri dan Ginekologi serta di Ruang Perawatan Obstetri RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta, yang telah membantu memperoleh data yang saya perlukan selama menyelesaikan karya ilmiah akhir ini.
4) Ayahanda Dadang Sujana, M.Si, MM dan Ibunda Ai Mulyani, S.Pd serta keluarga tercinta yang telah memberikan bantuan moral dan material yang tidak henti-hentinya selama penyusunan karya ilmiah akhir ini.
5) Sahabat dan seluruh rekan-rekan saya yang telah memberikan support dan semangat kepada saya selama ini, di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dan dimanapun berada.
Penulis sangat terbuka terhadap kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan ke depannya. Akhir kata penulis berharap Allah SWT berkenan membalas semua kebaikan semua pihak yang telah membantu penulis. Semoga karya ilmiah akhir ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Depok, Juli 2013 Penulis
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Rani Setiani Sujana
NPM : 0806334306
Program Studi : Ilmu Keperawatan Departemen : Ilmu Keperawatan
Fakultas : Fakultas Ilmu Keperawatan Jenis karya : Karya Ilmiah Akhir
demi pengembangan ilmu Universitas Indonesia
Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (SIDA) di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non-eksklusif ini Universi
formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data ( memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
v Universitas Indonesia HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di
Rani Setiani Sujana 0806334306 Ilmu Keperawatan Ilmu Keperawatan
Fakultas Ilmu Keperawatan Karya Ilmiah Akhir
ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Non-eksklusif (Non
atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (SIDA) di RSUPN Dr
ang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
eksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/ mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di: Depok Pada tanggal: 01 Juli 2013
Yang menyatakan
( Rani Setiani Sujana )
Universitas Indonesia HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di
an, menyetujui untuk memberikan kepada Non-exclusive
Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (SIDA) di RSUPN Dr
ang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
mengalihmedia/ ), merawat, dan nama saya sebagai
vi Universitas Indonesia Nama : Rani Setiani Sujana
Program studi : Ilmu Keperawatan
Judul :Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (SIDA) di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo
Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (SIDA) merupakan fenomena masalah kesehatan perkotaan. Asuhan keperawatan pada periode perinatal untuk perempuan dengan SIDA memiliki perbedaan dengan asuhan keperawatan kehamilan pada umumnya. Dalam analisis praktik keperawatan ini ditemukan bahwa cemas/ansietas terhadap kondisi kehamilan merupakan masalah keperawatan utama yang disebabkan oleh kurangnya informasi yang dibutuhkan oleh klien selama menjalani kehamilannya. Karya ilmiah ini telah menunjukkan bahwa intervensi terkait pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi dapat membantu klien dalam mengurangi kecemasannya pada kehamilan dengan SIDA. Kata kunci:
Kehamilan, HIV/AIDS, SIDA, Perkotaan
vii Universitas Indonesia ABSTRACT
Name : Rani Setiani Sujana Study Program : Nursing Science
Title : Analysis of Clinical Nursing Practice of Urban Public Health at Pregnancy Patients with Acute Immune Deficiency Syndrome (HIV) in RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo.
Pregnancy with Acute Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) is a phenomenon of urban health problems. Nursing care in the perinatal period to the women with HIV has differences with other nursing care in pregnancy. In this nursing practice analysis found that anxiety of the condition during pregnancy is a major nursing problem that is caused by a lack of information needed by the client during their pregnancy. This scientific work has shown that interventions for the prevention of HIV transmission from mother to infant can assist clients in reducing anxiety in pregnancy with HIV/AIDS.
Keywords:
Pregnancy, HIV / AIDS, Urban
viii Universitas Indonesia
HALAMAN JUDUL………...……….…i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS……….…..ii
HALAMAN PENGESAHAN………..…..……...…….………...………...iii
KATA PENGANTAR…………..………...………...…....iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI………..v
ABSTRAK/ABSTRACT ……….………...vi DAFTAR ISI……….……...……….……...viii DAFTAR LAMPIRAN………...x 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang…...……….….…..………….…………....….1 1.2 Rumusan Masalah………...………….….………...3 1.3 Tujuan Penelitian...……….…….…...…...4 1.3.1 Tujuan Umum………...4 1.3.2 Tujuan Khusus………...4 1.4 Manfaat Penelitian……….………...5
1.4.1 Manfaat bagi Teoritis...…………...5
1.4.2 Manfaat bagi Praktis...………...….…5
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori dan Konsep Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan...7
2.2 Peran Perawat dalam Keparawatan kesehatan Perkotaan………...8
2.3 Perempuan dan HIV/AIDS...8
2.4 Kehamilan dengan SIDA...9
2.5 Periode Prenatal pada Kehamilan dengan SIDA...11
2.6 Periode Intranatal pada Kehamilan dengan SIDA...12
2.7 Periode Postnatal pada Kehamilan dengan SIDA...12
2.8 Teori Intervensi Inovasi Edukasi Pencehagan Transmisi HIV dari Ibu ke Bayi pada Kehamilan dengan SIDA...13
2.8.1 Transmisi HIV pada Kehamilan dengan SIDA...13
2.8.2 Terapi ARV pada Kehamilan dengan SIDA...15
3. LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA 3.1 Gambaran Kasus...……….………….……….17
3.2 Pengkajian...……….………...18
3.2.1 Pengkajian Prenatal...19
3.2.1 Pengkajian Postnatal...20
3.3 Diagnosa Keperawatan...21
3.3.1 Diagnosa Keperawatan Prenatal...21
3.3.2 Diagnosa Keperawatan Postnatal...21
3.4 Rencana Intervensi, Implementasi, dan Evaluasi Keperawatan...22
3.4.1 Rencana Intervensi, Implementasi, dan Evaluasi Prenatal...22
3.4.2 Rencana Intervensi, Implementasi, dan Evaluasi Postnatal...24
ix Universitas Indonesia 4. ANALISIS KASUS
4.1 Profil Lahan Praktik………...………....…………27
4.2 Analisis Masalah Kehamilan SIDA dengan Konsep KKMP...….……...28
4.3Analisis Masalah Keperawatan dengan Konsep terkait Kehamilan SIDA.30 4.4 Analisis Intervensi Keperawatan dengan Konsep dan Penelitian terkait...32
4.5 Alternatif Pemecahan yang dapat Dilakukan...33
5. PENUTUP 5.1 Kesimpulan...35
5.2 Saran...36
5.2.1 Institusi Pendidikan...……….36
5.2.2 Institusi Pelayanan...……….………...36
5.2.3 Penelitian atau Keilmuan...36 6. DAFTAR PUSTAKA
7. LAMPIRAN
x Universitas Indonesia Lampiran 1 Pengkajian
Lampiran 2 Analisis Data
Lampiran 3 Rencana Asuhan Keperawatan Lampiran 4 Catatan Perkembangan
Lampiran 5 Biodata Penulis
1 Universitas Indonesia BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehamilan pada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) atau Sindroma Defisiensi Imun Akut (SIDA) merupakan suatu fenomena kesehatan masyarakat perkotaan yang mulai banyak ditemukan terutama di kota besar seperti Jakarta. Kehamilan dengan SIDA (HIV/AIDS) ini akan melahirkan suatu praktik baru dalam dunia kesehatan dan keperawatan. Penatalaksanaan keperawatan maternitas akan dituntut untuk lebih berkembang dan melahirkan inovasi yang spesifik terhadap masalah perkotaan kehamilan dengan SIDA. Kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan asuhan keperawatan maternitas pada kehamilan dengan SIDA dapat menjadi berbeda dan unik karena adanya beberapa kebutuhan khusus yang membedakannya dari kehamilan lain pada umumnya.
Data yang diperoleh dari UNAIDS tahun 2008 juga menunjukkan bahwa 35 % ODHA di Asia adalah perempuan. Angka ini memiliki kenaikan yang signifikan dibandingkan tahun 1990 yang hanya 17 %. Selain itu, diperkirakan terdapat 50 juta perempuan di Asia yang berisiko terinfeksi HIV dari pasangan seks mereka. Data lain menyebutkan bahwa diantara 1,7 juta perempuan Asia yang sudah tertular HIV, 90 % tertular dari suami atau pasangan tetap mereka.
ODHA yang berobat di Unit Pelayanan Terpadu HIV RSCM (Pokdisus) sampai awal bulan Juni 2011 tercatat 5414 orang. Lebih dari sepertiganya merupakan perempuan. Ada lebih dari 200 ODHA bayi dan anak yang hampir semuanya diasuh oleh ibu atau keluarga perempuan yang berobat jalan (Pokdisus RSCM, 2013).
Kehamilan merupakan suatu krisis maturitas yang dapat menimbulkan stress, tetapi berharga karena wanita akan dituntut untuk menyiapkan diri untuk
Universitas Indonesia memberi perawatan dan mengemban tanggung jawab yang lebih besar. Seiring persiapannya untuk menghadapi peran baru yaitu menjadi orang tua. (Bobak, 2008). Stressor yang dialami pada kehamilan SIDA tentu akan lebih besar lagi karena adanya ketakutan akan situasi dan kondisi yang akan dialami selama masa kehamilan sampai melahirkan. Masalah kesehatan ibu dan bayi yang dikandungnya juga akan menjadi fokus perhatian. Kebutuhan calon ibu akan informasi tentu akan menjadi lebih banyak dibandingkan pada ibu dengan kehamilan non-SIDA (Green, 2005).
Asuhan keperawatan selama persalinan pada kehamilan SIDA tidak banyak berbeda dengan persalinan pada operasi caesar lainnya. Akan tetapi, asuhan keperawatan selama postnatal akan lebih banyak berbeda pada kehamilan SIDA. Kebutuhan perawatan postnatal pada kehamilan SIDA akan berbeda, dimana akan diperlukan kebutuhan belajar khusus seperti dalam melakukan perawatan bayi dan cara memberikan ASI yang berbeda dan lebih hati-hati. Selain itu, menurut Thorne (2007) kondisi bayi baru lahir pada kehamilan SIDA juga digolongkan terhadap kondisi khusus. Bayi biasanya akan diberikan terapi sesaat setelah lahir. Cara perawatan bayi pun harus benar-benar tepat agar bayi bisa tetap dalam kondisi yang sehat dan tidak terjadi penularan HIV dari ibu ke bayi.
Penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi pada kehamilan dengan SIDA menjadi suatu tantangan bagi pelayanan kesehatan dan stressor sendiri bagi ibu. SIDA on ARV atau penderita HIV yang mendapatkan terapi obat antiretroviral (ARV) terbukti dapat mengurangi angka penularan sebesar 96 %. Hal tersebut dibuktikan oleh sebuah penelitian internasional besar (HPTN 052) yang diselenggarakan oleh Institut Alergi dan Penyakit Infeksi Amerika pada tahun 2005. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penularan akan dapat dicegah pada ibu yang mendapatkan terapi ARV. Akan tetapi, tetap perlu diperhatikan upaya-upaya apa saja yang harus dilakukan untuk pencegahan penularan Ibu HIV ke bayinya.
3
Universitas Indonesia Dinamika pada masa kehamilan dengan sampai dengan pada masa pasca melahirkan akan dialami pada kehamilan dengan SIDA. Sebagai pemegang peran pemberi asuhan keperawatan, seorang perawat profesional perlu mengetahui kebutuhan khusus yang dimiliki oleh setiap ibu dengan kehamilan SIDA sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan maternitas yang holistik secara tepat dan profesional. Isu-isu seputar kehamilan dan HIV/AIDS penting untuk dipahami lebih mendalam oleh seorang perawat maternitas dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien dengan kehamilan SIDA. Pada periode prenatal, ibu dengan kehamilan SIDA akan membutuhkan banyak informasi terkait risiko kesehatan yang mungkin dihadapi oleh dirinya maupun bayi yang berada di kandungannya. Pada masa intranatal, asuhan keperawatan akan berfokus pada pencegahan transmisi HIV pada ibu ke bayi dan pada ibu ke petugas kesehatan selama proses persalinan. Sedangkan pada periode postnatal asuhan keperawatan akan berfokus pada kesiapan ibu menjadi orang tua yang akan merawat bayinya secara mandiri (Bobak, 2008).
1.2 Rumusan Masalah
Angka kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Akut atau SIDA di Indonesia telah mengalami peningkatan dibandingkan beberapa tahun belakangan terutama di daerah perkotaan. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan dan gaya hidup masyarakat perkotaan yang meningkatkan risiko penularan HIV/AIDS yaitu diantaranya perilaku seks bebas, bergonta-ganti pasangan, dan penggunaan narkoba jarum suntik di kalangan masyarakat perkotaan yang jumlahnya semakin meningkat. Kehamilan dengan SIDA akan menimbulkan stressor tersendiri dan berbagai risiko baik pada ibu maupun bayinya, sehingga diperlukan sebuah asuhan keperawatan maternitas yang khusus dan spesifik untuk mengatasinya.
Stressor yang dialami oleh ibu pada kehamilan SIDA adalah ketakutan akan terjadinya penularan HIV kepada bayinya. Ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan penularan akan terjadi. Hal yang paling
Universitas Indonesia mempengaruhi adalah tingkat viral load (jumlah virus yang ada di dalam darah) ibu dan status kesehatan ibu. Untuk mengurangi stressor dan menekan kecemasan tersebut, pendidikan kesehatan tentang pencegahan transmisi HIV AIDS dari ibu ke bayi (Mother to Children Transmission/MTCT) harus dilakukan kepada ibu sejak periode prenatal sampai postnatal.
Masih rendahnya tingkat pengetahuan ibu tentang transmisi HIV dari ibu ke bayi dan kurangnya informasi yang didapatkan oleh ibu menyebabkan ibu dengan kehamilan SIDA memiliki masalah cemas/ansietas selama masa kehamilannya. Kecemasan yang ditimbulkan dari kurangnya pengetahuan ini akan memberikan respon negatif terhadap kesehatan ibu. Hal ini membuat penulis ingin melakukan asuhan keperawatan kepada ibu dengan kehamilan SIDA terkait dengan masalah cemas yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan ibu tentang pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi.
1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan maternitas secara holistik dan profesional pada kehamilan dengan SIDA.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu menjelaskan gambaran tentang kehamilan dengan SIDA di daerah perkotaan.
b. Mahasiswa mampu menjelaskan pengkajian secara menyeluruh pada klien dengan kehamilan SIDA di periode prenatal dan postnatal.
c. Mahasiswa mampu menjelaskan diagnosa keperawatan sesuai prioritas masalah pada klien dengan kehamilan SIDA di periode prenatal dan postnatal.
d. Mahasiswa mampu menjelaskan rencana intervensi keperawatan untuk mengatasi masalah pada klien dengan kehamilan SIDA di periode prenatal dan postnatal.
5
Universitas Indonesia e. Mahasiswa mampu menjelaskan intervensi keperawatan untuk mengatasi
masalah pada klien dengan kehamilan SIDA di periode prenatal dan postnatal..
f. Mahasiswa mampu menjelaskan evaluasi tindakan yang telah dilakukan. g. Mahasiswa mampu menganalisis kesenjangan antara asuhan keperawatan
maternitas yang diberikan dengan teori-teori terkait.
1.4 Manfaat Penulisan 1.4.1 Manfaat Teoritis
Karya ilmiah ini diharapkan dapat meningkatkan ilmu pengetahuan dalam bidang keperawatan khususnya keperawatan maternitas mengenai asuhan keperawatan pada klien dengan kehamilan SIDA di periode prenatal dan postnatal.
1.4.2 Manfaat Praktis
a. Praktik pelayanan keperawatan
Karya ilmiah ini dapat menjadi sumber informasi bagi perawat, khususnya di ruang lingkup keperawatan maternitas dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan kehamilan SIDA di periode prenatal dan postnatal..
b. Rumah sakit/sarana pelayanan kesehatan
Karya ilmiah ini dapat menjadi masukan bagi rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lainnya dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan kehamilan SIDA terkait intervensi yang dapat dilakukan terhadap masalah prioritas yang ditemukan.
c. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)
Karya ilmiah ini berguna sebagai sumber pengetahuan tentang kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut atau SIDA pada kalangan ODHA sehingga dapat meminimalkan berbagai risiko yang mungkin terjadi selam kehamilan dan dapat mempertimbangkan berbagai masalah fisik maupun psikososial yang akan dihadapi selama periode prenatal dan postnatal.
Universitas Indonesia d. Mahasiswa
Karya ilmiah ini dapat menambah wawasan dan pengalaman belajar bagi mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan maternitas pada klien dengan kehamilan SIDA di periode prenatal dan postnatal secara holistik dan profesional.
7 Universitas Indonesia BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori dan Konsep Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinu dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Kawasan perkotaan (urban) dalam UU Penataan ruang No.26 tahun 2007 adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Masyarakat perkotaan merupakan suatu komunitas yang tinggal di perkotaan dengan semua keadaan dan kondisi yang ada di lingkungan kota. Jumlah masyarakat perkotaan bertambah setiap tahunnya dipengaruhi oleh jalur urbanisasi.
Fakta membuktikan bahwa dibandingkan dengan situasi sosial di pedesaan (rural), kemelut sosial di perkotaan lebih berat. Penyalahgunaan alkohol dan narkotika sudah menjadi masalah serius yang berdampak negatif, selain itu masalah pelacuran dan pergaulan bebas bahkan menjadi isu sehari-hari di kota-kota besar di Indonesia (Abidin, 2002). Praktik penyalahgunaan narkotika melalui jarum suntik, perilaku seks bebas, pelacuran, dan penularan melalui benda-benda terkontaminasi lainnya yang banyak terjadi di perkotaan mengakibatkan jumlah penderita HIV/AIDS di kalangan masyarakat perkotaan lebih tinggi daripada di daerah rural di Indonesia seperti yang terjadi di beberapa kota-kota besar di Indonesia (Komisi Penanggulangan AIDS, 2013).
Lebih dari sepertiga penderita AIDS di Asia merupakan perempuan. Dari jumlah tersebut 90 % mengalami HIV akibat tertular dari suami atau pasangan tetapnya (UNAIDS, 2013). Terdapat dari 200 ODHA bayi dan anak yang hampir semuanya diasuh oleh ibu atau keluarga perempuan yang
Universitas Indonesia berobat jalan di Pokdisus RSCM. Bayi dan anak-anak tersebut merupakan anak-anak yang tertular infeksi virus HIV dari ibu dengan kehamilan SIDA.
2.2 Peran Perawat dalam Keperawatan Kesehatan Perkotaan
Ruang lingkup praktik keperawatan masyarakat meliputi upaya-upaya peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), pemeliharaan kesehatan dan pengobatan (kuratif), pemulihan kesehatan (rehabilitatif) dan mengembalikan serta memfungsikan kembali baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat ke lingkungan sosial dan masyarakatnya (resosialisasi) (Stanhope & Lancaster, 2004). Adapun peran perawat diantaranya ialah pemberi perawatan, pemberi keputusan klinis, pelindung dan advokat klien, manajer kasus, rehabilitator, pemberi kenyamanan, komunikator, penyuluh, dan peran karier (Potter & Perry, 2009).
Kehamilan dengan SIDA akan menimbulkan berbagai masalah keperawatan yang akan dihadapi oleh klien selama periode prenatal, intranatal, dan postnatal. Pada ketiga periode ini, perawat dapat menjalankan peran dan fungsinya. Menurut Bobak (2005), informasi akan banyak dibutuhkan oleh ibu dengan kehamilan SIDA terutama terkait dengan risiko kesehatan yang akan dihadapi pada dirinya dan bayinya. Oleh karena itu, pada kehamilan dengan SIDA peran dan fungsi perawat yang paling penting dalam kasus ialah peran sebagai pemberi asuhan keperawatan, pemberi kenyamanan, komunikator, dan peran sebagai penyuluh. Peran dan fungsi tersebut dilakukan oleh perawat dari mulai periode prenatal sampai postnatal selama masih berada di lingkungan pelayanan kesehatan hingga kunjungan ke rumah. 2.3 Perempuan dan HIV AIDS
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (sindrom) yang
timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat Human
Immunodeficiency Virus (HIV) . Virus tersebut melemahkan kekebalan tubuh
manusia sehingga manusia yang terinfeksi virus ini menjadi rentan terhadap
9
Universitas Indonesia infeksi oportunistik. HIV ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah dengan cairan tubuh yang mengandung HIV seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan preseminal, dan ASI (WHO, 2013).
Diperkirakan sebanyak 34 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV/AIDS. Dari jumlah tersebut lebih dari sepertiganya merupakan wanita dan anak-anak. Data lain menyebutkan bahwa 35 % orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Asia adalah perempuan. Diantara 1,7 juta perempuan Asia yang sudah tertular HIV, 90 % tertular dari suami atau pasangan tetap mereka. Jika dilihat dari perspektif gender, jumlah wanita yang terinfeksi HIV telah mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan pada tahun 1990 (UNAIDS, 2013).
Faktor yang ikut memperbesar kerentanan perempuan terhadap HIV adalah kekerasan fisik, yang sering diikuti oleh kekerasan seksual yang dilakukan oleh suami atau pasangan tetap mereka. Perempuan yang mengalami kekerasan ini mempunyai risiko tujuh kali lebih besar tertular HIV dibandingkan dengan perempuan yang tidak mengalami kekerasan atau mempunyai suami setia. Berdasarkan pengalaman klinis, kondisi kesehatan yang mempengaruhi laki-laki dan perempuan secara berbeda menunjukkan
health seeking behaviours yang berbeda pada laki-laki dan perempuan.
Beberapa penyakit termasuk HIV sering tidak terdiagnosis terutama pada perempuan, sehingga menyebabkan penundaan pemberian terapi yang adekuat atau memadai padahal pemberian terapi Antiretroviral (ARV) pada perempuan yang sedang mengandung akan sangat berpengaruh terhadap bayi yang dikandungnya (Djoerban, 2011).
2.4 Kehamilan dengan SIDA
Kehamilan dengan HIV AIDS atau biasa juga disebut dengan kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (SIDA) akan menimbulkan respon stress bagi ibu maupun pasangan. Hal ini karena adanya ancaman dari
Universitas Indonesia kehamilan berisiko yang akan dihadapi selama masa kehamilan, persalinan, dan pasca persalinan. Beberapa perempuan dengan kehamilan SIDA ditemukan melakukan usaha untuk menggugurkan kandungan setelah tahu bahwa mereka hamil.
Menjadi hamil tidak memperburuk kesehatan perempuan terinfeksi HIV, atau mempercepat lajunya penyakit. Namun menjadi hamil dapat mengakibatkan penurunan pada jumlah CD4. Penurunan tersebut umumnya kurang lebih 50, tetapi dapat berbeda-beda. Jumlah CD4 umumnya kembali pada angka semula segera setelah melahirkan. Walaupun jumlah CD4 mutlak dapat turun, kemungkinan persentase CD4 (CD4%) akan lebih stabil, dan mungkin lebih baik dipantau CD4% waktu hamil. Namun, bila jumlah CD4 turun di bawah 200, risiko timbulnya infeksi oportunistik (IO) dapat menjadi lebih tinggi. Infeksi ini dapat mempengaruhi baik ibu maupun bayi, dan kita mungkin harus lebih waspada terhadap gejala IO dan pastikan bahwa infeksi segera diobati. Umumnya perempuan hamil seharusnya memakai obat pencegahan IO (profilaksis) yang sama dengan perempuan tidak hamil, terutama dengan memakai kotrimoksazol bila jumlah CD4 di bawah 200. HIV tidak mempengaruhi kelanjutan kehamilan pada perempuan yang memakai ARV atau tidak. HIV juga tidak mempengaruhi kesehatan janin, asal ibunya tidak mengalami IO (Green, 2005).
Yayasan Pelita Ilmu (YPI) telah melakukan survei pada 537 ibu hamil di Jakarta dan menemukan 6 ibu hamil dengan SIDA. Umumnya respon utama yang dialami oleh ibu hamil dengan SIDA adalah cemas atau khawatir. Oleh karena itu, sangat penting sekali untuk melakukan konsultasi bagi ibu hamil dengan SIDA mengenai kehamilan yang sedang dialaminya. Melalui konsultasi yang dilakukan, beban pikiran yang dialami oleh ibu hamil dengan SIDA akan berkurang. Selain itu, dengan konsultasi secara rutin, informasi seputar masalah kesehatan akan diperoleh sesuai yang dibutuhkan oleh klien. Tes dan konseling bermanfaat untuk mencegah penularan HIV lebih lanjut, ke suami, ke istri, ataupun ke orang lain. Melalui tes dan konseling yang
11
Universitas Indonesia dilakukan, dapat diambil keputusan bersama terkait kehamilan dengan SIDA yang dihadapi. Bila kehamilan kurang dari 22 minggu dan dampak kehamilan dinilai akan merugikan, baik ditinjau dari kesehatan ataupun dari segi sosiomedik, maka pengakhiran kehamilan dapat dikerjakan. Tentu semua pertimbangan aspek tersebut harus diputuskan bersama baik oleh tim medis dan non medis. Pengakhiran kehamilan yang aman adalah sebelum 12 minggu dan dikerjakan di rumah sakit pemerintah agar dapat segera mendapatkan pertolongan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, pada usia kehamilan yang sudah mencapai 6 bulan dan baru terdiagnosa SIDA, konsultasi menjadi lebih penting untuk dilakukan dan klien akan sangat mungkin untuk dianjurkan melanjutkan kehamilan dengan menunjungi sarana konseling AIDS untuk mendapatkan informasi mengenai cara pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi (Djoerban, 2011).
2.5 Periode Prenatal pada Kehamilan dengan SIDA
Insiden HIV pada wanita hamil diperkirakan meningkat. Riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium penting untuk menjamin ibu dan bayi akan mendapatkan perawatan yang tepat. Individu yang berada pada kategori infeksi HIV meliputi wanita dan pasangan dari daerah geografis HIV umum terjadi, wanita dan pasangan yang menggunakan obat-obatan intravena, wanita dengan PMS persisten dan PMS rekuren, wanita yang menerima transfusi antara tahun 1987-1985, dan setiap wanita yang yakin bahwa ia mungkin terpapar HIV. Informasi dan pemeriksaan HIV harus dilakukan pada wanita yang berisiko tinggi pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan prenatal (Bobak, 2008).
Beberapa ketidaknyamanan prenatal seperti keletihan, anoreksia, dan penuruann berat badan bisa menjadi tanda dan gejala infeksi HIV selama kehamilan. Untuk menyokong sistem imun selama kehamilan selain terapi ARV yang diberikan, nutrisi optimum, tidur dan istirahat, latihan fisik, dan reduksi stress sangat penting untuk dilakukan. Edukasi tentang konsekuensi yang mungkin terjadi pada bayinya juga harus dilakukan. Selain itu,
Universitas Indonesia konseling tentang bagaimana melanjutkan kehamilan dan meminimalkan kemungkinan risiko yang terjadi juga harus dilakukan mulai dari periode prenatal selama kehamilan dengan SIDA.
2.6 Periode Intranatal pada Kehamilan dengan SIDA
Perawatan selama persalinan pada ibu dengan SIDA tidak secara substansial berubah karena adanya infeksi HIV. Model kelahiran yang akan dilakukan didasarkan hanya pada pertimbangan obstetrik karena virus menembus plasenta pada tahap awal kehamilan. Fokus utama perawatan pada periode intranatal ini ialah mencegah persebaran nosokomial HIV dan melindungi tenaga kesehatan. Risiko transmisi HIV dianggap rendah selama proses kelahiran pervaginam terlepas dari kenyataan bayi terpapar pada darah, cairan amniotik, dan sekresi vagina lainnya (Bobak, 2008).
Persalinan pervaginam yang memungkinkan terpaparnya bayi pada darah, cairan amniotik dan sekresi vagina lainnya membuat persalinan jenis ini menjadi rentan untuk penularan HIV AIDS pada bayi sehingga operasi caesario biasanya dilakukan untuk meminimalkan risiko transmisi pada kehamilan dengan SIDA. Dalam berbagai penelitian terbaru diketahui bahwa persalinan dengan metode elektif seksio caesario dan pemberian terapi ARV selama kehamilan sampai proses persalinan merupakan salah satu cara efektif untuk meminilakan risiko transmisi yang terjadi. Risiko transmisi HIV AIDS selama persalinan dari ibu ke bayi pun dapat diturunkan sampai 1 % dengan cara tersebut (Throne, 2007)
2.7 Periode Postnatal pada Kehamilan dengan SIDA
Kondisi klinis wanita dengan SIDA tidak banyak berbeda secara signifikan dengan ibu postnatal lainnya. Walaupun demikian, hasil follow-up terhadap kondisi pasca persalinan yang lebih lama biasanya akan menunjukkan frekuensi penyakit klinis yang tinggi pada ibu dan anaknya (Minkoff dalam Bobak 2005).
13
Universitas Indonesia Proses keperawatan diterapkan dengan cara yang peka terhadap latar belakang budaya individu dan dengan menjunjung nilai kemanusiaan. Harus ditekankan bahwa infeksi yang terjadi pada kehamilan dengan SIDA adalah suatu peristiwa biologi. Infeksi HIV merupakan suatu peristiwa biologi, bukan suatu komentar moral. Oleh karena itu, sangat penting untuk diingat, ditiru, dan diajarkan bahwa reaksi pribadi individu terhadap gaya hidup, praktik, dan perilaku tidak boleh mempengaruhi kemampuan perawat dalam memberikan perawatan yang efektif, penuh kasih sayang, dan objektif kepada semua individu (Keeling dalam Bobak 2005).
Pengetahuan ibu dengan SIDA pasca persalinan terkait pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi perlu ditingkatkan dan dievaluasi lebih lanjut. Hal ini dapat menjadi fokus pembelajaran dalam melakukan edukasi selama periode postnatal pada kehamilan SIDA.
2.8 Teori Intervensi Inovasi Edukasi Pencegahan Transmisi HIV dari Ibu ke Bayi pada Kehamilan dengan SIDA
Pencegahan penularan pada bayi dan kesehatannya sangat terkait dengan perawatan diri ibu hamil. Konseling sebelum kelahiran yang diberikan pada perempuan HIV-positif menurut Green (2005) selalu harus meliputi: 1) nasihat dan pembahasan mengenai cara mencegah penularan HIV dari ibu-ke-bayi; 2) informasi mengenai pengobatan untuk HIV bagi ibu hamil saat ini; dan 3) informasi mengenai pengobatan untuk HIV bagi ibu hamil pada masa depan.
2.8.1 Transmisi HIV pada Kehamilan dengan SIDA
Mother to Child Transmission (MTCT) merupakan hal yang paling
ditakutkan oleh ibu hamil dengan kehamilan SIDA. MTCT merupakan penularan HIV dari ibu ke janin atau bayinya yang dapat terjadi selama dalam masa kehamilan, proses persalinan, maupun pasca persalinan melalui air susu ibu (ASI). Ketiga hal ini merupakan cara penularan yang paling banyak terjadi dari ibu ke bayi. Meskipun MTCT dapat
Universitas Indonesia terjadi terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meminimalkan atau mencegah terjadinya transmisi HIV dari ibu ke anak.
Transmisi dari ibu ke bayi dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa prenatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak ditangani, tingkat penularan dari ibu ke bayi selama kehamilan akan meningkat sebesar 25 %. Tanpa terapi apapun, risiko treansmisi ibu ke bayi selama kehamilan adalah sebesar 20 % dan sebesar 35 % selama menyusui. Namun, jika ibu memiliki akses untuk mendapatkan terapi ARV dan menjalani proses persalinan secara caesar, tingkat penularannya hanya sebesar 1 %. Sejumlah faktor dapat mempengaruhi risiko infeksi, diantaranya beban virus pada ibu saat persalinan berlangsung. Semakin tinggi beban virus, semakin tinggi risiko penularnnya (Coovadia, 2007).
Risiko penularan HIV melalui ASI adalah sekitar 15-20 %. Risiko ini dapat meningkat menjadi sekitar 65 % jika terdapat luka pada payudara ibu seperti lecet pada puting karena teknik menyusui yang kurang tepat. Meskipun demikian, pemberian Asi tetap diperbolehkan dengan catatan ASI diberikan secara eksklusif, yaitu benar-benr hanya memberikan ASI tanpa makanan atau cairan tambahan lainnya selama 6 bulan penuh, termasuk susu formula. Pada ibu dengan SIDA, bayi tidak diperkenankan mengonsumsi ASI dan susu formula secara bergantian
(mix feeding) sebab akan berdampak pada kurang optimalnya
perlindungan yang diberikan Asi terhadap bayi. Zat imun yang tidak diberikan secara rutin akan membuat sistem kekebalan tubuh menjadi tidak kuat dan bayi menjadi semakin rentan terhadap penularan virus HIV dari ibu. Sehingga untuk meminimalkan transmisi ini, ibu harus memilih antara ASI eksklusif atau pemberian susu formula eksklusif.
15
Universitas Indonesia Upaya preventif yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya transmisi HIV dari ibu ke bayi meliputi pemberian terapi ARV selama kehamilan dan kelahiran, melakukan operasi seksio caesario elektif, menghindari pemberian ASI, dan memberikan terapi ARV pada bayi baru lahir (Thorne, 2007). Upaya preventif tersebut sangat mungkin untuk dilakukan untuk diterapkan, namun banyak kendala yang ditemui di negara berkembang seperti di Indonesia, salah satunya yaitu tidak semua ibu dengan kehamilan SIDA memiliki akses untuk terapi ARV. 2.8.2 Terapi ARV pada Kehamilan dengan SIDA
Standar pengobatan ARV, yaitu memulai ketika CD4 kurang dari 200 sel/mm3 telah diganti WHO sejak beberapa tahun terakhir melalui rekomendasi baru WHO 30 November 2009. Kini pemberian ARV dimulai lebih dini, yaitu ketika CD4 < 350. Rekomendasi WHO ini terbukti mampu mengurangi angka kematian karena HIV AIDS sebesar 75 %. Penelitian terkait ini telah dibuktikan kepada 816 ODHA di Haiti yang hasilnya dipublikasikan di majalah kedokteran internasional New
England Journal of Medicine pada tahun 2010. (WHO, 2013).
Data dari UNAIDS menyebutkan bahwa 9,7 juta orang pada tahun 2012 telah mendapatkan terapi ARV dan telah merasakan manfaatnya. Bagi kehamilan dengan SIDA, terapi ARV dapat meminimalkan transmisi dari ibu ke janin dari 25 % menjadi 1 %. Dengan meminum obat anti HIV (ART/ARV) teratur dalam jangka panjang, sering kali jumlah virus HIV bebas, dan ayang ada dalam sirkulasi darah menjadi tidak terdeteksi bahkan dalam 3 bulan pertama meminum ARV. Pada kondisi ini, praktis sudah tidak menular lagi. Efektifitas penularan dari ODHA ke orang orang lain nyaris nol begitu pula dari ibu ke bayinya.
Penelitian mutakhir yang dipublikasikan baru-baru ini yang dipublikasikan yang dilakukan oleh Deborah Donnell (2010) menyimpulkan bahwa Treating AIDS is Preventing AIDS. Dalam
Universitas Indonesia penelitian tersebut dibuktikan bahwa terjadi penularan HIV sebesar 92 % pada ODHA yang minum ARV. Angka tersebut merupakan penurunan penularan yang sangat dramatis. Sehingga penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pengobatan ARV merupakan upaya strategik yang sangat efektif untuk mencapai pencegahan penularan (Djoerban, 2011).
Berbagai penelitian lain yang dikemukakan oleh UNAIDS dan WHO juga menyebutkan bahwa pengobatan ARV bisa menurunkan penularan HIV AIDS sampai 96 %. Dengan hasil tersebut, optimis penularan HIV menjadi nol sama sekali bukanlah tidak mungkin. Terapi ARV, pencegahan dengan sirkumsisi, dan upaya perubahan perilaku bisa mencegah penularan HIV secara total sehingga tidak ada penularan HIV baru.
Manfaat pengobatan tidak sekadar untuk kesehatan ibu. Mengobati HIV ibu hamil akan mengurangi risiko bayi terinfeksi HIV menjadi hampir nol. Tanpa pengobatan, kurang lebih satu dari empat bayi yang terlahir dari ibu HIV-positif akan terinfeksi saat lahir. Walaupun ini berarti tiga dari empat tidak terinfeksi, risiko ini terlalu besar, terutama karena dengan pengobatan HIV hampir semua bayi tersebut dapat bebas HIV waktu lahir (Green, 2005).
Pada ibu dangan SIDA yang memilih untuk menyusui anaknya, terapi ARV dapat sangat berperan dalam menurunkan angka penularan dari HIV ibu ke bayi karena ARV terbukti menurunkan efektifitas penularan HIV sebesar 92 -96 %. Hal yang perlu diperhatikan ialah pemberian ARV secara teratur, tidak terputus, dan pemberian ASI secara ekskluasif tanpa memberikan makanan atau cairan tambahan lain selain ASI selama 6 bulan.
17 Universitas Indonesia BAB 3
LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA
3.1 Gambaran Kasus
Ny. FH (32th) dengan diagnosa medis SIDA on ARV JPKHT G4P3A0H37-38, direncanakan operasi caesar dalam 2 minggu ke depan (pada pengkajian 9 Mei 2013). Ny. F mengatakan didiagnosa SIDA sejak tahun 2010, tertular dari suaminya dengan riwayat pengguna narkoba suntik. Anak ketiga dites HIV hasilnya (-). Kedua anaknya yang lain belum dites. Klien merupakan pasien rujukan dari klinik pokdisus RSCM. Klien mengatakan sejak didiagnosa SIDA klien stress dan mengalami penurunan BB sebanyak 10 kg. Klien mengatakan saat ini sudah menerima keadaannya. Kondisi klien tampak tenang, ceria, dan mau terbuka. Namun, klien mengatakan hal yang dicemaskan ialah takut bayinya tertular HIV. Selain itu, klien khawatir kondisi bayinya lemah/kurus karena tidak disusui nanti. Stressor lainnya adalah tubektomi yang akan dijalaninya nanti takut mempengaruhi hubungan dengan suaminya, selain itu klien pertama kali mengalami operasi caesario. Pada tanggal 15 Mei 2013 intervensi pertama kali dilakukan terhadap klien yaitu edukasi tentang operasi caesario dan prosedur tubektomi. Pada saat itu intervensi dilakukan di poli dan klien ditemani oleh suaminya, Tn. FR sesuai kontrak sebelumnya. Pada pertemuan tersebut terkaji data bahwa Ny.FH dan Tn. FR masih kurang mengetahui tentang pencegahan transmisi HIV dari ibu ke anak dan sangat ingin menambah pengetahuan mereka tentang hal tersebut. Dua hari kemudian, klien melahirkan secara caesar pada 17 Mei 2013 Jam 14.30 WIB. Bayi laki-laki, BB: 3200 gram PB 49 cm, A/S: 9/10 dan tidak ada masalah persalinan yang terjadi. Klien dirawat gabung bersama bayi laki-lakinya di ruang perawatan postparum RSCM selama 4 hari kemudian diperbolehkan pulang. Tanggal 25 Mei 2013 dilakukan kunjungarumah pertama kali ke rumah klien.
Universitas Indonesia Rumah klien berada di Kecamatan Citayam Kota Depok yang jaraknya cukup jauh dari rumah sakit. Selama kunjungan, klien diberikan intervensi terkait masalah keperawatan yang ditemukan selama pasca melahirkan dan diberikan edukasi tentang perawatan postnatal di rumah serta pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi.
3.2 Pengkajian
Jenis keluarga Keluarga Tn.FR merupakan keluarga inti. Keluarga terdiri dari ayah, ibu, 1 anak usia sekolah, 1 anak usia pra sekolah, 1 anak usia toddler, dan satu bayi (baru lahir). Praktik budaya yang mempengaruhi kesehatan tidak ada, praktik budaya betawi yang mempengarahui status kesehatan keluarga saat ini juga tidak ada. Namun, dari sisi pergaulan, Tn. FR memiliki riwayat penggunaan narkoba suntik. Hal ini dipengarhui oleh faktor lingkungan dan pergaulan yang dekat dengan para pengguna narkoba. Status sosial ekonomi keluarga termasuk ke dalam status sosial ekonomi menengah ke bawah, dimana penghasilan kurang lebih sebesar 2,5 jt /bulan. Saat ini rumah yang ditempati memiliki status kontrak. Ny. FH mengatakan jumlah pengeluaran selama sebulan hampir sama dengan jumlah penghasilan yang didapatkan. Selanjutnya, tahap perkembangan keluarga Tn. FR merupakan keluarga dengan tahap perkembangan anak usia sekolah. Tugas perkembangan yang belum terpenuhi adalah mempertahankan keintiman pasangan, memenuhi kebutuhan yang meningkat termasuk biaya kehidupan, dan kesehatan anggota keluarga.
Lingkungan rumah memiliki pencahayaan cukup, lantai tidak licin, bersih, jarak antar rumah berdekatan, dan rumah berada di lingkungan padat penduduk. Fasilitas kesehatan yang tersedia di sekitar rumah: Terdapat puskesmas dan dokter praktik/klinik di dekat rumah. Akan tetapi klien menggunakan fasilitas yang cukup jauh dari rumahnya yaitu RSCM dan pokdisus RSCM dengan alasan kebutuhan kesehatan keluarga klien terutama Ny. FH bisa didapatkan di fasilitas kesehatan tersebut.
19
Universitas Indonesia Pola komunikasi keluarga yang berkaitan dengan kesehatan sudah cukup baik. Setiap masalah kesehatan selalu dikomunikasikan dengan anggota keluarga, tidak pernah ditutupi, setelah itu dilakukan pengambilan keputusan oleh pengambil keputusan dalam masalah kesehatan yaitu Tn. FR (kepala keluarga). Untuk fungsi perawatan keluarga, sudah dilakukan oleh keluarga Tn. FR. Setelah didiagnosis SIDA, Tn. FR dan Ny. FH rajin mengunjungi fasilitas kesehatan minimal 1 bulan sekali untuk kontrol dan mendapatkan obat terapi. Ny. FH juga memberikan perhatian yang lebih untuk kesehatan anak-anaknya. Fungsi perawatan keluarga yang sudah baik adalah mengenal masalah kesehatan keluarga dan mengunjungi fasilitas kesehatan.
Stress & koping keluarga juga terdapat di keluarga Tn. FR. Jika ada masalah atau stress, Ny. FH tidak terlalu memikirkannya karena takut akan mempengaruhi kesehatannya, ia terbiasa untuk mengobrol dengan tetangga atau anggota keluarga yang lain untuk mengurangi stressor yang dihadapinya, begitu juga dengan Tn. FR. Respon keluarga terhadap masalah ialah keluarga akan meminta pertolongan keluarga besar dan mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan jika terdapat masalah kesehatan yang dihadapi. Riwayat kesehatan keluarga menurut Tn. FR dan NY. FH, keluarga terdahulu tidak memiliki penyakit keturunan apapun. Penyakit keturunan (DM, hipertensi, asma, jantung, ginjal) disangkal.
3.2.1 Pengkajian Prenatal
Pengkajian prenatal pada ibu FH dilakukan pada tanggal 9-10 Mei 2013. Riwayat ginekologi didapatkan bahwa tidak ada masalah ginekologi, riwayat KB: pil KB. Riwayat kehamilan saat ini didapat HPHT: 17 Agustus 2012, taksiran partus: 24 Mei 2013, BB sebelum hamil: 56 kg; setelah: 70 kg dan TD: 120/80 mmHg.
Data umum kesehatan saat ini didapatkan data status obstetrik: G4P3A0H38 minggu. Keadaan umum: bersih, tenang, tampak sehat.
Universitas Indonesia Kesadaran: CM BB/TB: 70 kg/160 cm. TTV: TD 120/80; nadi: 84, suhu 37, RR: 18x. Kepala leher: T.A.K .Jantung & paru: BJ S1 S2, ronchi (-), wheezing (-), suara napas vesikuler. Payudara: T.A.K. Abdomen: TFU: 37 cm, kontraksi (+), Leopold I: bokong, Leopold II: kiri punggung, kanan bagian kecil. Leopold III: kepala. Leopold IV bagian kepala sudah masuk PAP. Pigmentasi: lineanigra (+), striae (+), fungsi pencernaan normal. Perineum dan genital: varises (-), kebersihan baik, keputihan (-), hemoroid (-). Ekstermitas: edema (-), reflex patela (+2). Eliminasi: BAK & BAB normal, T.A.K. Istirahat dan kenyamanan: tidur 6-8 jam/hari, T.A.K. Mobilisasi dan latihan: T.A.K Nutrisi & cairan: asupan nutrisi dan cairan(+), nafsu makan baik, T.A.K Keadaan mental: penerimaan terhadap kehamilan baik, T.A.K.
Persiapan persalinan yang telah dilakukan meliputi rencana tempat melahirkan: RSCM, perlengkapan kebutuhan bayi dan ibu (+), kesiapan mental ibu dan keluarga: baik, pengetahuan tentang tanda-tanda melahirkan (+), cara menangani nyeri (-), perawatan/bebat payudara (+), dan obat-obatan yang dikonsumsi ialah staviral 2x1, hiviral 2x1, evafirenz 1x60 mg.
3.2.2 Pengkajian Postnatal
Pengkajian postnatal pada Ny. FH dilakukan pada tanggal 25 Mei 2013. Pada pengkajian didapatkan hasil bahwa riwayat persalinan: SC a/i SIDA, tanggal 17 Mei 2013 Jam 14.30 WIB. Bayi laki-laki, BB: 3200 gram PB 49 cm, A/S: 9/10. Masalah dalam persalinan (-). Keadaan umum: tenang, kesadaran: CM. TTV: TD 110/70, RR 18x, HR: 78x, suhu 36,5. Kepala & leher: T.A.K Dada: T.A.K, Abdomen: Fundus uterus di atas simfisis. Kontraksi (+). Kandung kemih: kosong. Perineum dan genital: R (-), E (-), E (-), D (-), A(-). Kebersihan baik. Lokia: rubra, merah, konsistensi cair, bau (-). Ekstermitas: T.A.K Eliminasi: T.A.K. Istirahat dan kenyamanan: Nyeri (+), VAS: 1-2, di luka post op. Mobilisasi dan latihan: T.A.K. Nutrisi & cairan: T.A.K
21
Universitas Indonesia Keadaan mental: penerimaan terhadap bayi (+). Kemampuan menyusui: (-) a/i SIDA. Obat-obatan: ARV dan vitamin. Pada saat perencanaan pulang edukasi yang dberikan ialah: edukasi perawatan postnatal.
3.3 Diagnosa Keperawatan
Pengkajian yang dilakukan meliputi pengkajian awal, pengkajian prenatal, dan pengkajian postnatal. Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan beberapa masalah keperawatan yang ditemukan pada setiap periode yaitu periode prenatal dan postnatal.
3.3.1 Diagnosa Keperawatan Prenatal
Diagnosa keperawatan yang ditemukan pada periode prenatal ialah cemas yang berhubungan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi sebelum dan sesudah melahirkan. Hal ini ditunjukkan dengan respon non verbal terhadap cemas: mengerutkan wajah (+) dan ungkapan kecemasan klien meliputi 1) Klien mengatakan takut bayinya tertular HIV. Selain itu, klien khawatir kondisi bayinya lemah/kurus karena tidak disusui nanti; 2) Klien cemas untuk menghadapi operasi caesar pertama kali; 3) Klien takut prosedur tubektomi akan mempengaruhi hubungan suami istri menjadi kurang baik.
3.3.2 Diagnosa Keperawatan Postnatal
Diagnosa keperawatan yang ditemukan pada periode postnatal ada 3. Diagnosa pertama ialah kesiapan meningkatkan pengetahuan tentang cara pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi. Data yang mendukung diagnosa ini ialah diagnosa Medis: SIDA on ARV, dan klien mampu menyebutkan cara pencegahan transmisi HIV secara umum. Data subjektif yang diperoleh ialah 1) Klien mengatakan sudah sering diajarkan bagaimana cara pencegahan penularan HIV/AIDS; 2) Klien mengatakan ingin meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi.
Universitas Indonesia Diagnosa kedua ialah kesiapan meningkatkan pengetahuan tentang cara melakukan perawatan postnatal pasca operasi caesar. Data objektif yang mendukung diagnosa ini ialah riwayat operasi caesar (-) dan klien tampak antusias bertanya dan ingin tahu tentang perawatan pasca operasi caesar. Sementara data subjektif yang mendukung diagnosa ini ialah klien mengatakan tidak tahu bagaimana pemeriksaan yang harus dilakukan pasca operasi caesar dan klien mengatakan ingin tahu bagaimana cara melakukan perawatan pasca op. caesar di rumah. Klien mengatakan ingin tahu cara melakukan perawatan payudara jika tidak menyusui.
Diagnosa ketiga adalah kesiapan meningkatkan pengetahuan tentang cara pemberian PASI yang baik dan benar. Data yang mendukung ialah Status paritas: P4A0, Riwayat menyusui(+), Riwayat pemberian PASI pada anak (-). Data subjektif yang mendukung ialah klien mengatakan sudah mampu melakukan perawatan bayi (tali pusat, memandikan, menyusui) dan klien mengatakan ingin mengetahui bagaimana cara memberikan PASI yang benar tanpa ASI pada bayinya.
3.4 Rencana Intervensi, Implementasi, dan Evaluasi Keperawatan
Rencana asuhan keparawatan dibuat untuk setiap diagnosa yang ditemukan pada tahap prenatal maupun postnatal. Dalam rencana asuhan keperawatan ditentukan tujuan dan kriteria hasil yang akan dicapai dari setiap intervensi yang akan dilakukan.
3.4.1 Rencana Intervensi, Implementasi, dan Evaluasi Prenatal
Diagnosa yang ditemukan pada periode prenatal ialah cemas yang berhubungan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi sebelum dan sesudah melahirkan. Tujuan umum dari intervensi ialah Klien dapat mengatasi/mengontrol rasa cemasnya. Dimana klien menunjukkan pengendalian terhadap cemas yang dibuktikan oleh mengenali penyebab cemas, menggunakan tindakan pencegahan, dan melaporkan
23
Universitas Indonesia cemas dapat dikendalikan. Selain itu klien dapat mengontrol/ mengurangi cemas yang dibuktikan oleh tindakan memperlihatkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan dan melaporkan kesejahteraan fisik dan psikologis. Implementasi yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut ialah mengeksplorasi perasaan klien, memfasilitasi klien untuk mengungkapkan perasaannya, menjadi pendengar yang baik bagi klien, memberikan informasi yang dibutuhkan oleh klien terkait operasi caesar, tubektomi, dan pemberian PASI, dan mengajarkan klien tentang cara mengatasi cemas dengan teknik relaksasi napas dalam, distraksi, dan aktivitas pengalihan. Selain itu juga dilakukan intervensi memberikan informasi yang dibutuhkan klien terkait prosedur operasi caesar serta mendampingi klien dan membantu klien untuk mengurangi rasa cemas dengan aktivitas pengalihan: bercakap-cakap.
Hasil dari intervensi yang dilakukan pada tanggal 15 Mei 2013 pada saat edukasi di poli obstetri ginekologi dan pada tanggal 17 Mei 2013 menjelang operasi caesario, menunjukkan bahwa klien mengatakan rasa khawatirnya berkurang karena tahu bahwa KB steril tidak akan mengganggu hubungan suami istri, klien mengatakan akan melakukan teknik relaksasi yang diajarkan. Klien mengatakan mau dikunjungi untuk dijelaskan lebih lanjut tentang pemberian PASI pada ibu HIV. Kecemasan klien teratasi ditunjukkan dengan nilai TTV yang normal TD: 120/80, HR:87, suhu:36,5, RR:18, klien tampak lebih tenang setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, klien mampu mendemonstrasikan teknik relaksasi napas dalam. Sehingga masalah cemas teratasi sebagian. Selanjutnya klien dianjurkan untuk melakukan teknik mengurangi cemas yang diajarkan dan melakukan kunjungan rumah untuk memberikan informasi yang dibutuhkan terkait masalah klien.
Universitas Indonesia 3.4.2 Rencana Intervensi, Implementasi, dan Evaluasi Postnatal
Diagnosa keperawatan pertama pada periode postnatal ialah kesiapan meningkatkan pengetahuan tentang cara pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi. Tujuan umum dari intervensi yang akan dilakukan ialah Pengetahuan klien tentang pencegahan transmisi dari ibu ke bayi bertambah. Sedangkan tujuan khususnya ialah klien akan memahami tentang cara perawatan bayi yang baik dan benar, carra menghindari agen infeksius dengan baik dan benar, dan perilaku hygiene mencegah transmisi HIV. Implementasi yang dilakukan ialah menelaskan apa yang dimaksud transmisi HIV dari ibu ke bayi, melakukan edukasi pada ibu tentang cara pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi, menjelaskan dan demonstrasikan cara perawatan bayi yang baik dan benar, menjelaskan dan demonstrasikan cara membuang sampah dan menghindari agen-agen infeksius yang meningkatkan transmisi, mencuci tangan, menggunakan sarung tangan, dan lainnya serta melakukan evaluasi pengetahuan dan kemampuan ibu dalam hal pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi.
Hasil dari implementasi yang dilakukan selama dua kali yaitu pada tanggal 25 Mei 2013 dan pada tanggal 29 Juni 2013 menunjukkan bahwa klien mengatakan sekarang menjadi lebih mengerti bagaimana mencegah penularan dari ibu ke bayi. Klien mampu menjelaskan kembali cara mencegah transmisi dari ibu ke bayi. Sehingga masalah teratasi sebagian. Selanjutnya dilakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan pada pertemuan selanjutnya dan didapatkan hasil bahwa klien mengatakan selama ini telah memperhatikan kebersihan bayi dan mencegah bayi terpapar dari cairan infeksius, klien membuang sampah infeksius dengan cara yang benar, dan menggunakan APD jika diperlukan seperti sarung tangan dan masker. Klien juga mampu menyebutkan cara mencegah infeksi pada bayi yang rentan. Sehingga masalah teratasi. Selanjutnya klien dianjurkan untuk melakuakan cara perawatan yang telah diajarkan.
25
Universitas Indonesia Diagnosa keperawatan kedua ialah ialah kesiapan meningkatkan pengetahuan tentang cara melakukan perawatan postnatal pasca operasi caesar. Tujuan umum dari intervensi yang akan dilakukan ialah klien akan melaporkan pengetahuan yang bertambah tentang perawatan postnatal pasca operasi caesar. Sedangkan tujuan khususnya ialah meningkatkan pengetahuan klien tentang personal hygiene, istirahat & tidur, latihan senam nifas, gizi/nutrisi, perawatan/bebat payudara, KB, dan seksualitas pasca persalinan. Implementasi mandiri yang dilakukan yaitu melakukan pengkajian tingkat pengetahuan klien tentang perawatan postnatal, memberikan edukasi tentang perawatan postnatal, meliputi personal hygiene, istirahat & tidur, latihan senam nifas, gizi/nutrisi, perawatan/bebat payudara, KB, dan seksualitas pasca persalinan,membuatkan jadwal kunjungan klien ke poli postnatal, menjelaskan tanda-tanda bahaya yang mungkin terjadi pada ibu nifas dan kapan saja harus berkunjung, dan mengevaluasi kemampuan klien untuk melakukan perawatan postnatal di rumah.
Hasil dari implementasi yang dilakukan pada tanggal 25 Mei 2013 dan pada tanggal 15 Juni 2013 menunjukkan bahwa klien mengatakan sudah lebih mengerti setelah dijelaskan tentang cara perawatan postnatal setelah operasi caesar. Klien dapat menjelaskan kembali cara melakukan perawatan perineum yang baik dan benar, menyebutkan tanggal kembali kontrol, menyebutkan pemenuhan nutrisi yang baik untuk proses penyembuhan. Sehingga masalah teratasi sebagian dan dilakukan evaluasi kemampuan klien dalam melakukan perawatan diri postnatal dan edukasi tentang cara supresi laktasi, pada pertemuan selanjutnya dengan hasil klien mengatakan sudah mengerti bagaimana cara membebat payudara. Klien juga mampu mendemonstrasikan cara melakukan perawatan payudara dan melakukan bebat namun, sampai terakhir kunjungan supresi payudara masih belum berhasil. Sehingga masalah teratasi sebagian. Selanjutnya klien dianjurkan untuk
Universitas Indonesia melakukan cara yang telah diajarkan untuk mengurangi nyeri di payudara dan membalut mammae untuk supresi laktasi.
Diagnosa keperawatan ketiga adalah kesiapan meningkatkan pengetahuan tentang cara pemberian PASI yang baik dan benar. Tujuan umum dari intervensi yang dilakukan ialah engetahuan klien tentang pemberian PASI pada bayi akan bertambah Sedangkan tujuan khusunya ialah klien akan memahami tentang indikasi pemberian PASI dan cara pemberian PASI yang baik dan benar. Implementasi yang dilakukan ialah menjelaskan indikasi pemberian PASI, manfaat, dan tujuannya bagi ibu dengan SIDA pada bayinya, melakukan edukasi ibu tentang cara pemberian PASI yang benar mendemonstrasikan cara penyajian PASI yang benar, dan melakukan evaluasi kemampuan ibu dalam memberikan PASI yang baik dan benar.
Hasil implementasi yang dilakukan tanggal 15 Juni 2013 menunjukkan bahwa klien mengatakan sudah mengerti tentang bagaimana cara memberikan PASI yang baik dan benar untuk bayinya. Klien dapat menyebutkan cara memberikan PASI yang baik dan benar untuk bayi dan mendemonstrasikan cara pembuatan PASI yang benar sehingga masalah teratasi. Selanjutnya menganjurkan klien untuk melakukan cara pemberian dan penyajian PASI seperti yang telah diajarkan pada bayinya.
27 Universitas Indonesia BAB 4
ANALISIS KASUS
4.1 Profil Lahan Praktik
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) merupakan sebuah rumah sakit pemerintah yang terletak di Jakarta Pusat, Indonesia. Selain menjadi RS pemerintah, RSCM juga berfungsi sebagai RS pendidikan, salah satunya adalah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Nama rumah sakit ini diambil dari nama Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, seorang tokoh perjuangan Indonesia pada masa kolonial. Di RSCM ribuan dokter dan tenaga medis bersama-sama melayani ribuan pasien dari seluruh Indonesia. RSCM merupakan pusat rujukan nasional rumah sakit pemerintah dan merupakan tempat pendidikan dokter umum, dokter spesialis I dan subspesialis, perawat serta tenaga kesehatan lainnya. Pada tahun 2009, setelah membangun Gedung perawatan baru yaitu Gedung A (Public Wing), RSCM sedang membangun Gedung Perawatan Internasional (International Wing). RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo merupakan rumah sakit tipe A dengan status kepemilikan Kementerian Kesehatan RI dengan status pengelolaan Badan Layanan Umum (BLU) dan merupakan rumah sakit pendidikan. Berlokasi di Jl. Diponegoro No.71 Jakarta Pusat dengan luas bangunan 512.002,64 m2. Rumah sakit ini memiliki kapasitas 1.001 tempat tidur. Ruang Perawatan Obstetri Gedung A Lantai 2 Zona B RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta merupakan ruang perawatan postnatal bagi ibu post melahirkan spontan maupun post operasi caesario dan bayinya. Ruang perawatan ini merupakan ruang rawat gabung ibu dan bayi. Lantai 2 Zona A terbagi menjadi dua bagian yaitu ruang perawatan obstetri dan ruang perawatan ginekologi. Selama praktik KKMP peminatan maternitas, ruang perawatan yang digunakan adalah ruang perawatan obstertri. Sedangkan ruang perawatan ginekologi yang menangani kasus-kasus ginekologi dan onkologi tidak dipergunakan.
Universitas Indonesia 4.2 Analisis Masalah Kehamilan SIDA dengan Konsep KKMP
Praktik penyalahgunaan narkotika melalui jarum suntik, perilaku seks bebas, pelacuran, dan penularan melalui benda-benda terkontaminasi lainnya yang banyak terjadi di perkotaan mengakibatkan jumlah penderita HIV/AIDS di kalangan masyarakat perkotaan lebih tinggi daripada di daerah rural di Indonesia seperti yang terjadi di beberapa kota-kota besar di Indonesia (Komisi Penanggulangan AIDS, 2013). Akses yang lebih mudah terhadap penyalahgunaan narkoba jarum suntik dan perilaku seks tidak sehat serta pergaulan bebas di kalangan masyarakat perkotaan mengakibatkan jumlah kasus kehamilan dengan HIV meningkat. Lebih dari sepertiga penderita HIV merupakan wanita dan 90 % dari penderita tersebut tertular dari suaminya atau pasangan hidupnya (UNAIDS, 2013).
Gambaran tersebut sesuai dengan yang terjadi pada kasus Ny. FH (32 tahun) mengalami kehamilan dengan SIDA/HIV. Ny. FH baru mengetahui terinfeksi virus HIV pada tahun 2010. Klien tertular dari suaminya yang merupakan mantan pengguna narkoba jarum suntik sejak lama. Anak-anaknya telah dites HIV dan tidak ada yang terinfeksi HIV. Sejak mengetahui dirinya hamil, Ny.FH sempat ingin menggugurkan kandungannya karena mencemaskan keadaan kesehatannya dan takut bayi yang akan dilahirkannya akan mengidap HIV seperti dirinya. Ny. FH mengatakan tidak tahu bagaimana harus menghadapi kehamilan dengan keadaan terinfeksi HIV/SIDA.
Lingkungan rumah Ny. FH sangat menggambarkan lingkungan perkotaan. klien tinggal di lingkungan padat penduduk, dimana jarak satu rumah dengan yang lainnya sangat rapat dan berdekatan. Ny. FH dan suaminya, Tn. FR lahir dan dibesarkan di Jakarta. Tn.FR memiliki pergaulan yang sangat bebas sejak masih remaja dan terlibat penyalahgunaan narkoba hingga akhirnya menggunakan narkoba jenis jarum suntik. Hal itu terjadi karena pengaruh pergaulan di lingkungan Tn.FR bergaul. Saat ini Tn. FR sudah berhenti menggunakan narkoba dan akan mendapatkan terapi ARV seperti Ny. FH.
29
Universitas Indonesia 4.3 Analisis Masalah Keperawatan dengan Konsep terkait Kehamilan SIDA Kasus kehamilan dengan SIDA cukup banyak ditemukan di RSCM. Hampir seluruh wanita hamil dengan SIDA yang berada di ibu kota dan sekitarnya berada di dalam perawatan Pokdisus RSCM dan dirujuk ke bagian obstetri dan ginekologi RSCM untuk kontrol kehamilan dan melahirkan secara caesario. Ruang perawatan obstetri dan ginekologi RSCM pun memiliki tempat perawatan khusus bagi ibu pasca melahirkan dengan SIDA (Pokdisus RSCM, 2013).
Masalah keperawatan maternitas yang ditemukan pada ibu hamil dengan SIDA pada umumnya sama dengan ibu hamil lainnya. Namun terdapat beberapa perbedaan selama perawatan kehamilan pada masa prenatal, intranatal, dan postnatal yang akan dialami oleh ibu hamil dengan kehamilan SIDA. Pada masa prenatal, ibu dengan kehamilan SIDA dihadapkan pada stressor yang lebih besar dibandingkan dengan ibu hamil pada umumnya (Bobak, 2008). Adanya ancaman terhadap kesehatan dan kesejahteraan ibu yang diakibatkan kehamilan sangat mungkin terjadi. Selain itu, ketakutan ibu akan terjadinya penularan HIV dari ibu ke janin selama masa kehamilan juga menjadi ketakutan tersendiri bagi ibu dengan kehamilan SIDA. Sehingga masalah keperawatan yang ditemukan adalah cemas yang berhubungan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi oleh ibu dengan kehamilan SIDA baik yang aktual maupun yang akan terjadi (Green, 2005).
Hal tersebut sesuai dengan yang dialami oleh Ny. FH (32 tahun), dimana pada periode prenatal klien mengungkapkan kecemasan yang dialaminya. Kecemsan ini menjadi stressor bagi dirinya selama masa kehamilan. Pada periode prenatal klien mengungkapkan kecemasannya terhadap penularan HIV ke bayinya. Selain itu, klien khawatir kondisi bayinya lemah/kurus karena tidak disusui nanti. Klien juga cemas untuk menghadapi operasi caesar pertama kali, dan klien takut prosedur tubektomi akan mempengaruhi hubungan suami istri menjadi kurang baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa
Universitas Indonesia sesuai dengan teori dan sumber referensi menyebutkan bahwa stressor dan tingkat kecemasan ibu pada kehamilan SIDA akan lebih besar.
Perawatan saat intranatal pada kehamilan SIDA juga sama dengan kehamilan dengan persalinan operasi caesario lainnya. Perbedaan yang ada pada masa intranatal ialah risiko infeksi yang mungkin terjadi. Pertolongan persalinan pada kehamilan SIDA yang berisiko harus dilakukan dengan hati-hati dan dengan teknik yang tepat. Hal ini untuk mencegah terjadinya transmisi HIV dari ibu ke bayi pada saat proses melahirkan. Meskipun operasi caesario dapat menurunkan risiko penularan HIV dibandingkan dengan melahirkan secara pervaginam (Thorne, 2007). Risiko infeksi (termasuk transmisi HIV dari ibu ke bayi) menjadi masalah keperawatan yang sangat mungkin untuk ditemukan pada kasus kehamilan dengan SIDA. Hal ini karena ibu hamil dengan SIDA memiliki daya tahan tubuh yang rendah karena berkurangnya jumlah sel-sel antibodi di dalam tubuhnya. Hal ini berbeda dengan keadaan pada ibu dengan kehamilan lainnya. Sehingga, pencegahan infeksi sangat penting selama masa ini. Prosedur invasif dan kesterilan harus benar-benar diperhatikan agar tidak terjadi infeksi terhadap ibu dan bayi yang baru lahir. Bayi yang lahir dari ibu dengan kehamilan SIDA juga berisiko untuk mengalami infeksi karena daya tahan tubuhnya yang rendah akibat jumlah sel-sel antibodi yang terdapat pada tubuhnya berjumlah sedikit. Oleh karena itu bayi baru lahir pada kehamilan SIDA akan mendapatkan terapi ARV untuk mencegah transmisi terjadi dari ibu ke bayi.
Pada masa postnatal, perawatan yang dilakukan kepada ibu nifas dengan kehamilan SIDA akan memiliki banyak kesamaan dengan ibu postnatal pasca melahirkan dengan operasi caesario. Nyeri akut dan risiko infeksi dapat terjadi akibat adanya luka post operasi dan rendahnya sel-sel antibodi di dalam tubuh ibu dengan kehamilan SIDA. Manajemen nyeri dan pencegahan infeksi agar tidsk terjadi dilakukan perawat melalui intervensi yang sama seperti yang dilakukan kepada ibu nifas post SC lainnya. (Bobak, 2008). Pada saat discharge planning dan perawatan postnatal di rumah, banyak edukasi
31
Universitas Indonesia yang harus diberikan kepada ibu dengan kehamilan SIDA. Edukasi senam nifas, pemenuhan nutrisi pasca mlahirkan, dan personal hygiene akan sama dengan ibu nifas lainnya. Akan tetapi, dalam hal perawatan payudara dan perawatan bayi terdapat penanganan yang berbeda.
Beberapa ibu hamil yang sudah terdaftar sebagai pasien di berbagai sarana kesehatan dan lembaga yang menaungi para penderita HIV, mungkin akan memiliki pengetahuan yang cukup baik dalam hal pencegahan penularan HIV AIDS termasuk dari ibu ke bayi (Green, 2005). Perawat perlu mengkaji terlebih dahulu pengetahuan ibu tentang transmisi HIV dari ibu ke bayi. Selanjutnya edukasi tentang pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi menjadi fokus penting pada saat memberikan intervensi pada ibu dengan kehamilan SIDA, terutama pada saat postnatal dimana ibu akan merawat bayinya. Perawatan payudara pada ibu kehamilan SIDA juga berbeda. Hal ini karena pemberian PASI yang biasanya banyak dilakukan pada bayi dengan ibu HIV membuat beberapa ibu memiliki masalah dengan payudaranyanya. Oleh karena itu selain edukasi tentang pemberian PASI yang baik dan benar, edukasi tentang cara melakukan supresi laktasi pada ibu dengan kehamilan SIDA juga perlu dilakukan. Supresi laktasi dengan cara non farmakologis bisa diajarkan pada ibu dengan kehamilan SIDA agar mampu melakukan pembebatan payudara untuk menghambat dan menghentikan pengeluaran ASI (Bobak, 2008).
Masalah keperawatan pada periode postnatal yang ditemukan pada Ny.FH ialah kesiapan meningkatkan pengetahuan tentang cara pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi, kesiapan meningkatkan pengetahuan tentang cara melakukan perawatan postnatal pasca operasi caesar, dan adalah kesiapan meningkatkan pengetahuan tentang cara pemberian PASI yang baik dan benar. Masalah keperawatan yang muncul adalah masalah keperawatan sejahtera karena klien telah memiliki pengetahuan yang cukup baik terkait pencegahan transmisi, keperawatan postnatal, dan cara pemberian PASI.